Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku tidak pernah melupakanmu di sini. Pada setiap langkah yang terjejak dalam tanah. Pada uraian kata yang terpatri oleh sukma.
Dirimu bukanlah kenangan termanis dalam perjalanan zaman, melainkan nyawa yang berembus menyejukkan dahaga. Suatu masa pernah engkau buat tandus, harapan kerontang, tidak ada buah yang mekar dan dapat kau petik apalagi kau cicipi kemanisannya. Hidupmu kau rasakan tumbuh terlunta-lunta di padang pasir, kekurangan cairan, dihujani terik mentari yang menggila. Kau sering memeras peluhmu setiap malam, menjadikannya duka penuh keputusasaan. Meratapinya ribuan waktu yang datang, berusaha membunuh tidak mau mengingat.
Otakmu hanya ingin kau isi dengan hal yang indah. Kau protes dengan takdir, menuduhnya tidak pernah berbuat adil. Yang kaya semakin dilimpahkan kekayaannya, yang miskin dipenggal martabatnya. Tiap kelam kau menjamu kegelapan, mengusik ketenangan, tersedu-sedu pada airmata, meratap iba, menatap langit hampa, mengadu pilu, menghempas rindu pada ibu.
Hari itu kau tanamkan tekad, hendak meranggaskan penderitaan hidupmu. Kau ingin merevolusikan keadaan. Berjuang mati-matian. Merantau ke tanah orang. Di usaimu yang sangat belia. Tatkala senyumnya seharusnya mekar dengan ceria, kau tenggak asin pahitnya airmata. Ya. Dirimu, di balik kaca jendela, mengadu pada semesta. Rambut panjang kau biarkan terhempas angin malam. Kau benamkan bayangan pilu yang terbentang lebar di hadapan anganmu.
“Apakah Ayah mencintai Ibu dan diriku?” rajukmu dengan menidurkan kepalamu di pangkuannya. Kau dan dirinya sedang duduk manis di balkon rumah, memandang gemerlap gumintag penghias malam. Semilir angin menerbangan geraian rambut lembutmu. Ia yang kau panggil Ayah mengusap ubun-ubunmu. Ada perasaan asing, mengalir tanpa disengaja, rasa kelu hendak menitikkan pilu, namun kau menahannya.
“Semua orangtua tentu menyayangi putrinya, Sofia.” Tuturnya.
Kau seperti meragukan kalimat itu. Anganmu terhempas pada dimensi kesibukannya. Setiap pagi usai fajar terlelap, ia akan terburu-buru menenteng tasnya berangkat kerja ke kantor kelurahan, seharusnya pulang pukul 12.00 tepat, sayang ia tak melayangkan kabar jejak. Malam larut menjadi detik yang menemukannya bersama ibu dan dirimu. Ruang makan terkadang hanya diisi ketukan garpu dan sendok kesepian. Ibu menunggu, sementara yang ditunggu tidak mau mengerti.
Kau menatapnya.
“Wajahku mirip Ibu atau Ayah?”
“Mirip Ayah, Sofia. Kenapa kau bertanya seperti itu? Tidurlah! Besok kau sekolah, Anakku!”
Kau angkat kepalamu. Tubuh yang semula kau rebahkan kini kau tegakkan. Duduk melingkarkan dua tangan di hadapan lutut. Wajahmu ditengadahkan ke langit. Ia memandangmu dari samping, mengamati setiap lekuk pori di pipimu.
Malam bertambah tajam, udara membuat keluarga kunang-kunang membeku di dalam semak-semak. Balkon rumah hening. Pencahayaan neon meredup.
“Jika aku mirip Ayah berarti benar, aku anak Ayah.” Kau tak paham jika ucapanmu malam itu membuat dirinya tersentak kaget. Bulat bola matanya mendelik di bawah keremangan.
“Tentu saja kau anakku, Sofia! Kau ragu jika aku ayahmu?”
“Ayah sering sibuk main keluar, jarang ada waktu untukku dan untuk Ibu, bagaimana aku tidak ragu?” Kau yang kecil itu protes. Dirimu mengangkat tubuh, berdiri, bergegas masuk ke dalam rumah menuju kamar. Menenggelamkan kepalamu ke dalam bantal. Ia termangu menatap langkahmu yang terburu-buru.
