Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Kereta di Kyoto sore itu penuh, bukan sekadar ramai, tapi padat dengan cara yang membuat semua orang memilih diam. Orang-orang berdiri rapat tanpa banyak suara, sebagian terpaku pada layar ponsel, sebagian lagi memejamkan mata, seolah sedang mencuri sedikit waktu untuk beristirahat di sela hari yang terasa panjang.
Aku, yang saat itu sedang solo traveling, berdiri terlalu dekat dengan pintu. Bukan karena ingin cepat turun, tapi lebih karena tidak benar-benar tahu harus berdiri di mana. Tangan kiriku berpegangan pada tiang, sementara tangan kanan sibuk menggenggam ponsel, berpura-pura terlihat paham arah, padahal sebenarnya masih menebak-nebak.
Lucunya, pengalaman bertahun-tahun sebagai “anker” alias anak kereta di Jakarta, yang biasanya membuatku cukup percaya diri menghadapi situasi seperti ini, tiba-tiba terasa tidak banyak membantu di tempat yang asing ini.
Tiba-tiba ada yang menepuk pelan bahuku.
“Excuse me… maybe… little bit dangerous here,” suara itu datang dengan ragu-ragu, terbata, tapi hangat.
Aku menoleh.
Seorang pria paruh baya berdiri di sampingku. Rambutnya mulai memutih, rapi disisir ke belakang. Ia mengenakan jas warna navy yang sederhana, tapi tampak sangat terawat. Wajahnya… entah kenapa terasa familiar. Terlalu familiar.
Ia memberi isyarat dengan tangannya, menyarankan agar aku sedikit menjauh dari pintu. “Rush hour… people push… you can fall.”
Aku mengangguk, tersenyum, lalu bergeser mengikuti sarannya. “Oh okay, thank you,”
Dia membalas dengan senyum kecil, seperti seseorang yang tidak terbiasa berbicara banyak, tapi tetap ingin memastikan orang lain baik-baik saja.
Perlahan, percakapan kecil pun terjalin. Dengan bahasa Inggrisnya yang terbata, dia mencoba bercerita tentang kehidupan di Jepang, tentang padatnya jam kerja, tentang orang-orang yang selalu terburu-buru, tentang bagaimana turis sering kali tidak sadar betapa ramainya kereta di jam seperti ini.
Aku mendengarkan. Sesekali mengangguk. Sesekali tertawa kecil saat dia kesulitan menemukan kata yang tepat.
Di sela-sela obrolan itu, aku sempat memperhatikan detail kecil yang sebelumnya luput, yakni cara dia merapikan lengan jasnya setiap beberapa menit, cara dia berdiri sedikit condong ke arahku seolah memastikan aku tetap seimbang di tengah dorongan penumpang, dan cara dia mengangguk pelan setiap kali aku merespons ceritanya.
Hal-hal sederhana, tapi entah kenapa terasa akrab. Terlalu akrab untuk seseorang yang baru beberapa menit lalu kukenal.
Tapi sebenarnya, ada hal lain yang sedang bekerja diam-diam di dalam diriku.
Wajahnya.
Cara ia berbicara.
Cara dia menatap dengan sedikit khawatir, seperti memastikan aku tidak kenapa-kenapa.
Semuanya terasa… seperti seseorang yang pernah sangat dekat.
Aku mencoba mengabaikan perasaan itu. Mungkin hanya kebetulan. Mungkin hanya sugesti karena sedang sendiri di negeri orang.
Tapi semakin aku mencoba mengabaikannya, semakin jelas perasaan itu muncul. Seperti ada bagian dari diriku yang sudah lebih dulu mengenalnya, jauh sebelum pertemuan singkat ini terjadi.
Sampai akhirnya kereta berhenti di stasiun berikutnya.
Dia melihat ke arah pintu, lalu kembali menatapku.
“My station,” katanya pelan.
Aku mengangguk. “Ah… okay.”
Dia sedikit membungkuk, gestur sopan khas Jepang, lalu melangkah keluar. Tapi sebelum pintu tertutup, dia menoleh lagi.
Tangannya terangkat.
Ia melambaikan tangan.
“Have a nice trip.”
Senyumnya sederhana. Tapi entah kenapa, terasa sangat dalam.
Dan di saat itu juga, sesuatu di dalam dadaku runtuh.
Kereta mulai bergerak. Perlahan meninggalkan peron. Sosoknya makin menjauh, tapi tangannya masih melambai, persis seperti seseorang yang tidak ingin benar-benar pergi.
