Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku alergi ayam. Bukan pada binatangnya. Tapi pada dagingnya yang kumakan. Sebenarnya tidak masalah jika tidak berlebihan memakannya. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku suka makan daging ayam.
Hal serupa juga terjadi saat aku kebanyakan makan telur—dari ayam juga tentunya. Entah kalau telur dinosaurus. Aku belum pernah memakannya—sebagian kakiku akan gatal-gatal.
Sudah pernah kubawa ke dokter—rekomendasi bosku di tempat kerja—dan aku dimarahi.
Dimarahi karena membalurkan kunyit ke kaki itu. Padahal di internet katanya kunyit bisa mengobati gatal-gatal.
Lalu aku mengatakan pengobatan herbal lain yang telah kucoba sebelumnya. Bukan ingin dimarahi lagi. Tapi ingin tahu apa tindakan itu benar atau salah.
Aku bilang minum jus seledri. Dokternya bilang itu tidak apa-apa. Mungkin dia membatin, asal kuat saja. Memang rasanya sama sekali tidak enak. Tapi nyatanya aku merasa lega setelah menenggaknya. Tentunya dengan harapan cepat sembuh.
Setelah mengikuti resep dokter dengan membalurkan salep khusus. Ajaib! Hari berikutnya bagian yang gatal mengering, lalu lama-lama terkelupas. Memang harga tidak pernah bohong. Salep itu mahal harganya. Kecil ukurannya. Cepat habisnya.
Karena itulah sekarang membelinya adalah prioritas ke sekian bagiku. Tapi tidak ada kunyit lagi. Bahkan seledri. Aku hanya mengurangi asupan ayam, telur, ataupun ikan dalam tubuh. Nanti juga sembuh sendiri.
Anehnya, sewaktu kecil aku aman-aman saja dengan makanan itu. Sebenarnya semua berawal saat aku bekerja di pusat informasi wisata. Karena kupikir itu gatal biasa. Kugaruk saja sekenanya. Tapi ternyata menyebar.
Bukan hanya aku yang panik. Tapi ibuku juga.
Ibu berinisiatif membawaku pada seseorang yang dianggap bisa membantu menyembuhkan penyakit itu. Aku tidak mau. Sebab istilah yang dipakai ibuku waktu itu kedengaran seram dan magis. Tapi bisa apa aku kalau ibu yang memaksa. Kalau tidak dituruti, marah luar biasa.
"Oh." Perempuan yang mengamati kakiku saat itu sudah tua. Orang-orang memanggilnya Mbah Narmi.
"Ini nggak sengaja nginjak ekor makhluk itu," lanjutnya.
Makhluk apa? Tanyaku dalam hati. Tapi seketika itu pula aku tahu, ini masuk ke ranah ghaib. Dan entah kenapa aku terbayang ular—seolah yang punya ekor hanya ular.
"Besok aja kembali ke sini. Kamu bawa buah jambe,"
"Oh gitu ya, Mbah."
Ampun, batinku. Ini jalur abu-abu sekali. Tapi aku benar-benar tidak bisa berbuat banyak. Kalau aku mangkir besok saat sudah ada buah jambenya ibu pasti murka.
Maka keesokan harinya kami kembali lagi ke rumah Mbah Narmi. Ternyata buah jambe itu dikunyahnya, diludahkan, lalu dibalurkan ke kakiku yang gatal. Aku hanya bisa menelan ludah melihatnya. Jangan tanya kenapa.
Lau kakiku tidak boleh dicuci sampai sekian jam. Kegiatan itu diulang beberapa hari. Dan ajaib. Kakiku sembuh!
Jadi, sampai sekarang aku tidak tahu, penyebab yang sebenarnya. Atau jangan-jangan karena kakiku bereaksi terkena buah jambe itu.
Dan sekarang, ibuku meminta bantuan orang lain untuk mengobati kakiku yang kambuh. Aku sebenarnya sudah bilang akan beli obat saja, tapi wanita seumuran ibuku itu tetap datang ke rumah. Namanya Agni.
Bu Agni tidak meminta apa-apa. Dia hanya memijat kakiku lalu membuang—entah apanya, karena aku tidak melihat ada satu benda pun terlempar dari tangannya. Setelah itu, dia memijat punggungku—apa hubungannya?