Setidaknya malam itu adalah kejadian yang kau tandai dengan tinta merah, bahwa momen menyandarkan kepala di pangkuannya merupakan sebuah keberuntungan. Kau ingin membiaskan kenangan ketika malam selanjutnya kau dapati dirinya tersungkur di ruangtamu, memandang ibumu dengan tatapan layu, lampu hari itu sengaja tak dibenderangkan sinarnya. Pintu depan tertutup rapat. Tidak seorang pun diperbolehkan mendengarkan perbincangan yang sedang berbisik di tengah gelap. Kau mendengar suara isak, merekamnya lekat dalam otakmu hingga menjadi nisan di tempurung akalmu. Hari itu… hari di mana untuk pertama kalinya engkau memaknai perihnya perpisahan dan indahnya makna keutuhan.
Kau mengintip dari pintu ruang depan. Berdiri tak berkutik. Indra pendengaranmu sudah ditegakkan. Ruangan gelap, namun semuanya tak membuatmu buta melihat wujudnya yang pasrah di hadapan Ibumu. Entah apa yang ia katakan, suaranya lirih, angin bahkan tak mampu mendengarnya dengan jelas. Yang kau tangkap hanya bunyi isak menyakitkan sepanjang sejarah. Kau melihat tubuhnya mendadak berdiri kaku, melangkah keluar, membuka pintu dengan terburu-buru. Ibumu lari berusaha mengejar.
“Mas!”
“Mas! Sofia! Mas! Sofia!” Tak ada kata lain yang diucapkan. Mungkin tersebab Ibumu sudah tidak kuat menanggung pedih di dada. Isaknya terabaikan. Peluh yang membanjir di pipi hanya terbelai angin.
Ibumu menangis tersedu-sedu di bawah naungan malam. Kau terpaku membisu, justu menutup pintu, tak mau mengganggu perasaan ibu yang sedang berkabung.
Ada benci yang tumbuh waktu itu. Perasaan tidak nyaman yang membuatmu hidup menderita selamabertahun-tahun. Kata sayang yang pernah diucap waktu lalu bagaikan ampas tahu basi. Tak ada kisah manis yang dituturkan rindu dalam kehidupanmu, yang kau ketahui hanya perasaan asing penuh dengan kedengkian terhadap sosok lelaki terpanggil ‘ayah’ itu. Sesekali kau mengingatnya, maka airmata di pipimu jatuh berlinangan, sebab lelaki itu membuat ibumu didatangi rentenir dari bank dan mengundang cela di sekitar.
Ia pergi meninggalkan luka yang mendalam. Pergi tanpa berpikir panjang. Sangat kejam dan tidak berperi kemanusiaan. Pergi meninggalkan jejak hutang yang menggunung. Itukah cinta? Kemungkinan , di mata Ibumu cinta adalah sebuah belati yang baru saja ditusukkan ke pangkal ruhnya. Kau hari itu tuli dan buta dengan pengertian cinta dari seorang ayah. Untuk kedua kali, yang kau ketahui hanya sosok lelaki termenyebalkan di duniamu.
Mulailah dari sini, ibumu terlontang-lantung sepanjang waktu. Bekerja serabutan, terkadang mencucikan kain tetanga, terkadang juga jualan makanan keliling kampung, menawarkan dagangan murah demi mengganjal perut malam nanti. Kau hanya mampu diam, di tengah masa kanakmu, termangu tanpa perbuatan yang berarti, anak seusiamu masih senang berlarian di lapangan, menarik tali layangan milik teman lelakinya, berkejaran di padang ilalang, rajin membuat kesal Pak Kyai di kampung sebab tak kunjung hafal surat Al—Ikhlas.
Kau sosok yang seharusnya tertawa riang di waktu istirahat sekolah, bukan hanya duduk termenung sendirian di bangku taman sekolah, menatap hambar sekawanan bocah yang menggendong ransel menunggu jemputan pulang. Saat itu, kau membayangkan wajah ayahmu meski buram. Pada tahap selanjutnya kau ukir sebuah senyuman manis yang mengembang di pangkuan awan, kemudian kau pulang sendirian.
“Ibu, jika Sofia sudah lulus dari sekolahan ini, Sofia ingin bekerja membantu Ibu.” Tuturmu ketika malam bertandang. Ibumu sedang menjahitkan seragam lusuhmu yang robek. Ia adalah kain yang kau kenakan selama bertahun-tahun ketika belajar di bangku SD. Bangku yang akan menjadi benih dan bunga di masa depan. Ruang yang kelak menjadi bekal kehidupan getir di punggungmu sepanjang perjalanan.
