Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Kita putus, ya!”
Satu ucapan emosional dariku yang berhasil membuat Haris menatap kebingungan.
“Kenapa?” tanyanya sambil berusaha mendekatkan dirinya padaku. Tangannya menggenggamku lebih erat dari sebelumnya, seolah menekankan pentingnya kalimat yang baru saja aku layangkan.
“Udah waktunya kita putus,” kataku datar.
“Waktu apa?” Raut mukanya sangat jelas menunjukkan ketidakterimaan, “bahkan kita nggak punya masalah sebelumnya.”
“Tapi aku punya.” Satu kalimat singkat yang berhasil membuat kami berdua terdiam, saling menelaah satu sama lain.
Agaknya Haris mulai paham apa yang ingin aku sampaikan. Sesuatu yang sebelumnya pernah kami bahas dan tidak ada jalan keluar apapun selain menunggu waktu menyelesaikannya. Tapi aku sudah cukup lelah dengan kepura-puraan ini. Menjalin hubungan di kondisi hidup yang tidak ideal nyatanya bukan alternatif untuk bahagia. Masalahku tetap di sana tanpa solusi. Tanpa tersentuh jalan keluar sama sekali.
Tiga tahun menjalin hubungan dengan Haris sudah cukup menyenangkan. Aku seperti istirahat dari beratnya beban yang terjadi di realita. Punya pacar benar-benar terasa mimpi. Mimpi yang tidak ingin aku sadarkan dengan bangun di pagi harinya. Andai keadaan hidupku tidak begini, hubungan ini masih sangat layak untuk dijalani.
Haris adalah kesempurnaan. Keluarganya terpandang dan harmonis, dia lahir dari orang tua terdidik yang supportive, saudara yang saling peduli satu sama lain, bahkan dirinya sendiri tumbuh menjadi laki-laki yang penuh empatik. Bertolak belakang denganku yang lahir dari keluarga berantakan, kasar, dan seorang Bapak yang kriminal.
Aku ingin memilihnya berkali-kali jika memang ada kehidupan selanjutnya. Tapi sekarang lebih baik dia tidak bersamaku karena pasti akan menjadi bebannya di kemudian hari. Di kehidupan kali ini, aku ingin melihatnya bebas bergerak tanpa takut melukaiku. Maka aku ingin menikmati malam terakhir kami sebagai pasangan, dengan menatap wajahnya dalam-dalam untuk mengingat betapa berharganya laki-laki ini bagi keluarganya dan aku.
Empat tahun lalu dia datang sebagai orang asing di hidupku. Orang yang tiba-tiba memayungiku ketika hujan di halaman joglo kampus, di antrian pengambilan topi PKKMB Universitas. Waktu itu topi jadi atribut penting sebagai syarat masuk gate. Namun karena keteledoran panitia, yang tiba-tiba memberi deadline mepet pengumumannya, lalu melarang pengambilan topi diwakilkan, maka ribuan mahasiswa membludak untuk mengantri sampai tidak bisa dikendalikan.
Joglo penuh sesak oleh mahasiswa yang lebih dulu sampai di sana. Sisanya mengantri di halaman sampai sepanjang seratus meter. Di tengah kegiatan itu tiba-tiba hujan. Langsung deras tanpa gerimis. Semua orang lari tunggang langgang karena baju yang dipakai hari ini harus dipakai lagi besok hari. Aku tidak ikut lari karena memastikan orang di depanku aman dulu. Kami tidak saling mengenal, tapi aku tahu dia mahasiswa yang sakit parah karena ditandai pita merah di lengan kanannya.
Di tengah jalan tiba-tiba ada temannya datang dan meraihnya untuk satu payung bersama, tidak cukup jika denganku.
Mereka memandangku kompak dengan canggung, “Gapapa, nggak usah khawatirin aku! Aku aman.” Sebuah penjelasan yang bisa meyakinkan mereka untuk melanjutkan jalannya.
Sambil berlari kecil mengikuti di belakang, ada tangan yang meraih lenganku untuk menawarkan payungnya.
