Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Fotografer Dadakan Yang Jatuh Hati Diam-Diam
0
Suka
2
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Namaku Aryo. Sehari-hari, duniaku berputar pada rotasi galon air mineral, orbit sapu ijuk, dan revolusi kain pel. Jabatanku mentereng: Chief of Hygiene and Logistic Support atau dalam bahasa manusia normal: Office Boy (OB). Aku adalah hantu di kantor ini. Aku ada, aku melihat semuanya, tapi seringkali aku tidak dianggap ada. Aku melihat siapa yang selingkuh di tangga darurat, aku tahu siapa yang nangis di toilet karena dimaki bos, dan aku tahu kopi siapa yang harus diaduk searah jarum jam.

Tapi, ada satu orang yang selalu "melihat"ku. Mbak Devi. Karyawati mungil dari Divisi Akunting. Devi itu... bagaimana menjelaskannya ya? Jika kantor ini adalah file Excel yang membosankan dan penuh angka merah, Devi adalah Conditional Formatting berwarna hijau neon yang menyegarkan mata. Dia cantik. Cantik yang tidak intimidatif, tapi cantik yang bikin hati adem kayak ubin masjid.

Hanya saja, interaksiku dengannya sebatas naskah drama satu babak yang diulang-ulang setiap hari: "Misi Mbak, galonnya habis?" "Eh, iya Mas Aryo. Makasih ya." Atau: "Mbak, ini paketnya." "Makasih Mas Aryo, taruh situ aja."

Sudah. Itu saja. Hatiku ingin berteriak, "Mbak, senyummu mengandung glukosa tinggi, bahaya buat penderita diabetes!" tapi mulutku hanya bisa bilang, "Permisi." Aku ini introvert level akut. Kalau disuruh ngomong sama cewek cantik, sistem sarafku langsung error 404.

Sampai suatu hari, Mas Hanif, senior di divisi Devi yang terkenal pelit... eh, maksudnya "efisien" dalam anggaran, mendatangiku di pantry.

"Yo, Aryo. Kamu lagi sibuk nyuci gelas gak?" tanya Mas Hanif sambil celingukan.

"Enggak Mas. Aman. Kenapa Mas? Mau pesen kopi gula aren lagi? Gula arennya abis lho Mas."

"Bukan, bukan. Gini Yo. Minggu depan kan ada Townhall Meeting tahunan perusahaan. Pak Bos Si Botak itu minta dokumentasi yang proper. Tapi budget dari keuangan dipotong lagi. Kalau sewa vendor fotografer, biayanya mahal banget, bisa 5 juta sehari. Sayang duitnya."

Mas Hanif mendekat, merangkul pundakku sok akrab. "Aku denger-denger, kamu hobi motret ya? Sering hunting foto kucing jalanan kan?"

Aku mengangguk ragu. "Iya Mas. Dikit-dikit ngerti sih soal ISO sama Shutter Speed."

"Nah! Cucok! Gini aja. Daripada duit kantor abis buat sewa fotografer luar yang belum tentu ngerti angle kantor kita, mending kamu aja yang jadi fotografernya. Kamera pake punya aku, DSLR Canon lama tapi lensanya tajem. Nanti aku kasih honor tambahan deh. Gimana? Mau gak?"

Awalnya aku mau menolak. Aku ini OB, bukan seksi dokumentasi. Tugasku memastikan lantai bersih, bukan memastikan wajah Pak Bos terlihat glowing di foto. Tapi kemudian otakku memutar simulasi. Acara tahunan = Semua karyawan kumpul. Semua karyawan kumpul = Mbak Devi ada di sana. Jadi fotografer = Punya alasan sah buat mandangin Mbak Devi lewat lensa tanpa dikira stalker. Dan yang paling penting: Mungkin ada momen aku bisa ngarahin gaya dia. "Mbak Devi, senyum dikit... Yak, cantik!"

"Boleh Mas Hanif. Saya siap," jawabku mantap. Bukan demi uang. Demi Devi.

"Sip! Mantap! Nanti hari H kamu pake batik ya, jangan pake seragam OB. Biar berbaur. Inget, dokumentasikan semua momen penting. Pidato bos, audiens, sesi tanya jawab, makan siang, semuanya."

