Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Pukul setengah dua pagi.
Dara sedang duduk seorang diri di ruang makan. Dia sibuk dengan ponselnya, dengan wireless headphone putih yang memutar instrumen soft-orchestra, dengan sepiring buah-buahan—anggur hijau, pisang, dan jeruk—dan sebotol air di meja, dan dengan ekspresi terhenyak yang kian jelas. Perlahan, air mata kembali menetes dari matanya yang sembab, mengalir, membasahi pipinya yang juga masih lembab.
Glodak!
Dara terisak. “Kok gini, sih..,” ujarnya dengan suara tertahan sambil memetik satu buah anggur. “Kenapa harus gini sih ceritanya? Harusnya mereka tuh ketemu..,” lanjutnya sebelum memakan buah itu.
Glodak!
“Eh.”
“Itu lho, di sana.”
Dara, gadis berpiyama lengan panjang dengan rambut Dora itu, meletakkan ponsel di meja, menyeka air mata dengan kedua tangan, lalu lanjut mengunyah dan menelan anggurnya. Tak lama kemudian, sebuah pesan singkat dari kontak bernama Grace masuk, lalu kontak yang sama berganti menelepon, membuat musik berhenti dan berganti menjadi nada dering.
“Kh-khem.” Dara membenarkan tenggorokan, lalu menggeser tombol hijau. “Halo, Grace?”
Hening.
“D-Dar.”
“Eh, kenapa?”
Grace adalah teman organisasinya di kampus dulu. Beberapa waktu ini, dia sering curhat tentang masalah keluarganya yang berkepanjangan, dan kali ini juga begitu, meski selama ini Dara hanya bisa mendengarkan dan memberi saran-saran kecil. Mereka pun bertelepon seperti itu. Satu menit, sepuluh menit, setengah jam, hingga akhirnya Grace merasa cukup dan bisa mengakhiri teleponnya.
“Sekali lagi makasih ya, Dar, dan sorry aku telepon jam segini.”
“Iya, nggak pa-pa. Udah, tidur sana.”
“Ya udah. Bye, Dar.”
“Bye.”
Tut!
Setelah itu, setelah musiknya kembali terputar, Dara menghela napas dan bersandar pada kursi, kembali melihati buah-buahan di piring, lalu terdiam, cukup lama. “Pisang atau jeruk, ya?”
Setelah pada akhirnya memakan satu anggur lagi dan mengembalikan buah-buah ke kulkas, Dara segera beranjak dan membawa sebotol air tadi ke kamarnya, kamarnya yang warna-warni, penuh barang-barang lucu, tetapi sangat berantakan itu. Dengan gerakan lambat, dia pun merapikan ruangan itu, sedikit membersihkannya, lalu menata tempat tidurnya.
Begitu semua rapi, Dara menatap ke sebuah jendela, lalu melangkah lambat mendekatinya, jendela yang tirainya tak tertutup sempurna, jendela kaca yang basah dan berembun. Dia menatap ke bawah tanpa ekspresi, memandangi semuanya yang juga basah karena hujan beberapa jam lalu. Setelah menutup tirai, gadis itu beralih melepas headphone sambil berjalan, lalu mematikan musik, memutus sambungan, dan menge-charge ponsel.
Terakhir, dia pun minum lalu mematikan lampu.
Glodak!
Dara melirik ke sumber suara sambil naik ke tempat tidur.
Brak!
Gadis itu lalu berbaring dan menyamankan posisi tubuhnya.
Deng!
Setelah itu, dia menarik selimut, menutup mata, dan tidur.
[]
Celana longgar soft green, kaos panjang broken white, dan jilbab bergo pastel pink. Itu adalah outfit Dara malam ini. Saat ini, dia sedang menaiki motor, menyusuri jalanan kampung yang ramai, melewati rumah-rumah, kios-kios, kedai-kedai, dan tempat-tempat yang diterangi lampu, berpapasan dengan kendaraan-kendaraan lain, hingga akhirnya sampai di sebuah kedai mi ayam dan bakso.
