Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Umur 27 tahun. Bagi sebagian orang, ini adalah usia emas. Usia produktif di mana kita seharusnya sibuk traveling ke Bali atau merintis startup. Tapi bagi keluarga besarku dan tetangga yang mulutnya sebau jamban dan setajam silet cukur, usia 27 bagi seorang wanita yang belum menikah adalah Bencana Alam Skala Nasional. Statusku sudah masuk kategori "Siaga 1".
Namaku Devi. Pekerjaan: Budak Korporat yang berangkat saat ayam belum berkokok dan pulang saat babi ngepet sudah mulai jalan-jalan. Hobi: Menatap plafon kamar sambil meratapi nasib dan checkout barang diskon yang sebenarnya nggak butuh-butuh amat. Status hubungan: Single sejak jaman fidget spinner masih ngetren.
Tekanan batin ini memuncak saat aku melihat postingan instagram teman SD-ku. Bayangkan, teman SD yang dulu ingusnya meler ke mana-mana dan hobi ngunyah krayon, sekarang sudah mau punya anak kedua. Sedangkan aku? Prestasi terbesarku bulan ini hanyalah berhasil membunuh nyamuk dengan satu tangan.
"Gila," gumamku di depan cermin, melihat satu garis halus di bawah mata yang entah kerutan atau bekas bantal. "Gue tua. Gue bakal jadi perawan tua yang dimumikan bersama koleksi tupperware."
Keesokan harinya di kantor, aku memutuskan untuk mengambil langkah drastis. Aku mendatangi meja Hanif. Hanif adalah rekan kerjaku, satu-satunya pria di divisi ini yang berhasil menikah dengan wanita (yang kudengar) luar biasa. Di mataku, Hanif adalah suhu. Dia pasti punya koneksi.
"Nif," panggilku dengan wajah memelas, meletakkan kopi sachet di mejanya sebagai sogokan. "Gue butuh laki."
Hanif yang sedang main Solitaire kaget sampai mouse-nya terlempar. "Astaga, Dev! Salam dulu kek! Dateng-dateng minta laki kayak minta sumbangan bencana alam!"
"Gue serius, Nif. Gue udah 27. Temen-temen gue dah pada laku. Gue butuh calon suami. Yang serius. Yang ready stock. Gue udah capek main aplikasi kencan isinya kalau gak penipu ya om-om genit."
Hanif membetulkan kacamatanya, lalu tersenyum licik. Senyum makelar tanah yang mau jual lahan sengketa di pinggir kawah gunung berapi. "Tenang, Dev. Gue punya banyak stok. Temen-temen gue banyak yang high quality jomblo. Mau yang gimana?"
"Yang penting napas, laki-laki tulen, punya kerjaan, dan waras. Itu aja. Standar gue udah gue turunin sampe ke inti bumi."
"Oke. Gue punya tiga kandidat terbaik. Cream of the crop. Gue kirim kontaknya sekarang. Tapi janji ya, kalau jadi, gue minta traktir Hokben sebulan."
"Deal. Pake Ekkado dua porsi."
Siangnya, tiga kontak masuk ke WhatsApp-ku.
Aku mulai memantau (stalking) profil mereka. Mereka mulai chat duluan, dari chat WA Firasat buruk sebenarnya sudah muncul, tapi aku berusaha menepisnya dengan mantra positive thinking. Minggu ini akan kuberi nama: Minggu Pencarian Cinta (atau Minggu Petaka).
KANDIDAT 1: MAS WAWAN DAN JURANG ANTAR GENERASI
Hari Selasa. Pulang kerja. Aku bertemu Mas Wawan di sebuah restoran keluarga yang nuansanya jadul dan tenang, tempat favorit bapak-bapak rapat pembentukan panitia 17an. Mas Wawan datang tepat waktu. Pakaiannya rapi: Kemeja batik dimasukkan ke dalam celana bahan kain yang ditarik tinggi sampai perut (sedikit lagi nyampe dada), lengkap dengan sabuk kulit buaya imitasi dan tas pinggang kulit tempat menaruh HP.
