Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Pagi selalu terasa lebih hangat jika dimulai bersama Dion. Bagi Nara, tidak ada yang lebih sempurna daripada membuka mata perlahan dan menemukan Dion sudah ada di sana. Cahaya matahari yang menyelinap melalui celah tirai jatuh lembut di wajah lelaki itu, yang masih tertidur lelap. Rambutnya yang sedikit berantakan membuatnya terlihat jauh lebih muda dari biasanya, dan Nara tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.
Pelan-pelan, Nara merapikan beberapa helai rambut yang menutupi dahi Dion, gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membangunkannya. Jari-jemarinya menyusuri garis wajah yang selama ini hanya bisa ia kagumi dari jarak aman.
"Kamu cantik kalau lagi senyum," gumam Dion dengan suara serak khas bangun tidur, matanya masih terpejam rapat. Suara itu begitu dekat, hingga napas hangat Dion berhembus menyapu kulit wajah Nara.
"Lho, katanya tidur," balas Nara, terkejut namun menyembunyikan getar bahagia di dadanya.
"Tidur juga tahu kalau ada yang lagi lihatin."
Nara tertawa pelan, lalu memukul lengan Dion dengan manja. "Dasar."
Dion akhirnya membuka mata. Tatapannya begitu hangat, sehangat sinar pagi yang kini telah memenuhi seluruh kamar. Tanpa berkata apa-apa, ia mendekat, menarik tubuh Nara sedikit lebih rapat, dan sebuah kecupan singkat mendarat di pipi Nara. Begitu lembut, begitu nyata.
"Aku belum sikat gigi," protes Nara sambil menahan malu, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Memangnya aku keberatan?" Dion tersenyum, menarik jemari Nara dari wajahnya untuk menatap mata perempuan itu kembali.
Nara memalingkan wajahnya, tetapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Rasanya seluruh kebahagiaan di dunia sedang dipadatkan di dalam bilik kamar kecil ini.
Mereka pun beranjak dari tempat tidur dan berjalan berdampingan menuju dapur. Rutinitas sederhana yang selalu Nara impikan kini terjadi di depan matanya. Mereka membuat kopi bersama. Aroma kopi yang menenangkan segera memenuhi dapur kecil mereka, mengalahkan udara dingin sisa semalam. Dion menuangkan air panas ke dalam cangkir dengan perlahan, sementara Nara berdiri di sampingnya, sering kali mencuri pandang pada profil wajah lelaki itu dari samping.
"Kenapa lihat aku terus?" tanya Dion tanpa mengalihkan pandangannya dari tetesan air kopi.
"Nggak apa-apa."
"Bohong."
"Soalnya... aku takut ini nggak nyata," aku Nara pelan. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, seperti sebuah ketakutan terbesar yang tersembunyi di sudut hatinya paling dalam.
Dion tersenyum mendengar pengakuan itu. Ia meletakkan teko air, memutar tubuhnya, lalu menarik Nara ke dalam pelukannya. Lingkaran lengan Dion di pinggangnya terasa begitu kokoh, melindungi Nara dari segalanya. "Nggak usah takut," bisik Dion di balik rambut Nara.
Nara memejamkan mata, mendengar detak jantung Dion yang berpacu teratur dan merasakan hangat tubuhnya. Seandainya waktu berhenti di pagi itu, ia tidak akan pernah mengeluh. Ia bersedia terjebak selamanya dalam detik ini.
Mereka kemudian duduk di teras rumah, menyesap kopi perlahan dari cangkir yang berasap tipis. Tak banyak percakapan berbobot di antara mereka, hanya candaan kecil dan keheningan yang nyaman. Hanya angin pagi yang bertiup lembut, suara burung di pepohonan, dan dua cangkir kopi yang perlahan mengosong. Sesekali Dion menggenggam tangan Nara, mengusapkan ibu jarinya di punggung tangan Nara dengan penuh kasih. Sesekali ia menyandarkan kepala di bahu Nara, menghirup aroma tubuh perempuan itu. Bagi Nara, bahagia ternyata sesederhana itu: bersama Dion, diakui oleh Dion, dan dicintai oleh Dion.