"Siap Mas!"

Aku tidak tahu, bahwa keputusan ini akan menjadi awal dari bencana digital paling memalukan dalam hidupku.

 

Hari H tiba. Aku datang dengan kemeja batik lengan panjang (yang agak kegedean dikit, pinjeman bapak). Leherku dikalungi kamera DSLR berat punya Mas Hanif. Aku merasa gagah. Aku bukan lagi Aryo si tukang pel. Hari ini, aku Aryo The Photographer.

Acara dimulai di Ballroom hotel (yang sebenernya cuma aula ruko sebelah yang disewa murah). Karyawan mulai berdatangan. Dan di sanalah dia... Devi. Ya Tuhan. Biasanya dia pakai kemeja kerja yang formal. Hari ini, karena temanya Smart Casual, dia pakai blouse warna peach dan rok span selutut. Rambutnya yang biasanya dicepol asal-asalan, hari ini digerai lurus, berkilau memantulkan cahaya lampu ballroom. Dia berjalan masuk sambil tertawa renyah bersama teman-temannya (Mbak Novi dan Mbak Arum). Tawanya itu... rasanya ingin ku-rekam dan kujadikan ringtone alarm biar aku semangat bangun pagi.

Aku mengangkat kamera. Cekrek. Satu foto candid. Sempurna. Cahayanya pas jatuh di pipinya. "Oke Aryo, fokus. Tugas negara," gumamku.

Acara dimulai. Pak Bos (Si Botak) naik ke panggung untuk pidato pembukaan. Aku memotret Pak Bos. Cekrek. Tapi mataku melirik ke barisan audiens. Devi duduk di barisan kedua. Dia sedang menyimak serius sambil memiringkan kepalanya sedikit. Lucu banget. Tanganku bergerak sendiri. Lensa kamera bergeser dari wajah berminyak Pak Bos ke wajah glowing Devi. Zoom in. Cekrek. Cekrek. Cekrek. "Wah, Devi lagi benerin rambut. Cekrek." "Wah, Devi lagi minum air mineral. Cekrek." "Wah, Devi lagi nguap tapi ditutupin tangan. Cekrek."

Aku lupa daratan. Aku lupa lautan. Aku lupa kalau aku sedang bekerja. Dunia di balik viewfinder kamera ini seolah-olah hanya menyisakan satu objek fokus: Devi. Sisanya adalah background blur (bokeh).

 

Masuk ke sesi presentasi divisi. Giliran Divisi Akunting. Mbak Devi yang maju. Aku langsung siaga satu. Aku pindah posisi ke depan panggung, mengambil posisi low angle ala fotografer profesional.

Devi naik ke panggung. Dan di sinilah komedi Tuhan terjadi. Podiumnya... ketinggian. Podium itu diset untuk ukuran Pak Bos yang tingginya 175 cm. Devi tingginya... yah, mari kita sebut "kompak dan ekonomis" (sekitar 150-an cm). Begitu Devi berdiri di belakang podium, yang terlihat oleh audiens hanyalah dahi dan rambutnya. Mikrofonnya menjulang tinggi di atas kepalanya seperti tiang bendera.

Audiens mulai terkikik geli. "Lho? Mana pematerinya? Kok podiumnya ngomong sendiri?" celetuk Mas Hanif dari belakang.

Devi tampak panik. Dia berjinjit. Masih belum sampai. Wajahnya memerah padam. Lucu sekali. Rasanya ingin kumasukkan ke saku dan kubawa pulang. Akhirnya, panitia (Mas Hanif yang sigap) lari membawa dingklik (kursi kecil) plastik. Devi naik ke atas dingklik itu. Hop! Akhirnya wajahnya muncul. Dia tersenyum malu-malu, pipinya merah tomat. "Maaf ya teman-teman, maklum, pertumbuhan ke atasnya agak telat," candanya mencairkan suasana.

Satu ruangan tertawa gemas. Dan aku? Jariku menekan tombol shutter seperti senapan mesin. Cekrek-cekrek-cekrek-cekrek! Setiap detiknya adalah emas. Devi ketawa. Cekrek. Devi benerin mic. Cekrek. Devi nunjuk grafik di layar. Cekrek. Devi hampir kepleset dari dingklik. Cekrek.