“Jangan pernah membuat Ibu merasa bersalah Sofia, ibu akan menafkahimu dan adikmu.”
Adik? Ya. Kau mempunyai adik. Ayahmu meninggalkan dua janin bernyawa di rahim wanita yang paling mulia di matamu. Ayah yang sering pulang larut dan jarang menggendongmu itu juga melukai adikmu yang tak berdosa.
“Kau lanjutkan sekolahmu, Sofia.”
“Sofia ingin bekerja, Ibu. Bagaimana aku bisa sekolah sementara makan saja kita susah? Setiap minggu Ibu selalu didatangi penagih hutang. Jika Sofia tetap sekolah, maka beban Ibu akan bertambah.”
Ibumu merangkul bahumu. Menyandarkan kepalamu di pangkuannya. “Maafkan Ibu, kau tak seharusnya mengetahui permasalahan Ibu.”
“Izinkan Sofia merantau selulus nanti, Bu. Sofia ingin ke Jakarta. Ingin ikut tetangga kita yang bekerja di sana,”
Ibumu menatapmu pedih. Ada perih hangat yang mencair di selat mata. Ia mengusapnya perlahan dengan ujung telunjuk. Jiwanya menolak, namun keadaan membiarkanmu.
Kelulusan pun datang. Kau mendapatkan nilai tertinggi di ijazahmu. Guru-gurumu bangga, seseorang bahkan memintamu melanjutkan SMP, namun tekadmu bulat, kau tetap akan pergi meninggalkan kampung halaman untuk mengais rizki di tanah orang. Hari itu, rambutmu kau kuncir dua. Angin meniup helai demi helai ponimu. Kau yang bertubuh kecil, menggendong ransel berisi tiga potong pakaian, melangkah penuh ketakutan meninggalkan rumah. Ibumu menangis tersedu-sedu, namun ia tak mampu bergerak untuk melarangmu, kondisi ekonomi sedang sakit. Uang yang didapatkan Ibumu hanya cukup untuk makan beberapa waktu, esok nanti hanya akan mengharapkan rapalan do’a terkabulkan. Hatimu bergeligis, ‘Ibu, janganlah engkau menangis, aku akan membuatmu bahagia!’ Gumaman itu kau wujudkan.
Kau bekerja keras di usia ranummu. Memegang gagang sapu, mengelap lantai dengan kain pel. Kau menjadi pembantu rumah tangga. Realitas mencekik urat lehermu. Keluarga majikanmu berkumpul di meja makan, mereka melempar canda bersama ayah dan Ibu. Kau, kau sendirian, meringkuk di dapur, mengintip malu-malu. Lantas pembantu tua rumah itu merengkuhmu, memelukmu, membelai ubunmu.
“Kau merindukan keluargamu?” Wanita separuh baya itu jongkok di hadapanmu, menyeimbangkan tubuhnya dengan tubuhmu. “Kau sedang berimajinasi andaikan yang ada di meja makan itu adalah keluargamu?”
“Tidak.”
“Lantas? Kau lapar? Ingin makan? Mengapa matamu berkaca-kaca, Nak?”
Kau kembali menatap ruang makan. Mengamati kepala keluarga yang sedang menenggak teh hangat. Ia menyendokkan lauk ke piring putri terkecilnya. Wajahnya lembut, bersih, tampak meneduhkan pandangan. Senyumnya terbuang menyenangkan, tidak ada raut sedih di ruang makan. Dinding dan lantai marmer yang berkilat terkena tempias neon terang benderang dari pusar ruangan itu merangkum kelakar yang sangat manis. Ada kisah sang anak tertidur di kelas, Ayah menimpali dengan kekehan, Ibu yang memasak ikan namun gosong, Ayah terjebak macet di jalan ketika berangkat kerja. Semua kisah dikemas sehangat mungkin, menghadirkan rindu bertalu-talu ketika meja makan itu kehilangan satu suara.
“Jelas kau merindukan keluargamu, Nak!”
Kau menggeleng. Kau seka matamu.
“Besok aku ingin mengajakmu jalan-jalan.”
“Kemana?”
“Ke taman kota.”
“Bagaimana pekerjaan rumah?”
“Kita selesaikan secepat mungkin.”
