Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Langkah Raban terhenti sewaktu ia hendak memasuki ruang praktiknya. Di sana, di salah satu jajaran kursi tunggu yang menghadap pintu, seorang wanita muda yang tengah menatap kosong ke depan dan mengusap pelan perutnya langsung menjatuhkan perhatiannya. Jantungnya berdentum tatkala menikmati profil samping si wanita yang sehalus krim sabun, atau sesegar embun pertama yang luruh dari dedaunan pagi. Namun, semakin ia lekat menatap, semakin ia yakin akan satu hal: ia tak pernah mengenal sosok perempuan itu ataupun bertemu dengannya barang sekali.
Mata Raban mengerjap-ngerjap saat ia memutuskan untuk menyeret kakinya kembali. Dahi beningnya berkerut samar sembari menguras pikiran akan wanita muda yang sangat menarik, juga menimbulkan perasaan sedih yang mendadak berhambur menerjangnya tanpa meninggalkan alasan secuil pun. Beberapa pasiennya mulai menyapa; ia berbalik menarik dua ujung bibirnya ramah, seperti biasa. Dan, kebetulan yang menyenangkan, perempuan itu turut menoleh ke arahnya, dengan tampang yang tak menunjukkan ekspresi apa pun, dengan anak rambut dan peluh yang memeluk sebagian wajahnya seperti tatakan hasil seni yang bebas namun teratur hingga membuat Raban kian linglung.
Rasa tak asing yang mula-mula menyergapnya pagi ini menjadikan seluruh logika Raban menggila. Ia berusaha mengingat selama duduk di mejanya, dan menemukan perempuan itu bukan juga salah satu pasiennya. Selama ini ingatannya baik, sampai ia berhasil menjadi seorang dokter kandungan tersohor. Tetapi, si wanita yang terlihat familier baginya itu telah sukses mengobrak-abrik seluruh keyakinannya.
Sampai satu per satu nama mulai terpanggil, Raban yang biasanya mahir jadi bersikap tak tenang. Tiap ia menemukan satu nama yang menarik atau familier, ia berharap bahwa itu waktunya si wanita yang telah menambat hatinya sejak pandangan pertama mendapat giliran untuk berkonsultasi dengannya. Hingga sebuah nama yang asing―yang cukup membuat keningnya terlipat dalam karena tak sesuai ekspektasi―berada dalam panggilan berikutnya.
“Ibu Niang?”
Lidah Raban masih terasa aneh sewaktu menyebutkannya. Ia pikir nama perempuan itu bakal terasa familier seperti apa yang ia rasakan padanya. Namun, ia salah besar. Harapannya kandas. Suatu fakta yang mengecewakan bahwa ia benar-benar tak mengenal perempuan ini, tetapi terasa begitu terhubung.
Perempuan itu mengangguk satu kali, lantas duduk di hadapan Raban. “Benar, Dok,” ucapnya tenang. Wajahnya masih setenang permukaan air tanpa riak.
Raban sepertinya semakin frustasi. Ia bahkan tak menemukan sepatah kata untuk memulai konsultasinya ini.
“Jadi … berapa usia kehamilan Ibu sekarang?” Raban pada akhirnya memilih pertanyaan umum tersebut sembari menyibukkan diri, demi menghindari kontak mata dengan Niang. Suaranya turun satu oktaf dibanding suara yang biasanya ia tujukan pada pasien lain.
“Kurang lebih lima bulan jalan, Dok. Maaf saya baru pertama kali kontrol di sini.”
Raban menghentikan gerakannya, kemudian terpaksa menatap Niang. Ia mengangguk, lebih tepatnya untuk pengertian dirinya sendiri.
“Anda bukan warga sini, ya?” tanyanya acak, menyampaikan praduganya.
“Benar. Saya baru pindah dari kota sebelah.”
Suara yang setenang wajahnya menjadikan perasaan Raban semakin kacau. Ia sungguh tak menemukan tali penghubung khusus dengan Niang. Namun, entah mengapa terasa sangat dekat seperti permukaan koin yang saling bersisian.
“Baik, Bu Niang,” Raban menuliskan data Niang di komputernya dengan sikap profesional, lantas menunjuk sebuah brankar di sudut ruang, “silakan berbaring di sana, saya akan mulai memeriksa kondisi Anda.”
Sambil mengusap perutnya yang mulai membesar, Niang mengikuti arahan Raban. Begitu ia membaringkan tubuhnya, dadanya naik-turun cepat. Perempuan itu menarik napasnya panjang, persis seperti seseorang yang tengah berusaha menangkis rasa gugupnya.
