Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Edge of Us
0
Suka
49
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Malam itu, di sebuah hotel mewah di kawasan Mayfair, London, acara yang dirancang oleh Sarah dan Joseph dimulai seperti yang mereka harapkan—hangat, ringan, dan dipenuhi tawa yang terdengar begitu tulus mengisi setiap sudut ruangan.

Sebuah acara makan malam kecil di antara teman-teman terdekat, diselenggarakan beberapa hari sebelum pernikahan Sarah dan Joseph.

Tidak ada protokol resmi, tidak ada tekanan seperti di ballroom besar.

Hanya meja panjang, cahaya lilin yang berpendar lembut, dan suara percakapan yang saling bersahutan, menciptakan suasana yang akrab dan menenangkan.

Namun bagi Faira, sejak langkah pertamanya memasuki ruangan itu, semuanya sudah terasa berbeda.

Bukan karena suasananya. Bukan karena orang-orangnya.

Tapi karena satu hal yang tidak pernah ia persiapkan untuk ia hadapi dengan berani.

Yaitu kehadiran seseorang yang seharusnya sudah Faira tinggalkan jauh di masa lalu, namun kini berdiri begitu nyata, hanya beberapa langkah darinya.

Hero Campbell.

Pria itu tidak duduk di samping siapa pun malam ini. Tidak ada tangan yang menggandengnya, tidak ada sosok lain yang menjadi penyangga antara dirinya dan dunia.

Hero sendiri—namun justru karena itu, kehadirannya jadi terasa jauh lebih dekat, jauh lebih berbahaya.

Faira mencoba menenangkan dirinya. Ia duduk, tersenyum, ikut tertawa ketika Michelle mulai bercerita tentang kisah cintanya yang absurd dan penuh komedi selama di Paris. Faira mengangguk saat orang lain berbagi pengalaman tentang bagaimana mereka tahu seseorang adalah “the one.”

Faira mencoba menjadi bagian dari malam itu, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah pertemuan biasa.

Namun jiwa raga Faira malah mengkhianatinya.

Karena setiap beberapa detik, tanpa izin, pandangan Faira akan selalu kembali ke arah yang sama.

Hero.

Dan yang lebih menyakitkan—setiap kali Faira mencuri pandang, Hero sudah lebih dulu melihatnya.

Seolah lima tahun jarak tidak pernah cukup untuk menghapus kebiasaan itu.

Okay,” suara Angela tiba-tiba memecah suasana, “since this is basically a pre-wedding dinner, let’s make it a little memorable.”

Beberapa orang langsung menoleh, tertarik.

Everyone tells a story about love,” lanjutnya, tersenyum lebar. “Not just about Sarah and Joseph—but about your own.

Sorakan kecil langsung terdengar. Ide itu sederhana, bahkan klise, tapi entah kenapa terasa tepat untuk malam seperti ini.

Satu per satu mulai berbicara. Cerita-cerita ringan, penuh tawa. Tentang first date yang gagal, cinta SMA yang memalukan, atau bagaimana seseorang akhirnya menemukan orang yang membuat semuanya terasa benar.

Faira berharap malam itu akan berhenti di sana.

Namun, seperti yang selalu terjadi dalam hidupnya—harapan tidak pernah benar-benar berpihak padanya.

Best Man,” suara Tom terdengar santai, “your turn.”

Ruangan langsung mengarah ke satu titik.

Hero.

Faira tidak langsung menoleh. Ia tidak perlu. Ia bisa merasakan perubahan udara di sekitarnya, cara suasana yang tadinya ringan perlahan menjadi lebih berat, seolah sesuatu yang tak terlihat sedang bersiap untuk jatuh.

Hero berdiri perlahan, mengambil gelasnya. Ekspresinya tenang, terlalu tenang, seolah ia sudah mempersiapkan sesuatu jauh sebelum malam ini.

Alright,” katanya pelan. “Here's a story about love.”

Beberapa orang tersenyum, menunggu sesuatu yang ringan dituturkan dari mulut seorang aktor ternama, Hero Campbell.

Namun kalimat berikutnya langsung mengubah segalanya.

Once, I knew someone who thought love was a mistake.”

Tawa ringan Hero muncul—singkat sekaligus ragu.

She believed emotions only made things complicated. That if you thought things through carefully enough, you could avoid getting hurt.”

Faira menunduk.

Setiap kata yang keluar dari bibir Hero terasa terlalu familiar.

Hero memutar gelas di tangannya dengan suaranya yang tetap stabil, meskipun ia tahu, ada sesuatu yang retak dalam setiap kalimat yang Hero ucap.

She had her whole life mapped out,” lanjutnya. “Every decision is calculated. Every step leads to somewhere bigger.”

Ia tersenyum tipis.

And I was never part of that equation.”

Tawa yang tadi ada mulai menghilang. Karena ini tidak lagi terdengar seperti cerita.

