Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Entah berapa lama Sandi duduk dengan mata nanar, mematung, hampir melorot di pinggir ranjang yang berantakan parah. Mata nanar itu menatap dinding abu-abu di depannya, tak berkedip sama sekali entah sudah berapa lama. Dalam hening yang dalam dia menyadari kalau dinding kamarnya ternyata jauh dari kata lebar. Warna abu yang kusam, karena terakhir dicat oleh pemilik kos lebih dari satu dekade lalu, membuat dinding yang dipenuhi retakan tipis itu tampak makin memuakkan. Bagaimana bisa dia bertahan tinggal di kamar kos sempit dan butek ini sampai sekian lama? Sandi menghela napas pelan. Jawabannya tidak jauh-jauh dari duit! Setelah bekerja sepuluh tahun lebih, dia masih saja tidak punya cukup duit untuk membayar kamar yang lebih layak.
Akhirnya dia pun beranjak, walau hanya sejengkal, menggeser pantatnya sedikit ke kanan, ketika merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bawahnya. Ternyata dua tiket kereta, Jakarta - Semarang pulang pergi. Tanpa mencoba berusaha sama sekali, dia menarik tiket itu dari bawah paha, malas-malasan. Dalam remang, matanya langsung tertuju ke jam keberangkatan di bagian depan tiket, 23.10. Mata lelah itu langsung beralih ke jam di dinding, sesudahnya. Jam 10 lewat 10. Pantas saja kamarnya sudah temaram. Dia tidak ingat bagaimana bisa beberapa jam berlalu begitu saja, dalam sekejap, tanpa tahu apa yang terjadi. Hal terakhir yang bisa dia ingat adalah saat sedang diburu-buru Angga, Manager rese di kantor, supaya laporan bulan ini segera dikirim sebelum jam 5 sore, sebelum pria nyinyir itu berangkat ke airport untuk mengejar pesawat malam ke Jepang. Angga tidak ingin liburan Lebarannya diganggu. Karenanya dia memastikan Sandi harus bekerja ekstra keras menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya dia kerjakan sendiri.
Tapi, kalau dipikir-pikir, Angga tidak sepenuhnya salah. Sandi punya andil juga kenapa Angga bisa se-ngehek itu. Bahkan andilnya lebih banyak dibanding Angga sendiri. Sandi selalu membiarkan Angga meng-abuse posisinya, menyuruh Sandi mengerjakan banyak hal di luar job-desc. Karena dia ingin dianggap sebagai anak buah yang bisa diandalkan. Sandi sering mendengar teman-teman satu timnya menyebutnya penjilat. Dia tak peduli. Tepatnya, dia tidak punya cukup nyali untuk peduli dan mengonfrontasi mereka. Jauh di lubuk hati terdalamnya, dia tahu mereka benar. Sandi membutuhkan pekerjaan ini. Banyak mulut bergantung pada angka di slip gajinya, yang sebenarnya tidak seberapa itu. Apa pun akan dia lakukan untuk mempertahankannya.
Setelah beberapa kali bolak-balik, dibentak dan dimaki, akhirnya Angga menerima revisi ke-9 dari laporan yang dibuat Sandi, dua menit sebelum jam lima. Tak lama setelah itu mobil Angga pun meninggalkan parkiran kantor. Beberapa menit sesudahnya, Sandi terlihat menancap gas motor bututnya, langsung balik ke kos. Dia baru sadar kalau belum packing sama sekali untuk perjalanan malam nanti. Sesampai di kos, langsung masuk kamar, Sandi membanting badan ke ranjang, tanpa menyalakan lampu. Matanya sempat menatap jam dinding, 20 menit sebelum berbuka puasa. That’s it! Hanya itu yang dia ingat, sebelum tersadar duduk dalam gelap empat jam kemudian.
Shit! Umpatnya dalam hati, saat sadar kalau dia belum berbuka puasa. Matanya menatap sekeliling kamar. Hanya tampak satu botol air mineral, yang terisi seperempat. Tangan kanannya menyambar botol itu, yang entah sudah berapa lama tergeletak di sana, langsung menenggak air di dalamnya. Belum sempat melewati tenggorokan, air itu tersembur balik keluar dari mulutnya.
