Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Gema yang Tertinggal di Ayunan Kayu
Oleh : Ezra Jo
Sore itu, langit kota perak digelayuti mendung tipis yang enggan tumpah. Di taman tua ujung kompleks, sebuah ayunan kayu tua berdecit pelan ditiup angin. Cat hijaunya telah mengelupas, dirayapi lumut kering di beberapa sudut, dan rantai besinya telah berkarat dimakan usia. Bagi siapa pun yang kebetulan lewat, tempat itu hanyalah sepotong memori usang yang menunggu roboh. Namun bagi Aris, ayunan itu adalah seluruh dunia yang tersisa. Tempat di mana waktu seolah dipaksa berhenti, meninggalkan dirinya terjebak dalam pusaran rindu yang menyesakkan dada.
Aris dan Rian tumbuh bersama seperti bayangan dan tubuhnya. Sejak usia lima tahun, di mana ada Aris, di situ pasti ada Rian. Mereka melewati masa kecil dengan lutut yang kerap terluka karena memanjat pohon mangga tetangga, melintasi masa remaja dengan mimpi-mimpi besar tentang kuliah di luar negeri, hingga memasuki masa dewasa awal saat mereka mulai memahami betapa keras dan tidak adilnya hidup ini. Taman tua dengan dua ayunan kayu inilah yang menjadi saksi bisu dari setiap fase kehidupan mereka.
Rian adalah tipe sahabat yang sangat peka. Dia selalu tahu kapan Aris sedang berbohong tentang perasaannya. Cukup dengan melihat gestur tubuh atau kerutan di dahi Aris, Rian bisa membaca segalanya. Dia adalah orang pertama yang akan menepuk bahu Aris dengan mantap sebuah tepukan khas yang entah bagaimana selalu berhasil meruntuhkan seluruh tembok pertahanan dan gengsi Aris.
"Kalau nanti kita sudah tua, keriput, dan pikun," kata Rian suatu sore, beberapa tahun lalu. Dia duduk di ayunan sebelah Aris sambil menikmati es lilin yang meleleh ke jarinya. "Aku bakal tetap ingat cara bikin kamu ketawa pas kamu lagi patah hati atau gagal ujian. Aku nggak akan biarkan kamu kesepian."
Aris tertawa renyah saat itu, menganggap kalimat Rian hanyalah bualan masa muda yang angin lalu. "Janji ya? Jangan pikun duluan kamu."
"Janji. Sampai salah satu dari kita dikubur tanah," jawab Rian mantap, menatap lurus ke depan dengan mata berbinar penuh tekad.
Namun, hidup tidak pernah berkonsultasi pada manusia tentang rencana masa depan. Kehidupan senang menjatuhkan manusia dari tempat tertinggi tanpa peringatan.
Tepat enam bulan sebelum hari ini, sebuah vonis medis datang tanpa permisi. Rian didiagnosis menderita kanker stadium lanjut yang menyebar begitu cepat, seolah-olah waktu sengaja berlari mengejarnya tanpa memberi kesempatan untuk melawan.
Dalam hitungan minggu yang brutal, tubuh Rian yang dulunya tegap, atletis, dan selalu penuh energi, menyusut drastis. Wajahnya yang selalu ceria berubah pucat pasi. Senyum jenakanya digantikan oleh selang-selang medis yang mengikatnya erat di ranjang rumah sakit yang dingin dan berbau obat.
Aris tidak pernah absen. Dia mengorbankan pekerjaannya, memotong waktu tidurnya hingga matanya menghitam, hanya untuk duduk di samping ranjang Rian.
Dia mencoba melucu, menceritakan hal-hal konyol tentang bos mereka yang menyebalkan, dan berpura-pura di depan Rian bahwa segalanya akan baik-baik saja.
Aris menolak untuk menyerah pada kenyataan. Namun, yang paling menyesakkan dada adalah ketika Rian menatapnya dengan mata yang kian meredup, kehilangan cahayanya hari demi hari, lalu tersenyum sangat lemah. Rian tahu waktunya tidak banyak, dan dia tahu Aris sedang hancur di balik tawa palsunya.
"Ris... maaf ya," bisik Rian suatu malam yang sunyi, suaranya nyaris habis, kalah oleh bunyi ritmis dari monitor jantung di dekatnya.
