Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Good Things Fall Apart
2
Suka
31
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Orang-orang selalu bertanya apa yang salah. Itu pertanyaan pertama yang keluar dari mulut siapa pun ketika mendengar kabar bahwa aku dan Baskoro berpisah setelah sebelas tahun menikah—"Ada apa? Dia selingkuh? Kalian sering bertengkar? KDRT?"

Aku selalu menjawab dengan kalimat yang sama, meski aku tahu jawabannya tidak pernah memuaskan siapa pun: "Tidak ada yang salah. Kami hanya berhenti menuju arah yang sama."

Kebanyakan orang tidak percaya jawaban itu. Mereka pikir aku menutupi sesuatu, atau terlalu sopan untuk mengungkap kebenaran yang lebih kelam. Tapi ini benar-benar yang terjadi—dan justru karena tidak ada yang benar-benar salah, semuanya jadi terasa jauh lebih sulit dijelaskan, apalagi diterima.

Aku bertemu Baskoro enam belas tahun lalu, di sebuah pernikahan teman kuliah, tempat kami berdua duduk di meja yang sama karena panitia salah menempatkan nama kami di antara para lajang yang "harus dijodohkan malam itu"—sebuah lelucon garing yang untungnya berujung baik.

Dia bekerja sebagai arsitek, aku sebagai penulis lepas yang waktu itu masih meraba-raba jalan karier. Malam itu kami mengobrol sampai acara resepsi selesai, jauh melampaui obrolan basa-basi khas orang asing yang baru kenal—dia bercerita tentang bangunan-bangunan tua yang ingin dia pugar suatu hari nanti, aku bercerita tentang naskah novel yang sudah tiga tahun mangkrak di laptop. Ada sesuatu yang terasa mudah dalam percakapan kami, seolah kami sudah saling mengenal jauh lebih lama dari yang sebenarnya.

Kami menikah dua tahun kemudian, di sebuah acara sederhana yang lebih terasa seperti kumpul keluarga besar daripada resepsi mewah, karena memang begitulah cara kami berdua memandang pernikahan: bukan soal seremoni, tapi soal berjanji untuk terus berjalan bersama, apa pun yang terjadi.

Sebelas tahun berikutnya adalah tahun-tahun yang, kalau aku diminta menjelaskan pada orang asing, akan kusebut sebagai tahun-tahun baik. Bukan sempurna—tidak ada pernikahan yang sempurna—tapi baik. Kami jarang bertengkar hebat. Kami saling mendukung karier masing-masing. Kami masih bisa tertawa bersama di dapur jam sebelas malam sambil menghangatkan mi instan setelah kerja lembur. Baskoro masih menuliskan catatan kecil di kulkas setiap kali dia berangkat lebih pagi dariku, dan aku masih menyimpan setiap catatan itu di sebuah kotak kayu di lemari, meski aku tidak pernah bilang padanya soal kebiasaan itu.

Setiap akhir pekan, kami punya ritual kecil yang selalu kami jaga—jalan pagi keliling kompleks sambil membahas rencana minggu itu, lalu sarapan bubur ayam di gerobak langganan yang sama sejak tahun pertama kami tinggal di sana. Teman-teman sering bilang kami "pasangan goals," dan aku sendiri, jujur saja, pernah diam-diam bangga setiap kali mendengar pujian semacam itu. Kami tidak pernah membayangkan akan jadi salah satu dari sekian banyak pasangan yang akhirnya berpisah—rasanya terlalu jauh dari kenyataan yang sedang kami jalani waktu itu.

Kalau ada yang bertanya kapan semuanya mulai retak, aku tidak bisa menunjuk satu momen pasti. Tidak ada pertengkaran besar yang bisa kujadikan penanda. Yang ada hanyalah rangkaian percakapan kecil, bertahun-tahun, yang perlahan mengungkap sesuatu yang selama ini kami berdua hindari untuk dibicarakan secara jujur.

Semua berawal dari pertanyaan sederhana yang sebenarnya tidak sederhana sama sekali: apakah kami akan punya anak.

