Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
FACIO Si Tisu Malang
1
Suka
2,227
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

FACIO SI TISU MALANG


“Hargai sekitarmu,

hormati makhluk ciptaan-Nya,

semua berhak bahagia,

karena semua memiliki hak yang sama.”



 Aku terdampar di pinggir jalan dengan tubuh penuh luka sobek dan lecek. Aku Kesal, geram. Amarahku tak terbendung, teringat saat sedang berkumpul bersama teman-temanku di sebuah rumah plastik, tiba-tiba dua jari lembut nan lentik dengan kuku-kukunya yang panjang berwarna merah terang, menarikku kasar. Lalu jemari itu mendekatkanku ke bibirnya, mengusap kasar dan menekan-nekanku. Setelah memakaiku, ia menghempaskanku begitu saja. Melemparkanku ke udara.

Tubuhku terlempar jauh. Aku terjerembab lunglai. Untungnya aku masih bisa berjalan dan bernapas. Sekuat tenaga aku bangkit, lalu aku menyusuri jalan lurus tak berujung di depan sana.

Aku menoleh ke belakang, ke rumah palstik tempat teman-temanku masih berkumpul di sana. Aku memandang mereka, sebagian mereka juga memandangku, sebagian lainnya tak peduli. Dari sebagian yang menoleh ke arahku, sebagian menertawai keadaanku, sebagian lagi memandangku jijik.

 Kini aku sendirian di jalan. Tak tahu ke mana ingin singgah, aku tak punya tempat lagi. Teman-temanku sudah tak peduli pada keadaanku yang terlunta ini.

Aku menghela napas dalam-dalam. Aku berpikir, sebegitu palsukah pertemananku itu? Di saat aku sama derajatnya dengan mereka, aku bak seorang sultan yang mendapatkan perlakuan istimewa. Namun ketika keadaanku hancur, tak ada yang mengakuiku, atau ingin berdekatan denganku.

Kuhela napas lebih dalam lagi, lalu kulepas perlahan. Langit biru di atas sana, masih cerah, awannya masih putih berarak, matahari masih bersinar terang. Itu artinya Tuhan masih memberiku kesempatan kembali untuk terus menapak di buminya.

Aku tegak berdiri dengan sisa tenagaku. Mencoba berjalan meski tanpa tahu arah dan tujuan. Aku tidak mau diam di tempat walau sulit bagiku unttuk melangkah, karena kesempatan yang kudapati sangat sedikit.

Semilir angin membantu mempercepat langkah ini. Tubuhku tertiup angin menyejukan, aku tersenyum. Masih ada harapan.

Aku sampai di persimpangan jalan. Jalan kehidupan. Aku bingung, diri ini ingin ke mana, karena aku sudah pergi jauh dari kelompokku. Tiba-tiba Angin berembus cukup kencang, lebih kencang dari sebelumnya. Tubuhku terangkat tinggi. Aku berayun laksana roller coaster dengan kecepatan tak terkira. Aku ketakutan, semakin pucat pasi saja diriku. Ayunanya seperti ujian hidup yang tak pernah usai.

Melihat aku terombang ambing tak tentu, Angin berkata lirih, “kalau kau percaya padaku, engkau tidak akan kesulitan mengarunginya.”

Mendengar bisikan lirih itu, aku percaya diri, semangatku kembali bangkit walau terselip ragu mengadang. Kuikuti saja kemana Angin ini kan membawaku, kemana takdir ini kan mengajakku berpetualang. Aku sudah letih dengan hidup ini.        

Tubuhku terhenti di tiang listrik. Embusan kuatnya tetap menopangku, tak membuatku terperosok jatuh. Sesaat aku menoleh ke kiri, menatap ke dalam sebuah kamar penthouse hotel berbintang.

Aku termangu, di dalam sana kulihat temanku, si Angkuhana, tengah bersantai duduk anggun di atas meja yang penuh dengan makanan lezat. Bisa kuperkirakan makanan-makanan itu sangat mahal harganya. Tubuh laparku menggigil menyaksikan itu.

