Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Hadriyam (2)
3
Suka
1,089
Dibaca

BAB 4

KAKEK TUA

“Vel, kamu pernah dengar soal kisah miring soal gunung ini gak?” Tanya Leon kembali memecah keheningan suara. “Katanya, dulu ada empat pendaki yang meninggal disini dan hanya satu berhasil keluar.” Aku terkejut mendengar penuturan Leon, seperti nuklir yang dilucutkan dengan cepat. Rasa gelisah merayapiku, aku tak ingat sudah berapa kali, merasakan hal serupa.

Perasaan tak nyaman merayap dengan cepat mengikuti tanpa suara, serasa ada ribuan pasang mata yang siap menerkamku dan Leon saat ini. Aku segera menepis perasaan gelisahku dan mendengar penuturan Leon seksama. “karena itulah, aku dan Jani penasaran dengan hal itu, maka kami memutuskan mendaki berdua.”

“Kalau kamu, alasan apa sebenarnya kamu kemari, Marvel?” Tanya Leon, membuatku ingin bungkam seribu bahasa namun, rasanya itu tidak akan pernah mungkin bisa aku lakukan, “Aku penasaran dengan apa yang terjadi dengan bapak,” Jawabku kemudian, lalu melanjutkan lagi sembari menatap lurus kedepan. “Semenjak bapak dan temannya mendaki gunung ini, keluargaku tidak pernah bertemu dengan mereka…” Ujarku lirih, aku merasakan ada sesuatu yang mengelitik sanubariku. Aku melemparkan senyum tipis kepada Leon, “Karena, bapakku kayak orang linglung, badannya kurus kering, semenjak balik dari Hardariyam.” Tegasku kemudian, ada perasaan lega dan tertekan yang dilepaskan secara bersamaan.

Aku melirik Leon yang tersenyum getir, “Bearti, kabar miring itu adalah bapakmu.” Penekanan dari Leon membuatku membuang napas sesaat, “Bisa jadi, aku pun tidak tahu.”

“Apa kamu percaya dengan orang pintar.” Aku melirik Leon sekilas lalu membuang wajah kearah yang lain. “Tidak, persetanan dengan dukun gila seperti itu! Mereka hanya membodohi orang dan mengeruk jeri payah orang miskin dengan modal garam doa dan air yang belum tentu berkhasiat.” Jelasku, terselip emosi didalamnya, Itu hanyalah hal konyol belaka. Leon tertawa sumbang lalu kami meneruskan arah kami kearah anak sungai. Mata kami dimanjakan oleh udara sejuk nan asri, air jernih yang seperti airmata bidadari dan hening mengunci aku dan Leon. Kami ingin berlama-lama disini.

Aku mengambil wadah minumku dan memasukannya kedalam sungai, “Kita udah besar, berani kotor itu baik.” Aku bercanda menghilangkan rasa penat yang menghujam tubuhku seketika, kami sudah berjalan lebih jauh dari lereng gunung namun, tidak menemukan apapun selain keheningan dan malam-malam indah yang mencekam. Aku tersenyum simpul, ingin rasanya menjahili Leon namun, hal itu aku urungkan. Mengingat ia masih berduka atas kepergiaan Rinjani. Gadis hangat nan manis itu.

Leon menatap air sungai dari kejauhan, sungai yang mengalir dengan tenang dan jernih. Seperti mata air dari surga, matahari tenggelam mengundang semburat senja yang malu-malu. Leon mengeluarkan sesuatu diranselnya, sebuah kalung giok berwarna kehijauan terpantul oleh senja. “Aku menemukan ini saat di gua bersama Rinjani.” Ujarnya padaku, aku mengangguk pasti.

Warna hijau tua yang mencekam dan tenggelam seperti warna daun menghiasi genggaman tangan Leon. “Ini, cantik, aku baru ingat membungkus beberapa makanan yang ada didalam gua.”

Aku melirik dengan gelisah dan mempertanyakan maksud Leon, sedikit curiga. “Sesajen.”Pekikku tertahan. Leon membawa itu kemana-mana didalam tas ranselnya selama ini. Pantas saja aku merasa gelisah, “Aku dan Jani nemuin ini pas kita ke jebak badai, karena menarik aku mengambilnya.” Pekiknya girang, aku diam seribu bahasa dan tersadar, apa yang terjadi dengan Rinjani dan Leon saat ini bukan sebuah kebetulan belaka.

Kami berdua memutuskan untuk mendirikan tenda tidak jauh dari anak sungai dan memakan perbekalan sembari memancing ikan di anak sungai yang tenang ini, setidaknya sedikit demi sedikit perasaan Leon akan terobati, kami menyalakan pematik, dan memakan hasil pancingan hari ini, enam ekor udang galah dan sepuluh ekor membuat kami mendapatkan perbekalan yang cukup hingga sampai ke puncak gunung. Selesai bersantap, aku merapikan isi ranselku. Rasanya aku enggan memejamkan mataku namun rasa kantuk mulai merajaiku dan diriku mulai terbuai dalam mimpi.

Sudah seminggu, kami berjalan namun tidak menemukan dimana tempat peristirahatan semula, matahari sudah berada tepat diatas kepala kami. Aku mulai kelelahan, kami kehabisan perbekalan dan mau tidak mau menyelusuri hutan menemukan buah-buahan yang dapat kami santap hari ini. Alisku bertaut, aku melihat ada bekas perapian dan tenda terbangun. Apakah ada seseorang yang mendaki lebih awal dari kami, hal itu membuatku berpikir, sepertinya kami sudah berada dijalan benar untuk mencapai puncak gunung Hardariyam.

