Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bau tanah basah sisa hujan kemarin masih tercium jelas saat aku melangkah memasuki halaman rumah Mama.
Rumah ini besar, jauh lebih luas daripada rumah sempit kami di Gang Kenari, tapi atmosfernya selalu terasa dingin.
Ada keheningan yang menyesakkan, seolah dinding-dindingnya masih menyimpan rahasia yang tak pernah sempat Mama bawa ke liang lahat.
Mamaku namanya Rosa, baru saja dimakamkan beberapa hari lalu. Aku pun tidak sempat mencium tangannya untuk terakhir kali. Atau memaafkannya yang sudah membohongiku sampai aku berusia tujuh belas tahun.
"Mas, ini benar-benar akan jadi rumah kita?" Suara Sarmila, istriku, memecahkan lamunanku. Ia menggendong Satoru yang tampak gelisah sejak kami turun dari mobil.
"Iya, Sar. Rumah ini lebih layak untuk kita bertiga. Di Gang Kenari sudah terlalu sesak, kan?" jawabku, mencoba meyakinkan diriku sendiri.
Sarmila mengangguk pelan, matanya berbinar menatap ruang tamu yang luas. Ia tidak tahu apa yang pernah terjadi di balik dinding-dinding ini.
Pigura wajah Mama dan aku terlihat di setiap sudut, sehingga istri dan anakku bisa melihatnya tanpa perlu kujelaskan bagaimana rupanya.
Sudah sejak lama aku meninggalkan rumah ini. Bahkan ketika aku menikah, aku tak mengundangnya sebagai saksi.
Kini, sebelum kami benar-benar memindahkan semua barang, aku membawa mereka ke pemakaman umum. Kami berdiri di depan gundukan tanah yang masih baru. Papan nisan itu tertulis jelas: Rosalia Maharani binti Pradipto Rusli
"Ini nenekmu, Satoru," bisikku pada anak laki-lakiku yang baru berusia lima tahun setengah itu. Satoru hanya diam, matanya yang bulat menatap nisan tanpa ekspresi.
Aku berdoa sebentar, memohon maaf karena baru pulang sekarang. Namun, di sudut hatiku, ada rasa pahit yang sulit hilang.
Bukan hanya mengingat kasih sayang Mama, tapi juga mengingat bau karbol dan suara tangis tertahan yang dulu sering kudengar dari ruangan di lorong dapur.
Sore harinya, kami mulai menata barang. Aku sengaja sibuk mondar-mandir agar tidak perlu berlama-lama diam di satu titik. Namun, setiap kali melewati lorong menuju dapur, langkahku melambat.
Bayangan masa kecil itu muncul lagi. Aku ingat Mama dengan celemek putihnya, menutup pintu kayu di ujung lorong itu rapat-rapat.
Dulu, itu adalah tempat "praktiknya". Tempat di mana banyak kehidupan dihentikan sebelum sempat dimulai. Bau obat-obatan tajam seolah masih tertinggal di sana.
Dengan tangan gemetar, aku mendekati pintu misterius itu.
Yang pertama, aku menguncinya dengan kunci ganda. Kedua, aku menggeser lemari tua yang berat untuk menutup aksesnya sama sekali. Dan ketiga, aku berjanji dalam hati: Pintu ini tidak akan pernah dibuka lagi.
"Mas Toro? Kamu di mana?" panggil Sarmila dari depan.
"Iya, Sar! Sebentar, cuma merapikan sudut ini!" teriakku, sambil menyeka keringat dingin di dahi.
•••
Malam pertama di rumah Mama terasa begitu sunyi. Hanya suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring saat kami makan malam di meja kayu jati peninggalan Mama.
Sarmila terlihat senang, ia bercerita tentang rencana meletakkan pot bunga di teras depan. Tapi aku tidak bisa fokus. Perhatianku teralih pada Satoru.
Anak itu berhenti menyuap nasinya. Ia duduk tegak, kepalanya miring sedikit, matanya terpaku lurus ke arah lorong yang gelap—tepat ke arah pintu yang sudah kututup dengan lemari tadi.
"Satoru, ayo makan sayurnya, Nak," tegur Sarmila lembut.
