Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Hanya Satu Hari
0
Suka
7
Dibaca

Farelino

Sekarang, mantan kamu gimana? Masih suka chat kamu?

Untuk kesekian kalinya, Ara mendengus kesal, tatapan matanya tajam ke layar ponsel. Jari-jarinya menari dengan cepat, mengetikkan jawaban yang lagi-lagi diliputi kejengkelan.

Fara Zakiya A’dn

Tau akh.

Farelino

Kok kamu jawabannya gitu? Ada apa?

Fara Zakiya A’dn

Aku capek, Rel. Aku kesel sama kamu yang selalu bertanya tentang mantan aku terus. Please, satu hari aja. Jangan chat aku dulu. Aku mau istirahat dari semua pikiran ini.

Hening sejenak. Hanya tanda ‘sedang mengetik’ yang muncul, lalu hilang. Farel akhirnya membalas singkat.

Farelino

Iya. Maaf.

Setelah enam tahun berlalu, Fara Zakiya A’dn kini telah menetap di Cambridge, Massachusetts. Sebagai mahasiswi Harvard Business School, hari-harinya diisi dengan membedah strategi bisnis internasional dan persaingan global. Namun, kesuksesan sebagai alumni terbaik SMANLA Jakarta yang membawanya terbang ke Amerika lewat beasiswa itu tak mampu menghapus beban emosional yang ia bawa.

​Luka batin itu masih ada. Setiap kali ia mencoba tersenyum lepas, kenangan tentang masa lalu dan seseorang dari masa enam tahun lalu kembali mencekiknya.

​Sore itu, untuk melepas rasa sesak yang kian menghimpit, Fara memutuskan menyeberang ke arah Boston. Ia mencari ketenangan di Boston Common, sebuah taman publik yang terawat indah di jantung kota. Di bawah rindangnya pohon ek tua, Fara duduk terdiam. Buku tebal di pangkuannya hanya ia biarkan terbuka tanpa dibaca, sementara matanya menatap kosong ke arah danau kecil yang dikelilingi pepohonan artistik. Di tengah kedamaian bagian dari Emerald Necklace tersebut, Fara hanya berharap angin musim gugur bisa membawa pergi sedikit rasa sakit yang masih membekas di hatinya.

Tiba-tiba, getaran ponsel di saku mantelnya memecah keheningan. Fara tersentak dari lamunannya. Ia segera menutup buku, menyelipkan pembatas halaman dengan rapi, lalu mengangkat panggilan itu.

​“Halo…?”

​“Where are you, Fara? Kau menghilang lagi. Aku tidak melihatmu di asrama,” suara teman di seberang telepon terdengar cemas.

​“Aku di Boston Common. Ada apa? Aku masih punya waktu dua jam sebelum kelas dimulai.”

​“Cepatlah kembali. Satu jam lagi kelas pengantar akan dimulai. Jangan sampai terlambat, Fara. Apalagi ini kelas profesor baru yang sangat dinantikan banyak orang,” timpal temannya dengan nada tergesa.

​Fara menghela napas,“Thank you, Sist. On my way.”

Fara bangkit berdiri, menyampirkan tasnya, dan bergegas meninggalkan ketenangan taman menuju hiruk pikuk Harvard. Setibanya di lobi gedung fakultas yang megah, ia segera meniti tangga menuju kelasnya di lantai dua.

​“Untukmu,” sebuah suara dengan aksen Amerika yang kental menghentikan langkahnya.

​Fara menoleh dan mendapati Mark, teman sekelasnya, menyodorkan sebotol air mineral dingin.

​“Thank you, Mark,” ucap Fara dengan senyum tulus sambil meraih botol itu.

​Tiba-tiba, Fara berjongkok di lantai lobi. Ia memutar tutup botol dan meneguk airnya dengan cepat. Mark yang menyaksikan tingkah aneh dan unik itu hanya bisa menggelengkan kepala.