"Maaf buat apa? Jangan ngomong aneh-aneh. Kamu harus fokus sembuh. Minggu depan kita harus ke taman lagi," jawab Aris, menahan mati-matian air mata yang sudah membendung di pelupuk matanya hingga dadanya terasa sesak luar biasa.
"Maaf... kayaknya aku bakal melanggar janji kita. Aku nggak bakal sempat lihat kamu jadi orang tua yang sukses," Rian memaksakan diri untuk meraih tangan Aris. Genggamannya sangat lemah, nyaris tak bertenaga, namun kehangatan persahabatan mereka yang tulus terasa begitu pekat di sana. "Tapi tolong, Ris... jangan pernah benci ayunan kita. Setiap kali angin niup ayunan itu dan kamu lagi sendirian, anggap aja aku lagi duduk di sebelahmu. Aku nggak akan benar-benar pergi."
Malam itu menjadi malam terakhir bagi Rian. Dia pergi dengan sangat tenang dalam tidurnya, tepat ketika azan subuh berkumandang. Rian meninggalkan Aris yang tergugu memeluk tubuh sahabatnya yang sudah mendingin, meraung dalam sepi yang menghantam tanpa ampun di dalam kamar rumah sakit yang mendadak terasa begitu luas dan hampa.
Kini, enam bulan telah berlalu sejak tanah makam Rian mengering. Aris duduk sendirian di ayunan kayu itu, membiarkan tubuhnya diombang-ambingkan angin sore.
Di genggamannya ada sebuah surat kusam yang baru dia temukan di laci kamar Rian pagi tadi sebuah surat yang ditulis Rian dengan tangan yang gemetar hebat beberapa hari sebelum mengembuskan napas terakhir.
*"Ris, kalau kamu baca surat ini, artinya aku udah nggak sakit lagi. Jangan nangis sendirian terus di taman, nanti dikira orang gila. Makasih ya udah jadi bagian terbaik dari hidupku yang singkat ini. Di kehidupan selanjutnya, ayo taruhan lagi siapa yang bisa ngayun paling tinggi. Jangan lupain aku, tapi tolong, teruslah hidup dengan bahagia."*
Aris melipat surat itu dengan tangan gemetar, memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Air matanya jatuh tanpa suara, menetes satu demi satu, membasahi tanah kering di bawah kakinya.
Tiba-tiba, angin sore berembus agak kencang, membuat ayunan kosong di sebelah kanan Aris bergerak maju mundur, berdecit pelan seolah sedang menyapa kebersamaan mereka.
Aris menoleh ke ayunan kosong itu, memaksakan sebuah senyuman di tengah tangisnya yang pecah. "Hai, Rian. Ayunanmu hari ini tinggi banget. Kamu curang, ya?"
Namun, tentu saja tidak ada jawaban. Hanya suara daun-daun kering yang saling bergesekan dan gema tawa masa lalu yang terngiang di telinganya. Suasana itu kini terasa begitu asing, meninggalkan ruang kosong yang teramat sangat di dalam dadanya.
Aris menutup wajah dengan kedua tangannya. Bahunya terguncang hebat di atas ayunan yang terus berdecit pelan. Rasa kehilangan itu seperti ombak yang datang berulang kali tepat saat dia mengira sudah bisa kembali bernapas, ombak itu datang lagi dan menenggelamkannya ke dasar yang paling dingin.
Tiba-tiba, sebuah suara lembut yang sangat familier memecah keheningan taman.
"Kak Aris?"
Aris tersentak. Dia cepat-cepat mengusap air matanya dengan lengan jaket dan menoleh ke arah sumber suara. Di sampingnya berdiri Nia, adik perempuan Rian yang masih duduk di bangku SMA.
Wajah Nia sangat mirip dengan Rian, terutama sepasang matanya yang bulat dan teduh. Melihat Nia rasanya seperti melihat kepingan Rian yang sengaja tertinggal di dunia agar Aris tidak merasa benar-benar kehilangan.
Nia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang dipaksakan untuk menutupi kesedihan yang sama besarnya atas kehilangan sang kakak. Di tangannya, Nia membawa sebuah kotak sepatu usang berwarna biru yang pinggirannya sudah dilakban.