Aku tidak peduli grafiknya. Aku tidak peduli isi presentasinya tentang "Neraca Rugi Laba Kuartal III". Yang aku pedulikan adalah Neraca Cintaku yang untung besar melihat pemandangan ini.

Jam 12 siang. ISOMA (Istirahat, Sholat, Makan). Inilah momen yang kutunggu-tunggu. Aku meletakkan kamera sejenak, mengambil piring prasmanan. Aku melihat Devi sedang berdiri sendirian di dekat meja dessert, sedang bingung memilih antara puding cokelat atau buah potong.

"Ini kesempatanku!" batinku. "Ayo Aryo! Jadilah laki-laki! Ajak ngobrol! Jangan cuma berani ngintip dari lensa!"

Aku merapikan rambut, menarik napas panjang, dan berjalan mendekat. Di kepalaku, aku sudah menyusun skrip dialog yang keren ala film rom-com. Skrip di otak: "Hai Mbak Devi. Presentasi tadi keren banget. Puding cokelatnya keliatan enak ya, manis kayak yang lagi liat." (Oke, agak cringe, tapi lumayan).

Aku sampai di sebelahnya. Devi menoleh. "Eh, Mas Aryo. Makan Mas," sapanya ramah. Senyumnya... Masya Allah. Jarak sedekat ini membuat lututku lemas.

Otakku short circuit. Skrip di kepala terbakar hangus. Kosa kataku mendadak hilang. "E... i-iya Mbak. Makan." (Jawaban macam apa itu Aryo?!).

Devi mencoba basa-basi lagi. "Mas Aryo capek ya motret-motret terus dari pagi? Keringetan tuh." Dia menunjuk dahiku.

Aku panik. Keringatku menetes? Sial, pasti aku kelihatan dekil. "Ah... enggak kok Mbak. Biasa. Hobi. Hehe. Mbak Devi... suka puding?"

Devi mengangguk. "Iya nih. Tapi lagi diet. Bingung."

Di sinilah harusnya aku masuk dengan pujian. "Mbak Devi udah ideal kok, gak usah diet." Tapi yang keluar dari mulutku adalah: "Oh. Ya. Oke. Hehe."

Hening. Krik krik. Devi menunggu kelanjutan kalimatku. Aku menunggu keajaiban Tuhan. Tidak ada yang terjadi.

"Yaudah Mas Aryo, saya ambil buah aja deh. Duluan ya," kata Devi akhirnya, lalu pergi bergabung dengan Mbak Novi.

Aku berdiri mematung di depan puding cokelat. "YA... OKE... HEHE?!" umpatku pada diri sendiri. "Goblok banget lu Aryo! Kesempatan emas seumur hidup malah cuma bilang 'Oke Hehe'! Dasar batako!"

Aku menghukum diriku sendiri dengan memakan puding cokelat itu dalam sekali telan sampai tersedak.

Sisa acara berjalan lambat bagiku yang masih meratapi kegagalan di meja puding. Tapi kameraku tetap setia menjalankan tugasnya: Memburu Devi. Sesi Games. Devi ikut lomba joget balon. Cekrek. Sesi Doa Bersama. Devi menunduk khusyuk. Cekrek. Sesi Penutupan. Devi tepuk tangan. Cekrek.

Acara selesai jam 5 sore. Aku menyerahkan kamera ke Mas Hanif dengan perasaan bangga. "Udah Mas. Beres. Semua momen udah dapet. Memori card penuh."

"Wih, mantap Yo! Produktif banget kamu sampe penuh 32GB! Makasih ya. Besok aku cek hasilnya buat laporan ke Bos. Kamu istirahat gih."

"Siap Mas. Makasih juga kesempatannya."

Aku pulang dengan hati berbunga-bunga, membayangkan Mas Hanif akan kagum dengan hasil foto-fotoku yang (menurutku) sangat estetis dan penuh emosi.

Keesokan paginya. Aku sedang mengepel lobi ketika HP-ku bergetar. Pesan WhatsApp dari Mas Hanif. "Yo, nanti jam pulang jangan balik dulu. Ke ruangan saya. PENTING. DARURAT."

