Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Bronze
Error 404, Identity Not Found
1
Suka
8,554
Dibaca

“Gue bakal ngelaporin lo ke HRD besok pagi, sumpah gue nggak peduli lo anak magang senior atau anak dewa!”

Faye berteriak sambil melempar sepatu heels ke arah Zeno yang berjalan sempoyongan di lorong apartemennya. Nyaris kena kepala, tapi Zeno malah tertawa keras sambil bersandar di dinding.

“Santai dong, Bestie. Gue cuma pengen nganterin lo pulang. Takut lo nyasar ke kosan mantan,” jawab Zeno dengan logat santainya.

“Lo ngikutin gue dari bar, ya?! Zeno, lo gila?!”

Zeno mendekat, kali ini dengan tatapan tajam. “Gue nggak gila. Gue kesel. Lo pikir lucu ya, nyindir presentasi gue kayak gitu?”

Faye hendak menutup pintu, tapi Zeno sigap menyelipkan kakinya di celah pintu. Tatapan mabuk mereka terkunci, sama-sama terluka egonya.

​“Gue nggak akan pulang sebelum kita beresin ini.” 

​Faye menghela napas panjang, emosinya masih menyala. “Masuk. Ributnya jangan ganggu tetangga,” katanya, lalu membuka pintu apartemennya. 

​Zeno langsung duduk di sofa. Faye mengambil dua botol air mineral dari kulkas. “Minum. Kita terlalu mabuk buat adu mulut,” katanya sambil memberikan sebotol air ke Zeno. 

​Mereka duduk berhadapan. “Lo selalu ngerasa paling bener ya?” tanya Zeno. 

​“Gue cuma nggak mau kerja bareng orang bego yang sok jenius,” balas Faye. 

“Lo anggap gue bego?”

“Lo duluan yang anggap gue badut.”

Suasana kembali meledak. Mereka saling dorong dan melempar kata-kata kasar. Tiba-tiba hening. Jarak mereka hanya tinggal satu langkah. Alkohol, ego, dan panas tubuh beradu dalam ruang sempit. 

“Apa sih lo mau-nya, ha?!” desis Faye, mendorong dada Zeno.

Zeno mencengkeram pergelangan tangannya. “Lo! Yang nyeret gue ke sini! Sekarang acting kayak lo korban penculikan?!”

“Ampas,” gumam Faye, berusaha melepas tangannya. “Lo nggak pernah bisa nerima kalau gue lebih pinter!”

“Gue gak butuh jadi pinter, Faye,” suara Zeno rendah, mendekat, “gue cuma perlu menang.”

Mereka bergulat, saling dorong hingga guling ke samping. Tangan Zeno menahan pergelangan tangan Faye di kedua sisi tubuhnya. Wajah mereka hanya sejengkal, napas terasa hangat di pipi masing-masing. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba bibir mereka saling menabrak.

Ciumannya kasar. De...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)
Rekomendasi dari Romantis
Cerpen
Bronze
Error 404, Identity Not Found
Desy Cichika
Cerpen
Bronze
Ijinkan Aku Bisa Mendengar Lagi
Cetra Aditya
Novel
Perjalanan Dirga
Viona Nurhalizzah
Novel
From The Star
nabil.aw
Novel
Bronze
Cinta di Negeri Putih
ANDI RIRIN NOVIARTI
Novel
Galaunya Remaja 26
A.Ariny Syahidah
Skrip Film
Cinta Terlarang
Rana Kurniawan
Novel
Bronze
Akhirnya Jadian
Rahmatika Yuniarti
Novel
Bronze
Salah Arah
Rahmawati
Novel
Bronze
Cinta Sekolah Menengah Pertama
Arumi Sekar
Novel
SETIAP KAU DAN AKU BERTEMU
Ricardo Marbun
Novel
Junior Love Senior
Aniela
Novel
Euphoria
Rushi Mu'min Aziz
Novel
Women in the Crocheting Club
Ira Karunia
Novel
Friend Or Lover
Aquariusang
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Error 404, Identity Not Found
Desy Cichika
Flash
Bronze
Reuni
Desy Cichika
Novel
Bronze
Pretty Boy for Sheana
Desy Cichika
Novel
Bronze
We Were Never Really Over
Desy Cichika
Novel
Bronze
Cinta Terlarang di Tanah Jajahan
Desy Cichika
Cerpen
Bronze
Bunga yang Tak Sempat Mekar
Desy Cichika
Flash
Bronze
Nazilla Core: Logika Anak vs Emosi Emak
Desy Cichika