Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Hadiah Terindah
0
Suka
11
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Senja memancarkan sinar ungunya, membuat langit menumpahkan keindahan pada tubuh cakrawala. Satu dua lampu jalanan mulai menyala, membuat terang permukaan dunia yang masih sesak dengan kesibukan manusia. Gumpalan awan kelabu baru saja berhenti memuntahkan air hujan pada sore itu, membuat kawanan burung kembali terbang menuju rumah mereka.

           Di tengah kota, rumah kontrakan kecil berwarna putih dengan teras kecil berukuran 6 x 5 meter di depannya terlihat normal. Tapi tidak dengan penghuninya. Seorang gadis berusia 16 tahun yang familiar dengan nama Amel nampak termenung di meja makan teras. Sepiring nasi dengan lauk telur dan tempe, tiga butir kurma, dan segelas air putih. Menemani sorenya, Pandangannya menyapu kesibukan kota menjelang malam. Sejak usia dua belas tahun, ia menyewa kontrakan ini. Kakak laki-lakinya yang memberi bekal uang. Kakaknya pergi merantau sejak lima tahun yang lalu, mencari kerja untuk biaya hidup mereka berdua. Namun, ia tak kunjung pulang tiga tahun terakhir. Amel kehilangan kabar tentangnya bak pemburu yang kehilangan target hewan buruannya, Itulah yang mengganggu pikirannya saat ini.

           “Abang, ini udah lima tahun, Bang, tapi abang belum juga kembali. Mana janjimu, Bang? Aku rindu, Bang. Capek aku hadapi dunia ini sendirian,” gumam Amel menatap foto kakaknya di layar ponsel. Hatinya tak tenang. Ia benar-benar ingin berbuka puasa bersama kakaknya di bulan Ramadan ini, tidak apa walau sekali. Sayangnya, keinginan itu belum terwujud hingga hari ini, hari ke-29 Ramadan, walau ribuan doa telah Amel panjatkan dalam sujudnya.

           Tepat matahari lenyap di ufuk barat, azan Maghrib nyaring berkumandang saling bersahutan. Amel tercengang, segera ia usir lamunan tentang kakaknya.

           “Ah... semoga besok ada keajaiban,” gumamnya pelan. Ia mencoba menghibur diri sendiri, mulai berbuka. Ia mengambil kurma, lantas memakannya, diikuti tiga tegukan air putih, lalu menghabiskan makanan yang ia buat sendiri.

           Pukul setengah sembilan malam, Amel memilih untuk menghabiskan waktu di masjid bersama Erna dan Nadin, teman sekelasnya. Mereka hendak mengkhatamkan Al-Qur’an, setidaknya satu kali khatam dalam satu bulan sudah cukup.

           “Mel, Bima ke mana, Mel? Belum pulang juga ya?” ujar Nadin, berusaha mengalahkan suara bising tilawah, bak sambaran petir yang menggelegar di tengah pidato pemimpin kampanye, pertanyaan menyebalkan itu menyambar hati amel, membuat amel harus menghentikan tilawahnya.

           “Jangan bahas kakakku, pliss...”

           “Ayolah, Mel, jangan gitu. Kita juga pengen kamu ketemu sama dia, Mel. Kamu udah berdoa belum di sholat malam selama ini?”

           Amel menghela napas.

           “Aku udah panjatin ribuan doa, Din, tapi Allah nggak pernah dengerin doa gadis lemah yang satu ini. Aku harus gi—”

           “Ish! Amel, jangan ngomong gitu,” potong Erna, membuat Amel harus menghentikan kalimatnya.

           “Siapa tahu keajaiban bisa terjadi besok, iya kan, Din?” ujar Erna melirik Nadin. Yang dilirik hanya mengangguk-angguk.

           “Lo harus tambahin rakaat sholat malam di i’tikaf terakhir besok, Mel. Hari ke-30 Ramadan nanti pasti dipertemukan Allah.”

           Amel tersenyum, seolah secercah harapan benar-benar menunggunya di depan.

           “Makasih, Din, Erna.”

           Erna ikut tersenyum.

           “Nah, nanti kalau kamu udah ketemu Bima, jangan lupa traktir mie ayam, Mel,” Nadin bercanda.

           “Hehh! Nggak bisa lah! Telur gulung aja, Mel, lebih enak,” sergah Erna tak mau kalah.

           “Mie ayam!!”

           “Telur gulung!! Ish!”

           “Nanti aku beliin dua-duanya deh, tapi aku harus bisa ketemu abangku dulu.”

           “HAH?! Beneran?!” tanya Nadin dan Erna serempak.

           “Iya, deh.”

           “YEYYYY!!”

           Nadin dan Erna spontan bergandeng tangan, bersorak riang, berdiri sembari meloncat-loncat kegirangan. Sudah lama Amel tidak mentraktir mereka berdua.