Sebenarnya, aku tau sedikit tentang, jika kau memijat bagian tertentu pada tubuh, bagian tubuh lain yang tidak dipijat akan sembuh sebab ada urat yang menghubungkan bagian-bagian tersebut. Maka aku diam saja. Toh, dia hanya memijit. Sekalipun sebenarnya, aku tidak terbiasa dipijit saat sakit.
Tapi, selang waktu berlalu semakin aneh kejadiannya. Sebab aku mendengar apa yang dibicarakan Bu Agni dengan ibuku.
Dia bilang ada banyak.
Apanya?
Dia menjelaskan seolah bisa melihat lebam hitam di punggungku. Lalu bercerita tentang bagaimana dia mengobati anak dari salah satu tetangga kami. Sambil terus memijatku—sambil aku mendengarkan kelanjutan ceritanya—Bu Agni bilang anak itu sakit setelah menolak perasaan laki-laki yang menyukainya. Ibuku menimpali betapa berbahayanya dan sekali lagi kudengar dari mulut ibuku, sekalipun tidak suka, jangan sampai melukai hati laki-laki yang menyukai kita.
Awalnya, anak itu tidak kuat diobati, jadi Bu Agni kembali keesokan harinya—sekarang aku berencana bilang tidak kuat juga, tapi kupastikan dia tidak bisa kembali besok, karena sepertinya, permasalahanku ini menjurus ke arah yang sama.
Lalu, saat dia bilang akan mencoba mengeluarkannya dariku, aku waspada. Sebab aku mengerti orang-orang sepertinya bisa menyembuhkan dengan meminta bantuan entitas lain. Di belakang, aku mendengarnya merapalkan doa. Maka aku pun ikut merapalkan doa dalam hati.
Kubaca surat-surat pendek, meminta perlindungan.
Semakin keras rapalan doanya, semakin aku berkonsentrasi. Sebab, bukannya tidak percaya dengan hal-hal Ghaib, aku hanya ingin meminta pertolongan pada Sang Pencipta, bukan manusia. Meski ibuku bilang, Bu Agni juga meminta tolong pada Sang Pencipta. Kalau begitu, apa salahnya aku mencoba juga? Aku yang lebih membutuhkan pertolongan, bukan?
Untuk sesaat, dia terdengar putus asa, tapi terus mencoba. Dia berhasil saat memancingku dengan satu pertanyaan. Konsentrasiku buyar. Aku berhenti berdoa, menjawab pertanyaannya.
Saat itulah tubuhku mulai gemetar hebat. Aku mencoba membaca doa lagi, tapi gigiku mulai bergemeletuk. Telapak tanganku begitu dingin. Tapi aku terus membaca doa. Tidak tahu lagi apa yang akan terjadi berikutnya.
Segera saja aku beranjak dari dudukku. Meminta apapun yang dilakukannya berhenti. Bu Agni bilang aku tidak kuat.
Aku segera duduk bersandar di sudut tempat tidur, meminta air minum pada ibu. Badanku masih menggigil. Tapi sebisa mungkin tidak menampakkan ekspresi yang melukai wanita yang berusaha mengobatiku, mencoba menghadapinya sesantai mungkin.
Ibuku menawarkan teh untuk diminum. Tapi aku meminta oralit—larutan gula garam adalah pertolongan pertama dari ibuku untuk beberapa penyakit. Sebab aku pernah menggigil sebelumnya, meski tak sehebat ini. Kala itu ibu mengira aku terkena serangan jantung. Tapi aku mengira itu serangan panik. Dan setelah kucari tahu, ternyata serangan jantung dan serangan panik memiliki gejala yang mirip. Tapi serangan panik melibatkan kepanikan ekstrim, tentu saja. Dan serangan apapun itu mereda setelah aku meminum oralit seperti anjuran ibu—seperti yang saat ini terjadi, segalanya berangsur-angsur normal. Tidak ada lagi hawa dingin yang menyelimuti.
Tapi konflik masih berlanjut, di mana Bu Agni meminta agar besok aku mandi kembang.
"Tapi, kalau bisa tengah malam ini."
Aku diam saja dan baru merespon saat dia sudah pulang. Aku tidak mau. Aku akan pergi dari rumah kalau orang-orang tetap memaksaku.
Orang tuaku mulai mengeluh ini itu.
Bukankah aku yang seharusnya mengeluh?
