Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Setiap lima tahun sekali, gang tempat Rahmat tinggal mendadak berubah seperti panggung sandiwara keliling yang baru saja memperoleh sponsor besar. Jalan yang sepanjang tahun dibiarkan berlubang akan ditimbun batu seadanya. Rumput liar di selokan dibersihkan. Dinding-dinding kusam yang biasanya menjadi tempat anak-anak menempelkan poster turnamen sepak bola mendadak dicat ulang dengan warna-warna cerah yang terlalu bersih untuk sebuah kampung yang bahkan kesulitan mendapatkan air bersih saat kemarau.
Orang-orang datang membawa kamera. Orang-orang datang membawa spanduk. Orang-orang datang membawa senyum yang selama empat tahun sebelumnya tidak pernah terlihat. Dan setiap kali musim itu tiba, Rahmat selalu merasa seperti sedang menyaksikan rombongan pemain teater yang lupa bahwa mereka pernah memainkan naskah yang sama di hadapan penonton yang sama.
Bengkel tambal bannya berdiri di ujung gang. Bangunannya kecil. Atap sengnya sudah beberapa kali ditambal. Dindingnya dipenuhi bekas tambalan cat yang warnanya berbeda-beda karena dicicil sedikit demi sedikit ketika ada uang lebih.
Di sanalah ia menghabiskan sebagian besar hidupnya. Menambal ban motor. Memompa roda gerobak. Mendengar keluhan orang-orang yang singgah. Dan perlahan memahami bahwa negeri ini punya kebiasaan aneh: semakin tinggi jabatan seseorang, semakin jauh ia dari kenyataan yang harus dihadapi setiap hari oleh orang-orang yang memilihnya.
Pagi itu, ketika matahari bahkan belum terlalu tinggi, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan bengkelnya. Mobil itu begitu mengilap hingga pantulan cahaya di bodinya membuat Rahmat bisa melihat wajahnya sendiri yang mulai dipenuhi garis-garis usia. Seorang lelaki muda turun dari kursi penumpang. Kemeja putih. Celana hitam. Sepatu mengilap. Wewangian mahal yang bahkan masih tercium setelah ia melangkah beberapa meter.
"Pak Rahmat?"
Rahmat mengangguk sambil tetap memegang ban motor yang sedang diperbaikinya.
"Kami dari tim Pak Arman."
Rahmat menahan senyum. Lagi. Nama berbeda. Wajah berbeda. Kalimat pembuka yang sama.
"Kebetulan minggu depan Pak Arman akan berkunjung ke wilayah sini."
Lelaki itu berbicara dengan nada yang terdengar seperti orang yang sedang menawarkan masa depan dalam bentuk brosur.
"Kami dengar Bapak cukup dikenal warga sekitar."
Rahmat hampir tertawa.
Dikenal. Istilah itu terdengar sangat mewah untuk orang yang setiap hari pulang dengan tangan bau karet dan oli. Namun ia tahu maksud sebenarnya. Mereka tidak mencari orang yang dikenal. Mereka mencari pintu masuk. Dan pintu masuk paling murah menuju hati rakyat selalu bernama rakyat yang lain.
"Ada perlu apa?"
"Kami ingin mengadakan dialog warga."
"Di mana?"
"Kalau memungkinkan, di rumah Bapak."
Rahmat meletakkan ban yang sedang dikerjakannya, lalu menatap lelaki muda itu cukup lama hingga senyumnya mulai terlihat canggung.
Di balik jalan raya sana, baliho calon yang mereka usung sudah berdiri setinggi pohon kelapa. Wajahnya memenuhi langit kampung seperti bulan purnama yang terlalu percaya diri. Senyumnya lebar. Tatapannya hangat. Slogannya menjanjikan perubahan yang terdengar begitu akrab, karena kalimat serupa pernah dibaca Rahmat pada pemilu sebelumnya, dan sebelumnya lagi, dan mungkin juga sebelumnya lagi ketika rambutnya masih hitam seluruhnya.
"Apa Pak Arman pernah ke sini sebelumnya?"
Lelaki itu berkedip.
"Maksud Bapak?"
"Ke kampung ini."
"Belum."
"Kalau begitu, bagaimana beliau tahu apa yang dibutuhkan orang sini?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Lelaki muda tersebut tersenyum tipis. Senyum yang tidak benar-benar menjawab apa pun.
"Kami sedang mendengarkan aspirasi masyarakat."
