Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Enam Jam di Jogja
0
Suka
540
Dibaca

Enam Jam di Jogja

Jam 1 — Stasiun Tugu, 09.14

Kereta Ipul tiba empat menit terlambat.

Tiwi sudah ada di sana. Berdiri di dekat pintu keluar, memegang dua gelas kopi dalam kantong plastik seperti orang yang tahu dia akan menunggu dan memutuskan untuk tidak menyia-nyiakan waktu itu.

Ipul melihatnya dari jarak sepuluh langkah. Rambut yang sama — panjang, hitam, sedikit awut karena angin. Cara berdiri yang sama — satu tangan di saku, berat badan sedikit ke kiri. Empat tahun dan Tiwi berdiri persis seperti terakhir kali Ipul melihatnya di depan kos di Sagan, malam sebelum Ipul naik bus ke Jakarta.

Ternyata orang tidak banyak berubah, pikir Ipul. Atau mungkin aku yang terlalu hafal cara dia berdiri.

"Kamu kurus," kata Tiwi, sebelum Ipul sempat bilang apa-apa.

"Kamu juga."

"Aku memang kurus dari dulu."

"Iya. Tapi sekarang lebih."

Tiwi menyodorkan satu gelas kopi. "Sudah pesan dari tadi. Mungkin sudah agak dingin."

Ipul menerimanya. Kopi hitam tanpa gula — dia tidak pernah bilang tidak suka gula. Tiwi yang tahu.

Mereka berjalan keluar stasiun tanpa membicarakan ke mana.

Jam 2 — Warung Kopi di Jalan Sosrowijayan, 10.30

Warungnya sempit, kursinya plastik, mejanya kayu dengan bekas gelas yang sudah jadi pola abstrak setelah bertahun-tahun. Tiwi memilih tempat ini.

"Masih sering ke sini?" tanya Ipul.

"Kadang. Kalau lagi ingin ingat-ingat."

"Ingat-ingat apa?"

Tiwi mengaduk kopinya meski tidak ada yang perlu diaduk. "Macam-macam."

Ipul memandang mejanya. Di antara pola bekas gelas itu ada yang bentuknya hampir bulat sempurna.

Mereka bicara tentang hal-hal yang mudah dulu — pekerjaan, kota, harga kos yang naik, teman-teman yang sudah menikah. Nama-nama yang dulu jadi referensi bersama. Ipul menyebut Andi, Tiwi tertawa karena ternyata Andi sekarang jual asuransi dan sangat serius melakukannya.

Lalu tanpa transisi yang jelas, mereka masuk ke percakapan yang lebih dalam. Tentang kenapa Tiwi memilih tetap di Jogja. Tentang kenapa Ipul memilih Jakarta yang dia sendiri tidak terlalu suka.

"Jogja tidak memberi banyak pilihan," kata Tiwi. "Tapi aku tidak ingin pilihan banyak. Aku ingin pilihan yang benar."

"Dan sudah ketemu?"

Tiwi menatap kopinya. "Belum. Tapi aku masih di sini."

Ipul diam sebentar. Di luar, dua motor berhenti di depan warung. Seseorang memesan es teh.

"Aku sering mikirin kamu," kata Ipul. Kalimat itu keluar lebih mudah dari yang dia duga.

Tiwi tidak terlihat terkejut. "Aku juga."

"Dalam artian apa?"

"Dalam artian—" Tiwi berhenti. Mengangkat gelas kopinya. "Dalam artian yang tidak mudah dijelaskan di warung kopi jam sepuluh pagi."

Ipul tertawa kecil. "Fair."

Jam 3 — Malioboro, 11.45

Mereka berjalan di trotoar yang sudah dirapikan — bebatuan baru, lebih rata, lebih tidak berkarakter dari yang Ipul ingat. Tapi Tiwi berjalan seperti dia hafal setiap sentak di bawah kakinya, jadi Ipul mengikuti saja.

Di depan sebuah toko batik, Tiwi berhenti mendadak dan menatap etalase. Ipul ikut berhenti.

"Motifnya bagus," kata Tiwi.

"Kamu mau beli?"

"Tidak. Cuma lihat."

Ipul memandang Tiwi yang memandang kain batik di balik kaca. Cahaya siang Jogja jatuh di sisi wajahnya dari sudut yang membuat Ipul mengerti kenapa selama empat tahun ini susah benar-benar berhenti memikirkan perempuan ini.

Ini tidak adil, pikirnya. Datang ke Jogja enam jam, berdiri di depan toko batik, dan tiba-tiba semua yang sudah cukup tenang jadi tidak tenang lagi.

"Kamu kenapa diam?" tanya Tiwi, masih menatap etalase.

"Lagi ngamatin."

"Ngamatin apa?"

"Kamu."

Tiwi menoleh. Mereka bertatap muka dari jarak yang terlalu dekat untuk orang yang baru bertemu kembali setelah empat tahun. Tidak ada yang mundur.

"Ipul," kata Tiwi.

"Apa?"

