Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Thriller
Emeline
1
Suka
915
Dibaca

Napasku sesak, menahan air agar tidak masuk ke hidungku. Tenggorokanku tersedak air yang perlahan masuk ke mulut. "Uhuk! Uhuk!!"

Aku berusaha menahan dengan kedua tanganku, tetapi tenaga mereka menekan kepalaku masuk kembali. Jijik dengan air lubang itu. Tetapi, suara tawa mereka lebih menakutkan.

"Okey, guys, cukup."

"Eww... bau kloset tanganku! Huek!"

"Yuk, yuk! Cabut. Sudah mau masuk."

Dingin... Tanganku gemetar tidak mau berhenti. Kulit di ujung jariku agak sedikit terkelupas, perih.

Suara langkah kaki mereka terdengar semakin jauh. Apa mereka sudah pergi? Tapi masih ada bayangan di luar kamar mandi. Tiba-tiba pintu toilet terbuka, aku meringkuk melindungi kepala dengan kedua tanganku.

"Kamu tidak apa-apa?"

Aku menoleh ke arah pintu. Seorang murid perempuan berdiri di ambang pintu kamar mandi.

"Pakai ini," katanya.

Aku memperhatikan sepatu mahal dan kaus kakinya yang bersih. Siapa?

"Ambil saja," ucapnya, menyodorkan sesuatu ke tanganku.

Ia pun pergi begitu saja, meninggalkan sapu tangan merah jambunya padaku. Kulap wajah serta rambutku yang basah, bersiap untuk mengikuti pelajaran berikutnya. "Kaus kakinya... bersih..." Aku memandang kaus kakiku yang menguning kecokelatan. Sudahlah, aku harus segera membersihkan wajah dan rambutku sebelum masuk kelas.

Sayangnya, aku sudah terlambat. Ketika masuk kelas, aku berhenti di dekat pintu lalu menutupnya. Sekilas tawa kecil terdengar samar. Raut wajah mereka terlihat tidak nyaman menatap ke arahku, sambil menutup hidung dan menyipitkan mata.

"Kenapa kamu basah kuyup, Melina?!"

Sekar dan teman-temannya menatap tajam, seakan memberikan peringatan. Aku menutup bibirku rapat-rapat, memeras rok dan sapu tangan merah jambu di tanganku, memikirkan bagaimana cara menjawab pertanyaan Bu Sisi tanpa melibatkan nama Sekar.

"Ini... ak... aku..."

"Bu Sisi, mungkin Melina terjatuh. Sepertinya ia butuh istirahat."

"Melina? Apa benar yang dikatakan Emeline?"

Aku mengangguk, mengangkat kepalaku mencari murid yang sudah membantuku berbicara, berusaha menghindari tatapan Sekar. Tanpa berpikir panjang, aku menjawab.

"Iya, Bu."

Suara helaan napas Bu Sisi terdengar jelas, ia meminta anak tadi untuk mengantarku ke UKS. Lalu, anak itu menghampiriku. Suaranya mirip dengan anak yang memberiku sapu tangan ini. Apakah sama dengan anak yang di kamar mandi tadi? Aku menunduk, melihat kedua kakinya melangkah ke arahku.

"Ayo, aku antar," katanya.

Kami pun keluar dari kelas menuju UKS. Wangi bunga mawar yang manis, sepertinya dari anak ini. Aku menjaga jarak agar ia tidak terganggu oleh bau pesing.

"Kenapa menjauh?"

"Bu... bukan, aku cuma tidak mau kamu kebauan..."

"Apa?"

"Sapu tangan, aku akan kembalikan."

"Oh... sapu tangan, tidak usah. Simpan saja."

"UKS-nya sudah kelihatan, kamu bisa masuk ke sana sendiri kan? Aku tidak mau telat materi Bu Sisi. Maaf tidak bisa antar sampai dalam."

"Ma... makasih."

Aku mengangkat kepala, melihat sosoknya dari belakang semakin menjauh. Anak itu memiliki rambut panjang bergelombang, seperti seorang siswi teladan. Apa dia... sudahlah, aku segera masuk ke UKS dan mengganti bajuku dengan baju olahraga.

Sama seperti sebelumnya, hari-hari berjalan seperti biasa. Setiap makan siang, mereka akan menemukanku lalu menjahiliku. Susu yang tumpah ke seragamku dan semua perilaku mereka. Menjadi alasan untukku kabur ke danau belakang sekolah. Di dekatnya, ada rumah tua reot dengan bau kayu lapuk, aku selalu duduk di pinggir danau. Tubuhku berat sekali untuk bangkit berdiri. Tidak bisa, aku harus tetap mengikuti pelajaran. Aku sudah berjanji pada seseorang. Jadi kuputuskan untuk membereskan beberapa buku pelajaran yang berserakan di sekitarku. Entah mengapa, rasanya ada suara dari rumah itu. Eh... Ada bayangan seseorang? Itu... Bu Sisi bersama siapa? Murid laki-laki itu... sepertinya aku kenal... Mereka sedang apa?

"Melina! Apa yang kau lakukan di danau? Waktunya masuk!" Tegas salah satu guru yang memanggilku dari jauh.

"Ba... baik bu!"

Aku berlari mengabaikan apa yang baru saja aku lihat. Ah... tiba-tiba saja aku teringat Sekar. Langkahku sedikit terhenti, serasa ingin kabur dari sekolah ini. Sudah beberapa kali aku mengadukan kelakuan Sekar, tapi... tanggapan guru sama saja. Mata mereka selalu memperhatikan dari atas sampai bawah, lalu berdecak. "Sekar dan temannya cuma bercanda. Kamu terlalu sensitif." Apa ini karena kedua orang tua Sekar yang berpengaruh itu? Semua anak-anak kelas memang sering membicarakannya. Berapa lama lagi aku harus menanggung semua perlakuan mereka.

Selama perjalanan menuju toko, adegan demi adegan sikap mereka padaku terasa masih hidup meski sudah berlalu. Apa yang bisa aku lakukan...

"Halo? Mbak? Mbak, saya mau bayar. Mbak!"

Tanpa sadar aku melamun, sampai lupa ada pelanggan di depanku. Wajahnya sudah kesal, sepertinya aku melamun cukup lama.

"Totalnya seratus lima puluh ribu."

"Terima kasih. Selamat jalan."

Setiap pulang sekolah, aku meluangkan waktu untuk bekerja sambilan di toko ini, kira-kira sudah tiga bulan lamanya. Pemilik toko adalah wanita muda bernama Lacia. Berambut oranye mengenakan jaket kulit berwarna cokelat. Anehnya, ada harum daun kering dari dirinya. Ia menolongku membayarkan belanjaan ketika aku lupa membawa uang. Lalu, tiba-tiba saja ia menawarkan bekerja sambilan di tokonya. Dan sinilah aku sekarang, menjadi seorang pekerja sambilan.

Setelah selesai bekerja, aku ingin memotong rambutku. Betapa berantakannya terlihat di cermin, mereka sungguh niat.

Klang!

"Selamat datang."

"Eh! Kamu Menila kan?" ucapnya, sedikit tersenyum.

"Ah... kamu..."

"Serius kamu tidak ingat? Sapu tangan. Ingat?"

