Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Distraksi
1
Suka
73
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Hujan selalu menjadi hal yang dibenci Nara.

Bukan karena petir.

Bukan karena banjir.

Bukan juga karena ia takut basah.

Nara hanya tidak suka sesuatu yang membuat hidupnya menjadi lebih rumit dari yang seharusnya.

Dan hujan hampir selalu berhasil melakukannya.

Setiap hari kerja, Nara Adeline Putri berangkat dari apartemen kecilnya sebelum matahari benar-benar tinggi.

Pukul delapan ia sudah duduk di depan komputer.

Membalas email.

Menginput data.

Mengecek dokumen.

Mengarsipkan laporan.

Begitu terus.

Hari demi hari.

Minggu demi minggu.

Tahun demi tahun.

Lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari.

Ia tidak membenci hidupnya.

Hanya saja hidupnya terasa datar.

Sama datarnya seperti ekspresi wajahnya.

Di usia dua puluh tujuh tahun, hidupnya berjalan cukup baik.

Ia memiliki pekerjaan tetap sebagai admin operasional sebuah perusahaan distribusi di Jakarta Selatan.

Ia memiliki tunangan bernama Indra Satrya yang mapan dan bertanggung jawab.

Mereka bahkan sudah menentukan tanggal pernikahan enam bulan lagi.

Semuanya baik-baik saja.

Mungkin terlalu baik.

Karena terkadang Nara merasa hidupnya seperti jalur kereta.

Sudah ditentukan arahnya sejak awal.

Pagi itu Stasiun Manggarai padat seperti biasa.

Kereta dari arah Bekasi baru saja tiba.

Nara ikut turun bersama ratusan penumpang lainnya.

Blouse krem lengan panjang yang ia kenakan sedikit kusut.

Tas hitam sederhana menggantung di bahunya.

Rambut hitam sebahunya dikuncir seadanya.

Tidak ada yang istimewa dari penampilannya.

Dan memang ia tidak pernah berusaha terlihat istimewa.

Setelah keluar dari kerumunan, Nara duduk di bangku peron.

Dadanya sedikit sesak.

Ia mengeluarkan inhaler dari tas.

Menggunakannya beberapa kali.

Napasnya kembali lega.

Kemudian ia memasukkan inhaler itu ke dalam tas.

Atau setidaknya ia mengira begitu.

Inhaler itu sebenarnya membentur bibir tas dan jatuh ke bangku.

Nara tidak menyadarinya.

Ia berdiri.

Lalu berjalan menuju antrean tap out.

Beberapa menit kemudian, kereta berikutnya dari arah Bekasi datang.

Seorang pria turun dari salah satu gerbong.

Tinggi.

Sekitar seratus tujuh puluh delapan sentimeter.

Kulit sawo matang.

Rambut lurus rapi.

Kumis dan jenggot tipis yang dirawat bersih.

Jaket outdoor hitam dengan logo perusahaan perlengkapan alam terpasang di dada kirinya.

Namanya Dirga Mahendra.

Dua puluh delapan tahun.

Content Specialist Travel di sebuah perusahaan perlengkapan kamping dan pendakian.

Pekerjaannya membuat konten perjalanan, mengulas perlengkapan kamping, mendokumentasikan pendakian, dan sesekali menghabiskan malam di tengah hutan demi satu video berdurasi tiga menit.

Saat berjalan melewati bangku peron, matanya menangkap sebuah inhaler berwarna biru.

Ia berhenti.

Memungutnya.

Lalu membaca nama yang tertera pada label.

Nara A. Putri.

Dirga mengernyit.

“Inhaler? Ini pasti penting banget.”

Ia melihat sekeliling.

Tidak ada orang yang tampak mencarinya.

Tanpa berpikir panjang, ia menuju pusat informasi.

“Mas, ini ada inhaler ketinggalan.”

Petugas menerimanya.

“Baik, Pak. Nanti kami umumkan.”

Dirga mengangguk.

Namun ia tidak langsung pergi.

Entah kenapa.

Ia merasa pemilik benda itu mungkin masih ada di stasiun.

Sementara itu, Nara sedang mengantre di gate keluar.

Barisan manusia bergerak lambat.

Ketika iseng memeriksa isi tasnya, ia mendadak membeku.

Inhalernya tidak ada.

Ia langsung membuka semua kompartemen.

Mencari lagi.

Tetap tidak ada.

Perutnya terasa mual.