Aku sudah dewasa, tidak seperti sepuluh tahun yang lalu saat Mbah Narmi menyemburkan ludahnya ke sekujur kakiku. Aku mau memutuskan sendiri apa yang boleh diludahkan padaku dan apa yang tidak. Aku sepertinya murka.
Ibuku putus asa. Kubilang akan membaca Al-Qur'an setiap hari jika perlu. Aku yakin tidak ada yang bisa menandingi kuasa Sang Pencipta. Maka mereka pun menyerah, sebab tahu tidak sekali dua kali aku pergi dari rumah meski alasanku jelas, untuk bekerja. Biar saja mereka memilih aku atau Bu Agni. Biar saja sekalian Bu Agni yang menggantikanku tinggal di rumah ini!
Sejak itu, terkadang aku merasakan hawa dingin yang sama terlebih jika malam Jum'at. Tapi dingin yang tidak membuatku menggigil lagi seperti waktu itu. Entah hanya terlalu cemas atau memang ada sesuatu yang sedang dilakukan di sini.
Tapi aku pernah mendengar dari seorang teman, agar hanya menanggapi apa yang ditampakkan orang di depan. Di belakang kita adalah urusan orang itu dengan Sang Pencipta.
Suatu waktu ibuku bercerita. Tentang sesuatu yang selama ini mengikutiku. Ibu menyebutnya Mbahku—yang sudah meninggal, mungkin nenek. Tapi aku tahu semua ruh orang mati kembali pada Sang Pencipta. Aku masih tidak mengerti siapa yang dimaksud ibu.
Ibu bilang sudah sejak aku pulang dari Jakarta—yang sebenarnya kota lain di Jawa Barat yang dekat dengan Jakarta. Aku memutuskan pulang padahal baru empat bulan bekerja. Mungkin hal itu yang memantik rasa penasaran ibu, pergi menanyakannya ke kyai alih-alih bertanya padaku sendiri. Padahal, jika ditanya pun aku pasti menjawab. Asal bertanya baik-baik.
Aku memang sering bergonta-ganti pekerjaan, akhir-akhir ini tahu mungkin aku punya kecenderungan ADHD. Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Di mana pengidapnya lebih mudah bosan, lalu kehilangan konsentrasi pada pekerjaan yang seharusnya. Apalagi di pekerjaan sebelumnya yang kulakukan hanyalah mengulangi rutinitas yang sama setiap hari.
Seperti orang lain, aku juga punya hobi. Tapi saat fokus pada hobi, aku jadi melalaikan pekerjaan utamaku—yang akhirnya berantakan, dan pada akhirnya aku memilih resign.
Dan ternyata yang dikatakan kyai itu menyangkut hal-hal Ghaib. Di mana ibu, jika ingin melihat siapa yang ikut denganku, harus membaca atau melakukan syarat lainnya, sebelum melihatku. Ibu pernah mencobanya. Tapi belum juga melihat aku, degup jantung ibu sudah tidak karuan. Ibu tidak berani.
Kyai itu bilang wajahku juga sering berubah-ubah. Mungkin jika aku yang melihat biasa saja. Tapi, jika orang lain yang melihatnya, terutama jika itu laki-laki, wajahku akan terlihat tua.
Ibu pun mencoba bertanya ke kyai lain. Jawaban yang sama didapatkannya. Alhasil, ibu pulang membawa oleh-oleh air yang sudah diberi doa-doa, bilang padaku itu air dari khataman Qur'an. Aku mau saja meminumnya. Sebab tahu meminum air yang sudah diberi doa itu boleh saja selama untuk kebaikan. Sebab air, kata guru sekolahku, hanyalah perantaranya.
Sama sekali tidak tahu ada doa khusus yang ditujukan padaku. Aku mengingat saat-saat ibu menyuruhku meminum air itu.
Tapi ibu bilang ilmu kyai kedua yang didatanginya belum mampu mengeluarkan sosok yang ada dalam diriku. Itulah kenapa ibu meminta bantuan Bu Agni.
Aku mendengarkan, tapi tidak lantas setuju penyembuhannya dilanjutkan. Aku bilang mau kalau minum air yang diberi doa oleh kyai, tapi tidak mandi kembang atau semacamnya. Ibuku menyerah, bilang terserah saja kalau aku tidak mau disembuhkan.
Memang, setahun terakhir aku sering marah-marah. Tapi kupikir karena depresi. Dengan kehidupan pekerjaan yang tidak stabil.
