Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Jalan raya tampak padat di satu sisi. Aliran kendaraan menumpuk penuh sampai keluar dari garis putih, memakan jatah sisi yang lainnya. Sebagian pengendara tampak kesal, membunyikan klakson setiap melihat ke daerah kosong yang tidak segera diisi. Namun, ada juga mereka yang tetap sabar dan santai atau bahkan menikmatinya bermodal sistem pendingin dan apa-apa yang ada dalam kendaraan mereka. Lokasi ini memang sering macet di jam pagi dan sore, tetapi kali ini berbeda. Kali ini kemacetan terjadi di waktu matahari sedang tinggi-tingginya.
“Pak! Minumannya? 5,000 masih dingin, loh. Kacang-kacangan ada. Cemilannya, Pak?”
“Air mineralnya satu.”
Pedagang kaki lima yang pada saat itu sedang memaku trotoar memanfaatkan kesempatan untuk menjual dagangannya. Mereka menyambut pengendara yang lelah dengan berbagai minuman dingin dan cemilan murah. Semangatnya tidak ikut menguap seperti keringatnya. Mereka tidak henti menyambut pengendara yang bergerak ke arahnya seolah barisan kendaraan tersebut memang datang padanya.
“Ada apaan sih, bang?” tanya salah satu sopir yang terjebak macet.
“Nggak tahu? Tapi, biasanya sih nggak bakal lama kalau siang-siang begini,” jawab pedagang kaki lima itu.
Di tengah-tengah kepadatan ini waktu seakan berjalan lambat. Kebosanan yang menjadi salah satu pemicu emosi benar-benar terasa. Para pengendara berusaha menghibur diri dengan berbagai cara. Beberapa tetap fokus pada jalanan, khususnya pengendara roda dua yang mengisi ruang-ruang kosong di antara mobil-mobil yang berhenti. Beberapa mengecek ponsel mereka guna mencari jalan alternatif atau sekadar bertanya-tanya tentang apa yang terjadi jauh di depan sana.
“Ada kecelakaan katanya di depan.” Suara lain ikut menjawab pertanyaan sopir yang terdengar dari kursi belakang kendaraan beroda empat itu. Sambil memperlihatkan ponselnya, dia bicara lagi dengan wajah yang merasakan kengerian bercampur empati. “Rame ini di WA. Beruntung pengendaranya selamat dan tidak ada korban jiwa.”
Si sopir hanya melirik sedikit entah terlihat atau tidak. “Syukurlah kalau masih selamat mah.”
Orang di kursi belakang kembali pada ponselnya dan duduk senyamannya. Dia lanjut berbalas pesan. “Di situ udah enggak macet?” begitu isi pasan terkirim.
Saat pembicaraan itu menemui titik akhirnya, tiba-tiba dari arah kanan seorang pengendara motor mengambil lajur lain dan membahayakan dirinya. Sontak hal ini mengundang seru makian untuk semua orang yang melihatnya terutama angkutan umum di depannya. Beruntungnya, dia selamat setelah kembali ke jalurnya tepat waktu walaupun diludahi pengemudi angkutan umum. Namun, belenggu takdir masih mengikatnya. Hari ini dia harus mengalami kecelakaan bagaimanapun caranya. Mini bus dari persimpangan menabraknya sangat keras segera setelah bunyi klakson dari pengendara lain terhenti.
Kecelakaan ini cukup memakan banyak korban setidaknya ada 12 orang luka-luka termasuk penumpang mini bus. Sementara pengendara bermotor tadi menerima luka serius yang membahayakan nyawanya. Dia langsung tak sadarkan diri di tempat, tetapi anehnya dia masih bisa tersadar setelah beberapa saat. Ini mengagetkan orang lain yang mencoba mendekat. Sopir mini bus sendiri berada agak jauh dan menabrak dinding toko. Keadaannya jauh lebih parah. Kondisi kedua korban ini sama-sama tidak memungkinkan untuk mereka selamat tetapi, keduanya tersadar seolah tidak merasakan apapun.
Orang-orang di sekitar merasa prihatin tetapi, takut untuk mendekat terlebih ketika korban malah berteriak histeris melihat keadaannya sendiri. Pengendara motor tangannya patah melempai dengan tulang menonjol keluar. Bagian tubuh perut ke bawah seperti mau lepas. Sementara sopir mini bus keadaannya menyedihkan. Dia terhimpit kendaraannya sendiri. Tubuhnya penuh sesak dengan lemak tetapi, beruntungnya setelah kecelakaan ini, semuanya keluar dan dia jauh lebih kurus.