Jantungku mencelos. Darurat? Apa aku merusakkan kameranya? Apa lensanya baret? Atau hasil fotonya gelap semua? Seharian aku bekerja dengan tidak tenang. Aku nyaris salah nuang cairan pel ke dalam dispenser air minum saking gugupnya.

Jam 5 sore. Kantor mulai sepi. Karyawan sudah pada pulang, termasuk Mbak Devi (aku lihat dia pulang dijemput ojek online). Aku berjalan gontai menuju ruangan Mas Hanif.

Mas Hanif sedang duduk di depan komputernya. Wajahnya... sulit ditebak. Antara ingin marah, ingin ketawa, atau ingin nangis. "Duduk, Yo," katanya pelan.

Aku duduk. "Kenapa Mas? Kameranya rusak ya? Saya ganti kok Mas, potong gaji gapapa..."

"Kamera gak rusak. Aman. Tapi..." Mas Hanif memutar layar monitornya ke arahku. "Bisa kamu jelaskan ini?"

Di layar, folder foto terbuka. Total item: 350 foto. Mas Hanif membuka foto pertama. Foto Devi lagi senyum. Foto kedua. Foto Devi lagi minum. Foto ketiga. Foto Devi lagi benerin rambut. Foto keempat. Foto kaki Devi (sepatunya bagus).

Mas Hanif men-scroll ke bawah dengan cepat. Layar dipenuhi wajah Devi. Devi. Devi. Devi. Devi dari kiri. Devi dari kanan. Devi close up. Devi medium shot.

"Yo..." suara Mas Hanif bergetar menahan tawa. "Ini acara Townhall Meeting PT Maju Mundur, atau Fanmeeting Devi?"

Wajahku panas. Merah padam sampai ke telinga. Aku ingin menghilang. Aku ingin berubah jadi partikel debu dan disedot vacuum cleaner. "I-itu... anu Mas..."

"Dari 350 foto, 300 isinya Devi!" seru Mas Hanif. "Terus 50 sisanya, foto random yang ngeblur."

"Ada foto Pak Bos kok Mas!" belaku panik.

"Oh ada. Coba kita liat." Mas Hanif membuka file yang ada Pak Bos-nya. Foto Pak Bos sedang menyalami peserta terbaik (Devi). Fokus kameranya tajam sekali ke wajah Devi yang tersenyum. Sementara wajah Pak Bos di sebelahnya... BLUR. Bokeh abis. Wajah Pak Bos cuma jadi bulatan cahaya silau karena pantulan lampu di kepala botaknya.

"Liat Yo. Bos kita jadi hantu. Yang fokus cuma Devi."

Aku menutup muka dengan kedua tangan. "Maaf Mas... Sumpah maaf... Saya gak sadar... Tangan saya gerak sendiri..."

Mas Hanif menghela napas panjang, lalu tertawa lepas. "Hahaha! Anjir, anjir. Seperti kameramen yang naksir sama audiensnya hahaha!!"

Mas Hanif menghentikan tawanya dan menatapku dengan senyum dan mata sedikit disipitkan sebelah,

"atau kamu memang naksir sama devi?"

Deg. Aku hanya diam mengalihkan pandangan.

"Terus gimana Mas laporannya? Saya dipecat gak?" tanyaku ketakutan sekalian mengalihkan pembicaraan.

"Tenang. Gak dipecat. Untungnya, resolusi kamera ini gede. Jadi foto-foto yang wide shot (yang ada Devinya tapi ada orang lain juga), bisa kita crop. Kita potong bagian Devinya, kita ambil bagian acaranya. Walaupun resolusinya jadi turun dikit, tapi masih bisa dipake buat laporan PDF."

Aku bernapas lega. "Alhamdulillah..."

"TAPI..." potong Mas Hanif. "Karena ini kesalahan kamu, dan karena jumlah fotonya ratusan, kamu harus tanggung jawab. Kamu harus temenin aku ngedit malem ini sampe kelar. Kita harus cari jarum di tumpukan jerami. Kita harus cari 'Acara Kantor' di tumpukan 'Wajah Devi'."

"Siap Mas! Siap! Saya temenin sampe pagi!"

