Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Dituduh Penculik
3
Suka
430
Dibaca

Malam itu, jam 8 malam. Sepulang kerja. Tubuhku rasanya remuk redam, seolah-olah tulang belakangku baru saja dijadikan alat bermain drum band oleh seekor gorila. Niatku sederhana: mampir ke minimarket, beli kopi sachet, gula, dan tisu.

Aku masuk ke minimarket dengan langkah gontai. AC minimarket menyambutku dingin, sedingin sikap mantan. Aku berjalan menuju lorong snack dan kopi. Saat aku sedang serius membandingkan harga kopi merek A dan merek B (selisih 500 perak adalah masalah hidup dan mati bagi dompetku), tiba-tiba ketenangan itu pecah.

Bukan pecah karena gelas jatuh. Tapi pecah karena suara frekuensi tinggi yang mampu meretakkan gendang telinga dan memanggil anjing tetangga. "HUWAAAAAAA!!! MAU YANG INIIII!!! MAUUU!!! POKOKNYA MAUUU!!!"

Di belakangku, seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun sedang melakukan aksi teatrikal tingkat tinggi. Dia berguling-guling di lantai keramik putih minimarket, kakinya menendang-nendang udara, tangannya menunjuk ke arah rak cokelat mahal. Suaranya... Masya Allah. Ini bukan suara tangisan biasa. Ini adalah perpaduan antara suara sirine ambulan yang baterainya mau habis, suara kucing kawin yang kejepit pintu, dan suara alarm peringatan tsunami.

Musik minimarket yang saat itu sedang memutar lagu slow galau, langsung kalah telak. Suara sound system toko dan suara bocah itu malah jadi sahut-sahutan. Speaker Toko: "Ku menangis..." Bocah: "HUWAAAAAA!!!" Speaker Toko: "Membayangkan..." Bocah: "COKELAAATTT HUWAAAA!!!" Harmonisasi yang merusak mental.

Anak itu datang bersama ibunya. Seorang ibu muda, penampilannya modis, outfit-nya kekinian, wajahnya cantik, tipe-tipe Mahmud (Mamah Muda) idaman kompleks. Tapi saat itu, wajah cantiknya sedang berkerut menahan malu dan emosi.

Aku hanya melirik sedikit lewat ekor mata. Aku tahu posisi si Ibu serba salah. Mungkin uang belanja bulanan sudah mepet. Mungkin si Ibu anti-micin. Atau mungkin si Ibu adalah hater garis keras dari idol Korea yang wajahnya terpampang di bungkus cokelat itu. Dia takut kalau anaknya makan cokelat itu, bungkusnya malah disimpan suaminya sebagai koleksi.

Si Ibu mencoba membujuk. "Sayang... udah ya. Gigi kamu nanti ompong. Ayo pulang." "GAK MAUUU!!!" Anak itu makin menjadi-jadi. Volume suaranya naik ke level maksimal. Kaca etalase rasanya bergetar.

Kehabisan akal, si Ibu akhirnya mengeluarkan "Senjata Pamungkas" para orang tua Indonesia sejak zaman Majapahit: Menakut-nakuti Anak Pakai Orang Asing.

Sialnya, orang asing itu adalah aku. "Ssssttt! Diem! Jangan berisik!" bisik si Ibu dengan nada ancaman. Tangan lentiknya menunjuk lurus ke arah punggungku. "Lihat tuh Om-nya marah!"

Aku kaget. Hah? Marah? Aku tidak marah. Aku cuma lagi bingung milih kopi. Mukaku emang begini dari pabriknya, Bu! Datar, lelah, dan kurang gizi. Bukan marah!

Si Ibu melanjutkan fitnah kejamnya. "Tuh liat Om-nya... Galak... Jahat... Item... Jelek... Bau... Jomblo lagi!"

JLEB! Jantungku serasa ditusuk tombak. Tunggu dulu, Bu. Galak? Oke, mungkin mukaku sangar. Jahat? Ibu belum kenal saya. Jelek? Itu relatif (walau kebanyakan orang bilang jelek sih). Bau? Saya baru pulang kerja, wajar dong! TAPI "JOMBLO"?! Darimana ibu tahu?! Apakah aura kejombloan saya begitu pekat sampai bisa terdeteksi radar ibu-ibu? Apakah ada tulisan "Butuh Kasih Sayang" di jidat saya? Itu bukan menakut-nakuti anak, itu body shaming plus serangan psikis personal!