Aduh memalukan! Dia melihatku kerja seperti ini? Apa dia akan mengadukanku ke anak-anak lain? Aku menelan ludah, menundukkan kepala sambil menutup mulutku rapat-rapat.

"...Hahaha, sikapmu lucu deh, Menila."

Ia... salah menyebut namaku. Aku mau memberitahu namaku dengan benar, tetapi ia sudah meninggalkan percakapan dan berjalan menelusuri rak-rak toko, mengambil beberapa barang, lalu berjalan menuju kasir.

"Totalnya jadi tiga ratus ribu."

"Tenang saja, rahasia kamu aman sama aku."

"A... aku Melina, bukan Menila."

"Oh... oke, Melina."

Ada rasa lega, meski aku tidak terlalu percaya. Tapi siapa sangka, sebelum pergi ia menaruh roti dan susu di dekat mesin kasir. "Buat kamu," katanya. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar melihat wajah anak itu. Kalau tidak salah namanya Emeline. Wajah cantik dan kulit putih seperti karakter utama drama sekolah. "Terima kasih," spontan aku menjawab. Ia pun pergi membawa barang belanjaannya.

Keesokan harinya, kelas kami mendapat giliran piket membersihkan halaman dan lapangan sekolah. Kelasku dibagi menjadi dua kelompok. Beruntungnya, aku sekelompok dengan Emeline. Apa aku sapa saja? Ia sedang berbincang dengan teman-temannya. Eh, Emeline tersenyum padaku.

Seperti ada suara orang samar-samar aku dengar...

"Permisi, bisa geser sedikit? Ada sampah yang kamu injak."

"Ah... ma... maaf!"

Aku terlalu memperhatikan Emeline, sampai tidak sadar ada murid lain yang sedang mengambil sampah.

"Kamu Melina kan? Yang basah kuyup waktu itu?"

Siapa laki-laki ini? Tiba-tiba berdiri di hadapanku dan mengajak bicara? Tunggu, dia... sekelas denganku. Kalau tidak salah namanya Lio? Sio? Aku lupa. Abaikan saja.

"Tunggu! Kamu mengabaikan aku haha," ucap anak laki-laki yang sok akrab denganku.

"Apa kita dekat?" tegasku, sedikit kesal.

"Hmm... bukannya kau selalu duduk di dekat danau?"

Mataku agak terbelalak, mendengar pertanyaan aneh dari orang ini.

"Bagaimana kau tahu?"

"Melina!"

Sontak! Aku terkejut. Tiba-tiba saja Emeline memanggilku dari jauh. Memecah obrolan kami. Emeline berlari menghampiriku, berdiri di belakangku dan memegang pundakku agak kencang sampai membuatku tidak nyaman. Tapi aku melihat Emeline tersenyum ke arah Gio sehingga aku tidak terlalu memperdulikannya. Tidak hanya Emeline, seketika teman-teman Emeline satu per satu menghampiri kami.

"Kalian lagi ngobrol apa, nih?" ujar Emeline, tersenyum.

"Cuma ngobrol hal receh," ucap murid laki-laki itu yang tidak kuingat namanya.

"Eh! Gio! Gimana pertandinganmu bulan kemarin? Menang tidak?"

Aku melihat ekspresi Emeline yang tersenyum ceria. Dia... sepertinya orang yang baik pada siapa saja ya.

"Yuk! Masuk kelas," ucap Emeline padaku, menarik lenganku untuk ikut bersama kelompoknya.

Dari belakang aku memperhatikan ia dan teman-temannya. Jadi ini rasanya seseorang menganggapmu... ada? Apa kali ini, aku bisa memiliki teman?

Sepulang sekolah, sebelum menuju tempat kerja, aku melihat sepasang kaus kaki putih yang tergantung di depan toko. Betapa bersihnya. Apa aku beli saja?

Aku mengambil kaus kaki putih itu dan masuk ke toko untuk membelinya. Harum toko ini seperti hutan basah. "Harganya dua puluh ribu," ucap seorang wanita muda yang mengenakan bunga putih agak transparan di rambutnya. Kuperiksa uang di saku, tersisa dua belas ribu. Kurogoh tasku dan juga kotak pensil untuk mengumpulkan sisanya, demi kaus kaki baru itu. Hanya untuk kaus kaki putih. Tapi tetap ku beli. Hingga waktu menunjukkan pukul lima sore, segera aku berlari menuju tempat kerja. Sudah beberapa kali aku terlambat, semoga saja tepat waktu.

Untungnya, hari ini toko tutup cepat. Aku bisa pulang lebih awal. Selama berbaring di kamar, aku hanya memandangi kaus kaki putih baru ini. Sekilas mengingatkanku pada kaus kaki bersih milik Emeline ketika pertama kali bertemu dengannya. Ada sesuatu yang menggelitik.

Untuk pertama kali aku semangat untuk berangkat sekolah. Mungkin karena kaus kaki baru atau Emeline yang sering mengajakku berbicara belakangan ini. Ia selalu bertanya padaku soal matematika atau materi lainnya yang tidak ia mengerti. Sesekali aku membantunya mengerjakan tugasnya. Setelah itu ia akan berkata, "Melina! Kamu jenius sekali! Makasih ya sudah kerjain tugasku." Lalu ia akan tersenyum cerah padaku dan memberikan susu pisang.

"Aku jenius?"

"Iya!"

Aku... ternyata jenius ya? Pertama kali aku mendengar itu. Aku orang yang jenius.

Aku... jenius.

Hari itu, ketika ia memperlihatkan kukunya yang baru saja dipoles, kumasukkan tanganku ke dalam kantung rok, menyembunyikan kuku yang menguning dan agak kehitaman. Ia juga menunjukkan ikat rambut merah jambu dengan merek yang sulit kuucapkan. Emeline memang sangat menyukai merah jambu. Jam tangannya, jepitan rambutnya, bahkan tasnya berwarna merah jambu. Semua benda itu mustahil kubeli dengan uang saku seadanya. Apa mungkin dengan lebih jenius kami bisa semakin dekat?

Berteman dengan Emeline ternyata tidak mengubah posisiku. Sehabis dari kamar mandi, aku mendapati buku-buku pelajaranku basah. Aku mengangkatnya dan buku itu telah rusak terkikis air. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Sekar dan teman-temannya. Mereka berkumpul di dekat mejaku, sambil tertawa menatap ke arahku.

"Ups!"

"Aduh... kasihan, bukunya basah semua."

Aku mengepalkan tangan sekeras mungkin, hingga kuku menembus kulit. Tiba-tiba Sekar mendekat membisikkan sesuatu padaku.

"Heh! Sampah, sudah mulai tidak tahu diri ya?"

"Sekar!!"

Seluruh kelas terdiam, para murid termasuk aku menoleh ke arah suara keras itu berasal. Siapa sangka, teriakan tadi adalah Gio yang berdiri di depan kelas. Raut wajahnya terlihat sangat kesal. Kenapa dia begitu emosi? Dengan cepat, Gio menghampiri Sekar.

"Lu mau bikin suasana kelas jadi tidak enak? Sadar tidak? Lu bikin tidak nyaman yang lain?!"

"Gio, si anak sial— engga, maksudku si Meline ini yang mulai duluan..."

Sekar terlihat sangat ketakutan. Ia sampai berjalan mundur, menjauhi Gio.