​“Kebiasaanmu tidak berubah, selalu minum sambil jongkok. Kenapa tidak ke kantin dulu atau setidaknya bersandar di dinding?” ujar Mark sambil terkekeh.

​“Habisnya, aku haus sekali dan tidak ada kursi di sini. Jadi, jongkok saja lebih praktis,” jawab Fara dengan cengengesan khasnya.

​Mark mengusap lembut puncak kepala Fara dengan gemas. “Ayo, segera ke kelas. Katanya, dosen baru yang akan mengajar kelas bisnis internasional sangat kompeten, lulusan Eropa.”

​“Dosen baru? Memangnya Miss Lucy ke mana? Aku tidak dengar kabar apa-apa,” Fara menautkan alisnya.

​“Kamu lupa? Dia sudah cuti melahirkan. Baby shower-nya kan bulan lalu, Fara.”

​“Oh iya, benar. Aku benar-benar lupa. Jadi, siapa yang akan mengajar kita?” tanya Fara penasaran.

​“Aku kurang tahu, Fara. Aku hanya dengar nama depannya, Sir Farel. Mungkin seseorang yang baru pindah dari London,” jawab Mark sambil mengedikkan bahu.

Setibanya di kelas, Fara memilih kursi di barisan belakang, tepat di samping jendela. Sementara itu, Mark melambaikan tangan singkat dan duduk di barisan depan, bergabung dengan Sarah, kekasihnya.

Fara mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Pikirannya kembali melayang kepada seseorang dari masa lalu. Sosok yang pernah memberinya sejuta tawa dan kebahagiaan, sebelum semuanya hancur berkeping-keping karena sebuah kesalahpahaman.

​Tiba-tiba, lamunannya terputus oleh suara langkah kaki yang tegas memasuki ruangan. Langkah itu terdengar berwibawa, bergema di lantai kelas hingga akhirnya berhenti tepat di depan podium.

“Good morning, everyone,” sebuah suara bariton yang dalam menyapa seisi ruangan.

​“Good morning, Sir,” jawab para mahasiswa serempak.

​Fara tertegun. Suara itu terasa sangat akrab di telinganya. Perlahan, seolah ada magnet yang menariknya, Fara mengangkat kepala. Matanya mengerjap. Dunianya seketika berhenti.

​Seluruh tubuhnya mendadak kaku. Fara sangat mengenali sosok itu. Pria yang berdiri di depan dengan jas rapi dan penampilan dewasa yang berwibawa adalah dia.

​Farelino Abraham.

​Darah Fara terasa berhenti mengalir, jantungnya sesak. Secepat kilat, ia menundukkan kepala lagi. Fara memejamkan mata dan mencoba mengatur napasnya yang tidak teratur. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tenang sebelum laki-laki itu menyadari keberadaannya di sana.

​“Perkenalkan, nama saya Farelino Abraham. Kalian bisa panggil saya Sir Farel. Saya akan mengampu mata kuliah Bisnis Internasional dan Strategi Pemasaran Global. Sebelum mulai, saya ingin kalian memperkenalkan diri satu per satu,” ucap Farel dengan suara yang tenang dan berwibawa.

​Satu per satu mahasiswa mulai memperkenalkan diri. Namun, saat tiba gilirannya, Fara hanya terdiam sambil terus menundukkan kepala.

​“Ra,” bisik Irish, teman di sampingnya sambil menyenggol pelan.

​Fara tersentak. Dengan suara yang hampir hilang, ia berbisik, “Saya Fara.”

​Farel yang berdiri di depan menatap ke arahnya dengan wajah datar. “Nama lengkap kamu, Fara.”

​Fara tetap menunduk, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia merasa tenggorokannya mendadak kering dan tersumbat oleh gumpalan emosi yang menyesakkan. Jeda itu terasa sangat lama, sampai akhirnya ia tidak punya pilihan lain.