Letih menyerang diriku, rasanya ngilu menjaram seluruh tubuhku yang penuh memar, bahkan sepatu yang dikenakan Leon sudah terlihat Au namun tetap kulihat kilatan api semangat dimatanya, aku melempar senyum riang, kali ini kami akan berhasil. Leon buka suara, “Marvel, gua rasa ini jalan yang bener.” Ujar Leon riang. “Gua yakin, kita ga pernah lewat jalan sini sebelumnya, kali aja jalan menuju dusun warga, kita pasti selamat.”

Aku yakin Leon ingin meminta tolong pada warga setempat untuk mengebumikan Jenazah Rinjani dengan layak, akhirnya kami sampai dua persimpangan dan kami memilih jalan belok ke kiri. Suara gemerisik pepohonan yang tenang membuatku terdiam, aku lagi-lagi melihat tanda yang tak asing, bulan dan bintang dengan salib terbalik, tempat ini terasa tidak asing.

Aku dan Leon mulai menyusuri semakin jauh dan tubuhku serasa limbung seketika melihat pemandangan yang familiar untukku, sebuah batu Besar dan jenazah Rinjani masih berada diposisi yang sama, kaus biru dengan jaket biru dan hitam masih tergeletak rapi, tubuh yang sebagian dikurubungi oleh insekta liar dan belatung yang memakan sekitar kelopak matanya. Tubuh yang kurus kering dan bibir sedikit terbuka bahkan gadis itu telah kehilangan satu tangan dan kaikinya, seperti ada binatang buas yang menyantap tubuhnya secara perlahan tanpa kami sadari dan membuatku tidak memiliki tenaga untuk bergerak.

Ternyata aku dan Leon memutari tempat yang sama.

Demi tuhan, seluruh persendian ku rasanya ingin meluruh seketika aku ingin berteriak tapi lidahku kelu, hanya pemandangan mengerikan didepanku saat ini, Leon jatuh tersungkur, sudah tidak sanggup lagi berjalan. Airmata kembali menetes dari mata monolid Leon, membuatku membeku. Rinjani yang tampak mengenaskan, menjadi saksi bisu, hilangnya suara kami sore ini.

Malam merayap lebih cepat dari dugaan, kami berjalan sedikit lebih jauh kearah kanan seberang mayat Rinjani, Leon membuang muka tidak ingin melihat kondisi kekasihnya untuk kedua kalinya. Kami menemukan sebuah gua peristirahatan yang didalamnya terdapat sesajen dan dupa serupa.

Aku berniat menelusuri gua itu lebih lanjut namun, tangan Leon mencegahku. Ia tidak berniat ditinggal sendiri setelah melihat pemandangan yang mengoyak sanubarinya. “Rasanya percuma kita melangkah, Vel. Kalau tujuannya bakalan balik kesini lagi.” Pekiknya tertahan membuatku terdiam. Tidak jauh dari gua ada sebuah pondok kecil yang nampak bersih, bangunan tua yang lantainya terlihat lebih rapuh dari ranting kayu membuatku meremang ketakutan. Kami tidak melihat bangunan ini berdiri disini, sejak seminggu yang lalu.

Leon berani melangkahkan kaki dan memanggil sang pemilik yang ada didalam, “Permisi! Apakah ada orang,” Tidak ada sahutan, ia melirikku dengan tatapan yang sulit diartikan namun, seseorang menyahut dari dalam. “Tunggu sebentar.” Aku dan Leon terpenjat, kami mundur selangkah.

Tiba-tiba saja pintu pondok terbuka, kami berdua saling pandang, rasa takut menyelimuti diriku lebih dari keingintahuan ku sendiri. Aku dan Leon melihat seorang gadis belia itu membuka pintu dan berjalan pelan, menuruni anak tangga yang enam jumlahnya. Ia berdiri diantara kami, “Kalian mencari kakek?” Suara gadis itu memecahkan keheningan, aku terdiam namun Leon menyambar dengan cepat. “Kami tersesat.”

_________ ~__________

“Dari mana asal kalian anak muda?” Tanya kakek bersorban putih itu dengan celana yang panjang menutupi kedua kakinya, “Kami dari kaki gunung.” Jawab Leon kemudian. “Kalian tersesat cukup jauh,” Terang kakek itu, suaranya sedikit nyaring dan wajahnya kaku, guratan wajah tua membuatku sediki bergedik ngeri, tatapan kakek tua yang menusuk itu membuat tubuhku kaku.

Kakek itu menarik napas panjang, “Kalian membuat mereka marah,” Jelas sang Kakek itu, aku menatapnya dengan perasaan penasaran yang sangat kuat. “Mereka?” Tanyaku, membuat kakek menarik simpul tipis.

“Mereka, terusik dengan kehadiran orang baru, apakah kalian ingin meminta maaf dan kembalikan lah apa yang pernah kalian bawa dari salah satu tempat ini. Tubuh Leon menengan sepertinya mendapat serangan bermega volt. Sepertinya yang dimaksud adalah liotin batu giok yang Leon perlihatkan padaku, memang dahulu jujur saja, aku pernah mendengar dilarang mengambil apapun di gunung. Apakah hanya karena liontin batu giok itu hingga Rinjani harus merenggang nyawa, rasanya, itu tidak setimpal.