Rahmat kembali menahan tawa. Selama hidupnya, ia sudah mendengar terlalu banyak istilah yang terdengar penting tetapi terasa kosong saat disentuh.
Aspirasi. Pemberdayaan. Transformasi. Pemerataan. Kemajuan.
Kata-kata itu seperti balon gas yang diterbangkan tinggi-tinggi ke langit, sementara orang-orang di bawah tetap harus memikirkan harga beras, biaya sekolah, dan tagihan listrik yang terus naik.
Malam harinya, listrik kembali padam. Bukan kejadian langka. Di kampung mereka, mati lampu sudah menjadi semacam tamu tetap yang datang tanpa perlu diundang. Anak-anak mengerjakan tugas sekolah dengan cahaya lilin. Ibu-ibu mengipas-ngipas karena kipas angin berhenti berputar.
Suara generator dari rumah orang paling kaya di ujung jalan terdengar seperti ejekan yang terus mendengung di tengah gelap.
Rahmat duduk di teras rumah bersama istrinya, Sulastri. Di hadapan mereka, langit tampak bersih. Bintang-bintang bertebaran seperti garam yang ditumpahkan di atas kain hitam.
Kadang-kadang alam memang punya selera humor yang kejam. Ia menghadirkan langit megah tepat di atas orang-orang yang bahkan kesulitan menyalakan lampu ruang tamu.
"Tadi ada orang partai lagi?" tanya Sulastri.
"Iya."
"Yang mana sekarang?"
Rahmat menyebut nama calon itu. Sulastri menghela napas panjang.
"Yang kemarin janji bikin saluran air itu siapa ya?"
"Lupa."
"Yang janji beasiswa?"
"Lupa juga."
"Yang janji pasar baru?"
Rahmat tersenyum samar.
"Itu juga lupa."
Mereka tertawa kecil, karena kadang-kadang satu-satunya cara bertahan dari kekecewaan yang terlalu sering datang adalah dengan menertawakannya sebelum berubah jadi kemarahan.
Dari dalam rumah, suara anak mereka yang paling kecil terdengar sedang membaca pelajaran sekolah dengan bantuan lampu darurat yang baterainya mulai lemah. Rahmat mendengarkan suara itu cukup lama. Lalu entah mengapa, ingatannya melayang ke dua puluh tahun lalu ketika ia masih seusia anaknya. Saat itu para calon pemimpin juga datang membawa janji. Saat itu orang-orang juga bertepuk tangan. Saat itu mereka juga percaya.
Dan malam itu, di tengah gang yang kembali tenggelam dalam gelap sementara baliho-baliho kampanye tetap berdiri terang di tepi jalan raya, Rahmat mulai merasa bahwa mungkin ada sesuatu yang lebih rapuh daripada ekonomi, lebih mudah hancur daripada bangunan tua, dan lebih sulit diperbaiki daripada jalan berlubang, yaitu kepercayaan.
Dan ia tidak yakin kampungnya masih punya banyak sisa dari benda itu.
Tiga hari menjelang kedatangan Pak Arman, kampung itu mengalami keajaiban yang selama bertahun-tahun tidak pernah berhasil diwujudkan surat pengaduan, proposal warga, maupun rapat kelurahan yang sering berakhir dengan kopi dingin dan janji yang lebih dingin lagi.
Pagi-pagi sekali, beberapa truk datang membawa batu koral dan aspal. Lubang-lubang di jalan yang selama ini begitu akrab dengan roda motor warga mulai ditimbun tergesa-gesa. Para pekerja bekerja cepat, seolah sedang berlomba dengan waktu. Selokan yang biasanya dipenuhi sampah plastik mendadak dibersihkan. Rumput liar yang selama berbulan-bulan menjalar di pinggir jalan dicabut hingga ke akar.
Anak-anak kampung berjejer menyaksikan pemandangan itu seperti menonton sulap. Mereka belum cukup tua untuk memahami bahwa keajaiban yang datang menjelang pemilu sering kali memiliki tanggal kedaluwarsa.
Rahmat mengamati semuanya dari bengkel. Palu masih di tangannya. Ban motor masih menunggu diperbaiki. Namun matanya terus mengikuti para pekerja yang hilir mudik.
Menjelang siang, seorang pria berseragam dinas datang menghampirinya sambil membawa map. Wajahnya terlihat sibuk bahkan ketika sedang diam.
"Pak Rahmat, mohon bantuannya."
Rahmat mengangguk pelan.
"Bantuan apa?"
"Nanti waktu kunjungan, kami harap warga bisa berkumpul."
