Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Bronze
Goresan Kuas Bermakna
0
Suka
6,198
Dibaca

Bab 1: Undangan Tak Bersuara

Udara sore di Makassar pada Juni 2025 terasa lembap, seperti pelukan basah dari laut. Aroma garam dan amis ikan dari Pelabuhan Soekarno Hatta kadang terbawa angin hingga ke jendela kantor Divisi Investigasi Kriminal Khusus. Leonard Prasetyo, kurator sekaligus penyidik senior yang menaungi kasus-kasus khusus di divisi ini, menghela napas panjang. Ia menatap tumpukan katalog seni dan berkas kasus yang menggunung di meja kerjanya, sebuah representasi sempurna dari dua dunia yang ia geluti. Jemarinya yang ramping, yang lebih sering memegang kuas atau membalik halaman naskah kuno, kini menyusuri sebuah amplop usang. Amplop itu tanpa perangko, hanya tertera namanya dalam tulisan tangan elegan yang ia kenali dengan baik: Sutanto Adi.

Sutanto Adi. Nama itu, bagi Leonard, lebih dari sekadar pelukis legendaris. Ia adalah seorang maestro ekspresionisme yang karya-karyanya pernah mengguncang dunia seni internasional, namun kini memilih hidup dalam kebisuan dan isolasi total. Kehidupan Sutanto Adi seperti menghilang dari peredaran setelah tragedi kebakaran empat tahun silam. Kebakaran kecil, begitu laporan polisi saat itu, tapi cukup untuk melahap sebagian besar koleksi karya awal Sutanto dan, yang lebih fatal, merenggut kemampuannya untuk berbicara. Sejak peristiwa itu, galeri pribadinya di pinggiran kota Makassar, yang dulu menjadi magnet bagi para pecinta seni dan pusat diskusi intelektual, terkunci rapat. Tempat itu kini diselimuti mitos, bisikan spekulasi, dan cerita-cerita seram yang beredar di kalangan seniman lokal.

Leonard membalik amplop itu, menemukan sebuah kartu undangan minimalis berwarna hitam pekat. Tidak ada tanggal, tidak ada waktu, hanya alamat galeri dan sebuah siluet kuas yang patah. Sebuah undangan personal, tanpa embel-embel formalitas. Ini nyaris seperti bisikan dari masa lalu, dari seseorang yang telah memutuskan hubungan dengan dunia luar. Ada sesuatu yang janggal, sebuah anomali yang membangkitkan naluri penyidiknya. Namun, di saat yang sama, ia merasakan sebuah panggilan aneh dalam dirinya untuk datang. Perasaan itu serupa sensasi saat ia menatap sebuah lukisan abstrak yang seolah menyimpan rahasia di baliknya, sebuah narasi yang tak terucap namun hadir kuat. Itu adalah intuisi yang telah membimbingnya selama bertahun-tahun, baik dalam mengkurasi sebuah pameran seni yang sukses maupun dalam memecahkan sebuah kasus kriminal yang rumit.

Dalam karirnya, Leonard telah melihat bagaimana seni dan kriminalitas seringkali berjalan beriringan. Ia pernah mengungkap kasus penyelundupan artefak kuno yang disamarkan sebagai instalasi seni modern, atau membongkar jaringan pemalsu lukisan yang beroperasi di balik kedok galeri ternama. Ia telah menyaksikan bagaimana sebuah patung bisa menyembunyikan sidik jari pembunuh, atau sebuah kanvas yang dilukis dengan darah. Maka, undangan dari Sutanto Adi ini, dari seorang seniman yang kini tak bersuara, terasa seperti sebuah teka-teki yang sengaja diletakkan di hadapannya. Sebuah teka-teki yang hanya bisa dipecahkan oleh seseorang yang memahami baik bahasa kejahatan maupun bahasa seni.

Malam itu, di apartemennya yang minimalis, pikiran Leonard tak bisa tenang. Buku-buku seni dan berkas kasus berserakan di meja kopi. Dalam tidurnya, fragmen-fragmen lukisan abstrak yang ia ingat dari katalog lama Sutanto Adi menari-nari di benaknya. Guratan tebal yang seolah berteriak, warna-warna gelap yang menghisap, dan figur-figur manusia tanpa wajah yang selalu meninggalkan kesan gelisah dan mencekam. Ia terbangun dengan peluh dingin membasahi keningnya, merasa ada benang merah tipis yang menghubungkan undangan itu dengan sebuah kejadian yang lebih besar, sesuatu yang belum terungkap sepenuhnya. Kebakaran empat tahun lalu… dan kasus pembunuhan berantai yang tak pernah tuntas di sekitar waktu yang sama.

Kasus pembunuhan itu adalah noda hitam dalam catatan kepolisian Makassar. Sebuah misteri yang membayangi karir beberapa rekannya di divisi ini. Tiga korban ditemukan tewas dengan cara yang nyaris serupa—dicekik, kemudian tubuh mereka diletakkan dalam posisi ritualistik yang aneh, seolah dipersembahkan untuk sebuah upacara gelap. Tidak ada saksi yang melihat, tidak ada bukti forensik yang kuat,...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp14.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Bronze
Goresan Kuas Bermakna
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
A Little Bird
Lirin Kartini
Flash
REMEMBER ME
Ocha
Cerpen
Bronze
WIRATAMA'S CURST
carine
Novel
Alif Lam Mim
Zainur Rifky
Flash
Lindur: The Shadow
Silvia
Novel
Rumah Bertuah
Serenarara
Novel
Enigma
Indra Cyntia
Novel
Veteran
Adlet Almazov
Skrip Film
Berburu Ropen
Vitri Dwi Mantik
Novel
I Am The Justice
Erika Angelina
Flash
Tak Sengaja Lewat Depan Rumahmu
Oktabri
Novel
The Winter's Hunter
Wuri
Cerpen
Undressed
raras
Flash
Hukuman
Dwi Kurnialis
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Goresan Kuas Bermakna
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Arga
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Imajiner Yang Nyata
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pusaka Naga Hitam
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Mereka Ingin Menyakitiku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Panggilan 000
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Arah Kompas
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Losmen Berdarah
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku Atau Dia
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Raina
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayangan Di Balik Kaca
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Retak
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Nada Berdarah
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Boneka Bobo
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aroma Kopi Di Bangunan Tua
Christian Shonda Benyamin