Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Gulali Puma
0
Suka
44
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Puma punya gulali yang membuat pukulan menjadi manis. Reby, Icar, Haku, dan siapapun rela mati demi gulali.

Bukan gula kapas yang dijual di pasar malam. Tapi gulali yang berbahan dasar awan dari langit.

Pada pagi hari yang terpilih, Puma sudah tiba di puncak gunung suci. Ditebarkannya jaring raksasa ke arah lautan awan berwarna jingga malu-malu. Setelah penuh, dia mengikat ujungnya. Dengan tali panjang dan kuat, dia membawa bahan gulali tersebut turun. Awan dalam jaring mengambang di udara menyerupai balon hidrogen raksasa.

Dia pulang ke istananya dengan berjalan kaki. Orang-orang mengenalnya sebagai laki-laki yang berjalan dinaungi awan. Yang menganggapnya ajaib berkumpul dan menyebut diri mereka sebagai dopamaks. Akronim dari dopamin dan maksimal. Dopamin merupakan hormon bahagia yang dihasilkan tubuh jika memakan makanan manis. Sedangkan dopamaks adalah hormon super bahagia yang dihasilkan tubuh jika memakan gulali Puma.

Sesampainya di istananya, Puma menuju gudang gulali. Awan dalam jaring akan disimpan dalam gudang tanpa celah. Setelah itu, Puma berendam dengan bunga tujuh rupa, ditemani gadis-gadis dopamaks rupawan yang berlomba melayaninya. Kemudian beristirahat sampai keesokan harinya.

Seorang asisten wanita paruh baya bernama Aites membawakan sarapan pagi untuknya. Puma makan ditemani musik jazz lembut sambil mendengarkan laporan Aites.

"Rambo bilang, jalanan menjadi macet karena semakin banyak dopamaks datang, Tuanku. Ada selentingan akan ada massa untuk demo."

Puma menutup mata untuk menikmati roti selai panggang isi daging rusa. Setelah menelannya, dia membuka mata dan menjawab dengan tenang.

"Apa lima ratus juta cukup untuk membungkam mereka?"

Aites sedikit tergeragap, lalu menghitung dengan kalkulator di ponselnya.

"Cukup, Tuanku."

"Hem."

Laporan pun selesai. Puma beranjak untuk berhias. Dasi, jas hitam, jam tangan, sepatu, hairdo oleh penata rambut khusus, terakhir: parfum gulali rasa stoberi.

Dia keluar kamar didampingi pengawal pribadinya bertubuh kekar, bernama Ipat. Mampir ke sebuah bilik kecil gelap tertutup. Di bilik itu ada kaca lebar yang menunjukkan sebuah kamar besar dengan belasan lampu operasi menyilaukan. Di sana berbaring belasan orang yang seluruh tubuhnya ditutupi kain putih sampai leher.

Ipat mencondongkan badan, mendekatkan diri ke mikrofon di atas meja.

"Calon dopamaks yang berbahagia. Teguhkan hati kalian. Tuan kita Puma datang memberi semangat."

Kepala mereka bergerak-gerak mencari keberadaan Puma.

Puma mengambil alih mikrofon. "Tenangkan diri kalian. Aku melihat kalian dari tempat yang tidak kalian lihat." Gerakan mereka berhenti.

"Sebentar lagi, otak kalian akan disucikan. Dengan penyucian ini, otak kalian akan mengeluarkan dopamaks jika makan gulaliku. Selamat, sebentar lagi, kalian akan merasakan ajaibnya dopamaks. Hormon yang akan membuat kalian bahagia tanpa tapi, optimis tiada henti, dan baik sangka nir curiga. Berbahagialah orang-orang terpilih!"

Ipat menyorongkan kepadanya sebuah cangkir kecil. Puma meludah di sana beberapa kali. Lalu Ipat menyerahkannya kepada orang berpakaian serba putih yang menunggui mereka di bilik gelap.