Di tahun-tahun awal pernikahan, kami selalu menjawab pertanyaan itu dengan santai—"belum waktunya," "masih ingin fokus karier dulu," "nanti kalau sudah siap." Jawaban itu terasa cukup, karena memang belum ada urgensi apa pun untuk membahasnya lebih dalam.

Tapi di tahun ketujuh, aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda dalam diriku. Melihat keponakan-keponakan tumbuh besar, melihat teman-teman sebaya mulai punya anak kedua bahkan ketiga, sesuatu di dalam diriku mulai bergerak—keinginan yang tidak pernah kusadari sebesar itu sampai akhirnya benar-benar muncul ke permukaan.

Aku mengangkat topik itu suatu malam, sambil kami berdua duduk di balkon apartemen, memandangi lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan.

"Aku rasa aku mulai siap," kataku waktu itu, suaraku agak gemetar meski aku tidak tahu kenapa harus setakut itu untuk bicara pada suamiku sendiri. "Untuk punya anak, maksudku."

Baskoro diam cukup lama, terlalu lama untuk sebuah jawaban yang seharusnya sederhana.

"Aku... tidak yakin aku pernah benar-benar ingin," katanya akhirnya, pelan, seperti mengucapkan sesuatu yang sudah lama dia simpan tapi tidak pernah berani dikeluarkan. "Aku pikir dulu aku hanya bilang 'nanti' karena aku tidak tahu bagaimana bilang yang sebenarnya."

Tekanan dari luar juga tidak membantu. Ibuku mulai bertanya soal cucu setiap kali kami berkunjung, awalnya bercanda, lalu lama-lama terdengar seperti sindiran halus yang semakin sering diulang. Adik iparku, yang menikah setahun setelah kami, sudah punya dua anak, dan setiap acara keluarga besar terasa seperti pengingat berjalan tentang apa yang "seharusnya" sudah kami miliki di usia pernikahan sepanjang itu. Aku tidak pernah menyalahkan Baskoro secara terbuka soal ini, tapi aku tahu, diam-diam, tekanan itu ikut menambah beban di pundak kami berdua, membuat percakapan yang seharusnya hanya antara aku dan dia jadi terasa seperti diadili oleh seluruh keluarga besar.

Kami menghabiskan bulan-bulan berikutnya mencoba mencari jalan tengah, seperti pasangan-pasangan lain yang menghadapi masalah serupa. Kami membaca buku-buku tentang komunikasi pernikahan. Kami mencoba terapi pasangan selama beberapa bulan, duduk di ruang praktik seorang psikolog yang selalu memulai sesi dengan pertanyaan yang sama: "Apa yang membuat kalian berdua takut untuk benar-benar jujur satu sama lain selama ini?"

Aku tidak pernah punya jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan itu. Mungkin karena kami berdua sama-sama terlalu sayang untuk saling menyakiti, sehingga kami memilih menunda kejujuran, berharap waktu akan menyelesaikannya dengan sendirinya. Tapi waktu, ternyata, tidak bekerja seperti itu. Waktu hanya membuat hal-hal yang tidak dibicarakan menjadi semakin berat untuk dipikul, sampai akhirnya beratnya sendiri yang memaksa kita untuk berbicara.

Di salah satu sesi, psikolog itu meminta kami masing-masing menuliskan tiga hal yang paling kami takutkan dari masa depan. Aku menuliskan: menyesal karena tidak pernah mencoba jadi ibu, kehilangan Baskoro, dan menua sendirian. Baskoro menunjukkan tulisannya dengan tangan sedikit gemetar: menjadi ayah yang gagal, membuatku membenci dirinya, dan kehilangan versi dirinya yang selama ini dia kenal.

Membaca tulisan itu, aku sadar kami berdua sebenarnya sama-sama ketakutan, hanya dengan bentuk yang berbeda. Aku takut kehilangan masa depan yang kubayangkan. Dia takut kehilangan dirinya sendiri kalau memaksakan diri menjalani masa depan itu.