"Kalau memang ingin datang, biasanya warga memang berkumpul."
Pria itu tersenyum.
"Tentu. Maksud saya, kami ingin suasananya lebih meriah."
Rahmat sudah memahami arah pembicaraan itu bahkan sebelum kalimat berikutnya keluar.
"Kami juga menyiapkan konsumsi."
"Nasi kotak?"
"Dan uang transport."
Rahmat menatapnya. Pria itu buru-buru menambahkan, "Hanya pengganti waktu yang terpakai."
Tentu saja. Di negeri ini hampir semua hal punya nama yang lebih sopan daripada bentuk aslinya.
Keesokan harinya, rumah Rahmat mulai didatangi tetangga. Sebagian datang karena penasaran. Sebagian datang karena ingin memastikan apakah benar calon bupati akan berkunjung ke rumahnya. Sebagian lagi datang untuk alasan yang lebih sederhana: mencari hiburan di tengah rutinitas yang tidak banyak berubah dari tahun ke tahun.
Di beranda rumah yang sederhana itu, percakapan berkembang ke mana-mana. Tentang harga pupuk, beras, anak-anak yang kesulitan mencari pekerjaan, biaya sekolah yang semakin tinggi meski para pejabat terus berbicara tentang pendidikan yang semakin maju.
Pak Junaedi, pensiunan buruh pabrik yang rambutnya memutih seluruhnya, duduk sambil menyeruput kopi.
"Dulu saya masih percaya."
Semua orang menoleh.
"Percaya apa, Pak?"
"Percaya kalau keadaan akan berubah."
Ia tersenyum tipis. Senyum orang yang terlalu sering kecewa hingga bahkan kekecewaan pun terasa lelah untuk tinggal lebih lama.
"Dulu saya pikir masalahnya cuma satu dua orang. Kalau yang terpilih orang baik, semuanya selesai."
"Lalu sekarang?"
Pak Junaedi mengangkat cangkirnya perlahan. "Sekarang saya sadar yang berubah cuma foto di baliho."
Beberapa orang tertawa. Namun tawa itu segera menguap. Karena semua orang tahu kalimat itu tidak sedang bercanda.
Malam sebelum kunjungan, Rahmat tidak bisa segera tidur. Dari jendela kamar, ia melihat beberapa orang masih sibuk memasang bendera kecil di sepanjang jalan kampung. Lampu sorot dipasang di beberapa titik. Spanduk dibentangkan. Gapura yang catnya mulai mengelupas mendadak dicat ulang dalam satu malam. Seluruh kampung tampak seperti dipaksa berdandan untuk menerima tamu penting. Padahal tamu itu bahkan belum pernah mengenal nama-nama orang yang tinggal di dalamnya.
Sulastri yang sedang melipat pakaian memandang suaminya.
"Kamu kenapa?"
Rahmat tidak langsung menjawab. Ia masih memperhatikan para pekerja di luar.
"Aku cuma berpikir."
"Tentang apa?"
"Kalau kampung kita bisa diperbaiki dalam tiga hari karena satu orang mau datang, berarti selama ini masalahnya bukan tidak bisa."
Sulastri terdiam. Rahmat melanjutkan, "Masalahnya memang tidak mau."
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Karena beberapa kebenaran memang tidak perlu diteriakkan agar terdengar menyakitkan.
Maka keesokan paginya, kampung mereka berubah jadi lautan manusia. Mobil-mobil berpelat hitam memenuhi jalan. Orang-orang berpakaian rapi berdatangan. Kamera dipasang. Mikrofon disiapkan. Beberapa wartawan lokal mulai mencari sudut terbaik untuk mengambil gambar. Dan tepat menjelang tengah hari, rombongan itu akhirnya tiba.
Pak Arman turun dari mobil dengan senyum yang tampak begitu terlatih hingga seolah sudah menjadi bagian permanen dari wajahnya. Ia menyalami satu per satu warga. Menggendong bayi. Mengusap kepala anak-anak. Mendengarkan keluhan sambil sesekali mengangguk.
Semua gerakannya begitu sempurna sehingga Rahmat sempat bertanya-tanya apakah manusia itu sedang menjalani hidup atau sedang memainkan peran.
Di halaman rumah Rahmat telah disusun kursi-kursi plastik. Warga memenuhi setiap tempat yang tersedia. Beberapa bahkan berdiri di belakang. Sampai akhirnya pidato dimulai. Pak Arman berbicara tentang perubahan, pemerataan, kesejahteraan, masa depan, harapan.
