Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Malam itu, meja makan di kediaman Baskoro dipenuhi kehangatan yang tampak sempurna. Sinar lampu gantung kristal memantulkan kilau piring porselen dan denting sendok yang beradu pelan. Di ujung meja, Baskoro duduk dengan kemeja kerja yang lengan kakinya sudah digulung rapi hingga siku. Sebagai direktur operasional di sebuah perusahaan logistik multinasional, garis lelah di wajahnya selalu tertutup oleh wibawa dan senyum tenang.
Di sampingnya, Linda—istrinya—dengan cekatan menyendokkan nasi dan sup iga hangat ke piring Baskoro. Linda selalu tampil anggun, bahkan dalam balutan gaun rumahan berbahan sutra yang sederhana. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya memancarkan kelembutan seorang ibu rumah tangga ideal yang mengabdikan seluruh waktunya untuk mengurus rumah dan keluarga.
"Gimana kuliah hari ini, Tan?" tanya Baskoro membuka percakapan, menatap putra tunggal mereka yang duduk di hadapannya.
Nathan, pemuda berusia sembilan belas tahun dengan kacamata berbingkai tipis, tersenyum tipis sebelum menjawab, "Lumayan, Yah. Hari ini bahas studi kasus hukum pidana internasional tentang batas wilayah maritim. Dosennya lumayan ketat, tapi seru."
"Bagus," Baskoro mengangguk bangga. "Hukum Internasional itu masa depan. Kamu harus tekun. Ayah kerja keras dari pagi sampai malam cuma supaya kamu bisa dapat pendidikan terbaik dan pimpin masa depan kamu sendiri."
"Iya, Yah. Nathan tahu," jawab Nathan pelan. Tangannya meraih gelas air putih, namun matanya sempat melirik ke arah ibunya.
Linda tersenyum manis, mengusap bahu suaminya lembut. "Sudah, Mas. Lagi makan jangan dibahas kerjaan atau target kuliah terus. Nathan kan baru semester awal, biarkan dia adaptasi dulu."
"Bukan nuntut, Ma. Cuma menyemangati," sahut Baskoro terkekeh pelan. Dia menggenggam tangan Linda di atas meja, lalu mencium punggung tangan istrinya itu dengan penuh kasih. "Lagipula, Ayah tenang karena tahu rumah ini selalu dijaga dengan baik sama Mama."
Pemandangan itu adalah potret keluarga idaman. Tetangga mengenali mereka sebagai keluarga tanpa cela: suami sukses berkecukupan, istri yang berbakti dan lembut, serta anak cerdas yang penurut. Namun, di balik kehangatan lampu kristal dan wewangian sup iga itu, ada sebuah bayangan hitam yang tersembunyi sangat rapat.
Satu jam setelah makan malam, rumah dua lantai itu kembali hening. Baskoro sudah berkutat di ruang kerjanya dengan tumpukan berkas ekspansi perusahaan. Nathan pamit masuk ke kamar atas untuk menyelesaikan tugas perkuliahan.
Linda berada di dalam kamar utama. Ia mengunci pintu dari dalam. Suara kran air shower yang dinyalakan sengaja dibiarkan mengalir untuk menyamarkan suara. Di depan cermin rias yang megah, kelembutan wajah ibu rumah tangga itu perlahan memudar, berganti dengan tatapan dingin dan penuh perhitungan.
Linda membuka laci rahasia di balik gantungan baju di lemari besarnya. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah ponsel ganda yang tidak pernah diketahui oleh Baskoro maupun Nathan. Layar ponsel dinyalakan, memperlihatkan puluhan notifikasi pesan terenkripsi dari sebuah agen penyedia layanan pendamping kelas atas—sebuah jaringan eksklusif yang hanya melayani pejabat dan pengusaha berdompet tebal.