Terpana dengan kamar itu, begitu berkelas. Angin yang memangkuku hanya tersenyum melihat aku tweus berdecak kagum.

Kulambaikan sapaku padanya ketika ia tanpa sengaja menoleh ke arahku. Tapi temanku sama sekali tak menggubris. Ia acuh sambil menganggat dagunya. Ia memalingkan wajah angkuhnya dariku. Bahkan ia tak menganggapku sama sekali karena melihat kondisiku seperti gembel tanpa masa depan. Padahal dulu kami sama-sama berjuang memperbaiki diri. Dari sebatang pohon kayu busuk lalu diolah menjadi lembaran-lembaran berharga, hanya bedanya Si Angkuhana bernasib lebih baik dariku, ia tinggal di rumah mewahnya, sementara aku di rumah plastik, berimpitan sesak.

Tak lama, sepasang muda mudi bergaya elegan masuk lalu duduk berhadapan di meja yang sudah dipenuhi makanan-makanan kelas atas. Adegan-adegan romantis terlihat di sana. Temanku tampak asik memandang pasangan itu, lalu tersenyum saat kembali menolehku. Senyum merendahkan.

Setelah ucapan-ucapan kepalsuan mengalir dari bibir lelaki itu. Dengan wajah bersemu merah, sang gadis mengambil paksa temanku lalu mengibaskannya. Selanjutnya dia menyelipkannya ke dalam baju di bawah dagu.

Temanku masih jumawa, tak nampak terganggu dengan perlakuan gadis itu padanya. Selesai makan malam yang hangat, gadis itu mengusap bibirnya, temanku mengira gadis itu mengecupnya. Lalu gadis itu mengusap jemarinya, temanku mengira sedang dibelai lembut.

Hingga akhirnya, pasangan muda-mudi beranjak keluar kamar meninggalkan temanku yang tergeletak begitu saja di meja. Tak lama pelayan hotel datang, membersihkan meja, dan membuang temanku ke tempat sampah yang dibawanya.

Terperanjat aku dibuatnya. Wajahku melongo. Angin yang menopang tubuhku tersenyum penuh arti. Aku sempat mendengar temanku berteriak meminta pertolongan. Tapi terlambat, pelayan hotel itu sudah pergi meninggalkan kamar. Sebutir air mataku jatuh. Aku sedih, temanku dicampakan begitu saja.

Batinku berkata, segala sesuatu yang nampak mewah belum tentu baik dan belum tentu pula berujung bahagia, bisa jadi malapetaka.

Angin memeluk tubuhku, kembali membisiki telingaku, “kita pergi dari sini yuk.”

Aku diam, terganggu dengan teriakan temanku tadi. Tapi Angin yang kini menjadi sahabatku, menerbangkanku melintasi kamar hotel tadi. Tak kusangka, ketika aku melihat ke bawah tinggi sekali ternyata. Aku meminta Angin menerbangkanku lebih rendah lagi. Sekarang aku hanya satu jengkal di atas kepala orang dewasa.

“Kita mau kemana?” tanyaku sambil memeluk erat tubuhnya yang transparan.

Angin tidak menjawab, ia terus saja menggendongku. Mengajakku berpetualang mengitari kota.

Dari punggung si Angin aku melihat seorang Ibu tengah memasak di dapurnya, nampak di sampingnya temanku yang lain berdiri bergerombol sambil ketakutan.

Ada apa gerangan?

Kupeluk Angin dan berbisik padanya, "tolong berhenti sejenak." Aku tersenyum melihatnya, tapi kenapa teman-temanku ketakutan seperti itu. Tak lama, Ibu itu mengambil salah satu temanku lalu merebahkannya di sebuah piring besar. Sesaat kemudian temanku berteriak kencang sekali, tubuhnya kepanasan. Rupanya Ibu itu meletakan gorengan pisang yang baru diangkatnya di atas tubuh temanku. Kontan aku meraung-raung melihat kejadian itu, menangisi temanku Si Kitchenia Towel yang tersiksa kepanasan. Kasihan sekali temanku, meskipun tubuhnya memang diciptakan untuk menyerap minyak panas tapi tetap saja hatiku patah melihatnya menderita.