Kata-kata yang terdengar begitu akrab sehingga Rahmat merasa pernah mendengarnya ratusan kali dalam hidupnya. Mungkin memang pernah. Hanya pembicaranya yang berganti.
Di tengah pidato, Pak Arman tiba-tiba menunjuk Rahmat.
"Pak Rahmat."
Semua mata beralih kepadanya.
"Menurut Bapak, apa masalah terbesar yang dihadapi masyarakat di sini?"
Suasana mendadak hening. Beberapa anggota tim sukses tampak tersenyum yakin. Mungkin mereka mengira Rahmat akan menyebut jalan rusak atau bantuan usaha kecil. Sesuatu yang mudah dijawab. Sesuatu yang aman.
Hingga kemudian, Rahmat berdiri, menatap kerumunan, menatap para tetangganya, menatap anak-anak yang berdiri di belakang. Demikian pula menatap Pak Arman.
"Apa Bapak benar-benar ingin tahu?"
"Tentu."
Rahmat mengangguk pelan. "Masalah terbesar kami bukan jalan."
Senyum di wajah beberapa anggota tim mulai memudar.
"Bukan saluran air."
Kerumunan mulai diam sepenuhnya.
"Bukan juga bantuan."
Pak Arman masih mempertahankan senyumnya.
Rahmat menarik napas panjang. "Masalah terbesar kami adalah kami sudah terlalu sering dijanjikan hal-hal yang sama sampai kami tidak tahu lagi mana yang harus dipercaya."
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorak-sorai. Hanya keheningan yang terasa lebih berat daripada seluruh pidato hari itu.
Di wajah beberapa warga muncul ekspresi yang sulit dijelaskan. Seperti seseorang yang baru saja mendengar isi pikirannya sendiri diucapkan oleh orang lain.
Rahmat melanjutkan dengan suara tenang. "Dulu kami percaya. Kemudian kami menunggu. Setelah itu kami kecewa. Lalu datang orang baru dan kami mencoba percaya lagi. Siklusnya terus berulang sampai rasanya bukan keadaan kami yang berubah, melainkan kemampuan kami untuk berharaplah yang semakin habis."
Angin siang berembus pelan. Spanduk-spanduk kampanye bergerak pelan di belakang panggung.
Pak Arman masih berdiri di tempatnya dengan senyum yang masih bertahan. Namun kini terlihat jauh lebih tipis. Dan tidak seorang pun tampak sedang memainkan peran. Karena di halaman rumah sederhana itu, di hadapan kamera dan baliho yang dipasang tergesa-gesa, sesuatu yang selama ini selalu disembunyikan di balik slogan akhirnya muncul ke permukaan.
Kelelahan panjang yang diwariskan dari pemilu ke pemilu, dari janji ke janji, dari satu wajah tersenyum ke wajah tersenyum berikutnya. Dan Rahmat mulai merasa bahwa kelelahan semacam itu mungkin jauh lebih berbahaya bagi para penguasa daripada kemarahan yang paling keras sekalipun.
Setelah pertemuan itu selesai, tidak ada keributan. Tidak ada warga yang berdiri sambil mengangkat tangan dan meneriakkan protes. Tidak ada pula tim sukses yang marah atau kehilangan kendali. Acara tetap berjalan sebagaimana mestinya. Pak Arman kembali tersenyum. Beberapa warga masih berfoto bersama. Anak-anak tetap berebut nasi kotak. Para wartawan terus mengambil gambar dari sudut yang dianggap paling menjual.
Dari kejauhan, semuanya tampak normal. Bahkan sangat normal. Namun Rahmat yang sepanjang hidupnya terbiasa membaca wajah orang-orang yang datang ke bengkelnya tahu bahwa sesuatu telah berubah.
Ia melihatnya pada cara para tetangga saling berpandangan setelah acara usai, melihatnya pada obrolan-obrolan kecil yang muncul di warung kopi malam harinya, melihatnya pada jeda-jeda panjang sebelum seseorang menjawab pertanyaan tentang calon yang akan dipilih.
Bukan karena mereka telah menemukan jawaban. Justru karena untuk pertama kalinya mereka mulai berani mengakui bahwa selama ini mereka tidak pernah benar-benar mempercayai pertanyaan itu.