 

Malam itu menjadi malam yang panjang. Kantor sunyi senyap. Hanya ada aku dan Mas Hanif di ruangan, diterangi cahaya monitor. Mas Hanif sibuk klik-klik mouse, melakukan cropping massal. "Nih liat Yo," kata Mas Hanif sambil menunjuk layar. "Ini foto wide suasana audiens. Harusnya bagus. Tapi komposisinya aneh. Kenapa Devi ditaruh di tengah persis pake Rule of Thirds, sedangkan direktur utama kepotong setengah badannya di pinggir frame?"

"Maaf Mas... naluri seni..."

"Seni gundulmu. Ini naluri simp."

Aku bertugas membuatkan kopi. Kopi terbaik racikanku. Kopi hitam pekat, gula sedikit, air panas 92 derajat celcius. Aku juga lari ke minimarket depan beli cemilan: kacang, keripik, dan roti.

Jam 8 malam. "Mas, ini kopi ronde kedua."

Jam 10 malam. "Mas, pijit pundak gak?"

Jam 12 malam. Mata Mas Hanif sudah merah. Mataku sudah 5 watt. "Dikit lagi Yo. Tinggal sesi penutupan. Untung di sini kamu motretnya agak jauhan dikit."

Aku duduk di sofa pojok, terkantuk-kantuk. Melihat Mas Hanif bekerja keras menutupi aib cintaku. Dia benar-benar senior yang baik. Kalau orang lain, mungkin aku sudah diadukan ke HRD dengan tuduhan stalking.

Akhirnya, jam 1 pagi. "KELAR!" teriak Mas Hanif.

Aku tersentak bangun, hampir jatuh dari sofa. "Hah? Apa? Kebakaran?"

"Laporannya kelar, Aryo! Foto-foto Devi udah aku amanin di folder tersembunyi, foto laporan udah rapi. Bos gak bakal curiga."

"Alhamdulillah... Makasih banyak Mas Hanif. Mas Hanif penyelamat hidup saya."

"Yaudah, yuk balik. Mata gue udah siwer liat muka Devi mulu. Lama-lama gue yang naksir ntar."

Kami turun ke lantai dasar. Udara dini hari Jakarta terasa dingin menusuk tulang, tapi segar. "Nongkrong bentar yuk Yo di taman depan. Gue mau ngevape dulu, asem mulut gue. Di dalem kan gak boleh," ajak Mas Hanif.

Kami duduk di bangku taman beton yang dingin. Mas Hanif mengepulkan uap vape beraroma cheesecake. Aku cuma duduk sambil merapatkan jaket.

Hening sejenak. Tiba-tiba Mas Hanif bertanya, tanpa menoleh. "Kamu suka ya sama Devi?"

Pertanyaan itu to the point. Tanpa basa-basi. Jantungku berdegup kencang lagi. Aku ingin mengelak, tapi bukti 300 foto di komputer tadi sudah berbicara lebih keras daripada pengacara manapun. Aku menunduk, menatap sepatu kets-ku yang sudah butut. "Iya Mas... Maaf."

Mas Hanif tertawa kecil. "Kenapa minta maaf? Suka sama orang itu bukan dosa, Yo. Kecuali orangnya udah punya suami. Devi kan masih single."

"Tapi saya malu Mas. Saya cuma OB. Lulusan SMA. Devi itu sarjana, S1 Akuntansi, lulusan kampus swasata top. Karirnya lagi nanjak. Jauh banget Mas, kayak pungguk merindukan bulan. Eh bukan bulan, merindukan satelit NASA."

Mas Hanif mengangguk-angguk, menghembuskan asap putih ke udara. "Devi emang cantik, Yo. Gue akuin. Dia periang, kerjanya gesit, gak jaim. Dia gampang akrab sama siapa aja, termasuk sama OB, satpam, tukang parkir. Itu nilai plus dia. Tapi..."

Mas Hanif menoleh padaku. Wajahnya serius. "Ada kabar baik dan kabar buruk buat kamu. Mau denger yang mana dulu?"

"Kabar buruk dulu deh Mas. Biar gak sakit-sakit amat nanti."