“Dar!” sapa seseorang di tempat parkir.
“Eh, Yas,” balas Dara.
Itu adalah Tyas, seorang gadis berambut cokelat yang selalu diikat satu, yang saat ini bercelana hitam dan berkemeja putih. Dia juga baru sampai dan sedang parkir.
“Kamu baru pulang kerja?” Dara bertanya.
“Nggak, tapi belum pulang juga. Tadi main bentar terus ke sini.”
“Hai!” sapa seseorang lagi.
“Eh!” Dara agak terkejut.
Itu adalah Asha, seorang gadis bertubuh pendek berparas cantik dengan mata yang jernih. Dia datang dengan berjalan kaki dan berpakaian hitam-hitam—rok hitam, kaos hitam, dan jilbab paris hitam.
“Hai, Sha. Eh, masuk, yuk,” ajak Tyas.
Mereka pun masuk, memesan tiga porsi mi ayam bakso, lalu duduk di meja yang paling luar dekat jalanan, dengan Dara dan Tyas duduk bersebelahan dan Asha di depan mereka. Untuk beberapa menit, ketiganya hanya mengobrol seperti teman lama yang sudah lama tidak bertemu, karena mereka memang seperti itu, teman lama, tepatnya teman SMP. Namun, tak lama kemudian, sebuah topik akhirnya dibahas.
Tyas bercerita bahwa belakangan ini dia sering mengalami mimpi buruk, dan itu beriringan dengan kisah percintaannya yang tak pernah berhasil. Dia juga bercerita bahwa sudah sebulan ini dia sering mendengar suara barang jatuh di kamar mandi tempat kerjanya. Dia tahu kantornya memang memasang sesuatu seperti itu, tetapi masalahnya, hanya dia yang mendengar semua itu, sedangkan karyawan lain tidak.
“Itu kenapa ya, Sha?” tanya Tyas dengan wajah lelah.
Asha tersenyum manis. “Yang di kantormu, mereka cuma godain aja. Iseng aja itu. Tapi, kalo mimpimu.. mungkin ada yang nutup kamu, Yas.”
Tyas tampak lemas. “Hah? Nutup gimana? Santet?”
“Ya.. iya. Dari mimpimu, bisa jadi itu santet. Tapi untungnya kamu bisa ngehindar kan di mimpi itu? Jadi, aman aja. Itu tuh nutup, Yas, biar kamu nggak jadi sama siapa-siapa. Kamu punya masalah sama orang, ya? Atau sama pacarmu yang dulu?”
Tyas mengalihkan pandangan. “Aduh.. gimana, ya.”
“Putih, tinggi,” sela Asha.
“Ah, iya..”
“Kan.”
“Terus gimana?”
Di antara mereka, Dara hanya memperhatikan sambil memakan mi ayam bakso yang porsinya banyak itu sedikit demi sedikit. Dara lebih banyak mendengarkan, karena pertemuan hari ini memang untuk membicarakan masalah Tyas, sedangkan dia tidak bisa membantu apa-apa. Meski begitu, dia tetap paham dan mengerti. Asha dan Tyas juga mengerti bagaimana Dara. Bagaimanapun, mereka adalah teman yang akrab.
“Yang kayak gitu itu biasanya nggak mempan kalo kamu kuat. Banyakin solat, sama zikir. Kayak Dara, nih. Iya kan, Dar? Tuh-tuh, lihat tuh. Makan aja. Santai banget hidupmu, ya? Enak?”
Dara segera menelan mi di dalam mulutnya, lalu meringis. “Iya, Yas, pokoknya solat wajib aja, sama zikir yang habis solat tuh.”
“Tuh, Yas,” timpal Asha.
“Aku solat, kok..,” balas Tyas. “Ya bolong-bolong sih tapi.”