Namun, kedamaian itu perlahan bergeser ketika menjelang siang, Dion berdiri dari tempat duduknya. Ia melepaskan genggaman tangannya.
"Aku pergi sebentar," kata Dion sambil tersenyum tipis.
Rasa cemas mendadak menyusup ke dada Nara. "Jangan lama-lama."
"Aku pasti pulang."
Nara mengangguk ragu. Ia terus memandangi Dion yang mulai melangkah. Lelaki itu berjalan menjauh, menyeberangi halaman, semakin jauh, dan wujudnya perlahan menjadi samar. Suara angin mendadak menghilang, warna-warna di sekitarnya memudar menjadi abu-abu, dan udara terasa menguap. Sampai akhirnya...
"Nara..."
Suara itu terdengar asing. Bukan suara Dion. Suara itu bergema dari tempat yang sangat jauh, memanggil namanya berulang kali.
"Nara... bangun."
Kelopak matanya terasa amat berat saat ia mencoba membukanya. Cahaya yang masuk terasa menusuk, bukan cahaya matahari hangat yang tadi menyilaukan teras. Bukan cahaya yang sama. Saat penglihatannya membaik, yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit kamarnya yang retak di sudut, tempat yang sudah terlalu dikenalnya selama bertahun-tahun.
Keheningan yang dingin menyergapnya.
Tak ada Dion di sampingnya. Tempat tidur di sebelahnya rapi, dingin, dan kosong.
Tak ada aroma kopi yang memenuhi dapur.
Tak ada dua cangkir di meja teras.
Tak ada pelukan hangat yang melindunginya.
Tak ada kecupan manis di pipinya.
Nara masih di tempat tidur, sendirian di tengah kamar kosnya yang sepi. Tidak ada siapa-siapa.
Dada Nara terasa sesak luar biasa, seolah seluruh udara ditarik paksa dari paru-parunya. Dengan tangan yang gemetar, ia meraih ponselnya yang tergeletak menyala di atas nakas. Notifikasi media sosial berderet di sana.
Nara membuka aplikasi itu, dan hal pertama yang muncul di garis waktunya adalah unggahan terbaru Dion yang diunggah beberapa menit lalu. Di sana, Dion sedang tersenyum lebar, senyum yang sama dengan yang ada di mimpinya. Namun, ia tidak sedang berada di teras rumah bersama Nara. Dion sedang duduk di sebuah kafe berkonsep modern, dan di hadapannya, duduk seorang perempuan lain yang sedang tertawa anggun. Keterangan foto itu menuliskan betapa bahagianya Dion menghabiskan akhir pekannya bersama sang kekasih.
Nara menatap foto itu lama sekali. Ibu jarinya membeku di atas layar. Keterasingan yang nyata menghantamnya tanpa ampun. Kenyataan merobek paksa gaun kebahagiaan yang baru saja ia kenakan di alam bawah sadarnya.
Ia mematikan layar ponselnya, meletakkannya kembali secara telungkup di atas nakas. Kamar itu kembali gelap dan sepi.
Air matanya jatuh tanpa suara. Satu tetes, lalu menyusul tetesan lainnya, mengalir melintasi pipinya yang tadi terasa hangat oleh kecupan fiktif, hingga akhirnya membasahi bantal yang dingin. Baru saat itulah ia benar-benar sadar dari ilusi yang diciptakan oleh pikirannya sendiri.
Pagi yang penuh tawa itu tak pernah ada.
Kecupan di pipi itu tak pernah terjadi.
Pelukan hangat itu tak pernah nyata.
Kopi yang mereka minum bersama tak pernah diseduh.
Semua kebahagiaan manis itu hanya lahir dari tempat yang paling kejam bagi seorang pengagum rahasia: mimpi. Sebuah dunia ciptaan di mana ia boleh memiliki apa yang tidak akan pernah bisa ia sentuh di dunia nyata. Dan ketika pagi benar-benar datang, ketika kesadaran menariknya kembali ke bumi, Nara harus kembali menjadi dirinya sendiri. Seorang perempuan biasa yang hanya bisa mencintai Dion dari jauh, memandangnya dari balik layar ponsel, tanpa pernah punya keberanian untuk menyapa, dan tanpa pernah menjadi alasan Dion untuk pulang.