"Benarkah? Tapi dari tadi aku lihat Melina ke kamar mandi. Kamu yang menumpahkan susu ke bukunya."

Aku mendengar kata-kata itu keluar dari Emeline. Ia berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri kami. Emeline... membelaku?

Satu per satu murid-murid lain mulai berani bicara. Semakin lama, kelas dipenuhi suara mereka. Aku menoleh ke arah Emeline. Bukankah semua ini berkat Emeline?

Karena murid-murid lainnya mulai meneriaki mereka, Sekar tiba-tiba menghantamkan bahunya ke bahuku, lalu berjalan keluar kelas. Aku bisa melihat raut wajah yang kesal tadi. Baru kali ini Sekar tidak bisa melawan.

Aku tahu seperti apa Sekar dan teman-temannya. Bisa saja ia melakukan hal yang tidak terduga. Kalau itu benar terjadi, bagaimana Emeline bisa menghadapinya? Segera aku berjalan menghampiri Emeline untuk memberi tahunya, namun Emeline sedang berbicara dengan Gio. Tatapannya begitu tertuju pada Gio. Karena Emeline orang yang baik, jadi wajar saja dia akrab dengan Gio.

Setelah kejadian itu, Sekar dan kelompoknya tidak pernah menggangguku lagi. Mungkin karena pengaruh Emeline. Bukankah begitu? Akhirnya! akhirnya! Sekian lama aku bisa menghabiskan waktuku dengan damai. Tidak perlu lagi ke danau setiap makan siang. Sekarang aku bisa belajar dengan lebih giat, menjadi jenius, menjadi yang paling pintar di kelas. Siapa tahu kami jadi semakin dekat.

Walau Emeline tidak perlu melalui kegiatan malam sepertiku ini. Contoh seperti saat ini, berdiri di depan kasir sambil mengerjakan soal, sedangkan ia punya banyak waktu untuk belanja atau merawat dirinya. Semakin dipikirkan, semakin terasa tidak adil. Sudahlah, selesaikan dulu soal matematika ini. Sejak tadi aku hanya mengetuk-ngetuk pensil ke meja, berharap muncul sedikit petunjuk.

Klang!

"Selamat datang," ucapku.

"Melina kan? Tidak nyangka, kita ketemu lagi."

"Emm... Gio?"

"Yup. Kerja di sini?"

Apa dia akan mengejekku? Aku tidak sanggup melihat tatapannya. Pensilku terlepas dari tangan dan terjatuh. Segera kuambil pensilku sambil memastikan keberadaan orang itu. Sepertinya sudah pergi karena suaranya tidak terdengar lagi. Apa aku coba berdiri, mengintip sedikit dari balik meja kasir? Ah iya, dia sudah pergi. Pergi keluar atau ternyata dia sedang memilih-milih barang. Aku kembali merangkuk, tetapi orang itu sudah berdiri di depan meja kasir.

"Jadi berapa?" ucapnya.

Aku perlahan bangkit, memalingkan pandanganku padanya. Kuambil barang-barangnya dan mulai menghitung seakan tidak terjadi apa-apa. Gunting, sapu tangan plastik, dan lakban hitam... apa dia mau melakukan sesuatu? Sepertinya dia kurang dengan gergaji dan plastik besar.

"Dua ratus ribu," ucapku.

"...Rumahku dekat sini," katanya tiba-tiba.

Aku tidak tanya, dan tidak mau tahu juga. Tapi karena ia tersenyum ramah padaku, jadi tidak enak mengabaikan begitu saja.

"Emm... iya."

Apa aku bilang saja? Supaya dia tidak bilang pada siapa pun?

"Hati-hati ya, dengan Emeline."

"Hmm? Apa?"

"Ah... tidak. Aku bilang hati-hati. Sepertinya kau selalu pulang malam."

Raut wajahnya yang tadi terlihat lembut dan ramah berubah datar dan agak serius. Aku... tidak begitu dengar apa yang ia katakan tadi.

"Oke... bye," ucapnya.

"Tunggu!" Aku pun keluar mengejarnya.

"Ya?"

"Bisa kamu rahasiakan aku bekerja di sini?"

"Aku tidak akan bilang siapa-siapa."

Terkejut dengan jawabannya. Aku sedikit tidak menyangka.

"Makasih," ucapku.

Aku berjalan masuk ke dalam toko, ada sesuatu di tiang depan toko. Segera dengan cepat aku memasuki toko.

Dari sela-sela kaca, aku mencoba mengintip. Sekilas orang dekat tiang itu mirip seorang wanita. Ia berdiri menghadap ke arah Gio pergi. Agak samar, karena lampu remang-remang dekat tiang. Aku menyipitkan mata, memastikan bahwa yang kulihat mungkin saja salah. Tapi... tinggi badan serta rambut panjang... perawakannya mirip seseorang.

Lalu ia menatap ke arah toko. Langsung ku palingkan pandanganku. Ketika aku mencoba mengecek kembali, orang itu sudah pergi. Apa aku salah lihat? Sudahlah. Ada banyak perempuan yang perawakannya mirip Emeline. Tidak mungkin itu Emeline. Untuk apa ia berada di sini? Tidak. Tidak, fokus lah selesaikan tugas-tugasmu Melina! lalu pulang.

Rasa penasaran menarikku menghampiri tiang tadi. Yang kutemukan ternyata ikat rambut merah jambu milik seseorang yang aku kenal. Ikat rambut yang mereknya sangat sulit kuucapkan. Ini, Emeline? Mungkin saja ikat rambut ini milik orang lain. Ikat rambut ini kan tidak mungkin cuma satu.

Bayangan perempuan itu masih berputar di kepalaku meski sudah lewat beberapa hari. Apa aku pastikan dengan bertanya? Belum lagi Emeline sering sekali berbicara dengan Gio. Bagaimana kalau ikat rambut ini kukembalikan.

"Emeline, ini milikmu kan?" ucapku sedikit gugup.

"Wah! Ikat rambutku! Di mana kamu menemukannya?" ucapnya kegirangan.

"Di toilet perempuan kemarin."

"Makasih! Ikat rambut ini cuma ada satu karena aku pesan khusus."

Jadi... benar, semalam itu... apa aku tanyakan saja? Sepertinya itu bukan sesuatu yang boleh kuketahui. Aku putuskan untuk tidak terlalu mencampuri urusan mereka. Aku harusnya fokus mengerjakan tugas dan mengejar nilai lebih tinggi lagi.

Semua yang kulakukan perlahan membuahkan hasil. Nilaiku mulai membaik dari sebelumnya. Aku dilibatkan dalam banyak kegiatan diskusi, sampai mencoba mengikuti lomba sekolah. Emeline dan teman-temannya juga sering mengajakku bermain. Kadang kami pergi ke kafe atau ke mall. Emeline sering membelikanku barang, meski sesekali aku juga membelinya. Salah satu barang yang aku beli adalah parfum mawar yang digunakan Emeline. Semakin banyak barang kami yang mirip, anak-anak lainnya juga mulai melihatku. Seperti Emeline melihatku.