Leon mengeluarkan liontin itu dari saku bajunya, telapak tanganya putih seperti tidak ada darah disana, aku tertegun. Jemarinya bergetar saat menyerahkan liontin tersebut kepada sang Kakek tua yang ada didalam pondok itu, aku semakin menyimpan seribu tanda tanya dikepalaku tidak terpecahkan. Mataku berpendar ke sekeliling dan menemukan satu foto yang nampak tak asing. Aku memberanikan diriku melangkah lebih jauh lemari kayu jati yang di cat hitam dan nampak tidak umum dimataku. Sudut mataku terbelak saat menemukan salah satu foto dipigura itu. Hatiku seperti ditusuk ribuan jarum. Airmataku lantas turun sedikit dari sudut mataku. “Bapak.” Ujarku lirih.

Kakek itu berjalan mendekatiku dan ada ribuan tanda tanya terlintas dikepalaku, hening. Lidahku kelu, aku tidak mampu berpikir rasional dan memegang figura itu dengan erat. Ribuan pertanyaan ingin bersuara dengan lantang namun saat mata monolid setajam belati itu melempar tatapan menusuk membuatku berpikir jika aku akan mati, jika satu kali saja menyinggung kakek tua dihadapanku ini.

Apakah Kakek ini adalah teman sependakian bapak? Dan apa yang terjadi dengan bapak?

Ingin sekali aku lontarkan pertanyaan itu namun, figura itu langsung hilang dari tanganku dan berpindah tangan ke tangan Kakek tua dengan janggut putih dan binar mata sehitam jelaga itu menenggelamkanku kedalam lautan tanpa dasar. “Apa kamu mengenal pria di pigura ini, anak muda?” Tanya Kakek Tua itu serasa mengintimidasiku.

“Ya, dia Bapakku.” Jawabku dengan tegas, membuat air muka Leon berubah, entah apa yang ada dipikiran pria jakung itu namun, aku masih tetap berdiri ditempatku semula. Wajah Leon memucat aku pun sama, kami berdua sudah sangat letih dan persediaan kami semakin menipis.

Kakek Tua itu menarik seringai tipis dimulutnya, ia tersenyum hingga seluruh tulang pipinya tertarik keatas. “Jadi kamu, anaknya Julian, rupanya. Bearti kamu Marvel!” Aku mundur satu langkah, tebakannya membuatku bergidik ngeri.

Tanpa sadar aku mempertanyakan, pertanyaan yang aku simpan selama tiga tahun ini, “Apa yang terjadi pada Bapak, dan siapa kamu.” Lontaran pertanyaan tegasku membuat seringainya semakin melebar, “Pria di dusun pasti bisa menjelaskannya.” Jawabnya penuh misteri membuatku terperangah, sorot mata yang tidak biasa memberikan aku jawaban tak pasti. Aku harus bertemu dengan pria didusun itu dan mencari misteri dari kejadian yang menimpa bapak, ibu dan Kak Nadine pasti sangat mengkhawatirkan ku dirumah. Aku berjalan mendekati Leon dan menarik tangan kanannya untuk segera bangkit dari duduknya, wajah pucatnya dan bibir kering dari Leon tidak terlalu ku hiraukan. Dengan langkah mantab, aku menghadap Kakek Tua itu, “Kalian mau pulang atau mau lanjut.”

“Lanjut” Jawabku dengan mantab namun Leon melepas genggamanku perlahan, “Marvel, aku mau pulang” Pintanya membuatku terperangah. Aku tidak memperhatikan guncangan yang sebelumnya menimpa Leon begitu besar. “Jika kalian ingin pulang, aku akan mengantar kalian namun, jika kalian ingin tetap lanjut, aku akan mengantarkan kalian ke dusun di lereng gunung ini. Keputusan ada ditangan kalian berdua, tinggalah disini hingga fajar dan kamu..” Jelasnya sembari menunjuk kearah Leon, “Kembalikanlah apa yang tidak akan pernah menjadi milikmu. Kalian terkena tulah perbuatan kalian sendiri hingga hancur berkeping-keping.” Aku menatap Leon penuh tanda tanya, apakah kali ini dirinya akan membantuku menemukan misteri yang terjadi pada Bapak.

Lantunan senandung lagu jawa yang tidak pernah ku dengar dengan suara gamelan beradu, didalam pondok kayu itu. Suara sinden beradu membuat bulu kuduk kami berdua meremang, aku membasuh diri untuk menghilangkan rasa penat yang begitu lama kuraskan, Aku memasuki ruangan yang kata kakek itu adalah kamar mandi, menanggalkan seluruh pakaianku yang tersisa hanyalah kain yang menutupi pusarku hingga selutut.

Mataku berpendar kearah sekeliling, aku melihat ada lilin sebagai penerang kamar mandi dan didalam bak penampungan air yang berisikan berbagai macam bunga warna-warni. Tanpa pikir panjang, aku menguyurkan air dari atas kepala hingga mata kaki, dengan mengunakan gayung batok kelapa. Rasanya aku hidup kembali. Air yang segar mengalir lansung dari pegunungan memang beda.

Perasaan cemas kembali merayapi diriku, aku merasa ada yang mengawasiku dari kejauhan, sosok berbulu hitam menampakan diri dibalik dinding bambu membuatku bergetar. “Siapa kamu.”Tanyaku tanpa suara, “Pergi, Marvel! Sebelum semuanya terlambat.” Suaranya mengema ditelingaku, lalu menghilang tanpa memperdulikan air dan mengenakan sabun, aku segera mengambil bajuku yang tergantung ditiang bambu dan mengenakannya, Sendirian ditengah pondok yang dikeliling hutan dan lereng curam ternyata menyeramkan.

Aku keluar dari kamar mandi dan langsung duduk dimeja makan, Kakek Tua itu tersenyum padaku, “Sudah merasa lebih baik, silahkan makan dan beristirahat lah. Aku dan Leon menyantap makanan dengan lahap seperti kami sudah tidak menikmati ini selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Hidangan yang tersedia cukup mengiurkan ayam goreng dan sambal pedas yang hangat.

