Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Arta dan Kino bersahabat sejak SMP. Mereka bertemu pertama kali di kelas tujuh, duduk berdekatan hanya karena urutan absen, dan entah bagaimana pertemanan itu bertahan lebih dari sepuluh tahun tanpa banyak drama. Orang-orang di sekitar mereka sering iri melihat persahabatan itu, karena tampak begitu mudah. Mereka jarang ribut, jarang berselisih soal hal besar, dan biasanya cukup saling paham hanya dari tatapan mata, tanpa harus banyak bicara.
Kino yang lebih pendiam, cenderung memendam apa pun yang mengganggunya sampai benar-benar reda dengan sendirinya. Arta sebaliknya, lebih terbuka, tapi juga lebih cepat tersulut kalau merasa diabaikan. Selama bertahun-tahun, perbedaan itu justru membuat mereka saling melengkapi. Kino jadi tempat Arta menumpahkan kegelisahan, dan Arta jadi satu-satunya orang yang bisa menarik Kino keluar dari kesendiriannya.
Malam itu, di apartemen kecil Kino, sesuatu yang kecil mulai retak.
Semua bermula dari pesan singkat. Arta melihat layar ponsel Kino tergeletak di meja, dan tanpa sengaja membaca notifikasi yang muncul, sebuah balasan chat dari Sari, mantan pacar Kino, disertai emoji hati. Sebenarnya Arta tahu Kino dan Sari cuma teman lama yang sesekali masih saling kabar. Hubungan mereka sudah berakhir baik-baik dua tahun lalu, tanpa dendam, tanpa drama. Tapi entah kenapa, malam itu, dengan pikiran Arta yang sudah penuh oleh hal lain, satu emoji kecil itu terasa seperti sesuatu yang jauh lebih besar dari yang seharusnya.
"Kenapa lo masih chat-chatan sama Sari?" tanya Arta, mencoba terdengar santai, meski gagal total.
Kino mengangkat bahu tanpa menoleh dari laptopnya. Ia tidak mengerti kenapa itu bisa jadi masalah. "Kita cuma temenan, Ta. Lo tau itu."
"Gue cuma nanya."
"Ya gue jawab. Kenapa lo kayak marah gitu?"
"Gue nggak marah." Tapi suara Arta naik satu oktaf, dan keduanya tahu itu bohong.
Percakapan yang seharusnya selesai dalam semenit itu malah berputar-putar. Kino, yang lelah setelah kerja seharian dan sedang berusaha menyelesaikan laporan yang deadline-nya besok pagi, mulai kehilangan kesabaran. Ia menutup laptopnya pelan, mencoba tenang, tapi nada bicaranya ikut berubah.
Sementara itu, Arta sebenarnya sedang menyimpan masalah lain, sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar emoji hati. Sore itu, sebelum datang ke apartemen Kino, Arta baru saja menerima kabar bahwa kontraknya di kantor tidak diperpanjang. Ia belum menceritakan apa pun soal itu, bahkan ke Kino sekalipun, sahabat yang biasanya jadi tempat pertama ia berbagi. Ada rasa malu yang aneh, campur takut dianggap gagal, yang membuatnya memilih diam. Tanpa disadari, semua kegelisahan itu ia bawa masuk ke apartemen Kino malam itu, dan tanpa sengaja dilampiaskan ke topik yang salah.
"Lo tuh kadang posesif banget, tau nggak," kata Kino, tanpa berpikir panjang, lebih karena capek daripada benar-benar bermaksud menyakiti.
Kata itu menusuk lebih dalam dari yang Kino maksudkan. Arta berdiri dari sofa, wajahnya memerah. "Posesif? Gue cuma nanya satu pertanyaan simpel, terus lo langsung nge-judge gue kayak gitu?"
"Bukan itu maksud gue."
"Terus apa maksud lo?"
"Maksud gue, lo akhir-akhir ini emang gampang banget kepancing. Bukan cuma soal Sari. Kemarin juga, waktu gue telat bales chat lo aja lo udah nanya macem-macem."
Kata-kata itu, meski sebenarnya jujur, terasa seperti serangan bagi Arta yang sudah rapuh sejak sore. "Oh jadi sekarang gue yang salah? Gue yang berlebihan?"
Mereka berdua berdiri sekarang, jaraknya hanya satu langkah. Suara semakin keras, kata-kata semakin tajam. Hal-hal yang biasanya mereka tahan demi menjaga kedamaian, malam itu keluar begitu saja, satu per satu. Tuduhan lama yang tak pernah diucapkan sebelumnya, kekesalan kecil yang selama bertahun-tahun dipendam, semuanya tumpah dalam beberapa menit yang terasa jauh lebih panjang dari yang sebenarnya.