Kau tersenyum. Ada aroma kebahagian baru yang tumbuh masih malu-malu. Malam itu usai membereskan meja makan kau langsung ke kamar pembantu, berusaha lelap, memeluk guling yang senantiasa kesepian. Raut wajah malam riang, bintang tampak berkelip dari balik jendela, kau sengaja tidak menarik tirainya, membiarkan nyawa temaram menemanimu hingga terjatuh dalam buai mimpi.
Pagi datang, kau lekas sujud, bergegas membersihkan rumah. Mengepelnya mengkilap. Mengusir debu-debu. Menyiram tanaman di teras dan di taman rumah.Merapikan kursi ruang makan. Pembantu tua rumah itu sedang meracik bumbu di dapur, kau mendekat, hendak membantu, disuruhnya kau duduk menikmati pisang goreng dengan segelas susu panas.
“Istirahtlah, kau masih kecil, jangan banyak bekerja!” Senyummu mengembang. Kau menemukan kasih sayang seorang Ibu yang kau pikir pernah hilang. Anganmu mendadak terbag ke kampung halaman, memantulkan wajah sembab Ibu yang semalaman menangis sebab ditinggalkan Ayah. Mengingat jemari Ibu mengaduk masakan di dapur sederhana, kau pun tak melupakan pelukan Ibu di malam yang menggigil. Ada rindu yang datang tiba-tiba. Ingin rasanya kau sajikan sepiring pisang goreng dan susu panas itu kepada Ibumu.
“Ibuku mungkin sedang memasakkan nasi dan sayur untuk adikku,” katamu tiba-tiba.
“Masakan Ibumu pasti sangat lezat!”
“Jelas! Ibuku koki terhebat di dunia ini, meski bumbu yang dimasukkannya tidak sempurna, namun ia menambahkan kasih sayang yang tulus dalam setiap adukannya.”
Pembantu itu tertawa. “Kau pintar bercanda, Sofia! Kau anak cerdas! Apakah pernah terbesit dalam benakmu untuk sekolah?”
“Emmm..” kau tenggak susumu. Menggigit pisang gorengmu.
“Seharusnya kau duduk di bangku SMP hari ini, namun hidup yang getir membuatmu harus lebih dewasa.”
“Aku akan menjadi orang yang berguna, Bi! Meskipun hidup kecilku tidak semenyenangkan anak-anak pada umumnya. Tapi aku sudah menciptakan sebuah mimpi di sini,” kau tunjuk keningmu. “Ada mimpi yang harus aku raih meskipun aku tidak sekolah!”
Pembantu itu menepuk bahumu. “Ayo lekas habiskan minumanmu, lantas bawalah sarapan ke meja makan, usainya kita jalan-jalan.”
*****
Kini ia sering mengajakmu keluar, jika tidak ketika siang sedang bereinkarnasi dengan petang, maka tatkala senja sedang menggoda pelupuk mata. Kalian berdua menghabiskan waktu di bangku taman kota, atau terkadang duduk di atas rumput bonsai, menyandarkan tubuh di punggung pohon pinus, merenungi sapuan semilir angin. Kau pandangi tubuh bugenvil yang mempesona, bunganya tertelan penuh oleh korneamu, bagimu bunga itu sangat menggoda. Pengunjung taman berkeliaran, juga berjalan hilik mudik. Banyak yang mengambil pose di sisi bunga yang menarik simpatimu itu. Jika pagi masih mekar, kupu-kupu hinggap di kelopak tubuhnya. Jika senja datang, maka temaram mentari yang singgah di kelopak dan daun-daunnya.
Ia memberimu sebungkus potato, kau membuka kemudian memakannya. “Jika kita di taman ini, tidak ada yang tahu bahwa dirimu dan diriku adalah seorang pembantu, Sofia!”
“Em……… memangnya kenapa jika orang tahu, Bi?”
“Tidak masalah, namun setidaknya kita mempunyai hak yang sama dengan orang-orang di luar, bisa bersenang-senang seperti seorang tuan.”
“Aku tidak ingin terus menjadi pembantu rumah tangga, Bi!”
“Kau ingin menjadi apa?”
“Ada di sini!” Lagi-lagi kau hanya tersenyum dan menunjuk keningmu.
Di senja selanjutnya kau mendapatkan sebuah nasihat.
“Apa pun yang kau inginkan raihlah. Jangan pedulikan hal-hal yang kelak akan membuatmu sakit hati, bahkan jika suatu saat nanti kau terjatuh hingga sulit bangkit, ingatlah tujuanmu, ingatlah sesuatu yang indah di depan matamu , lantas merangkaklah lagi dari awal, jika memang kau tidak bisa berdiri.”
