Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Buka matamu, Naufal. Pelan-pelan saja."
Cahaya lampu neon di atap ruangan menusuk pupil mataku seperti ribuan jarum perak. Aku mengerang, merasakan denyut tajam di belakang tempurung kepala. Bau antiseptik yang menyengat memenuhi rongga hidungku.
"Di mana... ini?" suaraku parau, nyaris tak terdengar.
"Klinik Re-Memoria. Operasimu sukses," suara itu milik Dokter Aris. Ia berdiri di samping tempat tidurku, memegang sebuah tablet transparan yang memancarkan cahaya biru. "Bagaimana perasaanmu? Ada pusing yang hebat?"
"Kepalaku rasanya seperti dihantam palu godam," aku mencoba duduk, tapi dunia seolah berputar 360 derajat.
"Wajar. [Protokol Sinkronisasi Memori] memang berat untuk sistem saraf pusat. Kau baru saja menerima donor sebesar empat puluh gigabit data neural," jelas Aris sambil memeriksa grafik di layarnya.
Aku menyentuh perban yang melingkari kepalaku. Kecelakaan itu. Aku ingat mobil yang tergelincir, lampu depan yang menyilaukan, dan setelah itu—gelap. Amnesia retrograde total, kata mereka. Aku kehilangan lima tahun hidupku, termasuk kemampuanku sebagai detektif.
"Siapa... siapa yang mendonorkan ingatan ini?" tanyaku.
Dokter Aris terdiam sejenak, jarinya menari di atas layar. "Sesuai undang-undang [Privasi Neural 2045], donor bersifat anonim, Naufal. Dia adalah seseorang yang baru saja meninggal dan merelakan bank memorinya untuk tujuan medis. Kau beruntung, kecocokan sinaptik kalian mencapai 99%."
"Sembilan puluh sembilan persen? Bukankah itu terlalu tinggi?"
"Sangat jarang terjadi. Tapi itulah yang membuatmu bisa kembali bekerja secepat ini," Aris tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. "Kau butuh istirahat. Biarkan [Integrasi Neural] berjalan selama dua belas jam ke depan."
"Aku ingin pulang sekarang, Dok."
"Jangan konyol. Efek sampingnya bisa berupa halusinasi atau disorientasi ruang."
"Aku sudah kehilangan lima tahun hidupku, Aris. Aku tidak mau kehilangan satu malam lagi di ranjang rumah sakit ini," aku memaksa kakiku turun ke lantai. Dingin.
Tiba-tiba, sebuah bayangan melintas di benakku. Bukan ingatan tentang kecelakaan, melainkan sebuah tangan yang mengenakan sarung tangan lateks hitam, memegang pisau bedah di bawah sinar rembulan yang temaram. Aku tersentak, mencengkeram pinggiran tempat tidur.
"Naufal? Ada apa? Kau pucat sekali," Dokter Aris mendekat, raut wajahnya tampak cemas.
"Hanya... pusing," bohongku. "Cuma pusing biasa."
"Jangan memaksakan diri. Ingatan donor itu seperti organ tubuh baru. Dia butuh waktu untuk 'menempel' di otakmu."
"Aku tahu prosedurnya. Aku detektif, Dok. Aku yang menangani kasus perdagangan memori ilegal dua tahun lalu... atau setidaknya, itu yang tertulis di berkasku."
Dokter Aris menghela napas panjang, lalu menyerahkan sebuah botol kecil berisi pil berwarna ungu. "Ambil ini jika 'kilasan-kilasan' itu muncul terlalu kuat. Itu penekan aktivitas lobus temporal."
"Terima kasih," aku mengambil botol itu dan berjalan menuju pintu keluar.
Saat aku mencapai ambang pintu, seorang perawat muda masuk dengan terburu-buru. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan ketakutan.
"Dokter Aris, unit 402 mengalami [Kegagalan Penolakan Memori]," lapor perawat itu dengan suara gemetar.
"Sudah kubilang, jangan bicara di depan pasien!" bentak Aris dengan nada yang tidak pernah kudengar sebelumnya.
"Tapi Dok, dia terus berteriak tentang 'pria di bawah lampu jalan' itu!"
