Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
HARDARIYAM
3
Suka
1,261
Dibaca

BAB1

PERMULAAN

Sudah 3 tahun Bapak terbaring di ranjang, tidak bisa bergerak, tidak bisa beraktivitas tanpa bantuan orang lain. Entah penyakit apa yang menggerogoti tubuhnya, sehingga ia terkapar lemah tak bisa apa-apa. Badannya yang dahulu kuat, sekarang habis seolah terisap angin, menyisakan tulang dan kulit yang kering, seperti sebuah pohon yang tak lama lagi akan mati. Semenjak tubuh Bapak melemah, ia meninggalkan semua yang ia gandurungi termasuk mendaki, semua gunung dan tanjakan ia lewati, tidak ada kata menyerah dalam kamus Bapak, hal itu sudah dilakukan sebelum menikah dengan ibuku bersama teman-teman sependakiannya. Dadaku bergetar saat melihat foto Bapak yang banyak terpampang jelas dan nyata di ruang tamu, senyum lebar dan mata monolid yang selalu tenggelam saat tertawa. Aku sangat rindu akan kehadiran Bapak mengisi hari-hari kami.

Ketika aku menginjak kelas dua dibangku menengah pertama, Bapak mendaki Gunung Hadrariyam bersama empat teman sependakiannya, saat kembali pun ia bercerita betapa indahnya matahari dilangit perawan atas pegunungan itu, tidak seperti matahari di ibukota yang seperti kelabu tidak dicuci sepuluh tahun, udara sejuk yang tidak terkontaminasi dengan polusi dan hamparan hijau gunung yang memanjakan mata mampu membuat semua orang betah berlama-lama disana namun, hari demi hari tubuh Bapak berangsur melemah hingga seperti sekarang, bahkan teman seperjalanannya mendaki pun tidak pernah terlihat lagi batang hidungnya setelah pendakian terakhir mereka, seolah hilang ditelan bumi.

Tidak pernah terbesit dalam pikiranku untuk menanyakan kondisi Bapak selama ini, sikapku yang terkesan egois dan tak acuh kepada orang tuaku sendiri kadang membuat sebagian orang merasa jengkel dengan respon seadanya dari diriku. Bagiku, Bapak pantas mendapatkan apa yang ia tabur, hukum tabur tuai itu nyata, mungkin saja itu teguran Tuhan akibat lalai dengan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga dan selalu saja melakukan kegiatan yang bahkan bisa saja mengancam nyawanya. Bapak menentang keras siapapun yang melarangnya mendaki, baginya alam adalah rumahnya.

Jujur saja, jauh didalam lubuk hatiku, tersimpan begitu banyak amarah, kekesalan yang hampir meledak seperti nuklir yang sanggup menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki namun semenjak aku kian beranjak dewasa, keingintahuan ku tentang apa yang terjadi pada bapak, rasa penasaran itu mulai tumbuh menghantuiku dan mengerogoti pikiranku satu-persatu.

Apa yang sebenarnya terjadi di Gunung itu dan apa yang menyebabkan Bapak seperti ini, Pikirku batin selalu menyiksa dan meronta-ronta mencari jawaban pasti tentang apa yang terjadi di gunung itu.

Semalam, aku bermimpi sedang mendaki gunung bersama Bapak, yang memunggungi diriku, di mimpi itu bapak terlihat masih muda seperti usia tiga puluh tahunan, namun kulit yang terlihat begitu pucat, saat pandangi wajahnya, bibir tipis yang kering dan terkelupas, dan pandangan kosong mengarah ke langit, ketika hendak menyapa ada gumpalan kabut berbentuk tangan dari dalam tanah berusaha menarik Bapak masuk kedalam jurang hingga aku tidak bisa mengapainya.

 Aku tersentak dan membuka kedua mataku yang ku tatap hanyalah langit kamar yang berwarna abu-abu dan matahari yang telah eksis menunjukan sinarnya, Aku menyeka keringat yang mengalir dipelipis mengunakan punggung tanganku, tubuhku serasa mengigil kedinginan, ada rasa cemas menggerogotiku perlahan.

Mimpi buruk itu lagi.

Semakin ingin ku tahu. Aku masuk kedalam ruang hampa yang penuh tanda tanya dan kebingungan mencari jawaban namun tidak ada jawaban pasti. Tanpa melipat selimutku Aku bergegas keluar kamar dan memeriksa setiap ruangan untuk mencari ibu, kudapati aroma masakan dari arah dapur mengugah selera. Tumis kangkung dan ikan goreng asem manis buatan ibu, menjadi menu andalan setiap pagi di hari yang cerah ini. Dengan langkah mantab aku harus menemukan jawaban dari segala pertanyaan yang sudah mengakar di kepalaku saat ini.

 Apa yang sebenarnya membuat Bapak seperti ini?

Tanganku teerasa dingin, aku menarik salah satu kursi yang ada di meja makan dan duduk memperhatikan tangan lihainya menyiapkan hidangan dipinggan tanpa ba-bi-bu, aku langsung melontarkan pertanyaan kepada ibu, "Bu, sebenernya di gunung itu ada kejadian apa sih? Kok sampe bikin bapak lumpuh–gak bisa ngapa-ngapain gitu?" Bukannya menjawab, justru ibu berbalik bertanya kepadaku,"Kamu selama ini kemana aja sih dek? Telaaat! Udah tiga tahun bapak sakit, kamu gak pernah nanya tuh dari dulu!" Matanya mendelik, guratan wajah tua namun masih nampak ayu itu mengeluarkan raut kesal, tangan kanannya menaruh pinggan berisi ikan goreng asam manis diatas meja.

 Aku mengaruk tengkuk yang tidak gatal,"Ya.. Marvel baru kepikiran buat nanya ke ibu sekarang. Tinggal jawab aja sih bu!" Desak ku sangking tidak sabarnya mengetahui jawaban ibu, membuat ibu mengeram. “Heh, denger ya, Marvelio Andrius Santoso! Di dunia ini tuh ada hal-hal yang gak perlu kamu tahu! Lagian juga kalo kamu tahu, emang kamu mau ngapain, hah?! Bapakmu sakit gini juga kamu gak bisa ngapa-ngapain kan? Mau tau buat apa? Udah!" Tanya ibu dengan tegas, terdengar seperti seolah-olah menghindar dari pertanyaanku.

 Aku memalingkan wajahku,"Siapa tahu Marvel bisa bantu kan, kalo Marvel tahu?" Ibu mendengus, lalu menatapku seperti dia akan menjadikanku menu sarapan pagi ini membuat seluruh tubuhku merinding. "Kalo bapak bisa dibantu, ya udah ibu bantu dari dulu! Terus kamu mau bantuinnya tuh gimana? Mau naik ke gunung terus jadi detektif-detektifan hah?!" Cerca ibu sembari menarik kursi, dan duduk.

Rasa ingin tahu mengebu membuatku semakin ingin mengali lebih dalam mengenai hal ini, belum sempat aku kembali bertanya kepada ibu, Kak Nadine yang baru keluar dari kamar dengan mengenakan baju tidur dan rambut berantakan seperti singa yang mengamuk itu, menyeletuk dengan wajah lempeng miliknya.

"Coba aja tanya sama temen sependakian Bap-" Belum sempat, aku dengar kelanjutan ucapan Kak Nadine, ibu langsung memotong ucapan gadis 23 tahun itu, seolah tidak menginginkan aku mengetahui jawaban dari pertanyaanku sendiri.

"Eh, eh, eh! Kamu dateng-dateng langsung ikut campur aja! Sana, cuci muka dulu!" Hardik ibu, matanya mendelik, hidung wanita separuh baya itu kembang kempis, Kak Nadine melangkahkan kakinya setengah malas ke kamar mandi. Rasa penasaran semakin mengelitik hatiku, untuk mencari kebenaran yang sebenarnya terjadi dan memutuskan untuk menganti narasumberku menjadi Kak Nadine, dengan malas ku santap makanan yang ada dihadapanku saat ini.

_________ ~__________

Suara kicauan burung di Pagi itu sepertinya menuntunku untuk memantabkan keputusanku, setelah mengenakan seragam sekolah, aku sengaja meminta Kak Nadine untuk mengantarku dengan mobilnya. Tujuanku sederhana, supaya aku bisa bebas bertanya kepadanya tanpa dipotong ibu.

Dengan harapan ia mengiyakan permintaanku, Aku menghampiri dirinya yang sedang memanaskan mobil sebelum berangkat kuliah. "Hari ini lagi cakep kayaknya nih, boleh kali nebeng ke sekolah." Ujarku sembari menyeringai.

 Netra cokelat tua miliknya itu menatapku cukup lama, tak lama Kak Nadine memutar bola matanya dengan malas. "Yee udah gua tebak tuh pasti ada maunya. Yaudah sana pamitan dulu sama Bapak-Ibu." Hatiku bersorak riang dengan langkah pasti aku menghampiri bapak yang sedang duduk di kursi roda, sinar matahari pagi itu menyelimuti tubuh ringkih bapak, mata yang semakin sayu, kulit yang pucat, mata kosong kearah langit dan bibir kering yang pinggirannya sudah sedikit terkelupas, membuat hati kecilku gundala, aku yakin pasti bisa mengetahui semuanya.

Guratan wajah ibu nampak semakin kentara, Bapak beruntung memiliki ibu yang sabar nan setia menjaganya, entah saat menatap mereka berdua hatiku menghangat, “Pak, Bu, sekolah dulu ya, biar pinter." Ucapku sambil mencium tangan Ibu dan Bapak.