"Dek Devi ya?" sapanya. Dek. Dia memanggilku Dek. Panggilan yang seharusnya imut, tapi keluar dari mulutnya terdengar seperti panggilan paman ke keponakan yang mau minta angpao.
"Iya, Mas Wawan," jawabku sopan, berusaha tersenyum manis.
Mas Wawan duduk. Umurnya 42 tahun. Jarak 15 tahun. Hanif bilang gajinya besar, level manajer. Oke, finansial aman. "Dek Devi pesen apa? Jangan yang dingin-dingin ya, nanti batuk. Saya pesen air hangat saja, lagi ngurangin gula. Asam urat saya lagi kumat, nyeri banget di jempol kaki," buka Mas Wawan.
Strike One. Obrolan pembuka adalah Asam Urat. Romantis sekali.
"Saya es teh manis aja Mas," jawabku.
"Jangan manis-manis, nanti diabetes lho. Jaman sekarang penyakit aneh-aneh. Dulu jaman saya, sakit paling cuma masuk angin sama cacingan."
Obrolan pun berlanjut ke arah yang makin absurd. "Jadi Dek Devi kerja di mana? Oh, di sana. Gajinya lumayan? Cukup buat beli kuota?" candanya garing. Garing banget, kayak kerupuk yang lupa diiket karetnya seminggu.
"Cukup kok Mas."
"Bagus. Nabung ya. Jaman sekarang anak muda boros. Dikit-dikit kopi, dikit-dikit healing. Saya dulu seumur kamu, boro-boro healing. Saya makan nasi garem demi beli tanah di Cikarang. Sekarang tanahnya udah jadi kontrakan 10 pintu."
"Wah, hebat Mas." (Dalam hati: Iya Mas, dulu tanah semeter harganya setara bakso semangkok. Sekarang tanah semeter harganya setara ginjal saya).
"Dek Devi hobi apa?" tanyanya. "Nonton Netflix Mas, sama dengerin Spotify."
Mas Wawan mengerutkan kening. "Netflix itu apa? Sejenis parabola? Saya sih hobinya melihara burung. Kemarin perkutut saya ditawar orang 5 juta nggak saya lepas. Suaranya itu lho... Kukuruyuuuk... eh salah, itu ayam ya. Hahaha."
Dia tertawa sendiri sampai terbatuk-batuk. Aku ikut tertawa paksa. Ha-ha-ha.
Sepanjang satu jam, aku merasa tidak sedang dating. Aku merasa sedang menemani Om-ku yang baru pulang dari kampung. Dia menceritakan sejarah orde baru, khasiat rebusan daun salam untuk kolesterol, dan membanding-bandingkan generasi.
Puncaknya adalah saat dia bertanya dengan wajah serius: "Dek Devi, kalau nanti kita serius, saya minta satu hal. Kamu di rumah saja ya. Gak usah kerja. Saya butuh orang yang mijitin kaki saya tiap malem pake minyak tawon, sama yang bisa masakin bubur saring. Gigi saya udah mulai ngilu kalau makan keras. ART saya yang lama pijitannya kurang mantap."
Aku tersenyum kaku. Rahangku mengeras. "Mas Wawan, kayaknya saya belum siap jadi suster lansia. Eh, maksudnya ibu rumah tangga."
Aku pamit pulang dengan alasan dipanggil Pak RT ada kerja bakti dadakan. Kesimpulan: Mas Wawan bukan cari istri. Dia cari Perawat Home Care gratisan plus teman ngobrol soal penyakit degeneratif.
KANDIDAT 2: ANDRI DAN PERANG ALGORITMA (FB vs TIKTOK)
Hari Kamis. Kandidat kedua: Andri. Umur 30 tahun. Gaji UMR tapi cukup. Kami janjian di sebuah Coffee Shop kekinian di Jakarta Selatan.
Saat Andri masuk, mataku berbinar. Dia ganteng! Putih, tinggi, wangi, rambutnya rapi. Penampilannya oke banget, pakai kemeja flanel kotak-kotak dan jeans. "Hai, Devi," sapanya sambil tersenyum manis.
