Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Disclaimer: Cerita ini adalah karya fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata yang saya dengar hari ini. Nama tokoh, lokasi, sekolah, dan beberapa detail telah diubah.Tulisan ini tidak ditujukan untuk menyerang sekolah, guru, atau pihak tertentu, melainkan sebagai refleksi atas keresahan sebagian orang tua terkait akses pendidikan bagi anak-anak mereka.Karena pada akhirnya, setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar dan meraih masa depannya.
Malam itu, ruang tamu kontrakan berukuran tiga kali empat meter terasa begitu sesak. Di atas meja kayu, tumpukan berkas administrasi berserakan di bawah pendar lampu yang temaram. Risa dan suaminya duduk berdampingan dengan guratan lelah yang jelas di wajah mereka setelah seharian bekerja. Namun, demi masa depan putra mereka, Athar, rasa lelah itu mereka tepis jauh-jauh. Di sudut ruangan, Athar yang baru saja lulus SD sedang menggosok sepatu sekolah hitamnya yang solnya sudah menipis.
"Ibu, Ayah, besok aku sudah bisa daftar ke SMP Negeri 3, kan?" tanya Athar, matanya berbinar penuh harap. "Kata guru, nilai ujianku bagus meski belum masuk sepuluh besar tapi sebelas. Nanti aku bisa berangkat jalan kaki kan nggak jauh."
Risa memaksakan sebuah senyuman, sementara suaminya mengelus rambut putranya untuk menyembunyikan getar cemas di dada mereka. "Ibu dan Ayah sedang usahakan, Sayang. Nilaimu bagus, pasti ada jalan."
Dua tahun lalu, pasangan suami istri ini memutuskan merantau demi mencari penghidupan yang lebih baik. Di lingkungan baru ini, mereka adalah warga yang nyata. Mereka membaur, bersosialisasi, dan taat membayar iuran warga. Bagi Athar, kota ini adalah rumahnya. Namun, bagi birokrasi, keluarga perantau ini hanyalah angka di atas selembar kertas.
Kejanggalan bermula ketika pihak Sekolah Dasar mengambil alih pembuatan akun PPDB online. Risa sempat heran, mengapa sistem yang seharusnya diakses mandiri secara online justru dikuasai sepihak oleh sekolah. Namun, ia memilih diam.
Hari pembuatan akun tiba, dan nasib buruk mulai mempermainkan mereka. Ponsel tua yang diamanahkan kepada Athar mati total karena kehabisan baterai tepat saat gilirannya tiba. Sepulang sekolah, ketakutan membuat bocah itu membisu. Di saat yang sama, Risa sebenarnya baru saja pulang melakukan survei ke sebuah sekolah swasta di Semarang. Jauh di lubuk hatinya, ada firasat buruk bahwa sistem zonasi yang kaku akan menendang anak perantau seperti mereka.
Malam harinya, grup WhatsApp paguyuban orang tua mendadak riuh. Satu per satu wali murid memamerkan bukti sukses pembuatan akun. Jantung Risa berdesir.
"Athar, akun kamu mana? Sini Ibu cek," desak Risa.
Athar menunduk dalam-dalam, jemarinya meremas ujung baju. "Lupa ngomong, Buk... Tadi HP-ku mati di sekolah, jadi belum sempat bikin akun."
Darah Risa rasanya berdesir naik ke kepala. Kelelahan dan rasa cemas yang menumpuk berhari-hari meledak menjadi amarah. "Kenapa baru bilang sekarang?! Kan Ibu bisa bikinkan mandiri dari rumah!" cecar Risa dengan nada tinggi.
Ia mengubek-ubek tas sekolah Athar dengan tangan gemetar. Namun, kemarahannya seketika berubah menjadi rasa frustrasi yang mencekik saat menyadari semua berkas fisik untuk pemindaian masih di kumpulkan di sekolah. Sang suami segera menenangkan Risa, merangkul Athar yang ketakutan, dan meredam ketegangan malam itu dengan kepasrahan yang berat.
Keesokan paginya, tanggal 13 Juni, adalah jadwal verifikasi data. Berbekal sisa harapan yang tersisa, Athar berangkat ke SMP 3 bersama teman-temannya. Risa dan suaminya melepas kepergian sang anak dengan doa yang berkecamuk, berharap ada celah kebaikan dari sistem yang kaku itu.
Namun, siang belum luruh ketika pintu kontrakan terbuka perlahan. Athar melangkah masuk dengan bahu merosot. Langkahnya berat, wajahnya kuyu, dan matanya berkaca-kaca.
"Ibuk... berkasku dikembalikan semua," bisik bocah itu lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.
