Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Gadis Pagi Bernama Nara
1
Suka
69
Dibaca

Bau tanah basah mengiringiku selama berjalan ke dalam kelas. Tak ada yang menyadari bahwa gadis itu—Nara selalu ada sebelum kelas dimulai, itu cukup membuat namanya melekat di kepalaku. Hari ini kelas tetap berjalan seperti biasa, walau hujan terus mengguyur Hangzhou[1] sejak beberapa hari terakhir.

Saat pantulan matahari terbias melalui sela-sela jendela dan semua mahasiswa sudah berada di kelas, dosen mulai memanggil nama kami satu per satu.

”Chen yu.” ”Dào[2]”

”Xu zhi” ”Dào

”Nara”

Sebuah nama asing di telinga kami, membuat pandanganku tertuju padanya. Ada jeda singkat sebelum ia menyahut, pelan dan ragu.

Dào,” jawab Nara dengan aksen yang tak sepenuhnya menyatu.

Saat melihatnya begitu lama, aku sadar bahwa gadis itu tidak banyak berinteraksi. Ia seperti memasang dinding tinggi dan melepaskan aura misterius yang membuat teman-teman lain enggan mendekatinya. Aku tidak mengerti apa yang membuatnya begitu menjaga jarak, namun yang bisa kuperkirakan adalah ia tampak seperti menahan sesuatu.

”Hei, hei, Xu an.” aku mendengar Chen yu memanggilku. Tanpa menoleh, ku sandarkan punggung lalu mendengarkan ucapannya.

”Dari tadi ku lihat pandanganmu ke Nara terus, ada apa nih?” bisiknya. Mendengar pertanyaan Chen yu, aku berpikir sejenak.

“Aku juga tidak tahu.” jawabku singkat sembari melanjutkan tulisanku. Aku tidak bisa menemukan jawaban yang tepat, seperti ada sesuatu dalam caranya duduk sendirian yang membuatku tak bisa berpaling. Kelas hari ini ditutup dengan tugas yang harus dikumpulkan besok. Akulah yang ditugaskan untuk mengumpulkannya, mungkin saja ini bisa jadi cara untuk mengajaknya bicara.

Setelah beberapa menit, kelas terlihat lengang. Semua seperti bergegas melupakan penatnya hari ini, menyisakan beberapa orang yang melakukan belajar mandiri, termasuk aku. Aku akan mengerjakan tugas tadi sore ini.

Ketika hari semakin gelap, dan langkah bersaut-sautan mulai terdengar dari lorong kelas malam itu, tandanya kelas sebelah sudah menyelesaikan belajar malamnya.

”Eh, itu Xu an,” seorang mahasiswi menghampiriku, diikuti dengan beberapa teman lainnya, “Kok masih disini? Padahal udah larut.” tanya Yu lan dengan nada bercanda. Yu lan berada dikelas yang berbeda dengan kami, namun hari ini kami mengikuti kelas yang sama.

”Aku hanya menyelesaikan tugas yang diberikan hari ini. Kalian kenapa masih disini?” jawabku sembari membereskan barang-barang. Saat hendak menjawab, Yu lan tiba-tiba teringat sesuatu.

”Hei, kamu tau mahasiswi asal indonesia itu gak? Aku tadi duduk dibelakangnya saat kelas bersama, sepertinya dia cukup tertutup yah.” ucap Yu lan menyadari batas kontras yang dibuat Nara.

”Ya, aku tahu. Sepertinya dia belum bisa berbaur dengan baik, melihat dia memang warga negara asing dan mungkin ada masalah sosial yang tidak bisa ia tangani.” jawabku seadanya. Aku cukup lega bahwa bukan cuman kelas kami saja yang menyadari soal tingkah Nara.

Yu lan hanya menggangguk tanpa mengatakan apa-apa lagi, aku melihat wajah nya yang seperti sedang merenungkan sesuatu. Sudah tiga bulan berlalu sejak kami memulai tahun ajaran baru di Yunlin University of Hangzhou, hampir seluruh nya sudah mengenal satu sama lain, hanya tersisa dia—Nara saja yang kami tahu sebatas nama dan asalnya.

