Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Goresan Takdir Di Kanvas Usang (Part 1)
3
Suka
2,717
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aroma kertas tua dan kayu lapuk adalah parfum sehari-hari bagi Shepiya. Sebagai asisten pustakawan di "Perpustakaan Langit" yang sudah berdiri sejak zaman kolonial, Shepiya lebih sering menghabiskan waktu dengan benda mati daripada manusia. Baginya, buku tidak pernah menghakimi; mereka hanya bercerita jika diminta.

Sore itu, langit di luar jendela tampak mendung, memberikan nuansa abu-abu yang suram pada rak-rak tinggi perpustakaan. Pak Karso, kepala perpustakaan, memberinya tugas yang sudah lama tertunda: memindahkan barang-barang di gudang lantai bawah tanah yang sudah tidak dibuka selama puluhan tahun.

"Hati-hati, Piya. Lantainya licin dan lampunya sering berkedip," pesan Pak Karso sambil menyerahkan kunci kuningan yang berat.

Shepiya mengangguk kecil. Ia menuruni tangga spiral yang sempit, membawa senter dan catatan kecil. Udara di bawah sana terasa lebih dingin dan lembap. Suara langkah kakinya bergema, menciptakan irama yang asing di keheningan bawah tanah itu.

Gudang itu dipenuhi tumpukan meja kayu yang patah, kursi-kursi jalinan rotan yang sudah jebol, dan tumpukan dokumen yang dibungkus plastik hitam. Di sudut paling belakang, tersembunyi di balik lemari besi yang berkarat, Shepiya melihat sesuatu yang terbungkus kain beludru merah kusam.

Dengan rasa penasaran yang membuncah, ia mendekat. Ia menyibakkan kain itu, membiarkan debu beterbangan di udara hingga membuatnya terbatuk. Di baliknya, berdiri sebuah lukisan besar dengan bingkai kayu jati yang diukir sangat detail.

Shepiya mengarahkan cahaya senternya ke permukaan kanvas. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.

Di dalam lukisan itu, duduk seorang pemuda dengan kemeja putih bergaya klasik. Wajahnya digambar dengan sangat hidup. Alisnya tegas, hidungnya mancung, dan bibirnya menyiratkan senyum tipis yang misterius. Namun, yang paling memikat Shepiya adalah matanya. Sepasang mata berwarna cokelat gelap itu seolah menatap langsung ke dalam jiwa Shepiya, tajam namun penuh dengan kesedihan yang mendalam.

"Siapa kamu?" gumam Shepiya tanpa sadar.

Ia menyentuh permukaan lukisan itu dengan ujung jarinya. Anehnya, kanvas itu tidak terasa dingin seperti benda mati lainnya. Ada kehangatan samar yang merambat ke kulitnya, seolah-olah darah masih mengalir di balik sapuan kuas tersebut.

Tiba-tiba, lampu di gudang berkedip hebat lalu padam total. Kegelapan menyergap. Shepiya panik dan mencoba menyalakan kembali senternya yang mendadak mati. Dalam kegelapan total itu, ia mendengar suara bisikan halus, sangat dekat di telinganya.

"Jangan pergi..."

Shepiya tersentak. Ia mundur beberapa langkah hingga menabrak rak di belakangnya. Dengan tangan gemetar, ia terus menekan saklar senternya hingga akhirnya cahaya kembali memancar

Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada lukisan pemuda itu, tetap diam dalam bingkainya. Namun, Shepiya bersumpah, posisi tangan pemuda di dalam lukisan itu sedikit berubah. Sebelumnya tangannya berada di atas lutut, kini jari-jarinya tampak sedikit terangkat, seolah-olah baru saja mencoba menyentuh udara di depannya.

Bulu kuduk Shepiya berdiri. Namun, alih-alih lari ketakutan, ia justru merasa ada tarikan magnetis yang kuat. Ia kembali menatap mata pemuda itu. Di bawah keremangan cahaya senter, mata di lukisan itu tampak berkaca-kaca, memantulkan kesepian yang luar biasa.

"Namaku Shepiya," ucapnya lirih, merasa konyol karena berbicara pada benda mati. 

"Aku akan kembali lagi besok."

Saat Shepiya melangkah meninggalkan gudang dan mengunci pintunya, ia tidak menyadari bahwa di balik kanvas usang itu, sepasang mata cokelat terus memperhatikannya hingga bayangannya hilang di balik tangga. Kehidupan Shepiya yang tenang baru saja berakhir, dan sebuah cerita yang melampaui logika baru saja dimulai.

****

Malam itu, Shepiya tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan mata cokelat dari lukisan di gudang bawah tanah terus menghantuinya. Setiap kali ia memejamkan mata, ia seolah mendengar bisikan lembut yang memanggil namanya, meski ia tahu itu mungkin hanya imajinasinya yang terlalu aktif.

Pagi harinya, Shepiya datang ke perpustakaan lebih awal dari biasanya. Sebelum memulai tugas rutinnya di meja sirkulasi, ia memutuskan untuk mencari informasi di bagian arsip sejarah kota. Jika lukisan itu ada di gudang perpustakaan sejak zaman kolonial, pasti ada catatan tentangnya atau setidaknya tentang pelukisnya.

Ia membuka buku besar berisi daftar inventaris perpustakaan tahun 1920-an. Jari-jarinya menelusuri baris demi baris tulisan tangan yang mulai memudar. Setelah hampir satu jam mencari, ia menemukan sebuah catatan kecil di pinggir halaman yang sudah menguning.

"Sumbangan dari keluarga Van der Laar: Satu buah potret diri sang pelukis, Elian Malik. Tahun 1924."

"Elian Malik..." Shepiya mengeja nama itu pelan. Nama itu terasa akrab di lidahnya, seolah-olah ia pernah mendengarnya dalam mimpi yang jauh.

Rasa penasarannya membawanya kembali ke gudang bawah tanah. Dengan napas yang sedikit memburu, ia membuka pintu berat itu dan melangkah masuk. Keadaan gudang masih sama seperti kemarin, namun aura di sekitar lukisan itu terasa berbeda—lebih hangat dan seolah-olah sedang menanti kehadirannya.

Shepiya mendekati lukisan itu. Debu yang kemarin ia bersihkan seolah tidak berani menempel lagi pada bingkainya. Ia memperhatikan detail wajah Elian lebih saksama. Elian bukan sekadar objek lukisan; ada emosi yang sangat manusiawi tertangkap dalam setiap guratan kuasnya.

"Elian," panggil Shepiya lirih.

Seketika, suhu di dalam gudang turun drastis. Hawa dingin yang aneh menyelimuti bahu Shepiya. Tiba-tiba, ia melihat sebuah buku tua yang terletak di lantai, tepat di bawah lukisan itu. Ia yakin kemarin buku itu tidak ada di sana.

Ia memungut buku itu. Ternyata itu adalah sebuah buku sketsa kecil dengan sampul kulit yang sudah pecah-pecah. Di halaman pertamanya tertulis nama: Elian Malik.

Shepiya membuka halaman demi halaman. Isinya adalah sketsa-sketsa pemandangan kota di masa lalu, sudut-sudut perpustakaan ini, dan beberapa wajah orang yang tidak ia kenali. Namun, di halaman paling belakang, terdapat sketsa seorang gadis yang sangat ia kenal.