Satoru tidak bergeming. Ia masih menatap lorong itu dengan tatapan kosong, seolah ada seseorang yang sedang berdiri di sana, menatap balik ke arah kami.
Bulu kudukku meremang. Di rumah seluas ini, aku baru sadar bahwa kami mungkin tidak benar-benar hanya bertiga.
"Nek ... Nenek senyum, Yah," bisik Satoru tiba-tiba.
Suaranya yang kecil terdengar begitu nyaring di ruang makan yang sunyi. Aku tersedak, tenggorokanku mendadak kering kerontang.
Sarmila yang tadinya hendak menyuap nasi, tangannya tertahan di udara. Wajahnya memucat seketika.
"Satoru ngomong apa, Nak? Nenek kan sudah di surga," sahut Sarmila dengan suara bergetar, mencoba tetap tenang meski matanya mulai melirik ke arah lorong gelap itu dengan cemas.
Satoru tidak menoleh pada Sarmila. Ia justru menatapku, matanya bulat dan jernih, namun tatapannya terasa sangat dewasa.
"Nenek berdiri di sana, di depan lemari besar itu. Nenek lihat Ayah terus ... Senyumnya lebar sekali."
Jantungku rasanya berhenti berdetak. Lemari besar itu adalah lemari yang kugunakan untuk menutupi pintu ruang praktik Mama. Aku tahu persis bagaimana cara Mama tersenyum kalau sedang merasa 'menang' setelah menyelesaikan pekerjaannya di ruangan itu.
"Sar, cepat habiskan makannya," perintahku dengan nada rendah dan tegas. Aku tidak ingin Satoru bicara lebih banyak lagi.
"Satoru, ayo habiskan susunya. Kita harus tidur, besok banyak yang harus dibereskan."
Kami makan dalam keheningan yang mencekam. Denting sendok di piring terasa seperti bunyi lonceng kematian.
Satoru akhirnya berhenti bicara, tapi matanya sesekali masih melirik ke arah lorong, seolah-olah memastikan 'Nenek' masih di sana mengawasi kami.
Satoru bukan anak indigo. Dia anak yang ceria dan sangat logis. Itulah yang membuat bulu kudukku berdiri—dia tidak sedang berimajinasi.
Begitu suapan terakhir selesai, aku hampir menyambar piring-piring itu ke dapur. Kami tidak membereskan meja dengan rapi, hanya menumpuknya begitu saja di wastafel.
Aku segera mengunci pintu ruang tengah. Sarmila menggendong Satoru erat-erat, seolah takut ada tangan tak terlihat yang akan menariknya. Kami bertiga masuk ke kamar utama dan mengunci pintunya rapat-rapat.
Di dalam kamar, Sarmila memelukku sambil gemetar. "Mas, Satoru nggak pernah bohong soal apa yang dia lihat ...."
Aku hanya bisa terdiam, menatap langit-langit kamar yang tinggi. Bau karbol itu—bau khas dari ruang eksekusi Mama—tiba-tiba tercium sangat tajam di dalam kamar ini, padahal semua jendela sudah kututup rapat.
Sepertinya menutup pintu dengan lemari saja tidak cukup untuk menghapus jejak Mama dari rumah ini.
•••
Lima hari berlalu, tapi suasana di rumah ini tidak kunjung mencair. Setiap kali aku pulang kerja, aku merasa seperti memasuki sebuah kotak kedap udara yang penuh tekanan.
Sore menjelang malam itu, kami duduk di ruang tamu. Sarmila menyajikan camilan, mencoba menciptakan suasana keluarga normal yang sangat kami dambakan.
Namun, ketenangan itu hanya sementara.
"Mas."
Sarmila memulai pembicaraan, suaranya pelan seolah takut ada telinga lain yang mendengarkan. "Sebenarnya ada apa di lorong itu? Sejak kita pindah, Satoru tidak pernah berhenti menatap ke sana. Dia seperti ..., terobsesi, tapi sekaligus takut."
Aku tertegun, baru saja hendak menyangkal dengan alasan 'imajinasi anak kecil' ketika tiba-tiba Satoru berdiri dari duduknya.
Tubuhnya yang kecil gemetar hebat. Wajahnya yang biasanya ceria kini pucat pasi, matanya membelalak menatap ke arah lemari besar yang menutupi pintu terlarang itu.
