Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Dipaksa Berjodoh
1
Suka
14
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Namaku Insya, cerita ini bermula dari pertemuan dengan Tante Marta di Kafe tempatku bekerja. Tante Marta cukup sering datang kesini, kepada pelayan sepertiku, entah kenapa rasanya beliau ingin mengenalku lebih jauh dan tanpa kusadari kami sudah menjadi sangat dekat.

Suatu malam, Tante Marta memintaku untuk bertemu di salah satu tempat makan mewah di Jakarta. Sebenarnya aku tidak nyaman datang ke tempat-tempat seperti ini.

Sejak usiaku tujuh belas tahun, tepat setelah hari kelulusan sekolah, kedua orang tuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan. Setelahnya aku tidak pernah menikmati hidup dengan pergi ke tempat-tempat bagus atau restoran mewah. Aku hanya menikmati keseharianku untuk bekerja dan bekerja, tapi aku tidak mengeluhkan apa pun tentang itu. Hanya rasa kesepian yang memang tidak bisa kutangani selepas kepergian orang tuaku. Sepertinya, ini alasan menerima Tante Marta masuk ke hidupku, kehadirannya menjadi jalan keluar dari rasa kesepian yang kumiliki.

Tidak sulit bagiku untuk menemukan tempat duduk yang telah dipesan Tante Marta sebelumnya, karena ada nomor meja yang tinggal kudatangi. Saat aku tiba, meja dengan angka 29 masih kosong. Meski sedikit ragu, tapi aku memilih duduk di kursi yang sudah disediakan. Menanti kehadiran Tante Marta dengan perasaan gugup.

“Kenapa kamu disini?” Suara seseorang membuatku seketika berpaling. Tepat di belakangku ada seorang pemuda tampan, tatapan dingin itu cukup membuatku perlahan berdiri untuk menghadap padanya. Jujur saja, aku sedang bingung atas kedatangan pemuda ini.

Anu, maaf. Tante Marta meminta saya menemuinya disini,” jelasku kikuk. Pemuda itu melewatiku tanpa kata dan mengambil duduk di kursi lain, berhadapan dengan kursi yang sebelumnya kutempati. Aku berbalik mengikuti dalam diam dan sedikit menunduk untuk menghindari tatapan mata yang jelas tidak bersahabat padaku. Hanya saja, aku enggan untuk kembali duduk dan memilih berdiri, menunggu dipersilakan.

“Seberapa dekat hubunganmu dengan Mama?” tanyanya. Aku berusaha tersenyum dan membalas tatapan matanya.

“Tante Marta sering mampir di tempat kerja saya, sebagai pelanggan,” jawabku menjaga intonasi dan pelafalan kata agar penjelasanku mudah diterima.

Keadaan menjadi bisu untuk beberapa saat. Dia masih duduk sambil menyilangkan kaki dan kedua tangan. Membuatku makin tidak nyaman berdiri di depannya. Untuk mengisi kebisuan kami yang berlangsung cukup lama, aku coba mengulurkan tangan, bermaksud untuk mengenalkan diri.

“Nama saya Insya, salam kenal,” ucapku masih terdengar sungkan.

“Dengar, jangan berharap apa pun pada pertemuan ini. Melihatmu sebentar saja, membuatku tidak suka. Jadi, berhenti mendekati Mama dengan tampang polosmu itu. Mama memang orang yang terlalu baik, aku khawatir dia sering dimanfaatkan orang lain.” Kalimat itu keluar dengan lugas, dingin dan terdengar kejam. Dia pergi setelah mengucapkannya dan mengabaikan uluran tangan dariku, membiarkan tetap menggantung di udara tanpa balasan.

Aku menarik tangan, menoleh padanya yang keluar dari rumah makan dengan langkah panjang dan pasti.

“Paling tidak, dia sangat tampan,” batinku berusaha menghibur diri sendiri. Tidak masalah, toh aku memang bukan orang kaya. Mendapat kata-kata yang menyakitkan seperti itu sudah biasa, mau bagaimana lagi? Meski tetap sakit, sih!

Dua hari berlalu sejak pertemuan itu. Tante Marta kembali datang menemuiku di Kafe saat jam istirahat.

“Insya, maafkan anak Tante, ya?” ujar Tante Marta sembari menggenggam kedua tanganku penuh penyesalan.

“Tidak, Tante. Saya baik-baik saja, sungguh!” balasku merasa tidak enak.

“Tante ingin kalian saling kenal dan berjodoh, Insya,” ucap Tante Marta lagi. Baiklah, itu memang terlalu berlebihan.