"Oke. Kabar buruknya: Hati Devi itu sekarang setebal baja lapis beton. Dia jomblo bukan karena gak laku. Banyak cowok yang sudah berusaha kenalan dengan dia. ujung-ujungnya mundur atau dia yang memutuskan mundur"

"Kenapa Mas?"

"Karena dia lagi hustle banget. Dia anak cewek pertama dikeluarganya. Dia menanggung beban ekspetasi keluarga. Dia juga punya target-target gila dalam karirnya. Buat dia sekarang, pacaran itu 'gangguan' kalau cowoknya gak bisa ngimbangin pace dia. Dan selera humor dia aneh, dia agak ceroboh, boros juga—sering tuh dia ngutang pulsa ke gue atau Feby istri gue."

Aku terdiam. Ternyata Devi si bidadari juga manusia yang punya kekurangan. Tapi entah kenapa, mendengar dia ceroboh dan boros malah bikin dia terasa lebih... nyata.

"Kabar baiknya apa Mas?" tanyaku pelan.

"Kabar baiknya: Devi itu temen satu kampusnya istri gue, Feby. Jadi dia sering curhat sama gue atau Feby. Gue tau tipe dia. Dia gak nyari cowok kaya raya, karena dia merasa bisa cari duit sendiri. Dia nyari cowok yang bisa bikin dia nyaman, yang bisa dengerin dia ngoceh soal kerjaan tanpa nge-judge, dan yang tulus."

Mas Hanif menepuk pundakku. "Dan soal kamu cuma OB... dengerin cerita gue. Gue dulu cuma mas-mas Jawa medioker. Muka pas-pasan, gaji UMR pas-pasan, motor supra getar. Istri gue, Feby? Chindo, keluarganya kaya raya, punya toko bunga, cantik, putih. Secara logika, gue gak masuk kriteria."

"Terus kok bisa dapet Mas?"

"Perjuangan, Yo. Dan keberanian. Gue gak minder. Gue deketin dia dengan cara gue sendiri. Gue bantu dia pas dia susah, gue ada pas dia butuh, gue bikin dia ketawa. Cinta itu gak melulu soal status sosial, walaupun realistisnya butuh duit. Tapi pintu masuknya itu kenyamanan. Dan 'tidak ada yang tidak mungkin'."

Kata-kata Mas Hanif meresap ke dalam hatiku yang gersang. "Jadi... saya ada harapan Mas?"

"Ada. Kecil, tapi ada. Tapi perjuangan kamu bakal berat. Kamu harus upgrade diri kamu juga. Jangan cuma mau jadi OB selamanya. Ambil paket C kalau perlu kuliah lagi, belajar skill baru—fotografi kamu bagus lho sebenernya kalau objeknya gak cuma Devi doang. Jadiin itu modal."

Aku mengangguk mantap. Mataku berkaca-kaca. "Makasih Mas Hanif. Makasih banget."

Suara lantunan ayat-ayat suci di masjid yang tidak jauh dari kantor kami mulai menyapa dua budak korporat yang belum tidur. "Dah, yuk balik. Mandi, terus kerja lagi. Jangan telat, awas lo," kata Mas Hanif sambil berdiri dan meregangkan badan.

Kami berjalan menuju parkiran motor. Sebelum kami berpisah di dekat motor Supra-nya, Mas Hanif merogoh saku jaketnya. Dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tipis.

"Nih," dia menyodorkan amplop itu padaku.

"Apa ini Mas? Honor saya?"

"Bukan. Honor kamu nanti turun dari keuangan akhir bulan. Ini... bonus personal dari gue."

Aku menerima amplop itu. Tipis. Isinya selembar kertas foto.

"Tadi pas gue nyetak beberapa foto buat sampel laporan fisik... ada satu foto yang tercetak tapi gak mungkin gue masukin ke laporan resmi. Gak relevan sama acara kantor." Mas Hanif tersenyum misterius. "Dan gak mungkin gue simpen juga. Bisa diamuk Feby kalau dia nemu gue nyimpen foto cewek lain di tas. Jadi, mending buat lu aja. Siapa tau berguna buat... motivasi."

Mas Hanif menyalakan motornya. Greng. "Inget pesen gue Yo. Upgrade diri lo. Semangat!" Mas Hanif melaju pergi, meninggalkan aku sendirian di parkiran yang sunyi.

