Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Diet Fotosintesis Demi Motor
1
Suka
409
Dibaca

Tahun 2012. Saat itu aku bekerja sebagai budak korporat rendahan di sebuah Kantor Notaris. Jabatanku keren: "Surveyor Lapangan". Tapi deskripsi pekerjaannya lebih mirip "Tumbal Proyek". Tugasku berkelana ke Kantor Pajak, Badan Pertanahan, Kelurahan, hingga ke lahan-lahan sengketa yang isinya kalau bukan ilalang setinggi dada, ya preman setinggi tiang listrik.

Untuk menunjang mobilitas, kantor meminjamkan sebuah kendaraan dinas yang sangat... vintage. Sebuah Honda Astrea Grand warna hitam. Tapi ini bukan sembarang Astrea. Aku curiga ini adalah motor dinas Firaun saat meninjau proyek pembangunan Piramida.

Kondisinya? Masya Allah. Kalau motor ini dinyalakan, getarannya bukan cuma di mesin, tapi sampai ke masa depan. Getarannya begitu dahsyat sampai-sampai bisa merontokkan karang gigi dan mengocok isi lambung. Kalau aku naik motor ini selama 30 menit, turun-turun aku merasa ginjalku sudah bertukar posisi sama empedu.

Fitur unggulannya adalah "Auto-Mati". Setiap ketemu lampu merah, mesinnya mati. Setiap ketemu polisi tidur, mesinnya mati. Setiap aku bersin, mesinnya mati. Dan karena tombol starter elektriknya sudah wafat, aku harus menggunakan Kick Starter (Engkol Kaki).

Engkolnya kerasnya naudzubillah. Rasanya seperti menendang beton. Pernah suatu hari di perempatan yang padat, motor ini mati. Aku turun, standar tengah (karena standar samping sudah patah), lalu mulai mengengkol. Slaaahh! Slaaahh! Satu menit berlalu. Keringat membanjir. Supir angkot di belakang teriak: "Mas! Mending dibakar aja Mas! Buat anget-anget!" Aku hanya bisa tersenyum kecut, sambil membayangkan melempar knalpot panas ke wajah supir angkot itu.

Bosku yang pelitnya level dewa bilang: "Dirawat ya Yo. Service ditalangin dulu." "Ditalangin dulu" adalah bahasa halus dari "Sedekahkan hartamu untuk perusahaan."

Muak menjadi bahan tertawaan di lampu merah, aku bertekad membeli motor sendiri. Targetku: Supra X 125. Motor sejuta umat yang getarannya manusiawi. Harga bekas sekitar 4 juta.

Aku melakukan penghematan anggaran negara (dompetku) dengan brutal. Aku berhenti makan siang di Warteg. Gantinya, aku menerapkan Diet Limbad. Sarapan: Air putih. Makan siang: Roti seribuan yang kupotekin kecil-kecil biar awet sampai sore. Makan malam: Promag dan doa.

Kalau lapar banget, aku nonton iklan indomie sambil menjilati layar HP. Sugesti kenyang, Bos. Bensin kantor yang harusnya jatah 15 ribu, aku beli premium 10 ribu. Sisanya masuk celengan ayam jago plastik di kamar.

Enam bulan aku hidup seperti pertapa di goa hantu. Wajahku tirus, mataku cekung, tulang rusukku bisa buat main xylophone. Tapi... tabunganku tembus 4 Juta Rupiah! Aku merasa kaya raya. Aku siap membeli dunia (atau setidaknya Supra X).

Malam Takbiran. Momen suci kemenangan. Aku sedang elus-elus celengan ayam, membayangkan besok beli motor. Tiba-tiba HP Nexianku berdering.

"Halo?" "Yo! Apa kabar?! Ini Aldo!" Otakku loading. Aldo? Aldo SMP? Teman sekelas yang dulu pernah minjem pulpen terus tintanya abis tapi nggak diganti? "Oh, Aldo. Kenapa Do? Tumben nelpon, mau balikin pulpen?"

"Hahaha, lu masih inget aja. Gini Yo, gue mau mampir ke kosan lu. Silaturahmi." Lima menit kemudian dia muncul. Gayanya perlente. Rambut klimis pakai pomade se-kilo, jaket kulit (imitasi), rokok di tangan.