"Fuck!” Kali ini umpatan itu meluncur lantang dari mulut basahnya. Dengan kasar dia menggosok mulut menggunakan ujung selimut, mencoba menghapus cairan asam yang baru saja dia tenggak. Matanya menatap botol mineral yang sudah mengkerut karena genggaman erat tangannya. Perlahan botol itu didekatkan ke mata, untuk mencoba memahami apa yang ada di dalam sana. Entah kenapa, tak terpikir sama sekali olehnya untuk menyalakan lampu kamar.
Setelah menatap isi botol itu sesaat dalam temaram, Sandi pun berjengit, menyadari kalau air di dalamnya tampak kuning, keruh. Kuduknya langsung bergidik. Ususnya berputar, memaksa apa pun yang ada di sana untuk kembali ke lambung, sebelum naik ke tenggorokan, dan akhirnya berkumpul di mulutnya dalam bentuk muntahan pahit. Sandi melempar botol ke lantai, berlari panik ke kamar mandi, sebelum muntah menjijikkan itu mengotori lantai kamar yang tidak bersih-bersih amat.
Cairan kuning pekat kental berhamburan dari mulutnya, meluncur deras ke dalam toilet duduk yang pinggiran dan bagian dalamnya dipenuhi lumut berwarna kuning tinja. Muntahan itu seperti menemukan rumah yang layak. Sandi langsung berkumur dengan air dari ember di samping toilet, sebelum kembali ke kamar. Dia berhenti di depan cermin di seberang ranjang. Cahaya lampu jalan di luar kamar yang masuk melalui celah ventilasi memantul samar-samar ke wajah pucatnya. Apa yang terjadi?! Umpatnya dalam hati.
Matanya masih menatap pantulan wajahnya di cermin buram itu tajam. Beribu pertanyaan memancar dari mata sayunya. Apa yang terjadi pada gue? Apa yang sudah gue lakukan dalam hidup ini? Kenapa hidup jahat banget ke gue? Kenapa keluarga gue setega itu? Kenapa mereka gak tahu diuntung? Kenapa…?!
Sebelum pikiran berisiknya beranjak ke pertanyaan lain, samar-samar dia merasakan sesuatu menjalar pelan di betisnya, perlahan beranjak ke paha. Palingan semut, pikirnya. Matanya kembali menatap tajam wajah di cermin. Pantulan yang makin membuatnya muak. Terlalu muak. Sampai-sampai seonggok cairan kental seperti kembali menjalar cepat ke tenggorokannya. Belum sempat bereaksi, tiba-tiba dia merasakan genggaman keras di paha. Apa pun yang tadi menjalar di sana memutuskan untuk menaikkan tingkat kekurangajarannya.
Sandi tersentak keras, hampir terjengkang. Cairan kental yang tadi menaiki tenggorokan pun berhamburan memenuhi cermin. Sontak dia pun menekan paha, mencoba menepis apa pun yang ada di sana. Tangannya merasakan sesuatu yang dingin, agak basah, berbuku-buku seperti jemari. Terdiam sejenak, mencoba memahami apa yang sedang dia genggam… Hanya beberapa detik, dia pun menjerit keras, menarik apa pun yang ada di genggamannya, melempar panik ke arah kamar mandi, sebelum tersungkur menabrak dinding.
Dengan napas terengah, dan mata dipenuhi keringat dingin yang mengucur deras dari dahi, dia menatap tangannya, melihat ke sekeliling, sebelum mata itu berhenti memelototi kamar mandi. Tak ada apa-apa di tangannya, tak ada cairan dingin sama sekali. Begitu pun di kamar mandi, tidak ada apa-apa! Sandi bersumpah harusnya ada sesuatu di sana!
Dengan badan gemetar, Sandi mencoba bangkit, meraih hape di atas ranjang. Belasan notifikasi WA memenuhi layarnya. “San, tambahan duit untuk Bapak belum jadi ditransfer?”. “Om, beliin sepatu futsal baru!”. “THR mana ni, Kak?”. “Kalau pulkam jangan lupa oleh-oleh, bzq!” Beberapa pesan yang sempat terbaca. Perut Sandi kembali mual. Tidak, tidak, jangan muntah lagi! Mohonnya memelas. Hape itu pun dia lempar begitu saja ke tengah ranjang, mendarat di tumpukan selimut yang sudah berhari-hari tidak dilipat.
Matanya menatap hape itu sejenak, dengan perasaan berkecamuk. Kenapa semua orang tak tahu diri?! Gue saja tidak membeli apa-apa untuk diri gue Lebaran kali ini! Sudah dua tahun gajinya tidak naik sama sekali, tapi pengeluarannya naik hampir dua kali lipat. Karena sangat tidak mungkin mengurangi kiriman ke kampung, dia terpaksa mengurangi banyak kebutuhan untuk dirinya sendiri. Tapi, mau sampai kapan?! Jerit batinnya.