Jantung Shepiya berdegup kencang. Sketsa itu adalah wajahnya sendiri.

Bagaimana mungkin seorang pelukis dari tahun 1924 bisa menggambar wajahnya dengan begitu detail? Sketsa itu menunjukkan Shepiya yang sedang membaca buku di bawah lampu meja perpustakaan—posisi favoritnya setiap sore.

"Ini tidak mungkin..." gumam Shepiya gemetar.

Tiba-tiba, terdengar suara gesekan kayu di lantai. Shepiya menoleh ke arah lukisan. Ia terbelalak. Sosok Elian di dalam kanvas itu kini tidak lagi duduk. Ia tampak berdiri, tangannya menempel pada permukaan dalam kaca bingkai, seolah-olah ia sedang terkurung di balik jendela yang tak kasat mata.

Mata Elian menatap Shepiya dengan penuh permohonan. Bibirnya bergerak-gerak, namun tidak ada suara yang keluar. Hanya ada hembusan angin dingin yang membawa aroma cat minyak segar dan wangi bunga melati yang menusuk hidung.

Shepiya merasa takut, namun rasa iba lebih mendominasi hatinya. Ia tidak lari. Sebaliknya, ia memberanikan diri mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari kanvas.

"Apa yang terjadi padamu, Elian?" tanya Shepiya dengan suara bergetar.

Tiba-tiba, tangan Elian yang ada di dalam lukisan itu tampak memudar, lalu perlahan-lahan keluar menembus kanvas. Sebuah tangan transparan, pucat, dan bercahaya redup muncul di udara nyata. Tangan itu perlahan bergerak menuju pipi Shepiya.

Shepiya mematung. Saat jari-jari hantu itu menyentuh kulitnya, ia tidak merasakan sentuhan fisik yang padat, melainkan rasa kesemutan yang dingin seperti es, namun di saat yang sama memberikan rasa nyaman yang aneh.

"Kau kembali..." sebuah suara bergema langsung di dalam kepala Shepiya. Bukan melalui telinga, melainkan seperti pikiran yang menyusup masuk. "Sudah lama sekali aku menunggumu di kegelapan ini."

Air mata menetes di pipi Shepiya. Ia tidak tahu mengapa, tapi ia merasa seolah ia telah mengenal pemuda ini selamanya. Ia merasa seperti menemukan bagian dari dirinya yang hilang selama satu abad.

Namun, momen itu terputus saat suara langkah kaki Pak karso terdengar di tangga. Tangan transparan itu segera tertarik kembali ke dalam kanvas, dan sosok Elian kembali ke posisi duduknya semula, kaku dan diam seperti lukisan biasa.

"Piya? Kamu masih di sini? Sudah waktunya tutup," teriak Pak Karso dari atas.

"I-iya, Pak! Saya segera ke atas!" jawab Shepiya sambil menyembunyikan buku sketsa Elian di balik kemejanya.

Ia menoleh sekali lagi ke arah lukisan sebelum pergi. Elian masih menatapnya, dan kali ini, senyum tipis di bibirnya tampak lebih nyata, seolah-olah ia baru saja mendapatkan harapan hidup setelah seratus tahun mati dalam kesepian.

~~

Malam setelah menemukan buku sketsa itu, Shepiya tidak bisa berhenti memikirkan Elian. Buku sketsa yang ia sembunyikan di bawah bantalnya seolah memancarkan energi yang membuatnya terus terjaga. Ia berulang kali membuka halaman terakhir, menatap goresan pensil yang membentuk wajahnya sendiri. Bagaimana mungkin? Apakah ia memiliki kembaran di masa lalu? Ataukah ini sebuah reinkarnasi?

Keesokan harinya, suasana di perpustakaan terasa berbeda. Suhu udara di ruangan utama yang biasanya hangat kini terasa sejuk, meski pendingin ruangan tidak dinyalakan. Setiap kali Shepiya melewati rak-rak buku, ia merasa seolah ada seseorang yang berjalan di sampingnya, mengikuti langkahnya dengan setia.

Keanehan semakin memuncak saat jam menunjukkan pukul empat sore—saat para pengunjung mulai pulang dan perpustakaan menjadi sepi. Ketika Shepiya sedang menyusun buku di rak sejarah, ia mencium aroma yang sangat spesifik: perpaduan antara cat minyak yang baru dibuka, kayu pinus, dan tembakau mahal. Aroma itu tidak berasal dari buku-buku tua, melainkan seolah-olah mengalir dari udara kosong.

"Elian?" bisiknya pelan, hampir tidak terdengar.

Tiba-tiba, sebuah buku di rak paling atas terjatuh. Buku itu terbuka tepat di depan kakinya. Shepiya memungutnya dan membaca judulnya: Teknik Melukis Cahaya dan Bayangan. Di dalamnya, terselip sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan yang sama dengan di buku sketsa.

"Cahaya tidak hanya berasal dari matahari, tapi juga dari mata seseorang yang kaucintai."

Jantung Shepiya berdegup kencang. Ia merasa ditarik oleh kekuatan tak kasat mata untuk kembali ke gudang bawah tanah. Ia tidak bisa melawan keinginan itu. Dengan langkah cepat, ia menuruni tangga spiral, mengabaikan rasa takut yang sempat muncul sebelumnya.

Begitu pintu gudang dibuka, ia tidak menemukan kegelapan. Sebaliknya, ruangan itu dipenuhi oleh ribuan partikel cahaya kecil yang menari-nari di udara, seperti kunang-kunang yang terbuat dari debu emas. Dan di sana, berdiri di depan lukisannya sendiri, sosok itu nampak lebih jelas.

Elian Malik.

Ia tidak lagi hanya berupa gambar dua dimensi. Sosoknya kini tampak lebih padat, meski tubuhnya masih terlihat sedikit transparan dan bercahaya biru pucat di bagian tepinya. Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung, memperlihatkan noda cat di pergelangan tangannya.

"Kau datang lagi," suara Elian terdengar seperti hembusan angin di antara pepohonan—lembut, namun membawa gema kesedihan yang dalam.

Shepiya terpaku di ambang pintu. "Bagaimana mungkin kau bisa ada di sini? Kau... kau sudah meninggal seratus tahun yang lalu."

Elian tersenyum, sebuah senyuman yang sanggup meruntuhkan pertahanan hati Shepiya. "Waktu adalah konsep yang berbeda bagi mereka yang terjebak dalam penyesalan, Shepiya. Aku tidak benar-benar pergi. Aku tertahan di sini, di dalam karya terakhirku, menunggu seseorang yang bisa 'melihat' melampaui warna."

"Mengapa aku? Mengapa ada gambarku di buku sketsamu?" tanya Shepiya, memberanikan diri mendekat.

Elian menatap Shepiya dengan tatapan yang sangat dalam, seolah ia sedang mencoba menghafal setiap lekuk wajah gadis itu. "Karena kau adalah satu-satunya alasan aku terus bertahan. Seratus tahun yang lalu, aku melukis seorang gadis yang kutemui dalam mimpiku. Gadis itu adalah kamu. Aku menghabiskan sisa hidupku mencari sosok itu, hingga maut menjemputku di perpustakaan ini."