Puma berbalik pergi. Sementara orang-orang yang berbaring di ruangan meneteskan air mata bahagia hingga sprei putih di bawah kepala mereka basah.

Beberapa saat kemudian, masuklah orang-orang berpakaian putih dari ujung kaki hingga kepala. Mereka memakai kupluk, bermasker, dan berkacamata. Mereka menyuntikkan obat bius ke selang infus. Mereka membelah kepala-kepala, mengeluarkan otak-otaknya, kemudian memasukkannya ke dalam lemari kaca.

Orang berbaju putih lain masuk membawa cangkir berisi ludah Puma lalu menuangkan ludah itu ke corong di belakang lemari. Mesin dihidupkan. Terdengar suara gelegak mirip suara air mendidih di dalam cerek.

Lemari perlahan dipenuhi uap. Makin lama makin pekat. Otak-otak itu pun diliputi uap.

Sekitar setengah jam kemudian, mesin dihentikan. Perlahan uap di dalam lemari berkurang. Lalu otak-otak yang telah berubah warna menjadi hijau dikeluarkan, dipasangkan kembali ke kepala masing-masing. Semua proses dilakukan dengan cepat dan hati-hati. Otak hanya bisa bertahan satu jam di luar kepala.

Sementara itu, Puma telah berada di singgasananya yang bercahaya. Seluruhnya terbuat dari emas dengan detail yang rumit dan megah.

Para dopamaks berjumlah lima belas orang menyungkurkan wajah mereka ke lantai marmer. Tangan-tangan menjulur ke depan. Telapak mereka terisi oleh berbagai barang berbeda. Ada emas batangan, pernak-pernik idola artis edisi terbatas, untaian gigi orang utan, sampai pada tengkorak manusia yang masih mengkilap.

"Apakah ini yang terbaik?"

"Ya benar, Tuanku, ini persembahan terbaik."

Puma tersenyum tipis. Dia meletakkan punggung ke sandaran singgasanya. Tangannya melambai ke samping. Ipat meletakkan sebuah cerutu berasap pada tangan Puma.

Puma menyesap cerutunya dalam, lalu mengepulkan asapnya dengan kuat. Tercium harum gulali rasa jeruk yang membuat jantung para dopamaks berdebar kencang saking bergelora perasaan mereka. Ini adalah pertemuan dengan seseorang yang mereka mimpikan tiap detik.

Puma mengedikkan dagu. Aites mengambili barang persembahan dari tangan-tangan dopamaks. Selanjutnya, Puma menikmati cerutunya beberapa saat. Semua masih dalam posisi awal, tanpa adanya instruksi dari Puma. Ketika Puma beranjak berdiri, semua orang menahan napas.

Icar yang pertama didatangi Puma. Dia ingat benar, dopamaks ini telapak tangannya sudah kosong dari awal. Dengan sepatunya yang bergerigi pada bagian alasnya, Puma menginjak telapak kaki itu sekeras mungkin.

Tubuh Icar bergetar hebat. Darah mengucur dari telapak tangannya. Kulit wajahnya memerah. Tapi tidak ada rasa sakit. Hanya ada senyum lebar, teriakan kemenangan, serta rasa bangga dalam dada.

Puma jongkok. Menarik dagu Icar. "Orang miskin harus membayar gulali dengan lebih banyak darah, bukan?"

Icar mengangguk dengan susah payah. Bibirnya bergerak-gerak seperti hendak bicara, namun tak ada satu kata pun yang keluar. Sorot matanya memancarkan takzim luar biasa kepada tuannya.

Tanpa ampun, Puma menendangi Icar. Tubuhnya memelanting ke samping, ke atas, ke marmer yang keras. Luka-luka kembali tertoreh. Kebanyakan menggores bekas luka dari minggu ke minggu yang belum pulih benar. Kontras dengan senyum yang selalu tersungging di wajahnya.