Belum sempat aku membalas (atau menangis di pojokan), si Ibu mengeluarkan skenario horor tingkat dewa. "Kamu tahu nggak? Kalau kamu nangis terus, nanti kamu diculik sama Om itu..." Anak itu terdiam sejenak, menatapku dengan mata terbelalak ngeri. Si Ibu melanjutkan dengan nada sadis, "Terus kamu dibawa ke gudang gelap... di sana banyak daging-daging gelantungan... terus kamu digiling... DIJADIIN SOSIS! MAU?!"

ASTAGFIRULLAHALADZIM! Bu?! Ibu ini kebanyakan nonton film Hannibal Lecter atau gimana?! Referensi macam apa itu? "Dijadiin sosis"?! Sadis amat! Kenapa nggak dibilang "dijewer" atau "disuntik dokter" aja? Kenapa harus mutilasi dan pengolahan daging?! Ibu secara tidak langsung sedang menanamkan trauma mendalam dan merusak citra industri sosis nasional!

Anak itu pucat pasi. Dia menatapku. Di matanya, aku bukan lagi Cahyo si karyawan swasta yang lelah. Aku adalah Butcher, jagal berdarah dingin yang siap menggiling balita menjadi frankfurter kualitas premium.

"Gakkk maauuuuu...." cicit anak itu lirih, ketakutan setengah mati. Tangisannya berhenti seketika, berganti dengan gemetar hebat. "Makanya ayo pulang!" tarik si Ibu. Mereka pergi meninggalkan minimarket. Si Ibu menyeret anaknya, sementara si anak terus menoleh ke arahku dengan tatapan horor, seolah memastikan aku tidak sedang mengeluarkan mesin giling daging dari saku celana.

Aku berdiri mematung di depan rak kopi. Dipermalukan. Dihina. Dan difitnah sebagai produsen sosis manusia. "Mbak, kopi satu. Sama tolak angin lima sachet. Saya masuk angin, sekaligus masuk hati," kataku ke kasir yang menahan tawa.

 

Keesokan harinya. Hari Minggu. Seharusnya ini hari tenang. Tapi semesta sepertinya belum puas mempermainkanku. Aku bangun kesiangan. Jam 10 pagi. Niat hati ingin jogging alias lari pagi. Tapi karena sudah jam 10, istilahnya bukan lari pagi, tapi "Mencari Kanker Kulit di Bawah Matahari Dhuha".

Aku memakai kaos jersey warna oranye ngejreng (biar terlihat sporty padahal norak) dan celana training kedodoran. Wajahku kucel, rambut acak-acakan tertiup angin, dan keringat bercucuran deras. Aku berlari kecil (baca: jalan cepat sambil ngos-ngosan) melewati sebuah kompleks perumahan yang sepi.

Suasana tenang. Burung berkicau. Matahari menyengat ubun-ubun. Tiba-tiba, di depan sebuah rumah mewah berpagar tinggi, aku melihat seorang anak kecil sedang bermain bola sendirian di luar pagar.

Langkahku terhenti. Jantungku berdegup kencang. Bukan karena olahraga, tapi karena deja vu. Anak itu... Wajah itu... Ingus yang meler itu... Itu adalah ANAK YANG DI MINIMARKET SEMALAM!

Kami berdua terdiam. Saling bertatapan. Eye contact yang sangat intens. Waktu seolah berhenti. Angin berhenti berhembus. Otak anak itu memproses data visual: Input: Pria wajah lelah + Kaos Oranye + Keringat bercucuran + Tatapan kaget. Database Memori: Pria Minimarket = Penculik = Tukang Giling Daging = Sosis. Output: BAHAYA MAUT.

Mata anak itu membelalak selebar piring makan. Mulutnya terbuka lebar. Dan sebelum aku sempat tersenyum ramah atau melambaikan tangan... "AAAAAAAAAAAAA!!!!" Jeritan itu keluar. Lebih keras dari semalam.

"ADA PENCULIIKKK!!! ADA PENCULIKKK!!! TUKANG SOSIIISSS DATAAANGGG!!! TOLOOONGGG AKU MAU DIJADIIN CORNDOG!!!"

Mampus. Duniaku runtuh. Apa yang dia teriakkan? Corndog?! Inovasi sosis macam apa lagi ini?!