Linda bukanlah korban kemiskinan. Baskoro memberikan nafkah yang lebih dari cukup. Namun, kehidupan rumah tangga yang monoton, rasa haus akan kebebasan, sensasi bahaya, serta adiksi pada gaya hidup tersembunyi telah menyeret Linda ke dalam dunia remang-remang itu selama tiga tahun terakhir. Di luar, ia adalah Ny. Linda Baskoro yang terhormat. Di dunia itu, ia dikenal dengan nama Sasha—seorang high-class escort girl berbayar fantastis yang terkenal elegan, cerdas, dan diskret.
Satu pesan baru masuk dari muncikari langganannya:
“Sasha, ada booking mendadak malam ini untuk staycation di Suites Hotel Grand Paragon. Klien anak muda, tajir, minta teman ngobrol dan bersantai sampai besok pagi. Bayaran double. Dia bayar cash di depan. Ambil?”
Linda menatap pantulan dirinya di cermin. Baskoro dipastikan akan lembur hingga larut malam di ruang kerjanya dan biasa tertidur lelah. Nathan biasanya tidak pernah keluar kamar jika sudah berkutat dengan laptopnya.
Linda membalas pesan itu dengan cepat: “Kirim alamat kamar dan kode aksesnya. Saya berangkat 30 menit lagi.”
Dengan cekatan, Linda mengganti pakaian rumahannya dengan gaun malam berwarna merah marun berpotongan elegan yang memeluk lekuk tubuhnya. Ia mengoleskan lipstik merah menyala dan memakai wig hitam bergelombang yang mengubah bentuk wajah aslinya. Parfum beraroma vanilla musk yang tajam dan sensual disemprotkan ke lehernya—aroma yang sangat berbeda dari parfum melati lembut yang biasa ia pakai di rumah.
Ia keluar lewat pintu samping garasi tanpa menimbulkan suara, mengendarai mobil kecil yang selalu ia parkir tersembunyi beberapa blok dari rumahnya.
Kamar suite nomor 1802 di Hotel Grand Paragon terasa remang-remang saat Linda melangkah masuk. Suara musik jazz pelan mengalun dari speaker ruangan. Lampu utama dimatikan, hanya menyisakan lampu berdiri berkelemayut kuning di sudut ruangan yang memberi kesan hangat sekaligus misterius.
Linda meletakkan tas tangannya di atas meja konsol. Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahunya, dan memasang topeng profesionalnya sebagai Sasha—sosok wanita dewasa yang memesona, penuh percaya diri, dan siap memanjakan siapa pun yang menyewanya.
"Selamat malam," suara Linda mengalun lembut, berat dan penuh penekanan sensual yang terlatih. "Maaf membuatmu menunggu lama..."
Di balkon kamar yang menghadap ke kerlap-kerlip lampu kota, seorang pria berdiri membelakangi pintu. Ia mengenakan kaus hitam polos dan celana santai. Pria itu memegang segelas minuman beralkohol rendah.
Mendengar suara wanita itu, sang pemuda berbalik perlahan. "Nggak apa-apa, saya juga baru—"
Ucapan pria itu terhenti seketika.
Suara Linda pun tertahan di tenggorokan.
Bumi seolah berhenti berputar di dalam kamar suite mewah itu. Udara mendadak tersedot habis, menyisakan kesunyian yang mencekam dan menyiksa.
Di bawah remang lampu kamar, mata Linda membelalak sempurna. Lipstik merah menyala di bibirnya gemetar hebat. Wig hitam yang ia kenakan terasa berat membakar kepalanya. Pria yang berdiri di depannya, pemuda yang memegang gelas dengan tangan gemetar, adalah Nathan.
Anak kandungnya sendiri.
Gelas di tangan Nathan terlepas, jatuh menghantam karpet tebal tanpa suara pecah, namun dentumannya meremukkan seluruh dinding kesadaran mereka berdua.
