Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Diperhelatan Anak Nagari
0
Suka
812
Dibaca

Betapa meriahnya suasana perhelatan anak nagari, yang diselenggarakan sekali lima tahun itu. Segala Kemeriahan itu terasa dimana saja, di bumi Pesisir Utara Sumatera barat ini, di pijak. Riuh, hangat, dan sesekali mencekam juga, kalau kita pergi ke warung kopi, dan perdebatan sedang memanas, lebih panas dari kopi setengah porsi yang dipesan bapak-bapak yang duduk disana. Begitu juga dengan di sungai tempat ibu-ibu mencuci pakaian. Di dalam angkutan umum, dalam maupun antar kota. Suara mereka akan menggema, mengaum, mendengung, ketika beradu argumen, untuk membela, menjatuhkan, masing calon pemimpin daerah jagoan, dan pilihan jagoan lawan. 

Santi. Seorang kemenakan bakal calon bupati di tanah pesisir utara provinsi Sumatera Barat, tengah menghadapi masa sibuk, menjadi tim sukses, pemenangan mamaknya.

“Kalau mamak mu menang besok ni Santi, jadi bupati di Pesisir Utara ini. Kamu akan jadi sespri mak tangah mu.” Kata andeh Alimah, istri mamaknya.

“Iya itu ndeh?”

“Kalau bukan kamu siapa lagi? Kamu anak Andeh yang palin besar, sementara adik-adikmu yang lain masih sekolah, ndak mungkin lah mereka.” Janji andeh Alimah.

“Sekretaris pribadi itu PNS bukannya ndeh?”

“Ada yang honorer, kamu akan andeh usulkan jadi honorer. Yang penting kamu sabar, kalau ada tes CPNS, jangan lupa ikut tesnya.”

Oo pasti itu. Ndak mungkinlah Santi lewatkan. Jawab Santi, dengan wajah yang berseri.

Terbayang bagi santi, menjadi sekretaris pribadi mak tangahnya. Lambat-laun, setahun atau empat tahun lagi bisa juga dia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Impian banyak orang. PNS calon menantu idaman. Siapa yang tidak senang. Intinya Santi tidak pernah menganggur setelah wisuda, dan jenjang karir akan jelas didepan mata, kalau jadi mak tangah terpilih. Jalan menjadi PNS tentu akan mulus, pikirnya. Jelaslah, mana mau orang menolak perintah mak tangah untuk meloloskan dirinya. Dia kemenakan kontan mak tangah satu-satunya.

Sejak saat itu Santi aktif, mengkampanyekan pamannya. Mengikuti kegiatan kegiatan mak tangah, mengiringi kemana saja mak tangahnya pergi. Dimana ada mak tangah dan andeh Limah, disitu ada santi. Diluar jadwal kampanye pun, Santi aktif, bersuara kepada teman-temannya, sesekali di media sosial. Pokoknya tiada hari tanpa mengkampanyekan calon Bupati. 

“Pilih calon pemimpin untuk daerah kita, harus tahu siapa orangnya. Berdasarkan 3 T. Takwa, Takah. Tokohnya. Jangan asal memilih. Hanya melihat tampilan luar.” Pungkasnya, ditengah kerumunan kawan-kawan yang hampir seumuran dan pemilih pemula dan pilkada periode ini.

“Lihat juga visi dan misinya. Apa yang akan di bangun untuk negeri ini.” Lanjut Santi, jarinya sampai menunjuk-nunjuk bumi. Sesekali dia terdiam, memandangi para audiensnya. Ada yang mematut saja. Ada yang mengangguk-angguk. Ada yang melayangkan pandangan ke arah Samudra Hindia yang luas itu.

“Dan yang terpenting, partai pengusungnya.” Mata santi liar memandangi mereka satu persatu. 

Nampaknya Santi paham betul, cara berkampanye dengan kawan-kawannya, terlebih dia sering mengajak kawan-kawannya berkumpul di pantai dikala sore hari dimana matahari telah tergelincir ke barat. Pantai itu sengaja dipilihnya, karena suasana yang hangat, dan pemandangan yang tidak bertumbuk dengan dinding beton. Bukan tidak suka, kampanye di gedung. Tapi suasana gedung membuat hati sesak,  karena banyak orang. Sementara kapasitas gedung, tidak memadai untuk menampung jumlah simpatisan. Belum ada gedung yang representatif di daerahnya. 