"Aku tahu Kakak pasti ada di sini," kata Nia pelan, lalu meminta izin dengan tatapan matanya untuk duduk di ayunan kosong ayunan milik Rian.
Melihat Nia duduk di sana sempat membuat dada Aris kembali berdenyut nyeri. Namun, dia menahannya. Nia kemudian menyodorkan kotak sepatu itu ke pangkuan Aris. "Ibu nemuin ini di bawah tempat tidur Kak Rian pas lagi ngeberesin kamarnya kemarin. Di atas kotaknya ada tulisan yang tidak rapih mungkin ditulis ka Rian waktu sakit : 'Kasih ke Aris kalau aku udah kalah.' Aku rasa... Kak Aris yang paling berhak membuka ini."
Dengan napas yang tertahan, Aris membuka tutup kotak sepatu tersebut. Di dalamnya tidak ada barang mewah atau perhiasan mahal. Hanya ada tumpukan barang-barang kecil dari masa lalu mereka yang dikumpulkan secara rapi: Sebuah koin logam yang sudah bengkok hasil taruhan mereka saat SMP yang dimenangkan oleh Rian; foto instan yang sudah agak pudar, memperlihatkan keduanya pamer gigi ompong sambil memegang piala lomba esai tingkat kota; dan sebuah kaset pita tua bertuliskan spidol hitam: "Suara untuk Aris pas lagi cengeng."
Di dasar kotak, ada satu benda terakhir yang membuat napas Aris benar-benar tercekat. Sebuah gantungan kunci kayu berbentuk miniatur dua ayunan. Di balik miniatur itu, ada ukiran kasar yang dibuat menggunakan pisau lipat: "Sahabat Selamanya - A & R."
"Kak Rian tahu dia nggak bakal bertahan lama sejak awal masuk rumah sakit," bisik Nia, matanya mulai berkaca-kaca memandangi isi kotak itu. "Tapi setiap kali aku nangis di kamarnya dulu, dia selalu melarangku. Dia bilang: 'Jangan nangis di depan Aris ya, Nia. Kak Aris itu hatinya lembut banget, gampang rapuh. Dia kelihatan kuat selama ini cuma karena ada Kakak di sampingnya. Kalau Kakak udah nggak ada nanti, kamu yang harus jagain dia.'"
Mendengar penuturan Nia, tangis Aris yang sempat reda kini pecah kembali. Kali ini tangisnya mengalir tanpa suara, kepedihan yang teramat sangat larut bersama air mata yang menetes pasrah di atas foto masa kecil mereka. Nia mengulurkan tangan kecilnya, menepuk bahu Aris dengan cara yang persis sama seperti yang selalu dilakukan Rian dulu. Tepukan yang hangat, tegas, dan menenangkan. Seolah-olah di detik itu, Rian sedang meminjam tangan adiknya untuk menepati janji terakhirnya: untuk tidak membiarkan Aris kesepian.
"Kak Rian udah nggak sakit lagi sekarang, Kak. Dia udah tenang," kata Nia, air matanya sendiri akhirnya luruh melewati pipinya. "Sekarang, giliran kita yang harus belajar berjalan ke depan tanpa dia. Tapi kita nggak sendirian, kan?"
Aris menatap Nia, lalu melihat kembali ke arah gantungan kunci kayu di genggamannya. Dia menyadari satu hal: Rian tidak pernah benar-benar pergi. Rian hidup dalam ingatan ibunya, dalam senyuman adiknya, dan dalam setiap tarikan napas Aris yang melanjutkan mimpi-mimpi mereka.
Sore itu, di bawah langit kota perak yang kian menggelap dan bertukar malam, dua orang yang paling mencintai Rian duduk berdampingan di ayunan tua.
Angin kembali berembus lambat, menggerakkan dedaunan di atas mereka. Kali ini, rasa sesak di dada Aris tidak lagi terasa mencekik dan menyakitkan. Rasa sesak itu telah berganti menjadi sebuah ruang rindu yang teramat dalam; sebuah kepastian yang abadi bahwa meski raga Rian telah menyatu dengan tanah, persahabatan mereka akan selalu hidup di dalam kotak sepatu usang, di dalam hati mereka, dan di setiap embusan angin yang dengan lembut mengayunkan kayu tua itu.
TAMAT