Rekaman yang Salah
Kantor Kepolisian Sektor Pusat terasa asing bagiku, meskipun semua orang menyapaku seolah kami adalah kawan lama. Aku berjalan melewati meja-meja kerja, mencoba mencocokkan wajah-wajah ini dengan "ingatan baru" yang mulai bermunculan di kepalaku.
"Woi, Naufal! Sudah balik lo?" seorang pria bertubuh gempal menepuk bahuku keras.
Aku tersentak. Di kepalaku, sebuah gambar muncul otomatis: [Nama: Dika. Jabatan: Partner. Hubungan: Sahabat sejak akademi].
"Iya, Dik. Begitulah," jawabku, mencoba terdengar santai.
"Gila ya, teknologi sekarang. Lo hilang ingatan bulan lalu, sekarang sudah tegak lagi di sini. Gimana rasanya punya otak orang lain?" Dika tertawa, lalu menyodorkan segelas kopi hitam.
"Aneh. Rasanya seperti menonton film dokumenter tentang hidupku sendiri, tapi aku tidak ingat kapan aku syuting film itu."
"Yang penting insting lo masih ada. Kita ada panggilan. Penemuan mayat di gudang tua dermaga. Mau ikut?"
Aku mengangguk. "Tentu. Itu yang aku butuhkan sekarang."
Sepanjang perjalanan menuju lokasi, kepalaku berdenyut. Setiap kali aku menutup mata, aku melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada di sana. Aku melihat sudut-sudut gang gelap yang tidak pernah kukunjungi. Aku mencium bau karat dan darah yang sangat spesifik.
Saat kami tiba di dermaga, garis polisi sudah terpasang. Bau air laut yang asin bercampur dengan aroma busuk yang menyengat.
"Korban wanita, umur sekitar 25 tahun. Luka sayatan di leher. Rapi sekali, seperti dikerjakan ahli bedah," jelas seorang petugas forensik.
Aku mendekati mayat itu. Tiba-tiba, jantungku berdegup kencang. [Sinkronisasi Memori: Aktif].
Dunia di sekitarku memudar. Suara Dika menjadi sayup-sayup. Tanah yang kupijak terasa berbeda. Aku tidak lagi berdiri sebagai detektif yang menyelidiki kasus. Aku melihat diriku—atau lebih tepatnya, si pemilik ingatan ini—berdiri di atas wanita itu.
Aku melihat tanganku yang bersarung tangan lateks hitam. Aku merasakan beratnya pisau bedah di jemariku. Aku melihat wanita itu membelalak, mencoba berteriak, tapi tanganku membekap mulutnya dengan begitu tenang.
"Satu sayatan kecil untuk simfoni yang abadi," sebuah suara berbisik di kepalaku. Suara itu dingin, tanpa emosi.
"Naufal! Naufal! Lo denger gue nggak?"
Guncangan di bahuku membuyarkan semuanya. Aku jatuh terduduk, napasku memburu. Keringat dingin membasahi punggungku.
"Lo kenapa, Fal? Muka lo kayak habis lihat setan," Dika menatapku khawatir.
Aku menatap mayat di depanku. Luka di lehernya... persis seperti yang baru saja kulihat dalam "penglihatan" itu. Titik mulainya, kedalamannya, sudut sayatannya—identik.
"Dika, di bawah tumpukan palet itu... ada anting-anting korban yang hilang, kan?" kataku spontan.
Dika mengerutkan kening. "Apa maksud lo? Forensik belum periksa daerah situ."
Dika berjalan menuju tumpukan palet kayu di sudut gudang yang gelap. Ia menyalakan senter, menggeser beberapa kayu, dan tiba-tiba ia terdiam.
"Ketemu," suara Dika terdengar bergetar. "Tapi, Fal... gimana lo bisa tahu? Sudut ini gelap banget, dan palet ini berat."
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering. "Gue... gue cuma nebak, Dik. Insting detektif, kan?"
"Insting? Ini bukan nebak, Fal. Ini kayak lo ada di sini pas kejadian," Dika menatapku dengan tatapan menyelidik.
Rahasia Klinik Aethelgard
"Gue mau data donor memori gue, Aris. Sekarang!"
Aku membanting pintu ruangan Dokter Aris. Sang dokter tersentak, hampir menjatuhkan cangkir kopinya.
"Naufal, tenanglah. Apa yang terjadi?"