Sebenarnya, aku sangat prihatin terhadap kondisi Bapak saat ini. Ia terlihat seperti orang linglung, kehilangan arah, Selama ini aku merasa seperti bukan Bapak yang aku cium tangannya saat hendak berangkat sekolah, "Dianter Nadine? Yaudah sana, sekolah yang bener, jangan macem-macem ya kamu!" Amanat ibu memperingatiku dengan keras, tersirat rasa cemas dimata ibu dengan anggukkan mantab dan ibu jari jempol yang kulayangkan di udara, mungkin bisa meredakan sedikit khawatir ibu.

Aku pun bergegas kembali menuju garasi dan masuk ke dalam mobil putih Kak Nadine, mobil itu pun melaju meninggalkan kompleks perumahan kali. Perjalanan ke sekolahku pun terasa sunyi yang tak kunjung berakhir dengan diliputi tanda tanya harus memulai percakapaan seperti apa kepada Kak Nadine namun, pikiranku dipenuhi oleh cerita yang hampir keluar dari mulut Kak Nadine tadi pagi.

 Aku tahu pasti ada sesuatu yang disembunyikan dan Kak Nadine tahu itu. Namun, rasa ragu di hatiku mungkin sudah terkalahkan oleh rasa penasaran setengah mati ini. Aku memantapkan hatiku untuk bertanya kepada Kak Nadine, dan bersiap untuk mencerna jawaban yang akan keluar dari mulutnya.

 Aku pun memecah keheningan pada pagi hari itu. "Kak, lo tahu sesuatu kan, tentang penyakit Bapak?" Tanyaku pada Kak Nadine. Sebetulnya, aku pun tak mengharapkan banyak dari jawabannya. Kak Nadine menghela napas, lalu menatapku sekilas sebelum kembali menatap jalan.

"Ya, Ibu pernah cerita sedikit ke gue pas Bapak baru balik dari gunung itu." Kak Nadine kembali menatapku, "Gue juga heran deh, kok baru sekarang sih lo penasaran sama kondisi Bapak? Dari dulu lo juga gak ada tuh nanya-nanya. Diem aja, gak ada rasa pengen tahu dikit. Bukannya lo juga kesel ya sama Bapak? Kenapa tiba-tiba banget sok peduli?" Aku pun menerima ucapan serta pertanyaan Kak Nadine dengan sedikit kesal.

Kenapa tiap kali aku menanyakan pertanyaan itu, semua orang selalu memberikan jawaban yang sama? Apa salahnya keingintahuanku? "Ga Ibu, Ga lo Kak, semua jawabannya sama. Apa susahnya sih cerita? Tau gak sih, dengan kalian gak ngejawab pertanyaan gue tuh, bikin gue makin penasaran!" Aku tidak memedulikan semua pertanyaan Kak Nadine tentang rasa penasaran yang tiba-tiba muncul dan tentang kepedulianku terhadap bapak.

Kak Nadine diam sejenak, sebelum akhirnya membuka mulut. "Dulu tuh, Bapak ngedaki Gunung Hadrariyam bareng sama temen-temennya. Bapak ngedaki tanggal 4 April 2015, pas banget lagi ada blood moon di tanggal itu. Gue gak tau ada kejadian apa di atas sana, Ibu gak cerita sama gue, atau mungkin dia juga gak tau. Yang tahu kejadian sebenernya di atas sana bener-bener cuma Bapak dan temen-temennya itu. Bapak juga gak bisa buka mulut karena... Ya lo tahu sendiri Bapak kayak gimana sekarang. Yang jelas, dulu Ibu pernah bawa Bapak ke orang pinter karena udah capek di rumah sakit gak ada diagnosa apa-apa. Kata orang pinter itu, setengah sukma bapak terjebak di Gunung Hadrariyam, ditahan sama sesuatu yang jahat. Kayaknya Ibu tuh dikasih tau cara ngebebasin sukma Bapak, cuman dia gak terlalu percaya, kata Iu udah terlalu gak masuk akal." Aku berusaha mencerna semua penjelasan Kak Nadine.

Bisa saja penjelasan tersebut hanyalah bualan dukun gila belaka. Mulutku bungkam, ini terlihat janggal. Beranjak dari mobil, aku bergegas masuk kedalam pagar yang kunjung ditutup itu. Pikiranku kacau, dipenuhi badai antah berantah. Diriku melamun sepanjang pelajaran bahasa Inggris Bu Eva, kicauan burung terdengar samar ditelingaku.

apa benar ibu bertemu dengan dukun? Rasanya Ibu sedang mengelabui ku, menganggap diriku lugu.

Tanpa sadar mencoret-coret lembaran didepanku, kertas yang suci nan putih itu berakhir ternodai dengan garis hitam abstrak, tidak beraturan. Sedikit menghela nafas, sebuah pemikiran bodoh terlintas di benakku; Aku akan mendaki Gunung Hadrariyam, mencari tahu kebenaran Bapak.

"Marvel! Marvel is your name right? The one in the corner! Yes, you! So, did you find the answer to the question already?" Tiba-tiba, suara seorang wanita berbicara Bahasa Inggris dengan aksen medok memecahkan lamunanku. Itu suara Guru Bahasa Inggrisku, Bu Eva.

Duh, suara wanita tua itu yang sangat nyaring, serta cara bicaranya yang medok tuh rasanya bikin kupingku pengen pensiun dini! Aku terdiam beberapa saat. Tentu saja aku tidak bisa menjawabnya. Aku saja tidak tahu apa pertanyaan yang diajukan olehnya.

Sudahlah, aku pasrahkan saja. Memangnya jika aku menjawab pertanyaan ini, apa untungnya kepada hidupku? Apakah aku akan langsung menjadi orang sukses di masa depan? Akupun menjawab pertanyaan Bu Eva dengan santai, "I don't know Mister, eh-". Sebelum aku bisa meralat ucapanku, Si Nenek Lampir sudah memotong terlebih dahulu. "You can't answer the question, and what did you just call me?! Mister?! I am OFFENDED! Get out of my class now!" Seperti biasa, Sesepuh Tengil ini memang sangat baperan.

 Aku sudah pernah dikeluarkan dari kelasnya sebanyak 3 kali, dan dia sama sekali tidak ingat. Memang sudah pikun sepertinya. Aku pun bangkit dari tempat dudukku, dan mulai berjalan menuju pintu kelas.

 Seisi kelas nampaknya sudah tidak peduli terhadapku. Aku sudah sering melakukan hal seperti ini, bukannya ini malah cara untuk mendapatkan jam istirahat lebih lama? 15 menit berlalu, aku melesak duduk di lantai sambil menyenderkan punggungku di dinding sambil menungu bel istirahat berbunyi.

Untuk membunuh waktu, aku memikirkan cara untuk mendapatkan izin mendaki dari Ibu dan Kakak. Rumit, rasanya aku terperangkap dalam labirin, ling-lung mencari jalan keluar.

Ding-dong... Ding-dong...

Pikiranku hilang sekejap, bell sekolah berbunyi, membuat pikiranku di isi oleh menu makanan kantin yang menanti.

Kepala ku mengebul akibat terlalu banyak berfikir secara berlebih. Teringat bahwa setiap hari harus makan malam bersama keluarga, aku mengurungkan niat untuk memikirkannya sekarang. Makan malam adalah waktu yang tepat namun juga mematikan, Ibu tidak suka jika momen indah bersama keluarganya terganggu, aku sudah membayangkan beliau berubah menjadi reog ponorogo atau bahkan lebih parah jika aku merusak momen kebersamaan kami. Reaksi beliau membuat ku khawatir, tapi yang terpenting, aku harus melanjutkan analisis ku terhadap Bapak, menggali kebenaran dibalik sosok Bapak yang kulihat sekarang, jika diperlukan aku akan berbohong untuk mendapatkan izin.

_________ ~__________

Matahari terlelap berganti dengan purnama yang siap siaga menemani gelap gulitanya malam, diriku berbaring santai dikasur, netraku melirik langit-langit kamar berwarna kelabu tanpa corak, memikirkan berbagai macam kemungkinan yang terjadi jika aku mengutrakan pemikiran yang dianggap ibu, pasti sesat itu? Tanpa sadar, aku menutup mataku dan menikmati alunan musik dari lagu band lomba sihir yang sedang diganduring kalangan muda sepertiku. Lirik lagu dengan judul “Mungkin takut perubahan.” Mengalun lembut digendang telingaku membuat pemikiranku yang kalut menjadi tenang tanpa memngkhawatirkan masalah yang kelak akan menerjangku, bagai ombak besar.

“Siapa yang akan kau lindungi selain dirimu?

Siapa yang’kan perduli jika kau pergi?

Betul, namun, tak akan mudah

Kau bukanlah seorang penyerah.”

Lirik lagu yang membiusku membuatku tenggelam didalamnya, kiasan makna tersirat dan tersurat yang diciptakan oleh pujangga yang sok jadi musisi itu, aku perlahan membuka netraku dan melirik kearah jam dinding. Pukul tujuh malam, biasanya suara mengeleggar milik ibu memecahkan fokusku menikmati setiap bait lirik yang syahdu, di dekat jam makan malam. Wanita berparas ayu dengan guratan wajah yang tidak muda lagi itu akan menyeretku keluar dari kamar saat mendapati telingaku tersumbat oleh lantunan musik yang mendiami telingaku dengan nyaman.

“Abang! Makan malam udah siap, sini turun kebawah, kalau lama bakal ibu samperin ya keatas. Awas aja kalau kamu main game sampai lupa waktu.”Suara mengelegar itu muncul dan bergema, ini bukan pertama kalinya ibu meninggikan suaranya, apalagi jika aku tidak menyahut dengan cepat. Beliau pasti bergegas menaiki anak tangga satu persatu sembari berkacak pinggang dan membuka pintu secara paksa, menyergapku dengan matanya akan mendelik dan menjewerku hingga turun kebawah.