Aku dan Yu lan berpisah di Tengah jalan untuk kembali ke asrama masing-masing. Saat ini menunjukkan pukul 21.34 dimana setengah jam lagi asrama akan di tutup. Namun, ketika hendak menuju asrama, aku melihat Nara berjalan ke arah gedung kampus. Dari bentukannya, ia seperti tergesa-gesa, wajahnya tidak terlalu kelihatan sebab cahaya lampu yang remang-remang, tapi bajunya masih sama hanya dilapisi oleh celemek kusam yang entah didapatnya dari mana.

Apa yang dia lakukan di jam segini? Gumamku

Aku hanya melihatnya menghilang di balik dinding-dinding gedung dan berpikir mungkin ia meninggalkan barangnya di kelas jadi ia bergegas mengambilnya.

***

Keesokan hari, saat matahari mulai mengintip di ufuk timur aku sengaja berangkat lebih pagi agar bisa menunggu nya datang. Walau ia seperti tidak menginginkan dunia, setidaknya aku bisa membuatnya merasakan hal kecil dari dunia itu. Langkahku tiba di kelas setelah melewati lorong panjang berlantai batu abu-abu. Namun ternyata, bangku itu masih kosong.

Sepertinya ia akan kesiangan, pikirku.

Tapi, aku menunggunya lima menit. Sepuluh menit. Hingga satu jam berlalu, bangku yang biasa ia tempati tetap kosong. Nara, si Gadis Pagi hingga pelajaran dimulai belum menampakkan dirinya. Aku merasa ada yang aneh dari ketidakhadirannya. Seisi kelas pun bertanya-tanya mengenai keberadaannya, sebab ia seperti menghilang dalam bayangan. Dosen menyelesaikan seluruh pelajaran saat sore hari tiba, dan Nara masih belum terlihat.

”Xu an, Nara kemana ya?” Chen yu bertanya padaku. Aku hanya menoleh ke arah nya lalu menggeleng pelan. Kelas pun berakhir, tanpa ada yang mengetahui keberadaannya.

Aku berdiri cukup lama, pandanganku terpaku pada bangku kosong itu. Aku merasa ada yang tidak beres dengan kehilangannya. Setelah semua saling berpamitan, aku menarik Chen yu untuk melaporkan hal ini ke pihak dosen. Sambil membawa setumpuk tugas, kami bergegas menuju ruang dosen di ujung koridor lantai 2. Kami menceritakan kejadian hari ini tentang hilangnya Nara kepada Li Laoshi[3]—dosen penanggung jawab kami.

Tatapannya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mendengar mahasiswinya menghilang, kemudian berkata ”Saya pikir mengenai kejadian ini perlu minta bantuan ke pihak kepolisian. Kalian saja yang pergi melaporkannya, biar saya yang menghadap ke dekan fakultas.” pelan namun tegas.

Aku mengiyakannya dan kami segera berpamitan, namun sebelum kami membalikkan badan, mataku menangkap hal yang tak biasa. Di sudut ruangan tampak seorang pria dengan setelan casual ditutupi jaket denim berwarna coklat. Pria itu hanya berdiri di depan jendela dengan punggung menghadap ruangan dan tangannya terlipat rapi di belakang. Itulah hal yang menggangguku.

Kami bergegas menuju kantor polisi. Menjelang sore, kampus perlahan dipenuhi suara langkah yang bersahutan. Mahasiswa bergerak dalam arus yang rapi tapi tak seragam. Kami berharap sebelum matahari terbenam urusan Nara sudah mendapat titik terang.

”Oh iya, Chen yu, kau tahu tidak siapa laki-laki di sudut ruangan tadi?” aku menanyakan tentang pria di ruang dosen.

