Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Facial Pengikat Jiwa
0
Suka
96
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Lampu neon toko furnitur "Maju Jaya" berkedip-kedip, seolah ikut lelah melihat nasib Celiya. Di sudut ruangan, Celiya berdiri dengan seragam SPG yang tampak kebesaran dan kusam. Wajahnya adalah sebuah bekas penderitaan; jerawat merah meradang memenuhi pipi dan dahinya, meninggalkan bekas-bekas kehitaman yang sulit disembunyikan bahkan dengan bedak paling tebal sekalipun. Rambutnya kering, seringkali hanya diikat asal-asalan karena ia sudah terlalu lelah untuk peduli.

Di depan toko, SPG dari gerai elektronik sebelah, seorang gadis bernama Bella, tertawa renyah. Bella cantik, kulitnya mulus seperti kaca, dan setiap kali ia tersenyum, pelanggan pria seolah tersihir untuk membeli apa saja yang ia tawarkan. Celiya hanya bisa menunduk. Hari ini, ia belum menjual satu lemari pun. Target bulanannya masih jauh, dan bosnya, Pak Hendra, sudah berkali-kali memberikan tatapan tajam yang seolah berkata, "Kalau bukan karena rasa kasihan, kamu sudah saya pecat."

Namun, rasa sakit di hatinya bukan karena pekerjaan. Melainkan karena Devan.

Devan adalah senior di kampusnya, sosok aktivis organisasi yang karismatik, cerdas, dan memiliki senyum yang sangat manis. Celiya mencintainya dalam diam yang menyesakkan. Setiap kali mereka berpapasan di koridor kampus, Celiya akan bersembunyi di balik buku besarnya. Ia merasa dirinya adalah seseorang yang kotor. Devan dikelilingi oleh gadis-gadis cantik—para mahasiswi populer yang kulitnya berkilau dan pakaiannya selalu modis. Bagaimana mungkin seorang Devan akan melirik gadis "buruk rupa" yang berbau keringat dan hanya Spg toko furnitur seperti dirinya?

******

Malam itu, hujan turun rintik-rintik. Celiya berjalan pulang dengan bahu merosot. Langkah kakinya terhenti di sebuah gang yang biasanya gelap, namun malam ini tampak berbeda. Sebuah bangunan bergaya kolonial yang megah berdiri di sana, dihiasi lampu-lampu kristal yang berpendar mewah. Di depannya, sebuah papan kayu bertuliskan: "Salon L'Ame: Diskon 90% untuk Perawatan–FACIAL Khusus Malam Ini."

Seolah terhipnotis, Celiya melangkah masuk. Aroma melati menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Di dalam, ia disambut oleh seorang wanita paruh baya yang mengenakan gaun vintage ala nyonya Belanda.

"Selamat malam, Gadis Kecil," suara wanita itu membuat bulu kuduk Celiya berdiri. "Aku adalah Madame Elara. Kau tampak membawa beban dunia di wajahmu."

"Saya... saya ingin cantik, Madam. Apa pun caranya," bisik Celiya, hampir menangis.

Madam Elara tersenyum misterius. "Kecantikan adalah perjanjian, Celiya. Aku bisa menghapus semua noda itu, membuatmu secantik dewi yang paling dipuja. Tapi ingat satu hal: kecantikan ini berasal dari kemurnian niatmu. Jika kau menggunakannya untuk hal yang tidak baik—untuk kesombongan, untuk menyakiti, atau untuk manipulasi—maka bayarannya akan sangat mahal."

Celiya tidak peduli. Ia hanya ingin berhenti dihina. Ia hanya ingin Devan melihatnya. "Saya setuju," tegasnya.

Perawatan itu dimulai. Rasanya bukan seperti facial biasa. Celiya merasakan kulit wajahnya seperti ditarik, dibersihkan oleh jemari dingin Madame Elara yang terasa seperti jarum-jarum halus. Ada cairan hangat yang dioleskan, yang aromanya amis namun manis. Celiya jatuh tertidur dalam mimpi yang sangat dalam.