Gadis belia itu kembali keluar dari dapur dan membawakan hidangan lainnya yaitu Ayam rica-rica yang aromanya seperti buatan Ibu. Ia pintar memasak’ Pikirku. Tidak ada keraguan saatku menyantap makanan yang tersaji depanku, aku dan Leon menikmati makanan kami hingga tandas. Suara jangkrik kembali terdengar saat aku memasuki kamar untuk beristirahat. Aku melihat tangan Leon gemetaran, ia mengenggam foto Rinjani dan meremasnya pelan.

“Leon, Aku tau ini berat banget tapi mengikhlaskan itu akan sangat sulit apalagi kamu sangat mencintai dirinya.” Ujarku menepuk pelan bahu Leon, Ia tersenyum getir. “Impian Jani, ngeliat bintang dipuncak gunung ini Vel. Aku nggak bisa ngewujudkan itu. Hidangan yang tersedia tadi juga makanan keinginan gadis itu, sebelum ia ditaklukan oleh gunung ini. Aku ingin pulang tapi, aku juga mau mewujudkan impian terakhir Jani, Vel.” Bimbangnya membuatku tertegun, sepertinya permintaanku cukup egois, aku tidak memikirkan dampak yang terjadi jika pendakian ini dilanjutkan.

Leon menatap netraku ada tekad terkandung didalamnya, “Yang sudah dimulai harus diselesaikan, Vel. Maka dari itu, Aku akan menemanimu untuk yang terakhir kalinya.” Ada tekad yang besar dimatanya, Leon menepuk bahuku pelan, “Kamu ingin cari tau tentang apa yang menimpa bapakmu kan? Aku akan nemenin kamu. Susah senang kita selalu bareng.”

Mataku berpendar kearah sekeliling ruanganya yang cukup besar, Leon menarik senyum tipis seperti ada keraguan yang berusaha ia tepis, “Terimakasih Leon, kamu adalah teman terbaik yang aku miliki.”

Suara kicauan burung terdengar merdu ditelingaku, aku membuka mataku dan menemukan Leon sudah tidak ada disampingku, aku keluar dari kamar yang aku tempati, terkadang merasa janggal dengan apa yang ada didalam ini. Apakah ini rumah dukun? Mengapa Aroma rumahnya seperti dupa dan sedikit kemenyan. Aku tidak pernah asing dengan aroma ini sebelumnya, setiap malam Jum’at surro ibu selalu membakarnya dan ada bapak dihadapannya. Itu sudah ia lakukan selama tiga tahun lamanya.

“Aku sepertinya tidak perlu memikirkan apa yang terjadi.” Aku berjalan keluar kamar dan disambut Leon, Kakek Tua dan Gadis belia yang mengenakan baju kebaya berwarna hijau dan selendang senada itu. Aku tersenyum lebar, didalam pikiranku adalah seperti apa orang didusun itu. “Mari aku antar ke dusun, tapi ingat selama perjalanan apapun itu jangan pernah menegok kebelakang.” Mendengar pernyataan itu aku menelan salivaku.

Kakek itu beranjak dari kursi goyangnya dan memimpin jalan. Ia berjalan keluar pondok tanpa menutup pintunya, dan aku mengikuti dari belakang bersama gadis belia yang amat menawan. Sepertinya kami sepantaran, “Siapa namamu?” Tanyaku membuat gadis itu tersipu malu, “Ronda.” Suaranya yang pelan dan halus ada desiran hangat didadaku, bulu matanya yang lentik dan pipi yang selalu bersemu merah seperti buah persik setengah matang.

Leon menarik tanganku perlahan, ia memberikan kode untuk tidak bertanya lebih lanjut dan aku membungkam mulutku, Leon selalu memegang cermin kecil ditangannya, keringat dingin membasahi pelipisnya. Aku memperhatikan gerak-gerik yang tidak biasa dari Leon namun, perhatianku teralihkan saat ada suara teriakan dari arah belakang. Leon mencegahku untuk tidak berbalik dan aku mengangguki hingga kami semua tiba didepan gua.

Mata Leon terbelak, entah apa yang membuatnya melempar tatapan yang tidak biasa padaku lalu, kami pun masuk kedalam, dengan cepat Leon mengeluarkan kalung giok yang hijau memabukkan itu, keatas batu yang sudah tersedia. Sang Kakek berbalik Kearah kami dan tersenyum simpul. Hawa didalam gunung serasa dingin dan menusuk, aku berjalan mendekat kearah Leon.

“Sekali lagi aku ingin bertanya, kalian ingin lanjut atau pulang.” Suara Kakek Tua itu mengema, suaranya memenuhi isi gua yang dalam, disana terdapat beberapa sesajen dan dupa yang sudah mulai habis. aku dan Leon saling berpandang lalu, mengatakan hal yang sama. “Lanjut.” Kakek itu tersenyum lebar lalu, melempar tatapan misteri yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Suara teriakan dari belakang terdengar menyuruh kami untuk berhenti, namun langkah kami sudah mantab. Aku harus mengetahui apa yang terjadi dengan bapak saat ini juga.

Semoga saja ada kabar baik yang akan aku terima.

BAB 5

DUSUN DILERENG GUNUNG

Aku mengedarkan pandangaku ke sekeliling, setelah aku mengatakan ingin melanjutkan perjalanan ini, Kakek Tua itu menuntun Aku dan Leon kedalam sebuah terowongan yang ada dalam dan curam, dan kami melihat hutan belantara yang cukup luas dengan suara kicauan burung warna-warni yang menari seperti menyambut kedatangan kami. Aku mengandeng tangan Leon, Jemarinya dingin dan telapak tangan berkeringat. Keringat meluncur dari pelipisnya sebesar biji jagung, padahal langit hari ini mendung dan suasana hangat yang mencekam.