”Laki-laki yang mana?” jawabnya dengan wajah kebingungan akan pertanyaanku.

“Yang memakai jaket denim cokelat tadi, ia sedang menghadap jendela.” Jelasku.

“Ah, Gu Laoshi? Sepertinya maksudmu adalah dia,” ujarnya

”Gu Laoshi?” aku berpikir sejenak, ”Kok namanya belum pernah ku dengar?” tanyaku sembari mengecek daftar dosen di fakultas kami.

”Wajar sih. Setahuku Gu Laoshi tidak terdaftar sebagai dosen melainkan pustakawan, jadi lebih sering diperpustakaan.” Ujarnya. Setelah mendengar penjelasan Chen yu, sepertinya aku mengingat satu hal tapi belum bisa ku buktikan.

Aku mengangguk sambil mempercepat langkahku. Saat kami melewati gerbang fakultas, kami berpapasan dengan Yu lan dan Kawan-kawan. Aku merasa kami perlu bantuannya, jadi aku pun menceritakan apa yang telah terjadi. Yu lan seperti memiliki pemikiran yang sama denganku, walau kami berada dikelas yang berbeda tapi ternyata dia juga mencemaskan Gadis Pagi itu.

Yu lan setuju untuk membantu pencarian,”Kalian bikin laporan secepatnya, aku dan yang lain coba untuk mencari nya di asrama, ya.” ucapnya mengajukan diri untuk membantu mencari Nara. Aku tersenyum lega dan berterima kasih atas bantuannya.

Nara, aku tak tahu dunia seperti apa yang kau huni, kenapa pagimu dingin, siangmu gelap dan malammu hidup? aku hanya ingin kau tahu bahwa diantara banyaknya suara justru diam mu yang hidup diantara kami semua. Batinku.

”Kita juga harus segera melaporkannya,” ujar Chen yu. Dengan perasaan sedikit lega, aku mengiyakan perkataannya dan segera ke kantor polisi.

Kami tiba kantor polisi terdekat. Kantor itu tampak hidup dalam ritme yang tertib dan tegang, kami diantar oleh seorang polisi untuk membuat laporan. Kami berusaha memberikan informasi yang diketahui, satu orang mendengarkan dan seorang lagi memetikkan jari pada komputer.

”Baik, kami sudah menulis laporannya, setelah ini kalian bisa kembali ke asrama dan menyerahkan hal ini pada kami. Kami akan berusaha untuk menemukannya.” ujar salah satu polisi tersebut. Saat kami hendak berterima kasih, terdengar derap langkah yang tegas diikuti dengan berkas-berkas yang segera dirapikan dan candaan yang sejak tadi terdengar di sudut ruangan berhenti seketika, lalu dua polisi di depan kami segera memberi salam singkat.

Aku dan Chen yu dibuat sedikit tegang akan kedatangannya. Ia berhenti tepat didepan kami berdua, badannya lebih tinggi dari ku, tatapannya jernih yang memancarkan ketenangan dan ketegasan yang konsisten.

”Aku dengar ada seorang mahasiswi yang hilang, apa benar?” ujarnya sambil menunjukkan kartu namanya yang tertulis—Kapten Jiang dari divisi investigasi kriminal.

”Benar, pak.” ucap kedua polisi dibelakang kami serentak.

“Kasusnya aku ambil, akan ku sampaikan pada kepala kepolisian,” ujar Kapten Jiang sembari menyematkan rokok di kedua bibirnya. Matanya tertuju pada kami berdua yang masih terdiam akan kejadian barusan.

Nĭ hăo[4],” ucapku sembari membungkukkan badan.

”Aku tahu kalian pasti bingung. Ikut aku sekarang.” perintahnya sembari berjalan keluar ruangan. Chen yu tak bisa menyembunyikan wajah bingungnya, aku hanya berkata ”Sepertinya dia bisa dipercaya.” bisikku.

