Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
DIA YANG TIDAK PERNAH TERSENYUM
3
Suka
1506
Dilihat

DIA YANG TIDAK PERNAH TERSENYUM

Ada banyak sekali senyuman yang pernah aku lihat dari begitu banyak orang. Dari orang yang kukenal atau dari orang-orang yang hanya kutemui di suatu acara dan tidak begitu aku kenali. Senyuman-senyuman mereka beraneka warna. Itu menurutku! Ada senyuman yang warnanya merah jambu karena mereka tersenyum dengan manis. Ada senyuman yang warnanya putih karena mereka tersenyum dengan tulus. Ada senyuman yang warnanya hijau karena mereka tersenyum dengan hangat dan bersahabat. Dan ada senyuman yang warnanya kuning karena mereka tersenyum untuk menyapa. Ada banyak sekali senyuman yang indah dari begitu banyak orang yang selalu kuingat warna senyuman mereka. Dan semua senyuman dengan warna-warna dari hatiku itu, aku berharap dapat terus melihatnya. Di dalam senyuman-senyuman yang orang-orang miliki yang hadir untuk mereka sendiri bahkan orang lain adalah indikasi kebahagiaan. Jadi, saat orang-orang tersenyum, orang-orang menampakkan kebahagiaan dan kehangatan dari hati mereka. Maka senyuman-senyuman itu sangat indah! Aku sangat menyukai senyuman-senyuman mereka. Semakin banyak orang tersenyum, dunia semakin indah. Kehidupan pun dipenuhi dengan kebahagiaan.

Menyukai senyuman dari banyak orang aku pun suka tersenyum. Senyuman hangat untuk persahabatan. Senyuman manis untuk penghargaan terhadap seseorang. Senyuman tulus untuk sesama. Senyuman menyapa untuk semangat pertemanan. Aku ingin tersenyum dan terus tersenyum, karena aku ingin selalu bahagia. Tapi tidak pernah terpikir olehku jika ada orang yang tidak pernah tersenyum. Dan ketika aku menemukan orang seperti itu benar-benar ada, aku sangat tidak percaya. Jika orang itu benar-benar tidak pernah tersenyum. Namanya Billa, ia anak tetanggaku yang kaya raya, yang baru datang dari jauh. Ia terkesan sebagai orang yang pendiam. Namun meski begitu ia tetap rajin membantu ibunya yang berjualan bakso. Bahkan ia sangat rajin mencuci semua mangkok-mangkok kotor. Jangan heran! Aku adalah salah satu karyawan tetap dari restoran bakso orang tua Bila. Aku tukang masak di restoran itu. Jadi, hampir setiap hari aku bertemu dengan Billa dan setiap hari pula aku tidak pernah melihatnya tersenyum.

"Pagi Billa!" Aku menyapa dengan senyuman. Billa hanya membalas sapaanku tanpa membalas dengan senyuman.

"Pagi juga!" Katanya lalu kembali acuh. Kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sama sekali tidak ingin tersenyum. Dan tidak akan ada senyuman darinya. Aku hanya bisa heran. Billa bukannya tidak ramah. Tapi ia hanya tidak mau tersenyum apalagi bersikap manis pada orang disekitarnya. Kenapa Billa seperti itu?... selalu saja rasa ingin tahu membuatku ingin mencari tahu penyebabnya.

Tidak ada yang aneh dengan Billa. Ia hanya tidak mau tersenyum. Ia justru orang yang sangat rajin dan tampak selalu sibuk bekerja. Merapikan meja dan kursi restoran. Mengelapnya sampai bersih sekali. Bahkan semua mangkok-mangkok restoran terus menerus di lap sampai mengkilap. Bisa dibilang Billa itu adalah tipe orang yang sangat suka bekerja. Beruntung sekali orang tuanya mempunyai anak yang sangat rajin seperti dia.

Jam makan siang untuk karyawan. Aku ingin membuat Billa tersenyum.