“Nah, itu aja kamu full-in. Terus baca zikir yang gampang-gampang aja, yang pendek-pendek. Sebut ‘Allah, Allah, Allah’ gitu aja juga nggak pa-pa. Iya kan, Dar?”
Dara yang sudah melahap mi lagi pun mengangguk. “Heem.”
“Emang ada masalah apa, sih?”
“Mm..” Tyas tampak berpikir sambil mengusap tengkuk.
“Kenapa?” tanya Asha. “Panas?”
“Iya.”
“Kakimu juga berat, kan? Yang kiri?”
“Iya. Ini kenapa, ya?” Tyas mulai gelisah.
“Nggak pa-pa. Nanti juga ilang. Makanya aku bilang Dara harus ikut.”
Dara tertegun. “Hah?”
“Iya,” jawab Tyas sambil menoleh.
“Iya, Dar,” sambung Asha. “Aku bilang ke Tyas, kalo mau ketemu, Dara harus ikut, soalnya vibes-nya tuh adem, kalem, enak aja gitu pokoknya. Biar nggak tegang-tegang banget.”
“Jadi, ... ternyata aku berguna?”
“Iyaaa,” jawab mereka bersamaan, sedikit gemas.
Dara pun meringis lagi.
Di saat yang sama, terdengar ponsel Dara berbunyi di dalam tas. Dara pun membuka dan merogoh tas di sampingnya di antara dia dan Tyas, tas selempang berwarna pastel pink yang sebenarnya tidak kecil, tetapi bisa-bisanya terisi penuh, padahal dia hanya pergi makan mi ayam bakso di sini, di tempat yang hanya berjarak sekitar satu kilometer dari rumahnya.
“Ya ampun, kamu bawa apa aja?” Tyas tampak terperangah. “Ada headphone? Astaga.”
“Bentar, bentar,” kata Dara sebelum mendapatkan ponselnya. “Nah! Hah? Tio? Ngapain anak ini telepon-telepon? Eh, bentar, ya,” lanjutnya lalu beranjak dari sana.
“Siapa tuh?” tanya Asha kepada Tyas.
“Temen aja kayaknya. Nggak mungkin dia punya pacar.”
Asha tertawa kecil. “Iya, sih.”
“Eh, tapi nggak pa-pa dia di sana? Aku?”
“Nggak pa-pa. Orang masih di situ, deket.”
“Tapi, dia beneran? Kalo nggak ada dia, aku gimana?”
“Mm, mungkin bakal lebih panas sama lebih berat.”
“Oh.” Tyas mengangguk paham.
“Dara itu, sebenernya dia punya bakat.”
“Maksudnya?”
“Menurutmu kenapa aku bilang vibes-nya adem?”
“Rajin solat.”
“Ya itu juga, sih. Tapi ada yang lain. Bukan adem juga sebenernya.”
“Terus?”
Asha meraih garpunya, lalu mulai menggulung mi. “Kalo di Jawa, Dara itu tulang wangi. Makhluk-makhluk yang nggak kelihatan tuh suka sama dia. Mereka seneng deket-deket, tapi nggak bisa ngapa-ngapain. Kalo Dara mau, dia bisa lebih dari aku. Tapi, kayaknya dia nggak tau, dan ditutup. Tapi, walaupun ditutup, energinya masih ada,” jelas gadis itu sebelum memakan mi-nya.
“Oh.” Tyas mengangguk lagi. “Ngeri juga.”
“Dan, ini.” Asha menunjuk kepala, sebelum menelan mi di mulutnya. “Mindset. Dia punya mindset yang bagus. Makanya, walaupun dia nggak ngelihat, nggak ngerasain, dan walaupun dia mungkin tahu, dia nggak akan takut. Dia jadi bawa energi positif gitu. Ditambah ibadahnya tadi. Makanya dia bisa tenang.”