Ketika kami keluar, sinar matahari sudah sepenuhnya berganti menjadi sinar bulan yang malam ini tidak terhalang oleh awan hujan. Kami berhenti disamping sebuah kedai makan yang diisi oleh banyak pria mabuk dan penari wanita. Kapten Jiang menunjuk ke salah satu kedai yang berada di ujung kompleks. Kedai dengan nuansa merah temaram, disinari lampu-lampu kuning. Kedai itu bernama Hóng Shā Yè Guăn[5]. Sebuah kedai alkohol murahan yang memakai penari-penari wanita untuk mengundang pelanggan disekitar kompleks.

“Semalam kami mendapat laporan oleh salah satu penari wanita, kalau seorang pelayan dikedai itu mendapat kekerasan dari si pemilik kedai. Laporan terakhir menyebutkan pelayan itu tidak masuk sejak kemarin sore. Setelah kami tanya lebih lanjut, penari itu menjawab bahwa yang ia tahu kalau pelayan itu berasal dari luar negeri,” Kapten Jiang menjelaskan secara singkat laporan tersebut.

”Lalu, apa hubungannya dengan teman kami—Nara?” Chen yu belum menemukan hubungan antara keduanya.

”Teman kalian yang hilang asalnya dari Indonesia kan?” tanyanya sembari menatap kami berdua. Pertanyaan itu membuat dada ku mengencang. Aku merasa ada sesuatu yang tiba-tiba terasa jelas di balik sikap Nara yang misterius. Kami hanya mengangguk dengan wajah pasrah jika yang dimaksud memang adalah Nara.

Tetapi Kapten Jiang menggeleng lalu berkata, ”Itu masih dugaan, kalian tenang saja.” ujarnya dengan wajah yang terus menatap kedai alkohol itu. Ia membuang puntung rokok nya lalu berkata, ”Hari ini sudah larut, kita lanjutkan besok saja.” lanjutnya yang menyuruh kami pulang ke asrama.

Aku tahu ini hanya dugaan semata, namun dugaan itu juga memiliki 50% benar. Saat ini pikiranku dipenuhi tanda tanya. Aku merasa bahwa Nara yang selalu ku lihat diam, ia yang tidak membiarkan orang lain masuk ke dalam dunianya, pasti menyimpan harapan kecil di dalam hatinya.

***

Kelas hari ini berakhir singkat. Semua tetap berjalan tanpa kehadiran si Gadis Pagi. Sejak kami berpisah dengan Kapten Jiang, kami mendapat informasi dari Yu lan yang mengatakan bahwa Nara tidak terlihat di kamar sejak kemarin sore. Dengan penuh kecemasan ia mengatakan bahwa pengurus asrama pun belum melihat Nara lagi setelah ia berangkat ke kampus kemarin lusa.

Aku mencoba menenangkannya dan mengatakan tentang apa yang kami dapat dari Kapten Jiang semalam. Chen yu terlihat menepuk-nepuk bahu Yu lan seakan memberinya ruang untuk bernafas.

”Kita juga tidak menyangka akan dugaan ini, baiknya kita doakan sama-sama semoga diberi hasil yang memuaskan.” ujarnya.

Kami semua terdiam agak lama. Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi.

Wèi[6]?”

Wèi, ini benar Xu an?” tanyanya dari seberang telepon.

”Iya bener, ini saya.”

”Oh iya, saya Kapten Jiang. Kemarin dalam laporanmu mengatakan bahwa sempat melihat Nara sebelum asrama di tutup kan?”

Aku cukup kaget karna ternyata itu dari Kapten Jiang.

”Iya benar, Kapten Jiang.”

”Saya sekarang berada di depan asrama, kamu tolong kesini,” ucapnya.

Aku hendak membalas ucapannya namun setelah kalimat terakhir ia langsung memutuskan sambungan. Chen yu dan Yu lan memastikan apa yang dibicarakan oleh Kapten Jiang. Aku mengatakan bahwa saat ini Kapten Jiang berada di asrama sehingga kami segera bergegas menghampirinya.

