Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hari ini aku janji temu dengan anak tante—teman ibu. Anya, namanya. Gadis itu sudah lama tinggal di Singapore, lulusan Temasek Business School (Tebus), dan sekarang memutuskan pulang.
Aku memarkirkan sepeda motor agak sedikit jauh dari parkiran kafe Rendezvous itu karena dipenuhi mobil-mobil. Aku merasa minder karena tidak ada satu pun sepeda motor di sana. Tempat itu dipilih oleh Anya atas rekomendasi ibunya—jadi aku menurut saja.
Begitu masuk, berada di deretan ketiga, seorang gadis duduk membelakangi pintu dekat koridor.
“Anya?”
“Hans, ya?, Silakan duduk.”
“Maaf, lama nunggunya ya?”
“Enggak kok, cuma setengah jam saja,” ujarnya sambil tertawa.
Aku duduk di hadapannya. Gadis itu ternyata cantik, dengan rambut hitam panjang, mengenakan blazer hitam yang chic dan simpel.
Permisi
Tiba-tiba seorang waitress datang. “Sudah memesan?”
“Silakan yang wanita saja dulu,” ujarku berbasa-basi.
“Aku air putih saja,” ujarnya.
“Jangan sungkan, aku yang bayar.”
“Baiklah. Aku pesan Eclair, Clafoutis Tart dan Mocha Hazelnut Latte,” ujarnya menerocos menyebut nama-nama menu mahal yang ada di kafe itu, membuatku menggaruk kepala meski tidak gatal.
“Aku air putih saja, aku suka makanan yang sederhana,” kali ini aku sebenarnya tidak basa-basi, lebih tepatnya panik.
Aku mencoba mengatasi gugup. “Cuaca hari ini cerah, ya?”
“Lumayanlah, cuma kabut asapnya parah, bisa merusak kulit,” ujar Anya sambil mengelus pipinya seperti sedang mengoles krim.
“Tapi tidak kok. Menurutku, kulitmu bagus.”
“Benarkah? Kamu juga melihatnya?” Kali ini mukanya begitu antusias.
“Kalau begitu, kamu tahu kenapa?”
“Tidak tahu.”
“Karena sebenarnya aku menggunakan sebuah produk. Nama produknya adalah Maxtiew,” katanya sambil menyebut sebuah nama produk yang tidak kukenal.
“Kamu tahu nggak? Produk ini tuh khusus untuk cuaca berkabut asap. Bisa melindungi kulit dari polusi luar. Di dalam produk ini terdapat mineral yang disebut dengan Mineral Ajaib – Bikulmus.”
Aku asal menebaknya sebagai “Bikin Kulit Mulus – Bikulmus”. Entahlah, ia juga tidak peduli menjelaskan istilah itu.
“Sangat cocok untuk kulit seperti di tempat kita.”
Aku menatapnya takjub, tapi juga bingung: ngomong apaan sih?
“Menurutku itu omong kosong.”
“Omong kosong? Ini produk khusus dari Maxtiew! Ini adalah antioksidan yang dikembangkan oleh Mr. Max, ilmuwan dari Italia, dan bisa melindungi kulit.
Ada fungsi perbaikan diri, selain memperbaiki kondisi kulit, juga membuat wanita jadi terlihat muda dan cantik,” katanya sekali lagi sambil mengelus wajahnya seperti mengoles bedak.
“Produknya terdengar bagus.”
“Tentu saja! Dan produk Maxtiew sekarang viral, dipakai oleh sembilan dari sepuluh wanita.”
Mereka hening sejenak setelahnya. Aku menggaruk rambutku yang tidak gatal, menarik nafas panjang.
“Baiklah, aku mau memperkenalkan diri dulu,” ujarku memotong agar fokus ke rencana awal pertemuan.
“Tidak usah. Tante sudah memberitahu latar belakangmu.”
Aku terkejut mendengarnya, tapi juga penasaran.