Beberapa orang yang merupakan masyarakat sekitar akhirnya mengulurkan tangannya dan menenangkannya sambil mencoba secara perlahan mengangkut kedua korban ini ke pinggir jalan. Atau, membawa keluar sopir mini bus ke tempat lebih luas dan menunggu ambulans. Namun, saat hendak di bawa bahkan sebelum disentuh sekalipun kedua orang ini terlihat tidak ingin dan kepanikannya semakin menjadi-jadi sebelum akhirnya dua korban itu menangis. Keadaan itu mendorong empati masyarakat, tetapi dalam sekejap mata kedua orang ini berubah agresif seketika dan menggigit orang terdekatnya seakan haus darah.
Semua yang melihat ini terkaget. Korban tergigit tentu saja berteriak karena rasa sakit yang dirasakannya. Kumpulan orang di sana, para saksi mata yang terdiri dari masyarakat sekitar dan pengendara yang menepi, menjadi panas karena korban kecelakaan ternyata memiliki banyak tenaga untuk menggigit orang terdekatnya. Ini sangat aneh. Ini membahayakan yang lainnya. Namun, mereka tidak bisa membiarkan pengendara motor ini mengamuk di jalan seperti orang gila.
Mereka berpikir, “Mungkin, kepalanya terbentur sangat keras.”
Dua kubu terbentuk saat itu. Ada yang mengkhawatirkan korban kecelakaan dan ada juga yang lebih mengkhawatirkan korban yang digigit. Kumpulan orang ini mencoba untuk menenangkan si korban kecelakaan. Sedangkan dari kejauhan, pengguna jalan mulai bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi? Dari sudut pandang mereka, lokasi kecelakaan itu malah terlihat seperti kumpulan orang yang ingin melerai perkelahian. Keadaan semakin rumit di pihak lain. Para pengguna jalan yang memang sudah terjebak macet kini semakin diperparah lagi. Kepentingan mereka terhalang oleh sesuatu yang bukan kesalahannya.
“Orang-orang pada kenapa? Bukannya bawa korban ke rumah sakit, ini malah berantem.” Suara dari belakang masuk lagi ke telinga sopir.
Dia melupakan fakta bahwa biasanya yang mengangkut korban kecelakaan adalah ambulans. Dan, untuk siapa saja yang menjadi korban kecelakaan apabila tidak sadarkan diri mereka akan dibiarkan dulu di tempat sambil menunggu ambulans datang. Biasanya ini yang membuat kemacetan. Sedangkan, apabila korban masih sadar atau telah dipastikan meninggal mereka akan di bawa ke pinggir jalan atau menjauh dari lokasi kecelakaan secepatnya dan sambil menunggu ambulans juga. Atau, malahan yang datang duluan bukan ambulans tetapi, polisi.
“Sabar, Nyonya. Jalanan memang tempat yang berbahaya dengan banyak-banyak sekali aturannya.” Melihat situasi saat ini, sopir mencoba untuk menenangkan dirinya dengan membuat lelucon.
“Ya, dan konyolnya yang ditakuti bukan ini tetapi, penegak hukumnya.”
Sopir tidak membalasnya dan hanya tertawa singkat remeh. Dia merasa tersinggung sedikit.
Tidak lama kemudian, sebuah pemandangan yang agak aneh menarik perhatian mereka dari kejauhan. Lalu, suara klakson, tubrukan mobil, dan berbagai teriakan mulai terdengar yang sebelumnya tersaring lapis baja kendaraan mereka. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri. Pakaian mereka kotor dengan noda darah, dan wajah mereka mencerminkan ketakutan dan panik. Beberapa orang terlihat menerkam orang lain.
Ini benar-benar kacau. Situasi semakin memburuk. Kecelakaan demi kecelakaan terjadi karena para pengendara ingin menyelamatkan diri dengan kendaraannya tetapi, malah bertabrakan satu sama lain. Melihat hal ini, para pengandara jauh di belakang kebingungan. Mereka tidak ingin bertabrakan seperti itu. Mereka juga tidak tahu ini kekacauan semacam apa. Segala keputusan untuk melarikan diri menjadi tidak efektif atau malah memunculkan kekacauan baru bahkan sebelum kekacauan di depan datang. Para pengendara menjadi panik sendiri lalu menyebar kebingungan lain ke belakangnya.
Kondisi benar-benar tidak karuan dan hanya diisi kepanikan. Polisi yang seharusnya merespons kekacauan tersebut mungkin akan mencapai lokasi lebih lama dari biasanya atau tidak akan datang sama sekali. Jalanan sudah macet pada awalnya dan keadaan diperparah kepanikan masal. Kira-kira pemandangan seperti apa yang terlihat oleh polisi saat tiba di lokasi?