Ku hanya bisa berdoa, semoga engkau mendapatkan tempat terbaik di kehidupan selanjutnya, kawan.

“Aku tak tega melihatnya, Angin,” ucapku mengusap air mata. Seketika angin langsung membawaku pergi. Melayang tinggi. Melesat cepat. Angin mengepakan sayapnya, menghapus sisa air mataku.

Sampai di jalanan sepi, Angin menghentikan embusannya. Aku turun perlahan, terhempas lembut di bangku pinggir jalan kota.

Di bangku itu ada seorang gadis yang sedang bersedih. Isakannya mengulik keingintahuanku. Kenapa ia sampai menangis di bangku ini, di pinggir jalan pula. Ia tak peduli banyak pasang mata yang menatapnya, mata-mata tak ber-iba sedikitpun. Terkesan acuh.

Aku meminta Angin menggeser tubuhku sedikit merapat. Gadis itu mengeluarkan gawai. Ia menghubungi sahabatnya. Aku duduk manis mendengarkan kicauannya. Gadis itu bercerita kalau ia baru saja dipecat dari pekerjaannya. Ia difitnah oleh teman dekatnya atas hilangnya sejumlah uang, rupanya gadis itu bekerja sebagai Kepala Kasir di sebuah kafe. Tapi anehnya atasan gadis itu percaya begitu saja tanpa mau menyelidiki apa yang terjadi sebenarnya. Gadis itu menceritakan pada sahabatnya, ia sudah berusaha membuktikan kalau ia tak bersalah, tapi tetap saja pembelaannya tak digubris atasannya. Akhirnya ia dipecat, dan teman dekat yang sudah memfitnahnya tertawa senang. Tak perlu waktu lama, menurut ceritanya teman dekatnya itu langsung diangkat menjadi Kepala Kasir menggantikannya. Tapi malang nasibnya tidak berhenti sampai di situ. Gadis itu memberitahu kejadian itu ke kekasihnya, tapi apa yang terjadi selanjutnya, gadis itu justeru diputusin.

“Gadis yang malang, Angin,” bisikku.

“Ya, dia gadis yang malang,” sanggah Angin pendek.

Begitulah kalau kita terlalu percaya pada orang lain, meski sahabat sendiri. Sampai suatu saat kita dijahati oleh orang itu, kita akan tahu siapa sebenarnya orang yang kita percaya.

Baru saja iba pada cerita gadis itu, aku justeru berbalik membencinya. Bagaimana tidak, gadis itu menarik paksa saudaraku dari rumah plastik, lalu memakainya untuk mengusap air matanya. Belum lagi gadis itu membersihkan celak yang luntur. Yang lebih menjijikan, gadis itu mengelap cairan kental dari hidungnya.

Setelah itu tubuh saudaraku bergelimang hitam, berlendir, terlipat patah, dan diremas menjadi bulatan kecil, kemudian dibuang begitu saja. Aku hancur melihat wajah saudaraku itu. Aku bahkan tidak sempat menolongnya.

Wajahku memanggang api, untuk kesekian kalinya aku marah. Gadis itu tak menghargai kami. Berapa banyak di dunia ini gadis yang sedang patah hati justeru mematahkan hati kami. Berapa banyak saudaraku yang menjadi korban mereka. Mereka tidak berpikir aksi pemborosan itu yang membuat permintaan kami semakin meningkat. Ujung-ujungnya hutan semakin gundul ditebangi, karena bahan baku kami dari sebatang pohon.

Keterlaluan!

Ternyata orang yang tersakiti bisa berubah menjadi orang yang menyakiti.

                      ***

“Angin, aku ingin mengunjungi rumah temanku yang lain. Aku muak di sini!”

“Baik, kita kesana. Tapi kamu jangan kaget ya,” kata Angin seolah sudah tahu kabar temanku itu.

Setengah jam berlalu kami sudah sampai. Perjalanan ke rumah temanku itu melewati proyek terbengkalai namun masih tertutup papan tinggi. Proyek buang-buang uang yang tidak tahu kapan diselesaikan. Proyek itu memakan badan jalan sehingga menimbulkan kemacetan panjang. Semakin semrawut saja wajah kota.

