Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Self Improvement
Hadiah Dari Nirwana
0
Suka
251
Dibaca

Sore itu, Ibu Putri terududuk lemas di atas kursi kerjanya. Wajahnya pucat. Bibirnya mengering. Sorot matanya layu. Udara panas kota Jakarta seakan telah menjarah segenap energi dalam dirinya, membuat tubuh perempuan paruh baya itu lunglai tak bertenaga.   

Ia mengingat-ingat kembali perkataan kepala sekolah yang menyasar padanya bagai peluru tajam.                     

Ibu Putri, ini adalah peringatan terakhir buat Ibu. Jika kejadian seperti ini terulang kembali, maka Ibu dipersilakan meninggalkan sekolah ini.

Ibu Putri menekuri ancaman itu. Ia sungguh tak mengira bahwa suratan nasib akan membawanya ke ujung tanduk. Ibu Putri mengambil botol air minum di hadapannya, lalu menenggak isinya dengan cepat seolah ia baru saja berlari melintasi padang pasir yang gersang. Air dalam gelas itu pun tandas seketika.  

Pikirannya kembali mengawang pada kejadian beberapa waktu lalu. Di dalam ruang rapat, semua dewan guru telah berkumpul bersama para perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Jakarta. Mereka hendak membahas program pengembangan sekolah. Rapat ini amat penting karena kemajuan sekolah ke depan akan sangat bergantung padanya. Namun, di saat semua orang telah bersiap, Ibu Putri malah menghilangkan berkas-berkas yang hendak dipresentasikan. Rapat pun dibatalkan dan Ibu Putri mendapat teguran keras atas kelalaiannya. Bahkan, ia terancam kehilangan satu-satunya sumber mata pencaharian baginya.

Tanpa diminta, pikiran Ibu Putri membawanya pada Naila dan Zahra. Sejak suaminya meninggal tiga tahun lalu, Ibu Putri harus merawat kedua buah hatinya itu seorang diri. Naila sebentar lagi akan memasuki jenjang kuliah dan Zahra akan berpindah dari tingkat SMP ke SMA. Keduanya membutuhkan biaya tak sedikit.

Ibu Putri memijat pelipis wajahnya dengan jemari tangan. Otakknya bekerja keras mencari jalan keluar. Dari mana ia akan mendapat uang demi pendidikan kedua putrinya itu? Tak ada lagi uang simpanan yang dapat ia gunakan. Gajinya sebagai guru honorer bahkan terkadang tak cukup memenuhi kebutuhan hidup harian. Tak sekali dua kali Ibu Putri harus menahan malu ketika meminjam uang pada teman atau tetangga. Dan kini, bayangan menjadi pengangguran tengah bergerilya dan menghantui, membuat hidupnya yang sudah runyam makin bertambah nestapa.

Ibu Putri mengeraskan pijatan pada kepalanya yang terasa hendak pecah. Pening dan pusing seolah tengah bersekongkol untuk menyerang dirinya habis-habisan. Dunia seakan memaksa Ibu Putri untuk menyerah pada peliknya kehidupan.

Terbit setitik penyesalan dalam benaknya. Andaikan dahulu ia lebih memilih berkarier di dunia perbankan, mungkin keadaan hidupnya tak akan sepahit ini. Seandainya saja ia tak mengedepankan perasaan dan emosi untuk memenuhi cita-cita masa kecilnya menjadi seorang guru, mungkin saat ini telah hidup nyaman dengan pendapatan bulanan yang memadai. Cukup lama Ibu Putri membiarkan dirinya berada dalam dunia imajinasi sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berhenti berandai-andai.

Detik demi detik berlalu dan jarum jam telah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Ibu Putri mengitarkan pandangan ke sekitar. Ruangan guru itu sepi setelah ditinggal para penghuninya. Hanya tersisa dirinya seorang. Ibu Putri segera merapikan meja kerjanya untuk kemudian beranjak pulang. Pandangan matanya tahu-tahu bertumbuk pada sebuah paket kecil di sudut meja. Ia menduga benda itu ditaruh di sana oleh satpam sekolah ketika dirinya masih diceramahi di ruang kepala sekolah beberapa saat lalu.

Tanpa menunda, Ibu Putri membuka bingkisan di hadapannya. Ia terkejut manakala membaca nama sang pengirim. Sebuah nama yang telah lama menghilang dari kehidupannya. Ibu Putri sungguh tak menyangka bahwa sosok itu masih peduli padanya meski telah bertahun-tahun mereka berpisah. Namun, yang membuatnya lebih tercengang adalah bingkisan itu dikirim dari Massachusetts, sebuah negara bagian di Amerika Serikat. Di dalamnya, Ibu Putri menemukan secarik surat yang langsung ia baca.  

Dear Ibu Putri,

Ini Alya, murid Ibu Putri.

Apakah Ibu masih ingat dengan Alya?

Semoga saja Ibu masih ingat karena Alya juga selalu mengingat Ibu.