           “Din, Na, udah ah. Kalian ini lagi di masjid. Ayo lanjut tilawahnya.”

           Erna dan Nadin menoleh, mengangguk serempak.

           Pukul setengah dua pagi, hari ke-30 Ramadan, entah sudah berapa rakaat Amel sholat. Kakinya gemetar menahan lelah. Bibirnya terus memuji Dzat-Nya yang menciptakan tubuh kecilnya. Hingga Amel sampai di rakaat terakhir sholat witir, ia menyelipkan doa, doa terbaik yang ia lafadzkan. Air mata mengalir dalam sujudnya, membuat sajadah kecilnya sedikit basah.   Ia tahu dan ia yakin keajaiban itu terjadi. Tuhan Maha Baik, Maha Mendengar bagi hamba-hamba-Nya yang mau mendekatkan diri pada-Nya.

           Hari itu berjalan normal seperti biasanya.

           Pukul satu siang, seusai sholat Zuhur, Amel memilih untuk berjuang. Berjuang mencari kabar kakaknya yang entah pergi ke mana. Ia merasa doanya tidak cukup. Ia kuatkan doa itu dengan ikhtiar. Siapa tahu beberapa warga kota pernah melihat sosoknya. Buka puasa di hari terakhir Ramadan ini, ia harus melihat batang hidung kakaknya.

           Amel mendekat ke toko kecil di tengah pasar induk, menyapa bapak-bapak tua penjaga toko, membuatnya menoleh ke arah sumber suara.

           Amel menjulurkan ponselnya ke arah wajah bapak penjaga toko, bertanya sopan. Tertampang foto Bima di dalamnya.

           “Maaf, Pak, pernah lihat orang ini?”

           Bapak tua itu menggeleng.

           Amel menghela napas pelan. Ia tidak menyerah. Ia akan mewujudkan doanya tadi pagi.

           Waktu berjalan cepat. Jam di tangan Amel menunjukkan pukul setengah lima petang. Empat jam berusaha, belum ada kemajuan, bagai mencari mutiara di tumpukan batu kerikil, Tidak ada yang tahu tentang Bima, ke mana ia pergi. Hati Amel terasa sakit. Dadanya sesak. Matanya tak mampu membendung air mata. Ia pergi ke masjid dekat kontrakan. Ia belum sholat. Tangisnya pecah setelah ia meluruskan kaki di salah satu tiang masjid.

           Tak mau berlarut-larut dalam kesedihan, Amel memilih untuk berwudhu, lalu mendirikan sholat Asar. Setidaknya itu bisa menentramkan hatinya yang sedang kacau. Namun, setelah Amel menyelesaikan sholatnya, keajaiban itu terjadi.

           Seorang pria berusia 20-an nampak memasuki masjid. Ia membawa ransel, sepertinya sedang dalam perjalanan jauh. Tak asing dengan wajah pria itu, Amel diam-diam mendekati tabir pembatas shaf perempuan dan shaf laki-laki, melihat lebih jelas lagi wajah pria itu.

           DEG!!

           Bak menemukan harta karun di padang pasir, Amel hampir saja melompat karena saking terkejutnya. Bola matanya membesar. Ia masih ingat persis wajah Bima, kakak laki-lakinya. Lihatlah, pria itu adalah bima, datang tak diundang, bagai hujan di tengah musim kemarau, membuat hati Amel berubah seratus delapan puluh derajat.

           Sebelum masjid itu sesak dengan penduduk, dengan seluruh keberanian yang telah ia kumpulakan, Amel mendekati pria itu.

           “Bang...” lirih Amel, membuat pria itu menoleh.

           Sama persis dengan keadaan Amel sebelumnya, pria itu terkejut. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya.

           “Amel...?”

           “Bang Bima!”

           Bima masih melongo tak percaya. Belum sempat Bima beranjak mendekati adiknya, Amel sudah lebih dulu memeluk tubuhnya, pelukan yang sudah lama tak ia dapatkan. Bima membalas pelukan itu. Dua insan itu bertemu di hari terakhir Ramadan. Sungguh, hadiah terbaik dari Tuhan untuk mereka berdua.

           “Bang, Amel kangen, Bang. Jangan pergi lagi.”

           “Abang di sini, Mel. Abang janji nggak akan ninggalin kamu lagi.”

           “Beneran? Janji ya...?” Amel menjulurkan jari kelingkingnya.

           “Iya, Mel. Abang janji,” ujar Bima sembari menyambut jari kelingking Amel.

           Amel melepas lembut pelukan itu.

           “Bentar lagi azan Maghrib, Bang. Ayo kita buka bareng, buka puasa terakhir di bulan ini.”

           “Abang masih nggak nyangka bisa ketemu kamu, Mel...”

           Amel tersenyum setulus mungkin pada kakaknya.