Ini terdengar seperti pengakuan.

“I thought if I stayed long enough. She might make room for me.”

Hero menggeleng pelan.

But she didn’t.”

Faira merasakan sesuatu di dadanya mulai runtuh perlahan.

Hero berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah.

She once told me… loving someone means wanting the universe to be kinder to them than it ever was to you.”

Ruangan sunyi.

Faira memejamkan mata. Sialnya, ia masih ingat jelas tentang kalimat itu.

I didn’t understand it back then. I thought it was just something poetic.” lanjut Hero.

Ia lagi-lagi tertawa getir, tanpa humor.

But then I realized something else.”

Ia mengangkat sedikit wajahnya, seolah menatap masa lalu dihadapannya yang terlalu jelas.

She wasn’t just someone I loved.”

Hero menatap Faira, kali ini tanpa senyum.

She was home. My home.”

Tidak ada yang bergerak.

Faira merasakan napasnya tercekat di tenggorokan.

She was the place I kept coming back to… even when I didn’t know I was lost,” lanjut Hero pelan. “The one person who made everything—every plan, every future—feels real.”

Tangannya mengencang di gelas.

We used to talk about it, you know?” katanya lagi, hampir seperti gumaman.

The future. The kind of life we wanted. Where we’d end up. How everything would eventually fall into place.”

Ia tersenyum tipis, getir.

And for a while… I actually believed it would.

Keheningan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih berat.

But then she proved something I never wanted to understand."

Jeda.

She left.”

Dua kata itu jatuh pelan, namun menghantam jauh lebih keras.

I spent years thinking she didn’t choose me,” katanya. “That I wasn’t enough.”

Faira menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang hampir pecah.

But the truth is…” Hero mengangkat pandangannya perlahan, “she chose me more than anyone ever has.”

Sunyi itu terasa menekan.

She just chose me in a way that didn’t include herself.”

Faira tidak lagi bisa bernapas dengan normal.

She walked away because she thought staying would ruin everything I was trying to become,” lanjut Hero. “She thought letting me go was the only way to protect my future.

Ia berhenti, lalu menambahkan pelan—

And I hate how right she was.”

Kalimat itu tidak mengandung kemarahan. Hanya kejujuran yang telanjang.

I’ve spent five years building the life she thought I deserved,” katanya. “And I got everything I was supposed to want.”

Hero kembali tersenyum pahit.

Except her.”

Air mata Faira nyaris jatuh, hingga membuatnya mencengkram tangkai gelas bening didalamnya, menahan gemuruh dahsyat yang berkecamuk didalam dada Faira.

Mata mereka bertemu. Kali ini sama-sama ditelanjanginya perasaan mereka satu sama lain dalam rentangan jarak tak kasat mata diantara mereka berdua.

And no matter what I do… no matter how far I go…” suara Hero melemah, “nothing ever feels complete without the person I once called home.”

Ruangan benar-benar membeku.

Hero mengangkat gelasnya, memaksa dirinya kembali ke realita.

So here’s to Sarah and Joseph,” ucapnya.

May you never have to love each other in a way that requires letting go.”

Hero menenggak habis sisa anggur di gelasnya.

Dan kali ini, tidak ada sorakan langsung. Hanya keheningan yang terlalu penuh. Hujaman empati dan kesedihan pada berpasang-pasang mata yang menatap iba Hero atas cerita cinta nya yang lebih terdengar tragis.

Lalu seseorang berusaha memecah suasana dengan suara bersiul dan mencoba menyerukan kalimat dengan nada riang,

"Maid of Honor… your turn.”

Semua mata kini beralih ke Faira.

Fraya menarik napas panjang. Ia tidak tahu bagaimana ia masih bisa berdiri dengan tubuh terasa seperti akan runtuh kapan saja.

Namun Fraya tetap berdiri. Nyaris linglung.

Gelas di tangan Faira seolah terasa berat.

I don’t really have a story,” kata Faira pelan.

Suasana didalam ruangan masih menyisakan gema dari cerita sedih Hero. Tidak ada yang benar-benar santai lagi sekarang ini. Untuk itu, orang-orang kini berharap cerita yang akan Faira bagikan akan membawa kembali keceriaan dalam ruangan itu.

Tapi itu hanya untuk orang-orang yang tidak pernah mengenal bagaimana masa lalu Faira dan Hero yang dulunya sepasang kekasih.

Lain cerita dengan beberapa orang disana yang tahu bagaimana cerita cinta mereka berdua.

Faira menatap gelas berisi Wine yang sekarang tinggal sisa setengah, dengan pandangan agak menerawang.

It's just… something i never said out loud.”

Faira menarik napas dalam. Untuk pertama kalinya sejak acara makan malam dimulai, Faira tidak lagi mencoba melindungi dirinya sendiri.

People often think that when someone leaves… it means they stopped loving,” lanjut Faira, suaranya tetap lembut, walaupun ada sedikit getaran dalam penuturannya.