Lalu suara pengumuman terdengar dari pengeras suara stasiun.

“Perhatian kepada penumpang atas nama Nara A. Putri. Silakan menuju pusat informasi Stasiun Manggarai. Ditemukan sebuah inhaler atas nama yang bersangkutan.”

Nara spontan keluar dari antrean.

“Permisi.”

“Maaf.”

“Permisi sebentar.”

Ia berjalan cepat menuju pusat informasi.

Beberapa menit sebelumnya, Dirga sudah menyerahkan inhaler itu kepada petugas.

Setelah mengisi data singkat, ia berdiri tidak jauh dari sana sambil menelepon rekan kerjanya.

“…iya, video di Gunung Papandayan saya kirim malam ini.”

Ia berbicara santai.

Sampai matanya menangkap seorang perempuan yang berjalan tergesa menuju pusat informasi.

Dirga langsung tahu.

Pasti pemilik inhaler itu.

Entah kenapa ia memperhatikan lebih lama.

Perempuan itu tampak biasa saja.

Terlalu biasa bahkan.

Namun ada sesuatu yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan.

Mungkin ekspresi cemasnya.

Mungkin cara ia menggenggam tali tas.

Atau mungkin karena sejak tadi Dirga berharap pemilik inhaler itu benar-benar datang.

“Maaf, saya Nara Adeline Putri. Yang kehilangan inhaler.”

Petugas langsung mengangguk.

“Oh iya, Mbak Nara. Ini inhalernya.”

Nara mengembuskan napas lega.

“Syukurlah…”

Ia memegang inhaler itu seperti seseorang yang baru menemukan dompetnya yang hilang.

“Terima kasih, Pak.”

“Sama-sama.”

Dirga tersadar dirinya masih menelepon.

“Mas, saya tutup dulu ya. Nanti saya hubungi lagi.”

Panggilan berakhir.

Ia memasukkan ponselnya ke saku lalu menghampiri Nara.

“Untung ketemu ya.”

Nara menoleh.

“Maaf?”

“Itu inhalernya.”

“Oh.”

Dirga menunjuk meja informasi.

“Saya yang nemuin tadi.”

Wajah Nara berubah sedikit lebih hangat.

“Serius?”

Dirga mengangguk.

“Saya pikir pasti penting.”

“Iya.”

“Makanya langsung saya kasih ke petugas.”

Nara tersenyum tipis.

“Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Hening beberapa detik.

Lalu Dirga berkata,

“Kalau saya nggak nemuin, kira-kira baru sadar kapan?”

“Mungkin pas sesak.”

“Wah. Berarti saya penyelamat.”

Nara menatapnya datar.

Dirga tertawa.

Dan tanpa sadar, Nara ikut tersenyum kecil.

Pertemuan itu seharusnya berakhir di sana.

Namun ternyata tidak.

Mereka bertukar nomor.

Awalnya hanya untuk berjaga-jaga.

Lalu berubah menjadi percakapan ringan.

Kemudian menjadi kebiasaan.

Dirga berbeda dari siapa pun yang pernah dikenal Nara.

Ia selalu punya cerita.

Tentang gunung.

Tentang hutan.

Tentang kamping.

Tentang hujan.

Tentang tempat-tempat yang bahkan belum pernah didengar Nara.

Sementara Nara hampir tidak punya cerita.

Karena hidupnya berjalan lurus.

Terlalu lurus.

Di waktu yang sama, kehidupan Nara bersama Indra tetap berjalan seperti biasa.

Indra adalah pria yang baik.

Sangat baik.

Ia bekerja sebagai supervisor keuangan.

Selalu tepat waktu.

Selalu memiliki rencana.

Selalu tahu apa yang harus dilakukan.

Suatu malam mereka makan bersama.

“Aku booking gedung minggu depan.”

Indra menyeruput kopinya.

“Supaya nggak keduluan orang.”

Nara mengangguk.

“Oke.”

“Kamu nggak ada komentar?”

“Mau komentar apa?”

“Entahlah.”

Nara berpikir.

“Lumayan bagus.”

Indra tertawa.

“Kamu tuh ya.”

“Apa?”

“Kalau seneng atau nggak seneng ekspresinya sama.”

Sementara itu, Dirga adalah kebalikan dari Indra.

Ia lebih spontan.

Lebih santai.

Lebih banyak bercerita.

Suatu malam ia mengirim pesan.

Dirga: Pernah kamping?