Tepian pantai, menjadi pilihan yang tepat, buat berkampanye, bagi audiens pemula, karena didukung oleh suasana sore yang syahdu. Angin berbisik lembut. Matahari menatap dengan teduh. Desiran suara ombak yang menghempas ke tepian, seperti melodi berirama, tegas tapi mengalun lembut. Breakwater tersusun dari batu-batu alam, sebagai pemecah ombak, yang dipasang sepanjang delapan meter dari bibir pantai. Menjadi tempat favorit bagi mereka yang senang memancing. Memandangi mereka yang melempar joran kesayangannya, menjadi keasyikan tersendiri. Apalagi jika nilon joran itu disambar ikan, dia yang dapat ikan kita yang bersorak kegirangan.

Di sana juga ada bangunan semi permanen, yang menjadi warung-warung bagi penjual aneka makanan dan minuman. Spesifiknya mie pedas berbagai level. Pedas, sangat pedas,  super pedas, sampai pedas mampus. Hutan pinus yang lebat, dengan rerumputan yang tumbuh subur di bawahnya, menambah nuansa menjadi sejuk. Disitulah tempat yang menjadi pilihan bagi Santi mengumpulkan kawan-kawannya secara berkala selama masa kampanye ini.

Berkat pengalamannya yang aktif berorganisasi selama masa kuliah, ditambah dengan kemampuannya dalam berkomunikasi, dan pandai mencari kawan. Tak ada kesulitan yang berarti bagi santi, untuk meluncurkan kalimat-kalimat manis, janji-janji politik, dari mak tangahnya. Beberapa orang terdekat dengannya. Kawan seiring, sejalan, dan setikar seketiduran di masa kuliah, akan dijadikan saksi pada saat pemilihan dilangsungkan. Gajinya lumayan buat uang saku anak kuliah, atau yang baru lulus, sebagai penambah uang paket data internet mereka.

Tidak berbeda halnya dengan lawan politik mak tangah Santi. Memiliki tim sukses, berkampanye untuk mencapai kemenangan. Memiliki visi dan misi. Semuanya sama. Sama-sama punya pendengung juga. Tapi siapa yang tahu, kalau beberapa orang dari penduduk di Kabupaten Pesisir Utara itu, memiliki troll atau pendengung, kebanyakan mahasiswa akhir, yang aktif dalam himpunan mahasiswa.

Pendengung dikerahkan agar suasana selama pilkada yang diharapkan hening menjadi ramai. Masyarakat awam jadi tidak tahu mana informasi yang benar dan salah. Pendengung bertugas mengabu-abukan pasangan calon yang akan berlaga dalam kancah alek nagari.

Pendengung ini juga berfungsi sebagai pemecah konsentrasi pemilih, diantara mereka juga ada, yang berani mengambil bertugas melakukan kampanye hitam pada calon lawannya. Santi yang naif, belum tahu akan hal itu. 

Alangkah kagetnya dia, membaca beranda media sosialnya, kalau mak tangah Calon Bupati Pesisir Utara. Nomor urut kosong satu itu. Ternyata ada istri lagi, masih muda dan yang tak jauh jarak umurnya dengan Santi, dikawini secara siri, sekitar empat tahun yang lalu. Dalam keterangan itu disampaikan bahwa 

“Calon Bupati Pesisir Utara, H. Ir. Syamsuardi, M. Si ternyata telah menikah dengan sorang perempuan. Janda muda, berusia dua puluh lima tahun. Berdomisili dekat sungai Batang Arau, di Padang. Dalam Pengakuan wanita muda itu, mereka telah memiliki seorang anak yang berumur empat tahun, berjenis kelamin laki-laki. Mereka telah menikah lebih kurang empat tahun yang lalu.”

“Ini tidak benar, pasti fitnah,” pikir Santi. Kemudian dia men scroll halaman komentar, akun tersebut. Tangan Santi menjadi gemetar, darahnya mendidih, Irama detak jantungnya tidak normal lagi. cepat, lebih cepat, sehingga dia sempoyongan mencari tempat duduk, untuk menenangkan diri. Bahkan Hampir saja Iphone promax yang berada di tangannya terlepas, dari genggaman. Lama Santi menenangkan dirinya. diurut-urutnya dadanya dengan tangan, sambil melafadzkan istighfar, dan tahmid. 

“Ini tidak mungkin, astagfirullah, astagfirullah. Subhanallah.” Berkali-kali, komat kamit, seperti berbicara sendiri. 