"Jangan sok tenang! Ingatan yang kau masukkan ke kepalaku... itu bukan ingatan orang biasa. Aku melihat pembunuhan, Aris! Aku melihatnya dari sudut pandang si pembunuh!" teriakku.
Aris bangkit dari kursinya, wajahnya mengeras. Ia berjalan menuju pintu dan menguncinya. "Bicaralah dengan suara rendah. Kau tahu ini bisa menghancurkan reputasi klinik ini?"
"Persetan dengan reputasimu! Siapa donor ini? Berikan namanya!"
"Aku tidak bisa, Naufal. Sistemnya dienkripsi secara otomatis. Bahkan aku tidak punya akses ke identitas aslinya setelah prosedur selesai."
"Bohong!" aku mencengkeram kerah bajunya. "Aku melihat mayat di dermaga tadi pagi. Aku tahu di mana barang buktinya berada karena aku 'ingat' membuangnya di sana! Donor ini adalah seorang pembunuh, Aris!"
Aris terdiam. Matanya bergetar sesaat, sebuah tanda ketakutan yang coba ia sembunyikan. "Naufal, dengarkan aku. Terkadang, dalam proses donor, terjadi apa yang disebut [Residu Emosional]. Itu hanya halusinasi yang dipicu oleh trauma kecelakaanmu."
"Halusinasi tidak bisa menunjukkan lokasi barang bukti dengan akurasi seratus persen!" bentakku, lalu melepaskan cengkeramannya.
"Ada sesuatu yang kau sembunyikan tentang 'Project Mnemosyne', kan?" tanyaku dengan nada mengancam.
Wajah Aris memucat mendengar nama itu. "Dari mana kau tahu nama proyek itu?"
"Tadi... saat aku pusing, nama itu muncul begitu saja di kepalaku. [Project Mnemosyne: Protokol Pengumpulan Memori Kriminal]. Apa itu, Aris?"
Aris menghela napas panjang, ia tampak seperti pria yang baru saja kalah dalam taruhan besar. "Pemerintah... mereka ingin cara yang lebih efektif untuk memecahkan kasus-kasus dingin. Mereka mulai mengambil memori dari narapidana hukuman mati sebelum mereka dieksekusi. Tujuannya adalah untuk menciptakan database pola pikir kriminal."
"Dan kau... kau mendonorkan memori itu kepadaku?" aku merasa mual.
"Terjadi kesalahan teknis, Naufal! Memori yang seharusnya masuk ke server database malah terkirim ke unit donor medis karena kecocokan sinaptikmu yang terlalu sempurna. Kami tidak bisa membatalkannya setelah proses [Write-In] dimulai!"
"Siapa dia? Siapa pemilik ingatan ini?"
"Namanya dirahasiakan, tapi dia dijuluki 'The Surgeon'. Dia belum tertangkap, Naufal. Ingatan itu diambil dari seorang tersangka yang meninggal dalam baku hantam dengan polisi enam bulan lalu. Tapi sepertinya... kami salah menangkap orang."
"Maksudmu?"
"Jika kau melihat pembunuhan yang terjadi tadi pagi, itu artinya si pemilik memori asli masih hidup dan berkeliaran. Dan ingatan yang kau terima... entah bagaimana, terus ter-update melalui [Tautan Neural Tersembunyi]."
"Jadi kau bilang, otakku sekarang terhubung secara real-time dengan seorang pembunuh berantai?" suaraku bergetar.
"Aku perlu memeriksa server pusat malam ini. Temui aku di sini jam dua pagi. Jangan beri tahu siapa pun, termasuk Dika," Aris berbisik.
"Kenapa bukan sekarang?"
"Karena sekarang, asistenku sedang memantaumu melalui [Sinyal Pelacak Neural] yang ada di kepalamu."
Jejak yang Seharusnya Hilang
Malam itu, hujan turun dengan deras, menyamarkan langkah kakiku saat aku menyelinap kembali ke Klinik Re-Memoria. Kepalaku terasa seperti akan pecah. Kilasan-kilasan baru terus bermunculan.
Aku melihat seorang pria tua di sebuah gang. Aku melihat pantulan wajahku di kaca jendela toko. Bukan wajahku yang sekarang, tapi wajah seorang pria dengan mata dingin dan sayatan kecil di bawah mata kirinya.
[Sinkronisasi: 95%]
Pesan sistem itu muncul di sudut penglihatanku. Aku sudah hampir menjadi dia.
