Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Bronze
Error 404, Identity Not Found
2
Suka
13,882
Dibaca

“Gue bakal ngelaporin lo ke HRD besok pagi, sumpah gue nggak peduli lo anak magang senior atau anak dewa!”

Faye berteriak sambil melempar sepatu heels ke arah Zeno yang berjalan sempoyongan di lorong apartemennya. Nyaris kena kepala, tapi Zeno malah tertawa keras sambil bersandar di dinding.

“Santai dong, Bestie. Gue cuma pengen nganterin lo pulang. Takut lo nyasar ke kosan mantan,” jawab Zeno dengan logat santainya.

“Lo ngikutin gue dari bar, ya?! Zeno, lo gila?!”

Zeno mendekat, kali ini dengan tatapan tajam. “Gue nggak gila. Gue kesel. Lo pikir lucu ya, nyindir presentasi gue kayak gitu?”

Faye hendak menutup pintu, tapi Zeno sigap menyelipkan kakinya di celah pintu. Tatapan mabuk mereka terkunci, sama-sama terluka egonya.

​“Gue nggak akan pulang sebelum kita beresin ini.” 

​Faye menghela napas panjang, emosinya masih menyala. “Masuk. Ributnya jangan ganggu tetangga,” katanya, lalu membuka pintu apartemennya. 

​Zeno langsung duduk di sofa. Faye mengambil dua botol air mineral dari kulkas. “Minum. Kita terlalu mabuk buat adu mulut,” katanya sambil memberikan sebotol air ke Zeno. 

​Mereka duduk berhadapan. “Lo selalu ngerasa paling bener ya?” tanya Zeno. 

​“Gue cuma nggak mau kerja bareng orang bego yang sok jenius,” balas Faye. 

“Lo anggap gue bego?”

“Lo duluan yang anggap gue badut.”

Suasana kembali meledak. Mereka saling dorong dan melempar kata-kata kasar. Tiba-tiba hening. Jarak mereka hanya tinggal satu langkah. Alkohol, ego, dan panas tubuh beradu dalam ruang sempit. 

“Apa sih lo mau-nya, ha?!” desis Faye, mendorong dada Zeno.

Zeno mencengkeram pergelangan tangannya. “Lo! Yang nyeret gue ke sini! Sekarang acting kayak lo korban penculikan?!”

“Ampas,” gumam Faye, berusaha melepas tangannya. “Lo nggak pernah bisa nerima kalau gue lebih pinter!”

“Gue gak butuh jadi pinter, Faye,” suara Zeno rendah, mendekat, “gue cuma perlu menang.”

Mereka bergulat, saling dorong hingga guling ke samping. Tangan Zeno menahan pergelangan tangan Faye di kedua sisi tubuhnya. Wajah mereka hanya sejengkal, napas terasa hangat di pipi masing-masing. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba bibir mereka saling menabrak.

Ciumannya kasar. De...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Bronze
Caritas
StarV
Flash
Kunjungan Kekasih
Aiyu A gaara
Cerpen
Bronze
Error 404, Identity Not Found
Desy Cichika
Flash
Kepada Mantan Kekasihku
Rafael Yanuar
Novel
Gold
Highschool Love Story
Bentang Pustaka
Novel
Laluna
Ririn
Novel
DIANTARA SENJA KITA
Febrianti Dwi A
Skrip Film
Bertanya Pada Restu Tuhan
Shinta Putri Kartika Sari
Cerpen
Goresan Takdir Di Kanvas Usang (Part 1)
lilla safira alhasanah
Cerpen
Antara Bumi & Angkasa
Sayidina Ali
Cerpen
Bronze
@giman
Nuel Lubis
Novel
Bronze
Eleanor
Yuvitalya
Novel
Cerita Waktu yang Tak Lagi Sama
Rezky Ananda
Flash
Rumah yang Tidak Boleh Kutinggali
Sekar Kinanthi
Novel
Gadis Pesantren
Fitria Sawardi
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Error 404, Identity Not Found
Desy Cichika
Novel
Bronze
Renji-Senara: Forbidden Bloom
Desy Cichika
Novel
Bronze
Pretty Boy for Sheana
Desy Cichika
Flash
Bronze
Reuni
Desy Cichika
Novel
Bronze
We Were Never Really Over
Desy Cichika
Cerpen
Bronze
Bunga yang Tak Sempat Mekar
Desy Cichika
Novel
Bronze
Asisten Dokter: Pengganti Tugas Nyonya
Desy Cichika
Novel
Suamiku, Teman Nongkrong Ayah
Desy Cichika