Nara: Belum.

Dirga: Mau coba?

Nara: Aku asma.

Dirga: Aku nggak nanya penyakitmu.

Dirga: Mau atau nggak?

Nara menatap layar cukup lama.

Lalu mengetik.

Nara: Mau.

Beberapa hari kemudian.

Nara menceritakan rencana itu kepada tunangannya.

Mereka sedang makan malam.

“Aku mau kamping.”

Indra mengangkat alis.

“Kamping?”

“Iya.”

“Sama siapa?”

“Teman.”

“Yang nemuin inhaler itu?”

Nara terdiam.

Indra menghela napas.

“Kamu serius?”

“Iya.”

“Kalau asmanya kambuh?”

“Aku bawa inhaler.”

“Tetap aja.”

“Indra, aku cuma kamping.”

“Aku tahu.”

“Tapi menurutku nggak perlu.”

Nara tidak marah.

Namun untuk pertama kalinya ia merasa ada sesuatu yang berbeda.

Indra selalu memikirkan keamanan.

Dirga selalu memikirkan kemungkinan.

Dua minggu kemudian mereka bertemu di Stasiun Manggarai.

Nara tetap berangkat kamping dengan Dirga.

Mereka berangkat bersama menuju Bogor menggunakan KRL.

Dari Stasiun Bogor, Dirga sudah menyewa motor.

Perjalanan menuju camping ground memakan waktu hampir satu jam.

Semakin jauh dari kota, udara semakin dingin.

Pepohonan semakin rapat.

Kabut mulai turun.

Lalu hujan datang.

Deras.

Sangat deras.

Mereka mengenakan jas hujan.

Dirga tetap menjalankan motor.

Tidak berhenti.

Tidak berteduh.

Ban motor membelah genangan kecil di jalan pegunungan.

Kabut menggantung rendah di antara pepohonan pinus.

Melalui kaca spion, Dirga melihat sesuatu yang membuatnya heran.

Nara sedang tersenyum.

Dirga memperlambat motor.

“Katanya benci hujan.”

Nara tertawa kecil.

Suaranya nyaris hilang tertelan hujan.

“Aku juga nggak tahu kenapa.”

“Tobat?”

“Mungkin.”

Saat mereka tiba, matahari mulai tenggelam di balik perbukitan.

Camping ground itu tidak berada di gunung tinggi.

Namun cukup tinggi untuk memperlihatkan hamparan lembah hijau yang luas.

Kabut tipis bergerak perlahan.

Angin membawa aroma tanah basah dan pinus.

Langit sore berubah jingga keemasan.

Nara berdiri diam.

Memandang semuanya.

Dadanya terasa penuh.

Bukan karena asma.

Melainkan karena takjub.

Dua puluh tujuh tahun hidup.

Dan baru kali itu ia melihat pemandangan seperti itu secara langsung.

“Bagus ya.”

Dirga berdiri di sampingnya.

Nara mengangguk pelan.

“Bagus banget.”

Matanya berkaca-kaca.

Malam tiba.

Lampu-lampu tenda menyala seperti kunang-kunang.

Udara semakin dingin.

Langit penuh bintang.

Jauh lebih banyak daripada yang pernah Nara lihat dari Jakarta.

Di dalam tenda.

Mereka duduk berhadapan.

Membicarakan banyak hal.

Tentang pekerjaan.

Tentang keluarga.

Tentang impian.

Tentang hidup.

“Kalau nggak asma, kamu mau ngapain?”

tanya Dirga.

Nara menatap keluar tenda.

“Mungkin naik gunung.”

“Setinggi apa?”

“Hmmm.. Setinggi mungkin.”

Mereka tertawa.

Lalu hening.

Mata mereka bertemu.

Jarak mereka terlalu dekat.

Tanpa sadar keduanya bergerak sedikit maju.

Sedikit lagi.

Sedikit lagi.

Lalu Nara teringat Indra.

Tunangannya.

Pria yang selama ini selalu ada untuknya.

Ia langsung menjauh.

Dirga pun tersadar.

Mereka sama-sama canggung.

“Aku masak dulu.”

“Iya.”

Dirga keluar tenda.

Menyalakan kompor portable.

Memasang tabung gas kecil.

Merebus air.

Membuka makanan instan.

Karena api unggun sudah tidak diperbolehkan di area itu.

Di dalam tenda, Nara memeluk lututnya.

Perasaannya campur aduk.