******

Ketika terbangun, Celiya berada di kamarnya yang sempit. Ia segera berlari ke arah cermin pecah di sudut ruangan. Ia memekik. Wajah yang menatapnya kembali bukan lagi wajah Celiya yang lama. Kulitnya kini putih bersih, bercahaya, tanpa satu pun bekas jerawat. Matanya tampak lebih lebar dan jernih, bibirnya merah merekah tanpa lipstik. Ia cantik. Sangat cantik hingga ia sendiri merasa takut.

Perubahan itu membawa dampak instan. Saat ia bekerja, Pak Hendra hampir menjatuhkan kopinya.

"Celiya? Ini benar kamu?" tanya bosnya tak percaya.

Hari itu, Celiya tidak perlu mengejar pelanggan. Pelangganlah yang mengejarnya. Para pria berebut memesan set sofa mahal hanya agar bisa berbicara dengannya lebih lama. Pak Hendra terus memujinya, "Kamu adalah aset terbaik toko ini, Celiya! Teruslah tersenyum!"

Di kampus, situasinya lebih gila lagi. Devan, yang biasanya hanya menyapa singkat, kini benar-benar berhenti untuk berbicara dengannya.

"Celia? Kamu terlihat... berbeda. Sangat cantik," ujar Devan dengan rona merah di pipinya.

Celiya merasa berada di atas awan. Namun, racun kesombongan mulai meresap. Ia mulai menikmati bagaimana pria-pria di kampus memujanya. Ada seorang mahasiswa bernama Rio yang saking terobsesinya pada Celiya, rela melakukan apa saja. Celiya mulai memanfaatkan Rio; menyuruhnya mengerjakan tugas, membelikannya barang-barang mewah, dan menertawakannya di belakang punggung.

Bahkan, ia mulai membalas dendam pada Bella, SPG sebelah. Celiya menggunakan kecantikannya untuk menghasut pelanggan agar tidak membeli di toko Bella, menyebarkan fitnah bahwa produk di sana cacat, sambil memberikan senyum kemenangan yang keji.

Suatu malam, seorang pemuda yang patah hati karena ditolak mentah-mentah oleh Celiya melakukan tindakan nekat. Ia mencoba mencelakai diri di depan kos Celiya sebagai bukti cinta. Bukannya merasa kasihan, Celiya justru berkata, "Mati saja, aku tidak butuh pria lemah sepertimu."

Malam itu, Celiya bermimpi. Madam Elara muncul dengan wajah yang kini tampak seperti tengkorak di balik cadarnya.

"Kau telah melanggar perjanjian, Celiya. Kecantikanmu kini menjadi racun."

Celiya terbangun dengan rasa gatal yang luar biasa di wajahnya. Ia berlari ke cermin. Sebuah bisul besar bernanah muncul di hidungnya. Ia panik dan mencoba menutupinya dengan makeup, namun semakin ia menutupinya, semakin banyak benjolan yang muncul. Bukan sekedar jerawat biasa, melainkan lubang-lubang kecil yang tampak seperti daging yang membusuk.

Keesokan harinya, kecantikan itu hilang total. Bahkan, wajahnya jauh lebih buruk dari sebelumnya. Kulitnya mengelupas, meninggalkan daging kemerahan yang mengeluarkan bau tidak sedap. Matanya menjadi sayu dan bengkak.

Saat ia sampai di toko, Pak Hendra langsung menutup hidungnya.

"Celiya! Apa yang terjadi denganmu? Kamu menakuti pelanggan! Pergi! Kamu dipecat!"

Ia berlari ke kampus, berharap setidaknya ada satu orang yang membantunya. Namun, orang-orang yang dulu memujanya kini membuang muka dengan jijik.

"Iuwh, monster apa itu?"

"Celiya yang cantik itu ternyata hanya topeng, ya?"

Rio, yang dulu ia perbudak, kini tertawa paling keras melihat kehancurannya.

****

Celiya terduduk di bangku taman kampus yang sepi, terisak dalam kehinaan yang luar biasa. Ia merasa jiwanya benar-benar terikat pada facial itu. Kecantikan itu telah mengambil kemanusiaannya, dan kini ia tidak memiliki apa-apa lagi.