"Hai, Andri. Duduk."
Kami memesan kopi. Andri terlihat bingung melihat menu. "Mbak, ada Pop Ice rasa permen karet gak?" tanyanya pada barista. Barista menatapnya bingung. "Enggak ada Mas. Kita adanya Artisan Coffee." "Yah... yaudah Good Day Freeze aja diblender." "Enggak ada juga Mas."
Andri akhirnya pasrah memesan es teh.
Awalnya semua berjalan lancar. Sampai kami mulai mengobrol soal tren. "Dev, tempatnya bagus ya. Cocok buat di-post di grup," kata Andri sambil mengeluarkan HP-nya.
"Grup apa? Grup kantor?" tanyaku.
"Bukan, grup Facebook. 'Komunitas Pecinta Kopi Senja'. Aku admin di sana lho. Anggotanya aktif banget, suka share kata-kata mutiara."
Aku terdiam sejenak. Facebook? Oke, mungkin dia tipe setia. "Kamu gak main IG atau TikTok, Ndri?"
Andri menggeleng dengan wajah yang menyiratkan bahwa dia "berbeda". "Enggak Dev. Aku kurang suka. Terlalu toxic. Isinya pamer doang. Kalau di Facebook kan lebih kekeluargaan. Lebih real."
Aku mencoba mencairkan suasana dengan joke kekinian. "Iya sih. Btw, Ndri, kamu tau gak meme yang lagi viral? Yang 'Gwenchana... Gwenchana... neng nong neng nong neng' itu?" (Aku menirukan nada sedih drama Korea yang viral di TikTok).
Andri menatapku dengan tatapan bingung yang tulus. Polos sekali. "Gwenchana? Itu merk skincare baru ya Dev? Atau nama restoran Korea?"
"Bukan... itu meme. Masa gak tau? Yaudah, kalau 'Cek Khodam' tau gak?"
Wajah Andri berubah serius. "Waduh Dev, hati-hati. Di grup Facebook 'Anti Riba dan Klenik', dibilang kalau cek khodam itu musyrik. Jangan main-main sama jin. Nanti kamu diganggu lho."
Aku menelan ludah. Dia menganggapnya serius. Dia tidak paham konsep satire atau candaan internet jaman now. "Itu cuma bercandaan Ndri... game doang..."
"Tetep aja Dev. Pamali. Mending kita bahas yang lucu-lucu aja. Nih, aku ada video lucu banget dari grup 'Video Lucu Ngakak 2024'."
Dia menolak candaan karena dianggap musyrik tapi percaya pamali, kontradiksi sekali.
Dia menyodorkan HP-nya. Aku melihat layarnya. Videonnya adalah... video orang jatuh dari sepeda yang diedit pakai efek suara ketawa bayi dan musik chipmunk. Video jenis ini sudah basi sejak jaman BBM. "Lucu kan?" Andri tertawa terpingkal-pingkal. "Aduh, perutku sakit. Si bapaknya jatoh, terus ada suara 'Toet!'. Kreatif banget editornya."
Aku tersenyum kecut. "Iya... kreatif banget..."
Aku mencoba lagi. Kali ini pakai bahasa sarkas. "Aduh Ndri, liat video itu aku jadi pengen resign dari manusia terus jadi semen aja deh biar kuat."
Andri berhenti tertawa. Dia menatapku cemas. "Jangan Dev! Semen itu mahal sekarang. Lagian kalau jadi semen, kamu keinjek-injek orang. Mending jadi bata ringan, lebih kokoh. Tapi tetep aja, kamu kan manusia, syukuri aja Dev. Jangan aneh-aneh."
Dia. Menanggapinya. Secara. Literal. Dia tidak paham sarkasme. Dia tidak paham hiperbola. Dia adalah makhluk polos yang hidup di gelembung algoritma Facebook Bapak-Bapak.
"Dev, foto yuk. Buat kenang-kenangan." Kami berfoto selfie.