“Tante, maaf. Tapi, sepertinya kami memang tidak cocok,” jawabku tanpa menunjukkan rasa kesedihan. Aku ingin, Tante Marta menghentikan niatnya menjodohkanku dengan sang anak.

“Hanya kamu yang pantas untuk anak Tante, Insya. Namanya Pramana, dia pasti tidak sempat memperkenalkan diri, kan?” balas Tante Marta makin menyayangkan pertemuan yang gagal itu. Entah kenapa Tante Marta tetap keukeuh atas keinginannya ini. Padahal aku bukan wanita yang selevel dengan putranya.

“Tante, perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan. Saya senang atas perhatian, Tante. Tapi, biar Mas Pramana yang memilih jodohnya sendiri, ya?” ucapku berusaha selembut mungkin, agar tidak menyinggung niat baik Tante Marta.

***

Hari ini, Kafe tutup lebih awal. Aku melihat jam tangan, masih pukul dua siang. Aku merenggangkan tangan agar tubuhku tidak terasa kaku.

Tin!

Bunyi klakson mengagetkan, aku spontan memegang dada, melihat mobil siapa yang menepi ke halaman Kafe. Seorang pria yang masih akrab tampak keluar, ternyata benar. Itu Mas Pramana. Aku buru-buru mendekat, tidak tahu apa kepentingannya datang ke sini.

“Maaf, Mas. Hari ini kami tutup lebih awal,” ucapku memberitahu.

Tidak segera ada jawaban, aku sedikit takut karena dia mengeratkan rahang kuat, pasti sedang menahan emosi. Aku tidak tahu apa kesalahanku padanya, karena tidak ingin ada keributan, aku mohon pamit dengan hati-hati.

“Saya permisi dulu,” ucapku pelan setengah ada rasa was-was.

“Sudah kubilang, berhenti menemui Mama!” ucap Mas Pramana menahan geram.

“Kami tidak bertemu sama sekali hari ini, Mas. Sungguh!” jawabku mencoba menjelaskan. Tapi, Mas Pramana tampak mendecih pelan dan membuang tawa dengan wajah jengkel.

“Lalu kenapa Mama masih memintaku menemuimu, ha?” hardik Mas Pramana membuatku sulit berkata-kata. Aku jelas sudah menolak perjodohan itu, tapi kenapa sekarang begini lagi?

“Maaf, tapi saya benar-benar tidak tahu,” jawabku menundukkan kepala, merasa dihakimi.

Dakh!

Mas Pramana menendang ban mobil dengan keras, membuatku makin takut untuk menjelaskan. Aku yakin, dia tidak akan percaya apa pun yang kukatakan. Aku tidak berani mengangkat kepala, sampai Mas Pramana dan mobilnya pun pergi.

Kedua kaki terasa lemas mendadak. Aku melihat mobil Mas Pramana enyah dengan laju yang cukup kencang.

“Dia mudah sekali salah paham,” batinku sedih melihat mobil yang berlalu makin tidak terjangkau mata itu.

***

Hari ini, aku mengambil cuti. Aku pergi ke makam orang tuaku, seperti biasa untuk memperingati kepergiannya. Hawa di pemakaman sudah menjadi aroma yang tidak asing bagiku. Aku sering mampir saat punya waktu luang, meski tidak setiap hari. Apalagi saat pikiranku buntu atau hati tidak tenang, aku pergi kesini seolah ingin berkeluh kesah.

“Ada orang baik yang mau menerima Insya, tapi Insya tidak berani merasa bahagia,” ucapku pelan sembari menabur kelopak mawar merah di atas pusara ibu. Kini aku duduk diam di tengah pusara ayah dan ibu. Hanya diam untuk waktu yang cukup lama, membiarkan angin khas pemakaman menyapa tubuhku yang berpakaian serba hitam.

“Tenang sekali di sini,” ucapku lagi sebentar mengedarkan pandangan. Tidak kusangka, mata ini melihat kedatangan Mas Pramana seorang diri. Aku berusaha menghindari kontak dengannya. Buru-buru berdiri dan berniat pergi.

“Kenapa sekarang pun harus bertemu,” keluhku dalam hati. Aku berjalan keluar seperti maling yang menghindari polisi, menyusahkan sekali. Padahal aku dan Mas Pramana bukan siapa-siapa, tapi dia terus memusuhiku.