Shepiya merasakan air mata hangat membasahi pipinya. Ia merasa terhubung dengan pria ini dalam cara yang tidak bisa dijelaskan oleh logika. "Apa yang terjadi padamu, Elian? Mengapa kau terjebak?"

Elian berjalan mendekat, gerakannya sangat anggun, seolah ia melayang di atas lantai. Saat ia berdiri tepat di depan Shepiya, aroma cat minyak itu semakin kuat. Elian mengangkat tangannya, seolah ingin menghapus air mata Shepiya, namun tangannya hanya menembus kulit Shepiya seperti kabut dingin.

"Aku dikhianati oleh ambisiku sendiri," Elian berbisik. "Aku membuat perjanjian dengan kegelapan agar bisa menyelesaikan lukisan ini, agar aku bisa terus hidup sampai aku bertemu denganmu. Tapi harganya sangat mahal. Aku tidak bisa pergi ke alam sana, dan aku tidak bisa benar-benar hidup di alammu. Aku hanya bayangan yang terperangkap dalam bingkai kayu ini."

Tiba-tiba, terdengar suara gaduh dari atas. Suara pintu utama yang dibanting. Pak Karso berteriak memanggil nama Shepiya.

"Piya! Kamu di bawah? Ada inspeksi mendadak dari dewan kota!"

Wajah Elian tampak cemas. "Kau harus pergi. Mereka tidak boleh tahu tentang keberadaanku. Jika mereka memindahkan lukisan ini dari tempatnya, aku akan hancur selamanya."

"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi," janji Shepiya dengan tegas.

"Ambil ini," Elian menunjuk ke sebuah kunci kecil yang tergantung di belakang bingkai lukisan. "Kunci itu membuka laci rahasia di meja kerja tua di pojok sana. Di sana ada jawaban atas semua pertanyaanmu."

Sebelum Shepiya bisa menjawab, sosok Elian perlahan memudar, kembali menyatu dengan kanvas lukisannya. Partikel cahaya emas di ruangan itu padam, menyisakan gudang yang kembali gelap dan pengap.

Shepiya dengan cepat mengambil kunci itu dan menyembunyikannya di saku roknya tepat saat Pak Karso muncul di tangga dengan wajah merah padam karena terburu-buru.

"Astaga, Piya! Sedang apa kamu melamun di sini? Ayo ke atas sekarang!"

Shepiya mengangguk, namun matanya tetap tertuju pada lukisan Elian. Ia menyadari satu hal: ia tidak hanya jatuh cinta pada sebuah lukisan. Ia jatuh cinta pada jiwa yang melampaui waktu. Dan ia tahu, mulai saat ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia akan melakukan apa pun untuk membebaskan Elian, meski ia belum tahu apa risikonya.

***

Setelah keributan inspeksi di perpustakaan mereda, Shepiya pulang dengan perasaan berkecamuk. Di saku roknya, kunci kecil pemberian Elian terasa seolah membakar kulitnya. Ia tidak sempat membuka laci rahasia itu karena Pak Karso terus mengawasinya sepanjang sore.

Malam itu, hujan turun dengan deras, menghantam atap kamarnya dengan irama yang monoton. Shepiya berbaring, mencoba memejamkan mata, namun pikirannya terus melayang pada Elian. Tanpa sadar, ia tertidur sambil mendekap buku sketsa tua milik sang pelukis.

Seketika, dunianya berubah.

Shepiya tidak lagi berada di kamarnya yang sempit. Ia berdiri di tengah perpustakaan, namun bukan perpustakaan tempatnya bekerja. Ruangan itu tampak jauh lebih megah, dengan dinding kayu mahoni yang mengkilap, lampu gantung kristal yang berpijar keemasan, dan ribuan buku baru yang belum berdebu.

"Selamat datang di duniaku," sebuah suara lembut menyapa dari belakang.

Shepiya berbalik dan menemukan Elian berdiri di sana. Kali ini, ia tidak transparan. Ia tampak nyata. Shepiya bisa melihat pori-pori kulitnya, helai rambutnya yang sedikit berantakan, dan warna cokelat matanya yang lebih hidup dari biasanya. Ia mengenakan rompi beludru hijau tua di atas kemeja putihnya.

"Apakah aku sedang bermimpi?" tanya Shepiya pelan.

"Ini adalah ruang antara," jawab Elian sambil melangkah mendekat. "Tempat di mana pikiranku dan pikiranmu bertemu. Di sini, aku bisa menjadi manusia lagi, setidaknya untuk sementara."

Elian mengulurkan tangannya. Kali ini, saat Shepiya menyambutnya, ia merasakan sentuhan itu. Telapak tangan Elian hangat dan sedikit kasar, khas tangan seorang pekerja seni. Perasaan hangat menjalar ke seluruh tubuh Shepiya, sebuah sensasi yang membuatnya ingin menangis sekaligus tersenyum.

Mereka berjalan menyusuri lorong buku yang tak berujung. Elian bercerita tentang masa lalunya—tentang bagaimana ia adalah seorang pelukis muda berbakat yang terobsesi menangkap "jiwa" dalam setiap karyanya.

"Aku merasa ada yang kurang dalam hidupku," Elian bercerita, matanya menerawang. "Hingga aku mulai memimpikanmu. Setiap malam selama setahun sebelum aku meninggal, aku melihatmu. Kamu mengenakan pakaian aneh, memegang kotak bercahaya (ponsel), dan membaca buku dengan tekun. Aku jatuh cinta pada bayangan masa depan."

"Tapi Elian, perjanjian apa yang kau maksud di gudang tadi?" tanya Shepiya, mengingatkan pada kata-kata pria itu sebelumnya.

Raut wajah Elian berubah menjadi muram. Ia menghentikan langkahnya di depan sebuah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota tahun 1920-an yang diguyur hujan.

"Aku menderita sakit paru-paru yang parah saat itu. Dokter bilang umurku tak lama lagi. Tapi aku belum menemukanmu, aku belum menyelesaikan lukisan yang akan menjadi 'pintu' bagiku untuk menunggumu. Maka, aku mendatangi seorang kolektor benda antik yang juga seorang pemuja aliran gelap."

Elian menarik napas panjang, seolah menceritakan hal ini memberinya rasa sakit fisik.

"Dia memberiku sebuah ramuan dan mencampurkan abu suci ke dalam cat minyakku. Dia bilang, jiwaku akan terikat pada kanvas itu sampai orang yang kucintai memanggil namaku dan membebaskanku. Tapi dia tidak memberi tahu harganya: aku akan terjebak dalam kesepian abadi jika orang itu tidak pernah datang. Dan jika lukisan itu rusak sedikit saja, jiwaku akan hancur menjadi debu, tanpa bisa menuju keabadian."

Shepiya menggenggam tangan Elian lebih erat. "Aku sudah di sini, Elian. Aku sudah memanggil namamu. Bagaimana cara membebaskanmu?"