Ketika pagi baru saja hilang. Waktu membiarkanmu duduk di bangku taman kota, melambaikan kakimu. Menatap bunga bugenvil yang mulai layu, kau mengungkapkan impianmu.
“Aku ingin mengurangi beban yang dipikul, Ibu. Bi!”
“Lakukan, kau pasti mampu.”
Hari berlalu. Bulan maju. Tahun menjadi kenangan di masa lalu. Masa depan menjadi bayangan yang berkelindan dalam imajinasi. Tubuh pembantu tua itu bertambah ringkih. Tampak tulang rahang dan tulang lainnya menonjol, daging dilahap usia. Kantung matanya yang sudah kendor bertambah mengendor. Pipinya keriput kusut.Langkahnya mulai membungkuk.
“Jika aku tua nanti, apakah tenagaku akan berkurang?” tanyamu lugu. Kau memasuki siklus remaja. Ada jerawat yang tumbuh di pipi kananmu. Rambut bertambah panjang. Senyummu yang mengambang bertambah menawan. Majikan rumah pun sering memuji kecantikanmu. Ada kata-kata tak seharusnya gadis manis sepertimu berdiam diri di dalam rumah dengan teman gagang sapu dan kain pel.
“Jelaslah! Itu tanda-tanda kau akan kembali menjadi tanah. Maka jangan menunggu usia tuamu untuk membahagiakan Ibumu di kampung halaman.”
Tiba-tiba dadamu berdesir. Ada hal yang tidak kau harapkan. Kau menatap wajah pembantu yang kau panggil Bibi itu lamat-lamat. “Kau cantik Bi, kau belum tua.” Langit di luar ruangan mendadak terharu. Rintik gerimis datang. Kabut menyelimuti alam. Cepat-cepat kau lari mengambil jemuran.
*****
Kau terisak di ruang yang berdebu. Berkerubung manusia-manusia yang tidak kau kenali. Ada sesak di antara kebersamaan. Ada rindu yang mekar malang. Ada pilu yang tidak diharapkan datang. Senyummu kembali getir. Kau berteriak di dalam batinmu. Merajuk kepada pemilik semesta. ‘Mengapa kau ambil orang yang memedulikanku? Tidak cukupkah Engkau butakan mata batin Ayah?’ Hari itu adalah hari terakhir kau mendengar nasihat darinya, juga terakhir kau melihat tubuhnya yang sudah membangkar di atas meja berbalut kafan. Surat yasin terdengar mendayu-dayu penuh luka. Kau mengantarkan jasadnya hingga liang lahat.
“Bibi, Sofia ingin sekolah!” Katamu sembari meremas tanah makam yang masih baru.
Dua hari selanjutnya kau kembali ke tempat kerjamu. Kini kau yang menyelesaikan pekerjaan dapur. Bangun lebih awal, membersihkan rumah berlantai dua itu, lantas membuatkan sarapan keluarga yang sering dipenuhi dengan canda tawa di ruang makan. Di malam yang hening kau ragu-ragu menghampiri tuanmu. Bibirmu kau gerakkan sedamai mungkin,kau rangkai kalimat yang diharap tak menyakiti perasaan majikan.
“Nyonya!” panggilmu, “saya akan bangun lebih pagi dari biasanya.” Ungkapmu dengan lanjutan yang masih mengambang. Tuanmu memandangmu serius. Memperhatikan mimik wajahmu yang terlihat menegang. Ia lantas tersenyum.
“Kau tidak perlu bangun lebih pagi, bangunlah seperti biasanya saja. Saya akan mencarikan pembantu yang baru untuk menemanimu, Sofia.”
“Jangan cari pembantu lain, Nyonya!” sanggahmu. “Saya sanggup mengerjakan semua pekerjaan rumah, saya sudah bertambah besar, tenaga saya sudah mampu diandalkan.”
“Mengapa kau melarangnya?”
“Bisakah saya sekolah? Bayarkanlah sekolah saya, maka saya tidak perlu gaji tinggi untuk kebutuhan saya, cukup uang membeli beras dan sayuran yang dapat saya berikan kepada Ibu saya saja.”