“Sesuai dengan namamu, latar belakangmu biasa saja. Tapi menurutku kamu memang pria cukup tampan, perantau dari Sumatera, berbisnis kecil-kecilan, dan punya sedikit tabungan. Pria seperti kamu akan sulit mendapat pacar yang lebih baik.”
Aku menatapnya dengan mata menyipit tidak percaya.
“Pria seperti apa sih aku menurutmu? Aku tidak kelihatan terlalu buruk, kan?”
Gadis itu tertawa.
“Itu menurutmu, kan? Saya kasih tahu ya, cewek-cewek sekarang sangat realistis. Begitu ketemu langsung tanya, rumahmu seluas apa? Punya MBA nggak?”
“Apa itu?”
“Itu saja nggak tahu? Mercedes, BMW, Audi. Kalau ketemu yang lebih halus, dia akan tanya, garasi rumahmu luasnya berapa?”
“Aku tidak peduli hal-hal seperti itu.”
“Nah, itulah. Kalau orang yang tidak punya rumah dan mobil, pasti tidak akan peduli. Hari ini kamu ketemu saya. Kalau ketemu cewek lain, sudah cari cara untuk kabur.”
“Aku berterima kasih kepadamu.”
“Permisi.”
Tiba-tiba percakapan disela. Beberapa waitress datang mengantar empat porsi makanan dan terakhir segelas air putih untukku.
“Silakan, jangan sungkan,” ujarku berbasa-basi lagi meski dalam hati mengutuk.
“Sama-sama saja makannya." ujarnya.
Aku mempersilakannya, "Kamu dulu.”
Aku benar-benar kehilangan selera makan membayangkan berapa biaya yang harus aku bayar untuk semua makanan yang terhidang di meja di depanku sekarang. Sementara ia mulai makan tanpa basa-basi dan menurutku meskipun terlihat sopan ternyata ia doyan makan. Setiap suapan yang kunyahannya belum habis sudah disambung suapan berikutnya. Aku terkejut, meskipun ia berbadan ramping dan berwajah cantik, gadis itu rakus.
***
Sementara itu, teman-temanku yang menunggu di sanggar mulai dihinggapi rasa penasaran bagaimana kabar pertemuanku dengan gadis kencan barunya itu.
“Apakah Hans akan berhasil kali ini?”
“Entahlah. Aku pikir, seperti biasa, dia akan pulang dengan tangan hampa.”
“Tapi tidak menurutku. Kali ini ia pasti akan memilih. Setelah sekian kali gagal dan orang tuanya mendesaknya menikah, ia tidak akan punya pilihan lain untuk menolak. Dan meski terpaksa, ia akan memilih,” ujar Tigor yang sudah bertaruh meminta traktiran mi udon dari gerai top yang mahal.
“Itu karena kamu mau makan mi udon,” ujar Mira protes.
“Kita tunggu saja. Dari tadi ribut berspekulasi,” ujar yang lainnya.
***
“Kamu tahu, aku yakin orang yang bertemu denganku akan mengalami perubahan yang positif,” ujar Anya melanjutkan obrolannya sambil terus mengunyah makanan, sementara aku hanya meneguk air putih sambil melihatnya makan dengan lahap di setiap suapannya.
“Apa kamu tidak peduli latar belakang pacarmu?”
“Bukan tidak peduli, tapi aku percaya diri bisa membantunya berubah, yang miskin jadi kaya, yang rendah diri jadi percaya diri dan yang pendiam jadi terbuka, apalagi yang murung jadi ceria.”
Aku memandangnya takjub. Apa gadis yang di depanku ini calon pacar, investor, atau psikolog?
“Tapi aku tidak bergabung dengan sekte apa pun?.” Ujarku asal membantahnya.
“Ini bukan sekadar itu,” katanya. Kali ini berhenti makan dan serius menatapku.
“Ini tentang perubahan hidup yang harus diperjuangkan. Aku ingin mendukung produk lokal.”