Lima menit kemudian, Andri menunjukkan hasil postingannya di Facebook. Fotonya di-tag ke 50 orang temannya (termasuk paman dan bibinya). Caption-nya: "Alhamdulillah... bisa ngopi bareng bidadari cantik hari ini... Semoga menjadi awal yang baik... Aamiin... Mohon doanya lur... #KopiSenja #CariJodoh #WanitaSolehah"
Di kolom komentar, teman-temannya (yang profilnya gambar bunga atau motor) langsung menyerbu: "Mantaaap slurrr... gasss terusss..." "Semoga samawa..." (Padahal baru ketemu sejam). "Cantik euy, kenalin dong...". "Putih+Mulus juga...".
Aku merasa privasiku ditelanjangi di depan komunitas bapak-bapak Facebook se-Indonesia. Rasanya seperti Generasi TikTok 2025 dipaksa bergaul dengan Generasi Facebook 2011. Frekuensinya tabrakan. Sinyalnya not found.
Aku pamit pulang dengan alasan mendadak sakit perut. "Hati-hati Dev! Minum air anget! Nanti aku kirim doa lewat status FB ya!" teriak Andri.
Kesimpulan: Andri baik dan ganteng, tapi hidup bersamanya berarti harus siap menjelaskan setiap joke sarkas dan rela di-tag di status-status alay penuh doa setiap hari. Aku belum siap mental.
KANDIDAT 3: EKO DAN DOMPET YANG MENJERIT
Hari Sabtu. Harapan terakhir. Kandidat ketiga: Eko. Umur 33 tahun. Hanif bilang Eko ini: "Orangnya asik, easy going, ganteng, atletis. Pas banget buat lo."
Kami janjian di sebuah restoran Steak yang cukup mahal di Jakarta Pusat. (Eko yang milih tempatnya). Saat Eko datang, aku langsung terpesona. Dia benar-benar ganteng. Kulit sawo matang eksotis, badan tegap berotot (kelihatan rajin nge-gym), rambut rapi, senyumnya karismatik. Gayanya santai tapi berkelas.
"Hai, Devi ya? Maaf telat dikit, abis leg day di gym. Biasa, menjaga aset," sapanya sambil menepuk pahanya yang kekar.
Kami duduk. Obrolan mengalir lancar. Eko nyambung diajak ngomong apa aja. Politik, film, musik, meme, semuanya dia tahu. Dia bahkan paham joke TikTok. "Wah, akhirnya," batinku. "Ada manusia normal. Ganteng, nyambung, sehat."
Tapi bencana dimulai saat pemesanan makanan. Eko memanggil pelayan. "Mas, saya mau Tenderloin Wagyu 200 gram. Medium Rare. Pake Mashed Potato. Minumnya Milkshake Vanilla dua gelas. Terus Appetizer-nya Calamari Ring jumbo. Sama Dessert-nya Choco Lava Cake ya."
Aku melongo. Porsinya kuli banget? "Mas Eko laper banget ya?"
"Iya Dev. Otot butuh asupan protein dan kalori. Kamu pesen apa? Samain aja biar romantis."
Karena aku menjaga imej (dan dompet), aku cuma pesan Chicken Steak yang paling murah dan air mineral.
Kami makan sambil ngobrol. Eko makan dengan lahap seperti orang yang belum makan tiga hari. Setelah makanan habis (Eko menghabiskan semuanya bersih tanpa sisa, bahkan garnish daun peterseli pun dimakan), dia memanggil pelayan lagi.
"Mas, ini tulangnya sama sisa sausnya boleh dibungkus gak? Buat kucing saya di rumah." "Boleh Mas." "Sekalian minta bungkusin satu porsi Chicken Steak lagi ya, buat bekal saya nanti malem."
Aku mulai curiga. "Mas Eko melihara kucing?" "Iya. Kucing garong. Alias aku sendiri pas laper tengah malem. Hahaha."
Tibalah saat yang paling mendebarkan: Bill Datang. Pelayan menaruh struk di meja. Totalnya: Rp 950.000,- (Punyaku cuma 75 ribu, sisanya punya Eko dan bungkusannya).