Dua hari kemudian, video pertemuan di rumah Rahmat mulai beredar. Bukan pidato Pak Arman yang banyak ditonton. Bukan pula janji-janji kampanyenya. Yang beredar justru potongan video ketika Rahmat berbicara. Seseorang merekamnya menggunakan telepon genggam. Seseorang lain mengunggahnya. Lalu seseorang yang lain lagi membagikannya. Dan seperti banyak hal di zaman sekarang, sesuatu yang awalnya hanya terjadi di sebuah halaman rumah sederhana mendadak berjalan sendiri melampaui orang-orang yang menciptakannya.
Rahmat tidak punya media sosial. Ia bahkan tidak tahu bagaimana video itu bisa menyebar sangat cepat. Yang ia tahu hanyalah sejak pagi beberapa orang asing mulai datang ke bengkelnya.
Ada mahasiswa, guru, sopir angkot, pegawai toko. Mereka tidak datang untuk memperbaiki ban. Mereka datang hanya untuk berjabat tangan. Sebagian tidak mengatakan apa-apa. Sebagian hanya tersenyum. Sebagian lagi berkata pelan, "Terima kasih sudah mengatakan apa yang selama ini kami rasakan."
Awalnya Rahmat merasa canggung. Karena sesungguhnya ia tidak merasa telah melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia hanya menjawab pertanyaan. Itu saja. Namun barangkali di negeri yang terlalu lama bising karena pidato, kejujuran memang terdengar seperti keberanian.
Seminggu kemudian, seseorang dari tim Pak Arman kembali datang. Bukan lelaki muda yang dulu. Kali ini pria berusia sekitar lima puluh tahun berkemeja rapi dan rambut yang tersisir sempurna. Senyumnya ramah. Jenis senyum yang membuat Rahmat langsung merasa waspada.
Mereka duduk di bangku kayu depan bengkel. Pria itu memulai percakapan dengan pujian. Lalu cerita tentang pembangunan. Lalu cerita tentang pentingnya persatuan. Lalu cerita tentang bagaimana suatu bangsa harus bergerak bersama.
Rahmat mendengarkan semuanya dengan sabar. Karena ia tahu inti pembicaraan semacam ini biasanya tidak datang di awal.
Dan benar saja. Beberapa menit kemudian pria itu akhirnya berkata, "Pak Rahmat orang yang dihormati warga."
Rahmat diam.
"Kami berharap Bapak bisa membantu menciptakan suasana yang lebih positif."
"Positif bagaimana?"
"Ya … masyarakat perlu optimistis."
Rahmat tersenyum tipis.
"Apa optimistis bisa memperbaiki saluran air?"
Pria itu tertawa kecil. Tentu saja tawa yang tidak lahir dari hal lucu.
"Pak Rahmat suka bercanda."
"Aku tidak bercanda."
Senyum pria itu mulai memudar. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Lalu ia mengeluarkan amplop tebal dari tasnya, meletakkannya di atas meja dengan gerakan halus. Seolah amplop itu tidak sedang diletakkan, tapi diperkenalkan.
Rahmat menatapnya, kemudian bergantian menatap pria itu, lalu kembali menatap amplop tersebut. Dan tiba-tiba ia merasa sedih. Bukan marah atau tersinggung. Sedih. Karena setelah semua yang terjadi, setelah seluruh pidato tentang rakyat, demokrasi, pengabdian, dan perjuangan, pada akhirnya mereka masih percaya bahwa manusia bisa dibeli semudah membeli iklan di pinggir jalan.
"Aku tidak mau."
Pria itu terdiam.
"Ini hanya bentuk apresiasi."
"Aku tidak mau."
"Pak Rahmat jangan salah paham."
"Aku tidak mau."
Untuk pertama kalinya sejak datang, senyum pria itu benar-benar hilang.
Malam itu hujan turun cukup deras. Atap seng rumah Rahmat berisik dipukul air. Angin masuk melalui celah-celah jendela. Di ruang tengah, Sulastri sedang menjahit pakaian pesanan tetangga. Anak mereka belajar untuk ujian sekolah. Listrik kali ini tidak padam. Mungkin karena masa kampanye masih berlangsung. Mungkin karena kebetulan. Tak seorang pun bisa membedakan keduanya lagi.
Rahmat duduk di meja makan sambil membuka buku tulis tua. Buku itu sudah menemaninya bertahun-tahun. Isinya campur aduk. Catatan pengeluaran, daftar hutang pelanggan, nomor telepon, dan sesekali pikiran-pikiran yang muncul ketika malam terlalu panjang.
Ia membuka halaman kosong, lalu mulai menulis sesuatu yang selama ini terus mengendap di dalam dadanya. Kalimat demi kalimat mengalir pelan.