Elian menatap Shepiya dengan tatapan pilu. "Kunci yang kau ambil... besok, bukalah laci itu. Di sana ada botol kecil berisi minyak pelarut khusus. Kau harus mengoleskannya pada bagian jantung di lukisanku saat bulan purnama tiba. Tapi ada satu hal yang harus kau tahu, Shepiya..."

Sebelum Elian sempat menyelesaikan kalimatnya, dunia di sekitar mereka mulai retak. Suara alarm jam beker Shepiya terdengar menyakitkan dari kejauhan.

"Waktumu habis, Piya," bisik Elian. Sosoknya mulai memudar menjadi kepulan asap warna-warni. "Ingat, jangan biarkan siapa pun menyentuh lukisan itu!"

"Elian! Tunggu!"

Shepiya tersentak bangun. Napasnya tersengal-sengal. Kamarnya gelap, dan hujan telah reda. Ia segera meraba sakunya. Kunci kuningan itu masih ada di sana. Di tangannya, ia mencium aroma cat minyak yang samar, membuktikan bahwa apa yang dialaminya bukan sekadar bunga tidur.

Ia harus kembali ke perpustakaan. Ia harus membuka laci itu sebelum terlambat. Namun, ia tidak menyadari bahwa di luar sana, Pak Karso baru saja menerima telepon dari seorang kolektor seni yang ingin membeli semua barang "sampah" di gudang bawah tanah besok pagi.

Keesokan harinya!!!!

Pagi itu, atmosfer di perpustakaan terasa mencekam bagi Shepiya. Belum sempat ia menaruh tasnya, ia melihat Pak Karso sedang sibuk mengarahkan dua orang bertubuh besar untuk menyiapkan tandu pengangkut barang.

"Pak, ada apa ini?" tanya Shepiya, berusaha menyembunyikan nada panik dalam suaranya.

Pak Karso menoleh sambil tersenyum lebar. "Kabar baik, Piya! Seorang kolektor dari Jogja tertarik membeli seluruh isi gudang bawah tanah. Ternyata barang-barang rongsokan itu ada harganya. Mereka akan mulai mengangkutnya siang ini."

Jantung Shepiya serasa merosot ke lantai. "Tapi Pak, itu barang sejarah perpustakaan ini. Kita tidak bisa menjualnya begitu saja, terutama... lukisan-lukisan tua di sana."

"Sudahlah, Piya. Perpustakaan butuh biaya renovasi. Atap kita bocor," potong Pak karso tegas. "Kamu bantu mereka menunjukkan jalan ke bawah, ya."

Shepiya tidak punya pilihan. Ia harus bergerak cepat. Saat para pekerja sedang sibuk di bagian depan, Shepiya menyelinap ke gudang bawah tanah. Dengan tangan gemetar, ia merogoh kunci kecil dari sakunya. Ia menghampiri meja kerja tua yang ditunjuk Elian dalam mimpinya.

Meja itu tertutup debu tebal dan jaring laba-laba. Shepiya memasukkan kunci ke lubang kecil yang tersembunyi di balik ukiran kayu berbentuk bunga mawar. Klik. Laci itu terbuka.

Di dalamnya, terdapat sebuah kotak kayu kecil yang berisi sebuah botol kaca mungil dengan cairan berwarna perak bening dan sebuah surat yang sudah sangat rapuh. Shepiya membuka surat itu dengan hati-hati.

14 November 1924,

Jika kau membaca ini, artinya kau adalah cahaya yang kulihat dalam gelap. Penyakit ini menggerogoti paru-paruku, tapi cintaku padamu mengalahkan rasa sakitnya. Mereka menyebutku gila karena mencintai bayangan dari masa depan. Tapi aku tahu kau nyata.

Minyak di dalam botol ini adalah sari pati dari 'Bunga Keabadian'. Hanya ini yang bisa memecah mantra yang mengikatku. Namun, berhati-hatilah. Jika ritual ini dilakukan saat bulan belum mencapai puncaknya, jiwaku akan hilang di antara dimensi, dan kau akan melupakanku selamanya.

— Elian Malik.

Shepiya mencengkeram botol itu erat-erat. Tiba-tiba, ia merasakan kehadiran seseorang. Ia menoleh dan melihat bayangan Elian muncul di sudut ruangan, tampak lebih lemah dan transparan dari sebelumnya.

"Elian..." bisik Shepiya.

"Mereka akan membawaku pergi, Piya," suara Elian terdengar seperti gesekan kertas, sangat parau. "Jika aku keluar dari gedung ini sebelum kau membebaskanku, ikatanku dengan tempat ini akan terputus. Aku akan lenyap."

"Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu," jawab Shepiya dengan tekad baja.

Namun, suara langkah kaki berat terdengar di tangga. Para pekerja itu sudah datang. Shepiya dengan cepat memasukkan botol dan surat itu ke dalam tasnya. Ia berdiri di depan lukisan Elian, merentangkan tangannya seolah ingin melindungi kanvas itu dengan tubuhnya sendiri.

"Maaf, Mbak, kami harus mengambil lukisan ini," kata salah satu pekerja dengan nada dingin.

"Tunggu! Lukisan ini... lukisan ini sangat rapuh. Biar saya yang membungkusnya dulu dengan plastik pelindung. Saya asisten pustakawan di sini, saya tahu prosedur menangani benda seni," bohong Shepiya demi mengulur waktu.

Para pekerja itu saling berpandangan, lalu mengangkat bahu. "Terserah. Tapi cepat ya, Mbak. Truk sudah menunggu di depan."

Setelah mereka pergi untuk mengambil barang lain, Shepiya mendekati lukisan Elian. Ia menempelkan telapak tangannya pada bagian jantung Elian di kanvas itu.

"Tunggu aku, Elian. Malam ini adalah bulan purnama. Aku akan kembali setelah perpustakaan tutup. Aku akan membawamu pulang... ke dunia nyata."

Tiba-tiba, ia merasakan getaran halus dari kanvas itu, seolah-olah Elian sedang menggenggam tangannya dari balik dunia sana. Sebuah air mata jatuh dari sudut mata pemuda di lukisan itu—setitik warna minyak yang tampak seperti air sungguhan.

Sepanjang sisa hari itu, Shepiya bekerja seperti orang kesurupan. Ia merencanakan sebuah aksi nekat. Ia tidak akan membiarkan lukisan itu dibawa pergi. Ia harus menyembunyikannya di dalam perpustakaan, di tempat yang tidak akan terpikirkan oleh Pak karso maupun para kolektor itu.

Masalahnya, bulan purnama baru akan terbit enam jam lagi, dan para pengangkut barang akan selesai bekerja dalam dua jam. Shepiya harus memulai permainan kucing-kucingan yang berbahaya dengan waktu dan takdir.

Waktu seolah berjalan dua kali lebih cepat bagi Shepiya. Para pekerja mulai mengangkut lemari-lemari besar, menyisakan ruang hampa di gudang yang tadinya penuh sesak. Lukisan Elian kini berdiri sendirian di tengah ruangan, bersandar pada pilar beton, tampak seperti seorang pangeran yang dibuang.

"Ayo, yang ini terakhir!" teriak salah satu pekerja sambil menghampiri lukisan tersebut.

Shepiya mematung. Jantungnya berdegup kencang. Ia harus melakukan sesuatu. Tepat saat tangan kasar pekerja itu hendak menyentuh bingkai kayu jati Elian, sebuah fenomena aneh terjadi.