Saat Puma berhenti memukulinya, kesadaran Icar hanya tinggal segaris. Sebelum matanya menutup, Icar tersenyum melihat Puma meludahi segumpal awan. Seketika awan itu berubah menjadi gulali kepala panda yang lucu, seperti boneka yang diinginkan anaknya. Icar mengenggamnya erat-erat seolah di benda itu ada segaris nyawanya yang tersisa.

Dia masih punya alasan hidup dengan gulali ini. Gulali ini akan membuat dunia menjadi indah. Rumah reyotnya menjadi istana. Omelan istrinya akan berubah menjadi suara merdu penyanyi. Matanya menutup damai berikut kesadarannya. 

Ipat mengangkat tubuhnya keluar dari ruangan. Seseorang membersihkan darah di lantai, dinding, dan langit-langit. Anyir darah digantikan desinfektan beraroma gulali rasa melon. Sepatu Tuan Puma diganti dengan yang baru, yang sama bergeriginya.

Dia melambaikan tangannya ke salah satu kepala. Ipat mendorong pantat dopamaks yang ditunjuk hingga kepalanya tersungkur membentur lantai. Dia adalah gadis muda dengan berat badan di atas rata-rata.

Telapak tangannya tadi membawa pernak-pernik idola edisi terbatas.

"Lepas bajumu!" Perintah Puma.

"Si..siap, Tuan," jawabnya tergeragap.

Reby melepas baju luarnya. Terlihat perutnya berlipat-lipat. Puma menunjukkan ekspresi jijik.

"Lihat, Kamu punya tiga perut. Pasti cukup untuk lima puluh piring nasi, kan? Hahaha...."

Segera berjejer lima puluh piring nasi. Hanya nasi. Tanpa lauk. Tanpa garam. Untuk melengkapinya, satu ember penuh air datang dengan segera. Puma membenamkan kakinya di dalam ember. Gadis asisten bernama Apnat mencuci kedua kaki Puma dalam ember sampai bersih.

Ipat meletakkan ember berisi air bekas cucian kaki Puma di dekat piring-piring, bergumam singkat,"Untuk minum."

Napas Reby menggebu semangat seperti menemukan oase di tengah gurun kering kerontang. Dopamaks lain memandangnya iri. Air bekas cucian kaki Puma adalah air minum terlezat di dunia. Ah, lupakan lezat. Yang lebih penting, air itu ajaib. Bisa menyembuhkan segala penderitaan di dunia ini.

Puma melihat jam tangannya dengan malas. "Sepuluh menit."

Detik selanjutnya, dengan rakus Reby menyorongkan sebanyak-banyaknya nasi ke dalam mulutnya. Di lidahnya, ini adalah hidangan terlezat yang pernah dimakan Reby.

Begitu perasaannya. Tapi lambungnya berkata lain. Pada menit ke sembilan, ketika baru habis tiga puluh piring, gelombang datang dari perutnya. Tanpa ampun mendorong ke atas. Lalu muntah banyak sekali.

Puma mengumpat karena Reby tidak berhasil. "Kurung dia! Baru dapat gulali kalau beratnya tambah sepuluh kilo," perintahnya.

Ipat mengajak tiga asisten gempal lainnya. Mereka menyeret Reby pergi dari ruangan itu.

"Hei kalian Anjing-anjing!" Puma beralih pada para dopamaks yang masih tersisa.

Seketika orang-orang itu merangkak seperti anjing. Mereka menggonggong riang kepada Puma seperti anjing menyambut majikannya.

"Habiskan muntahan dan air itu."

Keributan terjadi. Saling pukul, saling dorong, saling tendang, saling teriak. Ketika salah satu hendak menjilat muntahan atau meraih ember, mereka menariknya, memukulinya hingga pingsan.

Akhirnya tersisa satu orang, Haku. Dia menyantap semua muntahan sama rakusnya dengan orang yang sebulan tidak diberi makan.

Dia juga sanggup menghabiskan sisa air bekas cucian kaki. Lalu dia merangkak dengan riang ke arah Puma. Orang-orang seakan melihat ekornya bergoyang-goyang. Puma menyambutnya dan mengelus kepalanya.