           “Amel juga ngerasa gitu, Bang. Yang penting sekarang kita udah benar-benar ketemu.”

           Bima membalas senyuman adiknya.

           “Ayo, Mel, kita buka bareng di kontrakanmu aja, nggak papa. Abang yakin ini adalah buka puasa terbaik seumur hidup abang, karena ada kamu, Mel.”

           “Abang itu satu-satunya orang yang paling aku sayang setelah ayah ibu meninggal. Jadi, buka puasa kali ini juga akan jadi buka puasa terbaik seumur hidupku, karena ada abang.”

           Amel menatap layar ponsel, pukul setengah enam. Senja kembali menampakkan diri. Langit terlihat bersih. Sepertinya awan tak ingin menumpahkan air hujannya sore itu. Tuhan ingin seluruh umat Islam menikmati senja terakhir di bulan suci ini, membuat hari itu adalah hari yang akan mereka rindukan.

           Kembali ke kontrakan Amel, meja makan di teras kini menjadi lebih nikmat. Satu kursi yang sebelumnya selalu kosong menjelang berbuka kini terisi oleh Bima. Amel membuat makanan spesial untuk buka puasa terakhir. Enam butir kurma, dua gelas teh dingin, dan dua piring kari ayam khusus untuk Bima.

           “Bang...” Amel memecah hening.

           Bima menatap adiknya. “Iya, Mel?”

           “Lima tahun terakhir abang ke mana aja? Gimana kerjanya?”

           Bima menghela napas.

           “Panjang ceritanya, Mel...”

           “Singkatin aja, Bang. Nggak papa.”

           Bima tersenyum, tak tega melihat raut penasaran adiknya. Baiklah, ia akan menyingkat cerita itu.

           “Tahun pertama abang kerja serabutan, Mel. Kadang jadi penjaga warung, OB di sekolah, cuci piring tetangga, bersih-bersih toilet umum, dan sebagainya. Sayangnya, uang penghasilan abang belum memenuhi biaya hidup kita, bahkan belum cukup untuk biaya hidup abang sendiri. Kehidupan di luar kota tak seindah yang kita kira, Mel.”

           “Akhirnya, abang memilih pulang ke kontrakanmu. Waktu itu abang naik taksi umum, tapi di tengah perjalanan sebuah truk menghantam taksi yang abang naiki. Terjadi kecelakaan besar. Abang dan bapak sopir dilarikan ke rumah sakit.”

           Amel menatap Bima tak berkedip, menyimak sebaik mungkin.

           “Bapak sopir taksi tak berhasil diselamatkan, dan abang dinyatakan koma tiga tahun lebih.”

           Amel terperanjat. Abangnya dinyatakan koma?!

           “Setelah abang pulih, abang kembali mengumpulkan biaya untuk kembali ke kontrakanmu. Tak apalah hanya setengah tahun. Dan hari ini, detik ini pula, doa dan ikhtiar abang didengar Tuhan. Abang bisa kembali bertemu denganmu.”

           Amel menunduk. Begitulah kabar Bima yang hilang tiga tahun terakhir.

               Bima tersenyum. Ia mengelus kepala adiknya. Tak menyangka adiknya bisa bertahan sampai detik ini. Terima kasih, Tuhan, telah mengabulkan doa dua insan ini yang sempat tertunda selama lima tahun. Buka bersama ini adalah hadiah terbaik dari-Mu untuk mereka 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Cerita dari Ankara
Syafi'ul Mubarok
Skrip Film
MONA
Arienal Aji Prasetyo
Cerpen
Hadiah Terindah
pena aksara
Novel
SEPEREMPAT ABAD
Fiska Esi
Novel
Cerita Cinta Angelina
Almasarym
Novel
Bronze
Unforgettable Story
Ayzahran
Novel
Reaching for the stars
Salma putri
Novel
Dandelion
Chika Andriyani
Novel
KITA DIPERSATUKAN TUHAN
Asti Pravitasari
Novel
Bronze
Titik Koma
Mitha Tiara
Novel
HELP
Kismin
Novel
Unbreakable Love
Murti Wijayanti
Novel
Cahaya di Bayang-Bayang Kerajaan
auroranightshade
Novel
Face The Music
Bambang
Novel
Perempuan Generasi Ketiga
Pachira
Rekomendasi
Cerpen
Hadiah Terindah
pena aksara
Cerpen
Puasa Bukan Halangan
pena aksara
Cerpen
Di Saat Doa Mustajab
pena aksara
Flash
mata luka sengkon karta
pena aksara
Cerpen
Jawaban di Balik Kebaikan Ramadhan
pena aksara
Cerpen
Buah kesabaran
pena aksara
Cerpen
Upgrade Ibadah
pena aksara
Flash
pasukan rompi coklat
pena aksara