Suhu di dalam gudang mendadak anjlok hingga mencapai titik beku. Lampu neon di langit-langit berderit, lalu meledak satu per satu, menghujani ruangan dengan serpihan kaca. Kegelapan pekat menyergap seketika.

"A-apa yang terjadi?!" teriak pekerja itu ketakutan.

Dalam kegelapan, Shepiya melihat sesuatu yang mustahil. Lukisan Elian memancarkan cahaya biru pucat yang dingin. Cahaya itu membentuk siluet tubuh pria yang keluar dari kanvas, namun kali ini bukan hanya bayangan transparan. Sosok itu tampak memiliki massa. Elian berdiri di depan lukisannya sendiri, matanya bersinar dengan kemarahan yang tenang.

Sebuah hembusan angin kencang yang tidak masuk akal bertiup di dalam ruangan tertutup itu, mendorong para pekerja keluar dari gudang dan membanting pintunya hingga terkunci dari dalam.

"Piya... cepat," bisik Elian. Suaranya kini tidak lagi bergema di kepala Shepiya, melainkan terdengar jelas di udara.

Shepiya segera berlari menghampiri. "Elian, kau melakukannya?"

"Aku menggunakan sisa energinya," napas Elian tampak seperti uap putih di udara dingin. "Tapi ini tidak akan lama. Kau harus menyembunyikanku sekarang."

Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, Shepiya mengangkat lukisan itu. Anehnya, lukisan yang biasanya terasa sangat berat itu kini terasa ringan, seolah-olah Elian sendiri yang membantu mengangkat beban tubuhnya. Shepiya membawa lukisan itu menyelinap melalui pintu belakang gudang yang menuju ke lorong sempit di bawah tangga darurat—sebuah sudut yang bahkan Pak karso pun lupa keberadaannya.

Di sana, di balik tumpukan koran-koran lama dari tahun 50-an, Shepiya menyandarkan Elian.

"Kau aman di sini untuk sementara," ucap Shepiya sambil terengah-engah.

Ia menatap sosok Elian yang masih berdiri di samping lukisan. Kali ini, Elian tidak kembali ke dalam kanvas. Ia tetap berdiri di sana, menatap tangannya sendiri yang mulai tampak padat. Ia mencoba menyentuh tumpukan koran, dan ujung jarinya benar-benar bisa menggeser kertas tersebut.

"Aku... aku bisa merasakan dunia ini," gumam Elian tidak percaya. "Debu ini, hawa lembap ini... semuanya terasa nyata."

Shepiya mendekat, memberanikan diri untuk menyentuh lengan Elian. Kali ini, rasanya bukan lagi seperti es yang menusuk, melainkan seperti kulit manusia yang hangat, meski masih ada sensasi getaran listrik yang halus.

"Elian, kau tampak sangat nyata," bisik Shepiya kagum.

Elian menatap Shepiya dengan kelembutan yang menyakitkan. Tanpa aba-aba, ia menarik Shepiya ke dalam pelukannya. Pelukan itu terasa nyata. Shepiya bisa merasakan detak jantung Elian—lambat namun pasti—dan aroma cat minyak serta bunga melati yang kini menjadi aroma favoritnya.

"Ini hanya sementara, Piya," ucap Elian di telinganya. "Kekuatan dari bulan purnama yang akan datang mulai meresap ke dalam kanvas. Tapi jika ritual itu tidak diselesaikan malam ini, aku akan ditarik kembali ke dalam kegelapan yang lebih dalam dari sebelumnya. Aku tidak akan bisa lagi melihatmu, bahkan sebagai bayangan sekalipun."

Shepiya melepaskan pelukan itu dan menatap mata cokelat Elian. "Aku punya botolnya. Aku punya minyaknya. Aku akan kembali saat bulan tepat di atas kepala."

"Hati-hati, Piya," Elian memperingatkan. "Pemilik baru yang ingin membeli lukisan ini... dia bukan kolektor biasa. Dia tahu tentang perjanjian yang kubuat. Dia tidak menginginkan seniku, dia menginginkan jiwaku untuk dijadikan pelayan abadi di dunianya."

Pernyataan itu membuat Shepiya merinding. Siapa sebenarnya kolektor misterius itu?

Sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, terdengar suara gedoran keras di pintu atas. Pak Karso dan para pekerja mencoba mendobrak masuk.

"Cepat pergi, Piya! Bersikaplah seolah tidak terjadi apa-apa!" perintah Elian sambil perlahan memudar kembali masuk ke dalam bingkainya.

Shepiya merapikan rambut dan pakaiannya, lalu keluar dari lorong rahasia itu dengan jantung yang masih berdebar. Di luar, ia melihat seorang pria berpakaian serba hitam, mengenakan kacamata gelap meski di dalam ruangan, sedang berdiri di samping Pak karso. Pria itu menoleh ke arah Shepiya, dan instingnya mengatakan bahwa pria inilah yang dimaksud Elian.

"Di mana lukisan itu, Nona?" tanya pria itu dengan suara berat yang bergetar seperti gesekan batu.

Shepiya menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberanian. "Saya tidak tahu. Tadi ada ledakan lampu, dan saat saya kembali, lukisannya sudah tidak ada. Mungkin... terbawa oleh kepanikan pekerja tadi?"

Pria berbaju hitam itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Jangan bermain-main denganku, Shepiya. Aku bisa mencium bau cat minyak abad ke-20 di tanganmu."

~~

Pria berbaju hitam itu melangkah mendekat. Namanya adalah Tuan Daniel van berg, seorang kolektor artefak mistis yang telah lama melacak keberadaan "Jiwa yang Terperangkap dalam Kanvas". Tatapannya yang tajam seolah bisa menembus dinding dan menemukan tempat persembunyian Elian.

"Pak Karso, asisten Anda ini tampaknya terlalu menyayangi barang-barang antik," ujar Tuan Daniel tanpa melepaskan pandangannya dari Shepiya.

Pak Karso tampak bingung dan cemas. "Piya, kalau kamu tahu di mana lukisan itu, kembalikan sekarang! Ini masalah profesionalisme!"

"Saya benar-benar tidak tahu, Pak," jawab Shepiya dengan nada suara yang diusahakan tetap tenang, meski tangannya di balik punggung gemetar hebat.

Tuan Daniel tertawa rendah. "Cinta adalah emosi yang merepotkan, Shepiya. Kau mencintai sesuatu yang sudah mati. Kau mencintai bayangan yang seharusnya sudah hancur bersama waktu. Serahkan lukisan itu, atau kau akan ikut terseret ke dalam kegelapan bersamanya."

Sebelum situasi semakin memanas, seorang staf lain berteriak dari lantai atas tentang adanya korsleting listrik di ruang utama. Memanfaatkan kekacauan itu, Shepiya segera berlari menjauh, menyelinap ke arah berlawanan, dan mengunci diri di ruang restorasi buku.

Ia terduduk lemas di balik pintu. Di luar, langit mulai berubah warna menjadi ungu tua. Bulan purnama mulai menampakkan dirinya di ufuk timur, besar dan bercahaya perak pucat.