Kakek tersebut masuk kedalam terowongan rumpu melati yang diapit dua pohon besar nampak seperti terowongan menuju ke dunia yang tidak seharusnya kami pijak, Aku dan Leon memantabkan langkahku mengikuti Kakek Tua itu dari belakang tapi, sepertinya gadis belia bernama Ronda itu tertinggal sangat jauh, aku berpikir kenapa Kakek Tua itu tidak menunggu cucunya itu.

Leon memegang lengan bajuku membuatku melirik kearahnya,“Vel, Kamu jangan ngeliat kebelakang sekalipun tuh cewek kenapa-napa.” Bisik Leon tanpa suara, membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Rumpun melati yang berduri melukai sebagaian besar tubuhku, dan terasa sangat perih. Suara teriakan disusul dengan dentuman kencang, tidak sedikit pun mencuri perhatianku hingga kami keluar dari terowongan rumpun melati itu dan sampai di gerbang tinggi menjulang, bertuliskan Desa Bakbak, nama yang cukup familiar dtelingaku.

Aku melirik Leon sekilas ia menatapku, Ronda rupanya berada disamping kami sedari tadi. Mungkin hanya perasaanku saja Kakek Tua itu menarik sudut bibirnya sedikit dan merapikan jenggot panjangnya. “Selamat datang didesa bakbak, kalian adalah selanjutnya.” Terang Kakek itu diselimuti penuh misteri. “Silahkan masuk, aku akan menunggu diluar. Semoga kalian menemukan apa yang kalian cari, disini.” Ucapan yang penuh dengan penekanan, membuat bulu kuduk ku meremang.

Pohon tinggi mengapit pintu gerbang desa itu, kami masuk kedalam. Hening, Langkah ku tertahan, saat semua orang menatapku seperti mahluk asing. Seseorang menatapku dengan tajam, seperti bola matanya akan keluar. Aku menarik bahu Leon perlahan. Suasana semakin mencekam. Awan yang mendung dan panas matahari tidak terasa menyengat kulitku, Suara daun bergesekan menemani langkah kami, semua pasang mata menuju kearah kami. Perlahan aku memberanikan diri mendekati salah satu penduduk yang melontarkan tatapan linglung dan sorot mata kosong itu, aku terdiam beberapa saat, Leon melempar senyum kikuk.

Aku memberanikan diri, membuka suara,“Permisi, dimana rumah Pak Sugiono?” Tanyaku pada penduduk yang duduk tidak jauh dari saung. Kilat menyambar disekitar kami, langit semakin mendung. Awan mengelap dan rintik hujan membasahi sepatu kami.

Laki-laki itu menujukan lurus kearah jalan, “Iya, lurus saja.” Jelasnya. “Baiklah, terimakasih.” Aku kembali berjalan beriringan hingga sampai disaung, kami duduk sebentar untuk menghilangkan penat. “Vel, desa ini… bukan untuk kita.”Jantungku mencelos, tajam seperti belati. dan mengalihkan pandanganku kearah lain. Napasku tercekat, lidahku kelu.

Aku menepuk bahu Leon dan berjalan beriringan sembari tersenyum ramah kepada semua penduduk, “Leon, sepertinya hilal akan semakin terlihat.” Ujarku, Leon melempar senyum tipis. Ia memperhatikan penduduk sekitar, seorang wanita tua berjalan mendekati kami, “Kamu mau kemana?”

“Kami ingin berjalan lurus kedepan nek.”Terangku, Nenek yang mengunakan kemben dan kebaya yang transparan berwarna biru tua itu, tersenyum kecil menampilkan gigi emas di taring kiri. Aku memperhatikan gerak-gerik sang Nenek yang terasa ganjil. “Mampirlah dulu, atau bawa kresek makanan ini, untuk bekal kalian.” Aku mengangguk senang, penduduk disini cukup ramah, mungkin karena kehadiran kami yang tidak diminta terlihat asing bagi mereka, maka dari itu para penduduk menatap sinis.

Jemari Leon memutih, aku pun merasa debaran tak biasa saat melawati perbatasan dusun dan menaiki tanjakan gunung yang cukup terjal, rintik hujan semakin deras. Aku dan Leon terpaksa menepi dan kami berdua duduk diantara gua. Langit mendung, sepertinya tidak merestui perjalanan ini. Langkah kaki ku tertahan, rasa lapar mendera perutku dengan perlahan aku membuka kantung kresek yang diberikan nenek di dusun itu.

Basah, lengket dan berlendir, saat ku ambil apa yang ada dikresek tersebut aku terkejut jeroan usus dan berbau anyir berada ditanganku saat ini, Leon menjerit tertahan dan kami pun membuang, Jeroan hewan berwarna merah dan kecokelatan itu berbelatung. Langit semakin mendung, aku hujan disertai petir mengelegar diatas kepala, suara lolongan serigala bersahutan di siang hari ini, membuatku tersadar. Dusun Bakbak itu, bukan milik manusia biasa.