But sometimes… it’s because they loved too much.”

Beberapa orang mulai menatapnya lebih serius.

Faira menatap lurus ke depan, dengan pandangan nyaris kosong—seolah ia sedang melihat sesuatu yang jauh lebih lama dari ruangan itu.

Sometimes they realize that staying… isn’t just about love anymore,” katanya pelan. “It’s about what that love might cost the other person.”

Tangan Faira mengencang pada tangkai gelas.

And sometimes… the cost is too big.”

Ruangan mulai benar-benar sunyi.

Faira menelan ludahnya, tapi ia tidak berhenti.

Sometimes you look at the person you love,” lanjutnya, suaranya semakin dalam, “and you know… if you stay, they’ll stay too.”

Jeda sejenak.

And that sounds romantic,” tambahnya lirih, “until you realize they’ll stay even if it means giving up things they shouldn’t have to lose.”

Beberapa orang mulai saling berpandangan.

Faira akhirnya menunduk sesaat, seolah mengumpulkan sesuatu dalam dadanya yang hampir pecah.

So you leave,” katanya pelan. “Not because you want to. Not because it hurts less. But because you can’t stand the idea of being the reason their world becomes smaller.”

Napasnya mulai tidak stabil.

Because you know… they deserve something bigger. Something better. A life that isn’t tied down by your circumstances, your problems… your collapsing world.

Kata-kata terakhir itu hampir seperti bisikan.

Faira memejamkan mata sejenak sebelum melanjutkan.

And the cruelest part is… they’ll never see it that way,” katanya lirih. “They’ll think you gave up. That you walked away because it was easy.”

Faira menggeleng perlahan.

When the truth is… leaving was the hardest thing you’ve ever done.”

Ruangan benar-benar hening.

Tidak ada yang berani bergerak.

Faira membuka matanya kembali. Kali ini, ia tidak menghindar.

Pandangannya jatuh tepat ke arah Hero.

Hanya satu detik.

Namun cukup untuk menyampaikan semua hal yang tidak pernah sempat ia katakan.

And you spend years, hoping that one day… they’ll have everything you wanted for them.

Suaranya melemah.

Even if that life doesn’t include you.”

Sunyi didalam ruangan kini terasa lebih menyesakkan dari cerita Hero sebelumnya. Nyaris semua mata kini tampak berkaca-kaca mendengar cerita Faira.

Faira akhirnya menarik napas panjang, lalu mengangkat gelasnya.

To Sarah and Joseph,” ucap Faira lembut, seraya melempar senyum terbaik yang bisa ia berikan dibalik goresan luka lama yang kembali basah ke permukaan hatinya.

May you never have to measure love against sacrifice… and may you never have to walk away from the person who feels like home just to give them a better future.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan intonasi lebih pelan—

And if you ever love someone that much… I hope you’re also lucky enough to never have to lose them to prove it.”

Faira menelan Wine di gelasnya dalam sekali tegukan cepat, berusaha mengabaikan sepasang mata biru yang tak lekang memandangi Faira dari seberang meja.

Dan kali ini juga—

Tidak ada satupun orang, selain Faira, yang langsung bersuara.

Karena kini semua orang di ruangan itu tahu, mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang bukan hanya sekadar cerita.

Mereka baru saja menyaksikan pengakuan dua hati yang tidak pernah benar-benar selesai saling mencintai.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
The Ingredients of Happiness
Steffi Adelin
Komik
One day, my first love comeback
Asih Triastuti
Cerpen
Edge of Us
Farah Maulida
Novel
Eunoia
Name of D
Novel
Party Doll(y)
Maia Gee
Novel
KUMCERPATI
Johanes Prasetyo Harjanto
Novel
Bertaut
Dita Destanika
Novel
Antara Cinta, Karir, dan Berat Badan
Suryawan W.P
Cerpen
Tak Pernah Selesai di Ujung Kalimat
Shavrilla
Novel
After Broken
Diana Mahmudah
Novel
Bronze
Guardian Angel of Heart
Indah li
Flash
Bronze
Selalu Ada New York di Hatiku
Shabrina Farha Nisa
Komik
Bronze
PDKT
edokomikecil
Novel
Memaafkan
Ulfah Mawaddah
Novel
Gold
Helen Dan Sukanta
Mizan Publishing
Rekomendasi
Cerpen
Edge of Us
Farah Maulida
Flash
I Found You First
Farah Maulida
Novel
The Gravity Of Us
Farah Maulida
Flash
Anterior to Your Heart
Farah Maulida
Flash
The Galaxy In Our Room
Farah Maulida
Flash
Unexpected You
Farah Maulida
Novel
Its Always Been You, Fraya
Farah Maulida
Cerpen
Bronze
The Girl Who Didnt Look Back
Farah Maulida
Flash
Parallax of Truth
Farah Maulida