​Dengan tangan yang gemetar di bawah meja, Fara mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia perlahan mengangkat wajah, hingga akhirnya matanya bertemu langsung dengan sepasang mata Farel yang sedang menunggunya.

​“Fara Zakiya A’dn,” ucapnya. Suaranya berusaha dibuat tegas, meski getaran di ujung kalimatnya tidak bisa ia sembunyikan.

​Fara bisa melihat perubahan kecil pada wajah Farel. Pria itu tampak terkejut, bahunya menegang sesaat. Namun, dengan cepat Farel kembali menguasai diri. Kelas pun berlanjut. Farel mengajar dengan sangat profesional, meski sesekali pandangan mereka tak sengaja bertemu.

​Di balik sikap tenangnya, hati Farel sebenarnya bergejolak. Ia ingin sekali berlari memeluk wanita itu dan menanyakan banyak hal untuk meluruskan masa lalu mereka. Sementara itu, Fara hanya bisa menunduk, mencoba fokus pada materi kuliah sambil sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh.

Setelah kelas usai, Fara langsung bergegas menuju taman di belakang kampus. Ia menemukan sebuah bangku kosong, lalu duduk dan memejamkan mata rapat-rapat, berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.

​Tiba-tiba, suara isak tangis terdengar. “Hiks... hiks...”

​Fara menoleh ke arah sumber suara. Di sebelah kanannya, seorang anak perempuan sedang berjongkok sambil menangis tersedu-sedu. Fara segera menghampirinya dan berjongkok di sampingnya, lalu mengelus rambut anak itu dengan lembut.

​“Hei, sayang. Kenapa menangis di sini, hm?” tanya Fara dengan suara lembut.

​“Aku... aku tersesat,” jawab anak perempuan itu sambil mendongak. Matanya yang basah menatap Fara dengan penuh ketakutan.

​“Jangan takut, little girl.” Fara menariknya ke dalam pelukan. “Di mana orang tuamu? Mereka pasti sedang mencarimu sekarang.”

​“Aku tidak tahu. Kata Mommy, aku disuruh menunggu di bawah pohon ini, dekat air mancur.”

​“Lalu, ke mana Mommy-mu sekarang?”

​“Menjemput Daddy. Katanya hari ini kami akan jalan-jalan ke kebun binatang setelah Daddy selesai urusan sebentar.”

​“Baiklah. Siapa namamu, manis?”

​“Angela.”

​“Ya sudah, jangan menangis lagi, Angela. Yuk, Kakak bantu cari Mommy dan Daddy-mu. Mungkin mereka ada di dekat sini.”

​Angela mengangguk patuh, menghapus air matanya. “Baik, Kak.”

Mereka berjalan pelan menelusuri taman belakang kampus. Tiba-tiba, teriakan seorang wanita memecah suasana dari arah belakang.

“ANGELA! Ya Tuhan! Kau di mana saja, Sayang!”

​Angela menoleh dan langsung berlari menuju seorang wanita cantik yang tampak sangat panik. Wanita itu memeluk Angela dengan erat, suaranya hampir histeris karena lega.

​“Ya Tuhan, Sayang. Mommy takut terjadi sesuatu padamu. Mommy mencarimu ke mana-mana, Mommy hampir gila karena cemas...”

​“Aku baik-baik saja, Mommy. Aku bersama Kakak ini. Dia yang menemaniku,” ujar Angela polos sambil menunjuk ke arah Fara.

​Tak lama kemudian, seorang laki-laki berjas yang tampak sangat cemas ikut berlari menghampiri. Ia langsung berlutut dan memeluk Angela dengan napas terengah-engah.

​“Ya Tuhan, Angela. Daddy mencemaskanmu. Jangan pernah pergi dari tempat yang Mommy bilang lagi, ya...”

​Dunia Fara seolah runtuh seketika. Pendengarannya mendadak berdenging.

Daddy?

​Fara terpaku di tempatnya berdiri, menatap pemandangan di depannya dengan tatapan kosong. Laki-laki yang sedang memeluk Angela dengan penuh kasih itu adalah Farel.