"Hanya beberapa jam lagi," bisiknya pada diri sendiri.

Ia mengeluarkan botol berisi minyak perak dari tasnya. Di saat yang sama, ia merasa suhu ruangan menghangat. Sosok Elian muncul di sudut ruangan, kali ini tampak lebih padat dari sebelumnya. Namun, ada yang aneh. Sebagian tangan kanan Elian tampak retak, seperti porselen yang pecah, memperlihatkan kekosongan di dalamnya.

"Elian! Tanganmu!" Shepiya mendekat ke arahnya, mencoba menyentuh luka itu.

"Waktuku hampir habis, Piya," ucap Elian dengan suara yang kian melemah. "Tuan Daniel... dia mulai merusak segel luar lukisanku dari jarak jauh. Dia ingin memaksaku keluar dalam keadaan hancur agar dia bisa mengikatku kembali."

"Aku akan melakukan ritualnya sekarang!" kata Shepiya panik.

"Belum bisa, Piya. Bulan harus tepat berada di titik tertinggi. Jika kau melakukannya sekarang, jiwaku akan terbelah," Elian membelai rambut Shepiya dengan tangan kirinya yang masih utuh. "Duduklah di sini bersamaku. Mari kita bicarakan hal-hal yang tidak sempat kita bicarakan selama seratus tahun ini."

Di tengah ancaman Tuan Daniel yang mencari mereka di setiap sudut perpustakaan, mereka justru menemukan momen ketenangan yang mustahil. Mereka duduk berdampingan di lantai ruang restorasi yang sempit. Elian menceritakan bagaimana ia dulu suka melihat bintang dari jendela perpustakaan yang sama ini, dan bagaimana ia membayangkan suatu hari akan ada seorang gadis yang menemukannya.

"Kau tahu, Shepiya," ujar Elian lembut. "Di duniaku dulu, melukis adalah caraku bernapas. Tapi setelah melihatmu dalam mimpiku, aku menyadari bahwa aku tidak ingin melukis lagi. Aku hanya ingin hidup untuk melihatmu bernapas."

Shepiya menyandarkan kepalanya di bahu Elian. Rasanya sangat nyata. "Kenapa semesta begitu kejam? Kenapa kita dipertemukan di waktu yang salah?"

"Mungkin tidak salah," bisik Elian. "Mungkin seratus tahun hanyalah waktu tunggu yang diperlukan agar jiwaku cukup kuat untuk mencintaimu di masa ini."

Tiba-tiba, pintu ruangan itu bergetar hebat. Suara hantaman keras terdengar. Tuan Daniel telah menemukan mereka.

"Shepiya! Buka pintunya!" teriak Pak Karso dari luar, suaranya terdengar seperti di bawah pengaruh hipnotis.

"Jangan buka pintunya, Piya," Elian berdiri, mencoba menahan pintu dengan kekuatannya yang tersisa. "Bersiaplah dengan minyak itu. Begitu cahaya bulan menyentuh kanvas, kau harus mengoleskannya di atas jantungku. Jangan ragu. Jangan menoleh ke belakang."

"Lalu apa yang akan terjadi padamu? Kau akan menjadi manusia?" tanya Shepiya penuh harap.

Elian tidak menjawab. Ia hanya memberikan senyum paling indah yang pernah Shepiya lihat—senyum yang menyembunyikan sebuah rahasia besar tentang harga dari sebuah pembebasan jiwa.

Tepat saat itu, pintu ruangan jebol. Tuan Daniel berdiri di sana dengan sebuah tongkat hitam di tangannya, siap untuk merenggut paksa apa yang menurutnya adalah miliknya. Cahaya bulan purnama mulai merayap masuk melalui jendela tinggi, jatuh tepat di atas permukaan lukisan yang dibawa Shepiya.

Inilah saatnya. Cinta mereka akan diuji oleh batas antara hidup, mati, dan keabadian.

****

Ruangan restorasi itu mendadak menjadi medan tempur antara dua dimensi. Tuan Daniel melangkah masuk dengan aura kegelapan yang pekat, membuat lampu-lampu di ruangan itu meredup hingga menyisakan hanya cahaya perak dari bulan purnama yang menembus jendela.

"Gadis bodoh," desis Tuan Daniel. "Kau pikir minyak murahan itu bisa memutus kontrak yang ditulis dengan darah dan ambisi? Elian Malik adalah mahakarya yang tidak boleh bebas. Dia adalah puncak dari penderitaan yang indah."

Tuan Daniel mengangkat tongkat hitamnya. Seketika, getaran hebat mengguncang lantai. Shepiya berusaha memeluk bingkai lukisan Elian yang ia sandarkan di meja restorasi. Namun, pemandangan mengerikan terjadi di depan matanya.

Permukaan kanvas itu mulai retak. Bukan retak karena usia, melainkan retakan yang merambat seperti kilat, bermula dari sudut-sudut bingkai menuju ke tengah—tepat ke arah sosok Elian yang sedang dilukis.

Di dunia nyata, Elian yang berdiri di samping Shepiya mengerang kesakitan. Ia jatuh berlutut, memegangi dadanya. Setiap retakan yang muncul di kanvas seolah-olah adalah luka sayatan nyata di tubuh rohnya.

"Elian! Tidak!" teriak Shepiya.

"Lakukan... sekarang, Piya!" suara Elian terputus-putus, nyaris seperti bisikan debu. "Cahaya bulan... sudah tepat..."

Shepiya melihat ke arah jendela. Sinar bulan purnama jatuh lurus, membentuk garis perak yang menyentuh permukaan lukisan. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia membuka botol kecil berisi minyak perak bening itu. Aroma bunga abadi yang sangat kuat memenuhi ruangan, melawan bau busuk yang dibawa oleh Tuan Daniel.

"Berhenti!" Tuan Daniel mengayunkan tongkatnya, mengirimkan gelombang energi gelap yang menjatuhkan rak-rak buku di sekitar Shepiya.

Namun, sesuatu yang ajaib terjadi. Sebelum energi itu mengenai Shepiya, bayangan transparan dari buku-buku lama di perpustakaan itu seolah bangkit. Ribuan lembar kertas terbang berputar, membentuk perisai di sekeliling Shepiya dan Elian. Sepertinya, perpustakaan itu sendiri—tempat Elian menghabiskan masa-masa terakhirnya—memilih untuk melindungi sang pelukis.

"Sekarang, Piya!" Elian berteriak dengan sisa kekuatannya.

Shepiya menumpahkan minyak perak itu ke telapak tangannya. Cairan itu terasa hangat dan bercahaya. Dengan penuh cinta dan keberanian, ia menempelkan tangannya ke permukaan kanvas, tepat di bagian jantung Elian yang dilukis.

“Dengan namamu, Elian Malik, aku memanggilmu pulang!” seru Shepiya.

Saat telapak tangannya menyentuh kanvas, terjadi ledakan cahaya yang membutakan. Shepiya merasakan sensasi seolah tangannya ditarik masuk ke dalam pusaran air yang dingin. Ia bisa merasakan detak jantung yang sangat cepat di bawah telapak tangannya—detak jantung dari seseorang yang sudah lama berhenti bernapas.