Semenjak kejadian diriku tertangkap basa, push rank hingga larut malam dan meninggalkan buku catatan di mata pelajaran bu Eva, guru Bahasa Inggris yang selalu saja mencari kesalahanku itu. Aku kapok, ibu mengeluarkan maklumat seperti bom nuklir di Nagasaki – Hiroshima, hingga empat jam lamanya. Menurutku semua wanita sama seramnya, ketika mereka marah dan ibuku, masuk dicatatan paling awal dari manusia yang paling aku hindari, setelah kak Nadine yang amarahnya seperti gunung semeru itu, tentunya.

Aku segera melepas earphone yang menyumpal telingaku dan menjawabnya sebelum Ibu memanggilku untuk kedua kalinya, “Iya bu, ini Marvel turun kebawah.” Jawabku, rasanya aku tidak ingin berpisah dengan kekasihku, kasur, akan tetapi ini pilihan terbaik dibandingkan ibu menerobos masuk dan mengacak-acak daerah kekuasaanku ini.

Dengan langkah gontai aku menuruni anak tangga perlahan dan hati-hati, dan berjalan hingga keruang keluarga. Netraku melirik kak Nadine dan Bapak yang bersandar dikursi makan. Hening, hanya suara ibu yang sibuk menanak nasi dan suara halaman buku pelajaran yang dibaca oleh kak Nadine, seperti biasa Kak Nadine mengulang mata kuliah tadi pagi, ia gadis yang ambisius dan penuh dengan bara api semangat. Ia menjadi anak kesayangan Bapak dan Ibu karena prestasi gemilang yang memancarkan layak sang surya, tidak sepertiku.

Aku hanya anak yang lebih senang kelayapan dibandingkan dengan mondar-mandir mengulas buku pelajaran dari satu ke yang lainnya. Terkadang rasa cemburu dan iri seperti bara api, berkobar dan terbakar menghanguskan hatiku dari dalam karena tak jarang aku merasa dianak tirikan oleh perlakuan Bapak dan Ibu hanya karena, kak Nadine lebih pintar dariku dan mereka menganggapku sebagai anak yang bodoh.

Tanganku menarik kursi dan mendudukan bokongku di meja makan, aroma masakan ibu yang menguar di seisi ruangan membuat air liurku menetes dan cacing dalam perutku menari-nari, minta di isi. Ibu menyiapkan Ayam Rica-rica dengan rempah yang melimpah ruah, untuk orang penikmat makanan yang memiliki rasa dan aroma yang kuat, Ayam Rica-rica adalah pilihan yang tepat.

Ibu mengambil piring diatas meja, dan mengambil nasi lalu menyodorkannya padaku, sembari melengkungkan bibirnya keatas, seperti ada madu di dalamnya,“Ibu tau kamu pasti lapar, inikan lauk kesukaan kamu, Marvel. Ibu siapin khusus buat kamu. Ayo makan dulu.”

Kak Nadine yang sedari tadi fokus dengan buku bacaannya, kini air liurnya ikut menetes dan mata yang dipenuhi ambisi itu, menatap lapar pada makanan tersaji di meja makan. Ibu menyodorkan piring dan mengambilkan nasi lalu memberikannya pada Kak Nadine setelah Aku dan Bapak. Suara makan malam sangat ramai karena Kak Nadine bercerita dengan Ibu sembari menyendok Ayam Rica-rica dan melahapnya. Aku hanya melirik Bapak yang makan dalam diam tanpa satu patah kata pun di mulutnya. Aku merindukan saat Bapak menjahili Kak Nadine atau menyuruhku makan yang banyak supaya badanku cepat besar dan tinggi, bahkan bapak selama ini tak pernah melihat bahwa aku melampaui dirinya.

Cemas menguasai diriku, aku tidak berani menyendok nasi kedalam mulutku sendiri, dikepalaku terlintas ribuan pertanyaan dan segala kemungkinan yang akan terjadi ketika aku melontarkan permintaanku tentang mencari kebenaran tentang bapak. Aku mulai memilin sendok dan ku putuskan untuk menyantap makanan yang mengugah seleraku terlebih dahulu, perlahan aku mulai mengoyak daging dengan sendok dan menyuapkannya ke dalam mulutku. Rasa rempah-rempah bercampur saliva itu mengugah membuat lidahku menjerit, cengkraman bumbu yang menguar dan kunyaha demi kunyahan rasanya seperti membawa ke langit ketujuh.

Nikmat! Rasa masakan ibu memang mantab’Pikirku dan mulai fokus menyendok nasi dan Ayam Rica-rica dengan lahap, dan tidak ingin terusik. Sungguh perpaduan sempurna antara nasi hangat bertemu Ayam Rica-rica yang kaya akan rasa membuatku terhipnotis, sepertinya bertemu dengan jodoh. {Hiperbola banget!”}

Aku akan merindukan rasa masakan ibu, saat aku mendaki nanti.

Piringku tandas dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Kak Nadine menatapku dengan seringai jenaka miliknya. “Kamu lapar, apa doyan vel?” Tanya Kak Nadine, sembari fokus menghabiskkan nasi yang ada piringnya yang masih setengah, aku mengaruk tengkukku yang tidak gatal. Kak Nadine kembali bercanda dengan ibu membuatku merasa tidak nyaman merusak kehangatan makan malam ini.

Aku menarik napas dalam-dalam,“Bu” Panggilku, ibu menoleh. Aku memberanikan diri untuk membuka suaraku.

“Iya?”Ibu menaikan sedikit alisnya dan menjawab seruanku, netranya menatap diriku dalam diam, terselip rasa keingintahuan dari binar matanya. Aku menimang permintaan yang akan aku lontarkan dan melirik Bapak sekilas. Persetanan dengan larangan itu, rasa penasaranku semakin tinggi dan aku tidak ingin melihat bapak seperti itu. Aku ingin bapak kembali lagi dan bercengkerama dengan kami.

Kak Nadine memperhatikan ku dengan seksama, mereka berdua tengah menunggu ucapanku, “Marvel izin mendaki gunung Hadrariyam ya?” Pintaku pelan, nyaris saja hampir tidak bersuara, Nadine membulatkan mata almondnya dengan sempurna, sepertinya gadis itu terkejut oleh permintaanku, sama hal nya ibu.

Hening, aku mulai merasakan atmosfer tak nyaman menyeruak dalam diam, tidak ada satu patah katapun yang keluar hanya ada suara piring dan sendok yang beradu. Keringat dingin perlahan mengalir dari dahiku. Situasi ini memang pantas aku dapatkan. Ibu mungkin berpikir, siapa yang rela anak laki-laki semata wayangnya mendaki gunung terjal nan curam itu sendirian, kabar miring tentang Gunung itu telah menyebar luas diseluruh warga desa, terlebih lagi setelah kejadian yang menimpa Bapak, ia tidak ingin hal itu terulang lagi kepada calon tulang punggung keluarganya.

Ibu melirikku dengan lirikan tajam nan menusuk, sepertinya ia tidak menyukai rencanaku yang terlalu blak-blakan dan Netra almond milik kak Nadine menatapku dengan tatapan lebih tajam dari pedang samurai. Situasi mendingin semenjak lontaran permintaanku, ibu menepuk bahu Kak Nadine dan memintanya masuk kedalam kamar.

Tak kuasa menahan situasi yang semakin mendingin, Ibu beranjak dari kursinya dan menumpuk piring kotor diatas meja lalu membawanya ke wastafel. Tangan terampil ibu membasuh piring bekas kami makan hingga menjadi kinclong. Aku hanya diam mematung memperhatikan semua aktivitas ibu tanpa bersuara.

Sunyi, hanya suara jangkrik yang berada diluar terdengar nyaring ditelingaku, setelah ibu selesai dengan aktivitasnya itu, wajah teduhnya berubah sendu. Ia menarik kursi yang ada disebelahku dan menepuk bahu ku perlahan. Netra kami bertemu, tersirat kecemasan dan takut yang sama besarnya dengan rasa penasaranku tentang apa yang dialami bapak.

Aku hanya ingin bapak kembali bersama kami’Ujarku dalam hati, suara yang itu tertahan dan tercekat ditenggorokan seperti ada bongkahan batu besar menahan dadaku.

“Kamu yakin Marvel?” Tanya ibu memecahkan keheningan, sorot netra teduh itu mentapku dengan berkaca-kaca.

Aku memantabkan tujuanku yaitu, menguak misteri gunung itu dan mengembalikan Bapak seperti semula, “Bu, Marvel yakin pasti bisa,” Jawabku dengan optimis, aku kembali tersenyum dang mengenggam tangan Ibu yang beristirahat diatas meja dengan lembut. “Marvel perlu tau, apa yang terjadi dengan Bapak.”

Ibu kembali membalas genggaman tanganku lebih erat, seperti tidak ingin takut aku akan langsung menghilang dari hadapannya, aku tersenyum tipis, “Bu, Marvel pasti baik-baik saja.” Yakinku pada ibu tidak menghilangkan sedikitpun raut cemas diwajahnya, “Marvel janji akan balik dengan selamat. Marvel juga udah siapin semua yang diperlukan bu. Ibu tidak perlu cemas.”Genggamanku semakin erat. Aku meyakinkan Ibu, bahwa semua akan baik-baik saja dan pendakian itu akan berjalan lancar.

Airmata ibu mengalir dipipinya, guratan wajah yang termakan usia terpeta dengan jelas,“Berjanjilah kamu akan pulang dengan selamat.”Pinta ibu. Tangan kiriku terulur dan mengusap airmata ibu dengan jemari tanganku. Aku mengangguk pelan, tangan ibu terulur memeluk diriku dengan erat.