"Billa tahu nggak?... aku akan memanggil badut hari ini untuk menghibur kita semua!" Beritahuku pada Billa seperti sebuah surpraise.

"Benar kah?" Kata Billa setengah bertanya dengan heran.

"Tentu saja Billa! Badut kita ini sangat spesial!" Lalu muncul lah temanku yang gendut dengan gayanya yang kocak seperti badut mulai bertingkah dan melakukan atraksi kecil-kecilan ala badut. Aku dan teman-temanku yang lain tertawa dan tergelak. Tapi tidak dengan Billa. Ia hanya menatapnya saja tanpa ekspredi dan wajahnya tidak sedikit pun menunjukkan akan menghadirkan senyuman. Ia sama sekali tidak terhibur. Aku merasa geli dengan tingkah kocak Ablal gendut teman kesayangan kami yang paling kocak dan doyan ngebadut itu. 

"Apanya yang lucu?" Kata Billa kesal. Ia malah mengomel dan merasa terganggu. Lalu berkonsentrasi pada makanannya. Ia sibuk makan tanpa bicara. Kalau sudah begitu. Billa pasti mengacuhkan semua orang. Jangan kan tersenyum, Billa malah menjadi kesal pada kami semua. Kami tidak sukses membuat Billa tersenyum hari ini.

Apa orang tanpa senyuman itu adalah orang yang tidak bahagia?... bagiku orang-orang yang jarang tersenyum itu adalah orang-orang yang kurang bahagia. Walau terkadang aku juga berpikir kalau mungkin banyak orang menyembunyikan dukanya dibalik senyuman. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak mau tersenyum?... Billa menjadi orang yang membuat begitu banyak pertanyaan padaku. Dia yang tidak pernah tersenyum itu. Apa memang ia benar-benar tidak suka tersenyum, atau justru tidak ingin tersenyum?

Ada banyak orang pendiam dengan sedikit bicara. Tapi rata-rata mereka masih tersenyum. Paling tidak sekedar untuk membalas senyuman yang menyapa mereka. Berbeda dengan Billa. Ia tidak pernah seperti itu. Namun seiring waktu akhirnya kami mulai tahu sesuatu tentang Billa. Billa itu anak yang baik. Ia nyambung dalam obrolan. Terbukti saat ia mengobrol tentang sesuatu hal dengan Dilno. Mereka menceritakan tentang makanan favorit yang ingin mereka buat sendiri dan ternyata berhasil.

"Aku terus mencobanya sampai bisa! Ternyata rasanya cukup enak!" Kata Billa bersemangat menceritakan keberhasilannya membuat batagor kesukaannya. Tapi lagi-lagi tanpa senyuman.

"Kalau aku sih rasanya tidak terlalu buruk! Tapi hanya aku yang akan menyukainya karena dilihat dari bentuknya saja orang lain tidak akan tertarik memakannya!" Kata Dilno geli. Ia pun terbahak karena teringat batagor yang pernah dibuatnya.

"Yang penting kau membuatnya untuk dirimu sendiri!" Kata Billa tanpa ikut tertawa. Tersenyum sedikit pun tidak. Aku sampai terheran-heran. Kapan sih orang ini bisa di lihat tersenyum? Apa yang membuatnya tidak tersenyum walau untuk satu kali pun. Benar-benar aneh! Aneh? Tentu saja! Di dunia ini aku baru menjumpai orang yang setiap hari tampak normal dan bergaul dengan baik di lingkungan kerjanya tapi tidak pernah tersenyum. Bukan kah itu aneh! Aku bingung sekali. Kenapa sih aku jadi sepenasaran ini pada si Billa. Aku jadi kebingungan sendiri. Tapi apa boleh buat aku hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati seperti ini. Mungkin suatu hari aku akan melihat Billa tersenyum. Mungkin ini hanya soal waktu. Nantinya pasti Billa akan tersenyum, dan aku bisa melihatnya.

"Dilno... kau pernah lihat Billa tersenyum tidak?" Tanyaki sepulang kerja di parkiran motor karyawan.

