Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Bronze
Goresan Kuas Bermakna
0
Suka
7,464
Dibaca

Bab 1: Undangan Tak Bersuara

Udara sore di Makassar pada Juni 2025 terasa lembap, seperti pelukan basah dari laut. Aroma garam dan amis ikan dari Pelabuhan Soekarno Hatta kadang terbawa angin hingga ke jendela kantor Divisi Investigasi Kriminal Khusus. Leonard Prasetyo, kurator sekaligus penyidik senior yang menaungi kasus-kasus khusus di divisi ini, menghela napas panjang. Ia menatap tumpukan katalog seni dan berkas kasus yang menggunung di meja kerjanya, sebuah representasi sempurna dari dua dunia yang ia geluti. Jemarinya yang ramping, yang lebih sering memegang kuas atau membalik halaman naskah kuno, kini menyusuri sebuah amplop usang. Amplop itu tanpa perangko, hanya tertera namanya dalam tulisan tangan elegan yang ia kenali dengan baik: Sutanto Adi.

Sutanto Adi. Nama itu, bagi Leonard, lebih dari sekadar pelukis legendaris. Ia adalah seorang maestro ekspresionisme yang karya-karyanya pernah mengguncang dunia seni internasional, namun kini memilih hidup dalam kebisuan dan isolasi total. Kehidupan Sutanto Adi seperti menghilang dari peredaran setelah tragedi kebakaran empat tahun silam. Kebakaran kecil, begitu laporan polisi saat itu, tapi cukup untuk melahap sebagian besar koleksi karya awal Sutanto dan, yang lebih fatal, merenggut kemampuannya untuk berbicara. Sejak peristiwa itu, galeri pribadinya di pinggiran kota Makassar, yang dulu menjadi magnet bagi para pecinta seni dan pusat diskusi intelektual, terkunci rapat. Tempat itu kini diselimuti mitos, bisikan spekulasi, dan cerita-cerita seram yang beredar di kalangan seniman lokal.

Leonard membalik amplop itu, menemukan sebuah kartu undangan minimalis berwarna hitam pekat. Tidak ada tanggal, tidak ada waktu, hanya alamat galeri dan sebuah siluet kuas yang patah. Sebuah undangan personal, tanpa embel-embel formalitas. Ini nyaris seperti bisikan dari masa lalu, dari seseorang yang telah memutuskan hubungan dengan dunia luar. Ada sesuatu yang janggal, sebuah anomali yang membangkitkan naluri penyidiknya. Namun, di saat yang sama, ia merasakan sebuah panggilan aneh dalam dirinya untuk datang. Perasaan itu serupa sensasi saat ia menatap sebuah lukisan abstrak yang seolah menyimpan rahasia di baliknya, sebuah narasi yang tak terucap namun hadir kuat. Itu adalah intuisi yang telah membimbingnya selama bertahun-tahun, baik dalam mengkurasi sebuah pameran seni yang sukses maupun dalam memecahkan sebuah kasus kriminal yang rumit.

Dalam karirnya, Leonard telah melihat bagaimana seni dan kriminalitas seringkali berjalan beriringan. Ia pernah mengungkap kasus penyelundupan artefak kuno yang disamarkan sebagai instalasi seni modern, atau membongkar jaringan pemalsu lukisan yang beroperasi di balik kedok galeri ternama. Ia telah menyaksikan bagaimana sebuah patung bisa menyembunyikan sidik jari pembunuh, atau sebuah kanvas yang dilukis dengan darah. Maka, undangan dari Sutanto Adi ini, dari seorang seniman yang kini tak bersuara, terasa seperti sebuah teka-teki yang sengaja diletakkan di hadapannya. Sebuah teka-teki yang hanya bisa dipecahkan oleh seseorang yang memahami baik bahasa kejahatan maupun bahasa seni.

Malam itu, di apartemennya yang minimalis, pikiran Leonard tak bisa tenang. Buku-buku seni dan berkas kasus berserakan di meja kopi. Dalam tidurnya, fragmen-fragmen lukisan abstrak yang ia ingat dari katalog lama Sutanto Adi menari-nari di benaknya. Guratan tebal yang seolah berteriak, warna-warna gelap yang menghisap, dan figur-figur manusia tanpa wajah yang selalu meninggalkan kesan gelisah dan mencekam. Ia terbangun dengan peluh dingin membasahi keningnya, merasa ada benang merah tipis yang menghubungkan undangan itu dengan sebuah kejadian yang lebih besar, sesuatu yang belum terungkap sepenuhnya. Kebakaran empat tahun lalu… dan kasus pembunuhan berantai yang tak pernah tuntas di sekitar waktu yang sama.

Kasus pembunuhan itu adalah noda hitam dalam catatan kepolisian Makassar. Sebuah misteri yang membayangi karir beberapa rekannya di divisi ini. Tiga korban ditemukan tewas dengan cara yang nyaris serupa—dicekik, kemudian tubuh mereka diletakkan dalam posisi ritualistik yang aneh, seolah dipersembahkan untuk sebuah upacara gelap. Tidak ada saksi yang melihat, tidak ada bukti forensik yang kuat,...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp14.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Bronze
Goresan Kuas Bermakna
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Hujan Merah Di Bukit Sadu
Drs. Eriyadi Budiman (sesuai KTP)
Cerpen
Bronze
Bintang-Bintang Jatuh di Pangkuan
Sri Wintala Achmad
Cerpen
Bronze
Old Women Who Living in the Trailer Alone
Hendra Wiguna
Cerpen
Bronze
Saling Mengisahkan
Rafi Asamar Ahmad
Cerpen
Bronze
MARWAH MENARI DI ATAS BUNGA-BUNGA
Drs. Eriyadi Budiman (sesuai KTP)
Flash
Kurenggut Hidupnya
Via S Kim
Cerpen
Identitas Kedua Sang Master
Syafira Muna
Novel
Bronze
Halaman Sembilan
verlit ivana
Cerpen
SKETSA BAPAK
Kagura Lian
Skrip Film
misteri di apartemen
susi purwaningsih
Cerpen
Bronze
NOKTRA
glowedy
Novel
I Am The Justice
Erika Angelina
Cerpen
Modifikasi Takdir
awod
Novel
Gold
Suster Misterius
Mizan Publishing
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Goresan Kuas Bermakna
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Email Maut
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Nada Berdarah
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Panti Jompo Harum Melati
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Sahabat Backpacker Ku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Suara Penyiar Radio
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kutukan Merapi Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku Bersama Mereka
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kutukan Ranjang Antik
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Guru BU Ratmi
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kutukan Polaroid
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Simfoni Terlarang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Hutan Larangan
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kutukan
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Imajiner Yang Nyata
Christian Shonda Benyamin