Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Dua Asbak
Ketukan di pintu kamarku pada pukul tiga pagi selalu berarti dua hal: kalau bukan hantu pemukim pohon beringin depan kost, ya teman yang sedang tertimpa masalah.
Ketika pintu kubuka, angin dingin Jogja bulan Februari langsung menyelinap masuk melalui celah pintu. Di ambang pintu berdiri seorang laki-laki berjaket parasut kusam bertuliskan Fisheries. Wajahnya kurus, matanya cekung kurang tidur, tapi bibirnya menyunggingkan senyum yang sudah sangat kukenal.
"Aku nggak nyasar ke kuburan, kan?" tanyanya dengan suara serak, terkekeh pelan.
"Jangan salah," balasku sambil merangkul bahunya kencang sampai dia mengaduh. "Kuburan itu tempat paling damai buat orang yang sudah capek sama kehidupan. Masuklah."
Dia adalah sahabatku sejak SMA di Belitung. Mantan ketua OSIS teladan, juara umum kelas, dan tipe anak alim yang masa depannya dijamin cerah oleh semua guru. Tiga tahun lalu dia berangkat ke Jakarta, menjelma menjadi aktivis pergerakan mahasiswa yang saban minggu mukanya nongol di berita sore — berdiri di barisan depan barikade dengan slayer melingkar di leher dan batu di genggaman.
Kuangkat kardus kecil bekal perjalanannya ke dalam kamar, lalu berjalan ke dapur di ujung gang untuk memasak air.
"Dari stasiun naik apa?" tanyaku dari dapur.
"Taksi. Dari Jakarta naik Senja Utama," teriaknya dari kamar. "Kursi sebelah kosong, lumayan bisa selonjoran. Tapi pelayanannya masih tetap bangsat, nggak sebanding sama harga tiket."
"Aktivis bayar kereta juga?" sindirku sambil meletakkan teko ke atas kompor. "Kirain kalau pergerakan, naik kereta tinggal lempar selebaran propaganda ke kondektur."
"Sembarangan," balasnya, suaranya terdengar makin dekat. "Negara ini aja bobrok, masa pelayanan kereta api mau gue maklumi?"
"Halah. Kemarin di berita sore muka lo kelihatan gagah betul pas memegang batu di depan gedung DPR. Itu sebenarnya lagi memperjuangkan nasib rakyat atau lagi melampiaskan dendam karena IPK semester ini jebol?"
"Nisbi itu, Bre," katanya sambil bersandar di kusen pintu dapur. "Rakyat menang, nilai jebol, yang penting eksis di layar kaca."
Aku tertawa. Jiwa pergerakannya memang langsung aktif begitu menginjak tanah Jogja.
Dua cangkir kopi hitam pekat mengepulkan asap tebal di atas meja kecil. Kamarku yang berukuran tiga setengah kali empat meter ini lebih mirip ruang bermain umum daripada kamar tidur mahasiswa sosiologi. Ada komputer multimedia, televisi 14 inci, konsol PS2, susunan komik, dan dua pak kartu remi yang sudah lusuh.
Kost tempatku tinggal ini kost heterogen. Anak-anak kost — cewek mau pun cowok — sering seharian mendekam di kamarku hanya untuk main game, nonton film, atau sekadar mencari suaka dari kejenuhan skripsi.
Sahabatku duduk bersedekap di atas karpet, menyeruput kopi hangat. Jaket parasutnya sudah tergantung di paku belakang pintu, menyisakan kaus oblong biru yang membungkus badannya yang kian ceking. Matanya menyapu setiap sudut ruangan dengan ketelitian seorang analis politik yang siap melontarkan kritik.
"Kamar lo nih makin mirip sarang maksiat intelektual," cetusnya, menunjuk tumpukan komik dan kartu remi di meja.
"Sembarangan," potongku. "Ini pusat kebudayaan. Enggak cewek enggak cowok betah di sini. Tapi tenang, tak ada skandal seperti yang ada di jurnal-jurnal penelitian moral itu. Kami ini menjaga etika ketat... kecuali pas ada yang kalah main remi terus dihukum push-up."
"Tapi kemarin di email lo cerita baru dapet dana proyek penelitian kampus, kan?" tanyanya menyidik. "Gimana hasilnya?"
"Lumayanlah. Dibagi lima, cukup buat traktir anak-anak se-fakultas," jawabku santai. "Proyek tetap proyek, nurani urusan belakang. Yang penting cair."
Sahabatku terkekeh, menggeleng-gelengkan kepala. Tapi lalu matanya terhenti pada sudut meja dekat layar monitor.
Di sana teronggok dua buah asbak rokok. Yang satu asbak seng biasa, dan yang satu lagi asbak fiberglass unik berbentuk patung Plato — tapi Plato yang ini memakai blangkon Jawa.
Dahi sahabatku mengerut. Alisnya merapat.
Dulu, waktu masih berseragam putih-abu-abu di Belitung, kami berdua pernah membuat janji suci: tidak akan pernah menyentuh rokok. Padahal geng gaul kami saat itu semuanya perokok berat. Tapi tidak ada yang berani memaksa kami. Kami bangga menjadi dua orang aneh yang bertahan bersih di tengah kepungan asap.
"Kau merokok sekarang?" tanyanya, suaranya mendadak turun, tanpa memalingkan wajah dari kedua asbak itu.
"Amun iye ngapelah?" balasku dingin dengan bahasa ibu kami — kalau iya memangnya kenapa?
Dia tidak menjawab. Malah menarik tanganku, memperhatikan sela-sela jari telunjuk dan jari tengahku dengan cermat.
"Jari-jarimu nggak kuning. Di ventilasi jendela juga nggak ada bungkus rokok kosong," katanya santai, melepaskan tanganku. "Kau bukan perokok. Jangan sok keras."