“Bareng aku aja!” Suara itu adalah Haris. Haris Suryo Handoko. Namanya tertulis jelas di papan nama, tepat di depan dadanya. Anak fakultas kedokteran.
Begitulah lantas aku dan dia berkenalan, saling tukar media sosial sampai nomor whatsapp. Di hujan yang setengah badai, di kondisi pakaian kami yang setengah basah, di teras GOR kampus yang pintunya tertutup. Begitulah awal dari pendekatan satu tahun yang menghasilkan hubungan.
Percakapan kami lebih intens, lebih hidup, dan lebih menyenangkan. Sampai akhirnya tiba di pergantian tahun. Di mana kami saling ragu dengan program studi masing-masing. Aku yang merupakan anak Sastra Indonesia sedikit menyesali keputusan ini. Seharusnya aku masuk sastra asing sekalian belajar bahasa selain bahasa ibu. Namun tidak ada pilihan lain lagi. Aku sudah menjadi mahasiswa dengan beasiswa pemerintah yang tidak diizinkan untuk pindah program studi. Kalaupun harus mengundurkan diri dan mengulang kembali, aku diblacklist dari beasiswa itu dan tidak punya dana untuk kuliah lagi.
Di sini Haris pun sama ragunya. Dia adalah orang pertama di keluarga yang masuk fakultas kedokteran karena keinginan orang tua, sedangkan impian terbesarnya adalah menjadi animator. Namun Haris punya pilihan dan dia cukup berani dengan pilihannya. Orang tuanya juga begitu menyayangi anak bontot mereka ini. Akhirnya Haris mengundurkan diri dari kedokteran, lalu ikut seleksi masuk animasi di fakultas seni.
“Aku lolos animasi, Syifa!” serunya dari video call.
“Hebat!”
Tanggapanku yang persis dengan Ibuku ketika mendengar kabar itu. Ibu pun mengundang Haris ke rumah untuk makan bersama, sekaligus merayakan apa yang sudah dicapainya.
Tentu Haris memenuhi undangan itu, seperti biasanya. Dengan kesempurnaannya membawa Civic ke rumah. Di parkir depan halaman yang membuat setengah bodynya memasuki jalanan. Dia berhasil membuat tetangga-tetangga bergunjing tentang kemampuanku merayu laki-laki muda yang mapan.
“Makanannya enak, Bu!” ujar Haris begitu antusisas meski hanya makan di lantai berlas karpet plastik.
“Iya, bahan-bahannya premium, mahal-mahal.”
“Ah, nanti aku ganti uangnya, Bu!”
“Bang, sepatuku rusak kemarin. Udah dijahit Ibu tapi rusak lagi,” kata Nando, adik laki-lakiku yang masih kelas 6 SD.
“Iya, nanti Abang beliin yang baru.”
Begitulah biasanya. Kegiatan transaksional yang aku saksikan dari orang-orang yang aku sayang. Padahal sebelumnya Ibu ingin ini jadi momen syukuran, tapi yang aku lihat hanya kesempatan mendapat keuntungan. Aku sudah berkali-kali memperingatkan Ibu, kalau Haris tidak bertanggungjawab atas kehidupan keluarga kami. Tapi selalu dibantah dengan alasan Haris juga mau.
Bapak masih ada. Dia tidak dipenjara meskipun berkali-kali melakukan kekerasan. Entah apa yang terjadi pada laporanku di kantor polisi. Aku tidak mengerti kenapa dia masih bisa di rumah semaunya dan pergi semaunya tanpa memenuhi tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Sekali-kali Haris memberinya uang saku untuk jajan yang selalu dilarikan ke rokok dan minuman.
“Cukup! Dia cukup sehat buat kerja sendiri.” Berkali-kali kalimat itu melayang sebagai larangan. Tapi Haris tidak pernah menghiraukan.
Kami sering bertengkar mengenai ini karena aku juga masih part-time dengan mengajar les dan menjadi barista setelah kuliah untuk memenuhi kehidupan keluarga, sementara uang beasiswa, aku khususkan untuk tabungan pendidikan sekaligus dana darurat. Namun lagi-lagi dia menawarkan bantuan untuk meringankan bebanku dan ingin aku lebih menikmati hari dengannya.