Tubuhku semakin kotor setelah terkena debu proyek yang belum selesai itu. Ditambah debu asap kendaraan bermotor. Makin tak karuan saja tubuh ini. Koyaknya semakin menganga.

 “Aku lihat lukamu semakin besar. Kamu yakin mau berkunjung ke rumah temanmu, Facio?” tanya Angin khawatir.

Aku mendengus. Luka ini tak membuatku surut melangkah. Bukan masalah besar. Orang sulit seperti aku tak ada aral yang mampu mengadang. Aku sudah terbiasa dengan kesulitan yang mendera. Dan seharian ini aku sudah mengalami ujian berat.

“Kamu tak perlu khawatir, Angin. Aku kuat.”

Berbekal letih dan tangis, aku memeluk lemah tubuh Angin. Sahabatku ini tak jadi membawa ke rumah temanku, ia membawaku ke sebuah restauran kelas menengah tempat berkumpulnya warga asing.

Aku menjumpai dua temanku, Napkina si tisu cantik dan Rolli si tisu gembul di tempat yang berbeda. Napkina, si tisu kecil nan cantik, ada di meja makan bersanding dengan orang-orang yang tengah berbincang. Sesaat dia begitu jumawa menyaksikan obrolan orang-orang yang sedikit banyak dia mengerti. Tapi beberapa saat berlalu, dia tak lagi tersenyum menatap teman-teman sesama di meja itu digunakan untuk mengusap mulut-mulut belepotan, mulut-mulut munafik dan bau yang bisanya merayu penguasa untuk membukakan jalan bagi mereka agar bisa eksis di negeri ini. Teman-teman Si Napkina diremas dan ditinggalkan begitu saja. Dan pada akhirnya ia pun mengalami nasib yang sama.

Menyedihkan kala tisu-tisu cantik itu harus berakhir nestapa.

Di lain ruangan, sebuah pemandangan tak pantas kudapati. Seorang pria tengah menarik-narik tubuh Rolli, lalu mengusapmya ke bagian tubuh paling tersembunyi. Rolli berteriak-teriak marah, dia merasa dilecehkan. Tak dihargai sama sekali. Tubuhnya dijadikan pengusap kotoran-kotoran manusia. Kini tubuhnya sudah terlumuri sisa-sisa makanan yang terbuang dari tubuh manusia.

Huwweekk! Aku muntah melihatnya, bahkan aku tak sanggup melihat tubuh Rolli. Alangkah buruk nasibnya. Nasib Rolli seburuk-buruknya nasib tisu. Temanku dilecehkan, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka punya kuasa, mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau.

Aku melamun resah memikirkan teman-temanku. Tak satupun bernasib baik, tak berbeda jauh dengan diriku.

Tak jauh dari tempatku singgah, Wety si tisu basah, berjalan lemah mendekat. Ia mengeluh. Satu-satu temannya pergi meninggalkannya sendirian, menghilang tak tahu rimbanya. Tinggal ia sendiri. Aku sudah bisa menebak ke mana perginya teman-temannya itu. Pasti diperalat lalu dihempaskan.

Aku berpikir. Kaum marginal seperti kami tidak akan pernah dihargai. Selalu saja direndahkan, diremehkan, dan diperlakukan tidak adil.

Matahari mulai merambat ke barat. Melandai seiring senja menggeliat. Semburat jingga menyilaukanku. Malam akan datang menghantui. Dinginnya udara mulai terasa.

Tiba-tiba Hujan turun dengan derasnya. Aku berteduh di bawah tumpukan sampah plastik yang membentuk gunungan kecil.

“Aku tidak bisa menemanimu lagi, Facio,” kata Angin di depanku. Tubuhnya melayang ke sana ke mari terkena hantaman ribuan tetes bak tentara yang turun dari awan hitam.

“Aku harus pergi. Hari akan berganti. Dan Angin Malam akan datang, Facio. Aku tidak pernah berhubungan baik dengannya,” ucap sahabatku lembut.

