Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
GERSANG
13
Suka
2,759
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Angin kencang menyeruak dedaunan. Gersang. Walau musim penghujan telah lama datang, nyatanya belum merata. Pantura masih berdebu.

Sesak napasku ketika manusia-manusia mulai berdesakan. Bergesekan dengan manusia-manusia lain. Apalagi hampir dari setengahnya menyumbangkan asap rokok ke udara. Ruangan dipenuhi kelebatan serba putih bergulung-gulung.

Uuhh…menyebalkan. Salahku memang, kenapa memilih angkutan umum seperti ini. Untunglah, rasa kantuk segera mendera hingga suara-suara bising yang memilin telingaku beberapa saat lalu perlahan menghilang.

Sungguh ajaib. Hanya dalam hitungan detik aku telah tiba pada suasana yang telah lama kurindukan. Lampu penghias di sepanjang jalan bertuliskan lafadz-lafadz sakral, asmaul husna, menandakan tujuanku hampir sampai.

Aku terpukau menyaksikan penampakan sang kota wali yang tetap mempesona. Hamparan sawah berhektar-hektar masih menyisakan tunas-tunas harapan masyarakat sekitarnya. Walau kini bersaing dengan deretan toko-toko yang ditempeli poster-poster operator telepon.

Aku terenyuh pada sebuah pemandangan. Pemandangan yang mengenalkanku pada hijaunya pucuk Ciremai. Sepoinya adalah kenangan indah yang tak terlupakan.

Bila musim kemarau tiba, setiap selepas Ashar aku dan Bapak pernah berlomba menggapai langit lebih dulu dengan sebentuk burung rajawali berwarna hitam yang kususun bersamanya di pematang sawah. Bila talinya kumainkan, wujud hitamnya berkepak menembus mega-mega. Hampir bersentuhan dengan puncak Ciremai—dalam ilusiku.

Asyik menikmati pemandangan itu, ada harum khas ikan bakar mengusik penciumanku. Sesuatu bergerak indah di perutku. Itu pasti ikan petek atau ikan selar yang diasinkan (dibuat gesek) kemudian dibakar.

Kalau sudah begitu aku jadi teringat dengan sayur asem buatan ibu. Sambel terasinya, hmm. Nasi pulen dengan uap yang masih mengepul, lengkap sudah!

Dulu masakan ini adalah sajian utama di Minggu pagi. Ibu malah menyebutnya menu spesial liburan. Apapun masakannya, ikan bakarnya yang bikin nikmat. Kalau Bapak dan Maena lebih suka ikan petek asin yang digoreng.

Hari Minggu memang hari istimewa bagi kami. Di hari itu aku, Maena, adik perempuanku, Bapak juga Ibu bisa bercengkerama sepuasnya hingga menjelang malam, karena kegiatan difokuskan di rumah. Bapak memilih tidak melaut, Ibu tak pergi ke pasar untuk menjual terasi, udang beku, kerupuk kulit, ebi atau sejenis olahan ikan lainnya. Begitu juga aku dan Maena, karena sekolah diliburkan.

Di hari Minggu itu Bapak lebih memilih untuk mengajariku bersama teman-teman menari. Sekalipun Bapak bukan seorang maestro, namun nyatanya dialah satu-satunya orang di daerah itu yang mengabdikan diri untuk menjadi pelaku seni. Kami sering terlibat pementasan wayang orang atau topeng lakonan di Taman Ismail Marzuki Jakarta berkat bimbingannya.

Kepada anak laki-laki maupun perempuan seusiaku, Bapak mengajari menari topeng. Selain itu, kami juga dibimbing untuk pandai memainkan musik gamelan atau membuat sendiri busana dan tata rias topeng seperti kalung mute, gelang-gelang, keris dan beberapa topeng hiasan.

Perihal sajian utama Minggu pagi yang dibuatkan ibu, tentu tidak hanya digemari aku sekeluarga. Teman-teman pun ikut merasakan lezatnya.

Suasana akrab macam itu hanya bisa kunikmati hingga tamat SMU. Setelahnya, kurasakan semua berubah. Keyakinan lain memintaku memilih untuk patuh pada aturan maestro atau aturan yang akan membuatku lahir sebagai karakter yang membanggakan. Sebuah kepopuleran.

“Bapak senang kamu bercita-cita tinggi. Mau kuliah? Bapak setuju sekali, cung. Tapi apa nggak lebih baik milih jurusan yang enteng-enteng saja biayanya.”