“Oh.. iya, sih. Dari dulu hidupnya tenang-tenang aja. Keluarganya baik-baik aja, udah punya rumah, nggak dipaksa ini-itu, nggak ada yang cari ribut ssama dia, temen juga punya. Makanya kadang aku takut kalo dia sampe harus menghadapi dunia.”
“Takut dia nggak kuat?”
“Iya.”
“Kuat dia. Kita nggak tau aja.”
“Ya aku juga nggak bilang dia lemah, Sha.”
“Eh, tapi mungkin karena itu juga dia ditutup.”
“Apa?”
“Ya biar nggak banyak masalah. Kalo nggak, kayak aku nanti dia.”
Tyas tak langsung menjawab. “Emang ngaruh, ya?”
“Ya iya, lah.”
“Oh, maaf, aku nggak tau.”
“Santai aja. Nggak usah maaf. Udah bestie sama masalah.”
“Hahahaha,” tawa mereka bersama-sama.
Mereka, dua gadis yang masalahnya bertumpuk-tumpuk itu, pun kembali memakan mi ayam bakso yang sejak tadi hanya berkurang sedikit. Sambil menunggu Dara, mereka mengobrolkan hal-hal lain, mulai dari kabar orang-orang bermasalah di kehidupan mereka, hingga kabar baik yang untungnya masih ada. Hal itu beriringan dengan kedai yang makin ramai. Tak lama kemudian, Dara pun kembali.
“Siapa, Dar?” tanya Tyas.
Dara duduk di kursinya. “Temen kuliah dulu, tapi cuma sebentar, soalnya dia mahasiswa pertukaran gitu.”
“Bukannya cewek ya temen kamu yang pertukaran?”
“Oh, Shakira? Iya dia juga, tapi beda kampus sama yang ini.”
“Oh. Terus itu tadi ada apa?”
“Nawarin kerjaan.”
“Tuh, Yas. Kerjaan aja nyariin dia. Mindset! Energi positif! Percaya diri!” seloroh Asha dengan heboh dan bersemangat, diiikuti oleh senyum lebar dan gelengan tak percaya Tyas.
“Eh, habis bahas apa, sih?”
“Hayo, tebak. Kenapa mi ayam ini jadi rame?” Asha menebaki.
“Hah?”
Tyas menghela napas gemas. “Aduh, Dar. Ini loh, tempat mi ayam ini. Tadi pas kita dateng kan sepi, terus sekarang rame. Kenapa coba?”
“Waktunya makan malem.”
“Nah!” seru Asha lagi. “Bener!”
“Ya, ya. Bener, bener,” timpal Tyas sambil asal mengangguk.
Dara melihat kedua temannya. “Iya, kan?”
“Iya, Dar, iyaaa.”
Mereka pun melanjutkan obrolan, mencari jalan keluar untuk masalah Tyas, dan saling bercerita tentang kehidupan masing-masing. Tyas masih bercerita tentang beberapa masalah di keluarganya. Asha juga bercerita tentang saudara-saudaranya yang tak berhenti membuat masalah. Sementara itu, Dara hanya bercerita tentang betapa sulit mencari pekerjaan full-time yang cocok dengan ritmenya yang agak santai. Ya, cukup timpang, tetapi memang hanya itulah keluhannya saat ini.
[]
Pukul setengah dua pagi, lagi.
Dara sedang berada di depan kulkas yang terbuka. Gadis berwajah segar itu melihat semua isi rak-raknya, lalu mengambil dua potong melon, satu kotak brownis yang tersisa sedikit, sebotol teh, dan sebotol air. Biasanya, dia akan makan di ruang makan itu. Namun, kali ini, tidak. Dengan sedikit kerepotan, dia membawa semua yang dia ambil ke kamar, lelu meletakkannya di meja dekat laptopnya yang menyala.