“Terima kasih, Angin, aku mengerti. Tidak ada pertemanan abadi di dunia ini. Sahabat pada akhirnya akan pergi menjauh." Angin memandangku sendu.

"Terima kasih kuucapkan karena engkau telah menemaniku di waktu yang singkat ini. Kau baik sekali mau mengantarkanku berkeliling.”

“Kuatkan hatimu, Facio. Tegarkan dirimu. Kau berhak mendapatkan yang lebih layak dari keadaanmu sekarang.”

Aku diam.

Keadaan layak? Seperti apa?

Tanpa kata-kata perpisahan, Angin terbang pelan menjauh. Meninggalkanku seorang diri di dunia yang kejam. Aku hanya bisa menatapnya sendu.

Senja yang indah tertutupi mendung yang menebal. Si Hujan semakin deras turun, menyeringai jahat padaku. Aku tak pedulikan. Aku menatap luasnya langit di atas, Si Petir mencambuk kasar membentuk guratan mengerikan, juga Si Geluduk menabuh keras-keras hingga menyakitkan gendang telinga.

Sekonyong-konyong, Si Hujan yang menyeringai jahat padaku tanpa ampun mengoyak-ngoyak tubuhku. Dan menghanyutkanku ke selokan-selokan bau penuh sampah. Di dalam selokan itu tubuhku terombang-ambing. Aku mencoba bertahan. Hujan semakin deras. Si Air semakin kasar menggerogotiku. Membenturkan tubuhku ke dinding-dinding berlumut. Aku sudah tak sanggup lagi. Aku menyerah, aku pasrah.

“Selamat tinggal dunia. Selamat tinggal teman-temanku. Selamat tinggal sahabatku, Angin,” lirihku.

“Aku tahu, aku yang pergi tak akan berarti apa-apa bagi dunia ini. Aku akan cepat tergantikan oleh yang lain. Dan kehidupan di dunia akan terus berjalan, menggulirkan waktu walau tanpaku.”

Aku merasakan sedikit demi sedikit tubuhku terkoyak menjadi serpihan-serpihan kecil. Lalu melebur seperti bubur. Aku tak bisa lagi melihat indahnya dunia. Aku tak bisa lagi menemui saudara dan teman-teman.

Kini hanya tersisa kegelapan tanpa akhir.

...ketika hidup harus bertahan, tapi keadaan tak memungkinkan...

***

Di rumahku yang sederhana, Jakarta, 24 September 2010

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Sang Surya dan Doa Yang Tertinggal di Laut
Oktonawa
Skrip Film
Anak tetangga
alvino xavier
Flash
Bronze
Rumah Murah Berhantu
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Saat Bintang Menyentuh Laut
agrecia
Cerpen
FACIO Si Tisu Malang
hadi wiyono
Novel
Kovalen Rangkap Tiga
Dita
Novel
Ketika Kau Tak Bersama Siapapun
Ayeshalole
Novel
Menggapai Surga Cintamu
Hanachan
Novel
Kembali ke Rahim
Faiz el Faza
Novel
Gold
PCPK Claudia vs Nadia
Noura Publishing
Novel
Sour Seventeen
Lovaerina
Komik
llghtz
Winter
Skrip Film
Atella
Vivin Aprilia
Skrip Film
Alice in her own Wonderland
Nadia N
Skrip Film
Luka
Jia Aviena
Rekomendasi
Cerpen
FACIO Si Tisu Malang
hadi wiyono
Novel
AIR MATA MAMAK DISUJUD TERAKHIR
hadi wiyono
Cerpen
SETITIK DEBU DI KACA LANTAI 50
hadi wiyono
Novel
TULUS
hadi wiyono
Cerpen
A Cold Goodbye
hadi wiyono
Cerpen
Sore Itu Di Depan Gang Kecil
hadi wiyono
Flash
Keajaiban Tahajud
hadi wiyono
Cerpen
SEBENING RINDU
hadi wiyono
Cerpen
Penjaga Lembah Seruni
hadi wiyono