“Leman janji sama Bapak bakal mengejar prestasi biar kuliahnya nggak terlalu lama.”

“Kamu sebenarnya punya alasan apa sih cung, sampai ngotot pengen kuliah kedokteran,” Ibu tampaknya ikut mengkhawatirkanku.

“Biarpun kuliahnya cepat, jadi dokter itu bayarnya terlalu mahal untuk orangtua seperti bapakmu ini. Nanti kalau bubar di jalan, pripun? Yang rugi kamu sendiri.”

“Aduh…Bapak sama Ibu jangan terlalu panik. Leman akan berusaha supaya nggak menyusahkan.”

“Nggak menyusahkan gimana?” Ibu memotong. “Yang namanya anak sekolah ya masih tanggungan orangtua. Benar kan, Pak?”

“Pikirkan baik-baik. Biarpun Bapak sama Ibu punya penghasilan, kita cuma buruh. Kamu kan tahu sendiri. Bapak nggak pergi melaut kalau nggak diajak pak haji Abdul. Ibumu juga. Dagangan buat ke pasar itu titipan ibu Aini.” Bapak mengurut dahinya.

“Makanya, Bapak sama Ibu ijinkan Leman buat kuliah kedokteran biar kehidupan ekonomi kita berubah.” Aku bersikeras.

Bapak mengusap kepalaku. “Kacung, kacung. Kamu ini memang anak Bapak yang baik.” Kemudian menghela napas panjang. “Kita ini orang kecil. Khayalannya jangan terlampau nduwur nanti kalau jatuh susah cari obatnya, nggak bakal ada yang nolong kita. Kebiasaan orang kecil kalau sudah terjatuh, tertimpa tangga pula.”

“Kita sudah hidup bahagia, iya kan Pak? Tanpa kamu maksain jadi dokter segala.” Tiba-tiba mata ibu berkaca-kaca.

Melihat airmata ibu kebimbangan menguasai rasaku. Apakah demi Bapak dan Ibu aku harus menyerah sebelum berperang? Haruskah aku mundur sebelum mencoba? Ini pilihan sulit.

Dengan tidak memaksakan kehendakku sendiri berarti aku sudah membahagiakan Bapak sama Ibu. Tapi bagaimana dengan kebahagiaanku sendiri? Bagaimana dengan janjiku pada Dewi? Kalau aku turut kata-kata Ibu, apakah dia masih mau menerimaku ataukah malah pergi dengan laki-laki lain?

Tidak mungkin, tidak mungkin. Ini tidak boleh terjadi. Dewi adalah cinta pertamaku sejak SMP dulu. Aku sudah menyukainya sejak lama. Sejak kami sama-sama belajar menari di sanggar Bapak. Semuanya sudah hampir dekat, kenapa harus aku lepaskan.

“Sebaiknya kita putus saja, Man.” Dewi mengucapkannya usai pesta perpisahan sekolah dulu.

“Salah aku apa?”

“Percuma Man. Diteruskan juga kita nggak mungkin menikah.”

“Kamu punya cowok lain?”

“Aduh…kamu tulalit apa pura-pura tidak tahu sih. Status kita tuh beda banget, Man. Aku nggak mau bikin malu orangtua.”

“Maksud kamu apa ngomong kayak gitu?”

“Bapakku itu nggak mungkin mau besanan sama Bapakmu.”

Alasannya? Aku tahu akhirnya. Dewi adalah anak sulung juragan kaya, haji Abdul. Dia tak lain adalah majikan bapakku.

“Aku mau kuliah di Akademi Kebidanan. Atau paling nggak AKPER deh.” Dewi melanjutkan ucapannya. “Biar nggak mengecewakan Bapak, aku mesti punya suami yang sekolahnya sederajat sama aku. Bapak sih pengennya punya menantu dokter.”

“Aku bisa kuliah di kedokteran.”

Dewi tertawa lepas. “Kamu ini Man, bisa saja. Maaf lho sebelumnya. Otak kamu tuh emang encer, percaya deh soal itu. Tapi…”

“Karena keluargaku miskin?”

“Maaf ya…aku nggak punya maksud menyinggung perasaan kamu.”

Aku memang tersinggung dan karena itulah aku ingin membuktikan pada semua orang kalau aku bisa melakukan yang terbaik. Dewi dan keluarganya akan tunduk di telapak kakiku suatu saat.

“Maaf Bapak, Ibu. Leman tetap harus menuruti kata hati.”