​Farel sudah menikah? Dada Fara terasa sesak, jauh lebih menyakitkan daripada saat ia melihat Farel di dalam kelas tadi. Luka lama yang belum sembuh, kini terasa dihantam kenyataan yang lebih pahit. Di hadapannya, dosen baru yang berwibawa itu adalah seorang Ayah yang sangat menyayangi putrinya. Pukulan itu terasa begitu telak.

​Farel, yang awalnya tidak menyadari siapa yang telah menolong putrinya, perlahan mendongak untuk menatap Fara.

​“Terima kasih banyak. Tanpa bantuan Anda, mungkin saya tidak akan bertemu deng...” Farel menghentikan ucapannya seketika. Matanya melebar, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia mengenali sosok yang berdiri di hadapannya.

​Suasana mendadak kaku. Farel segera menoleh ke arah wanita cantik di sampingnya.

​“Sayang, kamu dan Angela tunggu aku di mobil saja. Aku ingin mengucapkan terima kasih secara pribadi pada mahasiswaku ini. Cepatlah, rapatku akan segera dimulai,” ucap Farel, suaranya terdengar berusaha tetap profesional meski ada nada yang bergetar.

​“Tentu. Terima kasih sudah menolong anakku, ya,” ucap wanita itu kepada Fara dengan senyum ramah sebelum berlalu pergi sambil menggandeng Angela.

​Di taman yang kini kembali sepi, Farel menatap Fara dengan tatapan tajam, seolah ingin mencari jawaban di mata wanita itu. Fara tidak sanggup membalasnya. Ia membuang muka ke arah bunga-bunga di taman, yang kini tampak kabur karena air mata yang mulai menggenang.

​“Bagaimana kabarmu?” tanya Farel, suaranya berubah menjadi lembut dan berhati-hati.

​Fara diam membisu.

​“Kamu tidak merindukanku? Sama sekali?”

​Fara tetap diam, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.

​“Apakah kamu sudah melupakanku begitu saja, Fara? Setelah enam tahun kita hilang kontak?”

​Fara masih tidak menjawab, namun napasnya mulai terasa berat.

​“Jawab aku, FARA!” Farel tiba-tiba berteriak. Suaranya penuh dengan rasa frustrasi dan amarah yang sudah lama ia pendam.

​Fara tersentak. Tubuhnya bergetar dan emosinya ikut meledak.

​“Lalu aku harus bagaimana, Rel?! Aku harus tertawa bahagia karena bertemu denganmu? Bahagia karena melihat orang yang aku cintai ternyata sudah milik orang lain? Tidak, Farel! Kamu salah!” Fara balas berteriak sambil meneteskan air mata sudah membasahi pipinya

​Farel melangkah mendekat, tangannya terulur ingin menghapus air mata itu. Namun, Fara menepisnya dengan kasar.

​“Jangan menyentuhku, Farel! Kamu sudah menikah! Kamu punya anak! Hargai istrimu!” Fara mundur selangkah untuk menjaga jarak.

​“Aku?” Farel menunjuk dirinya sendiri, lalu mengacak rambutnya dengan frustrasi. “Jika bukan karena kamu yang meninggalkanku dulu, aku tidak akan melakukan semua ini, Fara!”

​“Aku meninggalkanmu? Kapan?! Aku tidak pernah meninggalkanmu!”

​“Lalu apa artinya pesanmu yang menyuruhku berhenti menghubungimu? Aku menunggu sehari, seminggu, sampai sebulan! Kamu tidak pernah kembali! Aku pikir kamu memang ingin pergi dariku selamanya!”

​“Ya Tuhan, Rel! Aku hanya memintamu untuk tidak menghubungiku selama satu hari! Bukan selamanya! Aku hanya ingin waktu untuk tenang karena kamu selalu meragukanku! Tolong pahami lagi ucapan itu, Rel! Jangan hanya didengar, tapi dipahami!”

