Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Ibu saya sudah meninggal."
Kalimat itu terucap tertahan, menggantung di antara keheningan malam yang menyelimuti teras rumah. Mario berdiri tepat di hadapan Veli, sedangkan perempuan itu hanya memandangnya dalam diam. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Veli tahu betul ke mana percakapan itu akan bermuara. Barangkali, sejak Mario menawarkan diri mengantarnya pulang setelah satu per satu kawan lama SMA mereka meninggalkan rumah duka, Veli sudah mengerti bahwa perjalanan menuju rumahnya tidak akan pernah sesederhana diantar seorang sahabat lama pulang ke rumah.
“Dan untuk perempuan secerdas kamu,” lanjut Mario dengan suara rendah, “Saya tidak yakin kamu tidak bisa membaca pikiran saya.”
Veli tetap diam.
Mario sendiri mengenal bahwa tatapan perempuan tersebut terlalu baik untuk berpura-pura tidak memahami maksudnya.
Ada sesuatu yang telah lama terkubur di antara keduanya, lalu malam ini tiba-tiba bangkit dari tanah bersama kematian seorang perempuan yang selama bertahun-tahun menjadi tembok penghalang di antara cinta mereka.
Bagi Mario, Veli bukan sekadar...