Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Jakarta tidak pernah tidur, ia hanya berkedip lewat lampu-lampu sorot kendaraan yang melintas di Jalan Sudirman setiap pukul enam sore. Bagi Nana, kota ini bukan sekadar tempat mencari nafkah; ia adalah mesin penggiling layaknya pabrik industrial yang tugasnya memproduksi apa pun itu, tak kenal lelah. Di bawah langitnya yang sarat polusi, manusia-manusia diubah menjadi angka, performa kerja diukur lewat grafik yang menuntut kenaikan tanpa jeda, dan waktu adalah komoditas mahal yang tidak boleh disia-siakan bahkan untuk sekadar menarik napas panjang.
Sudah tiga tahun Nana hidup dalam pusaran yang melelahkan itu. Hari-harinya berjalan mekanis, bagai robot yang telah diprogram dengan ketat. Berlari mengejar deadline di kantor yang seolah tidak pernah ada habisnya, menelan makan siang berupa makanan cepat saji sambil jemarinya lincah mengetik di atas papan ketik, dan terjebak dalam kemacetan horor yang merayap pulang menuju apartemennya yang sempit di sudut kota.
Setiap hari di kota ini terasa seperti hujan yang dingin dan menusuk tulang. Tidak ada kehangatan yang tulus, yang ada hanyalah persaingan terselubung di balik senyuman formal rekan kerja. Bising klakson yang bersahut-sahutan di jalanan dan deru mesin kendaraan adalah konstan yang memekakkan telinga, menciptakan simfoni stres yang meracuni pikiran setiap detiknya. Nana merasa basah kuyup oleh ekspektasi orang lain; tuntutan atasan, kebanggaan keluarga jauh, pandangan sosial, dan tentu saja, ambisinya sendiri yang telanjur membubung tinggi.
Namun anehnya, dalam badai yang begitu riuh itu, ia tidak punya payung. Ia tidak memiliki pelindung, tidak memiliki tempat bersandar yang kokoh di kota perantauan ini. Ia membiarkan dirinya basah kuyup hingga menggigil, mengira bahwa penderitaan batin dan rasa lelah yang menggerogoti jiwanya ini adalah harga mutlak yang harus dibayar demi sebuah label bernama "kehidupan yang sukses".
Sampai akhirnya, pada suatu sore yang biasa di tengah riuhnya ruang rapat, telepon itu datang. Sebuah getaran di atas meja kayu mahoni yang membawa kabar yang tidak pernah siap didengar oleh siapa pun di dunia ini. Suara ibunya di seberang sana bergetar hebat, membawa kabar bahwa detak jantung pria yang paling mencintainya di dunia ini telah berhenti. Papa telah pergi secara mendadak, meninggalkan kekosongan yang teramat besar dalam dada Nana. Saat itu juga, riuh rendah suara presentasi proyek bernilai miliaran rupiah di sekelilingnya mendadak senyap. Jakarta kehilangan suaranya, dan dunia Nana runtuh seketika.
Tatapannya kosong menembus dinding kaca ruang rapat, mengabaikan tatapan bingung para rekan kerjanya. Penyesalan menjalar begitu saja, mencengkeram erat kesadarannya bahwa kesuksesan fana ini telah merenggut kesempatan terakhirnya bersama pria yang paling ia sayangi.
Seminggu kemudian, setelah proses pemakaman yang menguras seluruh air mata dan energinya, Nana berdiri di sebuah persimpangan yang aneh. Ini bukan persimpangan jalan raya yang biasa ia temui di ibu kota, melainkan sebuah persimpangan batin yang magis dan membingungkan. Ruang dan waktu di sekitarnya seolah terbelah menjadi dua dimensi yang bertolak belakang secara radikal.
Di sebelah kirinya, terbentang dunia yang ia tinggalkan sementara demi urusan berkabung. Itu adalah Jakarta di waktu senja. Langitnya kelabu tua, berat oleh awan mendung yang menggantung rendah, seakan menolak untuk menumpahkan airnya secara sekaligus. Awan itu menyisakan gerimis halus yang konstan, membuat aspal hitam jalanan memantulkan cahaya lampu kota dengan pendaran yang dingin dan menusuk mata. Ribuan manusia berlalu-lalang dalam ketergesa-gesahan yang tak berujung; sosok mereka buram, wajah-wajah mereka tanpa ekspresi, tersapu oleh kecepatan waktu yang selama ini Nana ciptakan dan ikuti sendiri. Di sisi kiri ini, semuanya terasa begitu tajam, menyakitkan, penuh dengan tuntutan tenggat waktu, dan dipenuhi oleh ego yang berisik.