Setelah basa-basi busuk selama 15 menit, wajahnya berubah sendu. Mode Drama Queen aktif. "Yo... sebenernya gue ke sini mau minta tolong. Gue mau nikah bulan depan." "Wah, selamat Do!" "Tapi ada musibah Yo. Katering gue kurang bayar 4 Juta. Kalau besok nggak lunas, tamu undangan gue disuruh makan kerupuk doang. Lu tega liat gue dipermalukan?"

"Waduh Do... Gue ada sih duit, tapi buat beli motor..." Aldo langsung menyambar tangan kananku, menggenggamnya erat, matanya berkaca-kaca. "Yo, motor bisa nunggu. Tapi harga diri gue sebagai pria? Tolongin gue Yo. Gue janji, DEMI TUHAN, abis Lebaran Haji duit lu balik! Kan gue dapet amplop kondangan. Nanti gue lebihin deh jadi 4 juta setengah!"

Disinilah kelemahanku: Aku nggak bisa liat cowok nangis (jijik soalnya). Dan aku bodoh. "Yaudah Do. Nih." Aku memecahkan celengan ayam itu. Aldo tersenyum lebar, lebih lebar dari joker. "Lu emang sahabat sejati Yo! Lebaran Haji lunas!"

PLOT TWIST: Lebaran Haji lewat. Tahun Baru Islam lewat. Natal lewat. Imlek lewat. Nyepi lewat. Setiap ditagih, alasan Aldo makin nggak masuk akal: Bulan 1: "Bini gue ngidam sate landak." Bulan 3: "Kucing gue hamil di luar nikah, butuh biaya USG." Bulan 6: "Gue disantet saingan bisnis, duitnya buat bayar dukun." Bulan 12: Nomornya tidak aktif. Akun FB hilang. Aldo lenyap seperti ninja desa Konoha.

Duitku raib. Aku kembali makan roti seribuan.

Setahun berlalu. Aku berhasil mengumpulkan lagi uang 4 Juta dengan metode diet yang lebih ekstrem: Fotosintesis. Aku cuma berjemur tiap pagi biar kenyang (bercanda).

Aku cari yang murah aja di Facebook. Ketemulah iklan: "JUAL BUTUH. SUPRA X 125. TAMPILAN GAGAH. 2 JUTA NETT. MINUS: PEMAKAIAN WAJAR."

Murah banget! 2 Juta! Sisa 2 juta bisa buat tumpengan. Aku langsung janjian COD. Aku bawa adikku, Jefri, sebagai bodyguard. Jefri badannya gede, mukanya kayak debt collector, padahal kalau lihat kecoak jeritannya lebih melengking dari pada jeritan gadis.

Sampai di lokasi. Penjualnya bapak-bapak kurus kering, matanya jelalatan, pakai kacamata hitam padahal udah jam 5 sore. Mencurigakan? Sangat. Tapi aku sudah dibutakan oleh nafsu memiliki motor.

Aku liat motornya. Bodi hitam mengkilap (bekas disemir ban kayaknya). "Mesin oke Pak?" "Wah, halus Mas! Nyaris tak terdengar! Kayak mobil listrik!" klaim si Bapak. Aku coba starter. Jreng! Nyala. Suaranya agak krek-krek-krek, tapi kata Bapaknya: "Itu karakter suara Supra Mas, sporty." Aku percaya aja. Tolol memang.

"Surat-surat Pak?" "STNK ada. BPKB... anu... hanyut pas banjir. Tapi aman Mas!" Karena murah, aku bayar. 2 Juta tunai. "Jef, ayo pulang! Abangmu sekarang Rider sejati!" kataku sombong.

Aku memacu motor itu pulang. 500 meter pertama: Aku merasa seperti Valentino Rossi. Angin menerpa wajahku. Kilometer 1: Mulai ada suara aneh. Klotok... klotok... BRAK! Ada benda jatuh. Aku nengok ke belakang. Knalpotnya copot. Menggelinding di aspal. "Hah?!" Aku berhenti, memungut knalpot panas itu dengan tangan dilapisi jaket. "Gapapa, nanti diiket kawat," hiburku.

Lanjut jalan lagi (sambil megangin knalpot di tangan kiri). Kilometer 2: Motor tiba-tiba brebet parah. Pfft... pfft... Lalu... MOGOK. Aku coba starter elektrik. Ctek... Hening. Akinya wafat. Oke, engkol kaki. Aku injak engkolnya. KRAK! Tuas engkolnya patah. Patah beneran, misah dari mesin. Sekarang aku berdiri di pinggir jalan memegang knalpot di tangan kiri, dan tuas engkol di tangan kanan. "Ini motor apa Lego sih?! Kok protol semua?!"