Aku panik bukan main. "Eh.. Dek! Enggak! Om bukan tukang sosis! Om cuma lewat!" teriakku berusaha mengklarifikasi, tapi suaraku kalah dengan sirine mulut bocah itu.

Dalam hitungan detik... sumpah, ini lebih cepat dari respon pemadam kebakaran, pintu-pintu rumah di kompleks itu terbuka serentak. BRAK! BRAK! BRAK! Bapak-bapak, Ibu-ibu, Satpam, Tukang Sayur, sampai kucing liar muncul dari segala penjuru. "MANA?! MANA PENCULIKNYA?!" teriak seorang warga sambil membawa sapu lidi. "ITU!!! YANG PAKE BAJU ORANYE!!! MUKANYA MESUM!!!" tunjuk si bocah laknat itu ke arahku.

Mukanya mesum?! Ya Allah, fitnah makin berkembang biak!

Aku berdiri kaku di tengah jalan. Otakku berputar cepat mencari solusi:

Opsi A: Lari. Resiko: Kalau lari, berarti aku mengakui kesalahan. Warga akan mengejar. Dan teriakan "MALING/PENCULIK" akan memicu insting purba warga +62 untuk melakukan main hakim sendiri. Aku bisa mati konyol jadi pepes.

Opsi B: Diam. Resiko: Dikepung. Diinterogasi. Digebukin juga kalau penjelasan gak diterima.

Belum sempat aku memilih opsi, kerumunan warga sudah membentuk lingkaran setan di sekelilingku. Tatapan mereka buas. Seolah-olah mereka sudah lama menantikan momen ini untuk melampiaskan stres cicilan rumah.

Dan dari kerumunan itu, muncullah Sang Boss Terakhir. Seorang bapak-bapak bertubuh gempal, tinggi besar, perut buncit tapi keras seperti beton. Dia memakai kaos dalam (singlet) putih yang sudah agak kuning di bagian ketiak, dan celana pendek kolor bola. Yang paling mencolok adalah tatonya. Di lengan kanan: Tato Kucing Persia yang sedang main bola benang. Di lengan kiri: Tato Bunga Melati yang sedang mekar dengan indahnya. Sangar tapi tatonya imut.

Bapak Tato Kucing itu berjalan mendekatiku dengan gaya jalan preman pasar. Langkahnya berat, menggetarkan aspal. "HEH! KAMU PENCULIK?!" bentaknya. Suaranya ngebass, menggelegar seperti petir di siang bolong.

Aku menciut. Lututku gemetar. "E-Enggak Om... Sumpah... Saya cuma lari pagi... Cuma lewat..." "HALAH! ALASAN!" Bapak itu meludah ke aspal, aspalnya langsung retak (lebay ga sampe retak kok). "Anak kecil gak mungkin bohong! Liat tuh dia ketakutan sampe ngompol! Lagian tampang kamu mencurigakan banget! Tampang kriminal!"

"Ya Allah Om... Dari lahir cetakannya emang begini... Saya korban genetika, bukan kriminal..." belaku memelas.

Bapak itu tidak peduli. Dia sudah dikuasai nafsu heroik untuk menjadi pahlawan kompleks. "JANGAN BANYAK BACOT!"

Dan terjadilah. Dengan gerakan secepat kilat yang tak sesuai dengan bobot tubuhnya, Bapak Tato Kucing itu menyergapku. Dia melakukan teknik kuncian gulat profesional: HEADLOCK alias Pitingan Leher.

Lengan kanannya yang besar dan berotot (dan bertato kucing lucu) melingkar kuat di leherku. Kepalaku ditarik paksa, lalu dibenamkan, didekap erat-erat ke... Ke KETIAKNYA.

"UGGHHHH!!!" Duniaku seketika gelap gulita. Sakit di leher akibat pitingan itu memang menyakitkan. Tulang leherku rasanya mau patah. TAPI... ada yang jauh lebih menyakitkan daripada rasa sakit fisik. Yaitu: SERANGAN SENJATA KIMIA BIOLOGIS.

Bau ketiak Bapak ini bukan bau keringat biasa. Ini adalah bau kematian. Bau dosa masa lalu yang belum ditebus. Bau fermentasi bawang bombay yang dicampur dengan trasi udang, lalu direndam dalam cuka selama 10 tahun, dan dijemur di bawah matahari gurun Sahara. Baunya asam, tajam, menusuk, dan spicy.