"Sakit, Yah ... Suaranya bikin sakit," bisik Satoru.
"Satoru? Nak, ada apa?" Sarmila mendekat, hendak merangkulnya, tapi Satoru tetap kaku.
"Ada suara pecutan, Yah! Ctar! Ctar! Keras sekali di dalam sana!" Satoru menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, seolah suara itu sedang memekakkan telinganya saat ini juga.
"Terus ... Banyak suara bayi. Bayinya nangis, Ayah. Banyak sekali!"
Mendengar kata "bayi", jantungku seperti dihantam palu godam. Ingatanku langsung terlempar ke masa lalu, ke balik pintu yang kini kututup lemari itu.
Aku tahu persis. Mama adalah seorang dukun aborsi. Di ruangan itulah, ratusan janin yang 'tak diinginkan' dihentikan napasnya. Suara tangis bayi yang didengar Satoru mungkin adalah gema dari nyawa-nyawa yang tak pernah sempat melihat dunia.
Aku mengerutkan kening. Suara bayi itu masuk akal dalam kegilaan ini, tapi suara pecutan tajam? Aku tidak pernah melihat Mama menggunakan cambuk atau pecut dalam praktiknya.
"Suara pecutan, Satoru? Kamu yakin?" tanyaku dengan suara serak.
Satoru mengangguk kuat-kuat. "Seperti suara tali yang dipukulkan ke lantai, Yah. Ctar! Terus bayi-bayinya diam sebentar, lalu nangis lagi."
Aku menatap Sarmila yang kini mulai menangis ketakutan. Aku sadar, menutupi pintu itu dengan lemari ternyata tidak cukup untuk membungkam dosa-dosa Mama.
Satoru, yang bahkan tidak tahu apa itu aborsi, bisa mendengar sisa-sisa penderitaan dari ruangan terkutuk itu.
Tiba-tiba, dari arah lorong yang gelap, terdengar suara krieek ... pelan. Lemari jati yang beratnya ratusan kilo itu bergeser beberapa sentimeter dengan sendirinya, seolah ada kekuatan dari dalam pintu yang mencoba mendorongnya keluar.
"Mas! Lemarinya gerak!" jerit Sarmila sambil memeluk Satoru.
Aku berdiri, mengepalkan tangan untuk menutupi rasa takutku yang luar biasa. Rahasia Mama bukan lagi sekadar kenangan buruk, tapi sesuatu yang nyata dan menuntut perhatian.
Suasana di ruang tamu yang tadinya hanya tegang, seketika berubah menjadi neraka bagi kami.
Satoru tiba-tiba menjerit histeris. Suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian rumah. Ia menunjuk ke arah lorong dengan jari yang gemetar hebat.
"Kepala! Ada kepala gelinding! Ayah, aku takut!"
Aku dan Sarmila spontan menoleh, namun kami hanya melihat lantai yang kosong. Satoru langsung menghambur ke arahku, kakinya memanjat minta digendong. Aku mendekapnya erat, bisa merasakan jantungnya berdetak liar seperti burung yang terperangkap.
"Itu ..., itu Nenek!" teriak Satoru lagi dari balik pundakku.
"Nenek datang ambil kepalanya!"
Satoru menceritakan apa yang ia lihat dengan terbata-bata. Di matanya yang polos namun ketakutan, sosok Mama muncul dari kegelapan lorong.
Mama berjalan tenang menghampiri kepala yang menggelinding itu. Namun yang lebih mengerikan, di belakang Mama, ada sebuah tubuh tanpa kepala yang melayang mengikuti langkahnya dengan kaku.
Mama berhenti di sana, tepat di batas cahaya lampu dapur. Menurut Satoru, Mama menatapnya dan tersenyum sangat lebar—senyum yang tidak menunjukkan kasih sayang, melainkan kepuasan yang ganjil.
"Nenek bilang ... Itu kepala Kakek," bisik Satoru sambil terisak.
Deg ...
Jantungku mencelos. Papaku meninggal belasan tahun lalu, dan sebelum meninggal, Mama selalu bilang kalau Papa pergi dari hidupnya karena demi wanita lain.