“Kebetulan atau memang di sengaja?” Suara Mas Pramana menghentikanku. Aku kembali mengeluh pelan sebelum mengangkat pandangan. Rupanya dia sudah menyadari keberadaanku.

Kini, salah paham apalagi yang akan dia bahas?

“Saya mengunjungi makam orang tua di sini,” jelasku tanpa diminta. Mas Pramana membuang tawa dengan wajah mengejek.

“Kenapa harus tepat hari ini? Mama juga yang memintamu melakukannya?” tanyanya dengan nada merendahkan lagi. Aku menarik nafas panjang, mengembuskannya dengan cepat.

“Saya permisi dulu,” ujarku memilih abai. Di tempat ini, aku tidak mau dia menuduhku macam-macam dan bicara seenaknya.

“Mau menikah denganku?” ujar Mas Pramana membuatku berbalik, menatap penuh tanya.

Eh? Kok tiba-tiba sekali?

 Mas Pramana bilang ingin mengajakku ke tempat yang layak untuk bicara. Tapi, aku berpikir untuk menolak. Aku rasa dia tidak akan bisa bicara baik-baik denganku.

“Maaf, tapi saya harus kembali bekerja,” jawabku bohong.

“Menurutmu aku tidak tahu, jika hari ini kamu mengambil cuti?” balas Mas Pramana membuatku menutup mulut rapat. Sepertinya dia yang sengaja mencariku.

“Bukannya kamu ingin ziarah?” tanyaku mengingatkan.

“Tunggu aku sebentar,” pinta Mas Pramana kemudian menuntaskan niatnya datang ke pemakaman hari ini. Aku menghela nafas, tidak bisa menolak.

“Kenapa tiba-tiba membahas pernikahan?” batinku menatap jauh ke tempat Mas Pramana tampak berdoa di sisi pusara, entah milik siapa.

Aku terus bertanya-tanya, apa niat Mas Pramana memang baik kali ini? Kenapa cepat sekali berubah? Sebelumnya dia melihatku seperti lintah yang mengganggu, tapi kini menawarkan sebuah pernikahan?

“Dia orang yang tidak mudah ditebak,” ucapku lirih melihat Mas Pramana kembali mendekat ke arahku.

“Ayo, pergi,” ajaknya. Aku mengikuti dalam diam.

Perjalanan berlalu dengan sunyi. Entah Mas Pramana akan membawaku kemana. Aku sedikit curi pandang ke sisi Mas Pramana. Dia tenang, setenang danau tanpa riak. Tidak ada yang bisa kubaca dari raut wajah seperti itu, tapi hatiku perlahan damai berada di sisinya.

“Mama sedang sakit,” ucap Mas Pramana memulai percakapan.

“Benarkah? Bagaimana kondisinya?” Aku cukup terkejut mendengar berita ini. Siapa sangka, Tante Marta yang tampak selalu bugar itu kini mendadak sakit?

“Penyakit ini sudah lama tidak kambuh, tapi tiba-tiba saja Mama kembali merasa sesak,” jelas Mas Pramana membuatku ikut merasa iba. Jadi, dia ingin membawaku menemui Tante Marta?

Kami sampai di rumah Mas Pramana, tempat Tante Marta berada. Aku ikut turun dari mobil, berjalan sedikit di belakang Mas Pramana.

“Mama lebih suka mendapat perawatan di rumah,” ujar Mas Pramana mendadak berhenti saat kaki kami hendak melangkah masuk. Aku tidak berani menjawab, takut salah kata.

“Mama meminta aku menikah denganmu. Jadi, saat bertemu nanti, katakan kamu mau menjadi istriku, mengerti?” terang Mas Pramana dengan nada pelan tapi tetap terkesan memaksa.

“Aku akan bersikap baik, jika kamu mau melakukannya,” lanjutnya lagi membuatku makin dilema.

“Tapi, apa bisa semudah itu?” tanyaku pelan. Bibir ini rasanya bergetar dan tanganku sudah terasa dingin.

Mas Pramana perlahan menyentuh kedua bahuku. Kali ini, dia menatapku penuh permohonan.

“Hanya Mama yang kumiliki satu-satunya. Aku takut dia juga akan meninggalkanku sendirian. Jadi, tolong aku untuk kali ini,” ucap Mas Pramana membuatku berpaling muka. Aku sangat bingung juga ... takut.

“Tolong beri waktu untuk menjawabnya,” ucapku setelah mengumpulkan semua keberanian. Mas Pramana berembus pelan dan menarik kembali cekalannya dari bahuku.