Tidak tahan juga hatinya. di tengoknya lagi HP yang tidak pernah lepas dari tangannya itu. Tidak sedikit carut marut yang terlontar dari ketikan masyarakat dunia maya pada akun itu. Ajaibnya, setiap melihat akun sosial media, hampir semua berita yang ditampilkan nyaris sama. Serentak. Setelah agak tenang Santi menelepon andeh Alimah.

“Assalamualaikum ndeh, sudah andeh baca berita di sosial media?”

“Ohh berita itu, kenapa?” Sahut andeh Alima dengan datar.

“Iya itu ndeh, ada Mak tangah punya istri lagi?”

“Santi coba lah kau pikir, setiap malam, mamak kamu itu pulangnya ke rumah ini. Siang pun dia di kantornya. Kalau bertemu dengan klien dari proyek, andeh banyak juga menemaninya. Gimana menurutmu?” Percaya Kamu itu?”

“Jadi fitnah, berita itu ndeh?”

“Ada orang yang tidak senang dengan mak tangahmu itu banyak Santi. Lawan politiknya, lawannya dalam proyek. Rekan yang sesama dosen terbang, yang tidak suka dengan pencapaian mamakmu. Coba kamu pikir, mungkin pula dia punya bini lagi. Kalaupun pulang siang, dia ke kerumah bini mudanya. Menurutmu apa mungkin, sedangkan jadwalnya sepadat itu?” Andeh Alimah menerangkan panjang lebar.

Darah yang semula mendidih, dan jantung bergetar hebat, menjadi berirama, bertempo sedang kembali. Ada rasa tenang dalam hati iya juga pikirnya, Mak tangah tak pernah juga jauh dari kemenakannya. Tiap satu bulan sekali, pada pekan pertama, dia shalat jum'at di masjid di kampungnya. Mamak yang satu ini, gigih mempertahankan tradisi, seperti yang dilakukan orang-orang kampung. Tujuannya, biar nampak kemenakan dan orang-orang kampung katanya. Beliau memang senantiasa menjaga tradisi dan adat. Tiap Santi menginap dirumah andeh Alimah, mak tangah selalu ada di rumah. 

“Mungkin pula kah, mak tangah pulang siang ke rumah istri mudanya? tapi andeh Alimah lebih banyak menemani pekerjaan proyeknya, bersama mak tangah.” 

“Fix ini fitnah” Santi yakin itu fitnah. 

Kejadian itu menguatkan tekad nya. untuk meluruskan berita yang simpang siur. Dia berencana akan membalas dan menyerang akaun hitam lawan politik mak tangahnya. Walaupun pekerjaannya menjadi tim sukses akan menjadi lebih berat. Dia bertekad, akan berjuang untuk menegakkan keadilan bagi mak tangah, di media sosial yang selama ini dilalaikannya.

Coffee Shop “Kopi Dari Hati,” menjadi kantor ketiga bagi santi. Kampanye dunia nyata dan kampanye dunia maya. Kafe itu sengaja dipilihnya, karena lokasi strategis, suasana nyaman. Di situ, dia memilih tempat yang agak tersudut, dimana bangkunya yang merapat kedinding. Segala amunisi dikeluarkannya, laptop, iphone promax, dan android lamanya, berisikan sejumlah akun-akun palsu, guna menangkis serangan kampanye hitam yang dilakukan pihak lawan.

Karena keseringan duduk di kantor ketiganya itu, Santi jadi dikenal pelayan kafe, maupun pengelolanya. Bahkan sudah paham kegemaran santi, Matcha latte, kopi susu pandan, tiramisu cake, blackforest atau spaghetti bolognese, dan semua pengelola kafe, jadi tahu, pojokan itu, bangku yang di sudut itu, adalah bangku favorit Santi.

“Sore kak, mau pesan yang seperti biasa kak?”

“Ya,” sembari menganggukan kepalanya.

“Matcha Latte, atau tiramisu?” 

“Matcha dan spaghetti ajalah, pengen makan berat hari ini.” Jawab Santi setengah centil.

“Siip.”

“Jangan lupa, air mineralnya ya. Yang ada rasa manis-manisnya gitu.” Suara Santi menirukan, bintang iklan air mineral yang dia pesan.

Pelayan itu, mengangkat jempolnya, tersenyum, dan berlalu untuk membuatkan pesanan buat Santi.