Eko mengambil dompet dari saku belakangnya. Dia membuka dompet itu. Lalu wajahnya berubah panik. Dia menepuk-nepuk saku celana, saku baju, lalu kolong meja. Aktingnya jelek banget, kayak sinetron azab.
"Aduh..." desis Eko. "Kenapa Mas?" "Dompet aku... kartunya ketinggalan di tas gym! Sialan, pasti jatoh di loker. Ini cuma ada KTP sama struk Indomaret. Aduh, Cash aku juga abis buat bayar parkir tadi."
Jantungku berhenti. Lagu lama kaset kusut.
"Dev... sorry banget nih. Boleh talangin dulu gak? Sumpah malu banget aku. Nanti sampe rumah aku transfer balik detik itu juga. Pake Mobile Banking aku error nih sinyalnya jelek di sini. Kamu pake provider apa? Aku pake Provider Miskin nih sinyalnya ilang."
Aku menghela napas panjang. Wajah ganteng Eko mendadak terlihat seperti wajah pencopet. "Yaudah Mas, aku bayarin dulu." Aku mengeluarkan kartu debit dengan hati teriris. Hampir sejuta melayang demi memberi makan pria kekar ini.
Kami berjalan keluar restoran. Eko menenteng bungkusan makanannya dengan wajah bahagia tanpa rasa bersalah. "Makasih ya Dev. Kamu penyelamat banget. Istri idaman deh."
Di parkiran motor. Eko menaiki motor sport 250cc-nya yang keren. Tapi dia tidak menyalakan mesin.
"Dev..." panggilnya lagi dengan wajah memelas. "Apa lagi Mas?" "Anu... bensin aku kedap-kedip nih. Boleh pinjem 50 ribu gak? Buat isi Pertamax Turbo. Sayang motor ginian kalau diisi Pertalite. Nanti aku transfer sekalian."
Darahku mendidih sampai ubun-ubun. "Mas, motor elit ekonomi sulit ya?" sindirku.
"Lupa Dev, tadi buru-buru pengen ketemu kamu."
Dengan tangan gemetar menahan emosi (dan keinginan untuk membakar motornya), aku memberi selembar 50 ribu terakhir di dompetku. "Makasih cantik! Nanti aku kabarin ya!" Eko menyalakan motornya. Brummm! Lalu dia pergi, membawa uangku dan harga diriku.
Sampai di rumah, aku menunggu transferan. Nihil. Aku chat Eko. Balasannya: "Eh iya Dev, sorry banget. Token m-banking aku keblokir. Besok aku ke bank dulu ya. Btw, boleh pinjem 200 ribu lagi gak? Buat pegangan besok ke bank. Dompet aku beneran kosong nih."
Aku membanting HP ke kasur. Ternyata Eko bukan cuma pengangguran. Dia adalah Mokondo (Modal Kon......fidence Doang). Dia lintah darat berotot. Hanif bilang dia "Kerja Serabutan", ternyata serabutannya adalah memeras wanita kesepian. Aku langsung memblokir nomor Eko. Ikhlaskan satu juta itu sebagai uang sedekah buat fakir miskin berbadan kekar.
Senin pagi. Aku datang ke kantor dengan aura kegelapan. Mataku sembab, dompetku tipis, dan hatiku hancur lebur. Aku berjalan lurus menuju meja Hanif. Hanif sedang asyik minum kopi.
"Pagi Dev! Gimana? Sukses? Mana yang nyangkut? Si Wawan yang mapan? Andri yang ganteng? Atau Eko yang macho?" tanya Hanif tanpa dosa.
Aku menggebrak meja Hanif. BRAK! Kopi Hanif tumpah sedikit. Satu ruangan kaget.
"Hanif..." suaraku rendah dan menakutkan. "Eh? Kenapa Dev? Kok muka lo kayak abis dirampok?"
"GUE MEMANG ABIS DIRAMPOK! SAMA TEMEN LO!"
Aku menarik kursi, duduk di depan Hanif, dan memulai sidang pertanggungjawaban.