Belum sempat mereka mendekap putranya, ponsel di kantong daster Risa bergetar. Sebuah pesan WhatsApp dari guru sekolah masuk menghantam dada seperti godam: “Maaf, Athar tidak bisa daftar ke SMP 3... jalur domisili maupun afirmasi karena KK luar daerah... data afirmasi tidak masuk kategori.” Bahkan dalam pesan lanjutan, disebutkan bahwa data bantuan milik Athar berada di level 6, sementara sistem hanya menerima level 1, 2, dan 3.
Seketika itu juga, dada Risa dan suaminya terasa sesak. Ini gila. Ini benar-benar tidak masuk akal!
Hari itu baru tanggal 13 Juni—hari di mana sistem baru melakukan tahapan verifikasi akun. Pendaftaran resmi bahkan baru akan dibuka tanggal 21 Juni, dan pengumuman resminya tanggal 27 Juni. Bagaimana mungkin seorang anak manusia sudah ditolak dan di-reject secara sepihak melalui ruang obrolan pribadi sebelum perang dimulai? Mengapa hak Athar untuk sekadar mengklik tombol "Daftar" dan bersaing secara transparan di dalam aplikasi telah dipatahkan secara paksa oleh ego birokrasi?
Di tengah amarah yang membakar dada, sebuah penyesalan yang teramat dalam menyergap Risa. Ia menatap Athar yang terduduk lesu di sudut kursi kayu memandangi sepatu sekolahnya yang baru saja ia lepas. Air mata Risa luruh. Ia menyesal karena malam sebelumnya telah memarahi anak itu habis-habisan hanya karena masalah ponsel mati. Suaminya segera menggenggam tangan Risa, menyadarkan bahwa ponsel Athar mati atau hidup tidak ada bedanya. Sebab, sejak awal, sistem yang kaku dan buta ini memang sudah bersiap menendang anak perantau seperti mereka. Aturan "Aturan harus KK per wilayah telah mengunci mati pintu sekolah negeri untuk putra mereka.
Melihat mental Athar yang terpukul, kedua orang tuanya segera mengambil langkah tegas. Sebagai ayah dan ibu yang utuh, mereka berkomitmen untuk mengupayakan apa pun demi pendidikan terbaik sang anak. Mereka menolak membiarkan Athar berlarut-larut dalam kesedihan akibat sistem negeri yang diskriminatif.
"Kita tidak akan mengemis di sini," ujar sang ayah mantap. "Masih ada jalur yang waras untuk menyelamatkan masa depan dan mental anak kita."
Risa mengangguk setuju. Brosur sekolah swasta berbasis Islam yang sempat ia survei di Semarang menjadi jangkar penyelamat mereka. Tanpa ragu, mereka mengalihkan fokus dan mendaftarkan Athar ke sekolah Islam swasta tersebut. Sekolah ini jauh lebih baik, inklusif, dan sama sekali tidak mendiskriminasi latar belakang tempat tinggal siswanya.
Bukan sekolah yang ekstrem atau kaku dalam beragama, melainkan sekolah berbasis boarding dan full day yang modern. Di sana, pendidikan agama yang mendalam diberikan secara proporsional sebagai penguat karakter setelah jam pelajaran formal selesai.
Melihat Athar mulai tersenyum kembali setelah di berikan pengertian, Risa dan suaminya pun ikut tersenyum lega, mereka menarik hikmah yang teramat mendalam. Mereka menyadari bahwa di balik pintu sekolah negeri yang tertutup dengan kejam, Allah justru membukakan jalan yang jauh lebih indah dan berkah.
Melalui sekolah swasta pilihan ini, Risa berharap kehidupan Athar menjadi jauh lebih tertata. Untuk kelas reguler, sistem full day school membuat Athar baru pulang setelah menunaikan sholat Ashar berjamaah. Sebagai orang tua, Risa merasa jauh lebih tenang dan damai. Jadwal sekolah yang padat dan positif ini akan meminimalisir Athar dari kegiatan-kegiatan unfaedah di luar rumah. Ketika pulang, Athar sudah cukup lelah untuk sekadar keluyuran ala anak pra-remaja yang biasanya sedang labil dan ingin mencoba hal-hal baru yang salah.
Malam itu, dengan hati yang lapang, Risa tetap membuka laptopnya. Ia tidak lagi meratapi nasib, melainkan mengetik sebuah Surat Terbuka dengan jemari yang mantap. Ia ingin menyuarakan jeritan hati jutaan perantau lainnya agar sistem kaku ini diubah. Namun, di dalam hatinya, ia tersenyum bersyukur; birokrasi manusia boleh saja menutup pintu mereka, tetapi pintu keadilan dan rencana terbaik Tuhan untuk masa depan Athar baru saja dimulai.