Di Sudut lain, yang selama ini tidak disadari Santi juga ada seorang laki-laki, yang hobi nongkrong juga. Gaya santai. Casual. Samsung S10  yang tidak lepas dari tangannya. Perawakan tinggi, badan proporsional. Tidak banyak berbicara, saat sedang berkumpul dengan temannya. Kadang-kadang terlihat, dia seorang diri datang ke kafe. Matanya selalu fokus dengan HP. Nampak kalau dia,  memilih menonton layar, dan sesekali mengetik. Entah apa, entah mengapa sampai pula perhatian Santi padanya.

Sekalipun, dia tidak pernah terpengaruh oleh hiruk pikuk suasana kafe, fokusnya baik, dan tidak bisa teralihkan, bahkan dengan suara ketawa orang yang mengakak, atau suara anak kecil yang datang bersama orang tuanya. Benteng konsentrasi, yang dibangun dengan tinggi dan kuat itu, akhirnya bisa juga goyah, hanya pada suatu ketika, dimana laki-laki itu, yang ber HP Samsung S10, dari bangku arah seberang. Mendekatinya dan meminta tolong. 

“Permisi kak.”

“Ya, ada apa bang.” 

“Boleh pinjam pulpen sebentar dan minta secarik kertas notes berperekatnya.”

“Oh, boleh, boleh, ini bang, ambil aja.”

“Ok, terima kasih ya kak.” 

Dari percakapan singkat itu, Santi tahu, kalau namanya Heri. Anak semester tujuh, yang kuliah, di fakultas  hukum, pada salah satu universitas swasta di Padang. Dia juga pengurus BEM kampus, dan aktif juga di Himpunan Mahasiswa. Katanya, saat ini, dia lagi menyelesaikan skripsinya, yang sering tertunda karena selalu dicorat-coret dosen pembimbing dengan tinta merah. Heri muntab kalau sudah banyak dicoret-coret begitu. Ujung-ujungnya, malas sekali revisi, dan malas menemui dosen buat bimbingan. 

Begitu juga dengan mengatur skedul bimbingan. Tidak ada kata sepakat yang bertemu, antara dia dengan dosen pembimbing,  karena kesibukannya masing-masing. Hal ini membuat dia susah untuk mengajukan revisi dan mengatur jadwal untuk bimbingan. Rencananya dia akan melakukan seminar proposal dalam sebulan ini. Tapi itu lah karena kesibukan itu tadi, jadi proposal pun belum di acc dosen pembimbing.

Setiap datang ke kafe, penampilan Heri tidak pernah gagal, selalu casual dan chic. Tidak pernah terlihat kusut. Rambutnya hitam mengkilat, pakai pomade hyper solid sepertinya, karena tidak ada rambut yang terjatung atau melenceng dari sisirannya. Kulitnya halus untuk ukuran laki-laki, yang ada di Kabupaten ini. Kelihatannya dia rajin ke salon, untuk melakukan perawatan tubuh. Celana chinos, levis, selalu dipadukan dengan t-shirt dan sneakers dengan warna yang senada. Kharisma terjaga dengan tidak pernah tertawa terkekeh, selalu tersenyum simpul, dan lebih banyak diam, sehingga menambah kesan misterius. Santi menjadi penasaran. Hubungan mereka menjadi lebih intens, karena sering bertemu. Sampai pada suatu hari.

“Bagaimana dengan skripsi abang bang?” Tanya Santi.

“Ntah lah dek, ndak tahu abang, padahal mama abang sudah mendesak abang.”

“Coba lah angsur-angsur revisinya bang. Cuma butuh waktu sebentar itu bang.” bujuk Santi.

“Itu lah, ndak ada lagi hati abang menghadap untuk mengerjakan skripsi lagi. Tapi mama abang nangis-nangis agar abang cepat diwisuda. Pusing kepala abang. Makanya abang tenangkan pikiran dan hati abang di sini.”

“Ooh…”

“Bahkan mama abang sudah mendatangi pembimbing satu, agar dipercepat skripsi abang. Tapi tulah, dospem satu ini banyak kali cingkuneknya. Payah Abang dek.” Memelas Heri menjelaskan, perilaku dosen dan orang tuanya.

“Papa abang gimana katanya.”

“Papa abang sudah nggak ada lagi, kami bertiga aja tinggal di rumah. Papa dan mama abang sudah berpisah, sejak abang SD.”

“Cepat lah revisi, supaya cepat juga abang wisuda.” Bujuk Santi lagi. 

“Oh ya sebentar dek, abang ke toilet dulu.”

Santi mengangguk sambil tersenyum, dan Heri berlalu pergi menuju toilet yang terletak agak jauh dari tempat duduknya, tanpa membawa HPnya.