Sudah empat kali aku bolos kerja. Untungnya Lacia memaklumi. Dan ini yang kelima, karena kegiatan sekolah yang semakin padat, ditambah Emeline sering mengajak bermain. Sepertinya hubungan Emeline dengan teman-temannya kurang baik. Pernah sekali Emeline sempat memintaku untuk menemaninya ke taman yang jauh.

"Aku... mau berbaring sebentar," katanya, lalu berbaring di pangkuanku.

Rambutnya begitu lembut dan harum. Kulitnya bersih seputih salju. Tunggu, kenapa aku terlalu detail memperhatikan semua itu? Andai saja aku bisa di posisi Emeline. Tapi raut wajahnya terlihat sangat kelelahan. Gadis seperti Emeline bisa terlihat seperti ini juga. Emeline perlahan tertidur. Beberapa kali ia menyebut wali kelas kami, Ibu Sisi. "Aku harap jalang itu mati," gumamnya. Aku mengusap kepalanya, menenangkannya yang terlihat sedikit marah.

Setelah kejadian itu, Emeline jadi menempel padaku. Ia juga selalu membicarakan teman-temannya. Yah, aku bersyukur Emeline jadi semakin dekat denganku. Tapi untuk hari ini, aku harus menolak ajakannya.

"Oh... sekarang sibuk banget ya, kayaknya kamu lupa sama apa yang aku lakukan."

"Maaf banget... maaf banget, Emeline. Tapi kerja kelompok ini penting banget."

"Ya sudah, pergi saja. Ternyata baru sekarang aku tahu Melina begitu."

Tidak... tidak, raut wajah Emeline mendingin. Apa dia marah? Gimana ini? Apa aku batalkan saja kerja kelompoknya?

"O... oke, baik... baik. Aku batalin kerja kelompokku. Aku hubungi Gio dulu."

"Apa? Gio?"

"Dia satu kelompok denganku untuk Lomba Sains Antarsekolah ini. Aku juga agak kaget, ternyata dia juga jadi peserta lomba..."

Raut wajah Emeline yang tadinya tampak kesal seketika berubah tersenyum cerah.

"Hmm... gimana kalau aku ikut?"

"Apa?!"

"Tidak boleh? Ya sudah."

Aku menuruti keinginan Emeline. Meski rasanya agak aneh kalau Emeline ikut. Kami hanya berdiskusi tentang materi, bisa saja dia bosan. Karena Emeline bersikeras, kami memutuskan untuk tetap pergi ke tempat diskusi kelompok.

Orang-orang fokus memperhatikan setiap Emeline berbicara. Sedangkan tatapan Emeline selalu fokus ketika Gio berbicara. Bukannya berdiskusi mengenai strategi untuk perlombaan, orang-orang lebih mementingkan berbicara dengan Emeline. Aku yang merangkai ide. Harusnya perhatian mereka tertuju padaku kan?

"Melina, ide yang kamu jelaskan bagus banget. Mari kita bahas lebih lanjut."

Tidak disangka, Gio mendengarkan apa yang sejak tadi aku ucapkan. Namun tidak dengan Emeline, ia sering memotong pembicaraanku dengan Gio. Emeline juga melontarkan kepada orang-orang lain bahwa ideku terlalu biasa.

Beberapa orang mulai setuju, tapi tidak dengan Gio yang tetap percaya pada konsep ideku. Orang-orang pun terpecah. Ada yang setuju dengan Emeline, dan ada yang setuju dengan Gio.

"Ah... mungkin ada benarnya apa yang dikatakan Gio. Kalau dipikir-pikir, ide ini cukup matang juga," ucap Emeline tiba-tiba, sambil... sedikit melotot ke arahku. Ke... kenapa?

Aku tidak bisa berkonsentrasi. Sekilas sikap Emeline terus berputar di kepala. Emeline sama sekali tidak merespons omonganku. Ia hanya kembali berbicara dengan Gio. Aku… ingin pulang saja.

"Teman-teman, aku pulang dulu ya. Ibuku menelepon," ucapku berbohong, lalu merapikan barang-barang dan segera keluar dari ruangan, meninggalkan Emeline begitu saja. Kenapa Emeline begitu fokus dengan Gio sampai-sampai mengabaikanku? Sambil berjalan ke arah toko, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.

"Gio??" ucapku terkejut.

"Mau ke toko kan? Ayo bareng."

"Gimana dengan diskusi kelompoknya?" tanyaku heran.

"Yahh... mereka tidak kompeten. Sungguh," ucapnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Tunggu, dia meninggalkan Emeline? Aku ingin bertanya, tapi malas berbicara dengannya. Jadi kuputuskan untuk mengabaikannya.

"Rumahmu dekat toko?"

"Tidak."

"Jadi, yang kamu bilang di telepon ibumu itu bohong?"

Aku berhenti sejenak, menoleh ke arahnya. "Iya," jawabku seadanya saja.

"Oh iya... hati-hati."

"..."

Di tengah perjalanan tidak sengaja bertemu wali kelas kami. Ia terus memandang ke arah Gio, tertawa, dan menyentuhnya. Aku seperti patung yang berdiri menjarak dari mereka. Apa aku tinggal saja? Kesempatanku meninggalkan orang ini. Tadinya aku berpikir demikian, sampai sesuatu yang tidak menyenangkan tidak sengaja terlihat di depan mataku. Apa aku... salah lihat? Bu Sisi memegang area yang tidak seharusnya ia sentuh. Raut wajah Gio datar dan hanya sedikit tersenyum membuatku sedikit gemetar. Refleks, aku menarik tangan Gio.

"Kami ada urusan sangat penting, Bu Sisi. Kami pamit lebih dulu. Permisi," ucapku, berlari memegang tangan Gio. Tanpa menoleh ke arah guru aneh itu. Hingga kami sampai ke toko tempatku bekerja, sesuatu yang tidak disangka ada di depan mataku saat ini. Emeline berdiri di depan toko, melipatkan tangannya, menatap ke arah kami dengan tatapan yang... aku tidak tahu pasti.

Emeline berlari ke arahku dan memelukku erat. Ia membisikkan sesuatu yang aneh. Setelah itu, ia melepaskan pelukannya dan berlari ke arah Gio.

"Gio~" ucapnya.

"Bukannya kamu tadi ada urusan mendadak?"

"Urusanku dibatalkan," ucap Emeline.

"Melina? Bau parfum kamu kok familiar ya? Mirip parfumku?"

Aku menutup rapat bibirku, memalingkan wajahku dari tatapan Emeline yang terlihat keheranan. Lebih baik tidak kujawab dan tinggalkan mereka berdua.

"Teman-teman, aku kerja dulu. Kalau kalian mau ngobrol, silakan lanjutkan."

Aku berlari ke dalam toko, menghindari pertanyaan Emeline. Juga tidak ingin tahu urusan mereka. Sepertinya... bau parfum sedikit mengusik Emeline. Sampai semalam penuh aku memikirkan apa yang ia bisikkan. Tanganku bergetar. Dadaku sesak mengingat bisikan Emeline, "Kau tetaplah terus berusaha menggapaiku." Aku... aku tidak mau memikirkan lebih jauh lagi. Mungkin hari ini Emeline sedang sensitif karena kelelahan. Iya... betul, mungkin Emeline kelelahan.