"Selama aku melihatnya, aku tidak pernah lihat si Billa tersenyum! Aneh sih.... selucu dan sekonyol apapun tingkah orang disekitarnya, ia sama sekali tidak peduli dan tidak mau tertawa... baginya tidak ada yang lucu! Tersenyum pun dia tidak!" Komentar Dilno. Ternyata ia juga merasa Billa aneh karena tidak pernah terlihat tersenyum.

"Menurutmu Billa aneh nggak?" Lagi-lagi aku bertanya dengan penasaran.

"Ya aneh lah! Tapi dia baik dan aysik aja diajak ngobrol!" Jawab Dilno lagi dan berpendapat.

"Iya. Dia memang normal, tapi masalahnya ia aneh karena tidak pernah tersenyum!" Kataku pada Dilno.

"Ya, mau gimana orang tidak mau tersenyum, masa di paksa?" Kata Dilno tidak lagi mempermasalah kan keanehan Billa. Ia cukup senang dengan Billa apa adanya sebagai teman.

"Mana bisa lah dipaksa!... mungkin suatu hari nanti, Billa bakal tersenyum kok!" Kata Dilno lagi setelah tiba-tiba bergumam dan sibuk mikir sendiri memecah diamnya kami yang tiba-tiba sibuk memikirkan keanehan Billa dan sesaat jadi terdiam tadi.

"Kita hanya belum melihatnya saja! Mana mungkin di dunia ada manusia yang tidak pernaj tersenyum!" Kataku yakin dan sangat yakin masalah Billa hanya soal waktu saja. Dan karena itu kami semua harus menunggu. Menunggu untuk melihat senyuman Billa.

"O, ya Harsan! Semuanya berteman kan dengan si Billa? Ada nggak yang belum temenan dengan dia?" Dilno mencari tahu lagi soal si Billa. Soalnya ia pelayan yang masuk sore. Ia menggantikan teman kami yang gilirannya dari pagi sampai menjelang sore.

"Setahuku Billa mau saja berteman sama siapa saja! Tidak tersenyum, bukan berarti dia orang yang sombong kan?" Kataku berpendapat dan kedengarannya bijak tapi kocak. Dilno tertawa. Sejenak kami diam dan bersantai sebelum memulai obrolan lagi.

"Har... si Billa seperti itu, jangan-jangan karena dia habis bedah plastik?" Seru Dilno dengan wajah serius. Konyol!

"Jangan ngomong sembarangan kamu! Kalau Billa tahu, habis kau dilabrak sama dia!" Omelku pada si konyol Dilno.

"Kali kalii aja Har!.... habis dia nggak pernah senyum gitu!" Gerutu Dilno yang ternyata juga sangat penasaran pada sisi aneh Billa. Dia yang tidak pernah tersenyum itu otomatis menghadirkan rasa penasaran pada semua orang. Dan selama ini aku tahu, tidak hanya aku yang berusaha membuatnya tersenyum. Teman-temanku yang konyol itu ternyata juga melakukan hal-hal yang lucu agar bisa membuat Billa tertawa. Sampai hari ini mereka belum ada yang berhasil. Akhirnya mereka menjadi bosan dan membiarkan Billa dengan keanehannya itu dan berharap suatu hari nanti mereka akan melihat dia tersenyum. Dan kami semua yakin kalau kami akan melihatnya.

Semua orang akrab dengan Billa. Semua orang kagum dengan Billa yang super rajin. Kami semua menjadi teman baik Billa. Sampai pada suatu hari Billa tidak masuk kerja karena sakit.

"Aku baru tahu Har kalau si Billa cuma anak tiri bos kita!" Kata Dilno setengah berbisik.

"Kamu tahu darimana?" Tanyaku kaget. Aku pun ikutan bisik-bisik.

"Dari bos kita sendiri! Aku tanya langsung ke dia... kataku, anak ibu bos hebat banget mau bekerja dari nol! Terus bos bilang kayak gini sama aku... ya mau lah dia!... cuman anak tiriku!" Dilno pandai sekali meniru. Gaya bicaranya mirip sekali dengan bos kami. Aku hampir tergelak dibuatnya. Ia lucu sekali!

