Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Bronze
Fardun dan Puteri Anggur
0
Suka
113
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

BAB 01: GEMERSIK SENJA DI LEMBAH LEMBAYUNG

Ketika bayang-bayang bukit memanjang dan parit batu berbisik tentang dahaga purba

─── ⋆⋅🍇⋅⋆ ───

Matahari senja menggantung laksana bola tembaga pijar di atas igir-igir Pegunungan Wilis Kuno, menumpahkan lelehan jingga tua yang perlahan merambat menjadi warna merah lembayung di langit barat. Di bawah hamparan cakrawala yang terbakar pelan itu, kebun anggur seluas ratusan hektar milik Fardun Ar Rimbai membentang bagaikan gelombang samudra zamrud yang tak bertepi. Ribuan tiang penyangga kayu jati tua yang telah menghitam oleh tempaan cuaca berdiri kokoh, memikul juntaian rambatan sulur anggur yang lebat, sarat dengan dompolan buah merah kehitaman yang gemuk berair. Daun-daun lebar berlekuk lima itu bergesekan pelan diterpa angin pegunungan yang mulai mendingin, memperdengarkan simfoni bisikan dedaunan yang selalu menenangkan jiwanya sehabis seharian penuh bekerja.

Fardun melangkah pelan di atas jalan setapak tanah liat padat yang diapit oleh deretan lorong tanaman anggur yang menjulang tinggi melampaui kepalanya. Tingginya mencapai lebih dari dua setengah meter, membentuk terowongan hijau yang teduh dan misterius. Pria muda berusia dua puluh tujuh tahun itu mengenakan kemeja katun kasar warna nila berlengan panjang yang tergulung hingga ke siku, memamerkan lengan bawahnya yang kecokelatan dan berurat kuat—tanda nyata dari kerja keras di bawah terik matahari, bukan sekadar pemilik modal yang hanya duduk berpangku tangan di balik meja kayu mahoni pendopo rumahnya. Di pinggangnya terikat sehelai selendang lurik cokelat tua yang menahan sarung celana kerja praktis, sementara di tangan kanannya tergenggam sebatang kunci pas kuningan kuno berkepala ganda dan sebuah buku catatan kecil berbungkus kulit sapi kusam.

Hari itu adalah penghujung musim kemarau basah, masa paling kritis bagi ratusan hektar tanaman anggur varietas purba yang diwariskan mendiang kakeknya, Ki Danuarsa. Pada minggu-minggu menjelang panen raya seperti ini, takaran air di setiap jengkal perakaran tidak boleh salah barang setetes pun. Kelebihan air barang sedikit saja akan membuat kulit buah anggur yang tipis merekah pecah dan membusuk sebelum sempat dipetik; kekurangan air walau sekejap akan menyebabkan bulir-bulir manis itu mengerut layu, kehilangan sari anggur terbaik yang menjadi kebanggaan seluruh lembah.

Karena alasan itulah, ketika para pekerja kebun telah pulang menuju desa sebelum adzan magrib berkumandang, Fardun selalu memilih untuk tinggal sendirian di perkebunan. Ia ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Bronze
Fardun dan Puteri Anggur
Amrullah Ibrahim
Flash
Bronze
McQueen
Rere Valencia
Cerpen
Smoke
Ida Ayu Saraswati
Novel
KOL (Karang Ombak Laut)
Hendrakur
Cerpen
Bronze
Di Balik Batu Pipih
Sulton Rizman
Novel
Gold
Digital Fortress
Mizan Publishing
Cerpen
Melodi Bunga Malam
Dewyrum
Cerpen
07 Raesha
Bima Kagumi
Flash
Babi Babi Babi
Hendra Purnama
Cerpen
Bronze
Kesulitan Menyeberangi Sebuah Ladang karya Ambrose penerjemah ahmad muhaimin
Ahmad Muhaimin
Cerpen
Bronze
AH, KITA?
Citra Rahayu Bening
Flash
Petunjuk
Miss Rain
Flash
Mendadak Berat Otak
Dias Rima Sutiono
Cerpen
ARSIP 000: PERJALANAN JIWA
Tourtaleslights
Novel
Alif Lam Mim
Zainur Rifky
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Fardun dan Puteri Anggur
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
KEMELUT TERATAI KEMBAR
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Pulang Menuju Pelukan
Amrullah Ibrahim
Komik
Jingga di Langit Senja
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Ketika Cinta
Amrullah Ibrahim
Novel
Sastra Tinggi Nan Jenaka
Amrullah Ibrahim
Novel
Milikku Seorang
Amrullah Ibrahim
Flash
Gadis Cantik Tengah Malam
Amrullah Ibrahim
Novel
Dua Sujud Satu Muara
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Arganata: Sang Pewaris yang Terlupakan
Amrullah Ibrahim
Novel
Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Goresan Takdir di Jalur Besi
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Arkan Al Ghazi & Portal Cahaya Abadi
Amrullah Ibrahim
Flash
Celana Melorot Misterius di Rumah Sakit Tua Palembang
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Kejernihan yang Kita Jaga
Amrullah Ibrahim