Karena waktu istirahat belum selesai, maka sekitar asrama masih banyak mahasiswa yang berlalu-lalang. Tim dari Kapten Jiang terlihat sedang menelusuri sisa jejak kaki dibelakang gedung. Kami langsung menemui Kapten Jiang.

”Akhirnya kalian datang juga,” ujarnya saat menyadari kedatangan kami bertiga. Pandangannya tertuju pada Yu lan yang baru ia temui.

”Dia Yu lan, Pak.” ucap Chen yu sebelum Kapten Jiang bertanya. “Kami saling membantu dalam kasus Nara ini.” lanjutnya. Kapten Jiang mengangguk lalu memaparkan temuannya tanpa jeda.

”Xu an, coba cerita secara detail mengenai Nara yang kamu lihat pada malam itu.” tanyanya.

”Malam itu saya baru selesai belajar malam mandiri, lalu sekitar jam setengah sepuluh malam saya tiba didepan asrama, saat itulah saya melihat Nara jalan dari arah belakang asrama seperti tergesa-gesa menuju gedung kampus.” jelasku ”Karena posisinya malam jadi wajah Nara tidak terlalu kelihatan, namun saya yakin itu dia sebab baju nya masih sama dengan yang digunakannya saat dikampus, hanya ditambah oleh celemek kusam saja—” aku terdiam sejenak. Pemahaman itu muncul tanpa peringatan. Pelayan yang hilang, celemek usang dan kedai alkohol.

Ketika melihat ku terdiam, Kapten Jiang mulai mengarahkan bawahannya menuju kedai alkohol semalam. Ia juga menyuruh kami segera kembali ke kelas. Walau petunjuknya semakin jelas, aku masih merasa ada yang janggal.

***

Saat kelas selesai, aku mendapat kabar dari Kapten Jiang tentang kasus Nara. Kami pun berkumpul kembali. Kapten Jiang menyebutkan pemilik kedai—Fang Mo ikut andil, sebab ialah yang mempekerjakan Nara atas permintaan seorang pustakawan. Gu Laoshi? Gumamku.

“Ini juga masih dugaan, karna bukti hanya berasal dari kesaksian Fang Mo yang bahkan tidak bisa dipercaya sepenuhnya. Tapi, Fang Mo juga mengatakan, kalau pustakawan itu sering mendatangi kedainya saat Nara sedang bekerja. Tanpa ku katakan pun seharusnya kalian tahu maksudnya.” Ujar Kapten Jiang. Hal ini membuat pikiranku kacau dan nafas ku seakan tertahan.

”Orang seperti Nara terlalu mudah untuk disembunyikan. Tidak banyak yang akan bertanya jika ia menghilang.” Lanjutnya seakan memberikan tamparan keras untuk kami

Kenyataan seperti apa yang dirasakan Nara? Pikirku.

”Jika memang dugaannya seperti itu, berarti benar Nara saat ini dalam bahaya” lanjut Yu lan, ia seperti terguncang namun perasaanya lebih mencemaskan keadaaan Nara.

”Saat ini kami hanya menetapkan Gu Shen—pustakawan itu sebagai terduga tersangka, namun lebih pastinya kita harus menemuinya,” Lanjut Kapten Jiang. Setelah kalimat terakhirnya, raut wajahnya berubah. ”Tapi saat ini, kami tidak menemukan Gu Shen dimana pun.” ucapnya sembari mengusap wajah dengan kedua tangannya.

Gu Laoshi hilang? Atau dia sudah menyangka akan ketahuan? Kami merasa hal ini tidak wajar, sebab Gu Laoshi tiap malam akan membagikan materi ke ruang dosen agar besok pagi pelajaran bisa tetap berjalan.

”Kita cari ke perpusatkaan saja, Gu Laoshi memang lebih sering disana,” ujar Chen yu.

