Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Pembaca Kwikku! Cerita pendek ini merupakan pendamping resmi dari novel utamaku yang saat ini sedang dikurasi di Kwikku dengan judul “Senja yang Tak Pernah Pergi.” Selamat menikmati sisi lain kehidupan Panji, dan jangan lupa mampir ke lapak novel utamanya ya! Salam hangat, Raihan Langit."
***
Namaku Panji, dari kampung kecil di Kalimantan. Aku anak STM jurusan Teknik Gambar Bangunan yang baru lulus tahun kemarin. Menurut Bapak Kepala Desa di kampungku, aku ini adalah “pemuda tampan yang mencerminkan harapan bangsa,” dan aku sungguh-sungguh tidak ingin mengingkarinya.
Ketika bersekolah di ibukota provinsi yang kuanggap luar negeri, aku menjadi seorang penderita insomnia stadium berbahaya yang bisa membuat khawatir para pemimpin dunia. Di kamar sewaan nan sempit, setiap malam, aku mengisi waktu untuk melelahkan mata dengan membaca kamus bahasa Inggris setebal batu bata yang sedang berdiri, karena tak ada kitab lain yang bisa kubaca.
Lulus sekolah, aku sempat menganggur, sampai ibuku—sang Menteri Keuangan di rumah—menjalankan sebuah konspirasi gerilya tingkat tinggi yang akhirnya membuatku terpental keluar dari jalur sekolahku dengan menjadi seorang guru honorer.
Nasib melemparkanku di kelas sebagai guru bahasa Inggris. Bolehlah ini kusebut sebagai takdir tak berperasaan yang terjadi pada seorang pemuda tampan harapan bangsa. Sungguh, kamus bahasa Inggris setebal batu bata yang dulunya adalah obat tidur, kini menjelma menjadi senjata pamungkas dan ajimat utamaku untuk bertahan hidup.
Perjalanan takdir memang penuh dengan kejutan, karena tak lama kemudian dunia langsung menghadapkanku pada dua sumber huru-hara terbesar di sekolah: seorang siswi baru anak kepala polisi—pindahan dari kota kabupaten yang cantiknya berada pada tingkat membahayakan ketenteraman pemuda kampung—serta Bendahara Sekolah, perempuan matang nan mempesona dan memegang kendali penuh atas hidup dan matinya honorku setiap bulan.
Sebagai mantan anak STM jurusan menggambar, naluri sains dan analisisku terhadap struktur tingkah laku manusia sangatlah tajam. Itulah mengapa aku bisa membaca pertanda dari alam semesta bahwa Bu Dewi, sang penguasa absolut brankas sekolah, sebenarnya menaruh hati padaku. Pertanda itu valid, sevalid hukum Newton.
Kemarin, saat aku menerima amplop honorer yang tipisnya setipis kulit bawang itu, Bu Dewi menyerahkannya sambil tersenyum. Bukan senyum biasa, melainkan senyum dengan sudut kemiringan tiga puluh derajat—sebuah kode geometris yang berarti dia sedang mengirimkan sinyal asmara tersembunyi. Ditambah lagi, wangi parfum vanilanya sengaja ditinggalkan di ruangan itu, seolah-olah dia sedang memancarkan sinyal sonar khusus pemikat jiwa untuk sang guru honorer Bahasa Inggris berwajah tampan. Aku yakin seratus persen, Bu Dewi naksir padaku.
***
Hari itu, aku menemui Bu Dewi di ruangan bendahara, bersiap menerima gajik...