"Nomor 1: Mas Wawan. Lo bilang dia mapan. Iya mapan! Tapi dia nyari Babysitter buat ngurusin asam uratnya! Dia minta gue resign buat mijitin kakinya tiap malem! Gue berasa dating sama Bapak gue sendiri!"
Hanif nyengir. "Ya... Wawan emang old school. Tapi asetnya banyak Dev." "Gue mau suami, bukan mau jadi ahli waris!"
"Nomor 2: Andri. Lo bilang dia ganteng. Iya ganteng! Tapi dia hidup di jaman batu! Dia gak ngerti sarkas! Dia gak ngerti meme! Dia pikir 'Gwenchana' itu merk skincare! Gue foto sama dia di-tag ke 50 orang di Facebook sama paman-bibinya! Gue malu Nif! Frekuensi kami gak ketemu! Gue ngelawak, dia malah ceramah!"
Hanif menahan tawa. "Andri emang polos, Dev. Tapi dia setia." "Setia sama Mark Zuckerberg doang!"
"Terus Eko? Dia kan gaul, nyambung, ganteng," kata Hanif optimis.
"EKO ADALAH BENCANA TERBESAR!" teriakku. "Dia makan sejuta, gue yang bayar! Dia minta bungkus buat kucing, padahal buat dia sendiri! Dia minjem duit bensin! Terus dia mau minjem lagi! Dia itu Parasit! Lo bilang dia kerja serabutan? Serabutannya nipu cewek ya?!"
Hanif melongo. "Masa sih? Eko setau gue emang lagi nganggur, tapi gak semiskin itu deh." "Lo salah pilih temen, Nif. Gue rugi waktu, rugi duit sejuta. Gue trauma."
Hanif tampak bersalah. "Aduh... sorry banget ya Dev. Gue gak tau kalau mereka separah itu. Di tongkrongan bapak-bapak sih mereka asik-asik aja."
"Gue minta ganti rugi. Traktir Hokben. Pake Ekkado. Gak mau tau. Sebagai ganti ongkos kencan gagal dan duit sejuta yang dirampok eko"
"Iya, iya. Deal."
Siang itu, aku makan Hokben gratisan dari Hanif dengan lahap. Dendamku terbayar sedikit demi sedikit lewat setiap gigitan nasi pulen dan salad wortel.
Sambil makan, aku merenung. Ternyata, menjadi jomblo di usia 27 itu tidak seburuk yang kubayangkan.
Kalau aku sama Mas Wawan, mungkin sekarang aku lagi ngerokin punggungnya. Kalau aku sama Andri, mungkin sekarang aku lagi diajarin main Zynga Poker di Facebook. Kalau aku sama Eko, mungkin sekarang aku lagi dikejar Debt Collector karena KTP-ku dipake dia buat Pinjol.
"Dev," panggil Hanif.
"Apa lagi?" jawabku ketus.
"Gue baru inget. Ada satu lagi temen gue. Namanya Budi. Umurnya 29. Kerja di BUMN. Orangnya pendiem, sholeh, gak neko-neko."
Aku berhenti mengunyah. Menatap Hanif. "Beneran?"
"Iya. Tapi ada minusnya dikit."
"Apa minusnya?"
"Dia tinggalnya sama Ibunya. Dan Ibunya itu... yah, posesif banget. Kalau mau dating harus bawa Ibunya. Dan tidur harus sekamar sama Ibunya."
Aku melempar sumpit ke muka Hanif. "HANIF! STOP! GUE MENDING JOMBLO SAMPE KIAMAT DARIPADA HARUS TRIPLE DATE SAMA MERTUA!"
Hanif tertawa terbahak-bahak sambil menghindari lemparan sumpitku. "Yaudah, yaudah! Gue nyerah! Cari sendiri sana!"
Aku melanjutkan makanku. Ya, aku jomblo. Aku 27 tahun. Aku budak korporat. Tapi setidaknya, uangku utuh, mentalku (sedikit) terjaga, dan aku tidak perlu pura-pura suka burung perkutut atau main Facebook. Jodoh pasti bertemu. Kalau gak ketemu di dunia, ya nanti di akhirat. Yang penting sekarang: Kenyang.