Kacung, Kacung. Kamu ini sumerep mboten marang nasihat Bapakmu niki?” Kutahu bapak marah. Roman mukanya merona. “Ya sudah. Lama-lama capek ngomong sama kamu.”

“Ibu juga. Terserah kamu saja. Kalau nggak mau nurut sama kata-kata orangtua, nggak usah balik ke rumah.”

“Ibu, Bapak. Maksud Leman bukan begitu.”

“Sudah. Bapak nggak mau tahu.”

“Bapak…Ibu…Bapak…Ibu.”

“Mas, Mas.” Tepukan bertubi-tubi mengejutkanku. Seorang pria seumuran Bapakku tersenyum. “Mas ngigau ya?”

“Astaghfirullahaladzim. Udah sampai mana ya Pak?” Aku tersipu sambil membenahi letak dudukku.

“Baru sampai Losarang. Memangnya Mas kemana?”

“Ke Cirebon. Bapak?”

“Sebentar lagi turun,” jawabnya sembari mengarahkan telunjuknya ke suatu arah. “Mas kok bisa ya tidur.”

“Mm, nama saya Sulaeman. Sering dipanggil Leman saja. Bapak seperti Bapak saya.”

“Oh iya, nak Leman. Bisa ya tidur di mobil yang sesumpek ini.”

“Ah mungkin karena capek, Pak.”

“Dari kota?”

“Betul Pak. Saya pulang karena mau kasih tahu bapak saya di kampung soal kuliah saya di kota.”

“Eh, nak Leman. Bapak duluan ya.” Dia turun setelah lebih dulu menyetop laju bus.

Duh Bapak, Ibu. Leman semakin tidak sabar ingin segera bertemu Bapak juga Ibu. Sudah kangen rasanya. Leman sudah tidak sabar ingin kasih tahu Bapak kalau Leman sekarang jadi dokter. Bapak sama Ibu pasti bangga melihat Leman diwisuda nanti.

Perihal Dewi, dia tidak lagi jadi salah satu tujuan kepulanganku. Aku nggan bertemu dia. Bagiku dia hanya masa lalu yang suram.

Bersamaan dengan turunnya Bapak tadi, dua orang wanita pengamen naik ke atas bus. Salah satunya membawa tape besar sementara yang lain menggenggam sebuah mix pengeras suara. Setelah berbasa-basi ia mulai mempertontonkan suaranya. Sebuah lagu lawas berarransement baru dipersembahkannya untuk seluruh penumpang.

Usai mempertontonkan kebolehannya, dia menyodorkan bungkus snack kosong. Saat kusodorkan tiga keping koin tanpa sengaja kami beradu pandang. Ada yang menohok uluh hatiku.

“Maena!” Kupanggil namanya tanpa ragu.

Tak kusangka wanita yang kupanggil Maena menoleh, menatapku sejenak. Tiba-tiba…

“Pak, stop Pak. Stop. Kita turun di sini saja.”

Pak supir menginjak rem mendadak. Wanita itu pun turun dengan segera setengah berlari.

Diburu rasa penasaran tanpa kompromi aku mengikuti kedua wanita pengamen turun dari mobil. Aku tak peduli dengan omelan pak supir beserta karyawan mobil yang lain karena menyetop mobil seenaknya.

“Maena, Maena.” Aku terus memanggilnya. Aku yakin dia memang Maena. Kalau bukan, dia tidak mungkin bereaksi saat kupanggil nama itu.

“Heh, buat apa kamu mengikuti kami.” Temannya mencoba menghalangi langkahku. Tapi aku tak melirik sedikitpun padanya.

“Mae, kamu betul Maena?”

Wanita yang kumaksud berbalik. Memandangku lekat seperti mengingat sesuatu. Pandangannya terasa asing pada awalnya namun tak kukira ada kilatan kemarahan merona di wajahnya.

“Kamu siapa?” setengah menghardikku.

“Kamu Maena?” Aku masih bertanya. “Adikku? Ini mas Leman, Mae. Kamu nggak ingat?”

“Mas Leman?” Dia tiba-tiba menangis. Temannya memandang kami bergantian. “Mas Leman ingat sama Maena?”

Tak ragu-ragu lagi aku memeluknya. Maena sesenggukan. Tangisnya tak terkendali.

“Kamu kenapa ada di tempat seperti ini?” Aku terenyuh mendengar tangisnya yang tiada henti. Sementara temannya sepeti tak ingin mengganggu kami.