Tuanmu menatapmu tajam. Ada bening yang terang dari sorotnya. Ia tak mngiyakan, juga tidak menidakan. “Istirahatlah, Sofia. Malam nanti kau boleh belajar. Ada buku milik anakku yang berserakan di gudang, manfaatkanlah terlebih dahulu.” Jiwamu melayang. Ada harapan baru yang dapat kau pinang. Senyummu mengembang, meskipun jawaban tuanmu tak seperti yang kau inginkan.
Mulai malam itu kau sibuk dengan buku bacaan. Ketika malam datang, kau duduk bersila, menyandarkan tubuh di gudang yang berdebu, memfokuskan mata kepada sederet kata di bawah neon lima watt. Tikus menjadi sahabat setiamu. Jaring laba-laba ikut serta. Sofa tua yang tergeletak dengan kaki tiga menatapmu sendu. Ruangan 4x4 m itu mendadak hidup karenamu. Setiap malam ia, sebuah ruangan yang sering terabaikan itu, menjadi hidup dan berarti karenamu. Akan ada sejarah indah yang tercetak kenangan di tubuhnya.
Satu tahun kemudian kau pulang, hendak mengurungai rindu yang bertumpuk-tumpuk di Jakarta. Kampung halaman bertambah ramai. Suara anak-anak berisik di sepanjang jalan. Udara memanglah masih sejuk, namun punggung petani mengabu-abu. Mungkinkah mereka merantau untuk mencari uang? Gumam polosmu yang tidak terjawab takdir.
Kau berdiri di ambang pintu kamar Ibu. Ruang itu kau rasa bertambah sempit. Kasur menyenja tampak tak lagi lembut di punggung. Tirai jendela keriput. Angin mengombang-ambingkan tubuhnya yang rapuh. Udara menggigit kulitmu. Matamu tiba-tiba nanar, jiwamu merinding, raut mukamu memasi. Adikmu sedang duduk di sisi ranjang, jemarinya mengambang sedang menggenggam sendok dengan bubur beras di pangkuan. Adikmu sudah bertambah besar. Tubuhnya kurang segar, kurus dan kering.
“Kak Sofia!” Bibir itu ngilu mengungkapkan. Mangkok cepat diletakkan. Lari menuju ambang pintu. Memeluk, merasakan rindu yang tidak pernah terobati. “Ibu.”
“Ibu kenapa?”
Ia mengamati jasad yang terbujur layu di atas ranjang, menatapnya iba dengan suara parau, jemarinya melambai-lambai lemas. “Anakku.”
“Ibu sakit dua bulan.”
Hatimu disambar petir. Kau seperti tenggelam ke lautan yang paling dalam. Jantungmu kau anggap sedang dipukul oleh malaikan pencabut nyawa orang.
“Ibu, Sofia pulang bukan hanya membawa uang, tapi juga membawa ijazah. Ibu, Sofia sekolah ikut paket, Ibu sembuh, Sofia akan melanjutkan pendidikan.” Katamu sembari memeluk Ibumu.
“Sungguhkah anakku pulang?”
“Iya, Bu.”
Dendammu mendadak tumbuh bertambah tajam. Kau benci dengan sosok Ayahmu yang meninggalkan Ibumu dengan penderitaan. Seharusnya ia kini di sisi Ibu, merangkul bahunya, menyuapinya, mengusir lelahnya, memeluk lelap gigilnya. Dia kau anggap memang biadab. Airmatamu membasuh sembilu. Kau terisak di dada wanita yang melahirkanmu ke dunia.
“Ibu, Sofia ingin membahagiakanmu. Hanya dirimu! Maka cepatlah sembuh untukku dan untuk adik,”
Kau merawat Ibumu sepanjang hari. Memasakkan makanan untuknya. Mencucikan pakaiannya. Membersihkan rumah, juga menemani adikmu belajar. Hari bertambah tua. Usia ibumu bukannya membaik, justru memburuk. Perasaanmu kalut. Kau khawatir jika nasib ibumu serupa dengan pembantu yang pernah membagi kasih sayangnya padamu. Hatimu seperti terkilir. Kau bergegas mengambil tindakan, tak ingin membuang waktu terlalu lama. Keesokan paginya kau memutuskan kembali ke Jakarta. Adikmu menangis tersedu-sedu di ambang pintu.
“Kenapa kau pergi lagi, Kak? Bukankah kita bisa membuka usaha kecil-kecilan dengan uang yang kau punya? Aku akan membantumu!”
“Maafkan Kakak. Kakak ingin pergi untuk Ibu.”