Pagi-pagi sekali, setelah aku kembali dari toilet, buku-buku milikku hilang. Ah... Sekar. Kukira hari ini saja ia begitu. Gangguan mereka setiap hari semakin menjadi, tapi bukan itu yang mengusikku, melainkan Emeline. Ia… semakin menjauh. Kadang ia hanya melihatku, lalu mengabaikan tatapanku. Ia melihat Sekar yang sengaja menumpahkan makanannya ke pakaianku. Emeline, hanya diam. Lalu, tertawa sinis. Memalingkan wajahnya, kembali berbincang dengan teman-teman yang ia bicarakan padaku. Bukannya Emeline tidak suka dengan mereka?

Aku mengeluarkan sapu tangan Emeline dari tasku, mengingat apa yang sudah ia lakukan padaku. Ini, tidak mungkin berakhir seperti ini kan? Apa aku coba menghampiri Emeline? Tanpa berpikir panjang, aku berjalan ke arah Emeline sambil memegang sapu tangan merah jambunya.

"Emeline, ada yang mau aku bicarakan."

"Eh... kalian dengar ada yang bicara tidak?"

Mata teman-temannya menuju ke arahku. Mereka semua... tertawa. Kakiku mematung, tidak bisa bergerak. Kuremas kencang sapu tangan Emeline di tanganku. Aku perlahan melangkah mundur, kembali ke tempat dudukku. Sekar tiba-tiba saja memukul kepala belakangku.

"Akh,"

Kepalaku berdenyut. Air mataku tiba-tiba saja menetes. Kuusap mataku dengan sapu tangan, lalu berdiri keluar dari kelas. Tidak sengaja aku menabrak Gio yang baru saja ingin masuk ke kelas.

"Melina, hey?"

Ah... tahan...tahan... aku tidak boleh menangis di sini, lebih baik keluar dan menjauh. Namun Gio memegang tanganku, ia bertanya apa yang terjadi.

"Ulah Sekar ya?"

Sebisa mungkin aku menghindari tatapan Gio, tanpa menjawab pertanyaannya. Tetapi siapa sangka, seseorang yang tadinya tidak menjawab pertanyaanku menghampiriku dan berkata, "Melina, kamu baik-baik saja." Tangannya mengusap rambutku, merangkulku. Wangi khas bunga mawar darinya. Siapa lagi kalau bukan anak itu. Seketika tangisanku berhenti. Gio memaki-maki Sekar. Sedangkan Emeline? Mengusap-usap rambutku. Emeline... bukannya tadi ia...

Sebenarnya, kenapa?

Perilaku Sekar dan kelompoknya masih sama. Mereka melakukannya diam-diam. Aku memutuskan untuk mengabaikan dan tetap masuk seperti biasa. Aku mendekati Emeline kembali, tapi nyatanya ia menjadi lebih dingin dari biasanya.

Kembali lagi ke danau belakang sekolah, sambil mengerjakan tugas Emeline dan teman-temannya. Tinggal pasang headset dan terus belajar. Padahal sebelumnya aku bisa belajar dengan tenang, tanpa perlu kembali lagi ke tempat ini.

Tapi tunggu, kenapa dari dalam rumah ada bau yang tak sedap? Yah... bisa saja tikus mati kan? Namanya juga rumah tua yang reot. Apapun bisa saja terjadi di sana. Kalau saja Sekar dan teman-temannya tidak ada, misalnya keluar sekolah? Sepertinya keadaan sekolah akan lebih damai. Tapi kalau cuma keluar sekolah mereka masih bisa menemukanku. Bagaimana kalau benar-benar menghilang saja? Misalnya... mati? Seperti tikus di dalam rumah reot itu? Sikap Emeline... terus terulang di kepala. Aku memegang erat sekali pulpenku, hingga terdengar bunyi retakan pada selongsongnya.

Hahh… tugas-tugas Emeline dan temannya lagi, perlukah aku kerjakan? Tapi ia membelaku dari Sekar. Membantuku berteman dengan anak-anak lainnya. Eh... tunggu, aku mendengar suara di dalam rumah reot itu. Apa aku salah dengar? Aku membuka kedua headsetku suara seperti kayu yang bergerak. Sepertinya terlalu banyak tikus di rumah itu. Apa ku laporkan saja? Tikus-tikus itu bisa menimbulkan banyak penyakit. Atau jangan-jangan ada seseorang? Bukankah... bisa terjadi apa saja di dalam rumah reot? Aku perlahan mendekati rumah itu, tapi pikiran liarku tiba saja pecah karena seseorang menepukku dari belakang.

"Gio?"

"Ayo masuk kelas."

"Ah... oke."

"Kenapa kamu ada di sini?" ucapnya keheranan.

"Di sini lebih tenang."

"Oh."

Selama kami berjalan ke arah kelas, ia memecah keheningan yang membuatku semakin terdiam.

"Kau merasa terganggu dengan Emeline kan? Kita ini sama," ucapnya.

Aku memperhatikan raut wajah Gio. Ia tersenyum saat mengatakan sesuatu yang tidak ku mengerti. Terkadang juga seperti orang yang begitu dekat. Lebih baik aku abaikan saja dan cepat-cepat ke kelas lalu pulang.

Sepanjang malam aku mengamati sapu tangan merah jambu milik Emeline, mengusapnya lembut. Masih bersih tanpa coretan atau bercak noda sekalipun. Sapu tangan ini adalah kebaikan pertama yang aku dapatkan. Teman-teman kelas sudah mulai menyapaku. Mereka menganggapku ada. Tetapi Emeline? Bagaimana dengan tugas-tugasnya? Aku yang selalu menemaninya bermain? Dan juga posisiku saat ini, teman-teman kelas yang sudah mulai percaya padaku...

Aku membuang sapu tangan merah jambu itu keluar jendela rumah. Aku sudah berusaha sampai di sini. Aku tidak mau kembali ke kamar mandi itu lagi. Tidak mau! Ah... sesuatu terlintas di benakku.

Kalau Emeline tidak ada... Apa perhatian semua orang akan tertuju padaku?

Tunggu? Bukannya selama ini tugas-tugasnya selalu aku kerjakan? Bukannya Emeline selalu bergantung padaku belakangan ini? Untuk apa aku kerjakan lagi.

Setiap hari, aku belajar semakin giat. Lagi dan lagi berusaha menjadi paling unggul di kelas. Semua usahaku berbuah manis, mereka banyak bertanya mengenai materi yang tidak mereka pahami. Mereka juga terkadang mengajakku bermain. Bagaimana dengan Emeline? Tugas-tugasnya tidak pernah kukerjakan lagi.

"Melina, tidak nyangka ya kamu sepintar itu."

"Iya, kalau begini kan rasanya jadi ada yang bisa diandalkan."

Diperhatikan oleh mereka. Beberapa dari mereka sering membelikanku jajanan. Kadang memberiku buku. Wah, menjadi jenius ternyata menyenangkan juga.

"Melina, ayok ke kantin. Aku belikan beberapa makanan?"

"Oke," ucapku, sambil merapikan buku pelajaran. Sekilas aku mengintip raut wajah Emeline yang sedikit... datar. Ia agak melotot padaku. Biarlah, meski sedikit merinding. Aku pun merangkul tangan murid itu dan berjalan keluar kelas bersamanya.

