Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
DUH KE RESET LAGI
edisi valentine..
Pagi itu, tanggal 14 Februari, atmosfer di rumah sederhana berlantai dua itu mendadak mencekam. Bukan karena ada teror, tapi karena suara gaduh dari kamar anggota keluarga paling senior, Yangti Sarti. Suara gedebak-gedebuk dari dalam kamar terdengar seperti ada badai yang sedang mengobrak-abrik lemari jati peninggalan zaman kolonial.
"Ibuk! Sampeyan lapo neng kamar kok koyok ono badai nak njero? Tak buka ya?" teriak Ibu Tari dari balik pintu dengan nada khawatir yang luar biasa.
"Ojo! Jangan! Kalau kamu berani buka pintu, tak pecat kamu jadi ART di sini!" seloroh Yangti dari dalam dengan suara yang sangat berwibawa.
Ibu Tari hanya bisa mengelus dada sambil beristigfar. Padahal dia anak kandung sendiri, tapi statusnya sudah turun kasta jadi asisten rumah tangga di ingatan sang Ibu.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar berdecit terbuka. Sosok Yangti muncul dengan transformasi yang bikin mata silau. Beliau tidak memakai kebaya sederhana seperti biasanya. Kali ini, Yangti memakai kebaya brokat mewah penuh payet kelap-kelip, ditambah riasan wajah yang sangat menor lengkap dengan gincu merah menyala.
Faqih yang sedang asyik main HP di sofa langsung ngowoh alias melongo melihat penampakan itu.
"Loh, Yangti... ape nandi (mau ke mana)? Kok dandannya koyok mau kondangan ke istana?" tanya Faqih sambil menahan tawa.
Yangti melirik Faqih dengan tatapan meremehkan. "Hush! Dasar anak muda nggak gaul! Sarti hari ini mau kencan spesial. Mau jalan-jalan naik sepeda onta sama Mas Parno!".
Faqih langsung menepuk jidatnya sendiri. "Duh... ke-reset lagi memori romantisnya," gumamnya pelan sambil membayangkan kakeknya yang sudah tenang di alam sana.
Yangti berdiri tegak, melirik Faqih dari ujung rambut sampai ujung kaki seperti sedang menilai kualitas seragam supir pribadi.
"Heh, supir muda! Sini kamu!" panggil Yangti dengan nada memerintah. "Anter Sarti ke depan gang sekarang. Kangmas Parno tadi sudah janji mau jemput di sana. Jangan lelet, nanti Kangmas Parno keburu pergi!"
Beliau menyebut nama 'Kangmas Parno' dengan nada yang mendayu-dayu, persis gadis remaja yang lagi kasmaran berat.
Sebelum melangkah, Yangti menoleh ke arah Ibu Tari yang masih berdiri mematung di ambang pintu. "Kamu, ART! Jaga rumah ini baik-baik. Tuan rumah mau kencan dulu, jangan sampai ada selingkuhan Kangmas Parno yang berani masuk!"
Ibu Tari cuma bisa narik napas panjang sambil istigfar. "Iya, Yang Mulia... hati-hati kencannya," sahutnya pasrah.
Maka dimulailah parade kecil itu. Yangti melangkah dengan dagu terangkat angkuh. Suara tak... tak... tak... dari sandal kayu (kelom geulis) khas zaman dulu yang beliau pakai terdengar menggema di sepanjang teras. Sesekali, beliau mengibas-ngibaskan kipas tangannya dengan gaya ningrat yang sangat dibuat-buat.
"Heh, Supir! Pegang ini!" Yangti menyodorkan sebuah tas belanja kain dengan gambar ayam jago yang terlihat berat.
Faqih menerimanya dengan dahi berkerut. "Tas ayam, Yangti? Isinya apaan? Berat amat."
Yangti langsung melotot waspada, lalu berbisik rahasia. "Hush! Jangan keras-keras! Itu isinya semua perhiasan emas dan berlian Sarti. Mau pamer ke Kangmas Parno biar dia tahu kalau calon istrinya ini kaya raya!"
Faqih mengintip sedikit ke dalam tas. Alih-alih emas, dia cuma melihat tumpukan batu baterai bekas dan ulekan sambel yang entah kenapa ada di situ.