”Kami sudah memeriksa nya, namun hari ini perpustakaannya tutup.” jawab Kapten Jiang. Saat mendengarnya Chen yu merasa itu aneh, sebab perpustakaan tidak boleh ditutup tanpa pemberitahuan pada mahasiswa terlebih dahulu, karena ini merugikan mahasiswa.

”Sepertinya, Gu Laoshi ada di dalam perpustakaan,” ujar Chen yu, ia mengatakan hal yang membuatnya aneh. Semua masuk akal jika memang ia ingin menghindar maka perpustakaan adalah tempat aman untuknya. Kemungkinan besar Nara juga ada disana.

”Jika yang disebutkan Fang mo adalah kenyataan berarti ada dua tempat yang bisa kita periksa; ruang dosen dan perpustakaan.” Kapten Jiang menjelaskan garis besar petunjuk yang sudah didapat.

”Aku rasa kita harus membagi dua tim. Tim pertama memeriksa perpustakaan, dan tim kedua pergi ke ruang dosen.” ucapku mengajukan rencana.

”Oke, kalau begitu ikuti kata Xu an saja. Saya akan meminta pengertian dari dekan kalian.” jawab Kapten Jiang menyetujui rencanaku. Dadaku mengencang jantungku berdebar, malam ini kami akan segera menyelematakanmu Nara.

Langit mulai gelap, rintik hujan terasa pelan. Kelas malam tetap berjalan namun menyelematkan Nara tak bisa ditunda. Aku berada di tim yang sama dengan Kapten Jiang bertugas memeriksa ruang dosen. Secara perlahan kami berjalan menuju lantai 2 tempat ruang dosen itu berada. Aku menatap Kapten Jiang seakan mengisyaratkan adanya pergerakan.

”Kalian semua hati-hati, jaga langkah agar tidak menimbulkan banyak suara.” bisik Kapten Jiang. Kami semua mengiyakan peringatannya. Suasana koridor malam ini cukup sunyi setelah suara orang itu tidak terdengar lagi.

Tiba-tiba terdengar suara pintu ditutup yang diikuti langkah kaki di ujung lorong. Ruang dosen tampak terkunci dan tidak menunjukkan tanda pergerakan didalamnya, kami justru mendapati lampu gudang penyimpanan itu menyala. Aku mengajukan diri untuk masuk duluan ke dalam gudang, pintu gudang tidak terkunci rapat sehingga masih dapat ku buka.

Ketika mataku masih mengamati sekitar, aku menangkap sebuah pergerakan dari balik rak besi. Hawa dingin menyeruak dari dalam ruangan dan saat aku sampai di balik rak besi aku terkejut karena yang kutemui adalah Li Laoshi. Situasi di luar dugaan yang tidak ingin ku percaya. Aku masih terpaku saat melihatnya yang sedang terdiam setelah ditemukan olehku. Kapten Jiang dan yang lain dengan cepat mengambil tindakan, seisi ruangan dilakukan penggeledahan dan Li Laoshi dibawa untuk dilakukan interogasi.

”Laoshi,” panggilku yang tidak berani melihat wajahnya, suaraku terkecat tangaku gemetar ”Bukan Laoshi kan? Nara gak ada disini kan?” tanyaku masih berharap Li Laoshi bukanlah dalang dari semuanya.

”Aku hanya ingin mempertahankan apa yang tersisa,” ucapnya pelan. ”Tapi ternyata, mempertahankan itu jauh lebih kejam daripada kehilangan.” setelahnya ia berpaling lalu mengikuti para polisi yang menjemputnya.

“Aku sudah minta yang lain tetap periksa bagian dalam gudang ini, kamu kabari mereka yang berada di perpustakaan.” Kapten Jiang berbicara padaku agar aku tidak berlarut dalam terkejutku. Aku langsung mengambil telepon dan mengabari Chen yu dan Yu lan.

Wèi,”

Wèi, Xu an kami baru saja ingin mengabarimu” ucap Chen yu diseberang sana “Ternyata benar Gu Laoshi bersembunyi dalam perpustakaannya, sekarang dia sudah dibawa oleh tim Kapten Jiang—” saat hendak menjawab Chen yu, para polisi tiba-tiba memanggil kami.