"Beneran Billa cuma anak tiri ibu bos?" Lanjut Dilno meneruskan ceritanya.

"Ya iya lah! Anak aneh itu bukan anak kandungnya aku!" Dilno mengakhiri ceritanya. Wajah kocaknya surut konyolnya menjadi sedih memikirkan Billa.

"Kasihan Billa ya Har?... mungkin dia tidak bahagia!" Gumam Dilno mendadak galau. Aku tertegun mendengar ucapan-ucapan dari Dilno. Mungkin Dilno benar. Billa mungkin tidak pernah tersenyum karena ia adalah anak tiri! Hidup anak tiri pasti menderita! Aku terus berpikir begitu tentang anak-anak yang punya orang tua tiri yang jahat. Pantas saja Billa seperti itu. Pantas saja setiap hari ia tidak pernah tersenyum, karena ia tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua yang mencintainya. Orang tua tirinya ternyata tidak menyayangi Billa. Sungguh nasib Billa amat memprihatin kan. Aku dan Dilno menjadi sedih. Apalagi mendengar kabar kalau Billa sakit. Kami dan semua teman-teman ingin menjenguk Billa yang malang.

"Ibu bos... kami boleh kan jenguk Billa?" Pinta si gendut Ablal pada bos kami dengan serius tapi santai.

"Nggak usah! Nggak perlu ada acara jenguk-jenguk segala! Besok juga si Billa sudah sembuh dan masuk kerja lagi!" Kata si ibu bos galak dan tidak mengizinkan kami semua datang ke rumahnya untuk menjenguk Billa. Aku dan teman-temanku jadi dongkol. Padahal kami sangat ingin melihat keadaan Billa. Tapi yang benar saja si Billa besok sudah sembuh dan kerja lagi. Sementara itu Ablal kurang puas dengan penolakan dari ibu bos, ia beraksi lagi.

"Cuma sebentar saja bos! Kami cuma mau lihat keadaan Billa!" Pintanya lagi agak ngotot.

"Cukup ya Ablal! Kamu nggak usah berlebihan Ablal! Si Billa itu baik-baik aja di rumah! Ia cuma butuh istirahat dan makan yang banyak aja!... besok kalian bisa lihat sendiri ia sudah sehat!" Kata ibu bos dengan sangat gusar dan melotot galak pada kami semua. Apa boleh buat kami semua tidak berani membantahnya. Ablal pun akhirnya menyerah dan sepakat dengan kami untuk menunggu Billa besok di tempat kerja. Semoga dia besok sudah sehat seperti yang ibu bos bilang. Semoga Billa teman kami baik-baik saja!" Harapku dengan penuh doa untuk Billa.

Malam dengan hujan deras. Aku tidak bisa tidur. Malam ini terasa panjang. Aku berpikir lagi tentang senyuman. Ada banyak sekali senyuman yang kulihat dan kuingat dari banyak orang. Namun ada banyak senyuman juga yang sengaja aku lupakan. Senyuman terpaksa. Senyuman tanpa arti. Bahkan senyuman sombong seseorang. Aku tidak mau mengingatnya. Tapi tadi itu ketika ibu bos tersenyum pada kami yang datang meminta izin untuk menjenguk Billa, ia tersenyum dengan enggan alias terpaksa. Ia memang jelas-jelas tidak suka kami semua peduli pada Billa. Dalam sorot matanya terpancar kebenciannya pada Billa ketika kami menyebut nama Billa di depannya. Tega sekali ibu bos pada Billa. Namun yang membuatku tidak habis pikir. Ibu bos juga tidak mengizinkan aku berkunjung. Padahal rumah kami cukup dekat dan beliau adalah tetanggaku. Sikap ibu bos sekaligus tetanggaku itu sungguh menjengkelkan sekali. Untung saja ia bilang Billa baik-baik saja dan ia memastikan Billa besok sudah sehat dan masuk kerja lagi, jadi aku sudah tidak mengkhawatirkan Billa. Rasanya tidak sabar lagi besok bertemu dengan Billa. Aku ingin bicara padanya dan menanyakan sesuatu yang sangat penting dengan Billa.