Rasa bersalah menyeruak bercampur lega yang tidak bisa dilukiskan dengan kata, suasana ruangan yang hening kembali menghangat, kebersamaan ini semu, aku tidak akan bisa merasakannya lagi untuk sementara waktu. Ini makan malam terakhirku bersama keluarga yang sedari kecil menemaniku, bahkan sejak dalam kandungan. Semenjak saat itu aku menyadari jika rasa bersalah ibu telah mengerogotinya cukup lama.

Apa itu yang dirasakan ibu saat Bapak mendaki gunung Hadrariyam’Pikirku, isak tangis ibu mendominasi ruangan. Aku menenangkan ibu, dan kembali mengusap punggungnya perlahan, tidak aku sadari jika airmataku mengalir dengan deras, ini adalah pelukan terakhir bersama ibu.

“Bu, nanti kalau Marvel kembali lagi, jangan lupa buatin Ayam Rica-rica yang banyak yah?”Ibu hanya mengangguk pelan. Aku tersenyum kecil dan mengusap punggung ibu perlahan.

Selamat tinggal, Ibu, Kak Nadine dan juga Bapak, Marvel akan segera pulang dengan selamat dan menyambut kalian semua bersama kabar baik yang akan aku dapatkan untuk bapak. Aku akan merindukan makan malam bersama kalian.

Tunggu aku pulang, bu!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 2

HADRARIYAM

 

Saat Mentari pagi mulai menampakkan rona merah dibalik selimut kabut, dimana aku terlelap ketika hujan turun tadi malam. Aku tersadar bahwa hari ini aku sudah merencanakan ekspedisi ke Gunung Hadrariyam. Aku bergegas menyiapkan perbekalanku untuk ekspedisi yang aku jalani. Setelah kuhabiskan sarapanku aku beranjak meninggalkan rumah ku menuju gunung.  

   Titik-titik embun masih menempel erat pada ranting dan rumput-rumput yang kulewati. Aroma khas tanah yang basah sangat jelas tercium mengiringi langkahku. Sesekali aku menghentikan langkahku untuk menghirup oksigen murni yang melintasi saluran pernapasanku.

 1 jam telah berlalu, aku sudah tiba dibawah kaki Gunung Handrariyam. Ku pandangi seluruh jalur yang akan kut=elusuri untuk mencapai puncak Gunung Handrariyam. Sinar matahari memberikan asupan energi yang kubutuhkan pada perjalanan ini, sepertinya alam merestuiku untuk melakukan ekspedisi ku hari ini. Terimakasih Tuhanku, dengan ciptaanmu yang tak pernah berhenti ku kagumi.  

  Aku meniti jalan mengitari kaki gunung, memandang sekeliling, terhampar luas hamparan sawah yang menghijau, dan di antara bisikan angin, tampak sosok-sosok sederhana menari dalam kerja. Mereka membelah bumi dengan tangan sabar, sementara aku menyelami pemandangan itu sebuah lukisan damai yang hidup, sunyi, dan indah, seolah waktu memilih berhenti sejenak di sana.

 Di tengah bentang damai yang terhampar luas, aku menatap hidup yang berjalan tenang. Tapi di balik ketenangan itu, hatiku bergetar bertanya lirih pada semesta, “apa yang membuat tubuh Bapak melemah, sementara dunia tetap tersenyum seperti tak terjadi apa-apa?” Pertanyaanku terhenti di udara, terhisap oleh langkah yang tak tahu arah.

 Di kanan dan kiri, hewan-hewan bergerak aneh, seperti merasakan sesuatu yang tak tampak. Tapi kuabaikan kupikir mereka hanya menanggung sakit, sama seperti dunia yang diam. Langkahku terus menjejak di tengah bisikan angin dan nyanyian burung yang bersahut-sahutan. Segala yang kulihat pepohonan, langit, dan cahaya yang menari di dedaunan membuatku ingin tinggal selamanya dalam pelukan sunyi ini. Namun bayangan tentang hewan-hewan tadi masih menggantung di sudut pikiranku.

'Bagaimana jika mereka sedang meminta tolong dalam bahasa yang tak kumengerti?' tanyaku dalam diam. Tapi aku sudah terlalu jauh melangkah… dan aku memilih meneruskan perjalanan, membiarkan tanya itu tertinggal di belakang. 

 Perjalanan yang kupikir akan selalu diberikan kelancaran dan kemudahan, namun seketika sekumpulan awan yang tadinya cerah berubah menjadi warna kelabu pekat yang siap menumpahkan isinya keatas bumi.

Hari cerah dan tenang yang tadinya menemaniku, hilang dalam sekejap. Embusan angin yang tadinya menyapa tubuhku dengan lembut, berubah seketika seolah ingin menghempaskanku hingga ke dasar gunung. Ketika titik air pertama dari langit jatuh, tiba-tiba aku dipertemukan dengan sepasang petualang yang kurasa mereka sebaya denganku. 

  Tanpa membuang waktu, kami bergegas mencari tempat yang aman untuk kami mendirikan tempat berteduh. Badai yang datang layaknya hewan buas yang sedang berusaha memangsa kami. Gemuruh angin yang bercampur dengan titik-titik air memukul wajah kami sehingga membatasi jarak pandang kami.

Di tengah badai yang semakin mengganas, tiba-tiba sebuah kilatan cahaya menyambar pohon tepat didepan kami. Barang pohon yang tersambar petir tadi tumbang kearah kami dan nyaris membenamkan kami kedalam tanah. Saat itu aku berpikir apakah hari ini adalah hari terakhirku ada di dunia ini? Sepasang petualang yang kutemui tadi pun terlihat saling menyelamatkan diri dari terpaan pohon yang tumbang baru saja.

Petualang laki-laki menuju arah utara sedangkan petualang perempuan pergi ke arah selatan, badai ini berhasil memisahkan kami. Dari balik pohon yang tumbang aku dikejutkan oleh sosok yang berusaha menarikku keluar, tubuhnya sangat besar, aku rasa lebih besar sosok itu daripada pohon yang menimpaku tadi. Diangkatnya tubuhku ke sebuah tanah yang landai, yang kulihat hanya gigi-gigi besar dan taring yang penuh dengan darah-darah yang mengering.     

“Apakah tubuhku yang lain sudah dimangsa oleh nya?” Tanyaku dalam hati. 

“Lalu, kemana perginya pasangan tadi?” Tanyaku terhenti dan aku tak sadarkan diri.

Aku menghirup aroma khas kayu bakar seperti ada yang menyalakan api disekitarku. Perlahan aku membuka mataku, dan aku berada di sebuah pondok yang sepertinya tidak jauh dari tempat terakhir kami tertimpa tadi. Aku mulai mencoba untuk bangun dari tidurku sambil kulihat apakah anggota badanku masih utuh atau tidak.

”Syukurlah ya tuhan aku masih hidup, tubuhku juga masih lengkap, ternyata aku telah diselamatkan oleh orang baik” pikirku dalam hati.

Bangunan ini tampak familiar untukku, “sepertinya aku pernah melihat tempat ini”, tapi dimana ya?” Tanyaku dalam hati. Lalu kudengar sesuatu membuka pintu kamarku, hatiku panik bercampur penasaran. 

 “Apakah makhluk yang tadi kutemui dalam badai tadi?” Namun ketika pintu terbuka lebar, yang kulihat adalah sosok dari sepasang petualang yang kutemui tadi. “Kalian selamat dari badai tadi?” Tanyaku kepada mereka dengan penasaran, guratan terkejut terpeta diwajahku, mereka pun merasakan hal yang sama, “Hah?! Kamu selamat?” Ucap mereka berbarengan sembari menatapku dari balik pintu.  

Aku memegang kepalaku yang terasa sedikit pening, dan netraku kembali tertuju pada mereka berdua, “Kurasa ada sesuatu yang besar, membawaku jauh, dan ketika ku buka mata, aku telah di sini. Tapi kalian… bagaimana kalian bertahan? Jalan apa yang membawa kalian ke tempat ini? Dan siapa yang menjaga kalian saat aku tak sadar?" Jawab dan tanyaku menjadi satu sembari mulai bangun dari tidurku. 

"Santai bro, satu-satu, jadi pas pohon itu jatuh dan hujan nyamber bareng, kami lari secepatnya Untung deket situ ada goa, lumayan buat ngumpet dan ngecas tenaga. Habis itu, jalan lagi sambil ngandelin feeling… dan boom, pondok ini muncul kayak hadiah di tengah hutan. Jadi ya, kami ngaso dulu. Capek bro, hidup di dunia begini butuh istirahat juga!" Jelas petualang, laki-laki itu sembari tangannya yang bergerak secara berlebihan membuat gadis disampingnya tertawa.

Laki-laki itu berjalan mendekat kearahku dan mengulurkan tangannya,“Oh iya, belum sempet perkenalan nih. Aku Leon, dan ini Rinjani” Tunjuknya pada gadis yang rambut sepundak, memiliki senyum yang semanis madu dan mata sebesar buah almond, “pacar sekaligus partner in crime di kekacauan ini. Kamu sendiri siapa, bro?" Tanya Leon, aku menerima jabat tangan yang dingin itu.

"Aku Marvel, tinggal nggak jauh dari kaki gunung ini. Setiap hari kulihat siluetnya berdiri megah, diam, tapi seolah menyimpan banyak cerita. Tapi baru kali ini aku liat orang mendaki setelah berapa lama. Oh ya, sebenernya apa yang kalian cari di atas sana? Keindahan? Ketenangan? Atau mungkin jawaban dari sesuatu yang belum sempat terucap? Karena buatku, gunung ini udah kayak teman lama dekat, tapi misteriu dan membuatku ingin tahu lebih dari sekadar pemandangan." Jelasku, sembari tersenyum.