Baskoro mencoba, aku harus akui itu. Dia bahkan pernah bilang, di salah satu sesi terapi, bahwa dia bersedia mencoba jadi ayah demi aku, meski dia tidak yakin akan jadi ayah yang baik jika hatinya tidak benar-benar di sana.

"Aku tidak mau anak kita tumbuh dengan ayah yang setengah hati," katanya. "Itu tidak adil untuk anak itu. Dan mungkin, pada akhirnya, tidak adil juga untukmu."

Aku tahu dia benar. Tapi mengetahui seseorang benar tidak membuat kenyataannya lebih mudah diterima.

Kami sempat membahas opsi adopsi, berpikir mungkin itu bisa jadi jalan tengah—aku tetap bisa jadi ibu, dan mungkin proses yang berbeda dari kehamilan biasa akan terasa lebih mudah diterima Baskoro. Tapi setelah beberapa kali diskusi jujur, kami sama-sama sadar bahwa masalahnya bukan soal cara mendapatkan anak, melainkan soal keinginan mendasar untuk punya anak sama sekali. Baskoro tidak menolak karena takut proses kehamilan atau biologis; dia menolak karena, sejujur-jujurnya, dia tidak pernah benar-benar membayangkan dirinya sebagai seorang ayah, dengan cara apa pun anak itu datang ke dalam hidupnya.

Mengetahui itu justru membuatku lega, dengan cara yang aneh. Setidaknya sekarang aku tahu persis apa yang sedang kami hadapi, bukan sekadar masalah teknis yang bisa dicarikan solusi praktis.

Ada satu momen yang paling kuingat dari masa-masa itu, yang menurutku menjadi titik ketika aku akhirnya benar-benar menerima bahwa kami sedang menuju perpisahan, meski belum ada yang mengucapkan kata itu secara eksplisit.

Kami sedang berlibur ke pantai selatan, mencoba "istirahat sejenak dari semua masalah" seperti saran terapis kami. Suatu sore, kami duduk berdampingan di pasir, menyaksikan matahari tenggelam, dan Baskoro menggenggam tanganku erat-erat, seperti biasa dia lakukan sejak sepuluh tahun lalu.

"Aku masih mencintaimu," katanya, matanya menatap laut, bukan menatapku. "Aku ingin kau tahu itu, apa pun yang terjadi nanti."

"Aku juga," jawabku, dan aku benar-benar jujur mengatakannya.

"Tapi mencintaimu tidak membuatku tiba-tiba ingin jadi ayah," lanjutnya, suaranya nyaris berbisa ditelan deburan ombak. "Dan aku rasa, kalau aku memaksakan diri, aku hanya akan membuat kita berdua semakin tidak bahagia, pelan-pelan, selama bertahun-tahun ke depan. Aku tidak mau itu terjadi pada kita."

Aku menangis waktu itu, bukan karena marah padanya, tapi karena aku tahu persis apa yang dia maksud. Aku sendiri pernah membayangkan skenario itu—dia menjadi ayah karena terpaksa, aku menjadi ibu yang terus-menerus merasa bersalah karena telah "memaksa" suaminya masuk ke peran yang tidak pernah benar-benar dia inginkan. Bukan kehidupan yang aku mau untuk anak kami kelak, atau untuk kami berdua.

Yang paling sulit dari perpisahan seperti ini adalah tidak adanya kemarahan yang bisa dijadikan bahan bakar untuk melangkah maju. Ketika ada perselingkuhan, ada kebohongan, ada kekerasan—setidaknya ada kemarahan yang bisa membantu seseorang keluar dari sebuah pernikahan, semacam bahan bakar emosional yang mendorong langkah-langkah berikutnya. Tapi ketika perpisahan lahir dari dua orang yang sama-sama baik, sama-sama jujur, sama-sama mencintai tapi menginginkan hal berbeda dari hidup, yang tersisa hanyalah kesedihan murni tanpa tempat untuk melabuhkan amarah.