Begitu duduk, Dara meraih dan memakai lagi headphone putihnya dan sebuah kacamata blue-ray. Sambil mulai makan brownis, dia melanjutkan pekerjaannya, mengedit video pernikahan yang ditawarkan Tio lima hari lalu. Namun, tiba-tiba saja suara dari laptop tidak masuk ke headphone. Dara sudah mencoba menyambungkan ulang beberapa kali, tetapi masih tidak bisa, padahal semua tampak baik-baik saja.
Pada akhirnya, Dara melanjukan tanpa headphone.
Glodak!
Dengan tenang, Dara refleks mengangkat kepala, menatap ke salah satu dinding kamarnya yang sekaligus dinding dari bangunan lain di samping rumahnya, sebuah masjid kecil. Sedetik kemudian, dia kembali menatap layar laptop.
Glodak!
“Eh.”
“Kan. Hati-hati makanya.”
Dara menghela napas tanpa mengalihkan pandangan. “Bisa tenang dulu, nggak? Lagi cocokin video sama musiknya, nih. Kalian enak nggak perlu cari uang. Eh, perlu nggak, sih?”
Dara tampak biasa saja. Dia tetap lanjut bekerja, mengutak-atik susunan video, mencocokkannya dengan musik, dan mengatur lain-lainnya, sambil sesekali makan dan minum apa yang dia bawa dari kulkas. Gadis wangi itu tak benar-benar tahu saja, bahwa dari balik jendela kaca yang tirainya terbuka itu, dari balik dinding, dan dari tempat-tempat yang dekat tetapi jauh di sekitarnya, ada tubuh-tubuh yang menghadap, ada wajah-wajah yang menoleh, ada mata-mata yang memperhatikan, dan ada bibir-bibir yang tersenyum.
Tak lama kemudian, ponsel Dara di atas meja berbunyi. Itu Tio, lagi.
“Duh,” gerutu Dara, sebelum menggeser tombol hijau dan mengaktifkan loudspeaker tanpa mengangkat ponsel itu dari tempatnya. “Apa?”
“Halo, Dara. Gimana? Udah, belum?”
“Belum lah, Yo. Seminggu aja belum. Kamu pikir aku apa? AI?”
“Ya ampun, galak amat.”
“Lagian kenapa sih telepon-telepon?”
“Ya nggak pa-pa. Gue pengen nemenin lo ngedit aja. Lagi ngedit, kan? Gue tau lo pasti bangun jam segini, entah lo udah tidur atau belum. Dan, karena lo ada kerjaan, lo pasti lagi kerja.”
Dara melongo. “Hah? Nggak, nggak perlu!”
Glodak!
“Eh, suara apaan tuh?”
Brak!
Deng!
“Lo lagi ngapain, Dar?”
“Nggak, itu di sebelah. Duh, kenapa malah nanya-nanya, sih?!”
“Di sebelah? Masjid itu? Ngapain ada berisik-berisik jam segini di masjid?”
“Ya nggak tau! Ada yang ngaji kali, atau tahajud, atau iktikaf, atau numpang, atau mampir, terus beres-beres, atau apalah terserah mereka. Udah lah, aku tutup aja teleponnya. Nanti kalo videonya udah jadi juga aku kabarin.”
“Eh, jangan. Gue temenin aja, ya? Lagian kan ....”
Tiba-tiba udara menjadi dingin.
Tik!
Tik!
Tik!
Suara Tio perlahan memudar dan Dara seketika mematung. Begitu tersadar, gadis itu mendongak melihat langit-langit, lalu menoleh ke arah jendela. Di luar sana, sedang gerimis. Dara langsung mengarahkan tangan ke samping laptop, berniat mengambil headphone yang tidak dia pakai tadi. Namun, benda itu tiba-tiba hilang. Dara pun langsung mencarinya di dekat-dekat sana, sampai barang-barangnya terjatuh, sampai mejanya berantakan. Namun, headphone itu tetap tidak terlihat.
Tik!
Tik!
Tik!
“Dar?”