Aku sampai di depan ruangan Dokter Aris. Pintu sedikit terbuka. Bau karat yang kukenal kembali tercium. Bukan karat besi, tapi bau darah segar.
"Aris?" panggilku pelan.
Aku mendorong pintu. Aris tergeletak di atas mejanya. Lehernya disayat dengan presisi yang mengerikan. Di atas mejanya, sebuah tablet menyala, menampilkan sebuah nama donor.
[Donor ID: X-001. Nama: Pandu Wiratma. Status: Aktif.]
"Pandu..." gumamku.
"Cepat sekali kau menemukannya," sebuah suara berat berasal dari sudut ruangan yang gelap.
Aku segera mencabut pistolku, mengarahkannya ke arah suara itu. "Keluar! Tunjukkan dirimu!"
Seorang pria melangkah keluar dari bayang-bayang. Ia mengenakan jas hujan hitam yang basah. Wajahnya... persis dengan pria yang kulihat dalam "ingatanku". Ia memiliki sayatan kecil yang sama di bawah mata kirinya.
"Halo, Naufal. Atau haruskah kupanggil diriku sendiri?" pria itu tersenyum.
"Kau... Pandu? Bagaimana mungkin kau ada di sini?" tanganku gemetar.
"Klinik ini melakukan eksperimen ilegal. Mereka menyalin memori-memoriku saat aku tertangkap sementara tahun lalu. Tapi mereka tidak tahu, memoriku terlalu kuat untuk dikendalikan," Pandu berjalan mendekat, sama sekali tidak takut dengan pistol di tanganku.
"Berhenti di situ atau kutembak!"
"Tembaklah. Jika kau membunuhku, kau membunuh 'sumber' dari ingatanmu. Kau akan mengalami [Kematian Neural Total]. Kau butuh aku untuk tetap waras, Naufal."
"Aku tidak butuh pembunuh sepertimu di kepalaku!"
"Tapi kau menyukainya, kan? Perasaan saat pisau itu menembus kulit... sensasi kuasa atas hidup dan mati seseorang. Aku bisa merasakannya darimu. Kita terhubung, Naufal. Setiap kali aku membunuh, kau merasakannya. Setiap kali kau merasa takut, aku menikmatinya."
"Dika dan tim polisi akan sampai di sini dalam lima menit. Aku sudah mengirimkan koordinatnya," kataku, mencoba tetap tegak.
Pandu tertawa kecil. "Dika? Temanmu yang malang itu? Dia tidak akan datang. Aku sudah mengiriminya 'pesan' untuk bertemu di gudang lama. Tempat favorit kita."
"Apa yang kau lakukan padanya?!"
"Ayo kita lihat sendiri. Lagipula, bukankah kau sudah tahu jalan ke sana tanpa perlu GPS?"
Warisan Berdarah
Gudang lama itu sunyi, hanya suara tetesan air hujan yang bocor dari atap seng. Aku berlari masuk, napasku tersengal-sengal. Di tengah ruangan, Dika terikat di sebuah kursi, mulutnya dilakban. Ia meronta-ronta saat melihatku.
"Dika!" aku berlari ke arahnya.
"Jangan buru-buru, Naufal," suara Pandu menggema dari lantai atas. "Ini adalah ujian terakhirmu. [Sinkronisasi] sudah mencapai 99.9%. Hanya butuh satu dorongan lagi untuk menjadi sempurna."
Aku berbalik, mengarahkan pistol ke atas. "Turun kau, bajingan!"
Pandu melompat turun dengan lincah, mendarat hanya beberapa meter di depanku. Ia memegang sebuah pisau bedah yang berkilau di bawah lampu temaram.
"Kau tahu apa yang harus dilakukan, Naufal. Ingatan itu... dia menuntut untuk dilanjutkan. Kau tidak bisa hanya menjadi penonton selamanya."
"Aku seorang detektif! Aku tidak akan menjadi sepertimu!"
"Detektif? Kau hanyalah sebuah wadah kosong yang diisi dengan sampah-sampah masa lalu orang lain. Tanpa memoriku, kau bukan siapa-siapa. Kau hanya seorang pria amnesia yang tidak tahu siapa nama ibunya sendiri."