"Kamu juga yang memberiku tengkorak itu?"

"Guk! Guk!"

"Hahaha... bagus sekali. Bekas Dopamaks, darahnya tak lagi berharga. Dia akan mati perlahan atau beruntung mati dipercepat. Dia beruntung karena aku memutuskan dia dapat yang kedua."

"Guk!"

Puma melambaikan tangannya. Si cantik Apnat memberinya sebatang gumpalan awan.

"Tengkorak itu juga sponsor musuhmu, kan?"

"Guk!"

"Kebetulan yang menarik," gumam Puma.

"Gulali ini akan memikat semua orang. Kebahagiaan sempurna segera menjadi milikmu."

Puma menjilati segumpal awan itu pada seluruh permukaannya. Awan putih itu segera menjadi gula kapas yang berbentuk sebuah kursi kayu berukir indah, beralaskan bantal yang dihiasi tenun emas.

Haku tidak dapat menyembunyikan ketakjubannya. Dia belum pernah melihat gulali sebagus itu. Tidak sia-sia selama dua tahun ini setia pada Puma. Tidak sia-sia menguras asetnya.

Dengan wajah anak kecil yang terharu karena dibelikan mainan yang telah lama diidamkan, Haku menerima gulali kursi itu. Segera bersimpuh di kaki Puma. "Tuanku...sungguh tak terkira rasa syukurku pada Tuan. Saya akan memberikan segalanya untuk Tuan."

Puma memandangi kepala di kakinya, lalu beberapa detik berikutnya bergema tawa keras yang menggelegar, sementara di sekitarnya, para asisten sibuk menyeret para dopamaks yang pingsan.

Dan persembahan badan berakhir. Puma akan beristirahat di kamarnya, menikmati makan siang. Tepat satu jam setelah tengah hari, Puma berbaring pada kursi malas. Apnat menyetel lagu jaz lembut, menyalakan lilin aromaterapi, lalu memijit pundak Puma.

Aites masuk agak tergesa.

"Ada masalah, Tuan."

"Ada apalagi? Sudah kau serahkan lima ratus juta itu?"

"Sudah, Tuan. Tapi dia melaporkan kalau ada beberapa orang keras kepala. Me...mereka tetap ingin melenyapkan kita."

Puma menatap ke langit-langit dengan malas. "Orang-orang bodoh akan selalu ada," gumamnya.

"Apa yang harus kita lakukan, Tuan?"

Tiba-tiba, Ipat tergopoh masuk ruangan.

"Gawat, Tuan. Gudang awan jebol. Ada yang membuka pintu lebar-lebar. Rambo sepertinya tidak bisa menghentikan orang-orang keras kepala itu. Mereka berhasil menerobos ke gudang kita. Sekarang halaman dipenuhi awan."

Untuk pertama kalinya, mereka melihat Puma seperti kucing kecil ketakutan. Bahkan tak sempat mengumpat, dia bangkit dengan panik. Berlari menuju halaman.

Puma mematung melihat halaman tak lagi terlihat. Hanya ada awan putih yang merambat cepat ke segala arah.

Terdengar dalam liputan awan, para dopamaks bersorak gembira. Mengira semua ini adalah anugerah yang diberikan Puma. Mereka melonjak-lonjak menjumputi awan sebanyak-banyaknya, menjejalkannya ke mulut. Mereka sudah makan banyak sekali awan.

Puma dan para asistennya bergerak panik dalam keterbatasan pandangan. Mereka menangkapi para dopamaks dengan susah payah. Sungguh sulit karena semua diliputi euforia. Lama akhirnya ketika udara kembali bersih. Awan-awan yang tersisa berhasil naik ke langit. Para dopamaks kini dijejerkan untuk mendapatkan hukuman.

"Merunduk kalian, Anjing-anjing!" Teriak Puma.