Selama ditinggal Heri, Samsung S10 miliknya selalu berdentang, oleh bunyi notifikasi.  Bunyi itu mengalihkan konsentrasi Santi. Karena merasa sudah dekat, Santi tidak malu-malu lagi menyentuh barang kepunyaan temannya. Tanpa sengaja Santi meilhatnya. Alangkah kagetnya santi. Ternyata akun bernama @martinsaint itu adalah akun yang menyebarkan fitnah kepada mak tangahnya. pantas saja ketika dia mengirim komentar suara dari HP Hery terus berbunyi tanpa henti. 

Dipandanginya terus layar HP Samsung S10 Heri yang selalu dipenuhi komentar-komentar dari medsos perihal pilkada. 

Yang lebih mengagetkan lagi, ada lagi, akun lain dalam HP itu. Itu adalah akun lawan berat, seperti musuh bebuyutan Santi. Ungkapan kotor, cacian, makian yang menghina dan merendahkan dirinya dan mamaknya, dengan bahsa kasar yang tidak bisa dijelaskan. Terbaca jelas, percakapannya.

Darah santi mendidih, muka memerah. Disabarkannya hatinya dengan meneguk air mineral di atas meja dekat laptopnya. Dia berusaha menenangkan hati dan pikiran yang sedang berkecamuk.

Heri kembali dari toilet

“maaf ya dek, lama, tadi ketemu kawan abang di depan toilet.”

“Ya,”jawab santi dengan senyum terpaksa, dan menyembunyikan kemarahannya.

“Bang @martinsaint itu akaun abang ya bang? Itu akun yang memfitnah mak tangah aku bang. Akun  @gadispulau yang bacakak dengan @buayalapau, itu akun kita berdua itu bang.” Santi pun tidak menyangka bisa berbicara seperti itu. Suaranya gemetar karena menahan tangis. Hatinya sudah kecewa. Segera dikemasnya perangkat yang biasa dipakainya buat memperbaiki nama mak tangah dalam pilkada itu dimasukkan kedalam tas. Sebelum berangkat tidak lupa Santi mengatakan.

“Buzzer abang kiranya ya?” Ndak nyangka Santi bang.” Santi pergi dengan hati yang kecewa.

Heri hanya mematung, tak tahu harus menjelaskan apa. Sedangkan Santi bergegas, pergi dan sekilas pandangan mereka bertemu saat santi penutup pintu kaca cafe. Mata santi memerah dengan yang tangis tertahan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Cum Laude di Sudut Jalan
Desto Prastowo
Cerpen
Bronze
Jari Patah
Agus Fahri Husein
Cerpen
Bronze
Lara Di Bangku Kelas 6
Nabilla Shafira
Cerpen
Diperhelatan Anak Nagari
T. Filla
Novel
Bronze
Seusai Reda
Siti Ulumiah
Novel
Dandelion
Chika Andriyani
Novel
Satu Langit Dua Cerita (Kosakata Cinta di La Sorbonne)
Martha Z. ElKutuby
Novel
Bronze
Terungku Amblas
White Blossom
Novel
Putra Tersayang
A. F. Ferdians
Skrip Film
Maru
Rafi Abdurrahman
Skrip Film
Cerita Tentang Rasa
Embun RA
Cerpen
Bronze
Mukenah untuk Ibu
AndikaP
Novel
The Symphonies
Ratu Bidak
Novel
Bronze
MENUNGGU: Akhir Kisah Kita
Nurita
Novel
Motivator Gagal
M.a.r.i.s.Official
Rekomendasi
Cerpen
Diperhelatan Anak Nagari
T. Filla
Flash
Menjadi Gagal Pun Masih Gagal
T. Filla
Flash
Menunggu Juga Amalan
T. Filla
Cerpen
Cerita Lula
T. Filla
Flash
Bronze
Dendam Mariah
T. Filla
Cerpen
Bronze
Intelektualitasnya Ternodai
T. Filla
Flash
Perlawanan yang Berujung
T. Filla
Flash
Karena Cinta Kamu Bego Karena Cinta Kamu Puitis
T. Filla
Flash
Kelakar Radith
T. Filla
Cerpen
Bronze
Anak Emak
T. Filla
Cerpen
Bronze
Quiz Yang Menguji Kepantasan
T. Filla
Cerpen
Bronze
Dinding Mana Yang Punya Telinga
T. Filla
Cerpen
Bronze
Tergadai
T. Filla
Flash
Ujang Ingin Diklat
T. Filla
Cerpen
Obrolan Ku Dengan Snowy
T. Filla