"Lo pikir gue nggak capek juga dengerin lo curhat mulu tanpa pernah nanya kabar gue?" Kino akhirnya melepaskan sesuatu yang selama ini ia simpan sendiri.
Arta terdiam sejenak, terkejut, tapi amarah sudah terlanjur mengambil alih. "Kalau lo capek, ya bilang dari dulu, jangan nunggu meledak kayak sekarang!"
"Gue emang lagi coba bilang sekarang!"
"Dengan cara kayak gini?"
Arta mendorong dada Kino. Bukan keras, lebih seperti gestur frustrasi daripada niat menyakiti, semacam luapan emosi yang tidak terkendali. Tapi Kino kaget, dan secara reflek ia mendorong balik, lebih kuat dari yang ia sadari sendiri, tanpa sempat berpikir sama sekali.
Arta terhuyung ke belakang. Sepersekian detik, semuanya terasa lambat. Kakinya tersandung ujung karpet yang sedikit terlipat, tubuhnya oleng ke samping, dan pelipisnya membentur sudut tembok dekat rak buku dengan suara yang tidak akan pernah bisa dilupakan Kino seumur hidupnya.
Arta jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya. Sesaat, keheningan menggantung aneh di antara mereka. Amarah yang tadi memuncak lenyap begitu saja, digantikan sesuatu yang jauh lebih dingin dan mencekam.
"Ta?" Kino mendekat, suaranya bergetar. "Lo oke?"
Arta mengangkat tangannya dari kepala. Darah.
"Gue nggak apa-apa," gumam Arta, meski suaranya juga ikut bergetar. "Cuma... pusing."
Kino berjongkok di sampingnya, panik mulai merayap naik dari dadanya. "Gue ambilin es. Tunggu di sini, jangan gerak dulu."
Tapi ketika ia kembali dari dapur beberapa detik kemudian, tangannya membawa handuk berisi es, Arta sudah terkulai lebih jauh ke lantai. Matanya setengah terbuka, dan darah yang mengalir dari pelipisnya jauh lebih banyak dari yang seharusnya bisa dikeluarkan oleh benturan biasa.
"Arta." Kino menjatuhkan handuk berisi es itu dan berlutut, tangannya gemetar hebat, tidak tahu harus menekan luka itu di mana. "Arta, bangun. Ayo, buka mata lo."
Tidak ada jawaban. Hanya napas Arta yang terdengar semakin lemah, semakin tidak teratur.
Kino meraih ponselnya yang tergeletak di meja, jarinya kaku, seolah lupa urutan angka yang seharusnya sudah ia hafal sejak kecil. Berkali-kali ia salah pencet, sampai akhirnya berhasil menekan nomor darurat, suaranya nyaris tak keluar saat mencoba menjelaskan alamat apartemennya sendiri.
Sambil menunggu, ia menatap sahabatnya, orang yang lima menit lalu masih berdebat dengannya soal emoji hati yang sebenarnya tidak berarti apa-apa, kini terbaring diam di lantai apartemennya sendiri. Satu-satunya yang bisa dilakukan Kino hanyalah duduk di sana, memegangi tangan Arta yang perlahan mulai dingin, tanpa tahu pasti apakah yang ia rasakan itu syok, penyesalan, atau sekadar ketidakpercayaan bahwa sesuatu sekecil ini, sebuah kesalahpahaman yang bahkan tidak masuk akal untuk diributkan, bisa berakhir seperti ini.
Ambulans datang delapan belas menit kemudian. Terlalu lambat.
Bertahun-tahun setelahnya, Kino masih sering mengulang malam itu di kepalanya, terutama saat sepi dan tidak ada yang bisa mengalihkan pikirannya. Bukan pertengkarannya yang paling ia ingat, bukan juga kata-kata tajam yang terlontar dari mulutnya sendiri. Yang paling sering muncul kembali adalah satu detik ketika ia mendorong balik, satu gerakan reflek yang berlangsung kurang dari sedetik, yang tidak pernah ia maksudkan untuk berarti apa-apa.
Ia tahu, di kepalanya yang paling rasional, bahwa itu adalah kecelakaan. Bahwa siapa pun yang berada di posisinya mungkin akan bereaksi dengan cara yang sama. Tapi rasionalitas itu tidak pernah cukup untuk meredakan bayangan yang terus muncul setiap kali ia melewati sudut tembok mana pun, di apartemen mana pun ia tinggal setelahnya.
Satu detik itu, yang berlangsung begitu singkat hingga hampir tidak sempat dipikirkan, telah mengubah segalanya untuk selamanya. Dan hal yang paling menyakitkan bagi Kino bukanlah kehilangan sahabatnya, melainkan kenyataan bahwa hal sekecil sebuah emoji hati, sesuatu yang seharusnya tidak pernah menjadi masalah sama sekali, adalah yang memulai semuanya.