​Farel terdiam membeku. Kata-kata Fara menghantamnya telak. Ingatannya kembali ke masa lalu—ke pesan singkat yang ia salah artikan. Karena satu hari yang dianggap selamanya, ia menyerah dan pergi.

​“Pada akhirnya, kita sama-sama terluka, Rel,” ujar Fara lirih, suaranya hampir hilang karena tangis. “Kamu salah paham, dan aku terlalu emosi. Kamu pergi meninggalkanku, tapi bodohnya aku tetap menunggumu selama enam tahun ini. Tapi sekarang kamu sudah berkeluarga. Tidak ada lagi yang bisa kita perbaiki.”

​“Maaf...” bisik Farel tertunduk.

​“Maafmu sudah terlambat. Waktu yang kita lalui sekarang hanya untuk dikenang, bukan untuk dijalani lagi,” ucap Fara sambil berusaha menghapus air matanya. “Berbahagialah. Jaga mereka baik-baik. Jangan sampai kamu kehilangan lagi untuk kedua kalinya. Aku ikhlas, Rel. Pergilah. Ini pertemuan terakhir kita.”

​Fara membalikkan badan, membelakangi Farel karena tidak sanggup lagi melihat wajah pria itu.

​“Berjanjilah, kamu akan bahagia tanpa aku, Ra,” ujar Farel dengan suara parau.

​Fara hanya mengangguk pelan. Ia tidak sanggup lagi mengeluarkan suara. Perlahan, Farel mendekat dan membisikkan sesuatu tepat di telinga Fara.

​“Ketahuilah... sampai sekarang, detak jantung ini masih untukmu, Fara. Hanya kamu.”

​Farel menarik diri, lalu berjalan menjauh dengan langkah yang terasa sangat berat. Fara jatuh terduduk di rerumputan, menangis sejadi-jadinya. Taman itu menjadi saksi bisu hancurnya sebuah harapan. Ia menyesal karena keegoisan di masa lalu telah memisahkan mereka. Kini, pria yang paling ia cintai telah menjadi milik orang lain, dan Fara harus terkubur dalam kenangan pahitnya sendiri.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Cerpen
Hanya Satu Hari
Dear An
Flash
KAKEK
Deswara Syanjaya
Flash
Bronze
SEMPAT RINDU
cial shintar
Novel
Rinjani Dan Elbrus
Ziendy Zizaziany
Novel
Kurma
Faiz el Faza
Novel
Bronze
Antara aku & mereka
Filosofi Miftahul janah
Flash
Kesalahan Manis dalam Segelas Americano
imagivine
Skrip Film
Aku seorang pelajar SMA dan kamu seorang mahasiswi
Nurfadillah
Novel
Bronze
The Castle In The Sky
Serafina
Novel
Bronze
FRANCISCAN GARDEN
Marlina Permatasari
Flash
Under The Rain #2 (END)
Yooni SRi
Flash
Love Story
Raden Maesaroh
Novel
Sabit di antara Gemintang
Ayne Kim
Flash
Bronze
CINTA RENATA
Maldalias
Flash
Ruang Tersembunyi dalam Hati
Cheri Nanas
Rekomendasi
Cerpen
Hanya Satu Hari
Dear An
Cerpen
Dua Hati Satu Janji
Dear An
Cerpen
Pelabuhan Langit
Dear An
Cerpen
Keputusan Terindah
Dear An
Cerpen
Pelabuhan Terakhir Amaryllis
Dear An
Cerpen
Sandiwara Reuni
Dear An
Cerpen
Untuk Hati Yang Mencari Arah
Dear An
Cerpen
Milikku Sejak Pandangan Pertama
Dear An
Cerpen
Sagara Elang: Milikku malam ini dan selamanya
Dear An
Novel
To Love The Untouchable
Dear An
Cerpen
Game Pembuka Rahasia
Dear An