"Kita jangan bilang hal-hal yang nanti tidak bisa ditarik lagi."

Ipul mengangguk pelan. "Oke."

Mereka lanjut berjalan. Tiwi tidak mengambil jarak. Lengan mereka sesekali bersentuhan dan tidak ada yang berpindah tempat.

Jam 4 — Sebuah Emperan Toko, 13.20

Hujan turun mendadak — Jogja memang seperti itu, langit cerah sampai tiba-tiba tidak.

Mereka berlari ke emperan toko yang sudah tutup. Tiwi tertawa karena sandalnya basah dan Ipul berhasil lebih kering karena langkahnya lebih panjang. Mereka berdiri berdampingan di bawah atap seng yang memantulkan suara hujan jadi berisik tapi hangat.

"Aku lupa bawa payung," kata Tiwi.

"Kamu tidak pernah bawa payung."

"Betul." Tiwi menyeka air dari wajahnya. "Kamu ingat itu?"

"Kamu pernah bilang payung membuat kamu merasa salah persiapan."

Tiwi memandangnya dengan ekspresi yang susah dibaca. "Aku tidak ingat pernah bilang itu."

"Tapi kamu bilang."

Diam. Hujan makin deras. Di seberang jalan, seorang pedagang angkringan menutup gerobaknya dengan terpal biru.

"Ipul," kata Tiwi, lebih pelan dari sebelumnya.

"Apa."

Bukan pertanyaan.

Tiwi menatap hujan. "Kamu pulang jam berapa?"

"Kereta jam tiga sore."

"Masih ada dua jam."

"Iya."

Satu detik. Dua detik.

"Ada hotel kecil di ujung gang itu," kata Tiwi. "Bersih. Aku tahu karena pernah mengantar teman."

Ipul tidak menjawab langsung. Dia memandangi hujan yang mulai membentuk genangan kecil di trotoar batu. Beberapa detik berlalu dengan suara seng dan air.

"Oke," katanya akhirnya.

Jam 5 — Hotel, 13.47

Kunci kamar berputar.

Jam 6 — Hotel, 14.30

"Ipul."

Dia tidak langsung bangun. Napasnya masih teratur — tidur yang dalam, bukan yang gelisah.

"Ipul." Tiwi menyentuh bahunya. Satu sentuhan pelan, tidak insisten.

Dia membuka mata ke langit-langit. Kuning pucat di sudut-sudutnya. AC sudah mati entah kapan. Di luar, suara motor dan anak-anak di gang bawah.

Beberapa detik sebelum ingat di mana dia berada.

Tiwi sudah duduk di kursi dekat jendela — sudah berpakaian, baju yang sama, rambut disisir seadanya. Satu lutut ditekuk ke dada, memandangi jalan basah di bawah. Dia sudah di sana lama sebelum memutuskan membangunkan Ipul.

"Sudah lama?" tanya Ipul.

"Setengah jam."

Ipul tidak minta maaf. Tiwi tidak memintanya.

Dia duduk di tepi ranjang. Kepalanya sedikit berat — jenis berat yang wajar, yang akan hilang sendiri. Kemejanya tergeletak di lantai. Sandal jepit Tiwi di sebelahnya — satu telentang, satu miring.

Dia mengambil kemejanya. Memakainya sambil duduk.

"Keretamu jam tiga," kata Tiwi.

"Iya."

Di luar jendela, Jogja sudah basah. Atap-atap rumah mengkilap. Seekor kucing tidur di dinding yang sempit.

Tidak ada yang bicara.

Bukan keheningan yang nyaman — jenis keheningan yang biasa muncul antara dua orang yang sudah mengenal bahasa diam satu sama lain. Ini keheningan yang berbeda. Lebih rapi. Lebih sopan. Seperti dua orang yang baru saja selesai rapat dan menunggu seseorang yang pertama berdiri untuk keluar.

Ini bukan yang kubayangkan, pikir Ipul. Lalu mengoreksi dirinya sendiri: Bukan. Ini persis yang kubayangkan. Tapi rasanya tidak seperti yang kubayangkan.

Empat tahun dia membawa Tiwi di kepalanya seperti sesuatu yang belum selesai. Percakapan yang terpotong. Kalimat yang tidak pernah diucapkan. Momen di depan kos Sagan yang tidak berakhir dengan benar karena keduanya terlalu gengsi atau terlalu takut atau keduanya sekaligus.

Selama empat tahun itu, Tiwi di kepalanya adalah Tiwi yang berdiri di depan toko batik dengan cahaya siang Jogja di sisi wajahnya. Tiwi yang menyodorkan kopi hitam tanpa gula. Tiwi yang tahu dia tidak suka gula tanpa pernah ditanya.

Tiwi yang tidak pernah bisa menjadi lebih nyata dari itu karena jarak menjaganya tetap sempurna.