Matanya masih menatap hape itu tajam, saat darah mengalir kencang di nadinya ke arah pelipis. Membuat kepalanya seakan berputar kencang. Kedua tanganya memegangi kepala erat, mencoba menghentikan sentakan keras dari aliran darah deras di dalamnya. Matanya dipejamkan, sambil menarik napas pelan dan panjang. Satu… dua… tiga… empat… lima… enam. Menahannya enam detik, sebelum membuang napas sambil membuka mata perlahan, yang langsung kembali tertuju ke tengah ranjang.
Sandi terdiam sejenak. Menenangkan diri. Tapi… Ada yang aneh, pikirnya. Hapenya di mana? Belum hilang bingungnya, matanya tertegun, hampir membelalak, saat menangkap ada gerakan pelan dari balik selimut itu. Awalnya dia pikir hanya halusinasi saja. Tapi gerakan itu makin kentara. Selimut itu perlahan terangkat, terangkat, terangkat makin tinggi… Sampai berdiri tegak lurus di atas ranjang.
Sandi memekik keras, dengan badan, lagi-lagi, terlempar ke belakang, membentur dinding sangat keras. Pelipisnya berdenyut makin kencang. Rasanya jauh lebih menyakitkan dari sebelumnya. Tangannya kembali memegangi pelipis itu, menekannya keras, sambil bersujud membanting kening berkali-kali ke lantai, matanya terpejam rapat.
Semua ini tidak nyata. Tidak nyata. Tidak nyata! Mulutnya merepet tak henti. Dia terus membanting kepala berulang-ulang, berharap semuanya berhenti. Namun hihil. Dia masih dapat merasakan dengan jelas sesuatu di balik selimut sedang bergerak perlahan ke arahnya.
Tidak nyata. Tidak nyata! Selimut terasa semakin dekat. Semilir angin dari kipas di sudut kamar melempar ujung selimut, mengenai ujung jarinya. Sandi bergidik. Siap kembali memekik sekuatnya.
Kring!!! Nada dering menyebalkan tiba-tiba bergema keras dari hapenya. Nada dering yang membuatnya trauma. Karena biasanya hanya akan berujung dengan pertanyaan “transferannya mana?!”
Kring! Kring! Kring!
Sandi tiba-tiba sadar kalau tak lagi merasakan ada yang mencoba mendekatinya. Setengah hati, dia akhirnya memberanikan mengangkat wajah dari lantai, membuka mata perlahan. Tampak hape android model lama itu masih berdering keras di atas selimut di tengah ranjang. Di posisi yang sama persis seperti setelah dia lempar tadi. But, how?!
Dengan badan masih gemetar, dia bangkit, mendekati hape. Tampak di layar ada telepon masuk dari Bapaknya. Sandi mengabaikan, membiarkannya berdering berkali-kali begitu saja. Akhirnya dering menyebalkan itu berhenti sendiri. Saat bersamaan, kamar itu tiba-tiba menjadi sunyi senyap. Sangat senyap. Senyap yang tidak wajar. Seakan-akan kehidupan di luar sana berhenti begitu saja. Tak ada suara kendaraan lewat. Atau klakson dari pengemudi tak sabaran. Atau teriakan dan tawa garing Mak-mak gang yang menggosip bareng setelah tarawih, sambil mengawasi bocil-bocil nakal main petasan. Semua kebisingan itu mendadak raib. Begitu saja. Membuat setiap gerakan sehalus apa pun di kamar itu terdengar nyaring. Tetesan air keran. Baling-baling kipas angin. Detak jam dinding!
Matanya langsung tertuju ke jam butut itu. Sial! 10 menit lagi sebelum jam keberangkatan keretanya! Panik kembali melanda saat dia melihat koper yang akan dia pakai masih teronggok di atas lemari. Dengan kasar dia menarik kursi kayu di pinggir ranjang, menyeretnya ke depan lemari. Meski pun terasa sangat berat, dia berhasil memaksa kedua kakinya menaiki kursi. Tangannya langsung menarik gagang koper. Stuck. Koper hitam murahan itu tak bergerak sama sekali. Sandi menarik lebih kuat. Masih stuck.
Kenapa semuanya menyebalkan?! Makinya.