Bahkan dia memintaku untuk berhenti kerja paruh waktu, tapi aku selalu menolak. Dari SMA aku sudah terbiasa untuk sekolah dengan berkerja karena uang beasiswa belum cukup untuk bertahan hidup. Meskipun sekolah gratis, namun artibut sekolah, akomodasi untuk berangkat dan pulangnya, bahkan makan sehari-hari tetap butuh dana tambahan. Aku sudah menerima keadaan dan menjalani hidup senormal-normalnya walaupun akhirnya didiagnosis depresi berat di awal kuliah.
Haris adalah kesempurnaan. Tapi kesempurnaan yang mendadak di kehidupanku bukan solusi. Meskipun kemiskinan ini menjadi highlight baginya, bukan berarti jalan keluarnya adalah uang dengan nominal besar seketika. Bapak dengan mental judinya tidak akan bisa diobati dengan uang yang Haris beri. Ibu yang terlalu bucin ke suaminya tidak akan bisa diatasi dengan memberinya uang setiap dimintai. Adikku yang telah terdoktrin bahwa uang banyak adalah jalan hidup lebih baik tidak akan kehilangan mentalitas mengemisnya jika setiap keluhannya masih disuapi barang-barang mewah dari Haris.
Kesempurnaan Haris membawanya melihat permasalahanku sebagai masalah sederhana yang bisa diselesaikan dengan uang. Namun aku melihatnya sebagai sistem rusak yang harus dibenahi secara struktural. Tapi untuk mengubah ini tidak bisa dengan perubahan mendadak seperti hadiah main judi. Kalau begitu justru seperti mental Bapak yang ingin hal-hal instan tanpa usaha lebih. Haris tentu tidak paham, sebab segalanya mudah baginya.
Setelah pertengkaran itu kami berpisah.
Berpisah selama tiga bulan yang menyebabkan keadaan rumahku lebih hancur karena Ibu selalu mencarinya, mencari uangnya. Adik kehilangan orang yang royal dengannya dan Bapak kembali ke judi favoritnya. Lalu aku kembali sembunyi-sembunyi menyimpan uang pendidikan, jangan sampai dicuri oleh salah satu dari mereka.
Begitulah keluargaku sebenarnya.
Semua orang menyalahkanku karena melepaskan berlian. Menyudutkanku sebagai orang yang tidak tahu diri karena keadaan buruk ini. Siapa lagi laki-laki kaya yang mau dengan perempuan seperti aku? Begitulah penilaian-penilaian orang yang saling beradu. Namun ini semua bukan salah Haris maupun salahku. Keadaan-lah yang mengambil alih tanggung jawab kami untuk disalahkan.
Haris dengan kesempurnaannya menghubungiku kembali untuk balikan, "Tidak ada alasan kita putus yang layak diterima," katanya, "hanya karena keadaan seharusnya tidak menjadi penghalang bagi hubungan kami untuk terus berlanjut," sambungnya.
"Mencintai harus apa adanya," katanya, "keburukan keluargamu bukan kesalahanmu," katanya.
Aku menerima semua penjelasan itu sekaligus dirinya.
Setelahnya, di pekerjaan paruh waktuku, aku banyak berinteraksi dengan laki-laki. Beberapa kali harus mencari berita berdua untuk diolah jadi artikel. Haris mendapati aku dan rekanku berboncengan di motor. Berkali-kali aku jelaskan karena keperluan pekerjaan, dia tidak mau menerima. Kembali diungkit bagaimana keinginanya untuk aku berhenti bekerja dan menerima uangnya saja. Menjadi orang yang bisa diatur dan hanya eksklusif untuk dia. Terdengar mulia. Tapi sangat egois dan tidak mau mendengarkan pasangannya.
Akhirnya hubungan kami berakhir lagi.