Ibu Putri, apakah Ibu masih ingat, dahulu Ibu pernah bertanya tentang mimpi Alya di depan kelas? Waktu itu, banyak teman-teman yang menertawakan jawaban Alya dan menganggap bahwa cita-cita Alya hanyalah sebuah mimpi anak kecil di siang bolong.

Tapi, Ibu membesarkan hati Alya dan terus menyemangati Alya. Ibu juga tidak pernah lelah untuk mengajari Alya bahasa Inggris sebagai salah satu persiapan untuk mengejar mimpi Alya.

Ibu ingat, saat kita mengikuti perlombaan story telling dulu? Alya hampir kehilangan kepercayaan diri karena para peserta dari sekolah lain terlihat begitu hebat dan memiliki kemampuan bahasa Inggris yang sangat fasih. Tapi, Ibu tetap percaya bahwa Alya bisa. Dan akhirnya, Alya mampu melewati ujian itu. Meskipun hanya menempati posisi juara dua, setidaknya Alya sudah berhasil untuk menaklukkan rasa ragu, takut, dan khawatir pada diri Alya.

Alya juga masih ingat apa yang Ibu sampaikan waktu itu. Ibu berkata bahwa semua hal di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Bahwa dengan kerja keras, Alya juga bisa mewujudkan cita-cita dan mimpi Alya.

Dan kini, impian Alya itu sudah berubah menjadi nyata. Kini Alya sudah berkuliah di kampus impian seperti yang dahulu Alya sampaikan di depan kelas. Kini Alya berada satu kelas bersama murid-murid yang luar biasa hebatnya dari segala penjuru dunia. Jika Alya menengok dinding ruangan kelas, terdapat bendera merah putih terpajang dengan gagah di sana sebagai pertanda bahwa ada pelajar dari Indonesia di kelas itu.

Dan semua itu tentu tidak terlepas dari jasa Ibu Putri. Jika Alya harus memberikan penghargaan kepada seseorang atas keberhasilan Alya berkuliah di sini, maka Ibu adalah orang yang pertama menerimanya. Karena itu, Alya ingin berterima kasih kepada Ibu Putri atas semua yang Ibu lakukan dan berikan kepada Alya.

Cukup sekian dulu surat ini. Ini adalah surat pertama dari surat-surat Alya yang akan datang kepada Ibu.

Dari murid Ibu Putri yang sekarang sudah resmi menjadi murid di Harvard University,

Alya Ramadhani

Bersamaan dengan surat itu, terdapat beberapa foto Alya sedang berdiri di depan kampus tempat ia belajar sekarang. Sebuah kampus ternama yang menjadi impian bagi banyak orang di dunia.       

Ibu Putri memandangi lekat-lekat poto-poto mantan anak didiknya itu penuh takjub. Bibirnya tersenyum merekah dan kedua bola matanya berkaca-kaca. Ada perasaan bangga yang amat mendalam terhadap prestasi murid yang dulu pernah diajarnya itu. Beberapa detik berlalu, Ibu Putri tak kuasa lagi membendung tangis. Air mata bahagia tumpah dan mengucur deras dari kedua pelupuk matanya.

Pada sore itu, di saat energi dalam tubuhnya hampir terkuras habis, ketika udara Kota Jakarta terasa panas, Ibu Guru Putri mendapatkan sapaan dari angin kehidupan. Bingkisan berisi selembar surat yang ia baca beserta beberapa potret gadis yang pernah diasuhnya itu membuatnya menemukan sesuatu yang tak ternilai harganya. Sebuah hadiah dari nirwana.  

***  

 

 

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Cerpen
Hadiah Dari Nirwana
Sucayono
Flash
Langkah Pertama Menuju Kebebasan
Yitro
Novel
1/4
Sancka Stella
Cerpen
Bronze
FOCUS GROUP DISCUSSION
Ardian Agil Waskito
Flash
PADA KORIDOR, KENANGAN DAN KEYAKINAN TERGAMBAR
Syauqi Sumbawi
Novel
Bronze
Heartless
Aylanna N. Arcelia
Cerpen
Pundak Perintis
Adam Nazar Yasin
Novel
Bronze
AKU TAK PERNAH MEMBENCI DIRIMU
Muhammad Abdul Wadud
Novel
Trilogi Trimatra: Cita Punca Prawira
elrena._
Flash
Tuhan, Botol & Babi Hutan
Alysya Zivana Pranindya
Cerpen
Pemuda Di Kamar 17
Sucayono
Cerpen
Bronze
Takdir Mati
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Kehilangan Diri
Fata Raya
Cerpen
Bantu Aku Mengeja "Tuhan"
dari Lalu
Novel
berharap pada siapa??
hendidesfian
Rekomendasi
Cerpen
Hadiah Dari Nirwana
Sucayono
Cerpen
Rumah Istimewa
Sucayono
Novel
Untuk Kamu
Sucayono
Cerpen
Pemuda Di Kamar 17
Sucayono
Cerpen
Kartini dan Sekolah Terbaiknya
Sucayono