Aku memutar bola mata. Mantan ketua OSIS ini memang selalu menyebalkan kalau sedang dalam mode detektif.
"Lalu untuk apa kau menyimpan asbak sampai dua biji di kamarmu?" tanyanya lagi. "Kurang kalau cuma satu?"
Aku menyunggingkan senyum misterius. Ini saatnya unjuk gigi. Aku sudah menyiapkan ceramah yang pasti akan membungkam mulut kritisnya.
"Kau mau tahu?" kataku sambil menyandar ke dinding, bersedekap. "Kau lihat kamarku. Dari sekian banyak kamar di kost ini yang punya komputer dan TV, tahu kenapa cuma kamarku yang paling ramai dijadikan tempat ngumpul?"
Sahabatku menggeleng pelan, menyeruput kopinya.
"Sebab di kamar anak-anak lain tidak ada asbak," jawabku mantap.
"Hubungannya?"
"Asbak itu simbol, Bre," kataku, nada suaraku naik satu oktaf, mulai berorasi ala filsuf kampus. "Kalau kau dengan segala ideologi kiri yang kau peluk sekarang punya simbol kepalan tangan dan gambar Che Guevara... aku punya dua asbak sebagai simbol."
Dia menatapku dengan alis terangkat, menahan senyum.
"Asbak adalah simbol keterbukaan dan anti-prasangka seorang tuan rumah," lanjutku bersemangat. "Artinya everybody is welcome. Yang perokok boleh masuk tanpa harus merasa bersalah atau dihakimi. Tuan rumah rela ruangannya dipenuhi asap dan abu, asal tamunya bisa menikmati kesenangannya. Asbak itu bentuk toleransi paling konkret! Egaliter!"
"Tapi kau lupa khotbah pecinta lingkungan atau doktrin kesehatan?" potongnya cepat. "Merokok itu zalim, merusak tubuh sendiri. Kalau merokok di ruang tertutup begini, jatuhnya menzalimi orang lain. Bukankah itu dosa menurut doktrin moral yang kau agungkan?"
"Benar dan salah, dosa atau pahala, itu urusan pribadi perokok sama Tuhan!" balasku tak mau kalah. "Tugas tuan rumah cuma satu: menyambut tamunya dengan baik. Bukankah itu etiket paling mendasar dalam agama dan peradaban mana pun? Kecuali kalau pemerintah daerah bikin Perda resmi bahwa merokok di kamar kost kena sanksi pidana, baru jelas salahnya. Sebelum ada Perda itu, asbakku adalah hukum tertinggi!"
Aku mengambil napas, merasa sangat puas dengan orasiku.
"Bagi aku, cukup jadi tuan rumah yang baik dengan tidak membeda-bedakan tamu... sebelum nanti aku bisa punya rumah yang lebih besar."
Sahabatku diam mendengarkan. Kepalanya manggut-manggut pelan. Senyum tipis mengembang di bibirnya yang agak kehitaman — senyum yang seolah berkata: Lisanmu manis juga, Pantesan banyak cewek betah curhat di sini.
Aku merasa berada di atas angin. Untuk pertama kalinya dalam sejarah persahabatan kami, aku berhasil membungkam si Juara Debat SMA ini.
Keheningan pagi kembali menguasai ruangan. Suara kokok ayam jantan bertaut dengan sayup azan subuh dari menara masjid di kejauhan.
Sahabatku meletakkan cangkir kopinya yang sudah kosong. Dia berdiri pelan, berjalan menuju pintu kamar. Tangannya terulur ke kantong jaket parasutnya yang tergantung di paku.
Dia merogoh sesuatu dari dalam kantong.
Sebungkus Sampoerna Hijau.
Dengan gerakan yang sangat santai dan terlatih, sahabatku menarik sebatang rokok dengan bibirnya. Dia mengambil pemantik gas dari saku celana, memantik api, dan membakar ujung rokoknya.
Cisss.
Api menyala. Dia menarik napas dalam-dalam, dadanya membusung, lalu menyemburkan asap putih pekat yang meliuk-liuk memenuhi ruangan tiga setengah meter kami.
Aku melongo. Mataku membelalak. Mulutku menganga lebar sampai cangkir kopi di tanganku hampir terlepas jatuh ke lantai.
"Lo... lo merokok?!" pekikku menunjuknya.
Sahabatku berjalan kembali ke meja, menarik kursi, lalu melipat kakinya santai. Dengan jemarinya yang lincah, dia menjentikkan abu rokok pertama tepat ke dalam mangkuk asbak Plato berblangkon milikku.
Dia menatapku dari balik kepulan asap, tersenyum manis — senyum paling brengsek dan paling menang yang pernah kulihat sepanjang hidupku.
"Makasih ya, Bre," katanya halus sambil mengepulkan asap dari hidungnya. "Tuan rumah yang baik memang harus egaliter."
Aku mematung. Seluruh argumen tebal yang kubangun lima menit lalu mendadak runtuh tak tersisa, dijadikan lelucon oleh sebatang rokok di tangannya.
"Asu..." umpatku pelan.
Tawa sahabatku meledak keras, memecah kesunyian subuh Kota Jogja.
Aku mendengus menggelengkan kepala. Lalu kubuka laci meja komputerku, mengosongkan tumpukan kabel, menarik keluar sebungkus Esse Pop Mint yang kusembunyikan di bawah keyboard, dan membakarnya.
Tawa sahabatku makin kencang. Dua orang munafik sok filsuf, duduk berhadapan di kamar kost tiga meteran, tertawa merayakan kekalahan moral masing-masing di balik dua kepulan asap rokok.
Jogja, 2007
Cerpen ini merupakan bagian dari koleksi "SEPULUH, Kumpulan Cerpen".