****
Aku terpaku.
Dejavu.
Seketika, ingatanku ditarik jauh ke belakang.
Ke sebuah stasiun di Indonesia. Ke hari ketika aku berangkat kuliah ke Semarang. Ke sosok laki-laki yang berdiri di peron, melambaikan tangan dengan cara yang sama.
Waktu itu, aku bahkan tidak benar-benar melihatnya dengan penuh perhatian. Seperti kebanyakan perpisahan yang terasa biasa, aku lebih sibuk dengan tujuan di depan daripada momen yang sedang terjadi.
Dan waktu itu juga semuanya terasa biasa saja. Tidak ada firasat apa-apa. Dia hanya mengantar, memastikan barang bawaanku lengkap, menanyakan hal-hal kecil seperti biasanya. Aku naik ke kereta, dan dia tetap di peron.
Lalu, ketika kereta mulai berjalan, dia melambaikan tangan.
Aku membalas, sambil setengah tidak sabar menatap perjalanan yang ada di depan.
Aku tidak tahu, tidak pernah benar-benar tahu, bahwa lambaian itu adalah yang terakhir.
Beberapa waktu setelah itu, dalam perjalanan pulang setelah mengantarku, kecelakaan itu terjadi. Dan sejak saat itu, tidak pernah ada lagi kesempatan untuk melihatnya berdiri di peron, atau sekadar melambaikan tangan seperti hari itu.
Semua berhenti di sana.
Di satu lambaian yang terasa biasa… sampai akhirnya menjadi yang paling tidak tergantikan.
Tidak ada kesempatan untuk memperbaiki, tidak ada kesempatan untuk mengulang, bahkan sekadar untuk mengingat dengan lebih utuh pun terasa terlambat.
****
Dan kali ini,
Untuk pertama kalinya aku benar-benar melihatnya kembali dengan jelas, bukan hanya dalam ingatan, tapi dalam bayangan yang berdiri di depanku beberapa detik yang lalu.
Wajah itu.
Jas itu.
Bahkan caranya khawatir.
Semuanya sama.
Hanya satu yang berbeda. rambutnya kini lebih banyak uban. Seolah waktu sedang menunjukkan bagaimana rupanya jika masih diberi kesempatan untuk tetap hidup.
Tenggorokanku terasa tercekat.
Aku menunduk, berusaha menahan air mataku yang tiba-tiba ingin tumpah begitu saja.
Kereta terus melaju, tapi pikiranku tertinggal di peron itu.
Andaikan aku tahu.
Andaikan aku sadar lebih cepat.
Mungkin aku akan berbicara lebih lama. Mungkin aku akan meminta foto. Mungkin… aku akan memeluknya, meski hanya sebagai orang asing.
Sebagai pelipur rindu yang tak pernah benar-benar selesai.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri di tengah riuh penumpang yang tidak tahu apa-apa.
Kadang, Tuhan tidak mengirimkan seseorang untuk tinggal.
Kadang, Ia hanya mengirimkan seseorang… untuk mengingatkan.
Bahwa rindu itu nyata.
Bahwa kehilangan itu masih ada.
Dan bahwa ada pertemuan-pertemuan yang mungkin tidak pernah kita pahami saat terjadi, tapi justru menjadi paling berarti setelah semuanya berlalu.
****
Dan bahwa cinta, bahkan setelah kepergian, tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya berpindah tempat, bersembunyi di kenangan, lalu datang kembali ketika kita paling tidak siap.
Kereta melambat di stasiun berikutnya. Suara pintu terbuka terdengar singkat, lalu kembali tenggelam dalam ritme perjalanan yang terus berjalan.
Aku mengusap sudut mataku pelan, mencoba kembali ke saat ini, meski sebagian diriku masih tertinggal di peron sebelumnya, di antara seseorang yang baru saja pergi dan seseorang yang sudah lama tidak bisa kembali.
Di luar jendela, orang-orang datang dan pergi. Peron demi peron terlewati, seperti waktu yang tidak pernah benar-benar berhenti menunggu.
Dalam diam, aku berbisik,
“Terima kasih… Otousan.”
Dan lebih pelan lagi, hampir seperti berbicara pada diriku sendiri,
“Al-Fatihah, Pak.”
****
Kereta kembali bergerak.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa sendiri di perjalanan ini.
Karena di antara ribuan kilometer yang memisahkan antara masa lalu dan hari ini, ternyata ada hal-hal yang tetap menemukan jalannya kembali, meski hanya lewat sebuah lambaian singkat di peron yang berbeda.