Mataku melirik kearah Leon yang sudah pucat pasi, “Vel, udah aku bilang kalau jangan buka apapun. Semenjak peringatan dari Kakek Tua itu aku sadar…”Jelas Leon tertahan, “Mereka bukan manusia, dan Kakek Tua itu adalah Kuncen gunung Hardariyam.” Ujar Leon terbata-bata membuatku terperangah, bagaimana bisa ini semua terjadi, rasa cemas menyeruak didalam dadaku. “Kamu kemarin mandikan, aku nggak, Vel dan terakhir masalah gadis bernama Ronda itu..” Lirih Leon membuat ulu hatiku tergelitik, kakiku lemas tak bertenaga, sepanjang jalan ini hanya aku yang tidak pernah menyadari keganjilan demi keganjilan.

“Ronda itu nenek… tua, dengan wajah setengah terbakar dan mata yang melotot keluar. Rambutnya setengah disanggul dan … lidah yang menjulur kebawah.” Penuturan Leon membuat jantungku rasanya lari ke perut. “Dan ayam yang kamu makan semalam adalah, ayam cemani hitam yang masih berdarah… membuatku ingin muntah, aku tidak memakannya dan langsung pergi. Kamu telah dibutakan oleh penduduk di disini dan terakhir, dusun yang kita lewati hanya hutan sepi tidak berpenghuni.” Pias, aku terduduk lesu. Ingin rasanya menghentikan perjalanan ini segera namun, kami melihat lentera diatas bukit yang sediki terjal.

Apakah itu rumah paman Santoso.

Sudah tiga jam, kami duduk didepan pelataran rumah, rumah ini sepi namun nampak bersih dan terawat. Perkarangan hijau asri dengan bunga indah yang menghiasinya, aku segera melambaikan tanganku saat melihat sosok pria paruh baya dengan janggut putih melekat di dagunya. Ini benar, itu adalah paman Santoso, teman sependakian bapak. Terkejut bukan kepalang saat paman Santoso melihatku duduk diteras rumahnya. Mata Santoso berubah menjadi merah padam, giginya bergemeletuk dan ia berkacak pinggang. “Marvel! Kamu ngapain kesini, bahaya” Hardik Santoso, sepertinya paman tidak menyukai keberadaanku.

Aku masuk kedalam ruang tamu dan menemukan banyak figura foto kenangan pendakian bapak bersama paman Santoso. Leon diam membisu sembari memijat kepalanya sepertinya ia kelelahan. “Vel, migrain banget.”Pekiknya membuatku tersenyum kecil, dan mengambil obat sakit kepala didalam tas kami dan menyodorkanya pada Leon.

Aku tersenyum kecil, mataku berpendar ke segala sudut, “Sudah mengamatinya?” Tanya paman Santoso kemudian, ia duduk di hadapanku. “Paman, Marvel mohon! Ceritakan padaku, tentang pendakian 14 tahun silam hingga Bapak seperti itu.” Pintaku memelas, cemas menghantui dadaku. Mengalirlah cerita pilu empat sahabat karib yang mendaki gunung ini.

“Pagi yang cerah empat belas tahun silam, Aku dan Bapakmu ingin menaklukan gunung ini, tetapi malah kami lah yang ditaklukan, bukannya aku ingin menakutimu tempat ini tidak aman, untung saja kalian tidak ganjil.” Penuturannya membuat tubuh Aku dan Leon menengang, Leon membelakkan matanya dan menatap paman Santoso penuh tanda tanya. Aku dan Leon saling melempar pandangan gusar.

“Jika ganjil, salah satu kalian akan mati kering, karena Ronda menyukai ganjil.” Jelasnya membuatku semakin lemas, apa kata paman tadi, Ronda. Bodohnya diriku hampir tertarik dengan paras nenek sihir yang ternyata telah merenggut nyawa Rinjani itu.

Aku tertegun tak percaya dengan penuturan paman dan menelan salivaku untuk membasahi tenggorakanku yang kering, lalu kembali mendengar penuturan Paman Santoso “Apakah kalian bertemu dengan salah satu dari mereka, Wuwuk, Ki Gede atau Nyi Ronda?” Tanya paman, menimbulkan tanda tanya besar dikepalaku, “Nyi Ronda memangsa wanita, ia sangat suka bau gadis perawan yang halangan. Ia akan menghisapnya hingga kering, sosoknya merupakan wanita berkebaya dengan rambut perempuan sebenarnya di adalah seorang penari pria yang konon berubah menjadi wanita karena dikutuk, dan untuk menjaga tubuhnya agar segar bugar setiap tiga tahun sekali memangsa para anak gadis yang belum lewat dari dua puluh tahun.”

Pias, tampang Leon semakin memucat dan linglung ia nampak seperti menelan seribu jarum, “Kami melanggarnya paman, aku membawa Jani, calon istriku dalam pendakian kali ini. Kami bertemu dengan pria bersorban putih dibawah kaki gunung sebelum bertemu Marvel, dan ia melarang kami untuk mendaki saat itu namun, Rinjani tidak mengindahkan itu dan tetap memaksa untuk melihat puncak gunung itu. Setelah itu kami menemukan simbol aneh yang membuat kami bergidik ngeri. Sayangnya saat badai, aku menemukan Rinjani dengan terbujur kaku tak bernyawa.” Penuturan Leon mencekik keheningan siang menjelang malam itu, aku tertegun ternyata dari awal kami telah melanggar seluruh larangan itu.

“Ya Tuhan, apakah salah satu diantara kalian ada dimandikan oleh Ki Gede dengan bunga.” Wajahku berubah pias, pucat. Pelipisnya penuh dengan keringat, walaupun hari ini mendung. Aku mengangguk pelan tanpa suara, “Astaga. Bearti kalian selanjutnya, cepat kembali ke kaki gunung sebelum senja menghampiri…” Terang paman Santoso, dengan gemetar ku tatap manik mata santoso yang linglung dan pucat. Cemas seperti ada batu yang menindis dadaku, dengan berat “ Jika tidak, kalian akan kekal abadi, sama sepertiku.” Suara paman Santoso terdengar menggema, bagai terompet sangkala yang ditiupkan, Aku dan Leon segera berjalan setengah berlari kearah luar dan suara tawa meleking terdengar sangat nyari di indera pendengaran kami.