Kali ini lebih lama. Satu tahun. Dia juga sudah menjalin hubungan dengan perempuan lain, tapi putus karena tidak cocok, itu pun katanya. Aku tidak tertarik untuk mencari tahu siapa perempuan itu dan berapa lama mereka berhubungan. Sampai akhirnya kami kembali pacaran karena memutuskan untuk saling memaafkan.
“Satu sama, ya!” serunya.
Lalu aku dan dia sama-sama ikut MBKM atau Merdeka Belajar Kampus Merdeka dengan mengambil penelitian terhadap perilaku manusia di media sosial dan dibandingkan realitasnya. Penelitian ini berhasil membebaskan kami dari KKN, Kuliah Kerja Nyata, karena bisa dikonversi. Haris hanya takut kalau ada yang cinlok di KKN nanti atau ada kegiatan-kegiatan yang bisa membuatnya overthinking. Keputusan ini diambil karena aku menolaknya untuk KKN ke Banda Neira, tentu karena aku tidak punya biaya, dan minim sponsor acaranya.
Haris dan kesempurnaannya membawaku sampai wisuda. Tanpa perlu banyak drama dari keluarga karena memutuskan ngekos di akhir-akhir semesternya. Sebab aku tidak bisa menyelesaikan masalah itu, ada baiknya menghindar saja. Wisudaku hanya aku dan dia yang merayakan. Sengaja aku sesuaikan dengan siapa yang mendukungku, dan tetap menyenangkan meskipun Haris menjadi satu-satunya.
Aku dapat pekerjaan sebagai admin di salah satu perusahaan souvenir dan mahar di dekat kampus. Lumayan menguntungkan karena masih bisa bertemu Haris kalau-kalau ingin recharge energy. Hubungan kami baik-baik saja, sampai tiba waktu wisudanya.
Baru aku sadari ternyata selama ini, aku tidak pernah diperkenalkan sebagai pasangannya. Haris pernah menjelaskan kalau orang tuanya cukup selektif jika untuk hubungan anak mereka. Mereka supportive di pendidikan atau keputusan hidup lain, bukan di bagian memilih pasangan. Jadi menyembunyikanku selama ini adalah strategi mengamankan diriku dan hubungan kami. Sampai tiba saatnya kami datang untuk meminta restu menikah, suatu hari nanti.
Cukup logis. Aku bisa menerima penjelasannya.
Namun semua pikiranku berubah ketika Haris berkata di hadapan keluarganya, “Perkenalkan, Ma, Pa, ini Syifa. Teman Haris.”
Tidak ada masalah harusnya. Haris juga sudah menjelaskan serasional mungkin. Namun karena aku terlalu sibuk dan tidak memikirkan ini, aku luput memahami perasaanku bahwa aku sudah sangat mencintai kesempurnaannya. Sialnya, ada ego yang ingin diakui meski aku datang dengan banyak ketidaksempurnaan ini.
Dengan semua kesempurnaan yang dia bawa, setiap masalah yang dia selesaikan, uluran tangannya yang selalu hangat, jiwa protective-nya yang begitu menenangkan. Harusnya aku tetap terima dengan apa yang dia putuskan atas kejadian ini. Dengan melihat keeadaanku, seharusnya aku menerima sikap Haris. Toh, hanya satu hari! Hanya ada di momen ini.
Namun nyatanya gagal. Di sesi foto keluarga, perihnya menjalar dari pusat dada ke seluruh tubuh. Mataku panas menahan air mata yang berlebihan. Menahan gemetar satu badan dan kaki yang lemas tiba-tiba. Untuk pertama kalinya dalam hidup, setelah kondisi keluargaku, kejadian ini adalah hal yang sulit aku cerna. Dari sinilah aku berpikir keras sebelum mengambil keputusan. Bukan lagi solusi logis yang penuh pertimbangan.
Kali ini hatiku yang tersentuh lebih dalam. Aku dan ketidaksempurnaanku, bukankah masih layak untuk tetap diakui?
“Kita putus, ya!”
“Kenapa?”
“Udah waktunya kita putus.”
“Waktu apa? Bahkan kita nggak punya masalah sebelumnya.”
“Aku punya. Masalahnya di aku. Di semua kekuranganku yang sulit diterima.”