"Duh... Gusti... emasnya kok bentuknya kayak ulekan," gumam Faqih pelan sambil menyeka keringat. "Ayo, Yangti. Kita ke depan gang sekarang sebelum perhiasannya berubah jadi batu bata.”
Parade "Ndoro Putri dan Supir Jalan Kaki" itu pun sampai di depan gang. Yangti berdiri tegak di samping tempat sampah kompleks yang dicat warna-warni, tapi di matanya, mungkin itu adalah halte kereta kencana yang mewah.
"Supir! Berhenti di sini!" perintah Yangti sambil mengibas kipasnya. "Mana Kangmas Parno? Jam segini kok belum nampak batang hidungnya? Apa sepedanya macet di jalan?"
Faqih yang napasnya sudah mulai Senin-Kamis gara-gara nenteng tas "perhiasan" berisi ulekan cuma bisa bersandar di tiang listrik. "Sabar, Yangti... Kangmas Parno tadi barusan kirim telepati ke aku. Katanya bannya bocor kena paku payung di dekat pasar."
Yangti mendengus, riasan menornya makin terlihat mencolok di bawah sinar matahari pagi. "Pasti disabotase sama perempuan dasteran itu! Dia nggak rela Sarti kencan romantis hari ini!"
Tiba-tiba, ada tukang cilok lewat pakai motor. Yangti langsung mematung, matanya berbinar-binar. "Loh, itu Kangmas Parno! Tapi kok sepedanya sekarang bisa bunyi telolet-telolet dan bawa dandang besar?!"
Faqih nyaris pingsan. "Bukan, Yangti! Itu tukang cilok! Jangan dipanggil!"
Tapi terlambat. Yangti sudah melambaikan tangan dengan anggun. "Kangmas Parnooo! Sarti di sini! Bawa perhiasannya banyak, lho! Ayo kita kencan makan cilok!"
Faqih cuma bisa menutup muka pakai tas ayam jago. "Duh... bener-bener ke-reset ke mode paling absurd," gumamnya pasrah sambil merogoh dompet buat bayarin cilok "kencan" Yangti.
Akhirnya, kencan romantis itu pun terjadi. Bukan di restoran bintang lima, melainkan di atas bangku kayu panjang milik penjual cilok yang bingung karena dipanggil "Kangmas Parno" oleh seorang nenek berkebaya gemerlap.
Yangti duduk dengan anggun, sesekali mengelap sudut bibirnya yang kena bumbu kacang menggunakan sapu tangan sutra imajiner. "Mas Parno, ciloknya enak. Tapi kok sekarang Mas Parno agak kurusan dan bau asap knalpot, ya?" tanya Yangti sambil menatap si penjual cilok dengan penuh cinta.
Si penjual cilok cuma bisa nyengir kuda ke arah Faqih, sementara Faqih memberikan kode jempol sambil berbisik, "Iya-iyain aja, Mang, biar cepet."
Faqih berdiri di samping mereka, masih setia memeluk tas ayam jago berisi ulekan dan batu baterai bekas yang diklaim sebagai emas permata. Di bawah terik matahari Februari, Faqih menyadari satu hal: Valentine baginya bukan tentang cokelat, tapi tentang menemani Yangti "berkencan" dengan masa lalunya.
"Ayo, Supir! Bayar kencan kami. Sarti lupa bawa uang kecil, adanya cuma berlian di dalam tas itu," perintah Yangti sambil menunjuk tas ayam jago dengan kipasnya.
Faqih menghela napas panjang, mengeluarkan selembar sepuluh ribuan dari dompetnya yang makin menipis. "Siap, Ndoro Putri. Kencannya sudah selesai, ya? Habis ini kita pulang sebelum Ibu Tari lapor polisi karena kita dikira diculik tukang cilok."
Sambil menuntun Yangti pulang dengan suara tak-tak-tak sandal kayunya yang mulai melambat, Faqih tersenyum tipis. Biarpun memorinya sering ke-reset, kasih sayang Faqih ke Yangti nggak akan pernah error.
END.
Valentine bukan cuma soal cokelat atau kencan romantis anak muda. Bagi Faqih dan Ibunya, Valentine adalah bentuk kasih sayang nyata dalam mendampingi Yangti. Meskipun setiap hari memori Yangti "ke-reset" dan mereka harus memperkenalkan diri berulang kali, mereka tetap melayani dengan sabar.
next edisi apa lagi ya gebrakan yangti?..