Rasanya seperti hidungku dipaksa menghirup knalpot bus Metromini yang berbahan bakar sampah nuklir. "TOLONG... LEPASIN... BAU... EHH... MAKSUDNYA SAKIT..." suaraku terendam di dalam lipatan ketiak yang basah dan berbulu lebat itu.

Bapak itu malah mempererat pitingannya. Dia merasa sedang menegakkan keadilan. "RASAIN LU! MAU NYULIK ANAK ORANG HAH?! MAU BIKIN SOSIS?!" teriaknya di telingaku. Setiap kali dia berteriak, otot ketiaknya berkontraksi, memeras kelenjar keringatnya, menyemprotkan aroma teror baru ke lubang hidungku.

Aku megap-megap. Oksigen menipis. Pandanganku mulai berkunang-kunang. Aku melihat cahaya putih. Apakah ini pintu surga? Atau lampu jalan? Aku membayangkan headline koran besok: "Seorang Pria Tewas Overdosis Aroma Ketiak Saat Dituduh Menculik." Kematian yang sangat tidak estetik. "PAK... DEODORAN PAK... TOLONG..." rintihku lemah.

Warga lain ikut memanaskan suasana. "Gebukin aja Pak! Bakar! Bakar!" "Jangan dibakar, mahal bensin! Pites aja kayak kutu!"

Di detik-detik terakhir sebelum aku pingsan dan menghadap Ilahi karena keracunan gas metana ketiak, sebuah suara penyelamat terdengar. "ADA APA INI?! RIBUT-RIBUT APA?!"

Pintu gerbang rumah tempat anak itu bermain terbuka lebar. Keluarlah Sang Ibu Cantik (sumber segala petaka ini) dengan memakai daster tapi tetap glowing. Dia melihat kerumunan. Dia melihat anaknya yang masih nangis sesenggukan. Dan dia melihat Bapak Tato Kucing yang sedang memiting leher seorang pria berbaju oranye.

"Ini Bu! Kita nangkep penculik! Dia mau nyulik anak Ibu buat dijadiin sosis!" lapor Bapak Tato dengan bangga (tanpa melepaskan pitingannya).

Si Ibu menyipitkan mata. Melihat wajahku yang sudah biru dan penyok terjepit di ketiak. Dia terbelalak. Dia mengenali wajah ngenes ini. "YA AMPUN!" jerit Ibu itu. "LEPASIN PAK! LEPASIN! ITU BUKAN PENCULIK!"

Hening. Semua orang terdiam. Angin berhembus membawa aroma ketiak yang mulai menyebar ke udara bebas. Bapak Tato Kucing melonggarkan pitingannya sedikit, tapi tidak melepas sepenuhnya. "Hah? Bukan penculik? Tapi kata anak Ibu..."

"Bukan Pak, aduhhh..." Si Ibu menepuk jidatnya. Dia lari menghampiri kami. "Itu Mas-mas yang kemarin ketemu di minimarket! Saya... aduh gimana ya jelasinnya..."

Si Ibu menatap warga yang bingung, lalu menatapku yang sedang menghirup udara segar dengan rakus seperti ikan mas koki keluar dari air keruh. "Kemarin saya nakut-nakutin anak saya Pak... Saya tunjuk Mas ini, saya bilang dia tukang bikin sosis anak-anak supaya anak saya diem gak minta jajan. Saya cuma asal ngomong! Nggak nyangka bakal ketemu lagi di sini!"

GUBRAK. Bapak Tato Kucing langsung melepaskan pitingannya. Aku jatuh terduduk di aspal, terbatuk-batuk memuntahkan residu aroma bawang. "Uhuk! Hoekk... Sumpah Pak... saya cuma beli kopi..." kataku parau.

Warga saling berpandangan. Suasana jadi canggung (awkward) level maksimal. "Oalah... kirain penculik beneran." "Ibu sih, nakut-nakutinnya kebangetan. Sosis segala." "Yah, bubar bubar. Gak jadi ada hiburan."

Bapak Tato Kucing menatapku dengan wajah bersalah (tapi gengsi). Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal (atau mungkin kutuan).

 "Waduh... sori ya Mas. Saya refleks. Namanya juga naluri bapak-bapak melindungi wilayah." Dia mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.