Dara tidak menghiraukan suara Tio. Dia beranjak dari sana, lalu mencari ke seluruh tempat, menggeledah kamarnya yang cukup rapi itu. Pelan tetapi pasti, kepanikan mulai menyeruak, mengalahkannya, menguasainya. Dia sudah membuka, mengambil, dan membuang apa pun tak tentu arah, tetapi headphone itu masih tak terlihat juga, sementara di luar gerimis mulai deras dan berangsur-angsur menjadi hujan.
“Dar? Ada apa?”
Tik!
Tik!
Tik!
Dara sempat memakai headphone yang lain. Dia juga sempat menutup telinganya dengan bantal, guling, membungkus tubuhnya dengan selimut, atau apa pun. Dia bahkan sudah berpindah-pindah ke ruangan-ruangan lain di rumah ini, bahkan sampai ke ruangan terdalam. Namun, suara itu tetap terdengar, suara menyakitkan itu, suara lantang penyesalan itu, teriakan masa lalu itu, berisik hujan itu.
Dara duduk menekuk lutut di sudut ruang salat, menutup mata dan telinganya rapat-rapat, dengan napas yang memburu, dengan tubuh yang gemetar, dengan keringat yang mulai terlihat. Bayangan kejadian itu masih sangat jelas. Dia menyuruh dua teman masa kecilnya untuk menyeberang jalan terlebih dahulu, karena dia masih kesulitan memakai jas hujannya. Lalu, ketika dia selesai dan mulai menyusul, di bawah deras hujan, sebuah truk melintas dan melindas mereka tepat di depan matanya.
Sejak itu, setiap kali hujan turun, seperti inilah dia.
Dara juga selalu ingat dengan kata-kata semua orang, mulai dari keluarga mereka yang menyalahkannya, merasa tidak adil karena dia masih hidup, semua tetangganya yang selalu menggunjing, hingga teman-temannya yang menjadikan ini sebagai topik utama di kelas, bahkan di seantero sekolah, selama berpekan-pekan, bahkan murid-murid yang tidak dia kenal juga. Mereka semua terus bertanya tentang kronologi dan hal-hal lain, dan itu semua terdengar seperti mereka sedang menyudutkannya secara halus.
Dara tampak menahan diri dan mengatur napas. Sesekali dia menggeleng, berusaha keras menyingkirkan ingatan yang meski sudah lima tahun berlalu masih utuh dan tak terkikis sedikit pun itu. Pelan-pelan, tubuhnya yang gemetar mulai meremang. Dadanya yang sesak juga mulai terasa nyeri, lantas ngilunya menjalar ke seluruh tubuh. Dia pun menggertakkan gigi menahan sakit, menekan dengan kuat, sebelum akhirnya menangis juga.
Maaf..
Sekarang, gadis itu tidak menahan diri lagi. Dia membiarkan dirinya menangis, membiarkan rasa sakit dan rasa sesal mendorongnya jatuh, membiarkan semua menang seperti biasa, hingga dia lelah dan ketenangan pun mulai kembali seuntai demi seuntai meski suara hujan masih terdengar. Setelah lebih tenang, seperti biasa juga, dia mulai membenci sebuah rasa bernama kesendirian dan ingin menghubungi seseorang, siapa pun itu.
Dengan sedikit ragu, Dara beranjak dari sana dengan tangan masih menutup telinga. Hujan masih cukup deras. Namun, dia benar-benar butuh ponselnya sekarang ini. Dia juga akan langsung kembali ke ruang salat lagi nanti, ruangan yang setidaknya lebih hening daripada ruangan-ruangan lain di rumah ini. Tak mau berlama-lama, gadis itu langsung menuju kamar. Namun, begitu sampai, dia bergeming.
Headphone-nya ada di atas meja.
“Dar? Lo di mana, sih? Udah berapa menit, nih? Duh, ke mana sih nih anak?”