Tak ada yang bergerak. Semua tetap berdiri seperti patung di tempatnya. Mata mereka terbuka tapi kosong. Puma memukuli mereka hingga jatuh tersungkur. Tapi tak ada ekspresi apapun, entah kesakitan, kegelian, atau kebahagiaan.

Setelah semua ambruk, Puma ganti memukuli para asistennya tanpa ampun. Puma mengulangi perintahnya lagi pada para dopamaks. Tapi tetap tak ada yang menyambutnya.

Haku yang kepalanya di depan kakinya berteriak,"Kamu yang anjing, Bodoh! Beraninya kamu mengumpat di hadapanku!"

Puma dan asistennya tersentak.

Haku berdiri, menunjuk Puma dengan berani,"Kamu Anjing yang menguras hartaku!"

Dor!

Tiba-tiba, tubuh Haku roboh ke tanah.

Puma menengok ke arah dentuman senjata api, dan terlihat seseorang dengan baju safari perlahan menurunkan senjata. Lalu terbit senyum miringnya yang khas.

"Aku senang bisa membantunya mati lebih cepat."

Puma balas tersenyum dan berucap,"Terima kasih Rambo. Kuharap semua terkendali di luar sana."

Rambo mengangguk santai. "Aku akan mengurusnya untukmu. Asal...." Dia mengusap jari-jarinya. "Lancar terus."

Puma menekan pundaknya keras,"Semoga kejadian ini tidak terulang. Apa kamu bisa menjamin itu?"

Rambo meringis, menurunkan pundaknya. Terkekeh aneh. "Ah...tentu saja. Aku akan mengurus mereka." Lalu Rambo berbalik pergi.

Puma bergegas ke gunung untuk menjaring awan. Tak lagi menunggu waktu suci. Otak Haku pulih secepat itu. Para dopamaks lain yang belum sadar, harus segera dijejal gulalinya segera. Atau dia harus repot menghilangkan lima puluh mayat.

Sayangnya, di puncak gunung, tak ada lagi gumpal awan tersisa. Wajah Puma pucat pasi. Dia terduduk lemas. Pemandangan lanskap bumi yang indah terlihat seperti neraka.

Dia tak bisa menunggu hari berikutnya untuk menunggu awan datang lagi. Orang yang memakan awan murni, otaknya akan terlahir kembali dalam jangka waktu beberapa jam. Bahkan dalam kasus Haku bisa lebih singkat dari itu. Kalau itu terjadi, meskipun disucikan dan dijejali gulali juga tidak akan membuatnya menghasilkan dopamaks.

Di tengah keputusasaannya, di sela-sela jalanan di bawah, dia melihat gumpalan-gumpalan awan berjalan. A...apakah telah ada orang-orang yang menirunya menjaring awan?

Puma berlari lurus ke arah mereka. Kakinya memijak langit, tapi entah mengapa tiba-tiba menjadi malam.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Gulali Puma
Binti Uti
Novel
Gold
Sherlock Holmes: Locked Rooms
Mizan Publishing
Cerpen
Lesung Semringah
Priy Ant
Novel
TERDAMPAR DI PULAU MENEKETEHE
Andhika Wandana
Flash
Bronze
Ada Apa dengan Rasa
Farida Zulkaidah Pane
Flash
Lembar-lembar Foto di Bangku Taman
Ryan Esa
Cerpen
03 Rumah di Keabadian
Bima Kagumi
Novel
Gold
KKPK Misteri Cermin Pengisap
Mizan Publishing
Novel
Bronze
MISTERI SERUNI
DEEANA DEE
Flash
Home
Ariq Ramadhan Nugraha
Skrip Film
Abhipraya High School (AHS)
Riska Gustania
Novel
Ashen side of Sumatra
Bintang Harly Putra
Novel
Gold
KKPK Asyiknya outbound
Mizan Publishing
Flash
Bronze
When Sleeping Beauty Woke
Silvarani
Skrip Film
Death distrik
Vaearen
Rekomendasi
Cerpen
Gulali Puma
Binti Uti
Novel
Hanya Mimpi
Binti Uti