“Mas Leman bohong, mas Leman tidak pernah ingat sama kami. Mas sudah lupa Bapak sama Ibu.” Di antara isaknya. “Hanya kami yang selalu ingat sama mas Leman sepanjang hari. Bapak dan Ibu selalu sedih memikirkan mas yang nggak pernah pulang.”

“Maafkan mas Leman. Sudahlah. Sekarang mas Leman sudah pulang bawa berita gembira. Minggu depan mas diwisuda. Bapak sama Ibu pasti senang diajak ke Jakarta nanti.” Aku berbinar mencoba mengobati luka hati Maena karena kehilanganku selama hampir lima tahun.

Maena melepaskan pelukanku. Dia terduduk lemas di trotoar. Aku tak turut. Hanya memandangnya penuh tanda tanya.

“Sejak mas Leman pergi untuk kuliah ke Jakarta, Bapak jadi kalap. Siang malam melaut. Nggak peduli lagi ada badai atau nggak, yang penting dapat upah banyak.”

Tanpa sadar sesuatu yang hangat membayang di pelupuk mataku. Semoga tidak tertumpah, karena aku seorang laki-laki. Apapun keadaannya, aku tak boleh terbawa suasana.

“Bapak khawatir, kalau mas Leman pulang minta bayaran kuliah, uangnya nggak ada.” Sungguh polos penuturannya.

“Sudahlah Mae, jangan bikin mas Leman sedih. Setelah mas pulang segala kesedihan itu akan benar-benar berlalu. Sudah, jangan nangis lagi, ya.”

“Bapak terlalu sayang sama mas Leman. Nggak peduli hujan badai, Bapak selalu memaksakan diri. Perahu Bapak terbalik diterjang ombak besar di tengah laut. Ibu sekarang tak mau bicara. Setiap hari cuma duduk melamun di sanggar. Sesekali memainkan hiasan topeng lalu tiba-tiba menari tanpa kendali. Kecuali kalau merasa lelah, Ibu akan berhenti. Ibu selalu berharap kalau Bapak bakalan pulang. Sama seperti waktu Bapak mengharap kepulangan mas Leman dulu.”

Aku tak lagi mengingat apakah aku ini seorang laki-laki atau seperti perempuan cengeng. Sudah dewasakah atau masih seperti anak ingusan. Cairan hangat yang semula hanya mengembang kini luruh berderai-derai.

Ragaku seperti terhempas karang, remuk redam. Rasaku sirna, tinggal kepingannya yang juga ingin kumusnahkan.

 

Cung/Kacung = nak, panggilan untuk anak laki-laki

Pripun = bagaimana

Nduwur = tinggi

Sumerep mboten marang nasihat Bapakmu niki? = paham nggak sih sama nasihat bapakmu ini?

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
GERSANG
Lina Budiarti
Novel
Bronze
Dream
Nur Rezky Amalia
Novel
Bronze
Airy
Jenny C Blom
Novel
Bronze
Nyanyian Hujan
Aizawa
Novel
Bronze
Tell Me Your Secret
Risda Ully Safitri
Novel
Gold
Mellow Yellow Drama
Bentang Pustaka
Novel
Hati & roti
Suyanti
Novel
Yang Tenggelam di Dasar Kenangan
Herman Trisuhandi
Novel
Seribu Pintu di Stasiun Shinjuku
Heri Winarko
Novel
Jagat Rasa
Ravistara
Novel
Bronze
ANYTHING COULD HAPPEN
Katarina Kallinda
Novel
Gold
KKPK The Happy Doll
Mizan Publishing
Novel
Gold
The Magic Library
Mizan Publishing
Novel
MetaMorphoo
Zaeni Dwi Octa Pitaloka
Novel
Bronze
Bising
Rinov
Rekomendasi
Cerpen
GERSANG
Lina Budiarti
Cerpen
SARANG MALAIKAT
Lina Budiarti
Cerpen
MELAWAN SUNYI
Lina Budiarti
Cerpen
SABTU SORE DI SEBUAH VILLA
Lina Budiarti
Cerpen
SEPASANG KEKASIH KEMATIAN
Lina Budiarti
Skrip Film
Topeng Sakti Cantika
Lina Budiarti
Cerpen
ISTRI PAPAKU
Lina Budiarti
Cerpen
PURNAMA TAK BERCAHAYA
Lina Budiarti
Cerpen
LUHITO
Lina Budiarti