“Menurutku itu bagus. Tapi bukankah kita sedang kencan?”
“Iya, memang sedang kencan. Tapi begini, anggaplah kamu adalah cowok yang tidak memiliki apa-apa, dengan penghasilan yang sedikit. Apa menurutmu kamu akan punya masa depan yang bisa menarik perhatian wanita? Apakah kamu pantas untukku? Tapi begini saja tidak apa-apa. Siapa pun cowok yang aku sukai punya kesempatan berubah total bersamaku. Apakah kamu akan menerima kesempatan ini semua tergantung pada kecerdasanmu.”
“Apakah kamu punya sesuatu?” Gadis itu bertanya seolah menyelidik.
“Tidak ada yang penting.”
"Hape?"
"Lainnya?"
“Laptop?”
“Punya.”
“Nah, daripada membuang waktu dengan main internet, mending jual aja laptop itu. Dan dengan uang itu, kita mulai sebuah usaha yang bisa memberimu kesempatan dan peluang baru. Hanya dengan dua juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu, kamu sudah bisa memulai sebuah bisnis baru. Kamu bisa membeli satu set produk Maxtiew untuk memulai usaha barumu itu. Dan kamu sudah bergabung dalam keluarga kami. Bersama-sama menciptakan usaha mandiri.” Semangatnya terlihat seperti pejuang yang akan maju perang dengan mengepal tangan.
“Hari ini aku membawakan produknya untuk kamu,” katanya sambil mengeluarkan sebuah kotak berwarna kuning dari kursi di sebelahnya.
“Inilah produk Maxtiew yang aku ceritakan dari tadi. Kamu tahu, satu set boks ini harganya sebenarnya empat juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu, tapi untukmu aku bisa berikan harga menarik. Menurutku, dengan latar belakangmu ini, akan cocok jadi bisnis mandiri barumu. Supaya kamu punya masa depan lebih baik. Kamu beruntung bertemu denganku hari ini.”
“Berapa komisinya?”
“Tidak enak bicara komisi. Kami menyebutnya biaya promosi usaha. Setiap kali kamu bisa menjual produkku ini, kamu juga bisa mengembangkan pelanggan. Mereka akan dapat manfaat, kamu juga akan naik peringkat. Dan persentase penghasilan akan naik setiap levelnya.”
“Pasti levelmu sudah tinggi ya? Paling tidak diamond?” ujarku.
Dia tersipu.
“Tapi sebentar lagi dari jade, aku pasti akan naik ke diamond. Jadi gimana? Mau tunai atau kredit?” katanya sambil mengeluarkan EDC--Electronic Data Capture untuk menerima pembayaran via kartu.
“Maaf. Kalau sedang kencan, jangan bahas bisnis. Kalau mau ngajak bangun jaringan, mending kita nggak ngobrol lagi,” kataku mulai kesal.
“Tapi aku pikir tadinya kamu orangnya lumayan dan cocok dengan seleraku. Dan aku mulai tertarik. Tapi setelah kenal lebih dalam, ternyata kamu orangnya begini,” ujarnya seolah aku yang bersalah jadinya.
“Pikiranmu kolot dan kaku. Nggak mau terima hal baru,” katanya nyaris seperti protes. “Orang sepertimu tak pantas memiliki pacar sepertiku.”
“Baiklah, aku akan berubah. Akan belajar produk yang canggih ini, dan aku juga akan belajar cara membual yang luar biasa seperti kamu jelaskan barusan. Supaya aku bisa dianggap menerima hal-hal baru. Termasuk manajemen keuangan yang terbaik. Dan sekarang, aku juga akan memilih cara membayar yang paling populer di dunia sekarang ini, bayar masing-masing. Siapa yang pesan, itu yang bayar sendiri.”
Aku mengeluarkan dua puluh ribu dari dompetku meletakkan di bawah gelas.
Anya terperangah.
“Tapi bukankah kamu bilang kamu yang traktir?” teriaknya ketika melihatku beranjak pergi.