Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Elara
0
Suka
4,276
Dibaca

Langit sore di pinggiran kota itu berwarna keemasan, seakan matahari sedang berusaha memberi salam terakhir sebelum menghilang di balik bukit rendah. Jalanan menuju Panti Jompo “Senja Abadi” sepi, hanya sesekali terdengar suara burung murai dan deru sepeda motor dari kejauhan. Di ujung jalan beraspal yang mulai retak-retak, berdirilah bangunan tua tiga lantai berwarna krem pucat, dengan jendela-jendela besar yang tirainya selalu setengah tertutup. Papan nama di gerbang besinya sudah mulai pudar catnya, tapi tulisan “Senja Abadi” masih terbaca jelas.

Elara berdiri di depan gerbang itu. Angin sore meniup pelan rambut hitamnya yang panjang, tergerai di bahu. Seragam putih yang ia kenakan tampak rapi, tanpa satu pun lipatan yang salah. Di tangannya, ia membawa tas jinjing hitam berisi dokumen dan beberapa alat medis pribadi. Di wajahnya, senyum hangat terukir — senyum yang bisa membuat siapa pun merasa nyaman hanya dalam hitungan detik.

Senyum itu adalah senjata.

Ia melangkah masuk dengan langkah ringan, seolah-olah tempat ini sudah menjadi rumahnya. Aroma khas panti langsung menyambutnya: campuran antiseptik, kapur barus, dan samar-samar bau obat-obatan. Lantai keramik putih memantulkan cahaya lampu neon yang agak redup. Lorong utama membentang lurus, dengan pintu-pintu kamar di kanan dan kiri. Setiap pintu memiliki papan kecil bertuliskan nama penghuni.

Seorang wanita paruh baya berseragam biru muda menyambutnya di meja resepsionis. “Oh, ini pasti perawat baru itu ya?” suaranya ramah, tapi matanya sedikit lelah.

Elara mengangguk, memperkenalkan diri, “Ya, saya Elara. Mulai hari ini saya akan membantu di sini.”

Wanita itu tersenyum tipis. “Saya Bu Ratna, kepala perawat di Senja Abadi. Nanti saya kenalkan ke semua orang.” Ia memandang Elara dari ujung kaki sampai ujung rambut, seolah menilai kemampuan hanya dari penampilan. “Kamu kelihatan cekatan. Semoga betah, ya. Di sini kerjanya nggak mudah, tapi kalau hati kita ada di tempat yang benar, semua bisa dilewati.”

Elara tersenyum lagi. “Tentu saja, Bu.”

Namun, jauh di balik senyum itu, pikirannya dingin, terukur. Hati di tempat yang benar? Ia hampir tertawa. Dalam pengalamannya, orang-orang yang terlalu percaya pada niat baik sering kali menjadi mangsa termudah.

Bu Ratna mengajak Elara berkeliling. Mereka melewati ruang makan — ruangan besar dengan meja panjang dan kursi-kursi yang sebagian sudah usang. Beberapa penghuni duduk di sana, mengobrol pelan atau sekadar menatap kosong ke jendela. Ada yang tersenyum melihat Elara, ada pula yang tidak bereaksi sama sekali.

“Yang di pojok itu, Pak Surya. Usianya 84 tahun, dulunya guru matematika,” jelas Bu Ratna sambil menunjuk seorang pria tua kurus dengan kacamata tebal. “Dia suka bercerita, tapi kadang topiknya meloncat-loncat. Kalau di sebelahnya itu, Bu Rini, penyuka tanaman, tapi sejak stroke tahun lalu, jarang mau keluar kamar.”

Elara mencatat semua nama dan kebi...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp13.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Elara
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Keranti
Hendri Hermawan
Novel
Bronze
Koma Karmila
Herman Sim
Cerpen
Bronze
Dinding Tertawa
Christian Shonda Benyamin
Novel
Bronze
Pancajiwa
Nikodemus Yudho Sulistyo
Novel
Wolves Heart
Roy Rolland
Novel
Pertunjukan Hantu-Hantu Amphitheater
Emma Kulzum
Cerpen
Bronze
Arwah-Arwah yang Mencari Pintu Surga
Sri Wintala Achmad
Flash
Petak Umpet
Esti Farida
Cerpen
Bronze
Poppok : Teror Makhluk Misterius
AndikaP
Novel
Melik
Ririn Noverawati
Novel
Gold
Fantasteen Scary Hot Seat
Mizan Publishing
Flash
Siaran Langsung
heriwidianto
Novel
Lanjutkan Kisahku
Diyah Islami
Cerpen
Bronze
Jejak Sekuntum Mawar
Dwi Fitriani
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Elara
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Dinding Tertawa
Christian Shonda Benyamin
Novel
Bronze
Di Balik Tirai
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku Tidak Sakit
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Simfoni Gema Yang Membeku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Cermin Diri
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Teror
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku Bersama Mereka
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang - Bayang Senja
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Rumah Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Yamero
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Tuan Baru
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Main Di Tengah Malam
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Email Maut
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Radio Tua
Christian Shonda Benyamin