Aku ingat beberapa kali terbangun tengah malam di bulan-bulan awal setelah keputusan itu diambil, merasa ingin marah pada seseorang—pada Baskoro karena "tidak bisa" memberiku apa yang kuinginkan, pada diriku sendiri karena "terlalu keras kepala" untuk mengalah, bahkan pada semesta karena mempertemukan dua orang yang saling mencintai tapi tidak searah. Tapi kemarahan itu tidak pernah benar-benar menemukan tempat untuk hinggap. Setiap kali aku mencoba marah pada Baskoro, aku hanya teringat betapa jujur dan pengecutnya dia justru karena berani mengakui ketakutannya, alih-alih berpura-pura demi menyenangkanku. Kejujuran semacam itu sulit dijadikan alasan untuk benci.

Kami memutuskan berpisah secara baik-baik, setahun setelah percakapan di pantai itu. Prosesnya menyakitkan, tapi tidak ada drama, tidak ada saling menyalahkan di pengadilan, tidak ada perebutan harta yang berlarut-larut. Kami membagi apa yang perlu dibagi, dengan tenang, seperti dua orang dewasa yang menyadari bahwa cara terbaik untuk menghormati sebelas tahun kebersamaan adalah dengan mengakhirinya dengan bermartabat, bukan dengan menghancurkan semua kenangan baik yang pernah kami bangun.

Teman-teman dan keluarga kami sama bingungnya dengan orang-orang asing yang bertanya "ada apa" setiap kali mendengar kabar ini. Beberapa dari mereka mencoba menawarkan solusi, seolah masalah kami bisa diselesaikan dengan nasihat singkat: "Coba dibicarakan lagi baik-baik," atau "Anak itu bisa datang belakangan, jangan buru-buru mengambil keputusan besar." Aku mengerti niat baik di balik semua saran itu, tapi tidak satu pun dari mereka benar-benar memahami bahwa kami sudah membicarakannya, berkali-kali, dengan sangat baik-baik, dan justru dari situlah kejujuran ini muncul—bukan dari kurangnya usaha, melainkan dari usaha yang akhirnya membawa kami pada kesimpulan yang sama-sama tidak nyaman, tapi jujur.

Ibuku menangis waktu kuberi tahu, bukan karena marah, tapi karena dia bilang dia selalu menganggap Baskoro seperti anaknya sendiri. "Kalau memang begini yang terbaik untuk kalian berdua," katanya akhirnya, memelukku erat, "Ibu percaya kalian tahu apa yang kalian lakukan."

Malam terakhir kami tinggal di apartemen yang sama, kami memesan makanan yang sama seperti kencan pertama kami—nasi goreng dari warung kaki lima dekat kampus, tempat kami dulu sering mampir setelah kelas malam. Kami makan dalam diam yang tidak canggung, hanya diam yang penuh oleh semua hal yang tidak perlu lagi diucapkan karena kami berdua sudah cukup memahami satu sama lain.

Setelah makan, Baskoro mengeluarkan kotak kayu kecil yang selama ini kusimpan diam-diam berisi catatan-catatannya, yang ternyata sudah lama dia ketahui keberadaannya. "Aku selalu tahu kau menyimpan ini," katanya sambil tersenyum tipis, membuka salah satu catatan lama, membacanya sebentar, lalu menutupnya lagi. "Aku senang kau menyimpannya. Simpan saja. Anggap itu bukti bahwa apa yang kita punya dulu memang nyata, apa pun yang terjadi setelahnya."

"Kau akan jadi ibu yang luar biasa," katanya sebelum aku pergi keesokan paginya. "Untuk orang yang tepat, dengan pasangan yang benar-benar menginginkan hal yang sama denganmu."

"Kau juga akan menemukan hidup yang membuatmu bahagia," jawabku. "Tanpa harus jadi sesuatu yang bukan dirimu."

Tahun pertama setelah perpisahan adalah tahun yang paling sepi dalam hidupku. Aku pindah ke apartemen kecil sendirian, belajar lagi hal-hal sederhana yang selama ini otomatis dikerjakan berdua—membayar tagihan sendiri, memutuskan mau makan apa tanpa perlu mempertimbangkan selera orang lain, tidur di ranjang yang terasa terlalu luas untuk satu orang. Aku sempat menyalahkan diri sendiri berkali-kali, bertanya-tanya apakah aku terlalu egois karena tidak bisa "mengalah" saja dan hidup tanpa anak, seperti yang dilakukan sebagian pasangan lain yang kutahu berhasil bertahan meski punya pandangan berbeda soal ini.