“Baiklah, tapi aku harap kehadiranmu hari ini bisa membuat kondisi Mama lebih baik,” balas Mas Pramana. Meski aku tidak tahu harus melakukan apa, paling tidak aku paham keinginan Mas Pramana.

Sampai di depan pintu kamar kayu yang tampak mengilat mewah, Mas Pramana membukakan pintu untukku. Di dalam sana, sosok Tante Marta sedang tertidur di atas ranjang yang tampak sangat hangat.

“Mama,” panggil Mas Pramana lirih sembari mengelus pelan tangan Tante Marta di atas perut. Tidak menunggu lama, kelopak mata wanita itu tampak bergerak dan terbuka dengan lemah.

“Insya di sini,” lanjut Mas Pramana. Aku sedikit mendekat dan meraih tangan Tante Marta yang meraba, seolah mencari keberadaanku.

“Maaf, Tante. Insya tidak tahu, Tante sedang sakit,” ucapku. Perlahan sedikit senyuman tercipta di bibir Tante Marta. Aku dan Mas Pramana saling pandang, lantas saling melempar senyum lega.

Melihat respons Tante Marta, Mas Pramana tampak sangat senang. Bahkan selama perjalanan pulang mengantarku, dia juga mengemudi dengan riang. Hatiku terasa hangat mengetahui orang ini sangat mencintai ibunya.

***

Hubunganku dan Mas Pramana makin hari lebih dekat. Kondisi Tante Marta juga kian pulih. Hari ini adalah batas waktu yang diberikan Mas Pramana untukku mempertimbangkan lamarannya. Melihat pantulan wajah di cermin, aku berembus pelan.

“Aku rasa, tidak masalah memberinya kesempatan,” ucapku pada diri sendiri.

Aku bersiap diri menyambut kedatangan Mas Pramana. Malam ini, ia akan datang ke rumah. Detik kian berlalu, keputusanku untuk menerima lamaran Mas Pramana makin terasa mantap.

Tok! Tok!

Ketukan di pintu membawa langkahku buru-buru untuk membukanya.

“Mas?” Wajahku yang antusias mendadak kabur begitu melihat Mas Pramana datang dengan rona wajahnya yang dingin.

“Insya?” ucap Mas Pramana menghentikanku yang hendak mempersilakan masuk. Aku menatapnya dengan gugup, tahu bahwa sesuatu tidak terjadi seperti yang kuinginkan.

“Kita tidak bisa menikah seperti ini,” ucap Mas Pramana lagi membuat nafasku tercekat di tenggorokan. Aku diam, memilih dia melanjutkan kata-katanya.

“Ada wanita lain yang menungguku.” Lagi. Kini dadaku terasa berat dan sesak. Itu adalah kata lain dari patah hati yang terpaksa harus kurasakan.

“Aku berusaha merahasiakan semua darimu, tapi aku merasa bersalah,” lanjut Mas Pramana seolah tanpa emosi, hanya saja semua terdengar menyedihkan di telingaku.

“Jika begitu, kita tidak perlu menikah,” jawabku lirih menahan pedih yang kini mengoyak dada tanpa ampun. Ternyata semua harus berakhir meski belum dimulai.

“Bagaimana dengan Mama?” tanya Mas Pramana membuatku menatap tidak percaya. Kenapa dia menanyakan itu padaku? Apa dia memintaku bertanggung jawab atas Tante Marta?

“Mama sangat membenci Sera sejak mengenalmu,” tambahnya lagi. Jadi, wanita itu bernama Sera.

“Tapi itu bukan salahku, Mas.” Aku mencoba membela diri, karena itu memang bukan keinginanku. Aku bahkan tidak tahu apa pun tentang wanita itu, kenapa Mas Pramana bersikap sangat egois?

Mas Pramana memandangku tanpa kata. Mungkin dia sedang menyadari bahwa itu memang bukan kesalahan yang aku buat, atau sebaliknya. Bisa jadi dia menganggapku tidak bisa mengerti situasi.

“Apa kamu tetap mau menikah denganku, setelah tahu semua ini?” tanya Mas Pramana benar-benar membuatku tidak habis pikir.

“Aku tidak berpikir untuk menikah denganmu, Mas. Bahkan hari ini, aku juga ingin mengatakan tidak atas permintaanmu saat itu,” jelasku penuh kebohongan. Ada sedikit perasaan tidak menyangka di wajah Mas Pramana mendengar semua itu keluar dari mulutku.

“Aku menghianati diriku sendiri,” batinku nelangsa tapi rasanya juga ingin tertawa, menertawakan kenaifan yang kupelihara begitu cepat.

