Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Gadis Ulang Tahun
0
Suka
8
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

“Apa aku cantik?” tanya Sera setelah menyelesaikan riasannya. 

“Tentu, kau sangat cantik,” 

“Apa aku pintar?”

“Aku tidak pernah meragukan kepintaranmu,”

Sera tersenyum, hingga bisa kulihat lesung pipi di wajahnya. Rambut yang dikuncir dua itu, tampak bergoyang begitu gadis itu berjingkrak. Warna merah di bibirnya tampak begitu mencolok, dari lipstik yang ia pinjam diam-diam dari Ibunya. 

Sera tidak pernah berubah

Begitulah yang aku pikirkan. Hari ini adalah ulang tahunnya yang ke 7, mungkin rasa penasarannya semakin besar seiring usianya mulai bertambah. Aku selalu menantikan hari ulang tahunnya. Mungkin di tahun selanjutnya, bukan hanya rasa penasarannya saja yang mengejutkanku, tapi juga hal lain seperti mimpi saat ia beranjak dewasa. 

Perayaan ulang tahun Sera berjalan lancar, aku bisa melihatnya dari raut wajahnya dan kado-kado yang ia bawa ke kamar, bahkan suara dari teman-temannya terdengar sampai sini. Meski berulang kali Ibu terus menawarkan bantuan untuk memindahkan tumpukan kado itu, Sera menolaknya. Ia benar-benar pantang menyerah, meski harus bolak-balik membawanya satu persatu, Sera tidak pernah terlihat lelah. 

“Sesekali istirahat. Bukankah membawa banyak barang seperti itu, terasa melelahkan?” ujarku mulai khawatir. 

“Tidak. Aku bisa melakukannya, harus bisa!” 

Aku bisa melihat kilatan berapi-api dari matanya. Saat itu aku menyadari, bahwa tidak ada siapapun yang bisa menghentikan Sera. 

Waktu berlalu, Sera tumbuh dengan cepat, hingga aku tidak sadar bahwa saat ini, gadis itu sudah menginjak usia remaja. Tidak ada lagi rambut kuncir dua yang biasa kulihat dan tidak ada lagi eksperimen merias wajahnya dengan peralatan make up milik Ibu. Ia bahkan tidak bertanya padaku tentang penampilannya atau mengatakan sesuatu yang bisa membuat dirinya lebih bersemangat. Kutepis pikiranku jauh-jauh, aku yakin ini bagian dari kejutannya. 

Ia tidak mungkin berubah

Kemudian pada ulang tahunnya ke-15, kupikir Sera hanya menatapku dengan raut yang tidak kumengerti. Sesekali aku melihat kedua matanya tampak aneh, sorot yang biasa tajam kini tampak lebih sayu, bisa kulihat kelopak mata Sera sedikit bengkak, dengan warna kemerahan yang tertinggal disudut matanya. 

“Hari ini ulang tahunmu. Bukankah kau harus lebih sedikit bersemangat?” ujarku

“Apa yang menyenangkan dari ulang tahun? Membuat harapan untuk sesuatu yang tidak akan pernah terjadi, dan bodohnya aku terus melakukannya,” ucapan Sera terasa begitu menohok untukku. Hal buruk pasti terjadi padanya, aku tidak mengerti kenapa ia tidak mau menjelaskannya padaku atau pun orang lain. 

“Itu tidak benar, harapan itu pasti menjadi kenyataan. Lihatlah dirimu sekarang, kau tumbuh sangat cantik, hatimu juga baik, kupikir itu salah satu dari sekian banyak harapanmu yang terkabul,” 

Sera mulai menangis, ia memegang dadanya cukup erat, sampai aku bisa melihat bagaimana urat-urat ditangannya tampak begitu menonjol. 

Nafasnya memburu, berulang kali Sera menghela nafas dengan cepat. Ada apa dengannya? Apa ia sedang kesakitan? Kekhawatiranku semakin memuncak. 

“Aku tidak punya teman, tidak ada yang datang kesini. Ibu dan Ayah pasti sibuk dengan urusannya, bukankah bodoh jika aku berpura-pura tidak melihatnya?” 

“Itu tidak benar. Mereka pasti akan datang, kau tidak perlu khawatir tentang itu,”

Hatiku terasa sakit, begitu melihat Sera seperti ini. Namun tidak ada yang bisa kulakukan, selain tetap bersamanya.

Sera melepaskan pakaiannya, menyisakan dalaman berwarna putih. Luka lebam membentang di kedua lengannya, lalu dibagian dadanya ada semacam bekas terbakar, yang seperti sengaja dibuat sejajar membentuk kalung.

“Saat perayaan Hari Valentine, teman-temanku membuatkannya khusus untukku. Mereka bilang ini sebagai tanda kasih sayang, bahkan setiap hari mereka terus mengingatkanku untuk tidak pernah terlambat dan …, ini adalah buktinya,” Sera mengelus lembut lengan kanannya yang penuh bekas luka. 

“Ini hanya perasaanku saja, seharusnya aku tidak berpikir terlalu keras. Semua akan baik-baik saja,” 

Meski Sera mengatakan hal itu, entah kenapa aku tidak berpikir sebaliknya. Senyum yang ia tunjukkan saat ini pun, justru malah menyakitiku. 