Namun, Tuan Daniel tidak menyerah. Ia merogoh sebuah pisau kecil kuno dan melemparkannya ke arah kanvas. Pisau itu menancap di sudut atas lukisan, merobek kain kanvas tersebut.

"TIDAK!"

Elian berteriak sangat keras hingga kaca jendela pecah berantakan. Tubuh rohnya mulai berpendar tidak stabil. Retakan di kanvas semakin lebar, dan cairan hitam mulai merembes keluar dari robekan yang dibuat oleh Tuan Daniel, mencoba menelan minyak perak milik Shepiya.

"Lukisannya rusak..." Shepiya terisak, terus menekan tangannya ke jantung Elian meski tangannya mulai terasa perih terbakar. "Aku tidak akan melepaskanmu, Elian! Aku tidak peduli jika aku harus ikut bersamamu!"

"Piya, dengarkan aku," Elian meraih wajah Shepiya dengan tangannya yang sudah mulai hancur menjadi serpihan cahaya. "Kanvas ini hanyalah penjara. Jika dia hancur, aku akan bebas, tapi aku tidak akan punya tempat untuk kembali ke duniamu. Aku akan menjadi angin, aku akan menjadi debu..."

"Tidak! Pasti ada cara lain!"

"Hanya ada satu cara agar aku tetap nyata," Elian menatap mata Shepiya dengan dalam, air mata cahaya mengalir di pipinya. "Kau harus memberikan 'warna' terakhirmu padaku. Kau harus bersedia membagi takdirmu."

Di luar ruangan, suara Pak Karso dan orang-orang yang mencoba mendobrak pintu terdengar semakin jauh, seolah-olah Shepiya dan Elian kini berada di sebuah ruang waktu yang terisolasi. Pilihan ada di tangan Shepiya: membiarkan Elian hancur menjadi ketiadaan, atau melakukan pengorbanan yang akan mengikat jiwa mereka selamanya dengan resiko yang tak terbayangkan.

~

Cahaya perak dari botol minyak itu kini bertarung sengit dengan cairan hitam yang merembes dari robekan pisau Tuan Daniel. Ruangan itu bergetar hebat seolah-olah seluruh gedung perpustakaan akan runtuh.

"Berikan 'warnamu' padaku, Shepiya!" suara Elian terdengar seperti guntur yang memecah keheningan. "Bagi napasmu, bagi detak jantungmu, atau aku akan hilang selamanya!"

Shepiya tidak ragu. Ia memahami apa yang dimaksud Elian. Untuk menarik jiwa yang sudah mati selama seabad kembali ke dunia nyata, dibutuhkan sebuah jangkar hidup. Seseorang harus bersedia memberikan sebagian dari energi kehidupannya untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh maut.

"Ambil apa pun yang kau butuhkan, Elian!" seru Shepiya. Ia memejamkan mata dan menekan dahinya ke dahi Elian yang transparan. "Aku milikmu, sebagaimana kau adalah takdirku."

Seketika, Shepiya merasakan sensasi yang luar biasa. Ia merasa seolah-olah seluruh kenangan hidupnya—rasa hangat matahari pagi, aroma hujan, suara tawa ibunya, hingga rasa sakit saat ia terjatuh—semuanya ditarik keluar dari tubuhnya dan mengalir melalui lengannya menuju kanvas.

Tubuh Shepiya mendadak terasa sangat lemah. Kakinya lunglai, namun ia menolak untuk jatuh. Di sisi lain, sosok Elian mulai berubah. Serpihan cahaya yang tadinya berhamburan mulai menyatu kembali. Retakan pada tubuh rohnya menutup. Kulitnya yang pucat dan biru mulai mendapatkan warna kulit manusia yang sehat.

"Hentikan! Kau akan mati, Gadis Bodoh!" Tuan Daniel mencoba menerjang maju, namun perisai kertas dari buku-buku lama itu semakin menguat. Kertas-kertas itu menajam seperti silet, menghalangi langkah sang kolektor gelap.

Tuan Daniel yang murka mencoba menggunakan mantra terakhirnya. Ia mengarahkan tongkatnya bukan ke arah Shepiya, melainkan ke arah lampu gantung kristal di atas mereka. Brak! Lampu itu jatuh menghujam tepat ke arah lukisan.

Namun, sebelum kristal itu menghancurkan kanvas, sebuah tangan yang sangat padat dan nyata menangkap kerangka lampu tersebut di udara.

Shepiya membuka matanya. Ia terengah-engah, tubuhnya sangat lemas hingga ia terduduk di lantai. Namun, di depannya, berdiri seorang pria. Bukan lagi bayangan, bukan lagi lukisan.

Elian Malik berdiri tegak. Ia mencengkeram lampu gantung itu dengan satu tangan, lalu melemparnya ke arah Tuan Daniel. Pria berbaju hitam itu terlempar ke dinding, pingsan seketika saat energi gelap dari tongkatnya berbalik menyerang tuannya sendiri karena kontrak yang putus.

Elian berbalik arah. Ia menatap tangannya, lalu meraba wajahnya sendiri. Ia bernapas. Dadanya naik-turun dengan nyata. Ia kemudian menatap lukisan di atas meja. Kanvas itu kini kosong. Hanya menyisakan latar belakang perpustakaan tua tanpa ada sosok pemuda di dalamnya. Elian telah sepenuhnya pindah ke dunia nyata.

"Piya..." Elian Berlari ke arah Shepiya.

Ia mengangkat tubuh Shepiya yang sudah sangat pucat. Shepiya merasa seolah-olah ia baru saja berlari maraton selama berhari-hari. Kesadarannya mulai memudar.

"Kau... kau nyata?" bisik Shepiya lemah. Ia menyentuh pipi Elian. Rasanya hangat. Ada keringat di sana. Ada kehidupan.

"Aku nyata karena kau, Piya. Tapi kau memberikan terlalu banyak," Elian menangis. Air matanya kini adalah air mata manusia yang membasahi kemeja Shepiya. "Kenapa kau lakukan ini? Kau bisa mati."

"Karena... perpustakaan ini sepi tanpamu," Shepiya tersenyum kecil sebelum matanya tertutup rapat.

Suhu ruangan kembali normal. Cahaya bulan purnama perlahan meredup seiring datangnya fajar di cakrawala. Pak Karso dan beberapa petugas keamanan berhasil mendobrak pintu. Mereka ternganga melihat ruangan yang berantakan, Tuan Daniel yang tak sadarkan diri, dan seorang pemuda asing dengan pakaian zaman dulu yang sedang mendekap asisten pustakawan mereka sambil terisak.

"Siapa kamu?!" teriak Pak karso bingung.

Elian mendongak. Matanya yang cokelat gelap memancarkan otoritas dan kesedihan yang membuat semua orang terdiam. "Namaku Elian Malik. Dan aku sedang membawa pulang jiwaku."

Elian berdiri sambil menggendong Shepiya. Anehnya, tak ada satu pun orang di sana yang berani menghentikannya saat ia melangkah keluar dari perpustakaan yang telah menjadi penjaranya selama seratus tahun. Ia berjalan menuju cahaya matahari pagi yang mulai muncul, membawa gadis yang telah memberinya hidup baru, meski ia sendiri tidak tahu apakah Shepiya akan terbangun kembali untuk melihat dunia yang telah mereka menangkan bersama.