Dara cepat-cepat memakai headphone itu, headphone yang bisa membuatnya tidak mendengar apa pun dari luar meski tidak ada musik yang diputar, headphone yang selalu dia bawa ke mana-mana terutama di musim hujan seperti ini, headphone mahal yang entah kapan dia bisa memiliki yang seperti itu lagi. Seketika, dia hanya mendengar hening, sunyi, senyap. Tidak ada suara hujan, tidak ada suara Tio.
Dara menghela napas lega sambil memejamkan mata, lalu meraih ponsel yang masih tersambung dengan Tio dan duduk di tempat tidur.
"Dar–”
Tut!
Dara mematikannya, lalu beralih mencari nama-nama yang mungkin bisa dia hubungi. Dia melihat nama-nama itu, nama-nama teman-temannya—Grace, Tyas, Asha, beberapa lagi, dan terakhir, Fiona, teman terdekat sekaligus orang yang tahu tentang traumanya, yang masalah hidupnya berkali-kali lipat darinya, yang sering dia segan untuk menghubunginya. Pada akhirnya, Dara mengirim pesan singkat kepada Grace dan Fiona, menyapa, mengecek apakah mereka masih terjaga. Namun, tidak ada balasan.
Apa langsung telepon, ya? Tapi nanti ganggu.
Sambil menunggu, setelah menyambungkan ponsel dengan headphone dan bisa-bisa saja, Dara menutup tirai jendela dengan keberanian yang dia paksa, mematikan lampu, minum, menutup laptop, mengambil selimut di lantai, lalu naik ke tempat tidur. Dia masih diliputi rasa tidak nyaman, sebenarnya, apalagi di luar masih hujan. Namun, untungnya, luapan emosi tadi membuatnya cukup lelah, cukup lelah untuk bisa terlarut lagi, setidaknya saat ini.
Dara memang selalu selemah ini, selalu selelah ini.
Perlahan, Dara kembali mengatur napas sambil menutup mata. Dia pun bergumam lirih. “Astagfirullahal ‘adzim. Laa chaula wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim.”
Dara terus bergumam dengan suara yang makin lama makin tak terdengar, hingga dirinya merasa tenang, hingga tubuhnya merasa nyaman. Dia sudah akan tertidur, tetapi tiba-tiba nada deringnya terdengar. Dara pun membuka mata, lalu mengecek ponsel yang dia bawa ke tempat tidur. Dia pikir itu Fiona atau Grace yang terbiasa terjaga di jam-jam seperti ini. Namun, ternyata, tidak. Sekali lagi, itu adalah Tio.
Dara menahan napas, lalu mengembuskannya dengan kesal. “Duh, kenapa dia lagi, sih?!”
Pada akhirnya, Dara kembali meletakkan ponsel tanpa menolak atau menerima telepon tersebut. Gadis itu pun menyamankan posisi kepala, lalu terdiam. Nada deringnya masih terdengar, membuatnya berpikir ulang apakah sebaiknya dia mengangkat telepon itu. Dia tidak pernah menolak telepon siapa pun sebelumnya, kecuali nomor tidak dikenal. Namun, dia juga tidak punya cukup tenaga untuk meladeni Tio, si laki-laki paling tengil yang pernah dia temui selama 22 tahun dia hidup itu.
Akan tetapi, jika dia butuh seseorang untuk bicara malam ini, mungkin..
Dara segera menggeleng sambil mengerjap. “Nggak, nggak. Fokus cari kerja, Dar.”
Malam itu, setelah telepon dari Tio mati sendiri dan laki-laki itu tidak bebal menelepon lagi, Dara akhirnya terlelap, akhirnya lupa bahwa di luar hujan masih sangat deras. Sementara itu, sejak tadi, dari celah ventilasi di atas jendela, dari balik dinding, dan dari tempat-tempat yang dekat tetapi jauh di sekitarnya, mereka masih ada. Tubuh-tubuh itu masih menghadap, wajah-wajah itu masih menoleh, mata-mata itu masih memperhatikan, dan, bibir-bibir itu masih tersenyum, kali ini lebih damai.