Netra Leon berbinar saat mendengar penuturanku. "Kami memang pencinta petualangan, jiwa kami tak bisa diam saat kabar misteri tentang gunung ini berhembus. Konon, gunung ini menyimpan kejadian-kejadian aneh dan diluar nalar pikir makanya kami datang, rasa penasaran kami besar banget, ingin melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi di balik sunyi dan sejuknya hutan ini." Jawab Leon mengaruk hidungnya yang tidak gatal belum sempat aku membuka mulut untuk bertanya, suara Jani lebih dulu memecah senyap senja.


Jani berjalan mendekati kami dan menepuk bahu Leon perlahan, “Hei, tidakkah kalian lapar?” serunya gadis itu, letih terpeta dengan jelas diwajahnya. “Sebaiknya kita makan dulu. Aku cukup lelah dengan kegilaan yang terjadi sore tadi seolah seluruh tenagaku tersedot habis olehnya. Aku sudah menyiapkan api dan alat. Marvel, kau punya bahan makanan yang bisa kita masak bersama?” Tanya Jani, aku mengangguk pasti. Aku cukup membawa banyak perbekalan hari ini. Aku diam-diam mengambilnya dari Gudang saat ibu terlelap, mungkin untuk sementara waktu ibu tidak akan mencariku karena aku izin ingin pergi kerumah teman untuk beberapa hari.

 Malam itu, di bawah langit yang mulai menghitam dan bintang-bintang yang malu-malu menampakkan diri, kami duduk mengelilingi api unggun yang hangat. Kami mengisi perut yang sejak siang hanya diisi rasa penasaran, dan meneguk air dengan nikmat seolah itu adalah berkah dari langit. Di sela-sela bara yang berderak dan asap yang menjulang pelan ke langit, kami bernyanyi bersama lagu-lagu dari Hindia yang entah bagaimana terasa begitu tepat untuk momen itu, seolah setiap liriknya adalah cermin dari perjalanan kami, dari letih dan tawa yang kami lalui. 

Setelah perut kenyang dan hati terasa hangat, satu per satu kami terlelap, dibuai dinginnya udara pegunungan dan irama malam yang sunyi. Kami tidur tanpa tahu apa yang mungkin datang menyapa di antara gelap dan mimpi, namun semuanya terasa begitu tenang, damai seolah alam sedang mengizinkan kami untuk beristirahat tanpa gangguan.

Sinar cahaya mentari mulai merayap perlahan di balik pepohonan, membangunkan kabut tipis dari tidurnya, kami bertiga pun bangkit, meregangkan badan yang sempat kaku oleh dingin, lalu melanjutkan perjalanan kami melangkah kembali ke dalam pelukan rimba, menuju rahasia yang belum sempat terungkap. Mentari pagi baru saja menyelinap di antara celah pepohonan, menyapu lembut embun yang menggantung di ujung daun. Kabut masih menari di atas tanah, tipis seperti selimut mimpi yang enggan pergi. Di tengah kesejukan pagi itu, aku membuka mataku terlebih dahulu, menarik napas panjang dan merasakan udara pegunungan yang segar menembus dadaku 

Aku memandangi api unggun semalam yang telah padam, menyisakan arang hitam yang dingin. Tak lama, suara dedaunan yang bergeser membangunkan Leon, yang langsung menggeliat sambil menguap panjang. “Pagi yang tenang,” ujarnya lirih, sembari meraih botol air dan menyesapnya pelan. 

Jani menyusul bangun beberapa menit kemudian, dengan rambut acak-acakan dan mata masih setengah tertutup. “Kenapa pagi di gunung selalu terasa seperti dunia baru?” gumamnya sambil menggosok lengan yang dingin. 

Aku tersenyum dan berdiri, menepuk-nepuk celana panjangku yang terkena tanah. “Ayo, kita bersiap. Hari masih panjang, dan jalur di depan belum tentu semudah kemarin.” Ajakku dengan riang. Aku, Leon, dan Jani mulai merapikan perlengkapan kami yang berantakan semalam, dengan ransel yang mulai terasa menyatu dengan punggung, dan semangat mengebu yang terisi penuh selepas beristirahat semalam, kami bertiga akhirnya kembali melangkah.

 Langkah demi langkah menyusuri jalan setapak yang mulai tersinari cahaya emas pagi, dan juga misteri yang menanti untuk diungkap. Daun lebar nan panjang mulai menghalangi jalan kami yang sedikit terjal oleh bebatuan, hembusan angin yang lembut, menyusup pelan menari di antara hela napas dan langkah kami yang pasti. Langit terbentang cerah, seolah memberkati tiap jejak petualang yang menyusuri jalur ini. Setelah berjam-jam mendaki, semesta menghadiahi kami dengan sebuah sungai kecil, airnya bening mengalir tenang, membisikkan damai di antara gemuruh lelah. Di sanalah kami berhenti, membiarkan waktu melambat sejenak, menenangkan raga dan jiwa dalam pelukan alam, masih ada misteri yang menanti disepanjang perjalanan kami.

 Semoga saja, hari baik-baik saja.

 

 

 

 

 

 

BAB 3

HILAL YANG BELUM TERLIHAT

 

Tiga hari sudah berlalu semenjak diriku berkelana, hilang arah tanpa mendapatkan petunjuk tentang Bapak. Pagi ini kabut turun lebih lambat dari biasanya, namun dinginnya tak ragu menusuk sampai ke tulang. Aku membuka mataku perlahan, disambut oleh cahaya tipis yang menyelinap dari luar dan jatuh lembut ke wajahku.

Aku bangun dan terdiam sejenak di pinggir lereng. Gunung ini begitu diam, tapi justru diamnya membuatku ingin lari. Ada sesuatu yang terasa ganjil—entah di udara, entah dalam pikiranku sendiri. Kupandangi cakrawala yang samar, dan untuk sesaat aku bertanya dalam hati.

 “Apa Bapak pernah berdiri di tempat ini juga? Apa langit yang ia lihat dulu juga tak ramah seperti ini?"

Aku terbangun dari tidur lelapku, mataku mengerjap beberapa saat dan melihat Leon tengah sibuk menyalakan kompor portable mini, suaranya gemeretak bersahutan dengan suara alam, suara burung berkicau menghiasi pagi yang cerah, dan matahari masih malu-malu menampakan jati dirinya.

 Rinjani memotong beberapa potong sosis dan menaruhnya di atas wajan yang sudah mulai mengeluarkan aroma hangus. “Kalau kita turun nanti,” Kata Rinjani pelan, sembari terus membalik sosis hingga matang “...aku pingin makan nasi hangat, ayam goreng, dan sambal… yang pedes banget.” Pinta Rinjani pelan, Leon hanya tertawa kecil, matanya masih lekat ke wajan.

 Aku duduk bersila sambil menyeduh kopi sachet yang aku bawa, kopi hitam yang membuat aroma menguar di udara, dan menyesapnya pelan sebelum benar-benar dingin. “Leon, Kamu mau tidak?,”Tawarku, menyodorkan kopi hitam yang baru saja ku seduh, dan memberikannya pada Leon. Laki-laki jakung itu menerima dengan senang hati, “Marvel, kamu gak tau yah. Kalau ngedaki gunung ada beberapa larangan.” Celetuk Leon tiba-tiba, rasa penasaranku merayap tanpa diminta, aku merapat padanya dan kedua alis ku bertaut. “Gak tau, ini pengalaman pertamaku sih, emang kenapa?” Tanyaku diselimuti rasa penasaran yang tinggi sekarang.

“Dibeberapa tempat yang aku dan Jani telusuri sebelum kesini, ada larangan yang umumnya diketahuin pendaki.” Jelas Leon kemudian, ia menyesap kopi perlahan. “Salah satunya, dilarang minum kopi dan berjumlah ganjil.” Terangnya, tangannya meremas pelan kopi yang sudah ia minum setengah, aku tertegun. Belum sempat membuka suara, Leon kembali berucap” Sebelum kami masuk kependakian dan bertemu kamu di pondok, kami bertemu kakek tua bersorban putih mengenakan sewek bergambar parang dan berbaki yang berisikan Bunga tujuh rupa, pisang serta dupa. Ia menaruhnya di gua saat kita bertiga terjebak badai dan kamu menghilang dari jarak pandang kami.”

Leon tersenyum getir, “Kakek itu berkata, jangan ganjil harus genap, dan jangan membawa wanita yang tengah tidak bersih,”Terangnya, ia kembali meremas gelas yang kuberikan padanya. Ada rasa kalut menyelimutinya, “Kita harus turun dan ke pondok itu, dan menyuruh Rinjani disana hingga bersih, lalu kita kembali menelusuri gunung ini. Aku, gak mau dia kenapa-napa.” Pinta Leon, ada cemas merayapi hatinya, ia tidak ingin melanggar pantangan yang ada digunung ini namun, Rinjani menepuk bahu Leon dengan pelan.