'''Tiga bulan telah berlalu sejak malam yang menghancurkan sekaligus menghidupkan itu di Perpustakaan Langit.

Shepiya terbangun di sebuah ruangan serba putih yang dipenuhi aroma bunga lili segar. Ia sempat koma selama dua minggu setelah kejadian di ruang restorasi. Dokter mengatakan ia mengalami kelelahan ekstrem dan anemia akut yang tidak bisa dijelaskan secara medis—seolah-olah seluruh energinya habis terkuras dalam satu malam. Namun, bagi Shepiya, ia tahu persis ke mana perginya energi itu.

Kini, Shepiya duduk di kursi taman belakang perpustakaan yang telah direnovasi. Pak Karso tidak pernah menanyakan secara detail siapa pemuda yang menggendongnya keluar pagi itu, namun ia membiarkan pemuda itu tetap berada di sisi Shepiya selama masa pemulihan. Tuan Daniel sendiri menghilang tanpa jejak setelah tersadar di rumah sakit; beberapa orang bilang ia menjadi gila dan terus menggumamkan tentang "lukisan yang hidup".

"Kau melamun lagi?" suara yang lembut itu membuyarkan lamunan Shepiya.

Shepiya menoleh dan tersenyum. Elian berdiri di sana, mengenakan pakaian modern—kaos hitam sederhana dan celana jeans—namun tetap terlihat seperti bangsawan dari masa lalu. Rambutnya yang dulu berantakan kini tertata rapi. Di tangannya, ia membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat.

"Aku hanya memikirkan... bagaimana dunia ini terlihat di matamu sekarang," jawab Shepiya sambil menerima tehnya.

Elian duduk di sampingnya, meniup tehnya dengan pelan. "Dunia ini sangat bising, Piya. Terlalu cepat. Terlalu banyak cahaya yang bukan berasal dari lilin atau matahari. Tapi..." ia menatap Shepiya dengan tatapan yang sama seperti di dalam lukisan dulu, "...dunia ini memiliki sesuatu yang tidak dimiliki duniaku di masa lalu."

"Apa itu?"

"Kehadiranmu yang nyata. Bisa menyentuh tanganmu tanpa merasa kedinginan, itu adalah keajaiban terbesar bagiku."

Elian telah beradaptasi dengan luar biasa. Dengan bantuan identitas lama yang ditemukan dalam arsip rahasia keluarga Van der Laar yang ternyata masih memiliki kerabat jauh, Elian berhasil mendapatkan pengakuan legal sebagai "keturunan" yang hilang. Kini, ia bekerja sebagai ahli restorasi seni di perpustakaan tersebut. Bakat melukisnya yang luar biasa membuatnya segera menjadi pembicaraan di dunia seni kota.

Namun, Elian tidak pernah lagi melukis wajah orang lain. Ruang kerjanya di lantai atas perpustakaan penuh dengan kanvas-kanvas baru, dan semuanya berisi satu objek yang sama: Shepiya. Shepiya yang sedang tertawa, Shepiya yang sedang membaca, bahkan Shepiya yang sedang tidur.

"Ayo, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," ajak Elian sambil menarik tangan Shepiya dengan lembut.

Mereka berjalan menuju ruang galeri baru di perpustakaan. Di dinding utama, tempat yang dulu menjadi gudang bawah tanah yang gelap, kini tergantung sebuah bingkai emas yang sangat besar.

Shepiya terpaku. Itu adalah lukisan baru karya Elian.

Dalam lukisan itu, tidak ada lagi sosok pemuda yang kesepian. Sebaliknya, lukisan itu menggambarkan pemandangan taman perpustakaan yang indah, di mana dua orang—seorang pria dan seorang wanita—berjalan berdampingan menuju cahaya matahari terbenam. Sosok pria dan wanita itu digambar dengan sangat detail, namun wajah mereka tidak terlihat sepenuhnya, seolah-olah Elian ingin mengatakan bahwa siapa pun bisa menemukan cinta sejati mereka jika mereka percaya pada keajaiban.

Di pojok bawah lukisan itu, tertulis sebuah kalimat dalam tinta emas:

"Cinta tidak membutuhkan kanvas untuk menjadi abadi. Ia hanya membutuhkan satu detik keberanian untuk melompati waktu."

"Aku ingin memberikan ini untukmu," bisik Elian di telinga Shepiya. "Dulu kau membebaskanku dari kanvas. Sekarang, biarkan aku mengabadikan kita di dalam hati, bukan lagi di dalam penjara kayu."

Shepiya menyandarkan kepalanya di bahu Elian. Ia merasa lengkap. Meskipun ia telah kehilangan sebagian dari "warna" hidupnya dalam ritual itu, Elian telah mengembalikannya dengan ribuan warna baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Mereka berdiri di sana, menatap mahakarya itu saat matahari mulai tenggelam, mengirimkan cahaya jingga yang hangat ke seluruh ruangan. Di luar, angin berhembus pelan, membawa aroma cat minyak dan melati yang kini tidak lagi terasa mistis, melainkan terasa seperti rumah.

Kisah tentang hantu pemuda di gudang perpustakaan kini telah menjadi legenda urban bagi para pengunjung baru. Namun bagi Shepiya dan Elian, itu bukanlah sebuah legenda. Itu adalah takdir yang berhasil mereka rebut kembali dari tangan waktu. Mereka tidak lagi hidup dalam bayangan masa lalu, melainkan menciptakan masa depan dalam setiap sapuan kuas kehidupan yang mereka jalani bersama.

             **TAMAT**

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Sisa Duit Terakhir
Anisa Hasan
Komik
Bronze
I Love You, Nirmala
fitriana sabicer
Flash
Tawa
Vivianhervian
Flash
Detik Kenangan !
muhamad fahmi fadillah
Cerpen
Bronze
LAGU YANG TAK JADI SELESAI
glowedy
Cerpen
Goresan Takdir Di Kanvas Usang (Part 1)
lilla safira alhasanah
Novel
Gold
Sweet Misfortune
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Menolak Move on
Nona Adilau
Cerpen
Bronze
PUTRI
Iman Siputra
Novel
Moments
Rizki Yuniarsih
Novel
Cherry Blossom Bridge
Yessi Rahma
Cerpen
Bronze
Lelaki Usil itu Berinisial R
Aizawa
Komik
TENTANG CINTA
Voni lilia
Novel
Bronze
Me and this Pandemic
Eunike Mariyani
Flash
Gerbong Nomor Tiga
Pikadita
Rekomendasi
Cerpen
Goresan Takdir Di Kanvas Usang (Part 1)
lilla safira alhasanah
Flash
Warna pipimu Saat itu
lilla safira alhasanah
Cerpen
Bronze
Remedi Matematika Bonus Cinta
lilla safira alhasanah
Cerpen
Bronze
KAMU, AKU DAN KENANGAN
lilla safira alhasanah
Cerpen
Bronze
BAarista Cantik Pujaan hati
lilla safira alhasanah
Cerpen
Facial Pengikat Jiwa
lilla safira alhasanah