Kami datang lebih awal di tempat kerja dari biasanya. Demi Billa itu pasti! Ternyata ibu bos tidak membohongi kami. Billa sudah sehat dan masuk kerja lagi. Kami semua menjadi lega dan senang sekali. Buru-buru kami semua datang menghampiri Billa. Dan entah kenapa melihat wajah-wajah kami semua, mendadak Billa tergelak dan tertawa terbahak-bahak.

"Ya ampun... lucu sekali! Benar- benar lucu!" Seru Billa sambil terus tergelak menatap wajah-wajah kami semua. Apa benar yang Billa lihat dan sedang ia tertawakan? Kami semua pun saling pandang. Tidak ada yang aneh dengan kami. Hanya saja Billa tertawa tidak henti-hentinya. Ini benar-benar aneh!

"Lucu!... lucu sekali orang-orang ini!" Sorak Billa girang sekaligus histeris lalu tergelak-gelak lagi. Ia benar-benar terus berteriak-teriak dan juga aysik tertawa menertawakan kami semua.

Dilno, Ablal, aku dan semua teman-temanku syok. Billa sudah dibawa pergi ibu bos. Ia harus pulang. Billa tidak henti-hentinya tertawa menertawakan kami. Dan itu semua terjadi bukan tanpa sebab.

Ada terapi khusus dibalik bekerjanya Billa di restoran selama hampir 2 bulan ini. Billa bekerja dengan baik dan terapinya itu berjalan lancar. Dengan bekerja Billa menjadi sibuk. Kesibukan akan membantu Billa dan menjadi terapi yang ampuh bagi Billa. Ia semakin membaik. Ia menjadi suka bekerja dan rajin sekali. Tapi entah apa yang terjadi di dalam diri Billa? Billa yang nyaris sembuh, kini kambuh. Dia yang tidak pernah tersenyum itu menjadi tertawa terus menerus. Entah apa yang ia tertawakan, karena ia tidak henti-hentinya menertawakan sesuatu yang hanya ia sendiri yang merasakannya. Billa! Semoga badai yang mengguncang jiwanya segera berlalu. Aku, teman-temanku, kami semua mengharapkan kesembuhan Billa. Mendoakan yang terbaik untuknya. Tidak apa-apa Billa tidak tersenyum lagi asal ia seperti Billa yang tidak terlihat tersenyum, tapi jauh lebih baik dari Billa yang terus menerus tertawa.

Ada banyak sekali senyuman di dunia ini. Satu senyuman yang hilang dari Billa tidak ikut menghiasi kehidupannya sendiri. Tidak semua orang yang tersenyum bahagia. Dan yang tidak tersenyum mungkin juga tetap bahagia. Entah lah? Ketika Billa tidak pernah tersenyum setiap hari, ia baik-baik saja dan itu karena ia menyembuh. Aku terlalu terikat pada keyakinan bahwa bahagia itu identik dengan senyuman. Tidak terasa, satu tahun kami semua tidak bertemu Billa. Setahun yang lalu sakit Billa menjadi parah. Ia harus dirawat dengan serius. Lalu suatu hari Dilno yang paling dekat dengan Billa menanyakan kabar Billa pada ibu bos. Si Dilno nekat. Ia merasa harus tahu kabar tentang Billa.

"Bagaimana kabarnya Billa sekarang bos?" Tanyanya tidak peduli apa pun reaksi dari bos kami. Ia hanya ingin jawaban dari perempuan itu.

"Dia itu gila! Jadi ya begitu lah... namanya orang gila ya gila terus!" Jawabnya sangat ketus. Dilno tentu syok. Ia sedih. Ia gusar.