Kata-katanya menusuk hatiku. Memang benar, aku tidak punya apa-apa selain ingatan ini. Semua perasaan sayangku pada Dika, semua dedikasiku pada pekerjaan—apakah itu asli? Ataukah itu hanya sisa-sisa emosi donor yang tertinggal?
Tiba-tiba, kepalaku meledak dalam rasa sakit. [Sinkronisasi: 100%].
Semua ingatan Pandu—dari masa kecilnya yang kelam, pembunuhan pertamanya, hingga cara ia membedah korbannya—mengalir masuk seperti air bah. Aku berlutut, mengerang kesakitan. Pistolku terlepas dari tangan.
Pandu mendekat, ia berjongkok di depanku. Ia meletakkan pisau bedahnya di tanganku yang terbuka.
"Bunuh dia, Naufal. Akhiri keraguanmu. Jadilah aku seutuhnya," bisiknya di telingaku.
Aku menatap Dika. Sahabatku. Tapi di mataku sekarang, Dika bukan lagi sahabat. Dia hanyalah... subjek. Sebuah anatomi yang menunggu untuk dipelajari. Aku bisa melihat pembuluh darah di lehernya berdenyut. Aku tahu persis di mana harus menyayat agar darahnya memuncrat dengan indah.
Tanganku bergerak sendiri. Pisau itu terasa begitu pas di jemariku.
"Naufal... jangan..." Dika bergumam di balik lakban, matanya penuh air mata.
Aku mengangkat pisau itu. Pandu tersenyum lebar, wajahnya penuh kemenangan.
JEDARRRR!
Suara tembakan mengguncang gudang. Pandu terjerembap ke depan, lubang peluru menganga di punggungnya. Aku menoleh. Di pintu masuk, sepasukan polisi masuk dengan senjata lengkap.
Aku menjatuhkan pisau itu, gemetar hebat.
Beberapa petugas segera mengamankan Pandu yang masih bernapas pendek, sementara yang lain melepaskan ikatan Dika. Dika langsung memelukku, ia menangis.
"Gue kira lo bakal benar-benar melakukannya, Fal... gue kira lo sudah hilang," isak Dika.
Aku hanya diam, menatap tanganku yang gemetar.
Petugas medis membawa Pandu melewati diriku. Saat tandunya berada tepat di sampingku, Pandu meraih kerah bajuku. Wajahnya pucat pasi, darah keluar dari mulutnya, tapi matanya memancarkan kegembiraan yang mengerikan.
Ia menarikku mendekat, lalu berbisik dengan suara yang hanya bisa kudengar.
"Terima kasih sudah menjaga ingatan itu untukku, Naufal. Sekarang, giliranmu yang menyelesaikannya."
Aku berdiri terpaku saat mereka membawanya pergi.
"Fal? Lo nggak apa-apa?" Dika menepuk bahuku.
Aku menoleh menatap Dika. Tiba-tiba, rasa lapar yang aneh muncul di perutku. Bukan lapar akan makanan. Tapi lapar akan sesuatu yang lain. Aku melihat leher Dika yang masih memerah bekas ikatan tali. Di kepalaku, aku sudah merencanakan bagaimana cara melenyapkan Dika tanpa meninggalkan jejak sedikit pun di laboratorium forensik nanti.
Aku tersenyum, senyuman yang belum pernah kuberikan pada siapa pun sebelumnya.
"Gue nggak apa-apa, Dik. Malah, gue nggak pernah merasa sehidup ini."
"Baguslah. Ayo kita balik ke kantor, biar gue yang nyetir."
Aku mengikuti Dika dari belakang, mataku tertuju pada titik di belakang kepalanya—titik terlemah untuk sebuah pukulan yang melumpuhkan. Di sudut penglihatanku, notifikasi sistem terakhir muncul sebelum menghilang selamanya:
[Sinkronisasi Permanen Berhasil. Selamat Datang Kembali, Surgeon.]
Dika membukakan pintu mobil untukku. "Ayo, Fal. Lo butuh istirahat."
Aku masuk ke dalam mobil, menghirup aroma kulit jok yang familiar. Aku meraba saku jaketku, menemukan pisau bedah kecil yang sempat kuselipkan tadi tanpa ada yang melihat.
"Tentu, Dika. Tapi bolehkah kita lewat jalan pintas di bawah jembatan layang yang sepi itu?"