Tapi sekarang, mendengar ucapan Satoru, sebuah kenyataan pahit menghantamku. Suara pecutan yang didengar Satoru tadi ...
Mungkinkah itu suara Mama? Dan apa Papa meninggal karena dipenggal olehnya? Pikiranku mulai liar.
Apakah ruangan praktik itu bukan hanya untuk bayi, tapi juga tempat peristirahatan terakhir Papa? Kepalaku penuh pertanyaan gila itu detik ini.
Satoru terus mengoceh ketakutan, menggambarkan bagaimana Mama memungut kepala itu dan berjalan kembali ke lorong bersama tubuh tanpa kepala yang melayang di belakangnya.
"Mereka masuk ke sana lagi, Ayah. Nenek bilang mau diamkan bayi-bayinya dulu," ujar Satoru dengan suara yang perlahan mengecil.
Begitu mereka masuk ke balik lemari besar itu, suara tangisan bayi yang tadinya samar-samar terdengar oleh Satoru mendadak senyap.
Hening sesunyi kuburan. Hanya suara napas kami yang memburu dan isak tangis Sarmila yang memenuhi ruangan.
Sarmila menatapku dengan mata sembab, penuh tuntutan untuk pergi dari sini sekarang juga.
"Mas ... Kita nggak bisa tinggal di sini. Ini menyeramkan, Mas."
Aku berdiri mematung di tengah ruang tamu, menatap lemari jati yang menutupi pintu itu. Kini aku tahu kenapa Mama tidak pernah membiarkan siapa pun masuk ke sana, dan kenapa ia begitu betah menjanda hingga ajalnya tiba.
Malam itu juga, tanpa pikir panjang, aku menyambar kunci mobil. Tidak ada waktu untuk mengemas baju, tidak ada waktu untuk menata barang-barang yang baru saja kami susun dengan rapi. Rumah ini bukan lagi sebuah warisan, melainkan sebuah monumen dosa yang seharusnya terkubur selamanya.
"Mas, kunci pintunya! Cepat!" Sarmila mendesak, ia sudah berada di dalam mobil sambil mendekap Satoru yang masih menyembunyikan wajahnya di balik dada ibunya.
Aku berlari menuju pintu depan, tapi langkahku terhenti sesaat. Dari kejauhan, di ujung lorong yang gelap itu, aku mendengar suara pecutan pelan sekali. Ctar. Disusul oleh gumaman suara Mama yang seolah-olah sedang meninabobokan sesuatu.
"Pergi, Mas! Jangan menoleh!" teriakan Sarmila menyadarkanku.
Aku membanting pintu depan, menguncinya dari luar dengan tangan yang basah oleh keringat dingin.
Aku memacu mobil keluar dari halaman rumah Mama tanpa berani melihat ke kaca spion. Aku takut jika aku melihat ke belakang, aku akan melihat Mama dan tubuh tanpa kepala Papa.
Aku membayangkan mereka berdiri di jendela lantai atas, dan melambaikan tangan pada kami. Entah, pikiranku menjadi gila.
Kami akhirnya kembali ke rumah yang ada di Gang Kenari. Biarlah rumah itu sempit, biarlah kami harus memulai dari awal lagi dengan sisa tabungan yang ada.
Setidaknya di sana, tidak ada suara bayi yang menangis dan tidak ada kepala yang menggelinding di lantai dapur seperti yang Satoru bilang.
•••
Beberapa minggu kemudian, aku mendengar kabar dari tetangga lama Mama bahwa rumah besar itu kini terbengkalai.
Tidak ada yang berani mendekat karena mereka sering mendengar suara tangisan bayi dari dalam rumah yang kosong tersebut.
Aku hanya bisa terdiam. Aku memutuskan untuk tidak akan pernah kembali ke sana. Rahasia tentang Papa, tentang bayi-bayi itu, dan tentang kekejaman Mama biarlah terkunci rapat di balik lemari jati yang menutupi pintu maut itu.
Satoru perlahan mulai melupakan kejadiannya, tapi terkadang, saat ia melihat lorong gelap di Gang Kenari, ia akan menggandeng tanganku dengan erat—sebuah pengingat bahwa trauma itu telah meninggalkan bekas yang tak terlihat.
•