Kami pun berbincang-bincang mengenai ibu Sisi yang hampir sebulan tidak ada kabar. Katanya sih menghilang. Meski begitu, aku tidak begitu peduli. Lagi pula, ia tidak pantas menjadi wali kelas. Kalaupun ada yang berlari ke rumahnya dan menghilangkan nyawanya, aku sih tidak heran. Kami berbincang sampai tidak sadar sudah berada di kantin. Beberapa roti di ambil oleh murid itu, ia memberikan padaku dan membayarnya. Enak sekali... ia mengeluarkan uang tanpa beban, tanpa harus menghitung-hitung terlebih.

Sambil berjalan kembali ke kelas, aku memandang ke arah danau dari jendela sekolah. Kuperhatikan rumah reot itu cukup lama. Itu... seperti bayangan seseorang atau hanya imajinasiku saja? Eh... sesuatu mengintip dari rumah tersebut. Sepertinya ini bukan imajinasiku. Aku harus lapor ke guru.

"Melina, kenapa bengong?"

"Hah? Ah... Hey coba kamu perhatikan rumah tua itu deh."

"Kenapa?"

"Ada seseorang mengintip dari jendelanya."

Gadis itu mengintip dari jendela sekolah.

"Benar kan?"

"Mana?" ucapnya, kebingungan.

"Di jendela rumah itu."

"Aku ga liat apa-apa."

Dengan gemasnya, segera melihat kembali ke arah rumah itu. Namun, apa yang kudapati ternyata... tidak ada. Lalu... tadi apa?

"Kau yakin baik-baik saja Melina?"

"Ah... Sepertinya aku salah lihat."

Kami berjalan menuju kelas, tanpa membicarakan hal itu lagi dan kembali membicarakan soal-soal untuk ujian selanjutnya.

Sampainya di kelas, salah satu murid lain menarik tanganku, meminta bantuanku mengajari soal fisika yang sulit. Oh... aku suka orang yang tidak hanya minta dikerjakan, tetapi mau berusaha mengerti. Ku berikan beberapa halaman bacaan tentang materi yang terkait soal. Dan terkejutnya, ia sangat berterima kasih.

Beberapa hari ini aku tidak bicara dengan Emeline. Aku lebih sering menghabiskan diriku berdiskusi dengan murid-murid lain. Terkadang mereka sering mengajakku ke kantin, atau bermain setelah pulang sekolah. Bagaimana dengan Emeline? Aku... terkadang mengintip sedikit apa yang ia lakukan. Satu waktu dia sendirian, atau berkumpul dengan teman-temannya. Kadang ia juga menjauh dari kelompoknya, lalu kembali sendiri dengan wajah murung. Aku sedikit tersenyum lega, sepertinya teman-temannya tidak peduli padanya lagi. Bahkan mereka sering meminta bantuanku. Sangat menyenangkan.

Suasana kelas juga cukup tenang. Aku bisa belajar dengan baik sekarang. Pelajaran kali ini penting untukku. Tahun ini, aku bisa ikut lomba fisika. Bisa saja mewakili sekolah. Atau menggantikan posisi Emeline sebagai murid populer? Lagi pula dia kan cuma cantik saja. Apa gunanya wajah cantik tapi tidak memiliki otak?

Sayangnya... kedamaian itu terus saja bergeser. Setiap kali aku merasa sudah lebih tenang, keadaan selalu tidak berpihak padaku. Harusnya, semua kedamaian itu terus ada bukan? Kenapa anak-anak yang bersama denganku sebelumnya tidak membalas sapaanku? Ketika aku mendekati mereka, kenapa mereka tiba-tiba saja menjauh?

Kuhampiri salah satu murid yang sebelumnya berbaik hati membelikanku roti. Ia memalingkan pandangan, dan pergi dari kursi bersama teman-temannya. Aku mematung, memperhatikan mereka yang perlahan mendekati Emeline. Mereka berbisik, memandang ke arahku dan tertawa. Kenapa harus Emeline lagi? Emeline lagi yang jadi pusat perhatian itu? Dia lagi. Lagi.

Kakiku membeku, kepalaku memanas. Aku menggenggam pulpenku sekuat tenaga. Rasanya ingin melayangkan pulpen ini ke arah mata mereka. Ah... apa aku keluar saja dari kelas ini? Kembali ke bangku dan fokus dengan mata pelajaran? Apa yang harus... Gio.

Tubuhku tiba-tiba saja memiliki sedikit tenaga untuk mendatangi Gio. Aku berdiri di depannya. Ia menatapku dengan raut penuh pertanyaan. Ia pun berdiri, dan meraih tanganku. Lalu kami keluar dari kelas, menuju UKS.

"Istirahat saja," ucapnya.

"Terima kasih."

Gio pun meninggalkanku sendirian di UKS. Aku masuk ke dalam, dan langsung berbaring di ranjang. Langit-langit ruangan terasa begitu dingin. Seperti menatap kasihan ke arahku. Suara dentuman jarum jam terdengar memenuhi ruangan. Bau obat-obatan terasa semakin menyengat. Perlahan aku menutup mataku.

.......

Ah... kepalaku, eh... ruangan kenapa gelap? Astaga! Sudah jam berapa ini? Segera bergegas aku bangkit dari ranjang dan menyibakan tirai putih. Betapa mengejutkannya, tas dan jaketku sudah ada di tempat duduk samping ranjang. Yang lebih mengejutkan, Emeline. Ia berdiri di pojok dekat meja obat-obatan.

"Sudah bangun?" ucapnya, sambil perlahan melangkah.

"Tas dan jaket itu Gio yang menaruhnya di situ, kenapa dia melakukan itu ya?" gumamnya, menatap tajam ke arahku.

Satu katapun tidak ada yang keluar dari mulutku. Aku menelan ludah, pelan-pelan aku meraih tas dan jaket. Berdiri sambil menjaga jarak darinya. Namun, tatapannya mengikuti setiap kali aku melangkah. Dengan cepat aku membuka pintu UKS, tanpa sadar aku berlari. Entah apa alasan aku berlari, tubuhku hanya mendorong untuk segera menjauh dari UKS.

Aku meminta satpam membuka gerbang sekolah, meski sudah ku jelaskan ia tetap menggerutu dan memarahiku. Biar lah, aku berlari menjauhi sekolah. Apa-apaan itu! Sikapnya bukan seperti... aku tidak mau memikirkannya. Sudah terlalu banyak yang aku pikirkan. Sekarang aku harus menjelaskan kepada Lacia, kenapa aku terlambat. Aku ingin izin saja, pundakku sedikit berat. Kepalaku berdenyut keras. Aku akan kabari Lacia, semoga ia mengizinkannya. Harusnya begitu, kali ini ia tidak mentoleransi dan memintaku untuk tetap masuk. Apa boleh buat. Aku bergegas berlari menuju toko.

Sampainya di toko, aku melihat Lacia berjalan mondar-mandir di depan toko. Ia pun menoleh ke arahku, lalu bernapas lega. Dan benar saja, ia mengomeliku habis-habisan. Memang sih, sudah beberapa kali ia memberi tahu soal orang hilang, supaya aku berhati-hati.

"Menginapkah di toko malam ini," ucapnya.

Aku tersedak, mendengar hal itu dari Lacia. Ia juga memberikan selimut, pakaian ganti dan sudah merapikan ruang di belakang toko untuk ku bermalam.