Tapi setiap kali pikiran itu muncul, aku mengingat kembali wajah Baskoro di terapi, tulisannya tentang ketakutan menjadi ayah yang gagal, dan aku sadar, memaksanya "mengalah" bukan solusi yang lebih baik—hanya penundaan luka yang sama, dengan bentuk yang berbeda, dan mungkin dengan korban tambahan: seorang anak yang tumbuh merasakan setengah hati ayahnya sendiri.

Sekarang, tiga tahun setelah perpisahan itu, aku sudah menikah lagi dengan seorang lelaki bernama Argo, yang kutemui lewat teman kerja, dan yang sejak kencan pertama sudah bilang dengan jelas bahwa dia sangat ingin punya anak—setidaknya dua, katanya sambil tertawa, "biar ramai di rumah." Kami sekarang punya seorang putri berusia satu tahun, dan setiap kali aku menatapnya tidur, aku merasa yakin bahwa aku sedang menjalani kehidupan yang memang seharusnya kujalani.

Argo tahu tentang Baskoro sejak awal kami berpacaran. Aku tidak pernah menyembunyikan bahwa aku pernah menikah, dan bahwa pernikahan itu berakhir bukan karena ada yang jahat, melainkan karena kami menginginkan hal berbeda. Argo mendengarkan cerita itu dengan tenang, lalu berkata sesuatu yang aku ingat sampai sekarang: "Aku senang kau cukup berani untuk jujur soal apa yang kau mau, meski itu berarti kehilangan sesuatu yang baik. Kalau kau tidak seberani itu, mungkin kita tidak akan pernah bertemu."

Aku dan Baskoro masih sesekali bertukar kabar, meski tidak sesering dulu. Tahun lalu, dia mengirimiku foto studio arsitektur miliknya sendiri yang baru dibuka, wajahnya di foto itu tampak lebih ringan dari yang pernah kulihat selama kami masih menikah—seolah dia akhirnya bisa bernapas penuh setelah bertahun-tahun menahan sebagian dirinya demi orang lain. Dia belum menikah lagi, tapi katanya dia sedang dekat dengan seseorang yang, seperti dirinya, juga tidak ingin punya anak, dan untuk pertama kalinya, dia merasa tidak perlu berpura-pura jadi orang lain demi hubungan itu bertahan.

Aku ikut senang mendengarnya, dengan cara yang tulus, bukan basa-basi. Ada semacam kelegaan tersendiri mengetahui bahwa keputusan sulit yang kami ambil bersama dulu, pada akhirnya, membuka jalan bagi kami berdua untuk menemukan versi kebahagiaan yang benar-benar sesuai—bukan versi yang dipaksakan demi menjaga status "pernikahan yang bertahan," melainkan versi yang jujur, meski harus ditemukan lewat jalan yang berbeda.

Kadang aku berpikir, mungkin inilah yang tidak pernah diceritakan orang-orang tentang cinta: bahwa cinta yang tulus sekalipun tidak selalu cukup untuk membuat dua orang berjalan ke arah yang sama seumur hidup. Ada orang-orang yang ditakdirkan saling mencintai dengan sangat dalam, tapi tidak ditakdirkan untuk menghabiskan seluruh hidup bersama—dan itu bukan kegagalan siapa pun, melainkan kenyataan yang harus diterima dengan kepala yang jernih dan hati yang cukup lapang untuk tidak mencari siapa yang harus disalahkan.