Dengan tangan gemetar, aku membuka amplop itu. Aku menarik lembar foto di dalamnya.

Itu adalah foto Devi. Bukan foto candid biasa. Ini adalah foto saat Devi sedang berdiri di atas dingklik di podium. Tapi angle-nya pas sekali. Dia sedang tertawa lepas, matanya menyipit membentuk bulan sabit, tangannya memegang pipi yang merona merah karena malu ditertawakan audiens. Cahaya lampu sorot panggung menyinari rambutnya, menciptakan efek halo seperti malaikat. Dan yang paling penting: Matanya menatap lurus ke lensa kamera. Menatap lurus ke arahku.

Di pojok bawah foto itu, ada tulisan kecil tangan Mas Hanif pakai spidol: "POV: The Way You Look at Her."

Aku tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah kusunggingkan tahun ini. Ini bukan sekadar foto. Ini adalah bukti bahwa di antara ratusan momen membosankan, aku berhasil menangkap satu detik keajaiban.

Aku memasukkan foto itu ke dalam dompetku, di slot yang paling aman, di balik KTP. Hari ini aku masih OB yang mengepel lantai. Tapi mulai hari ini, aku punya alasan untuk berjuang lebih keras. Aku akan menabung. Aku akan belajar fotografi lebih serius. Aku akan berjuang lebih keras lagi. Agar suatu hari nanti, aku bisa berdiri di samping Devi, bukan sebagai tukang foto candid, tapi sebagai orang yang membuatnya tertawa seindah di foto itu.

"Tunggu saya, Mbak Devi," bisikku pada angin pagi.

Aku menyalakan motor bututku. Suaranya brebet dikit, tapi bagiku terdengar seperti melodi optimisme. Perjalanan masih panjang, dan galon air di lantai 12 masih harus diganti. Semangat, Aryo!

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Fotografer Dadakan Yang Jatuh Hati Diam-Diam
cahyo laras
Cerpen
Korban Prospek
cahyo laras
Flash
Bronze
Memadu kasih
penulis kacangan
Komik
Bronze
The Fake Family
Agam Nasrulloh
Flash
Bronze
BALADA KOPI DAN JAHE
Emma Kulzum
Cerpen
Bronze
FLAMBOYAN 21
Sartika Chaidir
Flash
Bronze
Kalau Kambing Bisa Ketawa...
Shabrina Farha Nisa
Cerpen
Bronze
Kucingku Kena Pelet
Novita Ledo
Flash
Bronze
Salome
Sunarti
Flash
Bronze
Gak Ada Mens Rea, Tapi Bikin Jatuh Cinta
snang.tjarita
Flash
Bronze
Lon-te "Lontong Sate"
Sunarti
Komik
Mars Venus Marriage Life
Faridah Amalia
Cerpen
Bronze
Panen Manggis, Nyawa hampir Menangis
Bang Jay
Flash
Bronze
Bong Li Mei
Onet Adithia Rizlan
Flash
Kisah Tengik
Rains Peter Aro
Rekomendasi
Cerpen
Fotografer Dadakan Yang Jatuh Hati Diam-Diam
cahyo laras
Cerpen
Korban Prospek
cahyo laras
Novel
Catatan Harian Budak Korporat
cahyo laras
Cerpen
Datang Bawa Malu, Pulang Bawa Duit (lagi)
cahyo laras
Cerpen
Me Vs Perokok Idiot!!!
cahyo laras
Cerpen
Dituduh Penculik
cahyo laras
Cerpen
Percaya Mitos Yang Kurang Lengkap
cahyo laras
Cerpen
Tahan Tawa Saat Boss Besar Jadi Meme Bergerak
cahyo laras
Novel
Kontrak Terakhir
cahyo laras
Cerpen
Gagal Jadi Perokok
cahyo laras
Cerpen
Split Bill, Split Hidup
cahyo laras
Cerpen
Bertahan Hidup Dengan Yang Termurah
cahyo laras
Cerpen
Rapat Abadi Tanpa Keputusan
cahyo laras
Cerpen
Jempol Laknat, Gebetan Minggat
cahyo laras
Cerpen
Renang Yang Tidak Menyenangkan
cahyo laras