Sementara itu, Raban bergerak dengan sangat hati-hati saat memeriksa Niang. Ia bahkan berusaha setengah mati untuk menyembunyikan getaran tangannya selagi mengusap perut buncit Niang menggunakan gel khusus, dan menyapukan transduser USG seolah ia sedang memperlakukan periuk berharga yang mudah pecah.
“Nah, ini dia.” Tangan Raban berhenti di satu titik yang berdenyut-denyut di layar. “Gerakannya mulai aktif, ya. Bagus. Oh iya, apa ini kelahiran pertama Anda?”
Untuk pertama kalinya, ia menyaksikan wajah Niang tampak kaku tatkala melihat layar. “Iya, Dok,” sahutnya lebih mirip seperti embusan napas dari mulut.
“Apa dia baik-baik saja?”
Raban terasa sesak di ulu hatinya. “Tentu saja. Dia terlihat senang karena berjumpa dengan Anda.”
Niang mengulum senyum yang membuat dada Raban berdesir. Senyum tulus yang entah mengapa, begitu menyakitkan. Rasa-rasanya jantung pria itu berdegup tak normal selama masa konsultasi ini.
Usai bertemu Niang pagi itu, Raban tak dapat berkonsentrasi menjalani sisa harinya. Suatu pusat di otaknya hanya menimbang ihwal hubungannya dengan Niang, atau kapan dan di mana mereka pernah bertemu sebelumnya.
Malamnya, Raban mengalami mimpi yang merekahkan hatinya. Tak lain dan tak bukan karena ia memimpikan Niang dalam tidurnya. Mereka tengah berada di tengah ladang waktu itu. Hijau di mana-mana, terhampar luas, dengan perbukitan landai mengepung.
Raban memindai sekitar. Tempat ini belum pernah ia kunjungi. Tapi, entah mengapa begitu tak asing. Perasaan familier juga berdenyut tak wajar.
“Raban ….”
Sebuah suara yang mendayu lembut meniupkan namanya tak pelak seperti angin sejuk yang berembus. Raban cepat-cepat berpaling, dan menemukan sosok Niang berdiri di ujung pematang. Ia mengenakan gaun putih berpotongan sederhana, cantik, indah, rambutnya berkilau di bawah terik matahari. Raban tak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk keindahan yang mengusik itu.
Raban menghampiri perempuan itu, begitu terlena dan terpana. Ia sempat melirik perut Niang yang anehnya tak membuncit. Ada di mana dirinya? Sebatas imajinernya? Tetapi, tempat ini terasa sangat nyata.
Namun, setiap Raban mengikis jarak di antara mereka, Niang semakin beringsut menjauh dengan caranya yang ajaib. Nyaris seperti sosok peri yang terbang, atau melayang, atau barangkali terserap ke dalam cahaya.
Lalu, tiba-tiba Raban merasakan dadanya berdenyar sakit. Netranya melihat angin menerpa rambut elok Niang bersamaan dengan sebuah bunga dandelion yang satu per satu pappus-nya terkikis oleh embusan angin, runtuh, dan terbang menuju cakrawala. Bulu halus bunga itu musnah tepat saat bayangan Niang menghilang.
“Tidak! Jangan pergi―”
Raban tersentak dari tidurnya. Bulir-bulir keringat memaku parasnya yang tampan. Namun, rasa sakit masih berdenyut-denyut aneh dalam hatinya. Dan dirinya berani bersumpah, ia pernah merasakan perasaan ini satu kali.
***
Berikutnya satu hari yang dinantikan Raban akhirnya tiba juga. Perempuan itu mendapat giliran memasuki ruangannya yang didominasi oleh warna putih. Kali ini Niang melempar tatapan ke arah Raban lebih dulu sejenak sebelum melewati ambang pintu. Raban yang sejak memanggil nomor antrian sudah merasa tegang jadi semakin kaku dari balik mejanya.
Raban lalu mempersilakan Niang duduk di hadapannya, menyembunyikan gerak-gerik gelisahnya akibat mimpi yang dialami beberapa kali. Anehnya, Raban merasa energinya seperti tertular kepada Niang. Tampak jelas bahwa perempuan itu kini tengah meremas-remas jemarinya, atau beberapa kali memindahkan posisi kakinya.