“Ibu sakit, kau tidak seharusnya pergi.”
“Berjanjilah padaku, kau akan selalu belajar .”
“Kakak. Sampai kapan pun aku akan selalu belajar, tapi bisakah kakak tidak pergi lagi?”
“Aku pergi untuk Ibu, Dek.”
“Kak!”
“Maafkan diriku.”
Kau sungguh pergi. Meninggalkan airmata yang meminta diseka olehmu. “KAKAAAAKKKK, IBU SAKIT!” Adikmu menjerit. Hatimu terluka, ingin sekali memeluknya namun kau berusaha abai. Di benakmu kini adalah Ibu. Kau harus belajar untuknya, menjadi orang berarti bagi hidupnya.
Sesampainya di Jakarta kau menghabiskan waktu untuk bekerja dan belajar, tidak ada hal lain. Bahkan kau tak membiarkan benakmu mengkhayalkan Ayah yang membuatmu terlantar. Kau kursus pengetahuan kesana kemari. Menjamu kantuk di tengah malammu dengan secangkir kopi dan impian yang menggebu.Pernah kau terjatuh ketika berusaha, kau mengingat nasihat ‘Bibi’ maka kembali dirimu merangkak dari nol. Orang di sekitarmu mencaci, impianmu tidak akan pernah terwujud, namun kau acuh, terus berjuang, belajar dan belajar. Melamar ke instansi-instansi yang kau inginkan. Hingga majikanmu tersentuh dan membiarkanmu bebas sebebasnya. Tak perlu kau perpusing pekerjaan rumah, ada pembantu baru yang siap menyelesaikan semua beban. Dirimu didukung majikanmu. Kau tidak lagi belajar di gudang yang berdebu, kini kau duduk manis di ruang dengan AC yang menyejukkan.
Bulan tidak terasa berputar. Daun-daun menguning lantas berguguran. Musim penghujan berganti kemarau. Jalanan kering kerontang. Panas menyengat jagad. Alam raya tandus. Belahan bumi yang lain sedang dilanda kekeringan. Hewan meraung kehausan, sebagaimana dirimu yang pilu menatap sekitar. Padi-padi tidak merunduk, lahan sawah retak-retak, irigasi mengering. Kakimu terjejak di kampung halaman. Kembali kau pulang dengan membawa kemajuan. Dulu kau pulang dengan membawa uang dan ijazah paket C. Kini kau tak lupa membawa oleh-oleh masa depan, sebuah pekerjaan yang telah tersandang di dadamu.
Kau langsung mencari kamar Ibu. Tak kau dapati dirinya. Perasaanmu kelu. Khawatir ada hal buruk yang menimpa. Lari tergopoh-gopoh menuju dapur, kau dapati adikmu yang sedang menyebul api dari tungku renta, ia tersedak karena tersentak melihat kehadiranmu. “Kakak pulang?”
Kau tak menggagas seruan adikmu, kembali lari menuju ruang yang lain. Belakang rumah. Tak kau dapati Ibu, hanya ada segunduk tanah baru yang ditumbuhi pohon pisang. Lahan sempit yang dulu ditumbuhi rerumputan liar itu mendadak bersih. Ada sekuntum mawar putih yang mungkin mekar malam tadi. Korneamu menatap lurus ke depan. Tubuhmu menggigil. Airmatamu tumpah ruah. Angin kemarau menghempaskan tali tambang yang digantungi jemuran. Ada rindu yang siap-siap meledak. Kau lari, memeluk Ibumu yang sedang menjemur pakaian.
“Ibu, Sofia pulang.”
“Anakku,” Ibumu memutar badan. Menatapmu senang. Memeluk hangat. Mengusap ubunmu lembut. “Jangan pergi lagi, Nak. Ibu sudah sehat.”
“Ibu. Sofia berjuang untuk Ibu. Sofia belajar mati-matian meski tidak kuliah, sebab Sofia ingin menjadi perawat pribadi Ibu.”
Ibumu terharu. Ada bangga yang sukar diterjemahkan.
‘Ibu. Anakmu sekarang bukan lagi si kecil yang menjadi pembantu rumah tangga. Ia adalah seorang perawat yang mengabdikan hidupnya untuk orang-orang sakit, terutama untukmu, Bu. Ia akan merawatmu selamanya.”
‘Dan di sini aku merekam pelukan cintamu meski dalam garis imaji yang abstrak.’
Magelang, 27Juli 2017.