"Alasannya apa?" ucapku heran.

"Aku sudah mengabari orang tuamu. Jadi menginaplah malam ini."

Kalaupun aku tanya lebih lagi, dia pasti akan menghindar. Kalimat andalannya, "Tidak usah banyak tanya. Pokoknya begitu." Jadi, kubiarkan semua itu menggantung. Sekalian tidak usah dipikirkan. Ia pun memutuskan untuk tidak membuka toko malam ini. Menyuruhku untuk segera beristirahat. Ya sudah lah... anggap saja keberuntunganku tidak bekerja hari ini. Aku segera berganti pakaian dan beristirahat.

Mataku sama sekali tidak mau menutup. Meski begitu, pundakku yang sedari tadi berat kini terasa lebih ringan. Badanku perlahan mulai terasa sakit. Sepertinya aku lelah sekali. Tadi, kenapa Emeline ada di UKS? Aku mencoba memikirnya berkali-kali, tidak ada satupun jawaban yang pasti. Aku benar-benar ingin dia menghilang. Hilang saja aku mohon... Aku terus mengoceh dan mengoceh tanpa sadar aku mulai terlelap.

Pagi sekali, ku rapikan ruangan sebelum berangkat sekolah. Tanpa berpamitan dengan Lacia, aku berjalan meninggalkan toko menuju sekolah. Ah... rasanya seperti meninggalkan tabung oksigen di tengah gas beracun. Apa aku tidak usah masuk saja? Kenapa aku memaksakan untuk bersekolah sih? Tapi... aku sudah bersusah payah sampai di sini. Beberapa orang mulai meninggalkanku lagi, dan kali ini aku harus berusaha untuk membantu lebih banyak lagi.

Sungguh sial, di gerbang sekolah sudah bertemu Sekar. Dengan refleks aku agak menegang ketika Sekar merangkul pundakku. Sedikit ia meremas lenganku. Aku menepisnya. Untuk pertama kalinya, tanganku berani melakukan itu. Segera aku berlari meninggalkan Sekar, tanpa kata atau pun menoleh ke arahnya. Dadaku terasa sesak, apa yang baru saja kulakukan?

Sampainya di kelas, aku memperhatikan sekelilingku. Beberapa kali aku menggigit kuku, menoleh ke arah pintu kelas terus menerus. Sedikit aku melirik ke arah kursi Emeline. Lalu kursi Gio. Untungnya mereka belum datang. Kenapa aku berdebar terus dari pagi? Tenang lah, tarik napas dalam lalu buang. Aku melirik lagi ke pintu kelas, ah... yang masuk bukan mereka. Aduh... diamlah tangan, kau hanya menepis tangan Sekar. Tidak perlu gemetar seperti ini. Dan akhirnya Sekar masuk. Kemudian disusul Emeline. Hingga pelajaran dimulai.

Selama pelajaran berlangsung, aku tidak dapat memperhatikan apa yang disampaikan guru. Berkali-kali aku memaksa mataku untuk memperhatikan papan tulis. Sesekali aku mengintip ke arah Emeline.

Bunyi bel istirahat berdengung ke seluruh sekolah, perlahan sesuatu retak ketika aku melihat Emeline dan Sekar berbincang dengan anak-anak itu. Sekar tersenyum sinis menoleh ke arahku. Sontak, aku menghindari tatapannya. Tenggorokanku kering, kepalaku sedikit berdengung. Padahal dia sudah tidak menggangguku lagi. Kenapa rasanya masih merinding? Apa yang sedang mereka bicarakan? Mereka kan tidak akur? Pelajaran dimulai kembali, tubuhku tidak bisa diam. Aku sulit berkonsentrasi pada pelajaran, semua terlihat kabur. Apa aku izin ke UKS saja?

Sepulang sekolah, aku segera bergegas bangkit dari kursi. Terlambat, tangan Sekar sudah menekan pundakku keras-keras. Mustahil aku bangkit. Aku mencengkeram tanganku kuat-kuat. Ak... aku... napasku sesak. Aku harus pergi dari sini! Aku harus pergi! Aku mendorong Sekar sampai terjatuh. Lalu berlari menuju pintu kelas. Begitu ku buka pintu itu, sebuah sosok jelas sekali berdiri di depan pintu, menghalangiku untuk keluar. Emeline! Sudah ku duga. Aku menepisnya dengan kedua tanganku. Siapa sangka, ia lebih kuat dari dugaanku. Menangkap tanganku, dan mendorongku masuk ke kelas. Aku terkejut dengan apa yang terjadi.

Mereka berdua akhirnya menghampiriku. Sekar menamparku beberapa kali sebelum mereka menyeretku ke belakang gedung sekolah. Tempat yang selalu jadi pelarianku. Danau keruh dan bangunan reot yang sudah sangat tua. Mereka mengambil air danau lalu menyiramku. Tidak tahan dengan bau busuk dari rumah ini, aku menutup hidungku. Perutku mual. Sisa makanan hampir saja keluar merayap melewati tenggorokan. Aku tidak tahu kenapa ada bau busuk, seperti bau bangkai... Apa mereka tidak menciumnya?

"Sudah kubilang kan? Dia memang jalang sialan! Harusnya kamu tidak membela dia."

"Kamu terlalu berlebihan menganiaya dia."

"Hah. Sok suci. Kamu sendiri juga benci dia kan? Karena Gio?"

Gio? Kenapa mereka tiba-tiba membahas... ra... raut wajah Emeline mengeras. Matanya melotot, perlahan menoleh ke arah Sekar. Seketika, ia meraih rambut Sekar dan menariknya ke bawah, lalu mendorongnya ke tanah sampai Sekar jatuh tersungkur.

"Auch! Sakit!" seru Sekar.

"Kamu suka Gio juga kan?" ucap Emeline dengan tatapan tajam.

"Jalang! Berani banget kamu dorong aku!"

Sekar pun berdiri, menghantam wajah Emeline dengan botol bekas. Wajah Emeline memar. Ia pun mulai histeris, menyerang Sekar dengan cakaran. Mereka saling bertengkar satu sama lain hingga tersungkur. Mereka menggeliat di tanah, seragam mereka sudah kotor tak karuan oleh tanah. Saling menjambak dan menampar satu sama lain. Aku terbelalak melihat mereka seperti itu, mereka terobsesi dengan satu orang sampai-sampai bertengkar hebat seperti itu. Tapi kenapa mereka mengincar aku? Apa jangan-jangan selama ini Sekar menggangguku karena Gio? A... aku tidak mau memikirkan itu.

Segera aku berlari keluar dari rumah itu, menutup pintu dan mengganjalnya menggunakan kayu. Sejenak aku perlahan melangkah mundur, menjauh dari pintu dan berharap tidak ada yang tahu mereka di sini. Semua yang telah mereka lakukan, merobek buku, menumpahkan susu, bahkan merebut posisiku sebagai yang paling pintar. Dadaku terasa panas. Umpatan dalam pikiran sudah tak terhitung jumlahnya untuk mereka.

Aku harap mereka...

Bibirku tersenyum. Perasaan girang apa ini? Suara mereka begitu kencang, saling mengumpat memecah lamunanku. Sampai salah satu dari mereka berseru keras memanggil namaku.