Karena cemas, Raban lekas memeriksa kondisi kesehatan Niang secara keseluruhan, termasuk janin yang dikandung. Sebelum meraih tangan Niang, ia khawatir seumpama perempuan di depannya ini menyadari jika keringat dingin telah membanjiri telapak tangannya. Tapi, begitu menyentuh tangan Niang, justru dirinya yang tersentak. Tangan Niang laiknya es.
“Tekanannya bagus, 110/70. Berat badan juga stabil.” Raban mendesah lega, lalu menyerahkan beberapa lembar vitamin. “Ini, ya. Jangan lupa diminum setiap pagi.”
Niang menarik napas panjang-panjang sewaktu mendengar suara Raban mengalun lembut, kemudian mengangguk sambil berusaha menghindari kontak mata. Raban menyadari gestur kecil itu, dan merasa tercekik oleh napasnya sendiri. Ia buncah apabila ketertarikan terhadap perempuan ini begitu kentara. Namun, ia tak dapat menahan diri untuk tak bertanya sesuatu yang sudah menggelitik rasa penasarannya.
“Hmm―Bu Niang―apa Anda pindah ke sini karena pekerjaan? Atau―”
“Masalah keluarga, Dok,” sahut Niang melahap umpan langsung meski nadanya terdengar sedikit ketus. Dan, kali ini, ia memancarkan luka yang menyeruak begitu saja tanpa pelindung lagi.
Mulut Raban terkatup. Tatapannya lebih lama dari biasanya, bersirobok dengan manik mata indah milik Niang dalam keterdiaman. Entah mengapa Raban mengerti. Ia tahu rasa sakitnya sebab ia juga merasakannya.
“Tolong jaga kesehatan Anda. Jangan lupa kontrol empat minggu lagi, ya.”
“Baik.” Niang tersenyum. “Senang bertemu dengan Anda, Dok.”
Perempuan itu bangkit setelah sebelumnya melirik papan nama yang terletak di atas meja. Bahkan, sebelum melewati ambang pintu ruang Raban, ia sempat menoleh lagi ke arah dokternya. Tubuh Raban menegang di kursi. Ia takut ketahuan memimpikan Niang dalam tidurnya.
***
Namun, rupanya mimpi-mimpi itu terus membelai tidur Raban. Hampir setiap malam ada Niang di dalam mimpinya. Hadir dalam wujud seorang wanita cantik dengan sederhana. Rambut panjang yang kadang terurai indah, ataupun dikepang dua layaknya kembang desa.
Seperti saat ini, ladang nan menghijau membentang di matanya. Raban mendapati dirinya mengendap-endap, kemudian dengan usil meniup telinga Niang hingga membuat perempuan itu terlonjak, memelototkan mata, lalu bergegas menangkapnya yang sudah dalam posisi melarikan diri.
Sejalur pematang menjadi saksi biksu kala itu. Kaki-kaki mereka menjejak lincah di atasnya, diselingi omelan Niang, pun tawa keduanya.
“Niang, tabunganku sudah cukup terkumpul. Kita bakal menikah sebentar lagi. Kamu senang?” Raban mengumbar senyumnya sewaktu mereka duduk di pematang, lelah setelah berlarian.
Sepasang mata indah milik Niang berbinar. Pekikan singkat menunjukkan betapa ia terkejut, sekaligus merasakan bahagia dalam waktu bersamaan.
“Kamu serius, Mas? Jumlahnya persis yang kamu targetkan itu?”
Raban berjengit, tak melepas senyum dari bibirnya barang sedetik pun. Apalagi tatkala rona menyembul di kedua pipi Niang. Menjadikan Niang sebagai putri cantik impiannya sejak masa kanak-kanak akan menjadi nyata. Raban sudah lama memendam perasaannya dari pertama kali mereka kenal.
Diam-diam, tepat saat Niang menggumamkan suatu doa syukur, tangan Raban meraih bunga dandelion yang baru saja ia petik dan menyelipkannya di telinga perempuan itu. Niang menoleh, terperangah, dan sedikit mengerucutkan bibir.
“Bunga yang indah. Putih. Tapi, ia akan rontok pada waktunya. Bukannya sayang sekali, Mas Raban?”
“Meski rontok atau layu, bunga tetaplah bunga.” Raban mengusap pelan rambut Niang yang berkilau bermandikan cahaya matahari. “Ia tetap cantik sepertimu, Niang. Walau waktu menggigit habis fisikmu nanti, sampai kita berjumpa di kehidupan berikutnya, aku bakal tetap mencintaimu.”