Bahagia.

Terharu.

Bingung.

Sedih.

Bersalah.

Ponselnya bergetar.

Nama Indra muncul di layar.

“Udah makan?”

“Baru mau makan.”

Indra tidak tahu bahwa Nara sedang berada di Camping Ground.

Mereka mengobrol di telepon seperti biasa.

Nara memandang langit malam dari celah tenda.

Di luar tenda, tanpa sengaja Dirga mendengar percakapan mereka.

Ia tersenyum tipis.

Bukan karena senang.

Tapi karena ia sadar bahwa Nara bukan miliknya.

Beberapa minggu setelah kamping, Nara akhirnya mengerti sesuatu.

Yang membuatnya bahagia bukan semata-mata Dirga.

Dirga hanya membuka jendela yang selama ini tertutup.

Menunjukkan bahwa hidup tidak harus selalu berjalan lurus.

Nara mulai menjaga jarak.

Dirga mengerti.

Ia tidak pernah memaksa.

Tidak pernah meminta penjelasan.

Sampai akhirnya mereka bertemu lagi di Manggarai.

“Bulan depan, aku akan nikah.”

Dirga tersenyum.

“Selamat.”

“Makasih.”

Hening.

Kereta datang.

Kereta pergi.

Namun mereka tetap berdiri.

“Aku pernah mikir.” kata Nara.

“Kalau kita ketemu lebih dulu, mungkin ceritanya beda.”

Dirga tertawa kecil.

“Nggak juga.”

“Kenapa?”

“Karena kamu tetap Nara.”

“Maksudnya?”

“Kamu selalu tahu harus pulang ke mana.”

Mata Nara mulai basah.

“Aku jahat ya?”

“Karena milih tunanganmu?”

Nara mengangguk.

Dirga tersenyum.

“Nggak.”

“Aku bikin kamu berharap.”

“Aku nggak pernah berharap.”

“Bohong.”

“Sedikit.”

Mereka tertawa.

Untuk terakhir kalinya.

“Aku senang ketemu kamu.” kata Dirga.

Nara menatapnya.

“Aku juga.”

“Setidaknya sekarang kamu nggak benci hujan.”

Air mata Nara akhirnya jatuh.

Sebulan kemudian Nara menikah dengan Indra.

Pernikahan sederhana.

Hangat.

Penuh tawa.

Bahagia.

Tanpa drama.

Tanpa penyesalan.

Karena ia memang mencintai Indra.

Beberapa bulan setelahnya, saat mereka berlibur ke sebuah bukit kecil di Jawa Barat, langit kembali mendung.

Gerimis mulai turun.

Indra mengeluh pelan.

“Yah, hujan.”

Namun Nara justru tersenyum.

Menengadah.

Membiarkan beberapa tetes air mengenai wajahnya.

Indra heran.

“Kamu kenapa?”

Nara menggenggam tangan suaminya.

Lalu memandang langit.

“Gapapa.”

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Ia tidak lagi membenci hujan.

Karena hujan pernah membawanya bertemu seseorang yang mengajarinya bahwa hidup tidak harus selalu berjalan sesuai rencana untuk bisa terasa indah.

Tamat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Cerpen
Distraksi
Aditian Nugraha
Novel
Gold
Modus
Bentang Pustaka
Novel
SUAMIKU CRAZY SHOPPING
Ochiieet Queenbee
Novel
High School Ideal Guy
Scorpioshahah
Novel
Bronze
10A(n)ger Story
Ivory Gracia
Novel
Gold
Adonis
Bentang Pustaka
Novel
Bronze
Di Tanah Anarki, Ada Kita
Sabena Pierre
Komik
MY UNUSUAL LOVE STORY
Pomelo26
Komik
Stuck Leveling
Adil Muhammad Yusuf
Skrip Film
DIBALIK POTRET ALASKA
Ikhwanul kiram
Skrip Film
Deeba
Lisnawati
Skrip Film
NAJELINA
eriana sofiani
Flash
Cinta Tanpa Pamrih
lidia afrianti
Flash
Lebih dari Teman
Rani
Cerpen
Bronze
Menjemput Nona
Djoana Jasmine
Rekomendasi
Cerpen
Distraksi
Aditian Nugraha
Novel
Bronze
Remedi
Aditian Nugraha
Novel
Memori Rasa
Aditian Nugraha
Flash
Bronze
The World In His Words
Aditian Nugraha