Mungkinkah ia masih Sera yang kukenal?

Pada ulang tahun ke-17, tidak ada perayaan ulang tahun atau pun ungkapan yang Sera biasa lakukan. Bahkan kamarnya mulai banyak berubah, tidak ada poster dari idola favoritnya atau hiasan kamar yang biasa gadis remaja pajang. Kamar ini terlalu polos, sampai aku hanya bisa melihat warna hitam dan putih. 

Sepertinya gadis memang sedang sakit, akhir-akhir aku lebih sering melihatnya menangis dan berteriak sambil membenamkan wajahnya ke bantal.

Kuharap kepalanya tidak sakit karena benturan itu

Ibu Sera jarang kesini, seingatku terakhir kali wanita datang adalah saat ulang tahun Sera yang ke-16. Sementara Ayah, dengan rutin mengantarkan makanan pada Sera tanpa sekali pun mengajaknya bicara.

Lalu Sera beranjak bangun dengan rambut berantakan. Ah aku sedikit merindukan rambut panjangnya. 

Sera menghampiriku, lalu menatapku lama. Wajahnya tampak kusam karena jarang dirawat, beberapa jerawat itu berwarna putih susu dengan sedikit kemerahan disekitarnya. 

“Aku benar-benar berantakan,” ujar Sera tersenyum tipis.

“Ini masih belum terlambat, aku mengerti rasa sakitmu, kau bisa rehat sebanyak yang kau mau. Aku selalu disini mendengarmu,” kuharap ucapanku bisa membuatnya merasa lebih baik. Aku percaya ia bisa melalui kesulitannya, Sera yang kukenal tidak akan menyerah begitu saja. 

Sera tiba-tiba tertawa sangat keras, mencengkeram lehernya sendiri erat dengan tangannya, seolah jemarinya itu bisa menembus tenggorokannya. Aku tidak mendengar suara kebahagiaan dari tawa gadis itu. 

Kemudian Sera membenturkan kepalanya padaku. Sakit sekali, tapi aku tidak bisa menghentikannya. 

“Pertemanan itu menyebalkan,”

Sera tanpa henti membenturkan kepalanya, sampai darah mulai keluar dari celah kepalanya. 

“Mereka bertengkar tanpa henti, membicarakan hal tidak penting …, memangnya salah siapa aku ada di tempat ini?”

Jika begini aku dan ia bisa hancur. Bagaimana caraku menyadarkannya.

“Sera, kumohon jangan seperti ini!” Aku berteriak sekeras mungkin, berharap itu bisa menyentuh setengah hatinya. 

“Kau tidak perlu khawatir jika semua orang tidak bisa memahamimu. Kau masih punya aku, Sera,” 

Sera berhenti membenturkan kepalanya, tapi cengkeramannya masih terasa kuat memegangku. 

“Aku tidak punya siapapun dalam hidupku. Kupikir selama aku menjadi diriku sendiri, orang-orang akan menerimaku …, ternyata tidak begitu,” Sera mengangkat tinggi-tinggi, meski aku memanggilnya berulang kali, ia tidak mendengarku. 

“Padahal aku sangat mencintai tempat ini, tapi disaat yang sama aku justru membencinya,”

Sera melemparku sangat keras ke tembok, hingga pecahan tubuhku memantul ke segala arah, bahkan mengenai pipinya. Kulihat sorot mata Sera yang menatap tajam padaku. 

“Namun dari semua itu, kau lah yang paling kubenci …, Sera,” ujarnya menatap sisa-sisa pantulan wajahnya yang ada padaku. 

Begitu rupanya, ia sudah terlalu jauh untuk kujangkau. Aku terlalu naif karena berpikir aku masih punya tempat dihatinya.

Sera …, mungkin lebih tepatnya sisiku yang ini, memang sudah berubah terlalu jauh ya

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Gadis Ulang Tahun
Linggarjati Bratawati
Flash
Awan
Hariz Rizki
Flash
Setahun berlalu
Lisnawati
Cerpen
RESCUE
ibupertiwi
Cerpen
PHK
Haris Fadilah Hryadi
Cerpen
Bronze
Pukat Hayat
Larasatijingga
Cerpen
Aster
Alpri prastuti
Cerpen
Seandainya Hujan Tahu Apa Keinginanku
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Get Older, Feel Younger
Dwi Budiase
Cerpen
Bronze
Waris
De Lilah
Flash
Telah Berubah
Lisa Ariyanti
Cerpen
SANGKAN PARANING DUMADI
Heru Patria
Novel
SUNRISE
Kala Hujan
Flash
Secret Lover
Ika nurpitasari
Cerpen
Bronze
Syal Rajut
tenguyakuza
Rekomendasi
Cerpen
Gadis Ulang Tahun
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Sintak Mangilas
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Ingot
Linggarjati Bratawati
Novel
Hata-Hata Ni Dodo
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Pelelangan
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Orleander
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Seluas Surga Sesempit Neraka
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Apa kau Ingat?
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Kāma-Manas
Linggarjati Bratawati
Flash
DISKUSI
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Pengasuh
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Destinasi Wisata Nirwana
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Dogma
Linggarjati Bratawati
Flash
AKU SUDAH BERJANJI
Linggarjati Bratawati
Flash
Yang Gila Disini Siapa?
Linggarjati Bratawati