Aku sering memikirkan bagaimana budaya kita selalu mengukur keberhasilan pernikahan dari lamanya bertahan, seolah pernikahan yang berakhir setelah sebelas tahun otomatis lebih gagal dibanding pernikahan yang bertahan empat puluh tahun tapi penuh kepahitan yang dipendam diam-diam. Aku tidak lagi percaya pada ukuran seperti itu. Bagiku, pernikahanku dengan Baskoro bukan kegagalan—ia berhasil menjadi tepat seperti yang seharusnya, selama masa itu memang seharusnya terjadi, dan kemudian berakhir tepat ketika keduanya sudah tidak lagi cocok untuk terus berjalan bersama. Keberhasilan sebuah hubungan, menurutku sekarang, bukan soal berapa lama ia bertahan, tapi soal seberapa jujur kedua orang di dalamnya terhadap diri mereka sendiri dan satu sama lain, sampai akhir.

Baskoro dan aku tidak pernah saling menyakiti dengan sengaja. Kami hanya dua orang baik yang, pada akhirnya, menginginkan bentuk kebahagiaan yang berbeda. Dan mungkin itulah pelajaran paling pahit sekaligus paling penting yang kudapatkan dari pernikahan pertamaku: bahwa sesuatu bisa benar-benar baik, benar-benar tulus, benar-benar dibangun dengan cinta sungguhan—dan tetap saja, pada akhirnya, hancur perlahan, bukan karena ada yang berbuat salah, tapi karena hidup memang begitu adanya. Kadang hal-hal indah memang harus berakhir, bukan supaya kita belajar sesuatu yang dramatis, tapi supaya kita masing-masing bisa menemukan bentuk kebahagiaan yang benar-benar cocok untuk diri kita sendiri—meski itu berarti menemukannya di jalan yang berbeda, dengan orang yang berbeda pula.

Aku masih menyimpan kotak kayu berisi catatan-catatan kecil dari Baskoro, di lemari paling atas, tempat yang tidak mudah dijangkau kalau tidak sengaja dicari. Aku tidak menyimpannya karena masih berharap kembali padanya. Aku menyimpannya karena sebelas tahun itu nyata, karena cinta itu nyata, dan karena tidak ada alasan untuk membuang sesuatu yang baik hanya karena pada akhirnya ia tidak bertahan selamanya. Sesekali, kalau sedang membersihkan lemari, aku membuka kotak itu, membaca ulang beberapa catatan lama, lalu tersenyum kecil sebelum menutupnya lagi—bukan dengan kesedihan, tapi dengan rasa syukur yang tenang, seperti membaca ulang bab awal sebuah buku yang bagus, meski cerita di dalamnya sudah lama selesai.

Beberapa hal indah memang jatuh berkeping-keping. Tapi kepingan itu tidak pernah benar-benar berarti bahwa keindahannya dulu tidak pernah nyata. Kadang, kepingan itu justru menjadi bahan baku untuk membangun sesuatu yang baru—bukan menggantikan yang lama, tapi berdiri di sampingnya, sebagai bukti bahwa cinta, meski tidak selalu bertahan selamanya, tetap layak diperjuangkan selama ia masih ada, dan layak dikenang dengan baik setelah ia pergi.

—Tamat—

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Good Things Fall Apart
Hanif Al Fatih
Skrip Film
Surat dari Laut
Cahaya Muslim Prima Syam
Novel
Kelabu
clarestaputri
Novel
Persidangan Langit
Maceloda
Novel
ANAK PUNGUT
Onet Adithia Rizlan
Novel
Gerbong Kosong Menuju Esok
Thirtyrs
Skrip Film
Yang Tak Terlihat
Herman Sim
Flash
Mengatasi Penyakit Menganggur
Eko Triono
Flash
Bronze
Gadis Panggilan di Pelataran Masjid
Sulistiyo Suparno
Novel
TIARA
Iera Suhada
Novel
Gold
Teman Baru Winda
Mizan Publishing
Flash
Teman Kamar Baru
Hans Wysiwyg
Novel
Bronze
Kasih Dalam Kisah
Rifah Khodijah
Novel
Reinan
3.R².L.A²
Novel
Aksara Untuk Senja
Ririna Rew
Rekomendasi
Cerpen
Good Things Fall Apart
Hanif Al Fatih
Cerpen
The Black House
Hanif Al Fatih
Cerpen
BLUE
Hanif Al Fatih