Sementara ibu belum puas jika belum minta bantuan kyai, aku belum puas jika belum minta bantuan Mbah Google. Segala pertanyaan di kepalaku, Mbah Google selalu memberikan banyak jawaban untuk itu. Aku ingin tahu.
Lalu kutemukanlah istilah itu, khodam. Pendamping dari golongan jin atau malaikat.
Aku pernah mendengar tentang kata ini yang dikaitkan dengan binatang-binatang buas seperti harimau, dan lain sebagainya. Tapi tidak menyangka aku memilikinya.
Mbah Google bilang, ada manusia yang sengaja mencari pendamping itu, tapi ada pula yang mendapatkannya karena dipilih sendiri oleh yang bersangkutan.
Semakin dalam aku mencari tahu, tentang ciri-ciri orang yang di-follow pendamping itu. Semakin aku menyadari, sebagian besar memang seperti yang kualami.
Kusebutkan di antaranya yang cocok.
Pendiam.
Astaga .... ini aku banget! —sudahkah terlihat seperti para remaja yang membaca kolom zodiak?
Tatapannya tajam.
Astaga! Pantas saja orang-orang sering salah tingkah kalau kutatap!
Berbiwaba.
Emmm, mungkin ini tidak karena aku suka bercanda. Tapi kalau baru kenal aku cenderung dingin. Dingin tidak ada di sini.
Punya selera humor yang bagus.
Apa aku tidak salah baca? Disebutkan bahwa pendamping itu akan membantu orang yang didampinginya agar disenangi orang lain. Cara membuat seseorang mudah nyaman dengan kita—tentu saja dengan bercanda!
Tapi keluarga besarku memang suka bercanda. Dan aku bukan satu-satunya. Jadi kurang tepat saja kelihatannya.
Punya kekuatan fisik yang besar.
Astaga! Ini juga cocok!
Setidaknya untuk ukuran perempuan aku tergolong kuat. Seperti yang disebutkan pada penjelasannya, membuat orang yang di-follow sering merusak barang—ini sering sekali terjadi. Contoh kecilnya pintu rumah. Selama aku tidak ada di rumah, pintu rumah ke teras yang rapuh itu selalu baik-baik saja. Utuh. Tapi setelah aku kembali engselnya kembali bermasalah.
Aku pernah bekerja di pabrik sarang walet dan hanya bertahan dua minggu, sebab aku putus asa. Sarang-sarang rapuh yang harus diperlakukan lemah lembut itu hancur di tanganku. Untung saja aku masih digaji karena tidak semuanya hancur.
Di tempat kos juga aku sempat was-was sebab saat pertama menghuni, pintu di sana baik-baik saja. Tapi setelah beberapa waktu, gagang pintunya mulai mengkhawatirkan. Takut aku disuruh memperbaiki. Maka kukurangi semangatku saat membuka-tutup pintu.
Atau pada semprotan closet yang jebol ... astaga! Tanganku memang luar biasa!
Masih banyak lagi barang-barang yang pernah kurusak. Aku tidak mengingat semuanya. Yang benar saja!
Aku tidak tahu harus senang atau sedih karena ini. Membingungkan sekali.
Tapi yang jelas aku tahu segalanya terjadi untuk maksud tertentu—sekalipun masih belum bisa memahaminya.
Masih ada satu lagi,
Suka bercermin.
Habislah sudah. Itulah yang kulakukan di dalam kamar. Melihat wajahku sendiri, entah iseng, atau sambil bermain musik.
Aku jadi ingat tentang kekuatan itu. Di mana saat marah, aku merasa kekuatanku berlipat-lipat. Drastis. Seolah bisa menghancurkan apapun saat itu juga. Dan benda-benda di sekitarku jadi korban kekerasan itu. Aku sampai takut. Takut menjadi monster. Benar-benar susah dikendalikan.
Tapi sebagai informasi, sekalipun di-follow, kita dilarang mem-follback. Tidak boleh meminta bantuannya dalam hal apapun. Sebaliknya, kita harus lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta.
Jadi keputusanku sepertinya benar.
Tapi banyak hal baru yang kudapatkan dari Mbah Google.
Terima kasih, Mbah.
Setidaknya, aku jadi tidak terlalu buta menghadapi hal-hal semacam ini.
Dan, alih-alih takut, aku malah terinspirasi.
Ohiya. Ngomong-ngomong, hobiku menulis.
Sepertinya, aku akan menghasilkan karya baru setelah ini.