“Kalian kenapa mojok berdua gitu, nih makanannya udah mateng.” Rinjani menyodorkan dua piring makanan siap saji dan kami bertiga menyantapnya dengan tenang, sarapan pagi itu tak berlangsung lama. Hening, Kami makan dalam diam, tapi bukan karena tak nyaman, hanya saja ada perasaan yang sulit dijelaskan. aku tenggelam dalam rasa cemasku, Netraku menatap gadis dengan rambut sepunggung itu sedikit khawatir. Semoga tidak terjadi apa-apa, pikirku

Hari itu kabut enggan naik sepenuhnya dari tanah. Waktu di gunung terasa lambat, rasa cemas menyelimutiku serasa seperti jam pasir yang digenggam oleh sosok tak kasat mata, seakan gunung ini tak ingin kami menyingkapi tabir kebenaran yang mutlak. Setelah sarapan, kami tak langsung beranjak dan menghabiskan sebagian siang dengan membongkar serta membersihkan isi tas, memeriksa kembali jalur pada peta lusuh yang hampir tak terbaca, dan menandai rute yang katanya mengarah ke punggung sebelah timur—tempat terakhir yang disebut-sebut dalam catatan pendaki sebelumnya. Waktu tetap berjalan, di gunung ini, langkahnya terasa enggan. Seperti menunggu sesuatu lebih dulu selesai.

Setelah merasa sudah cukup berkemas, kami pun memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Langkah kami mengarah lebih dalam ke hutan, ke jalur yang tak ada di peta, ke tempat di mana gunung mulai menunjukkan wajah aslinya. Gunung ini tinggi, sunyi, dan terlalu banyak menyimpan misteri yang berbisik dalam diam. Untungnya tidak ada hal-hal yang menghambat selama perjalanan kami.

Perjalanan berlangsung cukup panjang hingga tak terasa malam datang seperti tirai yang disibak tanpa suara. Kami menemukan sebidang datar di lereng yang cukup teduh dan aman untuk mendirikan tenda. Dengan sigap, aku memasang tenda sembari memperhatikan Leon mencoba menyalakan api di antara ranting basah karena kompor portable mini milik Leon telah kehabisan gas sementara Rinjani sibuk menata makanan instan yang kami bawa, seadanya namun cukup untuk mengisi perut yang keroncongan namun naas, api tak kunjung nyala. Aku tersenyum getir, dan kami buru-buru menyantap makan malam apa adanya.

Udara malam terasa menusuk tulang, rasanya jaket tebal yang kami kenakan tak ada gunanya, Netra kami bertiga saling beradu dan melemparkan senyuman jenaka lalu kemudian beralih menatap malam yang telanjang tanpa ada satupun bintang yang menghiasinya. Kabut semakin tebal, Rinjani mengenggam tangan Leon cukup lama, dan melempar senyum tipis. “Kalau capek istirahat masuk kedalam tenda gih.”Pinta Leon, tanpa sepatah kata pun Rinjani hanya melempar senyum tipis lalu masuk kedalam tenda, tubuhnya terlihat lebih lemas dari biasanya.

Leon duduk memunggungi diriku dan aku mulai berbaring dan menjadikan tanganku sebagai bantalan, ia sibuk menulis sesuatu di buku kecil yang selalu kantonginya di saku baju. Netraku berpendar kearah langit yang tertutupi pohon dan memandangi bulan yang setengah lagi membentuk lingkaran sempurna dengan gelisah. Ada yang janggal, keheningan yang terasa mencekik. Rasa cemas dan gelisah ini sulit dijelaskan dengan kata-kata, rasanya seperti sesuatu yang tak berbentuk, tak bersuara memanggilku namun tak tergapai. Saat mataku mulai terpejam, seperti ada bongkahan batu besar menindis dadaku.

Ritme napasku yang tak beraturan, rasa pusing menghantam kepalaku seperti ditimpuk batu yang besar, kantuk menguasaiku dan aku terbuai dalam alam bawah sadarku. Tubuhku serasa tidak perpijak pada tanah lalu tesentak dengan kuat seakan ada energi besar yang menarikku masuk kedalam sebuah dunia yang tidak memiliki batas, seperti bukan dunia tempat tinggalku. Aku tersadar, ini serasa seperti bukan mimpi.

Aku berpijak ditanah hitam yang berbau anyir dan langit terbentang luas bewarna jingga pekat, Bulan bulat sempurna berwarna merah seperti darah segar yang tak berhenti mengalir, berpadu semburat ungu. Tumbuhan paku yang merunduk dan daun keladi sebesar kepala manusia. Suara jangkrik Nampak asing ditelinga seakan, seperti sedang menyanyikan melodi kematian. Tidak ada angin berhembus, terasa pengap dan bau anyir semakin kuat, daun-daun mulai bertebangan namun, tidak kurasakan sejuk. Hanya hawa panas, yang membuat perasaan cemasku semakin meningkat.

Netraku menatap kearah langit, yang membuat diriku merasa mual, ada ribuan titik cahaya kecil seperti bintang berpendar indah namun mencekam, serasa lebih dekat dan hangat. Seakan seluruh jagat raya sedang menyampaikan sesuatu padaku dalam diam, semuanya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, suara langkah kaki berjalan mendekat kearahku, napasku memendek, aku takut jika ada sesuatu tak kasat mata datang menghampiriku, apakah ia penghuni hutan ini namun, saat sosok itu menampakkan dirinya yang berjalan membelakangiku, berdiri sosok yang familiar—terlalu familiar.

Aku mengerjapkan netraku berkali-kali, sosok yang familiar menemani kecilku muncul dihadapanku saat ini. "Bapak?" Pekikku tertahan.

Bapak berdiri membelakangiku, tubuhnya tak berubah. Ia seperti membatu di tempatnya, dalam kesunyian yang menusuk lebih dari suara. Aku memanggil untuk kedua kalinya, "Bapak..." Dan saat ia perlahan menoleh, dunia seperti berhenti berputar. Wajahnya tenang, namun terlihat lelah. Tapi mata itu—mata itu berbicara lebih banyak dari kata-kata.

Ia tersenyum tipis, "Kamu terlalu jauh, Marvel,” katanya, suara Bapak terdengar sangat berat, seperti datang dari dalam perut bumi yang dalam. “Jangan teruskan! Kembali! Dunia ini bukan tempatmu, Marvel.”

Aku maju satu langkah akan tetapi tanah di bawah kakiku berguncang hebat, seperti menolak menceritakan rahasia yang tersembunyi. Langit semakin merah darah, dan suara gemuruh terdengar dari arah yang tak jelas. “Tapi Marvel harus tahu, Pak. Apa yang sebenarnya terjadi waktu itu? Kenapa setelah turun dari gunung ini... Bapak jadi seperti... bukan Bapak yang dulu?”Bantahku langit merespons pertanyaanku dengan gemuruh, seolah marah. Cahaya berkedip seperti lampu tua yang akan padam. Bapak berseru lirih, nyaris tak terdengar, tapi penuh luka. “Jika kamu terus berjalan, semuanya akan hancur, Marvel…”

Aku mencoba menjangkaunya. “Bapak! Tunggu! Marvel belum—” Aku berteriak sekuat tenaga tapi kata-kataku tak selesai. Sosok Bapak mulai memudar, seperti kabut yang tertiup angin.

Berbaliklah Marvel… sebelum semuanya terlambat.”

Aku terbangun dari mimpiku, kepalaku serasa pening dan napas tercekat. Dada terasa sesak seolah paru-paruku lupa caranya bernapas. Keringat dingin membasahi tengkukku. Dunia di sekitarku gelap, tapi tak sepekat bayangan yang masih menempel di belakang mataku. Suara Bapak dalam mimpiku masih berbisik samar tapi tajam, seperti duri yang belum dicabut.

Aku duduk terdiam di dalam tenda, menatap langit-langit kain yang samar-samar diterangi cahaya bulan. Dadaku masih naik turun, napasku tak beraturan. Tapi yang lebih mengguncang dari mimpi tadi bukan hanya sosok Bapak. Melainkan perasaan yang tertinggal, perasaan seakan aku benar-benar baru saja kembali dari tempat lain. Tempat yang tak seharusnya bisa kusentuh. Tempat yang bukan milik dunia ini.

Suara Leon yang tenang di sebelahku tak cukup menenangkan. Bahkan kehadirannya terasa jauh, seperti mimpi buruk itu menempatkanku di dimensi lain, sendirian. Aku ingin percaya ini hanya mimpi. Tapi kenapa rasanya... seperti peringatan?

 

_________ ~__________

 

Pagi menjelang lebih cepat dari biasanya. Kabut masih melayang di antara pepohonan, tapi langit mulai mengelupas warna biru pucat dari balik gelap malam. Kami bangun, membereskan tenda tanpa banyak bicara. Hanya sesekali Rinjani mengeluarkan gumaman kecil, “Langitnya hari ini aneh ya.” Katanya sembari menatap ke arah timur, tempat cahaya matahari seharusnya muncul. Tapi cahaya itu tidak datang dengan hangat, melainkan dengan warna kelabu yang asing. Seperti cahaya dari mimpi semalam, terang tapi tak membawa harapan.

Kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalur sempit yang menurun tajam. Semak dan ranting mulai menjulur lebih lebat dari sebelumnya. Langkah-langkah kami seperti menyusup ke perut hutan yang belum pernah terbangun, dan semakin dalam kami masuk, semakin aku merasakan detak jantung bumi di bawah kakiku. Langkahku menjadi berat, bukan karena lelah, tapi karena mimpi semalam terus menggantung seperti kabut yang menolak sirna. Di antara langkah dan senyap, Rinjani mulai berbagi cerita tentang masa kecilnya, dan Leon menyahut dengan tawa yang kencang.

Aku menatap belakang Rinjani dan Leon bergantian, dadaku sesak oleh firasat yang tak mau pergi. Tapi aku juga tak bisa mengatakannya. Siapa yang akan percaya mimpi tentang langit merah dan suara dari dunia yang bukan dunia?