Dengan tangan terkepal erat ke gagang, sambil menahan napas, dia menarik koper itu sekeras mungkin. Tak dinyana, alih-alih bergeser, koper itu seakan menariknya kembali, tak kalah keras, sampai sikunya seperti dipelintir kencang, sakit tak kepalang. Belum sempat bereaksi, tiba-tiba Sandi merasakan dorongan kuat sangat kasar, membuat genggaman tangannya terlepas dari gagang koper, sebelum terbanting keras dari atas kursi. Punggungnya membentur lantai kamar, disusul kepala yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari frame besi karatan di ujung ranjang. Dengan terkesiap dia menggeliat, menahan sakit tak terkira di punggungnya. Dengan nanar dia menatap frame besi itu, tak sanggup bayangkan apa yang terjadi jikalau kepalanya mendarat di sana.
Darahnya yang mengalir deras ke otak karena kaget tak kepalang belum sempat mengalir balik ke jantung, saat tiba-tiba koper itu ‘meloncat’ begitu saja ke arahnya. Sandi bersumpah, koper itu MELONCAT! Tidak jatuh. Meloncat, seakan mau menerkamnya. Dengan kalap dia coba menghindar, membanting badan ke arah ranjang. Namun tak cukup. Koper itu masih sempat menimpa bahu kanannya. Sangat keras, bahu itu pun terasa copot dari persendian. Pekikan keras menyayat hati pun meluncur dari bibir keringnya. Pekikan yang membuat semua pasokan udara di paru-parunya tertarik keluar, melewati kerongkongan yang belum tersiram air setetes pun sejak 20 jam lalu. Kerongkongan itu terasa makin kering kerontang.
Kesunyian yang dahsyat di sekelilingnya membuat pekikan itu terdengar makin kentara. Dia tidak peduli kalau ada yang terganggu. Biarkan saja. Biar mereka datang ke kamar itu untuk memakinya.
Sandi menendang koper sekuat tenaga, mendorongnya sejauh mungkin, sampai membentur pintu lemari kayu. Lagi-lagi kebisingan yang ditimbulkan terdengar ekstra. Belum sempat bangkit dari lantai, hapenya kembali berbunyi nyaring. Pesan-pesan WA masuk secara beruntun. Tertatih Sandi bangkit, berlutut di pinggir ranjang. Pesan-pesan itu terus berdatangan. Dengan isi yang sebelas dua belas, hanya membuat pikirannya makin kusut.
Sejak lama dia mempertanyakan arti sebenarnya dari mudik Lebaran. Apa gunanya kalau hanya membebani lahir dan batin? Bukankah harusnya mudik Lebaran itu jadi pelarian sejenak dari kerasnya kehidupan sehari-hari di rantau? Kalau akhirnya hanya menjadi tetesan jeruk nipis di atas luka terbuka, masih perlukah dilakukan?
Dia sadar jawaban dari pertanyaan itu tidak akan pernah berpihak padanya. Ujung-ujungnya hanya akan membuat dia dicap sebagai manusia tak tahu budi, anak durhaka, dan panggilan nista lain semacamnya.
Apakah memang takdir manusia itu dilahirkan untuk membalas budi seumur hidup? Lalu berketurunan, supaya budi itu bisa dilanjutkan, dan giliran dia untuk menerima balasannya tiba? Bagaimana kalau keadaannya seperti dia? Terlahir sebagai anak laki-laki satu-satunya dari empat bersaudara. Walaupun sadar mereka sangat miskin, orang tuanya tak gentar untuk memiliki anak sebanyak itu. Tiap anak ada rejeki masing-masing, kata mereka menyenangkan hati.
Dari kecil orang tuanya tak henti mengingatkan kalau suatu saat dia harus mengambil alih tanggung jawab mereka. Karena dia anak laki-laki satu-satunya! Tanpa menunggu lama, orang tuanya hanya memberinya waktu sampai tamat SD untuk tak sungkan melimpahkan semua tanggung jawab berat itu kepadanya.
Sejak itu dia sudah harus mengurus diri sendiri, sekaligus mengurus keluarga besarnya. Sejak itu dia tak pernah berhenti bekerja. Serabutan, apa saja, asal bisa membawa beberapa ribu rupiah pulang ke rumah. Kalau tidak, telinganya tak akan berhenti didera omelan dan kata-kata kasar. Badannya pun tak jarang harus menahan pecutan ikat pinggang kulit imitasi butut milik ayahnya. Sejak itu Sandi tak punya pilihan. Apa pun harus dia lakukan seharian demi beberapa lembar Rupiah.