"Jalang Melina! Kau tidak akan lolos!"

Aku pun segera berlari secepat mungkin. Beberapa kali terjatuh, melukai lututku. Ah... sakit. Tanpa peduli, aku bangkit lagi. Namun, di dekat danau, sekilas sosok orang di antara pepohonan. Ia berdiri menatap ke arah rumah tersebut. Tanpa peduli siapa, aku mengabaikan dan tetap berlari keluar.

Aku melirik ke sana kemari. Tidak ada satu pun murid yang masih di lingkungan sekolah. Kecuali beberapa guru. Aneh sekali mereka tidak mendengar teriakan itu. Aku masih mendengarnya dengan jelas. Apa aku saja yang mendengar mereka? Apa mereka sama sekali tidak mendengarnya? Aku segera berlari ke arah kamar mandi. Menghindari orang-orang yang masih berada di sekolah.

Aku mencuci tanganku dan mengganti pakaianku penuh noda. Aku terus mencuci tanganku dan terus hingga kulitku terkelupas. Suara mereka masih terdengar keras meminta tolong, terngiang di kepalaku. Aku menutup kedua telingaku, lalu pergi meninggalkan sekolah secepat mungkin. Semoga tidak ada noda merah tertinggal di tubuhku.

Suasana sekolah tetap berjalan seperti biasa. Emeline tidak pernah terlihat lagi. Yang aku dengar, ia memutuskan untuk pindah sekolah. Dan Sekar? Tidak pernah masuk lagi. Sesekali aku tidak sengaja bertemu orang tua Sekar yang datang ke sekolah. Sekilas, aku pernah mengintip ruang kepala sekolah. Ibunya menangis tersedu-sedu. Ternyata orang tua bisa begitu juga dengan anaknya. Aku lanjut berjalan menelusuri lorong dengan lega. Entah kenapa, baru kali ini jalan di lorong sekolah langkah kakiku terasa ringan.

Aku berhenti sejenak, menatap danau dan rumah reot itu dari jendela. Kejadian itu untungnya sudah lewat. Aku yakin mereka pasti sudah damai. Ack! Suara teriakan itu mulai menggema lagi di telinga. Aku berlari ke arah kamar mandi, mencuci tanganku terus berulang lagi, dan lagi.

"Hei, tanganmu berdarah," ucap seseorang di sampingku.

Tanpa peduli, aku tetap membasuh tanganku hingga terkelupas kulit dan mengalir darah.

Selesai dari kamar mandi, kabar dari guru malah mengguncang ketenangan kelas. A... aku yakin yang disampaikannya pasti salah. Keringatku mulai bercucuran. Tidak mungkin sebuah mayat ditemukan di dalam rumah tua itu. Aku yakin mereka baik-baik saja... mereka seharusnya sudah tenang di tempatnya. Tidak perlu ada suara teriakan dari mereka. Tubuhku menegang hebat.

Semua menjadi gelap.

Perlahan aku mulai membuka mata. Ini di UKS... Apa yang terjadi? Samar aku dengar kedua orang sedang berbincang. Sepertinya itu guru. Terdengar suara pintu UKS terbuka, dan benar saja. Guru dan polisi? Kenapa ada polisi?

"Oke, Melina. Kami hanya minta beberapa keterangan saja mengenai posisimu pada hari itu."

Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam selimut, mengelapnya — telapak tanganku yang terus berkeringat dan gemetar. Aku menjelaskan bahwa aku selalu pulang tepat waktu karena bekerja sambilan di toko. Setelah itu mereka tidak melanjutkan pertanyaan apa pun lagi, dan pergi begitu saja. Guru pun memberi tahu padaku bahwa sekolah diliburkan selama seminggu. Menunggu hasil autopsi mayat tiga orang perempuan dari rumah sakit. Tunggu? Tiga?

Harusnya hanya dua kan?

Sekolah pun akhirnya memutuskan memperpanjang liburan, untuk melakukan penyelidikan lebih dalam. Hari-hariku tetap bekerja di toko Lacia. Tidak lupa juga membawa beberapa buku pelajaran. Beberapa kali aku juga bertemu dengan Gio. Ia sering mampir, membeli perkakas. Sepertinya ia sedang memperbaiki barang. Yah... kesempatan juga, mumpung libur panjang. Tapi untuk apa Gio juga membeli banyak kantung plastik besar dan sarung tangan plastik? Lamunanku terpecah ketika suara pintu toko terbuka. Seseorang masuk ke dalam toko.

"Selamat datang," ucapku sambil membaca buku biologi.

"Melina..."

Suasana toko seketika mencekik. Aku... aku... kenapa tanganku tak mau berhenti gemetar sih! Berhentilah! Ah... Keringatku mulai bercucuran. Sudah berkali-kali ku seka. Mataku terus memperhatikan gerak-geriknya. A... apa ini? Orang yang sangat ku kenal... yang pertama kali menyeretku ke dalam labirin ini! Kakiku tiba-tiba melangkah mundur. Ada sebuah gunting di atas meja kasir, akan ku ambil untuk berjaga-jaga! Ak...aku akhirnya menoleh ke arah suara itu.

Ta... tatapannya. Ia... tersenyum?

Ia masih mengenakan seragam penuh bercak. Hmmp... harum mawar itu bercampur dengan anyir yang menyengat ini menusuk hidung.

"Ke... ke... kenapa kamu di sini!?"

Ia semakin dekat!!

Ap... apa yang ia letakkan di meja kasir? Kain? Itu... kain yang ku kenal.

Kukunya sudah... rusak dan beberapa tercabut. Perutku bergolak. Hampir muntah.

Sapu tangan merah jambu miliknya.

"Kali ini, giliranmu."

Suaranya sayu, dan ia perlahan tertawa.

Lalu melangkah keluar, meninggalkan harum khas yang bukan lagi miliknya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Cerpen
Emeline
Anelyn
Novel
Bronze
Alhamdulillaahi (Manggala)
Hermawan
Flash
Jangan Dekati Mia, Nanti Bisa Mati
Ratifa Mazari
Novel
Bronze
AL-WAQI'AH UNTUK EMAK
Ridwan
Cerpen
Makam Keramat
adinda pratiwi
Flash
G o n g
Nunik Farida
Cerpen
Bronze
Sixth Sense
Ju Khoyul
Novel
Bronze
Villa Cinta
Herman Siem
Novel
Bronze
Intrik
Eko Hartono
Novel
Infinity Circle
Satria Okta Syahputra
Novel
Dendam kesumat
winda nurdiana
Novel
Bronze
Ritual Pemanggil
Andriani Keumala
Skrip Film
BEHIND BLUE HOME
Alviona Himayatunisa
Cerpen
True Mayhem
Noer Eka
Novel
PERSETAN: PERJANJIAN MAMA
Wafa Nabila
Rekomendasi
Cerpen
Emeline
Anelyn
Cerpen
Sketsa di Akhir Musim
Anelyn
Cerpen
Perempuan Tanpa Wajah
Anelyn
Cerpen
Wanita Tiang Pancang
Anelyn
Novel
Candy Shop (A Magical Matchmaking Story)
Anelyn
Novel
Redam Bintang di Malam ini
Anelyn
Novel
War of Hearts
Anelyn