Namun, di sebelah kanannya, sebuah dunia lain menyambut dengan lengan terbuka. Seolah ada tirai sutra tak kasat mata yang perlahan ditarik oleh tangan semesta, atmosfer di sisi ini berubah drastis. Udara tidak lagi terasa dingin yang menggigit dan pengap oleh asap knalpot, melainkan terasa hangat, lembut, dan membawa aroma magis yang teramat ia rindukan: bau tanah basah pascahujan bercampur wewangian alami bunga kenanga yang mekar di sudut halaman. Ini adalah sudut kecil di Mojokerto, halaman belakang rumah masa kecilnya yang penuh kenangan. Di dimensi ini, tidak ada gedung pencakar langit yang angkuh mencakar awan, hanya ada deretan pohon mangga yang rimbun dan teras rumah tempat ia biasa duduk menghabiskan sore bersama Papanya. Cahaya di sana keemasan, konstan seperti madu murni yang tumpah di atas lembaran kenangan lama. Waktu di sana seolah melambat secara magis, berdetak seirama dengan suara jangkrik malam yang menenangkan jiwa.
Nana berdiri tepat di garis batas tipis antara kedua dunia tersebut. Ia masih mengenakan pakaian kerjanya; mantel kantornya yang tebal tampak basah oleh gerimis Jakarta, dan kerudung yang menutup kepalanya pun basah, terasa berat menempel di kening dan lehernya. Pakaian itu adalah representasi dari beban profesionalisme yang selama ini ia agung-agungkan. Kakinya terasa teramat berat untuk melangkah ke sebelah kanan. Ada gejolak rasa bersalah yang hebat di dalam dadanya. Ia merasa seolah-olah dengan masuk ke dalam kehangatan Mojokerto dan memilih untuk beristirahat, ia telah mengkhianati seluruh perjuangan, air mata, dan keringat yang ia korbankan selama tiga tahun di Jakarta. Logikanya berbisik bahwa menyerah pada kenyamanan berarti kegagalan. Namun di sisi lain, tubuh dan jiwanya tahu benar bahwa bertahan di sisi kiri, di bawah hujan abadi Jakarta, sudah tidak lagi tertahankan. Jiwanya sudah berada di ambang batas kehancuran.
Lalu, di tengah kebuntuan batin itu, sebuah keajaiban terjadi. Ini bukan hal besar yang menggemparkan dunia atau membelah bumi, melainkan sebuah momen privat yang teramat sakral antara dirinya, kenangan sang ayah, dan semesta yang penuh belas kasih.
Tepat di atas kepala Nana, awan kelabu yang pekat di sisi Jakarta seakan robek oleh tangan gaib. Sebuah berkas cahaya matahari tunggal—sunbeam—menembus kegelapan dan pekatnya mendung itu dengan begitu tajam dan presisi. Cahaya itu menerobos kabut dingin yang menyelimuti tubuhnya, menyentuh lembut bahu Nana yang tegang, dan membuat jalur di depannya berpendar dengan warna emas yang hangat. Cahaya itu bukan sekadar fenomena alam; cahaya itu adalah sebuah izin. Sebuah restu dari semesta yang menjelma menjadi suara tak terdengar namun bergaung keras di hatinya, menunjuk jalan pulang yang sesungguhnya.
Bersamaan dengan jatuhnya cahaya itu, Nana menyadari sesuatu dalam genggamannya. Ia memegang sebuah benda yang sejak tadi mendekap erat di dadanya. Itu bukan payung hitam untuk menangkis hujan Jakarta yang dingin, bukan pula koper hitam penuh dengan dokumen pakaian dinas kantor. Ia memegang satu tangkai bunga matahari yang mekar dengan begitu sempurna, brilian, dan cerah.