”Kalian cepat ke gudang, sepertinya Nara memang disini.” ujarku lalu segera menghampiri bagian dalam gudang.

Benar saja, bagian dalam gudang itu memiliki sebuah ruang kecil lainnya. Dalam ruangan itulah Nara ditemukan dengan posisi terbaring di lantai dengan kaki di ikat. Badannya dipenuhi memar, bibirnya pucat, aku lega saat memastikan ia masih bernafas. Segala bayangan akan apa yang telah ia rasakan tiba-tiba memenuhi pikiranku. Aku bergegas membawa Nara ke rumah sakit terdekat untuk diberikan pertolongan pertama. Kami semua dihantui rasa cemas dan panik dengan keadaan Nara saat ini.

***

Hujan di kota Hangzhou kini telah berhenti, ia berganti kesempatan pada musim semi untuk menghidupkan udara yang sebelumnya suram. Setelah malam yang kami rasakan dulu, kini malam itu sudah menjadi bagian indah dalam hidup kami. Si Gadis Pagi kesayangan kami tidak lagi muncul dalam kelas yang setengah menyala, tidak lagi duduk sendiri dibangku baris kedua dan tidak ada lagi diam di balik dinding pertahanannya.

Nara, yang telah menghidupkan harapan kecilnya itu, akhirnya bisa membuat perasaanku lega. Ia dengan seribu diam nya kini dipenuhi senyum manis di wajahnya.

”Xu an, xièxiè nĭ[7].” Suara pelan yang baru kudengar, terasa hangat dan lembut ini berasal dari Gadis Pagi Bernama Nara.

[1] Hangzhou adalah ibukota provinsi Zhejiang di Tiongkok

[2] Dào artinya hadir/sudah datang. Paling sering dipakai, singkat dan formal-netral

[3] Laoshi artinya guru atau pengajar dalam Bahasa mandarin, digunakan sebagai sapaan hormat untuk guru di berbagai bidang.

[4] Nĭ hăo adalah sapaan standar dan formal yang paling sering digunakan untuk menyapa seseorang secara langsung, artinya “Halo” atau “Apa kabar”.

[5] Hóng Shā Yè Guăn artinya aula malam tirai merah.

[6] Wèi arti: Halo, digunakan hampir secara eksklusif saat mengangkat telepon.

[7] xièxiè nĭ artinya: terima kasih kepadamu. Xiexie: ”terima kasih”, ni: ”kamu”, menjadi ungkapan terima kasih yang lebih personal atau informal.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Novel
NONE the red wol
Alpri prastuti
Cerpen
Gadis Pagi Bernama Nara
faridha maharani azzahra
Novel
TIRAKAT
Mohamad Johan
Novel
Bronze
Menguji Janji
Y. N. Wiranda
Novel
Jejak dan Cinta
Muntashary Zain
Cerpen
The Boy Who Never Came Back.
chuang
Cerpen
Bronze
Sahabat Backpacker Ku
Christian Shonda Benyamin
Novel
The Strange Case of Milan and Madrid
Galilea
Cerpen
Bronze
Akademi Arkanum — Rahasia di Balik Kabut
christian
Flash
Mustika Kebahagiaan
Erlang Kesuma
Cerpen
Bronze
Kegelapan yang Meringkus Bulan
Aralya Seraquin
Novel
KOMA - Hidup dan Mati
Margo Budy Santoso
Novel
Bronze
The Motive
IyoniAe
Cerpen
Ketika Telepon Terputus
zain zuha
Novel
TINTA HITAM
Rizki Mubarok
Rekomendasi
Cerpen
Gadis Pagi Bernama Nara
faridha maharani azzahra
Cerpen
Angin Sore dan Pohon Kehidupan
faridha maharani azzahra
Cerpen
chabi & beni
faridha maharani azzahra