Aku mundur satu langkah, menutup pintu. Bukan maksud mengusir Mas Pramana, tapi sebagai pembatas atas rasaku yang tidak akan sampai pada penerimanya. Tubuhku luruh, terduduk di balik pintu, memeluk kedua lutut, lantas menangis tanpa suara. Satu kebahagiaan yang kubayangkan sirna begitu saja.

***

Hari berlalu seolah tidak mau peduli pada perasaanku. Aku tetap berangkat kerja bersama patah hati yang belum reda. Sesaat, kuangkat wajah menatap langit putih yang begitu luas. Kenapa hatiku tidak segera menjadi lapang seluas langit di atas sana?

Di halaman Kafe tempatku bekerja sudah mulai berjejer motor milik para karyawan sepertiku. Aku melangkah pelan tanpa semangat, seolah ingin memberitahu semua orang jika hatiku sedang tidak baik-baik saja.

“Insya, hari ini kamu diizinkan libur,” kata satu temanku memberitahu. Jujur, ini membingungkan. Kenapa tiba-tiba? Apa Tante Marta yang meminta khusus pada bosku?

“Siapa yang melakukannya?” tanyaku ingin memastikan.

“Itu si pelanggan istimewamu,” jawabnya membuatku yakin jika itu memang Tante Marta. Aku segera pergi tanpa kata.

“Tante Marta pasti ingin bertemu,” batinku lalu memanggil taksi. Aku memutuskan untuk datang ke rumahnya.

Aku sampai di rumah yang belum lama lalu kudatangi. Meski ragu, tapi telunjuk kananku sudah memencet tombol bel di sisi pintu.

Tling Tlung!

“Katamu tidak ingin menikah denganku, kenapa sekarang ada di sini?” ucap Mas Pramana begitu pintu terbuka. Aku tidak menyangka dia masih di rumah jam segini.

“Saya ingin menemui Tante Marta,” jawabku berusaha menunjukkan jarak diantara kami. Mas Pramana berembus pelan. Tidak lagi memberi tanggapan.

Aku bingung harus ikut masuk atau tidak saat Mas Pramana berbalik dan pergi ke dalam.

“Kenapa dia tidak pernah mau mempersilakanku?” keluhku dalam hati. Aku menatap punggung yang menjauh itu dengan putus asa.

“Pikirmu Mama mau menemui di situ? Cepat masuk!” seru Mas Pramana sembari berbalik badan ke arahku. Aku menghela nafas, merasa tertolong meski Mas Pramana terdengar kesal saat mengatakannya.

“Biarlah, toh aku tidak punya urusan dengannya,” batinku sekali lagi, mencoba sedikit lebih percaya diri.

Tante Marta sedang duduk di kursi, di tempat paling sudut dalam kamarnya. Dia menghadap ke luar jendela tinggi dan besar di sana. Di atas meja kecil, ada secangkir teh siap dinikmati.

Loh? Ada Insya, hai Sayang!” sapa Tante Marta begitu dia menoleh ke arahku. Aku tersenyum dan sedikit mengangguk, lantas berjalan menghampirinya.

“Tante Marta, ingin bicara denganku?” tanyaku tidak bisa basa-basi. Tante Marta tersenyum dan sedikit tertawa, membuatku bingung.

“Bukan Tante, tapi Pramana. Temui saja dia,” jawab Tante Marta makin membuatku tidak mengerti.

“Tapi, bukannya Tante yang memintaku libur hari ini?” tanyaku lagi.

“Bukan, Insya.” Jawaban Tante Marta membuat mulutku terbuka. Jika Mas Pramana yang ingin bicara denganku, kenapa tadi dia bersikap begitu?

Aku menuruni tangga dari kamar Tante Marta. Begitu pelan, seolah tidak ingin derap langkahku terdengar oleh siapa pun.

Tapi, aku terkejut saat melihat Mas Pramana sudah bersandar diujung pegangan tangga. Dia belum menyadari keberadaanku. Aku menggigit bibir pelan, Mas Pramana pasti menungguku.

“Sekarang apa lagi yang ingin dia katakan?” batinku uring-uringan. Sebenarnya, aku memilih tidak mau. Tapi, sepertinya aku tidak bisa langsung buru-buru kabur sekarang.

“Sudah bicara sama Mama?” tanya Mas Pramana menyadarkanku. Aku menarik nafas dalam, mengembuskannya dengan sangat pelan.