"Kok bos jawabnya gitu? Apa karena Billa cuma anak tiri bos?: Dilno marah. Ia tidak terima ibu bos berkata seperti itu tentang Billa.

"Memanggnya kenapa? Apa masalah kamu? Berani sekali kamu marah-marah sama saya!... kamu mau saya pecat?" Ibu bos menjadi jauh lebih marah dan mengancamnya. Tapi Dilno terlanjur kalap. Ia menentangnya.

"Baik kalau ibu mau pecat saya... saya tidak keberatan! Tapi ibu harus tahu, ibu itu sudah jahat sama Billa!... ibu akan menyesal!" Serunya pada ibu bos lalu bergegas pergi dari resto. Ia benar-benar berhenti bekerja dengan satu alasan yang tidak pernah kami pikirkan akan membuatnya senekat itu berhenti dari pekerjaannya.

Awalnya aku pikir ia melawan ibu bos dan berhenti karena membela Billa. Ternyata aku tidak benar sepenuhnya. Dilno benar-benar peduli pada Billa.

"Ibu tiri Billa itu harus ditegur Har! Ia harus tahu kalau kita semua tahu kalau ia sudah jahat sama Billa!" Dilno mengungkapkan alasannya keluar dari restoran.

"Iya No... kamu benar!" Kataku setuju. Sependapat dengan Dilno.

"Kita harus cari tahu dimana Billa dirawat, jika dia masih sakit." Kataku pada Dilno dan karena kepikiran terus tentang nasib Billa dan keadaannya satu tahun ini.

"Aku sudah tahu dimana Billa Har!" Kata Dilno. Aku surpraise sekali. Apa yang dikatakan adalah kabar yang sangat menggembirakan bagiku.

"Yang benar?... serius?" Seruku bersemangat.

"Dia... dia... kita kesana saja Har!" Kata Dilno kemudian menarik tanganku dengan terburu-buru agar aku cepat-cepat ikut pergi dengannya. Aku pun tidak keberatan segera pergi bersama Dilno. Dengan gegas kami naik motor untuk pergi ke tempat Billa.

Sama seperti yang pernah kulihat. Billa sibuk bekerja. Begitu sibuk. Begitu rajin. Ia benar-benar menumpahkan seluruh perhatiannya pada pekerjaannya. Aku dan Dilno sangat terharu melihatnya.

"Ia sudah membaik lagi Har!" Ucap Dilno lirih. Aku mengangguk haru. Mataku berkaca-kaca.

"Tapi aku tidak tahu kenapa, aku tetap sedih melihatnya meski ia telah membaik Har!" Keluh Dilno menyesalkan dirinya yang tetap bersedih saat melihat Billa di depan kami. Billa yang dipenuhi kesibukan sebagai terapi khususnya lagi. Ia bekerja di sebuah pabrik makanan. Bagian pengemasan. Ia membutuhkan konsentrasi yang bagus untuk berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya dan Billa mendapatkannya. Ia cocok dengan pekerjaan barunya itu dan kesibukan bekerjanya kembali menenangkannya dari sakit jiwanya. Ia tidak lagi sibuk tertawa seperti kemarin ketika sakitnya kambuh.

"Har... Billa tidak akan pernah tersenyum lagi kan?" Gumam Dilno seakan ia tahu, Billa tidak akan pernah tersenyum untuknya, untukku, untuk kami dan untuk siapa pun bahkan untuk dirinya sendiri. Apakah Billa akan begitu terus menerus?... perjalanan kehidupan masih panjang. Dan kehidupan selalu memiliki banyak senyuman. Bagaimana pun Billa masih punya harapan. Dia yang tidak pernah tersenyum suatu hari nanti mungkin akan tersenyun kembali. Bukan kah manusia tidak boleh berhenti berharap. Dan tidak ada seorang pun dalam hidup ini yang tidak memiliki harapan. Jadi harapan selalu ada bersama kehidupan itu sendiri. Dilno dan juga aku harus melihat lebih dalam pada wajah kehidupan. Akhirnya aku menggeleng pada Dilno sebagai jawaban. Dan jawaban lain untuk Dilno akan hadir dengan ucapan.