Aku terpaksa mendorong. Baru dorong 10 meter, tiba-tiba aku merasa jok motornya goyang. Gubrak! Jok motornya lepas. Engselnya ternyata cuma diiket pakai kabel ties (tali tis). Sekarang inventarisku bertambah: Tangan kiri knalpot, tangan kanan tuas engkol, ketiak menjepit jok motor.

Aku mendorong motor telanjang (tanpa jok, tanpa knalpot) itu sejauh 5 kilometer. Orang-orang di jalan menatapku bingung. Mungkin dikira aku pemulung besi yang kebetulan nemu rangka motor.

Sampai di rumah, Jefri menyambutku dengan tatapan iba. "Bang, lu beli motor apa beli puzzle?" Aku tidak menjawab. Aku mau parkir. Aku injak standar tengah. KRETEK... BLAM! Standarnya patah. Motor ambruk ke kiri. Spion pecah. Lampu sein copot.

Aku duduk bersimpuh di samping bangkai motor itu. Dalam waktu 2 jam, motor seharga 2 juta itu telah terurai menjadi komponen-komponen terpisah. Ini bukan "Minus Pemakaian Wajar" Pak! Ini "Minus Pemakaian Perang Dunia"!

Besoknya aku bawa ke bengkel (didorong lagi). Montirnya, Mas Agus, pas liat motor itu langsung istighfar. "Astagfirullah... Mas Cahyo, ini motor abis keinjek Godzilla?"

Mas Agus membongkar mesin. Lalu dia ketawa ngakak sampai guling-guling di oli. "Mas! Sini liat! Karburatornya ditambal pake PERMEN KARET!" "Hah? Serius Gus?" "Iya! Terus pistonnya... Masya Allah... ini piston apa kaleng sarden? Udah baret parah. Rantainya udah tajem banget bisa buat motong kayu. Kabel bodinya pake kabel earphone disambung-sambung."

"Biaya benerin berapa Gus?" "Waduh... mending beli baru Mas. Ini kalau dibenerin abis 3 juta. Itu pun nggak janji bisa jalan lurus. Rangkanya udah miring, bekas tabrakan maut kayaknya."

Aku pulang dengan hati hancur. Beli 2 juta. Perbaikan 3 juta. Total 5 juta buat motor rongsokan bodong. Aku resmi menjadi Duta Kebodohan Nasional.

Aku depresi. 2 hari aku cuma tiduran di kamar, menatap cicak di dinding, berharap cicak itu menjatuhkan uang gepokan. Ibuku nggak tega. Akhirnya beliau memanggil bala bantuan.

Datanglah dua Pamanku. Legend di keluarga kami.

  1. Pakde Broto : Mantan atlit panco dan kuli pelabuhan. Biceps-nya lebih gede dari kepalaku. Kalau dia nepuk nyamuk, nyamuknya nggak mati, tapi meledak jadi debu.
  2. Paman Tio : Mantan preman terminal yang tobat jadi satpam. Punya tato naga di punggung yang kalau dia marah, naganya ikutan melotot.

"Siapa yang nipu kamu Le?" tanya Pakde Broto sambil meremas kaleng biskuit Khong Guan (kosong) sampai gepeng pake satu tangan. Krekk. "Orang Facebook Pakde. Namanya Rudi." "Cari alamatnya. Sekarang."

Kami melacak si Rudi. Ternyata dia tinggal di kontrakan kumuh di pinggir kota. Kami bertiga (Aku, Pakde, Paman) mendatangi markas musuh naik RX-King Paman Tio bonceng tiga (iya, kayak cabe-cabean, tapi versinya om-om sangar).

Sampai di sana, si Rudi kaget. Dia lagi santai ngerokok pake kacamata itemnya. "Lho? Mas yang beli motor? Kenapa? Mau beli lagi?" tanyanya tanpa dosa.

Pakde Broto maju. Tanpa ba-bi-bu, dia mengangkat sebuah galon air penuh yang ada di teras si Rudi, lalu menaruhnya di meja dengan satu jari. BRAKK! Mejanya retak. "Motor yang kamu jual ke keponakan saya, itu motor atau rongsokan?" tanya Pakde kalem tapi mencekam.

Paman Tio di belakang cuma diem, tapi dia mulai menggulung lengan bajunya, memamerkan tato naga yang lagi glowing. Rudi gemetar. "A-Anu Pak... itu kan jual putus..."