Tak terasa sudah lima belas tahun lebih dia menjadi tulung punggung keluarga. Lebih lama dari orang tuanya merawat dia. Apakah budi orang tuanya masih belum lunas juga? Sayangnya jawabannya tak akan pernah bisa lunas. Karena mereka yang membawanya ke dunia ini. Dan menurut norma, itu nilainya tak terhingga.
Sandi sering berkhayal, andaikan waktu bisa diulang, dan dia diberi pilihan untuk ingin dilahirkan atau tidak. Dengan lantang dia pasti akan menjawab TIDAK! Apa gunanya terlahir jika hanya untuk menjadi sengsara?
Kecamuk dan carut marut yang memenuhi pikirannya tiba-tiba terhenti, saat asap putih tipis tiba-tiba menjalar dari sela-sela pintu lemari, perlahan memenuhi kamar. Semuanya mendadak jadi kabur, dan sesak. Dengan sekuat tenaga, tertatih, Sandi menyeret badan ke arah pintu yang tertutup rapat. Jarak pintu yang tak sampai dua meter terasa sangat jauh. Bersusah payah, hampir kehabisan napas, dia akhirnya sampai. Tapi, gagang pintu itu tak tampak. Hanya papan yang menempel rapat ke dinding di kiri kanan. Dia meraba-raba panik. Benar-benar tidak ada! Sandi beranjak ke arah jendela. Sama. Tak ada gagang, hanya kaca dengan kusen yang menyatu rapat dengan dinding.
Dada Sandi makin sesak, napasnya mulai melemah. Dia bisa merasakan asap putih itu sudah mengambil alih sisa-sisa oksigen di kamar itu dan di rongga paru-parunya. Dia menatap nanar keluar, dari kaca jendela. Tak ada apa-apa di sana. Hanya kegelapan yang sangat pekat. Dimana orang-oramg? Dia menggedor kaca itu keras, memukulnya sekuat tenaga. Tak mempan, kaca itu bergeming. Tidak wajar, mengingat tipisnya.
Suara dering hape kembali terdengar. Sandi berbalik, menatap hape butut yang masih tergeletak di atas selimut di tengah ranjang. Pesan beruntun kembali terdengar tak henti, diselingi dering telepon masuk. Bergantian, terus-menerus.
Sandi hanya menatap lemah. Dadanya makin sesak, tubuhnya tak mampu lagi dipaksa berdiri. Dia pun terjerembab menghantam lantai. Tiba-tiba dering-dering bak mimpi buruk dari hapenya berhenti. Kamar itu pun mendadak kembali hening, sehening-hengingnya.
Suara tetesan air kembali terdengar nyaring. Detak jarum jam di dinding terasa menyentak. Di tengah usahanya untuk tetap terbangun, mata Sandi menoleh lemah ke arah jam itu. Suara detaknya makin keras, seakan hanya suara itu yang tersisa di dunia ini.
Jam sebelas lewat sepuluh. Jam keberangkatan kereta mudiknya. Tapi dia belum packing…. Duit tambahan untuk Bapak belum dia transfer. Sepatu futsal baru untuk ponakannya belum kebeli. Duit baru untuk THR belum sempat ditukar. Bukannya dia menunda-nunda. Tapi uang gaji dan THRnya sudah keburu abis. Dari kemarin dia masih menunggu pinjaman onlinenya cair. Tapi tak kunjung cair sampai sekarang. Kalau pun cair, tak akan ada gunanya. Keretanya sudah keburu jalan. Dan dia sudah tak punya tenaga, bahkan sekadar untuk membuka mata.
Sandi menarik napas dalam, matanya masih terpejam rapat. Terbayang umpatan Bapak, omelan Ibu, atau keluhan kakak-kakak perempuannya dan anak-anak mereka. Mereka masih menunggu jatah dari Sandi, yang sampai sekarang belum bisa dia bagi. Sekali lagi dia menarik napas panjang, memejamkan mata sekuatnya. Kali ini bayangan-bayangan itu lenyap… Untuk pertama kali dalam hidupnya Sandi merasakan otaknya berhenti berkecamuk, hatinya berhenti gusar.
Apakah ini yang namanya kedamaian? Indah dan ajaib sekali rasanya.
Apakah ini rasa mudik Lebaran seharusnya?