"Billa pasti akan tersenyum lagi no!" Jawabku yakin. Harapan memenuhiku. Terus meyakinkanku bahwa senyuman Billa akan kembali. Untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang menyayanginya. Ya Billa harus tahu ia punya teman-teman yang menyayanginya dan akan selalu ada untuknya. Yaitu Dilno, aku, dan semua teman-teman. Kasih sayang akan menjadi obat terampuh untuk jiwa yang sakit dan kasih sayang akan mengalahkan kebencian. Tidak ada seorang manusia pun yang menang melawan Cinta saat cinta dihadirkan dalam kehidupan manusia. Cinta dari kasih sayang sejati akan memberikan banyak senyuman yang semua orang impikan mereka miliki.

Hari ini aku tersenyum. Senyuman kebahagiaan. Betapa harapan telah menghadirkan keyakinanku untuk terus menunggu datangnya hari bahagia itu. Apalagi Dilno.

"Billa! Ini batagor buatanku sendiri... coba lihat bentuknya sudah membaik kan?" Seru Dilno senang sekali memamerkan batagor buatannya itu.

"Aku masih ingat ceritamu tentang batagr buatanmu! Dan yang ini bentuknya hampir sempurna!" Kata Billa kagum, membuat Dilno senang bukan kepalang dan terkagum-kagum pada batagor buatannya itu. Lalu mereka makan bersama. Saat itu aku melihat Dilno sangat bahagia. Billa juga. Aku hampir lupa dan Dilno tidak menyadarinya saat Billa tersenyum. Aku benar-benar seperti melihat mimpiku jadi kenyataan.

Sangat sebentar dan nyaris sama seperti mimpi. Saat senyuman itu hadir. Namun telah hadir dan hari itu Billa tersenyum untuk dirinya sendiri. Dia yang tidak pernah tersenyum, senyumannya menjadi senyuman paling istimewa dan bermakna khusus dari begitu banyaknya senyuman yang aku lihat. Senyuman Billa adalah senyuman kebebasan! Senyuman yang bebas dari penderitaan dan sakit Billa selama ini. Setelah ia tersenyum lagi, ia akan mengalahkan segala penderitaan dan rasa sakit di kehidupannya. Dan memang benar Billa dinyatakan sembuh total. Dilno adalah orang yang paling bahagia. Ia menghadirkan sebuah senyuman paling istimewa yang aku lihat. Cinta! Senyuman cinta dari Dilno akan melengkapi senyuman Billla yang telah kembali dan aku sangat mendukung harapan Dilno dan cintanya pada Billa. Mereka harus bersatu dan meneruskan kebahagiaan mereka.

Hari ini aku tersenyum dengan senyuman paling spesial. Senyuman untuk Billa dan Dilno yang akan segera menikah. Senyuman paling tulus di kehidupanku. Dia yang dulu bagiku tidak pernah tersenyum. Dia lah yang menghadirkan senyuman tulus dariku. Akhirnya dari begitu banyak senyuman yang kulihat. Aku memiliki salah satu senyuman yang paling berharga untuk seorang manusia. Senyuman yang tulus.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Putri Penenun Bintang
Kemal Ahmed
Cerpen
Jadi, Boleh Aku Mencintaimu?
Shinta Puspita Sari
Cerpen
Bronze
Sepotong Kue Enak
Nana Sitompul
Cerpen
Bronze
Penjudi juga Boleh Berdoa
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
I'm 100 Percent of Indonesian
Nuel Lubis
Cerpen
Pejuang 50 KG
Winter
Cerpen
Salah Siapa?
aksara_g.rain
Cerpen
Sepatu Kiri Naima
Rina F Ryanie
Cerpen
Bronze
Cinta 2 Stick
Emma Kulzum
Cerpen
Bronze
Kucing - kucing liar
Ratih Setyorini