Aku melihat ketiaknya yang basah kuyup terekspos lebar saat dia mengangkat tangan. Trauma itu muncul lagi. "Gak usah Pak! Saya bangun sendiri aja! Jangan angkat tangan tinggi-tinggi Pak, bahaya radiasi!" tolakku halus sambil merangkak mundur.

Si Ibu mendekatiku, wajahnya merah padam karena malu. Dia membungkuk berkali-kali kayak orang Jepang. "Mas... Maafin saya ya Mas. Ya ampun, saya bener-bener minta maaf. Saya nggak bermaksud bikin Mas digebukin satu RT. Maaf banget mulut saya lemes..."

Aku berdiri, membersihkan debu di celana trainingku. Tubuhku sakit semua. Leherku miring ke kiri (mungkin permanen). Dan yang terparah, baju oranyeku kini terkontaminasi bau keringat Bapak Tato yang menempel permanen. Aku menatap Ibu itu. Ingin marah, tapi dia cantik. Ingin memaki, tapi nanti dikira penculik lagi.

"Bu," kataku dengan sisa-sisa wibawa yang sudah hancur lebur. "Lain kali kalau mau nakut-nakutin anak, tolong pakai tokoh fiksi aja. Jangan pakai saya. Atau minimal, pilihlah profesi yang lebih bermartabat. Dokter gigi kek, Polisi kek. JANGAN TUKANG GILING DAGING."

"Iya Mas... maaf Mas..." Si Ibu hampir menangis.

Aku berbalik badan. Meninggalkan kerumunan itu dengan langkah tertatih-tatih layaknya pahlawan perang yang terlupakan. Di belakangku, aku masih mendengar Bapak Tato Kucing dimarahi istrinya, "Papa sih! Belum mandi udah sok-sokan main piting! Orang mau mati tuh kena bau ketek Papa!", oh.. jadi itu suaminya?

Bagi kalian para Ibu-ibu di luar sana, tolonglah... berhenti menggunakan kami, para pria berwajah pas-pasan dan terlihat lelah, sebagai objek untuk menakuti anak kalian. Kami ini punya hati. Kami butuh kasih sayang, bukan fitnah keji. Dan demi Tuhan, kalau mau menuduh orang, pastikan yang nangkep orangnya WANGI...!!!

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Dituduh Penculik
cahyo laras
Cerpen
Bronze
Kopi 2
syaifulloh
Cerpen
Bronze
Kopi 7
syaifulloh
Flash
Modus Baju
Ravistara
Flash
KUE 1.. 2.. 3..
Kiki Isbianto
Flash
Bronze
Gak Ada Mens Rea, Tapi Bikin Jatuh Cinta
snang.tjarita
Cerpen
Bronze
Liburan
xann
Flash
Bom
Rahma Nanda Sri Wahyuni
Komik
KOMIK JERAWAT
moris avisena
Komik
Lovaiii
Ai Nur Asiah
Cerpen
Bronze
Kematian Saudara Kembar
Titin Widyawati
Flash
Petak Umpet
Suci Asdhan
Flash
SEMUA KARENA UJIAN SEMESTER
Aston V. Simbolon
Cerpen
Lunch Break
razorstfx
Cerpen
Ini Bukan Perkara Remeh-Temeh
Muhammad Ilfan Zulfani
Rekomendasi
Cerpen
Dituduh Penculik
cahyo laras
Cerpen
Sepatu Mangap di Marathon 10k
cahyo laras
Cerpen
Celana Sobek Di Kondangan
cahyo laras
Cerpen
Rapat Abadi Tanpa Keputusan
cahyo laras
Cerpen
Kesenjangan yang terlalu senjang
cahyo laras
Cerpen
Gagal Jadi Perokok
cahyo laras
Cerpen
Percaya Mitos Yang Kurang Lengkap
cahyo laras
Cerpen
Ngajarin Istri Nge-Gym
cahyo laras
Cerpen
Senjata Biologis Buatan Gebetan
cahyo laras
Cerpen
Jiwa Lelaki Meronta, Otot Minta Pulang
cahyo laras
Cerpen
Cintaku Bertepuk Sebelah Treadmill
cahyo laras
Cerpen
Jangan Ge-Er, Dia gitu ke semua orang
cahyo laras
Cerpen
Mission Impossible : Protocol Cepirit
cahyo laras
Cerpen
Gagal Dapet Jodoh
cahyo laras
Cerpen
Temen Papah Zone
cahyo laras