“Mas Pramana ingin bicara apa?” tanyaku berusaha tenang.

“Biar aku antar pulang,” ucap Mas Pramana tanpa menginginkan penolakan. Untuk kali ini aku tidak menolak. Memang ada yang ingin dia katakan padaku.

Mobil melaju dengan pelan. Tapi, kami masih sepakat tidak mengatakan apa pun. Aku memilih menoleh ke luar kaca jendela mobil. Aku menjadi sangat sungkan pada Mas Pramana saat ini.

Mas Pramana menghela nafas pelan, aku tahu dia sedikit melihat ke arahku. Tapi, aku membiarkannya. Memilih dia memulai lebih dulu.

“Aku pernah terlibat kecelakaan. Sekitar empat tahun yang lalu,” ucap Mas Pramana membuatku menoleh. Ia terlihat sulit menceritakan pengalaman itu.

“Papa meninggal karenanya. Saat itu dia yang ada di kemudi. Mobil kami saling menabrak dengan mobil lawan. Mama bilang, itu mobil orang tuamu,” lanjut Mas Pramana membuat nafasku tertahan. Aku tidak menyangka cerita itu akan mengarah ke sana. Aku memang tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya tahu, orang tuaku meninggal karena kecelakaan, aku pun tidak pernah terpikirkan untuk mencari tahu bagaimana nasib pelaku yang menabrak mobil orang tuaku.

“Kecelakaan itu tidak disengaja, tapi Mama sangat merasa bersalah. Padahal kami juga kehilangan Papa.” Penjelasan Mas Pramana perlahan membuatku mengerti arah yang dia tuju. Mungkin itu alasan Tante Marta selalu keukeuh ingin Mas Pramana menikah denganku, sebagai penebusan rasa bersalah.

“Aku tidak tahu sebelum Mama mengatakannya. Aku tidak menyangka ini alasan Mama memaksaku menikah denganmu,” tambah Mas Pramana.

“Saya sudah melupakan kejadian itu, dan tidak punya niat apa pun karenanya,” balasku berharap memotong kesalahpahaman lain yang mungkin muncul di benak Mas Pramana.

Mas Pramana berembus pelan sekali lagi. Ia menepikan mobil. Beberapa saat kami saling terdiam, tapi aku semakin merasa tidak enak.

“Saya turun di sini saja, terima kasih sudah memberi tumpangan,” ucapku tidak ingin lebih lama bersama dengan Mas Pramana. Bukan karena tidak nyaman, tapi karena aku memang ingin menghindarinya.

“Kita akan tetap menikah, itu keputusanku.” Aku berpaling tidak percaya mendengar kalimat egois itu keluar lagi dari mulut Mas Pramana.

“Maaf, saya tidak bisa,” jawabku pelan. Mengingat ada wanita lain di hati Mas Pramana, mana bisa dia menjadi suamiku. Itu akan menyakiti kami hingga akhir.

Aku membuka pintu, keluar dari mobil. Kebetulan ada taksi yang lewat, tanganku mengaba, lantas masuk dan pergi meninggalkan Mas Pramana. Aku tahu dia pun sedang kebingungan, jadi kurasa, aku tidak memberi jawaban yang salah. Aku tidak ingin di perjuangkan bersamaan dengan dia mengusahakan cintanya pada wanita lain.

End

 

 

 

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Romantis
Cerpen
Takdir Cinta
Areta Swara
Cerpen
Dipaksa Berjodoh
Deasy Astari Dawangga
Novel
Tentang Kita
Nur Rahma
Novel
Bronze
MENJEMPUT JANJI
NURSAHID RAHMAT
Cerpen
Latte: different tastes
Chacha
Cerpen
Laut Kembalikan dia kepadaku
Yuliana indah lestari
Cerpen
Bronze
Janji Jari Kelingking Nuel dan Nayla
Nuel Lubis
Novel
Bronze
Al Kahfi Land 1 - Menyusuri Waktu
indra wibawa
Novel
Gold
Lelaki yang Membunuh Kenangan
Bentang Pustaka
Skrip Film
Bright Your Future and Love Script
Sweet September
Novel
Bronze
One Day
Ananda Putri Safitri
Novel
Penta Toxic
Frisca
Novel
Bronze
Menikahi Pria yang Phobia Lawan Jenis
Yuli Yastri
Novel
Half of Me!
lede.K
Flash
Bronze
Physics Love
Silvarani
Rekomendasi
Cerpen
Dipaksa Berjodoh
Deasy Astari Dawangga