Awalnya, mata Niang tampak dilapisi kabut bening. Perlahan kabut itu menyeruak dari balik pelupuk, lantas menjelma menjadi embun yang bergulir di pipinya. Entah mengapa, netra Raban juga memanas. Air matanya mulai ikut merebak.
Namun, beberapa langkah kaki orang-orang yang terdengar mendekat menyerobot perhatian baik Raban maupun Niang. Keduanya buru-buru berdiri dan memperhatikan massa yang mulai mendekat. Niang tercekat menangkap ada ayahnya di salah satu kumpulan tersebut dengan wajah berang. Sosok pria dewasa yang menjabat sebagai lurah berada tepat di sisinya.
“Niang!” Ayahnya sudah berteriak dulu bahkan sebelum mereka berhadapan.
“Apa benar kamu sudah tidur dengan Pak Lurah?!”
Tubuh Niang sontak menggigil, mengkeret. Apalagi matanya sempat melirik singkat sosok pria bercambang dengan ujung bibir terangkat. Sementara itu, Raban tersentak dan turut mengangkat wajahnya ke arah Niang dengan ekspresi menuntut.
Niang sebenarnya ingin menggeleng. Tetapi, ia tahu, itu hanya kesia-siaan belaka. Akan ada hal yang jauh lebih buruk kalau ia sampai melakukannya. Buntutnya bakal lebih panjang lagi. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Malam itu, bisakah ia hanya melupakannya?
“Tidak apa-apa, Pak De.” Pak Lurah mendadak menengahi tepat sebelum Niang sempat angkat bicara. “Saya ikhlas lahir batin menikahi Niang. Saya akan maafkan dia, kok.”
Mata Niang berkedut. Pria itu berpikir siapa yang memaafkan siapa? Sampai maut menjemputnya, ia berjanji tak akan mengampuni pria itu.
“Niang, jangan.”
Suara Raban menggetarkan hati, mengguncang jiwanya. Belum lagi sentuhan pria yang ia cintai itu bagai listrik yang menyengat kulitnya sekarang. Sampai-sampai ia tak mampu lagi melabuhkan tatapan pada pria muda itu. Ia tak akan sanggup melihat luka ada di sepasang netra Raban.
Sebagai gantinya Niang menepis genggaman pria itu. Di dalam hatinya, ia berjanji akan menebus semua kesalahannya suatu kali jika diberi kesempatan untuk bertemu dengan Raban kembali. Niang hanya dapat membumbungkan harapan jika Raban bahagia, jauh dari duka seperti kesialan menimpanya kali ini.
Raban hanya menelan saliva yang terasa sepahit empedu tatkala Niang lebih memilih menghampiri sekumpulan warga, lebih tepatnya mendatangi ayah dan pria bercambang itu. Kemudian orang-orang tersebut menggiring Niang dan lurah menjauh dari tempat Raban berdiri.
Sebelum hilang dari pandangan, Niang sempat menoleh ke belakang dan berbisik, “Masihkah bunga itu indah bagimu, Mas?”
***
Dua mata Raban mengerjap-ngerjap, lantas terbuka di tengah gelapnya kamar. Dengan sisa-sisa tenaga ia memaksa untuk bangun dan menyalakan lampu di dekatnya. Entah mengapa kekosongan langsung terasa merasuk. Sesaat ia merasakan linglung yang menyakitkan.
Raban menarik napas panjang, berusaha menghalau perasaannya yang hancur. Ia sekarang mengerti mengenai mimpi itu, bahwa itu bukanlah sekadar mimpi, tetapi sesuatu yang terpendam selama ini. Ia tahu mimpi itu nyata, meski belum pernah ia alami sepanjang usia tiga puluh lima tahunnya.
Pagi ini Raban menunggu kedatangan perempuan itu lagi, sudah saatnya ia melakukan kontrol. Setelah menyadari semuanya, Raban tak akan mengatakan apa pun mengenai de javu-nya, atau kepercayaannya perihal kehidupan yang sejatinya terus lahir dan mengulang pola yang sama. Ia tak akan mengatakan bahwa Niang ada di hidupnya sebelum ini; ia hanya akan menikmati waktu bersama Niang lagi.
Namun, pagi itu Niang tak kembali. Bahkan hari-hari berikutnya dan bulan-bulan berganti tahun, Niang tak pernah datang. Ia melakukan kesalahan lagi, meninggalkan Raban sekali lagi. Seperti pappus dandelion yang tanggal meninggalkan bunga. Polanya memang sama.