Tentang kampungnya. Tentang orang-orang yang terlalu sering dijadikan angka. Tentang para pemimpin yang datang dan pergi seperti musim. Tentang janji yang lebih cepat lapuk daripada baliho tempat ia dicetak. Tentang kepercayaan yang mati tanpa pernah memperoleh upacara pemakaman yang layak.
Ia terus menulis hingga larut malam. Hingga halaman demi halaman terisi. Hingga hujan berhenti. Hingga suara jangkrik kembali terdengar dari luar rumah.
Beberapa bulan kemudian, pemilu pun selesai. Seperti biasa, ada yang menang. Seperti biasa, ada pula yang kalah. Seperti biasa lagi, layar televisi dipenuhi analisis, grafik, dan perayaan. Dan seperti biasa pula, kehidupan di kampung Rahmat tidak berubah secara ajaib. Harga kebutuhan pokok masih tinggi. Pekerjaan masih sulit. Antrian di puskesmas masih panjang. Namun ada satu hal yang berbeda, yaitu orang-orang mulai lebih sering bertanya.
Mereka tidak lagi mudah terpukau slogan. Mereka mulai memeriksa janji lama sebelum mendengar janji baru. Mereka mulai mengingat. Dan mengingat adalah kemampuan yang sangat berbahaya bagi siapa pun yang hidup dari lupa.
Pada suatu sore menjelang akhir tahun, Rahmat berjalan ke tanah lapang di belakang kampung. Di sana berdiri papan kayu tua yang biasa digunakan warga untuk menempelkan pengumuman. Ia membawa beberapa lembar kertas dari buku tulisnya. Tulisan yang selama berbulan-bulan ia simpan. Tulisan yang lahir dari kelelahan panjang sebuah kampung yang berkali-kali ditinggalkan setelah suaranya dihitung. Ia menempelkannya di papan itu. Tanpa nama besar. Tanpa gelar. Tanpa logo. Hanya beberapa lembar tulisan sederhana.
Orang pertama yang membacanya adalah seorang tukang ojek. Lalu seorang pedagang sayur. Lalu beberapa anak muda. Hari berikutnya semakin banyak orang berhenti untuk membaca. Mereka tidak selalu setuju. Mereka tidak selalu sepakat. Namun mereka berhenti. Merenung. Mengingat. Dan itu sudah lebih dari cukup.
Di bagian paling bawah tulisan tersebut, terdapat satu kalimat yang kemudian sering dibicarakan warga selama berbulan-bulan. Kalimat yang ditulis Rahmat pada malam hujan itu. Kalimat yang kemudian dianggap sebagai batu nisan bagi sesuatu yang selama ini mati perlahan tanpa disadari banyak orang.
"Di negeri ini, kemiskinan masih bisa ditanggung, kesulitan masih bisa dilawan, bahkan luka masih bisa disembuhkan. Namun ketika kepercayaan berkali-kali dikhianati, yang mati bukan hanya harapan, tapi sebagian alasan tentang mengapa rakyat masih mau percaya pada masa depan."
Matahari mulai turun ketika Rahmat selesai membaca ulang kalimat itu. Anak-anak berlarian di lapangan. Suara pedagang keliling terdengar dari ujung jalan. Hidup terus bergerak seperti biasa. Dan mungkin memang tidak ada revolusi yang terjadi. Tidak ada pidato besar. Bahkan pula tidak ada perubahan yang datang secepat cerita-cerita dalam buku. Namun Rahmat akhirnya memahami sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya. Pengkhianatan tidak selalu dimulai saat seorang pemimpin berbohong. Pengkhianatan dimulai ketika kebohongan itu dianggap wajar. Dan perlawanan pertama terhadapnya bukanlah amarah, tapi ingatan.
Karena selama masih ada orang-orang yang mau mengingat, masih ada kemungkinan bahwa negeri ini suatu hari akan belajar membedakan antara pemimpin yang datang untuk melayani dan mereka yang hanya datang untuk memanen kepercayaan sebelum meninggalkannya kembali di dalam gelap.
Sementara langit senja perlahan memudar di atas kampung kecil itu, Rahmat berdiri memandangi lembaran-lembaran yang tertiup angin.
Sebuah epigraf. Sebuah catatan. Sebuah batu nisan. Bukan untuk rakyat yang kalah. Namun untuk kepercayaan yang terlalu sering dibunuh oleh tangan-tangan yang selalu datang sambil tersenyum.
-II-