“Kalian akan mati...”

_________ ~__________

“Kita harus pergi dari sini, vel!” Perintah Leon terdengar seperti cambuk ditelingaku kami berlari tanpa arah yang jelas, jalan licin nan terjal membuat kami berkali terpeleset. Siang itu terasa begitu lama bagiku dan Leon. Suara tawa mengema dari segala penjuru. “Jadilah bagian dari kami Marvel, Leon.” Suara teriakan yang terdengar spontan, memburu kami, Kompas yang beradu berputar tak tentu arah, bahkan jam tangan Leon tiba-tiba mati, waktu sepertinya tidak ingin berkompromi dengan kami berdua

Suara mendengus seperti hewan liar yang lapar dan tangis meminta bantuan mulai terdengar, suara jangkrik berbunyi menyanyikan lagu kematian, teriak dan lolongan semakin menjadi, langit bermuram durja dan akhir petir menyambar membuat rasa cemas mengeliitik hatiku dan semakin menyimpan sembilu, Aku dan Leon berlari sekuat tenaga yang kami bisa, sosok hitam nan besar mengikuti kami dari belakang, napas ku beradu, bibirnya pucat dan suara tawa yang cukup mengelegar meneriakan nama kami bergantian.

Derap langkah kaki memburu di udara, “Kau terlalu jauh, Marvel!” Suara itu kembali mengelegar, terdengar suram, langit hanya sebatas kelabu tipis yang menggantung malas semakin menggelap, pohon-pohon besar seperti mengawasi kami hingga ampai di satu titik, Leon berhenti, wajah pucat nan letih itu mengandung semburat pilu, aku sangat yakin jika Leon sangat terguncang mengenai kematian Rinjani. Entah gerangan apa yang membuatnya memandangi sebatang pohon besar dengan tanda ukiran aneh di batangnya, seolah memanggil Leon untuk mendekat. Aku merasa tercekik, dan tidak ingin meneruskan perjalanan ini, hari semakin mengelap.

“Marvel,” Suara Leon pelan, nyaris tenggelam di antara desiran angin. “Kamu pernah liat ini?” tanyanya, nyaris berbisik, Aku mengangguk, dadaku terasa berat. Jari-jarinya menyentuh ukiran yang terlihat seperti simbol kuno aneh itu, tanganku menahan Leon untuk menyentuhnya namun naas, jurang yang terjal nan tinggi dekat pohon itu licin. Leon mundur tergesa-gesa belum sempat benar-benar menjauh, akar-akar dari pohon di belakangnya mendadak bergerak, melilit pergelangan kakinya dengan kekuatan yang tak masuk akal. Ia berteriak. Tubuhnya terseret perlahan ke arah kegelapan yang menganga di bawah batang pohon tua itu hingga terjembab kejurang. Aku terlonjak, berlari ke arahnya, dan menarik tangannya sekuat tenaga. “Pegangan, Leon!” Teriakku dengan napas tercekat oleh ketakutan,

“Aku gak bisa…ada yang narik dari dalam!” Suaranya pecah di antara panik dan putus asa. Aku menahan tangannya sekuat yang aku mampu hingga urat nadiku nampak dengan jelas, “Leon!” aku memegang tangan Leon sekuat yang ku mampu, keseimbangan terasa berputar rotasi 180 derajat dan akhirnya aku dan Leon masuk kedalam jurang yang dalam. Sempatku lihat sosok berbulu yang menyeramkan memperhatikanku dari jauh, sialnya aku terpekik dengan lautan keheningan yang mencekik, dan semuanya menjadi gelap.

Kepalaku pening, mataku berkunang-kunang, dengan berputar-putar aku mengendarkan pandanganku kearah lain, dan mendapati Leon tergeletak tak jauh dariku, sebuah batu besar menghantamnya hingga darah membuncah memenuhi baju yang ia kenakan. Matanya Leon sayu dan napasnya semakin memendek, seperti ada sesuatu menanti bahwa ia adalah giliran selanjutnya. Tangan leon bergerak tanpa suara mencekram jemariku.

Rasa takut semakin membuncah andai aku meminta kembali pulang pada Ki Gede yang kami temui itu, ini tidak akan terjadi, rasa bersalah mengeroggotiku, dengan sisa kekuatanku, Aku hendak memapah Leon namun, tangan itu menahanku, “Vel, tinggalin… aku, kamu harus selamat.” Pintanya, jemariku bergetar, aku tidak bisa berlari sekencang dan sekuat mungkin untuk meninggalkan lereng gunung ini. “Ibumu menanti kamu Vel, biarkan aku.. dan Rinjani menjadi saksi bisu kelamnya hardariyam. Vel, bawa ini.” Lanjutnya ia menyodorkan buku note kecil yang ada disaku bajunya dengan sisa kekuatan itu.

“Nggak, Leon! Kita masuknya bareng pulangnya juga harus bareng.” Pintaku, ketakutan besar merudungku dan aku tidak tahu harus berbuat apa, Leon melontar senyum tipis, sebelum benar-benar menghilang. Suara lirih yang hampir menyatu dengan desiran angin dan aku memutuskan untuk pergi meninggalkan Leon yang terbujur kaku tak bernyawa, kini, aku sendiri yang harus pulang atau, aku juga akan ditaklukan dan berakhir namaku hanya akan menjadi salah satu yang berakhir mengenaskan disini.