"Duitnya mana?" potong Pakde. "U-Udah abis Pak... buat bayar utang..." Pakde Broto mendekatkan wajahnya ke Rudi. "Yaudah. Kita itung-itungan fisik aja. Satu gigi dihargai 100 ribu. Mau copot berapa gigi buat ganti 2 juta? 20 gigi?"

Rudi pucat pasi. Dia langsung bersujud di kaki Pakde. "AMPUN PAK! JANGAN GIGI! SAYA CARIIN DUITNYA!" Dia lari ke dalem, bongkar-bongkar lemari, mecahin celengan anaknya, minjem duit tetangga. Terkumpul 1,5 Juta. "Cuma ada segini Pak... Sumpah..."

Pakde mengambil duit itu. "Oke. Sisanya 500 ribu, saya anggap biaya sewa kamu masih boleh napas hari ini. Jangan nipu orang lagi. Atau besok saya dateng lagi buat cabut gigi."

Kami pulang. Motor rongsokan itu kami tinggal di sana. "Nih Le, balik 1,5 juta. Bersyukur. Daripada ilang semua," kata Pakde.

Aku memegang uang 1,5 juta itu. Ditambah sisa tabungan 2 juta. Total 3,5 juta. Pakde Broto menepuk pundakku (aku hampir ambruk saking kerasnya tepukan itu). "Le, Pakde tambahin 2 juta. Tapi inget! Beli di Showroom Mokas resmi! Ajak Paman Tio buat ngecek mesin! Kalau sampe lu beli rongsokan lagi, lu yang Pakde piting!"

Besoknya, aku beli Honda Revo di dealer mokas resmi. Surat lengkap. Pajak hidup. Mesinnya alus, bukan suara kaleng rombeng. Saat aku naik motor itu pertama kali... rasanya ajaib. Joknya nggak copot! Knalpotnya nggak gelinding! Standarnya kuat! Dan yang paling penting: Di starter langsung nyala!

Aku menangis haru di balik helm. Air mataku menetes membasahi pipi, mengenang kebodohanku selama 3 tahun terakhir. Hidup memang keras, Kawan. Tapi akan lebih keras lagi kalau kamu bodoh dan punya teman sok akrab yang minjem duit lalu menghilang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Diet Fotosintesis Demi Motor
cahyo laras
Flash
DESTINY
Aston V. Simbolon
Komik
Drama si kucing
mutiara yustika
Flash
Kebiasaan Buruk
Impy Island
Cerpen
Cintaku Bertepuk Sebelah Treadmill
cahyo laras
Flash
CERITA AMPAS
Tirani K. C.
Komik
Gold
Benyamin Biang Kerok
Kwikku Creator
Flash
Bronze
Sahwa dan George
Diyah Ayu NH
Flash
Tawa Tiwi
Binar N
Flash
Bronze
Kalau Kambing Bisa Ketawa...
Shabrina Farha Nisa
Flash
Rindu
Aulia Khusna
Cerpen
Celana Pensil
Astromancer
Flash
Satu Jam Saja
Hans Wysiwyg
Cerpen
Jangan Ge-Er, Dia gitu ke semua orang
cahyo laras
Flash
KUE 1.. 2.. 3..
Kiki Isbianto
Rekomendasi
Cerpen
Diet Fotosintesis Demi Motor
cahyo laras
Cerpen
Cintaku Bertepuk Sebelah Treadmill
cahyo laras
Cerpen
Jangan Ge-Er, Dia gitu ke semua orang
cahyo laras
Cerpen
Jangan Hina Istriku!!!
cahyo laras
Cerpen
Lolos Tilang, Harga Diri Hilang
cahyo laras
Cerpen
Me Vs Trio Mokondo Sok Kaya
cahyo laras
Cerpen
Butuh Healing gara gara Healing
cahyo laras
Cerpen
Percaya Mitos Yang Kurang Lengkap
cahyo laras
Cerpen
Split Bill, Split Hidup
cahyo laras
Cerpen
Kurir Dikira Debt Collector
cahyo laras
Cerpen
Asam Lambung dan Cinta Buta
cahyo laras
Cerpen
Asmara Yang Bikin Jantung Copot
cahyo laras
Cerpen
Korban Prospek
cahyo laras
Cerpen
Kesenjangan yang terlalu senjang
cahyo laras
Cerpen
Jiwa Lelaki Meronta, Otot Minta Pulang
cahyo laras