Matahari muncul malu-malu di balik pepohonan. Langkah kami menyusuri jalur kecil menurun, lalu menanjak kembali melewati semak, batu, dan pepohonan yang menjulang bisu. Menembus hutan lebat yang seakan memperhatikan setiap langkah kami. Burung-burung tak bersuara, dedaunan seperti diam menahan napas. Sesekali Leon menoleh ke arahku. Aku bisa merasakan tatapannya heran, seolah bisa melihat sesuatu yang berubah dari diriku.

Hingga tengah hari, jalur mulai menipis, hutan menjadi lebih lebat dan bayangan semakin panjang. Aku berhenti sejenak, memandangi jejak kaki kami yang perlahan terhapus angin dan.... kabut datang tiba-tiba, tebal, pekat, seperti tirai yang menutup segalanya.

"Marvel?" Samar samar aku mendengar suara Leon dari balik kabut. Aku menoleh, tapi suara itu terdengar dari dua arah sekaligus. Aku memanggil balik, hening tak ada jawaban. Aku mencoba maju, tapi kabut mendorongku mundur. Langkahku limbung, dan tiba-tiba semuanya hening. Tak ada suara Rinjani, tak ada suara tawa Leon. Aku sendirian. Panik mulai merambat di dadaku. Aku berlari, menyusuri jalur, berteriak memanggil nama mereka, tapi hanya gema dari suaraku yang menjawab.

Setelah waktu yang terasa seperti seabad, aku mendengar teriakan Leon. Aku berlari menyusuri arah suara, dengan napas yang memburu. Semak-semak kulewati, dahan mencakar kulitku, tapi aku tak peduli. Yang kupikirkan hanya: mereka tak boleh kenapa-kenapa.

Ditengah tanah basah dan akar yang mencuat, aku melihatn Leon sedang berlutut di samping tubuh Rinjani. Wajahnya pucat, tangannya sangat gemetar dan Rinjani tergeletak diam. Matanya kosong menatap langit yang mulai berubah warna. Tak ada darah di tubuhnya, hanya wajah yang pucat seperti sudah lama menanti akhir.

Leon berbalik perlahan, sorat matanya tajam seperti belati yang menguliti kesabaran. Ia menatapku dengan tatapan menusuk yang tak bisa terlupakan seumur hidup. "Apa yang kamu lakukan, Marvel...?" suara Leon lirih, namun mengguncang.

Aku mundur setapak, lalu membuka mulutku. “Bukan aku, Leon. Aku bahkan terpisah dari kalian waktu kabut datang—” Tapi tak ada kata yang cukup untuk menjelaskan bahwa aku bahkan tak tahu. Bahwa aku juga baru sampai. Bahwa aku tidak menyentuh apa-apa.

“Gak ada siapa-siapa di sini selain kita bertiga,” suara Leon lirih namun seperti belati bagiku. “Gak ada yang lain, Marvel.” Memang tak ada orang lain di sekitar kami. Hanya aku. Hanya dia. Hanya tubuh Rinjani yang diam membisu. Aku ingin berteriak, ingin mengguncang tubuh Leon dan berkata bahwa ia salah. Tapi aku teringat kata-kata Bapak di mimpiku semalam, "semuanya akan hancur, Marvel"

Dan kini Rinjani terbaring diam. Suara tawanya, ceritanya, yang tadi pagi masih hangat, kini telah lenyap.

 

Malam makin larut, tapi waktu seperti berhenti berdetak di sini. Tak ada suara jangkrik, dan desiran angin. Hanya sepi yang menggantung dan menyesakkan. Aku duduk sendiri di dekat batu besar. Mencoba menyatukan kepingan logika dari peristiwa yang bahkan tak bisa dijelaskan oleh akal.

Empat hari sejak aku bertemu Leon dan Rinjani, kami bertukar nama di pondok, bertukar cerita di antara kabut sore tapi malam ini, satu jiwa telah pergi dan satunya lagi mulai retak dari dalam.

Leon tak jauh dariku. Ia jadi tak banyak bicara setelah menutup tubuh Rinjani dengan jaket kami berdua. Ia hanya menatap tanah, seperti berharap bumi akan membuka mulutnya dan menjelaskan segalanya. “Kamu beneran gak tau apa-apa, Vel?” tanyanya tiba-tiba, suaranya terdengar serak, nyaris seperti bisikan yang tertahan. Aku menoleh cepat, menatap matanya yang merah karena lelah dan kehilangan. “Aku beneran gak tau, Leon. Sumpah aku gak ngerti apa yang sebenarnya terjadi.”

Leon menunduk, menarik napas panjang seakan mencoba menahan sesuatu yang nyaris pecah. “Aku pengen percaya. Tapi gunung ini,” Ujarnya tertahan, mata Leon menyiartkan luka teramat dalam, ia menarik napas dan menghembuskannya dengan gusar, “seolah nunjukin kalau hal mistis itu cuman ilusi. Rinjani bener. Tempat ini bukan buat manusia.” Sejenak ia diam sambil memeluk lutut, tubuhnya membungkuk seperti ingin menghilang. "Tapi kenapa harus Jani duluan?"

Aku menunduk. Di kepalaku masih berputar mimpi aneh itu—langit merah, suara Bapak, dan peringatan yang kini terasa terlalu nyata. Dunia dalam mimpiku menyusup ke kenyataan dengan langkah pelan tapi pasti. “Kamu tau, aku nggak begitu percaya soal hal mistis tapi sepertinya kita sudah melanggar hukum pendakian.” Leon tercekat, dengan memburu dan pandangannya dipenuhi kabut, tangisnya pecah.

“Aku nggak mau percaya tapi, kenapa harus Jani. Kenapa? Harusnya aku saja. Aku tidak bisa tanpanya.”Isak memilukan dari Leon, membuatku memalingkan muka. Aku menarik napas dalam diam. “Kakek itu berpesan, jangan ganjil dan membawa gadis yang tidak bersih,”

Bahu Leon bergetar, netranya semakin berkabut, laki-laki jakung itu menunjukan sisi rapuhnya, aku segera memeluknya menenangkan sahabat sependakianku, bukan hal yang mudah jika kehilangan seseorang yang dicintai dalam badai kabut dan mendapati dirinya tidak bernyawa, dengan tatapan kosong.

Apakah mahluk yang pertama kali aku lihat saat badai itu yang memakannya.

“Kita harus pergi dari sini!”Aku tertegun, suara Leon memecah keheningan malam terdengar getir, “Oke, gua yang gendong Rinjani” Pintaku, belum sempat aku meneruskan langkahku, Leon menahanku. “Rinjani, sudah gak ada!” Ujar Lirih leon, tubuhku membeku, Netraku bergetar, lidahku kelu tidak ada lagi kata-kata yang mampu aku lontarkan. Isak tangis Leon mereda, suara pilu menghancurkan sanubari itu, mereda. “Kita harus cari jalan keluar dari sini, kalau gak kita selanjutnya,” Ungkap Leon pasti, tubuhku bergetar. “Maksud kamu?” Tanyaku perlahan dan tak pasti, aku sendiri merasa gelisah tak tentu arah. Leon melempar tatapan hampa yang sulit dijelaskan.

“Kita tinggalin Rinjani disini, Vel!” Perintah Leon membuatku terkesip, aku menentangnya, “Nggak bisa gitu dong Leon, Rinjani pernah jadi pacar kamu!” Hardikku, Leon hendak melayang kan tinju namun, mengambang diudara.

“Biar gua yang gendong­” Ujarku pada Leon, amarahnya meledak. “Aku cowoknya, biar aku yang urus. Kamu diam! Kita harus keluar dari sini. Aku nggak mau dihantui rasa bersalah.” Jelas Leon mendapat tinjuan maut dariku, sudut bibir Leon berdarah.

Netra kami bertemu namun Leon, memandangku dengan tatapan yang sulit ku artikan “Kita keluar dalam keadaan hidup, atau mati mengenaskan.” Tandas Leon membuatku tertegun, kami harus segera menyingkap misteri ini. Aku dan Leon menatap Rinjani yang terbujur kaku tak bernyawa dan tersenyum tipis. “Leon, kita harus kebumikan Rinjani dengan layak.”

“Aku nggak bisa Vel, kita tutupin aja sama daun.” Aku mengiyakan ajakan Leon, dan tidak ingin bertindak lebih jauh lagi. Hari semakin gelap dan kami harus memulai perjalanan untuk mencari tempat berteduh untuk malam ini.

_________ ~__________

Aku dan Leon membisu sepanjang perjalanan, kaki kami berjalan tak tentu arah. Peta yang kami gunakan untuk menjadi penunjuk arah sudah tidak berbentuk. Bibir ku kelu memulai percakapan yang biasanya kami lontarkan. Tatapan hampa Leon memperjelas suasana hening ini, bahwa ia tidak bisa di ganggu.

Buah didahan daun yang ada tinggi dua meter nampak familiar dimataku, aku sering menyantapnya bersama bapak diladang. Aku mencium harum nan manis mengelitik perutku dengan segala keberanian demi memecahkan keheningan yang mencekik, tanganku merangkul pundak Leon. “Bro, istirahat bentar. Buah itu pernah Bapakku tanam, Kamu belum pernah nyoba kan?” Tanyaku membuat Leon mengangguk paksa.

Aku mencari ranting yang cukup besar untuk menjagal buah yang kuning keemasaan, tiga buah yang harumnya menguar itu benar-benar menghilangkan raut kesedihan Leon sementara waktu. Leon menghampiriku dan duduk bersila dihadapanku. “Wangi banget, ini buah apa?” Tanya Leon  dengan antusias. “Buah yang hanya tumbuh di dusun ini namanya Nangkadak.” Ujarku, dengan hati-hati. “Sayang banget, Rinjani nggak bisa ngerasain. Aku aja yang nge-wakilin.” Hibur Leon, aku melempar senyum tipis, sepertinya Leon sudah merasa lebih baik. Wajahnya tidak nampak murung lagi.