Aku berjalan tak tentu arah, dan tergelincir jatuh kedalam jurang yang dalam, dan berputar-putar seolah sebuah batu yang mengelinding dari atas gunung, tubuhku terpental dan berkali-kali mengantam batu besar.

Rasa ngilu yang tak tertahan, hantaman setiap batu membuatku merasa seperti hilang arah, aku melindungi kepalaku agar tidak terkena benturan dan pandangaku memburam, Ulu hatiku terasa nyeri, rasa basah nan lengket mengalir deras dari perutku, aroma anyir yang ku cium merobek indera penciumanku, pusing mendera, pandanganku memburam. Tidak ada lagi yang aku cari disini, terdengar suara gemercik air dari bawah sana. Rasa takut akan maut kembali menghampiriku, jujur aku tidak ingin mati disini namun jika itu terjadi, biarkan gunung ini menelan namaku.

Gelap, terakhirku lihat hanyalah anak sungai yang panjang dengan suara anjing pemburu melolong nyaring. Gunung Hardariyam ini telah menaklukanku.

Maaf bu, Marvel tidak bisa kembali dengan selamat!

EPILOG

Nadine memegang pigura foto keluarga mereka yang lengkap dan tersenyum getir, “Andai Bapak, Ibu sama Marvel disini, pasti bakalan senang melihat Nadine mengenakan baju pengantin.” Ada getaran samar tipis tanpa suara merayapi hatinya, Marvel ditemukan tewas dibawah kaki gunung dengan pakaian compang-camping seperti tercabik sesuatu, wajah tampan adik laki-laki semata wayangnya itu membiru dan matanya terbelak keatas hingga bola mata terlihat memutih. Bekas cekikan tangan besar membelit lehernya memberikan warna kehitaman yang nampak seperti membusuk. Tersiar kabar bahwa Marvel balik dari Gunung itu, ibu bergegas mendatanginya namun naas bukan pelukan kerinduan karena sudah dua tahun berpisah akan tetapi kabar buruk bahwa putra kesayangannya pulang dengan raga yang tak menyatu oleh nyawa.

Didalam tas ransel Marvel terdapat buku catatan harian yang bertuliskan hari pendakian mereka, hanya Leon tau jika sebenarnya untuk mengungkap misteri yang ada, ia mencatat kejadian terperinci dan diselipkan foto, termasuk foto jenazah Rinjani membusuk dimakan insekta. Nadine bergetar saat membaca buku catatan itu seksama, hari-hari yang dijalani mereka berdua seperti dineraka, bahkan terdapat pengalaman kecil saat mereka berburu. Keinginan Leon, sang pemilik buku itu adalah Marvel kembali dengan selamat dan menyelamatkan bapaknya yang menjadi tumbal Ki gede dan dijadikan Wuwuk penjaga dikaki gunung Hadriyam.

Bahkan teringat tercatat dengan jelas segala ritual Ki gede untuk meminta korban, ternyata dukun gila yang didatangi ibu saat bapak kritis, Nadine tersenyum getir, ia mengingat jelas semua yang terjadi, penyesalan terbesar melanggar tuah menjadi saksi bisu kematian Bapak dan Marvel, ibu meninggal dua tahun sembari menunggu kedatangan Marvel dan meninggalkan saksi bisu tanpa suara. Nadine dulu, ingin mengikuti jejak Marvel untuk mendaki Gunung Hardariyam namun, dicegah oleh Ibu. Nadine kini tersadar ada hal yang tidak bisa diutarakan dan tidak bisa dijelaskan oleh logika. Ia menjalani akad nikah dengan syahdu tanpa ada celah yang tersisa hanya kebahagian yang membuncah.

Gunung Hardariyam menyimpan misteri yang menjadi saksi bisu, kepergiaan orang terkasih Nadine.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Hadriyam (2)
Reveniella
Flash
Api yang Berdamai dengan Hujan
Ravistara
Flash
Fly Away
Ryan
Novel
Gold
KKPK Asyiknya outbound
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Yakuza van Java S.2 : Case Files
A.M.E chan
Cerpen
Bronze
Kasur Basah
Hekto Kopter
Cerpen
HARDARIYAM
Reveniella
Flash
Sendiri di Tengah Malam
bybellè
Cerpen
Bronze
Rakamandra
Fariduddin Aththar
Flash
Menabur Abu
Paramitha
Flash
Bronze
Pacar Seorang Pesulap
Afri Meldam
Novel
Bronze
Detektif Madison
Glorizna Riza
Cerpen
Bronze
Pesugihan
Iena_Mansur
Novel
Bronze
Blood Moon
Maghfira Izani
Cerpen
Perempuan yang Lehernya Terjerat Rantai Setan
Autami Anita
Rekomendasi
Cerpen
Hadriyam (2)
Reveniella
Cerpen
HARDARIYAM
Reveniella
Novel
Ruang Abu-abu
Reveniella
Novel
First place in my heart
Reveniella
Novel
Neskara
Reveniella
Novel
Venchouva
Reveniella
Flash
Ayahku koruptor
Reveniella
Flash
Rakyat terpinggir
Reveniella
Flash
Wanita metropolitan
Reveniella
Flash
Lanang
Reveniella
Flash
Penjara Aktivis
Reveniella
Flash
Apakah Aku Pantas Dicintai?
Reveniella
Novel
Lily and the mask
Reveniella
Flash
Anggap Aku Rumahmu
Reveniella
Cerpen
Laki-laki Tidak Bercerita
Reveniella