"Ma... Mama?" suara Nathan tercekat, lirih seperti bisikan orang yang hampir mati tenggelam. Kacamata berbingkai tipisnya hampir merosot dari hidungnya. Matanya menatap wanita di depannya dari ujung kepala hingga ujung kaki—gaun merah marun yang terbuka di bagian dada, riasan tebal yang mencolok, dan aroma vanilla musk yang asing.
"Nathan...?" Linda mundur satu langkah. Lututnya lemas seketika. Wajah di balik riasan tebal itu pucat pasi, kehilangan seluruh darahnya. "K-kamu... kenapa kamu bisa ada di sini?"
Nathan tertawa pendek—sebuah tawa sumbang yang dipenuhi rasa frustrasi, kehampaan, dan kehancuran yang mendalam. "Harusnya Nathan yang tanya... Mama ngapain pakai baju kayak gitu? Kenapa nama Mama di aplikasi itu Sasha?"
"Nathan, ini... ini tidak seperti yang kamu bayangkan! Mama..." suara Linda bergetar hebat. Tangannya mencoba meraih lengan anaknya, namun Nathan menyentak tubuhnya mundur dengan jijik.
"Jangan sentuh aku!" teriak Nathan. Suaranya pecah, dipenuhi air mata yang mendadak meleleh deras membasahi pipinya. "Jangan coba-coba bohong lagi, Ma! Aku bukan anak kecil lagi!"
Nathan mencengkeram rambutnya sendiri, merintih seperti orang yang sedang disiksa batinnya. "Aku yang pesan layanan ini... Aku pakai uang tabungan hasil proyek lepasanku... Aku cuma mau tahu... aku cuma mau cari pelarian karena aku stres ditekan Ayah terus-menerus! Aku cuma butuh teman bicara malam ini! Tapi kenapa harus Mama?!"
Linda merosot ke lantai, terduduk di atas karpet dingin. Air matanya merusak riasan mata hitam tebalnya, mengalir membasahi pipi. Seluruh martabat, keanggunan, dan topeng kebohongan yang ia rakit bertahun-tahun hancur berkeping-keping di depan mata anak yang paling ia cintai.
"Maafkan Mama, Nathan... Tolong, maafkan Mama..." bisik Linda meratap, tangannya mengepal di dada yang terasa sesak luar biasa. "Mama mohon... jangan beri tahu Ayah... Ini salah Mama, Mama yang kotor, tapi tolong..."
Nathan menatap ibunya dengan pandangan hampa. Sosok ibu rumah tangga penyayang yang baru saja menyendokkan sup ke piringnya satu jam lalu kini bertransformasi menjadi wanita simpanan berkostum mencolok di lantai hotel mewah. Rasa hormat, rasa aman, dan fondasi jiwanya runtuh seketika.
"Keluarga kita..." suara Nathan terdengar sangat dingin, namun penuh penderitaan. "Rumah kita... semuanya cuma palsu. Ayah kerja keras membanggakan Mama, dan Mama di sini... menjual diri?"
"Bukan seperti itu, Nak! Mama salah, Mama terjebak... Mama cuma merasa kesepian..." racau Linda, mencoba membela diri walau ia tahu tidak ada alasan yang bisa membenarkan tindakannya.
Nathan mundur mendekati pintu keluar. Tangannya memegang gagang pintu, matanya menatap Linda untuk terakhir kalinya malam itu dengan tatapan yang tidak akan pernah sama lagi.
"Aku nggak tahu harus menatap Ayah kayak gimana besok pagi," kata Nathan pelan, air matanya menetes ke lantai. "Dan aku nggak tahu... siapa wanita yang ada di rumah kita selama ini."
Nathan membuka pintu dan berlari keluar, meninggalkan Linda yang menangis histeris sendirian di dalam kamar suite remang-remang itu. Di luar, kota tetap bersinar terang dengan sejuta lampu, namun di dalam ruangan itu, kehangatan keluarga Baskoro telah mati untuk selamanya. Topeng kesempurnaan itu telah pecah, meninggalkan serpihan tajam yang menancap tepat di jantung mereka.