"Celiya?"

Sebuah suara yang sangat dikenalnya menyapa. Devan.

Celiya segera menutupi wajahnya dengan syal kusam. "Jangan lihat aku, Kak Devan! Pergi! Aku menjijikkan!"

Namun, Devan tidak pergi. Ia justru duduk di samping Celiya. Ia tidak menutup hidung, tidak pula menunjukkan gurat jijik.

"Aku tidak pernah berteman denganmu karena wajahmu yang cantik kemarin, Celiya. Aku menyukaimu karena aku ingat bagaimana kau dulu tetap bekerja keras meskipun orang-orang meremehkan mu. Tapi belakangan, kau berubah menjadi orang asing yang sombong. Aku justru lebih suka Celiya yang lama."

Celiya menangis mendengar kata kata yang di ucapkan Devan. "Tapi sekarang aku buruk rupa, Kak. Aku ingin kembali seperti dulu lagi."

******

Sebelum nya Madam Elara bilang . Perawatan itu bernama "Facial Pengikat Jiwa". Ketika Celiya menggunakan kecantikan untuk kejahatan, jiwanya mulai terkikis. Dan kini, tubuhnya mengikuti kehancuran jiwanya. Celiya jatuh sakit parah. Infeksi di wajahnya menjalar ke seluruh tubuh. Dokter tidak bisa menjelaskan penyakit apa itu; secara medis, tubuh Celiya seperti menolak untuk hidup.

Di hari-hari terakhirnya di rumah sakit yang sederhana, hanya ada satu orang yang setia duduk di samping ranjangnya. Bukan bos yang dulu memujinya, bukan pemuja yang dulu ingin mati untuknya. Hanya Devan. Devan membacakannya buku, menggenggam tangannya yang kini hanya tulang berbalut kulit keriput, dan tetap memanggilnya "Celiya."

"Terima kasih, Kak," bisik Celiya di napas terakhirnya. Wajahnya yang hancur tampak tenang untuk pertama kalinya. "Sekarang aku tahu... Wajah yang dulu aku miliki, tidak sebanding dengan penderitaan ku sekarang."

Celiya meninggal dunia sore itu. Konon, di tempat salon Madam Elara pernah berdiri, kini hanya ada lahan kosong yang ditumbuhi bunga melati. Dan bagi siapa pun yang merasa tidak puas dengan wajah mereka, terkadang mereka masih bisa mendengar suara gesekan biola tua, menawarkan kecantikan yang bisa mengikat jiwa bagi mereka yang lupa akan hati nurani.

****TAMAT****

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Facial Pengikat Jiwa
lilla safira alhasanah
Novel
Gold
Sing, Unburied, Sing
Mizan Publishing
Cerpen
Bronze
Cerita Ratna, Seorang Pengarang, dan Sebuah Novel
Habel Rajavani
Novel
Malam satu suro
Pradiky winata
Novel
GRAMOFON
Embart nugroho
Novel
Bronze
Hizib
Topan We
Novel
Bronze
Undercover(terbit)
Vaearen
Novel
Gold
Fantasteen Scary VE
Mizan Publishing
Novel
Bisikan Malam
A.R. Rizal
Novel
Gold
Clown Terror
Noura Publishing
Novel
Gold
Fantasteen Diary of March
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Supranatural Experience 1998
mutaya saroh
Novel
Gold
Dering Kematian
Bentang Pustaka
Novel
Tarun, Perjalanan ke Dunia Jin
artupaz piru
Cerpen
Bronze
JAMUAN TERAKHIR
Rosi Ochiemuh
Rekomendasi
Cerpen
Facial Pengikat Jiwa
lilla safira alhasanah
Cerpen
KAMU, AKU DAN KENANGAN
lilla safira alhasanah
Cerpen
Bronze
Remedi Matematika Bonus Cinta
lilla safira alhasanah
Flash
Warna pipimu Saat itu
lilla safira alhasanah