Puji tuhan alam semesta, semoga Rinjani diberkati.’Pintaku dalam hati, dan aku yakin Tuhan pasti akan mendengar doa hambanya. Aku melanjutkan dengan doa bapak kami dan menikmati buah Nangkadak yang manis nan ranum. Warna kuning keemasan pada buah yang besar nan lengket awalnya membuat Leon sedikit bergidik ngeri, namun ia tetap memasukkan buah itu kedalam mlutnya. Rasa manis bercampur asam, masuk ke indera pengecap Leon. Matanya berbinar terang. “Ini enak banget, Vel!” dan ia kembali memakan buah tersebut tanpa malu-malu dan merasa ngeri,

Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal, “Dulu, aku sama Bapak suka banget cari buah ini dihutan di kaki gunung. Pas masih kecil, sekarang itu semua tinggal kenangan, “Timpalku, Leon memperhatikan diriku dengan seksama, sembari memakan satu persatu buah Nangkadak yang tersaji didepannya. “Terus, Bapak kamu kemana, kenapa gak ikut pendakian?” Tanya Leon, aku melempar senyum tipis.

“Sakit, tubuhnya bahkan tidak bisa bergerak dan kurus kering.”Terangku, membuat kedua alis Leon bertaut. Ia mengumpulkan biji buah Nangkadak dan hendak membuangnya namun ku tahan. “Eh tunggu! Bijinya bisa direbus dan kulitnya kalau dibumbuin enak banget. Simpan aja” Jelasku.

Leon melempar tatapan tak percaya, mungkin dalam pikirannya untuk apa memakan biji dan kulit dari buah, namun ia mengiyakan permintaan Marvel yang terkesan kurang masuk logika.”Oke, di dalam tas Rinjani masih ada minyak dan berbagai macam bumbu instant untuk memasak.” Aku mengangguk pelan mendengar penuturan Leon. Setelah selesai menyantap tiga buah Nangkadak, kami bersiap mencari persediaan air namun, langkahku terhenti dan menyadari sesuatu, keganjilan baru namun mungkin itu hanya halusinasiku saja. Aku segera merapikan celanaku yang kotor oleh tanah dan meneruskan langkahku dengan pasti.

Leon memecah keheningan, “Vel, kamu tau nggak, aku ketemu sama Rinjani itu di gunung juga, pas kaki aku terkilir karena sepak terjang jalannya licin. Aku kepeleset dan akhirnya dia nolongi aku, karena aku ceroboh sering ngedaki bareng.” Jelas Leon, ia berjalan dengan hati-hati pada di tanah yang basah.. Aku tertawa namun ada rasa cemas merayap di dalam dada dan sulit aku utarakan.

“Keren banget, terus kelanjutannya gimana?”Tanyaku tanpa memalingkan wajahku kearah Leon, hidung bangir pria jakung itu kembang kempis, “Yah kami berdua jatuh cinta, terus rencananya mau nikah habis naklukin gunung ini tapi ternyata keburu dia yang ditaklukin.” Jelas Leon, tidak ada rasa gusar lagi di dalam matanya. Aku melempar senyum tipis dan mengalihkan pandanganku pada pohon besar yang telah mati dihadapan kami.

Dahan pohon yang mati teresebut terukir sesuatu familiar, ukiran berpola bulan sabit dengan bintang dan salib yang terbalik menghiasi pohon disekitar kami, aku baru menyadari hal itu namun, diam seribu bahasa apa.

Mungkinkah itu jejak pendaki sebelumnya? Aku pun tidak dapat memastikan dengan jelas arah yang akan kami tempuh. Perbekalan kami semakin menipis, mau tidak mau apabila habis kami harus menyediakan makanan dari alam. untung saja, Leon dan aku mengetahui beberapa tumbuhan yang dapat dimakan tanpa ada racun didalam hutan. “Vel, buat jaga-jaga cari ranting sama buah-buahan yuk.” Ajak Leon, aku menangguk tanpa suara dan berjalan sendirian tidak jauh dari arah yang kami tuju, di sepanjang jalan aku mengumpulkan ranting dan Leon mencari bahan makanan tanpa suara.

Rasa cemas semakin mengerogoti diriku, seperti ada bongkahan batu besar yang hendak menahanku. Jujur, ada ribuan pertanyaan merasuki kepalaku, keheningan hutan yang tidak biasa. kami masuk semakin jauh kedalam hutan. Aku menatap Leon dengan gusar, ia berjalan mendahuluiku mencari pasokan makanan yang bisa kami santap. Aku melihatnya membawa dua kresek sedang berisi buah-buahan liar. “Cuman segini yang aku dapat, vel sisanya beracun semua.”

Aku tersenyum kearah Leon, “Nggak papa Leon, ini udah cukup. Paling nggak kita bisa bertahan seminggu lagi.” Jelasku. Langit semakin mengelap, kami memutuskan mendirikan Tenda, aku menyalakan api mengunakan kedua batu yang digesekkan bersama. Api menyala dari ranting kayu yang kering. Kami pun mulai memasak biji buah Nangkadak dan aku mengupas kulitnya. Leon menatapku terkesima, “Nanti kalau kita udah keluar dari gunung ini, kita ngedaki bareng yah Marvel.” Pinta Leon, aku hanya meniyakan. Kulit buah Nangkadak telah matang dan kami memakannya. Leon tak hentinya mengucap kata enak, pada kulit buah yang aku bumbui dengan seadanya itu.

 Malam semakin larut, bulan dan bintang seolah ingin menyampaikan sesuatu pada kami, aku dan Leon masuk kedalam tenda membiarkan sisa dari api unggun yang tersisa bara apinya itu. Dalam diam aku memperhatikan Leon yang menulis sesuatu dibuku sakunya. Aku tidak berani mengintrupsi kegiatannya dan sibuk pada buku catatan ekspedisiku sendiri.

Tiba-tiba terlintas dikepalaku untuk menuliskan semua kejadian yang aku alami saat dipendakian ini. Dengan tekat penuh aku mulai membelakangi Leon dan menuliskan semua kejadian yang aku alami tanpa terkecuali. Suara jangkrik bersahutan memecahkan keheningan malam. Aku mulai memejamkan mataku dan terbuai ke alam mimpi. Suara besar dan mencekam itu datang mengema diseluruh kepalaku. Kepalaku terasa pening, aku merasa seperti seluruh tubuhku kembali tersedot oleh sesuatu yang besar dan membuatku serasa melayang.

Aku berdiri ditanah hitam yang bahkan tidak tahu dimana, kaki ku gemetar kala melihat sesosok hitam besar, dengan gigi taring yang mencuat dan mata yang melotot berwarna merah seperti darah. Tubuh yang tinggi menjulang, seluruh badannya tertutupi oleh bulu, hitam dan lebat. Aroma anyir menguar ditubuhnya membuatku mundur perlahan.

“Lari Marvel, tinggalkan gunung ini atau kamu akan mati!” Teriak sosok itu, membuat bulu romaku bergidik, aku berjalan mundur beberapa langkah namun nihil, mahluk buruk rupa itu berjalan mendekatiku, “Kematian akan berjarak seperti setengah jengkal jari jika kamu melakukanya.”Mahluk itu bernapas mendekatiku, aroma hawa panas yang membuat bulu kudukku meremang, membuatku mundur selangkah dan jatuh kedalam jurang, napasku tercekat. Aku berteriak dan tersentak dalam tidurku. Keringat dingin membasahi pelipisku, aku melirik Leon yang tengah tertidur pulas megang foto Rinjani disebelahnya. Getir, ternyata lidahku tegigit oleh gigiku saat aku tertidur tadi. Sialnya pagi masih lama, aku memutuskan untuk kembali memejamkan mataku dan menghilangkan bayangan mahluk tak kasat mata itu.

Ini adalah malam terburukku.

 

 

 

 

 

 

 

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
HARDARIYAM
Reveniella
Cerpen
Bronze
Kasur Basah
Hekto Kopter
Cerpen
Bronze
Penjaga Mimpi Yang Hilang
crabvy
Flash
Senja Gerimis di Dekat Laut
Tazkia Irsyad
Skrip Film
LUBANG HILUM (SEASON 1)
Priy Ant
Flash
Bronze
The Surprise
Aylanna N. Arcelia
Cerpen
Bronze
MUTASI DARI KAMAR BEDAH
Drs. Eriyadi Budiman (sesuai KTP)
Flash
In My New World
Via S Kim
Flash
Bronze
Someone in the corner
Elz
Cerpen
Maut di Kali Loning
Titin Widyawati
Flash
Kisah Hades dan Athena
Celica Yuzi
Flash
Ratap Tiri Tuan
lidia afrianti
Novel
Gold
Digital Fortress
Mizan Publishing
Novel
Warisan Simbok
cyintia caroline
Flash
Penaka Dongeng
Yuli Harahap
Rekomendasi
Cerpen
HARDARIYAM
Reveniella
Novel
Ruang Abu-abu
Reveniella
Novel
Venchouva
Reveniella
Novel
First place in my heart
Reveniella
Flash
Ayahku koruptor
Reveniella
Novel
Neskara
Reveniella
Flash
Wanita metropolitan
Reveniella
Cerpen
Hadriyam (2)
Reveniella
Flash
Apakah Aku Pantas Dicintai?
Reveniella
Novel
Lily and the mask
Reveniella
Flash
Penjara Aktivis
Reveniella
Flash
Anggap Aku Rumahmu
Reveniella
Cerpen
Laki-laki Tidak Bercerita
Reveniella
Flash
Lanang
Reveniella
Flash
Rakyat terpinggir
Reveniella