Di ranjang ini, dalam ruangan yang berbau pendingin udara dan kayu lama, Tiwi adalah Tiwi yang memandangi sandal jepitnya yang tergeletak tidak rapi di lantai. Nyata. Hadir sepenuhnya. Dan Ipul menyadari bahwa versi Tiwi yang selama ini dia rindukan tidak pernah ada di sini — versi itu hanya ada di dalam kepalanya, di antara ingatan-ingatan yang sudah dia edit tanpa sadar selama empat tahun sampai semuanya terlihat lebih indah dari kenyataannya.

"Ipul."

Suara Tiwi membuyarkan pikirannya.

"Apa."

"Kamu harus jalan sekarang kalau mau tidak ketinggalan kereta."

Bukan jangan sampai ketinggalan. Bukan masih punya waktu. Tapi harus jalan sekarang.

Ipul berdiri. Mengambil tasnya dari lantai.

"Tiwi."

"Apa."

"Ini—" Ipul berhenti. Dia tidak tahu kalimat apa yang seharusnya mengikuti kata itu.

Ini seharusnya berbeda. Tapi siapa yang bilang seharusnya berbeda?

Ini salah satu dari kita. Tapi siapa yang salah dan siapa yang satu dari kita?

Ini bukan yang aku mau. Tapi bukankah ini persis yang dia mau tadi siang?

"Tidak apa-apa," kata Tiwi. Dia tersenyum dengan cara yang terlihat latihan. "Hati-hati di jalan."

Ipul mengangguk.

Dia keluar dari kamar itu, menuruni tangga sempit, melewati resepsionis yang sibuk dengan ponselnya, dan keluar ke Jogja yang masih basah setelah hujan. Udara dingin langsung memukul wajahnya.

Dia berjalan ke arah stasiun.

Di belakangnya, kamar 214 sudah tertutup rapat.

Di dalam kamar itu, Tiwi akhirnya mengangkat sandal jepitnya dari lantai. Merapikannya — dua sandal, rapi, berdampingan di dekat pintu.

Lalu dia berbaring di ranjang, menatap langit-langit yang sudah menguning di sudut-sudutnya.

Empat tahun. Enam jam. Dan sekarang dia mengerti sesuatu yang tidak dia mengerti sebelumnya: bahwa rindu adalah negara yang paling nyaman untuk ditinggali. Di sana, semua orang tampak seperti versi terbaik mereka. Semua percakapan terasa seperti percakapan yang seharusnya terjadi. Semua akhir yang belum terjadi masih bisa berakhir dengan baik.

Begitu kamu keluar dari sana dan bertemu langsung dengan orangnya — negara itu hilang. Tidak bisa dikembalikan.

Tiwi memejamkan matanya.

Di luar, suara motor berlalu. Seseorang tertawa keras di gang bawah. Jogja sudah kembali ke rutinitasnya, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Belitung, 2026

Cerpen ini merupakan bagian dari koleksi "SEPULUH, Kumpulan Cerpen"

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Mestakkung
Hans Wysiwyg
Cerpen
Enam Jam di Jogja
Muhammad Sapril
Flash
Bronze
Penjaga Neraka dan Penjaga Surga
Silvarani
Flash
Waria Berperut Buncit & Berkumis Tipis
Rere Valencia
Cerpen
MENDEKAP MARAPI
Shinta Puspita Sari
Cerpen
Kepulangan Lestari Bersama Seporsi Bakso
muhamad Rifki
Novel
Sebening Cinta Sabrina
Ahliya Mujahidin
Novel
Bronze
Saling Sindir
Twilight Typist
Skrip Film
Dila dan Nostalgia
adrian hendrawijaya
Skrip Film
Justice for Rose (Script)
Ika Karisma
Flash
Kuning Langsat
Lisa
Novel
Sebelum Menjadi Rumah
Rizky Ade Putra
Novel
FIRST LOVE NEVER TRULLY ENDS
hadi wiyono
Flash
Mengapa Aku Sering Tak Di Sini
Aneidda
Flash
Get Older, Feel Younger
Dwi Budiase
Rekomendasi
Cerpen
Enam Jam di Jogja
Muhammad Sapril
Cerpen
Sembilan Bajingan
Muhammad Sapril
Cerpen
SEPULUH
Muhammad Sapril
Flash
Aku Benci Kamu, Penakut!
Muhammad Sapril
Novel
Penjara Tika
Muhammad Sapril
Novel
Rumah Kedua Sari
Muhammad Sapril
Novel
Akuarium Rania
Muhammad Sapril
Novel
Timah Cair Dinda
Muhammad Sapril
Flash
Janda, Kambing!
Muhammad Sapril
Cerpen
Lima Syarat Surga Jalur VIP
Muhammad Sapril
Cerpen
Dua Asbak
Muhammad Sapril
Cerpen
Pada Dusta Keempat, Seorang Laki-laki akan Mati
Muhammad Sapril
Cerpen
Delapan Pahlawan
Muhammad Sapril
Cerpen
Tujuh Anak Bapakku
Muhammad Sapril
Cerpen
Seorang Lelaki Menangis di Kamar Anaknya
Muhammad Sapril