Bunga itu memiliki keunikan yang ajaib. Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa dingin yang menusuk atau cipratan air hujan dari sisi kirinya. Sebaliknya, bunga matahari itu seolah-olah memiliki sumber cahayanya sendiri dari dalam inti kelopaknya, memancarkan kehangatan yang lembut dan konstan dari kelopaknya yang berwarna kuning keemasan. Cahaya dari bunga itu menyatu dengan indah bersama sinar matahari yang menimpanya dari atas langit, menciptakan cahaya pelindung seperti sebuah kepompong diantara kekacauan dan kebisingan kota yang mengelilinginya.
Nana menunduk, menatap dalam-dalam pada kelopak bunga matahari yang berpendar tersebut. Seketika itu juga, memori masa kecilnya berputar bagai rol film tua yang hangat. Ia teringat jelas pada sosok Papanya. Dulu, setiap kali akhir pekan tiba, Papanya selalu menghabiskan waktu dengan merawat dan menanam bunga matahari di halaman belakang rumah mereka di Mojokerto.
"Jadilah seperti bunga ini, Nak," kata Papanya pada suatu sore yang damai, sembari mengusap lembut kepala Nana yang saat itu masih kecil. "Walaupun badai datang dan langit menjadi sangat gelap, ia akan tetap berdiri tegak dan selalu berusaha mencari di mana matahari berada. Ia tidak butuh lampu sorot kota yang megah untuk bisa bersinar. Cukup sinari sekelilingmu dengan kebaikan dan ketulusan dari dalam hatimu sendiri."
Nasihat lawas itu menghantam dadanya dengan kelembutan yang luar biasa. Air mata Nana yang sejak seminggu lalu tertahan karena ia dipaksa kuat oleh keadaan, akhirnya luruh tanpa bisa dibendung lagi. Air mata itu mengalir deras, bercampur dengan sisa-sisa air hujan Jakarta di wajahnya, membasahi kerudung setianya. Namun, tangisan kali ini tidak membawa rasa sesak. Bersamaan dengan air mata yang jatuh, beban berat yang selama bertahun-tahun menumpuk di pundaknya seolah terangkat dan menguap perlahan tapi pasti. Rasa bersalah karena meninggalkan pekerjaan, rasa takut akan ketidakpastian masa depan, dan kecemasan akan penilaian orang lain, semuanya larut dan hilang dalam pelukan cahaya hangat tersebut. Papa, lewat memori bunga matahari ini, sedang memberikan pelukan perpisahan sekaligus izin yang paling ia butuhkan untuk sebuah perpisahan yang abadi.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, Nana menarik napas panjang tanpa rasa sesak yang menyertai. Udara bersih khas Mojokerto yang kaya akan oksigen alami merasuk dalam-dalam, memenuhi paru-parunya, perlahan membersihkan dan mengusir sisa-sisa polusi serta racun stres kota Jakarta dari dalam tubuhnya.
Ia memantapkan hatinya. Nana melangkahkan kakinya ke sebelah kanan. Langkah kaki itu tidak lagi terburu-buru seperti saat ia mengejar kereta komuter, bukan lagi langkah kaki yang berlari dikejar kecemasan, melainkan sebuah langkah kaki yang berjalan dengan penuh ketenangan, kepastian, dan keanggunan. Ia melangkah keluar sepenuhnya dari bayang-bayang dingin, kelam, dan riuhnya Jakarta, lalu membiarkan seluruh tubuhnya masuk ke dalam pelukan cahaya keemasan Mojokerto yang damai.
Di garis batas itu, sebelum bayangan Jakarta benar-benar menghilang dari pandangannya, Nana memejamkan mata. Ia tersenyum tulus, sebuah senyuman yang sudah lama hilang dari wajahnya. Ia berbisik dengan sangat pelan pada dirinya sendiri, dan pada sosok mulia yang kini hanya bisa ia rasakan kehadirannya lewat kehangatan cahaya matahari yang mendekap jiwanya:
"Terima kasih, Pa. Aku diizinkan untuk merasa nyaman sekarang."
DIIZINKAN UNTUK MERASA NYAMAN
"Untuk setiap badai yang berhasil dilewati, dan untuk Papa—yang sinarnya tak pernah pudar."